"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

Showing posts with label Management. Show all posts
Showing posts with label Management. Show all posts

2026/01/20

QA Tanpa RCA Itu Seperti Dokter Tanpa Diagnosa

Setiap kejadian tidak pernah berdiri sendiri. Ada sebab. Ada pola. Ada akar masalah.

Di dunia contact center, kita sering melihat angka. AHT naik. CSAT turun. Repeat call tinggi. Error SOP berulang. Pertanyaannya bukan “siapa yang salah?”, tapi “apa yang sebenarnya terjadi?”

Di sinilah Root Cause Analysis (RCA) menjadi senjata utama seorang QA.



RCA: Lebih dari Sekadar Analisa

RCA bukan kegiatan mencari kambing hitam. RCA adalah proses memahami akar masalah, bukan hanya gejalanya.

Seperti dokter yang tidak langsung memberi obat pereda nyeri tanpa tahu sumber penyakit, QA yang matang tidak akan langsung memberi coaching atau corrective action tanpa memahami penyebab terdalam.

Sakit kepala bisa karena kurang tidur, stres, dehidrasi, atau masalah serius. Begitu juga error agent bisa karena skill gap, SOP yang ambigu, sistem yang tidak ramah, atau target yang tidak realistis.

Metodologi Itu Alat, Bukan Tujuan

Dalam framework QA dan Lean Six Sigma, kita mengenal berbagai pendekatan:

·       Fishbone / Ishikawa untuk memetakan faktor Man, Method, Machine, Material, Measurement, Environment

·       Pareto untuk fokus pada masalah yang berdampak terbesar

·       5 Whys untuk menggali lapisan sebab sampai ke akar

·       Data trend, sampling, dan cross analysis

Namun penting diingat: alat tidak akan bermakna tanpa cara berpikir yang benar.

RCA bukan soal seberapa banyak tools yang dikuasai, tapi seberapa jujur dan dalam kita mau bertanya: “Kenapa ini bisa terjadi?” “Kalau kita ubah ini, apakah masalahnya benar-benar selesai?”

Kenapa QA Wajib Menguasai RCA

Tanpa RCA, QA berisiko menjadi:

·       Sekadar pencatat kesalahan

·       Mesin checklist kepatuhan

·       Pemberi feedback yang berulang tapi tidak menyembuhkan

Dengan RCA, QA berubah menjadi:

·       Partner perbaikan proses

·       Penjaga kualitas jangka panjang

·       Sumber insight bagi manajemen

QA yang paham RCA tidak hanya berkata “ini salah”, tapi “ini penyebabnya, ini dampaknya, dan ini solusi yang paling masuk akal.”

TL dan SPv: Jangan Lepas Tangan

RCA bukan domain QA saja.

Seorang TL atau SPv yang tidak memahami RCA akan cenderung:

·       Over-coaching agent

·       Mengulang solusi yang sama

·       Mengira masalah selesai padahal hanya tertutup sementara

Sebaliknya, TL dan SPv yang menguasai RCA mampu:

·       Mengambil keputusan berbasis data

·       Melakukan coaching yang tepat sasaran

·       Mengusulkan perbaikan sistem, bukan sekadar menekan individu

Leadership tanpa RCA itu reaktif. Leadership dengan RCA itu strategis.

Menyembuhkan, Bukan Menambal

Melakukan RCA itu seperti tugas dokter sejati: bukan hanya menghilangkan gejala, tapi menyembuhkan penyakitnya.

Karena dalam kualitas, perbaikan yang salah arah hanya akan mengulang masalah yang sama — dengan wajah yang berbeda.

QA, TL, dan SPv yang memahami RCA adalah mereka yang tidak puas dengan jawaban dangkal. Mereka memilih menggali. Dan dari situlah kualitas benar-benar tumbuh.

 

2025/12/05

Kenapa Kebahagiaan Karyawan Selalu Menjadi Titik Awal Kebahagiaan Pelanggan?

Penulis bersama team dan perwakilan klien dalam satu event Team Engagement di Jakarta

Di banyak perusahaan, kita sering bicara tentang customer experience, service excellence, atau bagaimana membuat pelanggan merasa puas. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: semua itu dimulai dari orang-orang di balik layar. Customer happiness tidak pernah muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tim yang bahagia, yang merasa dihargai, dan yang menjalani hari-harinya dengan energi positif.

