Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman
Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

2026/09/17

MERIAM PRANCIS MENGHANTAM NATAL!


Fort Natal Jatuh pada 1760: Ketika Inggris, Prancis dan VOC Berebut Pantai Barat Sumatra

Image ini hanya ilustrasi AI


Oleh Feri Susanto

Ada satu bab dalam sejarah Natal yang selama ini jarang dibicarakan.

Bukan tentang Natal pada zaman Hindia Belanda abad ke-19.

Bukan pula tentang perdagangan lada semata.

Tetapi tentang sebuah masa ketika Natal menjadi bagian dari perebutan kepentingan tiga kekuatan Eropa: Inggris, Prancis dan VOC.

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan abad ke-18, ketika dunia sedang dilanda Perang Tujuh Tahun (1756–1763).

Jauh dari Eropa, perang tersebut menjalar sampai ke Pantai Barat Sumatra.

Dan pada Februari 1760, kapal perang Prancis datang menyerang Natal.

Yang menarik, jauh sebelum meriam Prancis ditembakkan, dokumen kolonial sudah menyebut keberadaan sebuah tempat bernama:

fort Natal.

Fort Natal sudah tercatat sebelum serangan Prancis

Selama ini, keberadaan Inggris di Natal abad ke-18 sering dijelaskan dengan istilah factory, settlement, atau pos perdagangan.

Istilah-istilah tersebut memang tidak salah untuk menggambarkan jaringan perdagangan East India Company.

Tetapi ada satu bukti yang membuat kisah ini menjadi lebih menarik.

Dalam Corpus Diplomaticum yang dikelola Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), tercatat sebuah kontrak mengenai Natal bertanggal 20 Desember 1755 sampai 5 Januari 1756.

Dan kolom tempat penandatanganannya mencatat:

fort Natal

Dokumen tersebut merupakan Kontrak CMLXXXIX–989, tercatat dalam Corpus Diplomaticum, Jilid 6, halaman 76. (Sejarah Nusantara)

Artinya, pada pertengahan 1750-an, istilah Fort Natal sudah masuk dalam dokumentasi resmi.

Ini penting.

Sebab kita tidak sedang hanya mengandalkan cerita turun-temurun mengenai adanya benteng.

Ada dokumen abad ke-18 yang menyebutnya.

Bahkan belum berhenti di situ.

Tahun 1760: nama Fort Natal masih muncul

Pada 6–7 Maret 1760, hanya beberapa tahun setelah dokumen pertama, kembali terdapat kontrak berkaitan dengan Natal.

Dalam database ANRI, dokumen tersebut tercatat sebagai Kontrak MXXVI–1026, Jilid 6, halaman 198–200.

Tempat penandatanganannya kembali dicatat:

fort Natal

Yang menarik, dokumen ini mencantumkan sejumlah tokoh lokal maupun pejabat Eropa sebagai pihak yang menandatangani. (Sejarah Nusantara)

Dengan demikian kita memiliki dua bukti dokumenter:

1755–1756 → fort Natal

dan

6–7 Maret 1760 → fort Natal.

Jadi, istilah tersebut bukan hasil penamaan belakangan.

Ia memang hidup dalam administrasi dan diplomasi kawasan Natal pada abad ke-18.

Lalu datanglah Prancis

Di sinilah ceritanya berubah menjadi dramatis.

Pada masa itu Inggris dan Prancis sedang bertempur dalam Perang Tujuh Tahun.

Konflik tersebut bukan hanya berlangsung di Eropa. Pertarungan antara dua kekuatan maritim itu juga menjalar ke Asia.

Natal, yang berada di Pantai Barat Sumatra dan memiliki hubungan perdagangan penting, ikut terseret ke dalam konflik.

Pada awal Februari 1760, kapal-kapal Prancis muncul di lepas pantai Natal.

British Library menyimpan dokumentasi mengenai peristiwa tersebut dalam India Office Records IOR/H/95.

Katalog arsip itu secara eksplisit mencatat:

“French capture of Natal in Sumatra.”

Dokumen yang berkaitan dengan peristiwa tersebut berasal dari laporan Fort Marlborough tanggal 6 dan 21 Februari 1760. (Katalog Arsip Inggris)

Jadi dari sudut pandang arsip Inggris sendiri, peristiwa tersebut sangat jelas:

Natal direbut Prancis pada Februari 1760.

Benteng Inggris di Natal menyerah

Di sinilah istilah Fort Natal menjadi semakin penting.

Berbagai rekonstruksi sejarah mengenai serangan Prancis menyebut bahwa posisi Inggris di Natal memiliki pertahanan yang disebut sebagai benteng.

Dengan demikian, kita sekarang dapat melihat sebuah rangkaian:

Fort Natal tercatat dalam dokumen 1755–1756.

Kemudian:

Fort Natal masih muncul dalam dokumen Maret 1760.

