Kalau mendengar kata Batahan, mungkin yang langsung terbayang adalah salah satu kawasan di pesisir barat Mandailing Natal.Tetapi ternyata, nama Batahan bukanlah nama yang baru muncul ketika pemerintah kolonial Belanda membentuk pemerintahan modern.
Jejak tertulisnya sudah membawa kita setidaknya ke abad ke-17.
Dan semakin dicari, ceritanya justru semakin menarik.
Dari Barus ke Batahan
Pada awal abad ke-16, seorang Portugis bernama Tomé Pires menulis Suma Oriental, salah satu catatan paling penting mengenai Asia Tenggara pada zamannya.
Pires menggambarkan Barus sebagai kerajaan penting di pantai barat Sumatra.
Menariknya, kita perlu berhati-hati di sini. Pires tidak terbukti menyebut nama Batahan secara langsung dalam teks yang kita telusuri.
Tetapi catatan Pires memberi kita konteks penting: Barus sudah menjadi pusat politik dan perdagangan besar di pantai barat Sumatra jauh sebelum VOC menguasai perdagangan kawasan tersebut. Dan lebih dari satu abad kemudian, hubungan Barus dengan Batahan muncul secara eksplisit dalam arsip VOC.
1669: Batahan muncul dalam laporan VOC
Salah satu bukti paling menarik berasal dari tahun 1669.
Dalam laporan Melman kepada Pits, yang tersimpan dalam arsip VOC 1272, folio 1065, seorang informan VOC menyampaikan bahwa otoritas para penguasa Barus membentang sepanjang pantai hingga ke Batahan.
Informasi ini kemudian dikaji oleh sejarawan Jane Drakard dalam jurnal Journal of Southeast Asian Studies.
Artinya, pada 1669, Batahan sudah muncul bukan sekadar sebagai nama tempat. Ia muncul dalam konteks kekuasaan politik.
Tentu kita tidak boleh buru-buru menerjemahkannya sebagai "Batahan adalah bagian administratif Barus" seperti kabupaten dan kecamatan sekarang. Konsep kekuasaan abad ke-17 jauh lebih cair.
Bisa berupa hubungan politik, patronase, perdagangan, pengakuan terhadap penguasa, atau jaringan kekuasaan pesisir.
Tetapi satu hal jelas:
Batahan sudah dikenal dalam jaringan politik pantai barat Sumatra pada 1669.
1670: Batahan disebut lagi
Hanya setahun kemudian, nama Batahan muncul kembali dalam dokumen VOC.
Dalam arsip tahun 1670, Batahan disebut bersama sejumlah wilayah lain:
Taboeijongh, Batamondam, Sincko Wan, Natar, en Batahan.
Yang menarik, catatan tersebut tidak berhenti pada nama wilayah.
Ia juga berbicara tentang kampung-kampung yang berada di bawah wilayah tersebut.
Batahan, dengan demikian, mulai terlihat sebagai sebuah entitas wilayah dalam jaringan pesisir dan pedalaman. Kawasan ini juga terkait dengan arus hasil alam seperti kemenyan dan kapur barus yang bergerak menuju pusat-pusat perdagangan di pantai.
Lalu datang satu tanggal penting:
29 JANUARI 1693
Tanggal ini menurut saya layak dicatat baik-baik dalam sejarah Batahan.
Pada hari itu, VOC membuat sebuah kontrak dengan para penguasa Batahan.
Dalam database resmi Sejarah Nusantara – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dokumen tersebut tercatat sebagai:
Contract DXLVI – 546
Tanggal:
29 Januari 1693
Nama wilayah:
Batahan, Baros
Dan tempat penandatanganannya ditulis:
rivierkant Battahan
yang berarti kira-kira:
"di tepi Sungai Battahan."
Ini bukan lagi catatan seorang pengelana. Bukan pula sekadar nama yang muncul dalam peta.
Ini adalah dokumen diplomatik VOC yang mencatat hubungan resmi dengan para penguasa lokal Batahan.
Siapa para penguasa Batahan saat itu?
Dokumen 1693 mencatat sejumlah nama:
- Ponglous Setongel alias Radja Kitchil
- Radja Katiep
- Radja Inda-Lilla
- Southan Mandeyros
- Radja Mantiko
- Inda Bongsoe
Coba bayangkan.
Tahun 1693. Di tepi Sungai Battahan. Para penguasa lokal Batahan bertemu dengan pejabat VOC.
Nama-nama mereka kemudian ditulis oleh juru tulis Belanda dan tersimpan dalam arsip selama lebih dari tiga abad.
Hari ini kita bisa membacanya kembali.
Batahan dan emas
Cerita Batahan ternyata tidak hanya soal politik.
Dalam karya E.B. Kielstra:
“Onze Kennis van Sumatra's Westkust, Omstreeks de Helft der Achttiende Eeuw”
yang terbit tahun 1887, Kielstra mengolah berbagai sumber lama mengenai pantai barat Sumatra.
Pada bagian mengenai Batahan, ia mencatat keberadaan dua penguasa, yaitu:
Orang Kaja Boengsoe dan Soetan Moeda. https://www.ferisusanto.com/2024/04/sebelum-raja-perempuan-dinobatkan-telah.html
Ia juga mencatat adanya tambang-tambang emas di kawasan tersebut.
Jadi pada abad ke-17 dan ke-18, Batahan berada di persimpangan yang sangat menarik:
penguasa lokal + perdagangan pesisir + hasil hutan + emas + hubungan dengan kekuatan regional.
Sumber Kielstra sendiri dapat diakses melalui repositori Universitas Utrecht.