People engagement bukan sekadar program internal atau aktivitas seremonial. Ia adalah cara kita hadir untuk satu sama lain. Kadang bentuknya sederhana; menonton film bareng, makan siang bersama, outing, hangout bareng atau sekadar ngobrol santai tanpa agenda. Kehadiran seperti itu membangun jarak yang lebih dekat antara kita sebagai manusia. Ketika kedekatan itu tumbuh, rasa percaya muncul. Dan ketika percaya sudah terbentuk, bekerja sama menjadi jauh lebih natural.

Di dunia kerja yang serba cepat, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan juga perlu di-deliver. Bukan hanya kepada pelanggan, tetapi pertama-tama kepada tim kita sendiri. Ketika karyawan merasa diperhatikan, dihormati, dan dihargai, mereka menjadi jauh lebih puas. Kepuasan itu mengubah cara mereka bekerja. Mereka lebih ringan, lebih positif, dan lebih bersemangat menghadapi tantangan.


Employee satisfaction bukan hanya perkara gaji atau benefit. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari suasana kerja yang membuat mereka merasa aman, dari interaksi yang membuat mereka merasa dihargai, dari momen-momen kebersamaan yang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Ketika seseorang merasa bahagia di tempat kerjanya, ia akan memberikan yang terbaik tanpa perlu diminta.

Dan pada akhirnya, pelanggan akan merasakan itu. Mereka bisa membedakan mana layanan yang datang dari seseorang yang tertekan, dan mana yang datang dari seseorang yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Energi itu menular. Senyum yang tulus, sikap yang ramah, kesediaan membantu tanpa keluhan—semuanya lahir dari hati yang bahagia.

Itulah sebabnya people engagement seharusnya bukan sekadar program HR. Ia adalah mindset kepemimpinan. Cara kita membangun budaya. Cara kita menunjukkan bahwa perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Ketika pemimpin menghadirkan kebahagiaan di dalam tim, tim akan menghadirkan kebahagiaan itu kembali kepada pelanggan.

Pada akhirnya, kebahagiaan selalu mengalir ke bawah. Jika tim kita merasa terhubung, mereka akan melayani dengan hati. Jika mereka merasa dihargai, mereka akan bekerja dengan percaya diri. Dan jika mereka bahagia, maka pelanggan pun akan merasakan kebahagiaan itu.

Inilah inti dari people engagement: kebahagiaan yang dimulai dari dalam, lalu menjelma menjadi pengalaman terbaik bagi semua yang kita layani.







2025/10/31

It’s Not AI vs Human, But AI for Human

Di banyak organisasi hari ini, tim Customer Experience sedang dikejar euforia yang sama. Semua ingin terlihat “AI-ready”. Mereka bicara tentang transformasi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan seolah itu adalah tiket menuju masa depan. Dalam setiap presentasi, kata AI menjadi mantra baru: simbol kemajuan, bukti inovasi, bahkan kadang pelarian dari kenyataan bahwa pelayanan pelanggan masih jauh dari sempurna.

Namun di tengah hiruk pikuk itu, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: apa sebenarnya yang diinginkan pelanggan? Jawabannya sering kali bukan teknologi. Mereka tidak bangun pagi dengan harapan untuk berbicara dengan bot atau menavigasi menu otomatis yang tak berujung. Mereka hanya ingin masalahnya cepat diselesaikan, dipahami tanpa harus menjelaskan berulang kali, dan diperlakukan sebagai manusia, bukan tiket antrian yang harus ditutup sebelum akhir shift.

AI bisa mempercepat, memprediksi, bahkan menebak perilaku. Tapi AI tidak tahu rasanya kecewa. Ia tidak mengerti nada lelah dalam suara seseorang, atau kehangatan dari sapaan yang tulus. AI bisa menyalin kata-kata empati, tapi tidak bisa benar-benar merasakannya. Di sinilah letak paradoks besar industri CX hari ini. Semakin banyak organisasi bicara tentang human-centric experience, semakin sedikit yang benar-benar memberi ruang bagi kemanusiaan itu sendiri.