Dan pada Februari tahun yang sama:

Natal menjadi sasaran serangan Prancis.

Ada satu persoalan kronologi yang perlu dicatat.

Dokumen ANRI mencatat kontrak Natal bertanggal 6–7 Maret 1760, sementara arsip Inggris mencatat penangkapan Natal pada Februari. Karena itu, tanggal dokumen Maret tidak boleh dibaca begitu saja sebagai bukti bahwa benteng masih dikuasai Inggris setelah serangan Februari. Dokumen tersebut perlu dilihat dalam konteks keseluruhan korespondensi dan perubahan penguasaan Natal pada masa itu.

Justru ketidaksinkronan tanggal seperti ini menarik untuk penelitian lebih lanjut.

Arsip kolonial tidak selalu berbicara dalam satu suara.

Dan tugas sejarawan adalah menyusun kepingan-kepingannya.

Bukan sekadar perang Inggris–Prancis

Yang terjadi setelah Inggris terusir dari Natal justru lebih menarik.

VOC melihat peluang.

Setelah posisi Inggris jatuh, VOC bergerak di kawasan Natal dan Tapanuli.

Artikel Deddy Arsya di Cagak.ID, yang menelusuri laporan VOC dalam Generale Missiven, menunjukkan bagaimana VOC kemudian berusaha menata kembali keberadaannya di kawasan tersebut.

Di sini muncul kembali persoalan benteng.

VOC mempertimbangkan apakah benteng yang ada perlu digunakan atau justru dihancurkan.

Ini menunjukkan bahwa benteng bukan sekadar istilah geografis.

Ia merupakan bagian dari persoalan strategis:

siapa yang menguasai benteng, menguasai titik penting di kawasan tersebut.

Mengapa Natal begitu penting?

Jawabannya bukan semata-mata karena benteng.

Natal berada di jalur Pantai Barat Sumatra yang menghubungkan berbagai pusat perdagangan dan wilayah pedalaman.

Pada abad ke-18, kawasan ini memiliki hubungan dengan daerah-daerah seperti Lingga Bayu, Mandailing dan Batahan.

Bahkan sebuah deskripsi tentang Natal yang kemudian dimuat dalam karya-karya abad ke-19 menyebut bahwa Battahan/Batahan berada di sebelah selatan Natal.

Sumber tersebut juga menggambarkan Natal sebagai pusat penting dari jaringan permukiman dan pemerintahan lokal. (DBNL)

Jadi ketika Inggris mendirikan posnya di Natal, mereka tidak sedang membangun sebuah tempat terpencil tanpa koneksi.

Mereka masuk ke sebuah kawasan yang sudah memiliki jaringan politik, perdagangan dan hubungan dengan pedalaman.

1760: Natal berpindah tangan

Kalau kita sederhanakan situasinya, Natal pada periode ini seperti berada di tengah permainan besar:

Inggris
membangun kepentingan perdagangan dan pertahanan.

⬇️

Prancis
datang sebagai kekuatan perang dan merebut posisi Inggris.

⬇️

VOC
masuk memanfaatkan perubahan kekuasaan.

⬇️

Inggris
kemudian memperoleh kembali Natal setelah perang berakhir.

Dan semua itu terjadi hanya dalam beberapa tahun.

Natal masuk ke dalam Treaty of Paris 1763

Bagian ini mungkin yang paling mengejutkan.

Ketika Perang Tujuh Tahun akhirnya berakhir, persoalan Natal bahkan masuk ke dalam Treaty of Paris, perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada 10 Februari 1763.

Dalam Article XI, Prancis diwajibkan mengembalikan wilayah yang direbut dari Inggris di Hindia Timur.

Dan nama Natal disebut secara eksplisit:

“Nattal and Tapanoully, in the island of Sumatra”

Prancis diwajibkan mengembalikan Nattal dan Tapanoully kepada Inggris. (Avalon Project)

Ini fakta sejarah yang sangat menarik.

Sebab nama Natal bukan hanya muncul dalam kontrak lokal.

Natal masuk ke dalam perjanjian perdamaian internasional yang mengakhiri Perang Tujuh Tahun.

Dengan kata lain, sebuah tempat di Pantai Barat Sumatra yang hari ini mungkin terlihat jauh dari pusat sejarah dunia, ternyata pada 1763 menjadi bagian dari diplomasi antara Britania Raya dan Prancis.

Lalu bagaimana dengan benteng yang sekarang masih terlihat?

Di sinilah penelitian kita menjadi semakin menarik.

Saya sendiri pernah datang ke Natal dan mengetahui lokasi tinggalan struktur benteng yang berada tidak jauh dari Muara Natal.

Foto tinggalan tersebut juga pernah dipublikasikan melalui kanal Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Namun secara akademis kita perlu membedakan dua hal.

Pertama: keberadaan Fort Natal dalam dokumen.

Ini sudah memiliki dasar dokumenter yang kuat.