Batahan bukan wilayah yang berdiri sendiri
Kalau semua sumber tersebut kita susun, muncul sebuah gambaran yang menarik:
Barus
↓
jaringan pesisir Sumatra Barat bagian utara
↓
Natal
↓
Batahan
↓
pedalaman penghasil emas dan hasil hutan
Batahan berada di sebuah kawasan pertemuan berbagai dunia:
dunia Melayu pesisir, masyarakat Batak di pedalaman, jaringan perdagangan Minangkabau/Rao,
pengaruh Aceh, dan kemudian VOC.
Karena itu, sejarah Batahan tidak sederhana.
Ia adalah sejarah sebuah wilayah perbatasan dan pertemuan berbagai jaringan kekuasaan.
Dari Raja ke "Kepala Koeria"
Ratusan tahun kemudian, struktur pemerintahan berubah.
Pada masa Hindia Belanda, Batahan dikenal sebagai Koeria.
Dan di sinilah muncul satu dokumen yang sangat menarik bagi sejarah keluarga dan masyarakat Batahan.
Pada tahun 1931, seorang bernama:
MOHAMAD JOENOES
dengan gelar:
SOETHA MAHARADJA ADAT
tercatat sebagai:
Hoofd van de Koeria Batahan
atau Kepala Koeria Batahan.
Ia diakui berdasarkan keputusan Residen Tapanoeli tanggal 3 Maret 1931 No. 212.
Tiga tahun kemudian, pada 28 November 1934, terbit surat ontslag yang menyatakan ia diberhentikan dari jabatannya. Jadi, struktur kepemimpinan Batahan yang kita lihat pada abad ke-20 ternyata mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang.
Dari para Radja yang menandatangani kontrak VOC pada 1693...
hingga Hoofd van de Koeria Batahan pada 1931.
Jadi, sejak kapan Batahan ada?
Ini pertanyaan yang belum selesai.
Untuk sementara, bukti yang sangat kuat membawa kita pada:
1669
Batahan disebut dalam laporan VOC dalam kaitannya dengan otoritas Barus.
1670
Batahan kembali disebut dalam arsip VOC.
1693
Para penguasa Batahan membuat kontrak dengan VOC.
1739
Batahan muncul dalam literatur geografis Eropa.
Abad ke-18
Batahan dicatat memiliki penguasa, tambang emas, dan jaringan ekonomi pesisir-pedalaman.
1931
Batahan sudah menjadi Koeria dengan kepala yang diakui pemerintah kolonial.
Dan ada satu pertanyaan besar yang masih terbuka:
Apakah Batahan sudah disebut dalam sumber tertulis sebelum 1669?
Kemungkinan itu masih sangat menarik untuk ditelusuri.
Kita harus mencari berbagai bentuk ejaan lama:
Batahan – Battahan – Bat(t)ahan – dan kemungkinan bentuk Portugis lainnya.
Karena tiga atau empat abad lalu, orang Eropa belum memiliki standar ejaan nama tempat seperti sekarang.
Batahan bukan "lahir" pada zaman Belanda
Justru sebaliknya. VOC datang kemudian dan mencatatnya.
Sebelum kontrak 1693 dibuat, sudah ada masyarakat, penguasa, jaringan perdagangan, dan hubungan politik di Batahan. Arsip VOC hanya meninggalkan jejak tertulis yang memungkinkan kita sekarang membuka kembali cerita tersebut.
Dan mungkin inilah yang paling menarik dari sejarah:
Sebuah tempat tidak menjadi tua karena namanya muncul di buku sejarah.
Namanya muncul di buku sejarah karena tempat itu memang sudah memiliki kehidupan jauh sebelumnya. Batahan adalah salah satunya.
Dan semakin kita membuka arsip lama, semakin terasa bahwa sejarah Batahan ternyata jauh lebih panjang daripada yang selama ini kita bayangkan.
Referensi utama
- VOC 1272, fol. 1065 — Melman to Pits, 1669.
- Rujukan mengenai jangkauan otoritas penguasa Barus hingga Batahan. Dibahas oleh Jane Drakard.
- VOC 1272 — dokumen tahun 1670.
- Memuat penyebutan Taboeijongh, Batamondam, Sincko Wan, Natar, dan Batahan.
- Contract DXLVI–546, Batahan, 29 Januari 1693.
- Database Sejarah Nusantara, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
- E.B. Kielstra, “Onze Kennis van Sumatra's Westkust, Omstreeks de Helft der Achttiende Eeuw,” 1887, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 36, hlm. 499–559.
- Jane Drakard, “Ideological Adaptation on a Malay Frontier,” Journal of Southeast Asian Studies.
- Tomé Pires, The Suma Oriental of Tomé Pires, ed. Armando Cortesão, Hakluyt Society, London, 1944 — terutama untuk konteks Barus pada awal abad ke-16.
Catatan: Dalam penelitian ini, Tomé Pires tidak digunakan sebagai bukti bahwa ia menyebut Batahan secara langsung. Ia digunakan sebagai konteks awal mengenai Barus. Penyebutan Batahan yang eksplisit dan kuat muncul dalam sumber VOC mulai 1669.
Penelitian sejarah Batahan masih berlanjut. Justru bagian paling menarik mungkin belum ditemukan: jejak Batahan sebelum 1669.
Catatan: Dalam penelitian ini, Tomé Pires tidak digunakan sebagai bukti bahwa ia menyebut Batahan secara langsung. Ia digunakan sebagai konteks awal mengenai Barus. Penyebutan Batahan yang eksplisit dan kuat muncul dalam sumber VOC mulai 1669.
Penelitian sejarah Batahan masih berlanjut. Justru bagian paling menarik mungkin belum ditemukan: jejak Batahan sebelum 1669.

No comments:
Post a Comment