Teknologi seharusnya membantu manusia bekerja lebih baik, bukan menggantikannya. AI seharusnya membebaskan waktu agent untuk fokus pada percakapan yang benar-benar penting, bukan menjauhkan pelanggan di balik lapisan sistem yang rumit. AI bisa menjadi alat yang luar biasa ketika diarahkan dengan benar, AI for human, bukan AI versus human.

CX yang hebat tidak lahir dari sistem paling canggih, melainkan dari manusia yang menggunakan teknologi untuk membuat hubungan menjadi lebih manusiawi. Sebuah sistem mungkin bisa menutup tiket dengan cepat, tapi hanya manusia yang bisa menenangkan pelanggan yang kecewa. Sebuah bot mungkin mampu memberi jawaban akurat, tapi hanya manusia yang bisa memberi rasa dimengerti.

Kita sedang hidup di masa di mana setiap perusahaan ingin menjadi AI-driven, tapi pelanggan tetap menginginkan satu hal yang sama sejak dulu: diperlakukan dengan hormat dan penuh perhatian. Pada akhirnya, pelanggan tidak akan mengingat algoritma yang kita gunakan, tapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka merasa setelah berinteraksi dengan kita.

Maka sebelum menempelkan label AI-powered di setiap presentasi, ada baiknya kita bertanya: apakah ini benar-benar membantu manusia, atau sekadar menenangkan rasa takut kita tertinggal tren? Sebab masa depan Customer Experience bukan tentang siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan siapa yang paling bijak menggunakannya untuk memperkuat kemanusiaan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, bukan AI versus human yang akan menentukan arah pelayanan pelanggan, tetapi bagaimana kita menjadikan AI for human, teknologi yang berpihak pada manusia.

Ketika Semua BPO Menjual “AI”: Di Mana Letak Pembeda yang Sebenarnya?

Lanskap industri Business Process Outsourcing (BPO) di Indonesia kini memasuki fase paling ketat dalam dua dekade terakhir. Setiap pemain; besar maupun baru berbicara dalam bahasa yang sama: AI-driven operation, automation, digital transformation. Namun jika kita jujur, sebagian besar masih berada di tahap marketing maturity, belum sepenuhny aoperational maturity.

Artinya: AI sudah dijual, tapi belum benar-benar dijalankan semuanya.

Semua berlomba bicara AI, tapi pelanggan tetap bicara satu hal: hasil.

Harga? Semua Bisa Murah.

Bersaing lewat harga hari ini bukan strategi, melainkan keputusasaan yang dipoles dengan kata “efisiensi.”
Karena dengan semakin banyaknya freelancer platform, shared service, dan cloud automation tools, harga bukan lagi kekuatan, melainkan titik lemah.

BPO yang hanya menonjolkan tarif rendah akan terjebak menjadi “operator tanpa identitas.”
Cepat diganti, mudah dilupakan.

Produk? Semua Juga Bisa Buat.

Hari ini, customer support tools, chatbot, dan CX dashboard bisa dibangun dalam hitungan minggu.
Tidak ada yang eksklusif.
Bahkan teknologi yang disebut “proprietary” pun seringkali hanyalah rebranding dari vendor global.

Jika semua BPO berbicara dengan pitch deck yang sama, otomatisasi, omnichannel, AI, analytics  maka yang tersisa bukan lagi apa yang dijual, melainkan bagaimana dan siapa yang menjalankannya.

Pembeda yang Sesungguhnya: Budaya Operasional dan Kecerdasan Kontekstual

Ke depan, pembeda bukan lagi tools, melainkan cara kerja dan nilai yang dibawa ke klien.

  1. Budaya Operasional
    Apakah setiap agent, team leader, dan manajer punya ownership terhadap pengalaman pelanggan yang mereka layani?
    Atau mereka hanya menjalankan SLA seperti robot tanpa empati?
    AI bisa membantu menjawab cepat, tapi hanya manusia yang bisa memahami konteks dan niat di balik pertanyaan.