Kedua: apakah struktur yang masih terlihat di dekat Muara Natal tersebut merupakan secara langsung bangunan Fort Natal yang disebut dalam dokumen 1755–1760?

Untuk pertanyaan kedua, kita membutuhkan penelitian arkeologi, pemetaan lama, dan perbandingan lokasi.

Kita tidak boleh melompat dari:

“Ada Fort Natal dalam arsip”

langsung menjadi:

“Bangunan yang tersisa sekarang pasti benteng Inggris 1755.”

Itu dua klaim yang berbeda.

Tetapi justru karena keduanya berada dalam ruang geografis yang sama, tinggalan tersebut layak diteliti secara serius.

Ada petunjuk geografis dari sumber abad ke-19

Menariknya, kita mempunyai deskripsi lain yang bisa membantu penelitian lokasi.

Dalam sebuah tulisan mengenai Natal yang kemudian diterbitkan dalam Volledige Werken, E. Francis menggambarkan kawasan Natal dan menyebut secara eksplisit:

“het fort te Nattal”

atau benteng di Natal.

Deskripsi tersebut bahkan memberikan gambaran mengenai hubungan benteng dengan sungai, pasar, gudang, pantai dan bukit tempat tiang bendera pernah berdiri. (DBNL)

Ini sangat berharga.

Karena sekarang kita bukan hanya mempunyai nama benteng, tetapi juga mulai mempunyai deskripsi ruang di sekitar benteng.

Dan ini dapat dibandingkan dengan kondisi geografis Natal sekarang.

Jadi, apa yang sebenarnya sudah kita ketahui?

Untuk sementara, kita bisa menyusun fakta-faktanya seperti ini:

1755–1756

Dokumen ANRI menyebut “fort Natal.” (Sejarah Nusantara)

Februari 1760

Arsip Inggris mencatat French capture of Natal in Sumatra. (Katalog Arsip Inggris)

Maret 1760

Dokumen ANRI kembali mencatat kontrak Natal dengan tempat penandatanganan “fort Natal.” (Sejarah Nusantara)

1760

VOC kemudian terlibat dalam pengaturan kembali kawasan Natal dan Tapanuli, sebagaimana ditelusuri dari Generale Missiven dalam kajian Deddy Arsya. (Sejarah Nusantara)

1763

Treaty of Paris memerintahkan Prancis mengembalikan Nattal dan Tapanoully kepada Inggris. (Avalon Project)

Abad ke-19

Sumber deskriptif kembali menyebut fort te Nattal dan memberikan gambaran mengenai posisi benteng terhadap sungai, bukit, pasar dan pantai. (DBNL)

Masa kini

Tinggalan struktur yang dikaitkan dengan kawasan benteng masih dapat ditemukan tidak jauh dari Muara Natal dan telah didokumentasikan secara visual oleh Perpustakaan Nasional RI.

Referensi

Sumber primer / arsip

  1. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Corpus Diplomaticum – Sumatra's Westkust, Kontrak CMLXXXIX–989, Jilid 6, hlm. 76, 20 Desember 1755–5 Januari 1756 — lokasi penandatanganan: fort Natal. (Sejarah Nusantara)

  2. ANRI, Corpus Diplomaticum – Sumatra's Westkust, Kontrak MXXVI–1026, Jilid 6, hlm. 198–200, 6–7 Maret 1760 — kontrak Natal; lokasi penandatanganan tercatat fort Natal. (Sejarah Nusantara)

  3. British Library, India Office Records, IOR/H/95, hlm. 667 — laporan dari Fort Marlborough, 6 dan 21 Februari 1760, mengenai French capture of Natal in Sumatra. (Katalog Arsip Inggris)

  4. Treaty of Paris, 10 February 1763, Article XI — menyebut secara eksplisit Nattal and Tapanoully di Sumatra dan kewajiban Prancis untuk mengembalikannya kepada Inggris. (Avalon Project)

  5. E. Francis, keterangan mengenai Natal, dalam Volledige Werken — deskripsi mengenai “het fort te Nattal”, sungai, bukit, pasar, gudang dan lingkungan benteng. (DBNL)

Sumber sekunder

  1. Deddy Arsya, “Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli: Inggris Terusir dari Bengkulu dan VOC Menanggung Untung Besar,” Cagak.ID — rekonstruksi berdasarkan sumber VOC dan Generale Missiven. Cagak.ID — artikel tentang serangan Prancis ke Natal dan Tapanuli

Catatan penting: foto tinggalan benteng yang dipublikasikan Perpustakaan Nasional RI merupakan bukti visual/tinggalan lapangan, tetapi hubungan langsung antara struktur tersebut dengan Fort Natal abad ke-18 masih merupakan hipotesis yang perlu diuji melalui peta lama, arsip, dan kajian arkeologis. Itu justru menjadi pertanyaan penelitian berikutnya. 