  2. Kecerdasan Kontekstual (Contextual Intelligence)
    Inilah kekuatan baru yang tak bisa digantikan AI murni.
    BPO yang memahami konteks industri kliennya; asuransi, kesehatan, telekomunikasi, logistik, keuangan, dll akan selalu lebih bernilai dibanding BPO yang sekadar menjawab tiket.
    Mereka bukan sekadar penyedia layanan, tapi partner strategis yang bisa membaca denyut bisnis klien.

  3. Sense of Humanity dalam Teknologi
    Dalam dunia di mana semua orang bicara machine learning, justru human learning yang harus ditonjolkan. Bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat empati, bukan menggantikan sentuhan manusia.
    BPO yang bisa menyeimbangkan ini; antara kecerdasan buatan dan kecerdasan emosional; akan memenangkan loyalitas, bukan sekadar kontrak.

Poin PENTING:
Yang Bertahan Bukan yang Tercanggih, Tapi yang Paling Relevan

Dalam perlombaan BPO modern, relevansi menjadi kata kunci. AI boleh datang dan pergi, tapi kepercayaan dan hasil nyata akan selalu abadi. BPO masa depan bukan sekadar “operator pintar”, melainkan mitra bisnis yang mampu berpikir, beradaptasi, dan tumbuh bersama kliennya.

Di era penuh jargon ini, mungkin pembeda terbaik bukan lagi teknologi,
melainkan ketulusan untuk benar-benar memahami apa yang dibutuhkan manusia di balik sistem.


2025/09/19

Empati, Sinergi, Adaptasi: Kunci Sukses 20 Tahun di Dunia Customer Experience

foto: Istimewa

Selama lebih dari 20 tahun berkarier di bidang Customer Operation, saya berkesempatan belajar banyak hal. Bukan hanya dari principal, tetapi juga dari tim internal dan mitra BPO (Business Process Outsourcing) yang menjadi bagian penting dalam perjalanan ini.

Dari proses panjang tersebut, ada tiga pelajaran utama yang paling membekas dan terus relevan hingga hari ini:

1. Empati Adalah Kunci

Dalam dunia customer experience, kemampuan mendengar sebelum berbicara adalah keterampilan paling berharga. Dengan empati, kita memahami permasalahan pelanggan secara lebih utuh, sehingga solusi yang diberikan bukan sekadar jawaban, melainkan benar-benar kebutuhan mereka.

2. Sinergi Itu Energi

Customer Operation tidak bisa berjalan sendiri. Principal, internal team, dan mitra BPO bukanlah stakeholder yang berdiri terpisah. Mereka adalah satu ekosistem yang saling menguatkan.
Ketika sinergi terbangun, energi positif mengalir dan hasil kerja pun lebih maksimal.

3. Adaptasi Menjadi Skill Utama

Teknologi terus berubah, ekspektasi pelanggan semakin tinggi, dan tren industri bergerak cepat. Namun, ada satu kemampuan yang selalu jadi penentu: adaptasi.
Mereka yang mampu beradaptasi akan tetap relevan, bertahan, dan bahkan tumbuh di tengah perubahan.

Karier Bukan Soal Posisi, Tapi Kontribusi

Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan bahwa karier tidak diukur dari seberapa tinggi posisi yang kita capai, melainkan dari kontribusi apa yang kita tinggalkan. Nilai itulah yang membentuk legacy kita di dunia kerja.

Inilah pesan yang sering saya bagikan kepada tim, terutama mereka yang baru memulai perjalanan karier di bidang Customer Operation:

“Bukan tentang seberapa cepat naik jabatan, tapi tentang seberapa besar dampak yang bisa kita berikan.”

Refleksi untuk Anda

Kalau dari perjalanan karier Anda sendiri, apa pelajaran paling membekas hingga hari ini?
Mari berbagi pengalaman agar semakin banyak profesional yang terinspirasi untuk tumbuh dan berkontribusi di bidang Customer Experience dan Operations.

2025/09/03

✨ Belajar dari Siapapun, Kapanpun, Dimanapun ✨

Biiznillah, sudah lebih dari 20 tahun saya berkecimpung di industri telekomunikasi dan e-commerce, baik di sisi klien maupun bisnis processor sourcing. Satu hal yang selalu saya pegang: jangan pernah berhenti belajar, dan belajarlah dari siapa saja.

Dalam sesi coaching, counseling, maupun mentoring, peran kita bukan sekadar mengarahkan, memberi contoh, atau menyuruh. Lebih dari itu, kita perlu menyelami cara berpikir tim, mendengar gagasan mereka, dan belajar dari pengalaman mereka. Ternyata, banyak hal berharga yang justru datang dari tim sendiri.

Itulah yang kembali saya rasakan saat skip level meeting di Semarang beberapa hari lalu. Dari percakapan yang hangat dengan rekan-rekan di sana, saya mendapat inspirasi baru, sudut pandang segar, dan pelajaran yang tak kalah penting untuk perjalanan bersama.

Karena sejatinya, setiap pertemuan adalah kesempatan untuk tumbuh.

hashtagLeadership hashtagCoaching hashtagMentoring hashtagTeamwork

2025/07/15

Tanpa Unit Baru, Ini Cara Cerdas Memulai Fungsi Customer Experience di Tim Anda

Dalam dunia bisnis yang makin kompetitif, pengalaman pelanggan (Customer Experience/CX) bukan lagi sekadar pelengkap; ia bisa menjadi penentu keberhasilan. Namun, tak semua organisasi punya kemewahan untuk langsung membentuk unit CX khusus. Apalagi jika constraint anggaran masih jadi kenyataan sehari-hari.

Tapi tenang. Fungsi CX tetap bisa dijalankan tanpa harus menunggu terbentuknya departemen baru. Kuncinya? Memberdayakan yang sudah ada.

Berikan Kepercayaan pada Tim Customer Service

Langkah paling efektif adalah mempercayakan sebagian fungsi CX kepada para Leaders di unit Customer Service (CS). Mereka adalah garda depan, yang paling dekat dengan pelanggan, dan paling sering mendengar langsung suara mereka.

Namun agar fungsi ini berjalan efektif, perlu dilakukan dengan strategi sederhana tapi berdampak. Berikut pendekatannya:

1. Mulai dari Kompilasi Voice of Customer (VoC)

Jangan terburu-buru membentuk program besar. Mulailah dari apa yang sudah ada. Review secara berkala semua Voice of Customer; data interaksi, keluhan, pujian, maupun saran dari pelanggan yang tercatat di CRM, ticketing system, hingga media sosial.

Kompilasi data ini adalah fondasi. Ia menyimpan insight berharga yang sering tersembunyi dalam tumpukan percakapan harian.

2. Review dan Update Customer Journey Mapping

Jika tim Anda sudah memiliki customer journey mapping, jangan anggap itu dokumen mati. Dunia berubah. Ekspektasi pelanggan pun ikut berubah. Maka penting untuk terus me-review dan menilai ulang peta perjalanan pelanggan (customer journey).

Tanyakan:

  • Apakah titik-titik interaksi masih relevan? Cek semua omni-channels yang dimiliki.

  • Di mana pelanggan mulai frustrasi? Catat dan perhatikan.

  • Apakah semua touchpoints memberi nilai tambah?

3. Kelompokkan VoC Berdasarkan Touchpoints

Setelah memiliki VoC dan mapping journey, langkah berikutnya adalah memilah semua feedback pelanggan berdasarkan titik kontak (touchpoints) dalam perjalanan mereka.

Identifikasi masalah yang sering muncul di masing-masing titik; apakah saat onboarding, penggunaan layanan, atau saat mengajukan komplain pasca pembelian.

Catat semuanya. Tak perlu sempurna di awal, yang penting mulai.

4. Ajak Kolaborasi Lintas Departemen

CX bukan urusan satu divisi. Agar pengalaman pelanggan benar-benar seamless, semua pemimpin lintas tim harus diajak duduk bersama.

Buat sesi collaborative mapping. Identifikasi akar masalah bersama, lalu rumuskan action plan yang fokus pada satu tujuan utama: membuat perjalanan pelanggan bebas hambatan (frictionless).