2026/09/16

SE BOGA, 1774: Jejak Awal Nama Sibolga dalam Peta Tua Pantai Barat Sumatra

Membaca kembali peta Alexander Dalrymple dan kesinambungannya dengan sejarah Sibolga



Sejarah Sibolga selama ini lebih sering dibicarakan mulai dari pembentukan pemerintahan kolonial dan pembangunan kota pada abad ke-19. Padahal, jejak kawasan yang kemudian berkembang menjadi Sibolga telah masuk ke dalam pengetahuan geografis bangsa Eropa jauh sebelumnya.

Salah satu bukti yang menarik terdapat pada sebuah peta Inggris yang diterbitkan pada 25 Februari 1774 oleh Alexander Dalrymple, berjudul:

“Plan of Tappean-Oely or Tappanooly in 1° 25' N. Lat. on the West-Coast of Sumatra.”

Peta ini secara khusus menggambarkan kawasan Tappanooly di pantai barat Sumatra. Katalog Herzog August Bibliothek mencatat tanggal penerbitannya, skala sekitar 1:140.000, serta keterangan penting pada peta: “From an English M.S.”—berdasarkan manuskrip Inggris. (Kartenspeicher GBV)

Yang menarik perhatian: “SE BOGA”

Pada bagian pantai peta tersebut terdapat sebuah nama yang terbaca “Se Boga”.

Bagi pembaca masa kini, dua kata ini segera mengingatkan pada Siboga/Sibogha, bentuk-bentuk lama dari nama Sibolga yang muncul dalam sumber-sumber sejarah berikutnya.

Pembacaan ini menjadi semakin menarik karena “Se Boga” tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam satu lanskap geografis yang juga mencantumkan sejumlah nama pantai lainnya, antara lain Ayer Manis, Penang Soree, dan Telloo Pandan.

Dengan demikian, tulisan “Se Boga” bukan sekadar sebuah kata yang muncul tanpa konteks, melainkan bagian dari sistem toponimi kawasan Tappanooly yang sedang dipetakan.

Apakah “Se Boga” adalah Sibolga?

Dalam pembacaan historis, “Se Boga” dapat dipahami sebagai bentuk awal atau bentuk ejaan lama dari Siboga/Sibolga.

Kesimpulan tersebut semakin menarik apabila dibandingkan dengan variasi nama Sibolga yang muncul pada masa berikutnya: Siboga, Sibogha, Sibogah, Sibalga, Siebolga, dan bentuk lainnya.

Variasi ejaan semacam ini bukan sesuatu yang aneh dalam sumber-sumber kolonial. Nama-nama lokal sering ditulis berdasarkan pendengaran, bahasa pengantar, dan kebiasaan ejaan masing-masing penulis atau kartografer.

Karena itu, pencarian sejarah Sibolga tidak cukup dilakukan hanya dengan kata “Sibolga”.

Kita perlu memperhitungkan seluruh variasinya.


Sibolga bukan kota yang tiba-tiba muncul pada 1840-an

Di sinilah tulisan-tulisan Akhir Matua Harahap di Poestaha Depok menjadi pembanding yang penting.

Dalam serial Sejarah Kota Sibolga, Harahap menjelaskan bahwa pembangunan kota Sibolga oleh pemerintah Hindia Belanda dimulai sekitar 1842–1843. Kota tersebut dibangun sebagai pusat pemerintahan baru, tidak persis dengan cara mengambil alih kampung lama, tetapi dibangun di kawasan yang berdekatan dengan permukiman yang telah ada. (Poesta Hadepok)

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara:

Sibolga sebagai nama/tempat yang telah dikenal sebelumnya

dan

Sibolga sebagai kota pemerintahan kolonial.

Perbedaan ini penting.

Sebuah kota dapat memiliki sejarah jauh lebih tua daripada saat pemerintah kolonial secara resmi membentuknya sebagai pusat pemerintahan.

Harahap bahkan menunjukkan bahwa kawasan kampung Sibolga sudah ada sebelum pembangunan kota kolonial, sementara kampung Tapanoeli juga telah berfungsi sebagai pelabuhan dan pusat aktivitas di kawasan tersebut. (Poesta Hadepok)


Dari Tappanooly menuju Sibolga

Peta Dalrymple memberikan konteks yang menarik.

Pada 1774, nama yang dominan secara geografis dalam peta adalah Tappean-Oely/Tappanooly. Namun di dalam kawasan itu terdapat nama-nama tempat yang lebih kecil.

Salah satunya adalah:

SE BOGA

Beberapa dekade kemudian, bentuk Siboga/Sibogha muncul dalam sumber-sumber kolonial.

Akhir Matua Harahap, dalam pembahasannya mengenai sejarah pemerintahan Tapanuli, misalnya menggunakan bentuk “Sibogha” ketika membicarakan Sibolga sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli pada abad ke-19. (Akhir MH)

Dengan demikian kita memperoleh sebuah rangkaian toponimi yang sangat menarik:

SE BOGA — 1774
↓
SIBOGA / SIBOGHA — abad ke-19
↓
SIBOLGA — bentuk modern

Tentunya perubahan ejaan tersebut tidak harus dipahami sebagai perubahan nama yang terjadi secara tiba-tiba. Lebih mungkin terdapat proses transliterasi dan penyesuaian ejaan dari satu sumber ke sumber lainnya.


Peta Inggris justru memberikan sudut pandang yang berbeda

Ada hal lain yang tidak kalah penting.

Peta ini bukan peta Belanda.

Ia diterbitkan oleh Alexander Dalrymple, seorang tokoh kartografi dan hidrografi Inggris yang memiliki hubungan erat dengan East India Company.

Namun Dalrymple tidak membuat peta tersebut semata-mata dari imajinasinya sendiri. Peta secara eksplisit menyatakan:

“From an English M.S.”

Andrew Cook dalam katalog karyanya mengenai Dalrymple mencatat peta Tappean-Oely bertanggal 25 Februari 1774 dan menghubungkannya dengan manuskrip Inggris yang dikaitkan dengan Mr. Nairne. Cook juga mencatat bahwa peta tersebut memiliki beberapa state atau versi penerbitan, dengan sejumlah nama tempat yang mengalami koreksi. (St Andrews Research Repository)

Hal ini penting secara historiografis.

Sebab informasi geografis yang kita lihat pada cetakan 1774 kemungkinan merekam pengetahuan kartografis yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Dengan kata lain, 1774 adalah tahun penerbitan peta tersebut, bukan otomatis tahun pertama nama-nama di dalamnya diketahui oleh orang Eropa.


Menarik jika dibandingkan dengan Pinang Sori

Salah satu cara untuk menguji identifikasi “Se Boga” adalah dengan melihat nama-nama di sekitarnya.

Dalam peta tersebut kita menemukan Penang Soree.

Nama tersebut sangat menarik jika dibandingkan dengan Pinang Sori/Pinangsori, yang kemudian menjadi salah satu nama geografis penting di kawasan Tapanuli Tengah.

Poestaha Depok juga membahas Pinangsori dalam rangkaian sejarah Sibolga dan kawasan sekitarnya. (Poesta Hadepok)

Artinya, peta 1774 memberikan kita sesuatu yang sangat berharga:

bukan hanya satu nama yang diduga berkaitan dengan Sibolga, tetapi sebuah jaringan toponimi pesisir yang sebagian masih dapat dikenali hingga sekarang.

Ini membuat pembacaan “Se Boga” menjadi lebih menarik untuk diuji secara geografis.


Sibolga sebelum menjadi ibu kota Residentie

Ketika pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun kota Sibolga pada 1840-an, mereka sebenarnya masuk ke dalam sebuah lanskap yang telah mempunyai sejarah pelayaran, perdagangan, permukiman, dan hubungan darat dengan wilayah pedalaman.

Harahap menunjukkan bahwa pada 1821 pemerintah kolonial telah menempatkan Asisten Residen di kawasan Tapanoeli, sebelum kemudian pusat pemerintahan berkembang ke kota Sibolga. (Poesta Hadepok)

Pada 1845, Residentie Tapanoeli resmi berkembang dengan Sibolga sebagai tempat kedudukan residen. (Poesta Hadepok)

Maka sejarahnya tidak sederhana:

Tappanooly sebagai kawasan/pelabuhan
→ kampung-kampung pesisir termasuk Sibolga
→ pembangunan kota Sibolga
→ Sibolga menjadi pusat pemerintahan Residentie Tapanoeli

Dalam konteks inilah peta 1774 menjadi sangat penting.


68 tahun sebelum kota Sibolga dibangun

Jika kita menerima pembacaan Se Boga sebagai bentuk awal Siboga/Sibolga, maka kita memiliki sebuah jejak kartografis yang luar biasa:

1774

Nama Se Boga telah tercatat dalam peta Inggris kawasan Tappanooly.

1842–1843

Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun kota Sibolga sebagai pusat pemerintahan baru. (Poesta Hadepok)

Artinya terdapat jarak sekitar 68 tahun antara peta Dalrymple dan pembangunan kota kolonial Sibolga.

Karena itu, sejarah Sibolga tidak seharusnya dimulai dari tahun 1842.

Tahun 1842 adalah salah satu tonggak sejarah kota pemerintahan Sibolga, bukan otomatis awal keberadaan nama atau kawasan Sibolga.


Satu pertanyaan yang masih terbuka

Temuan ini tentu belum menyelesaikan seluruh persoalan.

Justru sebaliknya, ia membuka pertanyaan baru:

Dari mana nama “Se Boga” berasal?

Apakah itu:

  • ejaan Inggris terhadap nama lokal Siboga?