Tak perlu rumit. Cukup sederhana, konsisten, dan dijalankan bersama. Yang sangat penting juga adalah komunikasi lintas divisi. Top management perlu membuatkan semacam surat keputusan bahwa CS Leader dijadikan sebagai orkestrator dalam pembenahan pengalaman pelanggan di setiap journey yang mereka rasakan terhadap produk atau layanan yang disediakan oleh bisnis. Dengan demikian, CS Leader ini memiliki ' dasar kekuatan' untuk menyatukan semua kapasitas yang ada dalam sebuah 'komite CX'.


Key Takeaways: CX Adalah Mindset, Bukan Sekadar Struktur

Memulai fungsi CX tak harus menunggu terbentuknya unit atau anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk mendengar, dan komitmen untuk terus memperbaiki.

Pemimpin CS adalah kandidat alami untuk memulai peran ini. Dan dengan kolaborasi lintas tim, organisasi Anda bisa menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih baik, tanpa harus menunggu waktu yang "sempurna".

Karena dalam CX, yang paling penting bukan siapa yang punya jabatan, tapi siapa yang paling peduli pada pelanggan.

2025/06/19

Skill Akan Dicari, Meski Ijazahmu Biasa

Dulu, ijazah dan gelar akademik dianggap sebagai tiket utama menuju pekerjaan impian dan karier yang menjanjikan. Lulusan universitas ternama sering kali menjadi incaran utama perusahaan. Tapi zaman telah berubah. Dunia kerja kini tidak lagi hanya bertanya kamu lulusan dari mana, melainkan lebih tertarik pada satu hal yang sangat praktis dan relevan: apa yang bisa kamu lakukan.
Perusahaan hari ini tidak selalu mencari nama besar kampus di CV-mu. Mereka mencari bukti nyata. Mereka ingin melihat portofolio yang menunjukkan kemampuanmu dalam menyelesaikan masalah nyata. Mereka ingin tahu bagaimana kamu berpikir, mengambil keputusan, beradaptasi, dan menciptakan nilai. Bukan sekadar nilai IPK, tapi nilai yang benar-benar dirasakan oleh tim dan organisasi.
Banyak pemimpin sukses di era sekarang yang bahkan tidak memiliki gelar tinggi. Tapi mereka memiliki keterampilan yang tajam, kemauan belajar yang kuat, dan karakter yang dapat diandalkan. Dari entrepreneur muda yang membangun bisnis dari kamar tidur, hingga developer teknologi yang menciptakan aplikasi revolusioner tanpa pernah lulus dari bangku kuliah formal, semuanya membuktikan bahwa skill adalah mata uang masa depan.
Skill adalah jalan masuk menuju kepercayaan. Dengan skill, orang lain mulai mempercayakan tanggung jawab. Skill juga menciptakan peluang baru. Di dunia yang sangat cepat berubah ini, keterampilan teknis dan interpersonal menjadi sangat penting. Bukan hanya bisa melakukan, tapi juga bisa menyampaikan, bekerja sama, memimpin, dan belajar hal baru dengan cepat.
Kisah Nabi Yusuf alayhissalam menjadi bukti betapa keterampilan menjadi nilai yang sangat diperhitungkan. Ketika beliau menawarkan diri untuk mengelola perbendaharaan negeri, beliau berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf: 55). Dua hal yang beliau sebut adalah amanah dan keahlian. Inilah kombinasi sempurna yang membuatnya layak dipercaya memimpin dan membawa perubahan besar.
Jika kamu sudah belajar, maka saatnya mempraktikkan. Jika kamu belum bisa, maka teruslah melatih diri. Karena keterampilan bukan warisan atau takdir, melainkan buah dari latihan, ketekunan, dan kesungguhan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang jika ia bekerja, maka ia menyempurnakannya.” (HR Thabrani). Maka sempurnakanlah ilmu dengan keterampilan agar mimpi tidak hanya tinggal wacana, tapi benar-benar menjadi nyata.

2025/06/02

Pentingnya Compliance pada SOP di Contact Center: Apakah Agent Boleh Improvisasi?

Dalam industri contact center, Standard Operating Procedure (SOP) memainkan peran penting dalam memastikan kualitas pelayanan yang konsisten dan memuaskan bagi pelanggan. Salah satu aspek kunci dari SOP adalah compliance, yaitu kepatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah agent contact center boleh melakukan improvisasi dalam memberikan jawaban atau solusi kepada pelanggan?

Mengapa Compliance pada SOP Diperlukan?

Compliance pada SOP sangat penting karena beberapa alasan:

  1. Konsistensi Kualitas Pelayanan: SOP menjamin bahwa setiap pelanggan menerima layanan yang seragam, profesional, dan sesuai standar.

  2. Mengurangi Risiko Kesalahan: SOP yang jelas dan terstruktur mengurangi kemungkinan agent memberikan informasi yang salah atau menimbulkan masalah baru.

  3. Meningkatkan Efisiensi: Dengan SOP, proses kerja menjadi lebih sistematis dan efisien.

  4. Meningkatkan Kepuasan dan Kepercayaan Pelanggan: Pelanggan cenderung lebih puas jika mendapat pelayanan yang cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah Agent Boleh Melakukan Improvisasi?

Dalam praktiknya, tidak semua kasus yang dihadapi pelanggan tercakup dalam SOP secara detail. Oleh karena itu, improvisasi tetap memiliki tempat dalam dunia contact center. Namun, improvisasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Improvisasi dapat dibenarkan dalam situasi seperti:

  1. Kasus yang Tidak Terduga atau Tidak Tercakup di SOP: Pelanggan memiliki kebutuhan atau masalah unik yang tidak dibahas dalam prosedur standar.

  2. Kebutuhan Pelanggan yang Sangat Spesifik: Beberapa kasus memerlukan penyesuaian pendekatan untuk memastikan kepuasan pelanggan.

Namun demikian, improvisasi harus selalu diiringi dengan tanggung jawab dan batasan yang jelas:

  • Agent perlu melakukan koordinasi dengan atasan atau supervisor sebelum mengambil keputusan yang menyimpang dari SOP, terutama jika kasus berpotensi berdampak besar.

  • Setelah improvisasi dilakukan dan terbukti efektif, manajemen perlu mendokumentasikan dan mengevaluasi proses tersebut untuk disusun menjadi SOP baru atau revisi SOP yang ada.

Cara Melakukan Improvisasi yang Tepat

Agar improvisasi tetap terkendali dan membawa manfaat, berikut beberapa panduan bagi agent:

  1. Pahami SOP dengan Baik: Agent harus menguasai batasan dan ruang lingkup SOP agar dapat mengidentifikasi kapan improvisasi diperlukan.

  2. Koordinasi dengan Atasan: Saat menghadapi situasi baru, penting bagi agent untuk berdiskusi dengan team leader atau supervisor guna mendapatkan arahan.

  3. Gunakan Pengalaman dan Pengetahuan Produk: Improvisasi yang baik biasanya berangkat dari pemahaman mendalam terhadap produk/jasa serta pengalaman lapangan.

  4. Berpikir Solutif dan Empatik: Tetap utamakan kepuasan pelanggan, namun dalam koridor kepatuhan dan tanggung jawab.

  5. Dokumentasikan Kasusnya: Sampaikan kasus dan pendekatan improvisasi yang dilakukan kepada manajemen untuk bahan evaluasi dan pengembangan SOP ke depan.

Inti Bahasan

Compliance terhadap SOP adalah fondasi utama untuk menjaga kualitas layanan di contact center. Namun, dalam kenyataan operasional, improvisasi kadang dibutuhkan untuk menangani kasus-kasus spesifik atau tidak terduga. Yang paling penting adalah:

  • Improvisasi harus tetap berlandaskan pengetahuan, tanggung jawab, dan koordinasi.

  • Agent tidak boleh berjalan sendiri, dan harus menjadikan improvisasi sebagai bagian dari proses continuous improvement melalui pelibatan manajemen.

  • Setiap improvisasi yang berhasil harus segera di-review dan diintegrasikan ke dalam SOP agar menjadi referensi standar di masa depan.

Dengan cara ini, contact center tidak hanya menjaga kualitas layanan, tetapi juga terus berkembang menjadi organisasi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan.