  • bentuk fonetik yang kemudian berkembang menjadi Sibogha/Sibolga?

  • atau bentuk toponim yang sudah digunakan oleh penduduk setempat dan hanya ditranskripsikan berbeda oleh pembuat peta?

Untuk menjawabnya diperlukan pencarian lanjutan terhadap peta, jurnal pelayaran, laporan East India Company, surat-surat, dan dokumen kolonial sebelum dan sesudah 1774.

Tetapi satu hal sudah jelas:

Sejarah Sibolga tidak bermula ketika pemerintah Hindia Belanda menggambar kota baru di atas peta.

Sebelum kota itu dibangun, kawasan tersebut telah menjadi bagian dari lanskap geografis pantai barat Sumatra yang dikenal oleh para pelaut dan pembuat peta Eropa.

Dan pada sebuah peta Inggris tahun 1774, kita menemukan sebuah nama yang sangat menarik:

SE BOGA

Sebuah nama yang, jika dibaca dalam kesinambungannya dengan Siboga, Sibogha, dan Sibolga, memberikan kita alasan kuat untuk menelusuri sejarah nama Sibolga lebih jauh ke belakang daripada abad ke-19.

Beberapa referensi:

  1. Alexander Dalrymple, 1774, Plan of Tappean-Oely or Tappanooly in 1° 25' N. Lat. on the West-Coast of Sumatra. David Rumsey mencatat peta ini sebagai karya Dalrymple, bertanggal 1774 dan merupakan nautical chart kawasan pantai barat Sumatra. (David Rumsey Map Collection)
    David Rumsey Historical Map Collection – peta Dalrymple 1774

  2. Herzog August Bibliothek, katalog peta Dalrymple: Plan of Tappean-Oely or Tappanooly, 25 Februari 1774, skala sekitar 1:140.000, “From an English M.S.” (Kartenspeicher GBV)
    Katalog Herzog August Bibliothek

  3. Andrew S. Cook, Alexander Dalrymple (1737–1808), Hydrographer to the East India Company and the Admiralty as Publisher. Katalognya memberikan informasi mengenai beberapa state peta Tappanooly dan manuskrip Inggris yang menjadi sumbernya. (St Andrews Research Repository)
    Andrew Cook – katalog Dalrymple

  4. Akhir Matua Harahap, Sejarah Kota Sibolga, Poestaha Depok: pembentukan kota Sibolga, kampung Sibolga, Tapanoeli, Pulau Poncan, dan perkembangan Residentie Tapanoeli. (Poesta Hadepok)
    Poestaha Depok – Sejarah Kota Sibolga

  5. Akhir Matua Harahap, pembahasan pembentukan tata kelola Tapanuli dan penggunaan bentuk Sibogha dalam konteks Residentie Tapanoeli. (Akhir MH)
    Poestaha Depok – Sejarah Tapanuli


2025/12/05

Keberanian yang Menembus Zaman: Numantia, Rajah Sulaiman, dan Pertolongan Badar

Situs area Numantia
Kadang sebuah cerita yang kita baca membuka pintu menuju cerita-cerita lain yang pernah kita dengar atau kita simpan lama dalam ingatan. Begitu juga saat saya membaca kisah kecil dari Sapiens karya Yuval Noah Harari, kisah tentang sebuah suku di Spanyol bernama Numantia. Harari menceritakan bagaimana kota kecil itu, yang dihuni suku Celtiberia, memilih untuk melawan Imperium Romawi yang ketika itu hampir mustahil dikalahkan. Mereka kecil, Roma raksasa. Mereka miskin, Roma kaya. Mereka sendirian, Roma datang dengan kekuatan dunia. Namun mereka tidak menyerah. Mereka bertahan sampai akhir, dengan kehormatan menjadi harga terakhir yang mereka miliki. Numantia memang hancur, rakyatnya musnah, dan kota itu hilang dari peta sejarah. Tapi keberanian mereka bertahan sebagai kisah yang terus diingat bangsa Spanyol sampai hari ini.

Saat membaca bagian itu, entah kenapa saya langsung teringat pada cerita lain, sebuah cerita yang tidak disebut Harari, tetapi saya sendiri yang menyambungkan: kisah Manila sebelum menjadi Manila, ketika ia masih sebuah kerajaan Islam yang berdiri gagah di pesisir Teluk Luzon. Qadarullah saya pernah berkunjung kesana beberapa tahun yg lalu.
Di sana ada seorang tokoh yang namanya jarang disebut di buku sejarah umum kita, tetapi dihormati di Filipina sebagai simbol keberanian: Rajah Sulaiman. Seperti Numantia, kerajaan kecil itu suatu hari harus berhadapan dengan sebuah kekuatan besar: armada Spanyol yang sedang berkembang menjadi salah satu imperium dunia. Sulaiman, bersama para penguasa Muslim lainnya, tahu bahwa mereka sedang menghadapi kekuatan yang kemungkinan besar tidak akan dapat mereka kalahkan. Tetapi seperti warga Numantia, mereka tidak memilih tunduk. Mereka memilih melawan, memilih mempertahankan tanah yang mereka percaya adalah amanah dari leluhur dan Tuhan mereka.
Kota itu akhirnya jatuh. Manila dibakar, direbut, dijadikan pusat kolonial Spanyol selama berabad-abad. Namun nama Sulaiman tetap hidup sebagai simbol kehormatan, bahkan jika kekuatan politiknya musnah seperti halnya Numantia.
Patung Rajah Sulaiman di Manila, Filipina
Dan saat dua cerita ini berdiri berdampingan, Numantia di Eropa abad kedua sebelum Masehi, Manila Islam di Asia Tenggara abad ke-16, saya teringat akan satu kisah lain, yang jauh lebih tua namun memiliki gema keberanian yang sama, tetapi dengan takdir yang berbeda: Perang Badar.
Di Badar, umat Islam jauh lebih kecil daripada pasukan Quraisy. Kekuatan tidak seimbang, senjata seadanya, dan kemungkinan kekalahan secara duniawi sangat besar. Tetapi ada sesuatu yang tidak dimiliki Numantia atau Manila: doa seorang Nabi yang membawa risalah terakhir untuk umat manusia. Di malam sebelum perang itu, Rasulullah SAW berdiri memanjatkan doa yang mengguncang langit:
“Ya Allah, jika pasukan kecil ini kalah, (mungkin) tidak akan ada lagi di muka bumi ini orang yang menyembah-Mu.”
Itu bukan sekadar doa kemenangan. Itu doa tentang kelangsungan cahaya. Tentang masa depan iman. Tentang arah sejarah manusia. Dan keesokan paginya, hasilnya berbeda dari dua kisah sebelumnya: Badar dimenangkan oleh mereka yang lemah secara jumlah, tetapi kuat dalam janji Tuhannya.
Salah satu bekas bangunan kuno di Lembah Badar

Monumen Daftar Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Gugur di Medan Perang.

Tiga cerita ini berdiri dalam satu garis panjang tentang manusia menghadapi kekuatan besar. Numantia berakhir dengan kehancuran, Sulaiman di Manila berakhir dengan gugurnya sebuah kerajaan, tetapi Badar justru menjadi titik balik yang mengubah sejarah dunia. Namun ketiganya punya satu benang merah: keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah meski secara logika dunia tidak ada peluang untuk menang. Keberanian mempertahankan martabat. Keberanian menegakkan keyakinan ketika dunia terlihat gelap.
Harari menulis bahwa sejarah sering kali ditentukan oleh imperium-imperium besar, dan kelompok kecil biasanya hilang ditelan gelombang. Tapi ia juga menulis bahwa manusia selalu punya kapasitas untuk percaya pada makna, pada cerita, dan pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Di situlah keberanian lahir.
Dan mungkin, di situlah kita semua menemukan diri kita hari ini: antara kisah Numantia yang kalah tetapi terhormat, kisah Rajah Sulaiman yang gugur tetapi abadi dalam memori bangsanya, dan kisah Badar yang menunjukkan bahwa dalam beberapa momen sejarah, ketika manusia benar-benar bersandar pada Tuhan, cerita bisa berbalik menjadi keajaiban yang mengubah dunia.
Tiga kisah, tiga benua, tiga zaman. Satu pelajaran:
Dalam hidup, kemenangan tidak selalu diukur dari hasil akhir. Kadang, keberanian berdiri tegak di tengah badai itulah yang membuat sebuah nama tidak pernah mati.

2025/11/13

Sinopsis “Babad Dipanegara”

Babad Dipanegara adalah karya sastra dan sejarah monumental yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara sendiri, atau Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra, ketika beliau diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara setelah kekalahannya dalam Perang Jawa (1825–1830).

Naskah ini ditulis dalam bentuk tembang (puisi berbahasa Jawa) yang terdiri dari 43 pupuh, dan merupakan kombinasi unik antara autobiografi, kronik sejarah, dan renungan spiritual.
Isi babad tidak hanya menceritakan perjuangan fisik melawan penjajahan Belanda, tetapi juga menggambarkan pandangan dunia Jawa, sejarah Majapahit, kerajaan Islam di Jawa, hingga kisah para wali dan nabi-nabi. Dengan gaya tutur khas Jawa, Dipanegara menulis bukan sekadar untuk hiburan, tetapi untuk mendidik dan menyadarkan bangsanya akan pentingnya kemerdekaan dan kemandirian.
Naskah ini kemudian diakui oleh UNESCO pada tahun 2013 sebagai bagian dari “Memory of the World” (MoW) karena nilainya yang luar biasa bagi sejarah dunia, menjadikannya salah satu manuskrip terpenting dari Indonesia.
Ringkasan Isi (Summary)
“Babad Dipanegara” terdiri dari empat jilid besar (Babad I–IV) dan 43 pupuh.
Berikut garis besar isinya:
Babad Dipanegara I (Pupuh I–XI)
Berisi asal-usul dan latar belakang sejarah Jawa:
• Menceritakan tentang kejayaan Majapahit, masa Hayam Wuruk, hingga kemunculan kerajaan Islam di tanah Jawa.
• Dikisahkan pula sejarah para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati.
• Pangeran Dipanegara mulai memperkenalkan dirinya dan pandangannya tentang kerusakan moral bangsawan Jawa akibat pengaruh Belanda.
Babad Dipanegara II (Pupuh XII–XIX)
• Mengisahkan masa kecil dan pendidikan spiritual Pangeran Dipanegara.
• Ia menolak kemewahan keraton dan memilih hidup sederhana di Tegalrejo, di tengah rakyat.
• Mulai terlihat ketegangan antara dirinya dan pihak Belanda yang ikut campur dalam urusan kerajaan Yogyakarta.
Babad Dipanegara III (Pupuh XX–XXXI)
• Awal Perang Jawa. Pangeran Dipanegara tampil sebagai pemimpin rakyat dan ulama pejuang yang menegakkan keadilan.
• Diceritakan strategi, taktik perang, dan keberanian pasukannya.
• Tercermin pula kebijaksanaan spiritualnya—ia melihat perjuangan bukan semata perang duniawi, tapi jihad fi sabilillah melawan kezaliman.
Babad Dipanegara IV (Pupuh XXXII–XLIII)
• Menggambarkan masa akhir perjuangan, pengkhianatan, dan penangkapannya.
• Dipanegara tetap sabar dan tegar, menulis naskah ini dalam pengasingan di Manado.
• Ia merefleksikan hidup, keadilan, dan takdir Allah, serta menyerahkan hasil perjuangannya kepada generasi berikutnya.

Siapa Pangeran Dipanegara?
Pangeran Dipanegara (1785–1855) adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta. Nama kecilnya Raden Mas Ontowiryo.
Ia dikenal sebagai pemimpin besar Perang Jawa, seorang pahlawan nasional Indonesia, dan juga ulama serta cendekiawan yang mendalam pengetahuannya tentang agama dan budaya Jawa.
Beliau menolak kehidupan istana yang berbau kolonial dan lebih memilih hidup asketis, dekat dengan rakyat. Dipanegara dikenal sebagai “Ratu Adil”, sosok mesianis yang diyakini masyarakat Jawa akan datang membawa keadilan dan kedamaian.

Kejeniusan Pangeran Dipanegara dalam Menulis
1. Struktur Sastra yang Kompleks
Ia menggunakan bentuk tembang macapat—puisi tradisional Jawa dengan aturan metrum ketat. Hal ini menunjukkan keluasan pengetahuan sastra klasiknya.
2. Gaya Bahasa Simbolik dan Filosofis
Tiap bait memuat lapisan makna: sejarah, spiritual, dan moral. Ia menulis dengan kecerdikan sufistik, mengaitkan peristiwa sejarah dengan nilai-nilai ketauhidan.
3. Fungsi Didaktik dan Dakwah
Babad ini bukan hanya sejarah, tetapi nasihat moral dan ajakan religius.
Dalam Islam, menulis untuk mengabadikan ilmu dan pengalaman merupakan amal jariyah.
Dipanegara menulis bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk memberi pelajaran bagi generasi berikutnya; sebuah jihad intelektual.

Paralel dengan Tuanku Imam Bonjol
Menariknya, Pangeran Dipanegara semasa dengan Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat, keduanya:
• Pejuang Islam melawan kolonial Belanda.
• Tokoh karismatik yang menggabungkan peran ulama dan panglima perang.
• Sama-sama pandai menulis; Imam Bonjol juga meninggalkan memoir “Riwayat Tuanku Imam Bonjol”.
• Dan keduanya diakhiri hidupnya dalam pengasingan di Sulawesi (Diponegoro di Manado, Imam Bonjol di Minahasa).
Dua tokoh ini menjadi teladan “ulil albab” dalam Islam, orang berakal yang menggunakan pena dan pedang dalam perjuangan: menulis untuk melawan lupa, dan berjuang untuk menegakkan kebenaran.

Keterangan dari Foto Buku
• Judul: Babad Dipanegara
• Penulis: Pangeran Dipanegara / Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra
• Penerbit: Narasi, Yogyakarta
• Harga: Rp 150.000,-
• Diakui UNESCO (2013) sebagai Memory of the World
• Isi: 43 pupuh dalam 4 babad besar
• Kategori: Sejarah & Budaya (U17+)
• Bahasa: Jawa (terjemahan dalam bahasa Indonesia)