 --

Artikel Menarik lainnya: 
Waktu Terbaik Menilai Konsistensi Agen Contact Center? Hari Pertama Setelah Cuti.
KSA: Fondasi Utama untuk Meraih Masa Depan di Dunia Kerja
Skip Level Meeting: Mendengar Suara Garis Depan
Masa Depan Contact Center: Mengutamakan Keamanan dan Privasi Data Pelanggan
Kedisiplinan Tinggi: Kunci Sukses di Dunia Contact Center
Peluang Industri BPO di Indonesia: Layanan Pelanggan Sebagai Pilar Utama
Meningkatkan Skor CSAT yang Disebabkan oleh Masalah Produk
Understanding and Addressing CSAT and AHT Issues in Contact Centers
Lima Komponen Utama Customer Care yang Efektif

2025/05/29

Adherence ≠ Attendance: Memahami Dua Pilar Kedisiplinan Agent Contact Center

Dalam dunia contact center yang serba cepat dan terukur, kedisiplinan agent adalah fondasi utama untuk mencapai layanan pelanggan yang prima. Namun, masih banyak leader baru yang keliru memahami dua parameter penting ini: Attendance dan Adherence.

Meskipun keduanya terdengar mirip dan sama-sama terkait kehadiran, sebenarnya keduanya mengukur dua hal yang sangat berbeda — dan sama-sama krusial dalam memastikan operasional berjalan efisien.

Apa Itu Attendance?

Attendance adalah ukuran apakah agent hadir atau tidak sesuai jadwal kerja yang telah ditentukan.

Rumus Attendance:

Attendance (%)=(Hari HadirHari Dijadwalkan)×100\text{Attendance (\%)} = \left( \frac{\text{Hari Hadir}}{\text{Hari Dijadwalkan}} \right) \times 100

Contoh: Jika dalam sebulan agent dijadwalkan masuk 22 hari dan hadir 21 hari, maka attendance-nya adalah:

(2122)×100=95.45%\left( \frac{21}{22} \right) \times 100 = 95.45\%

Attendance menunjukkan komitmen kehadiran, tapi belum tentu mencerminkan kepatuhan terhadap pola kerja harian.

Apa Itu Adherence?

Adherence mengukur seberapa patuh agent mengikuti jadwal kerja hariannya — termasuk waktu login, break, kembali dari istirahat, dan logout.

Rumus Adherence:

Adherence (%)=(Waktu Sesuai JadwalWaktu Dijadwalkan)×100\text{Adherence (\%)} = \left( \frac{\text{Waktu Sesuai Jadwal}}{\text{Waktu Dijadwalkan}} \right) \times 100

Contoh: Agent dijadwalkan bekerja 480 menit sehari, namun hanya mengikuti jadwal (on-call, ready, after-call work) selama 450 menit:

(450480)×100=93.75%\left( \frac{450}{480} \right) \times 100 = 93.75\%

Adherence mengukur kedisiplinan mikro harian. Agent bisa hadir (attendance 100%), tapi jika sering telat login atau break lebih lama, maka adherence-nya akan rendah.

Kenapa Keduanya Penting?


Angka Ideal (Best Practice Industri)

Angka ini bisa berbeda tergantung pada sektor industri, jenis contact center (inbound/outbound), dan kompleksitas layanan.

Kesimpulan: Jadilah Leader yang Cermat

Pemimpin yang hebat di dunia contact center bukan hanya menghitung siapa yang datang bekerja, tapi siapa yang benar-benar “ada” di kursi dan siap melayani sesuai jadwal.

Pahami perbedaan Attendance dan Adherence. Keduanya adalah indikator kedisiplinan yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

--
Artikel Menarik lainnya: 
Waktu Terbaik Menilai Konsistensi Agen Contact Center? Hari Pertama Setelah Cuti.
KSA: Fondasi Utama untuk Meraih Masa Depan di Dunia Kerja
Skip Level Meeting: Mendengar Suara Garis Depan
Masa Depan Contact Center: Mengutamakan Keamanan dan Privasi Data Pelanggan
Kedisiplinan Tinggi: Kunci Sukses di Dunia Contact Center
Peluang Industri BPO di Indonesia: Layanan Pelanggan Sebagai Pilar Utama
Meningkatkan Skor CSAT yang Disebabkan oleh Masalah Produk
Understanding and Addressing CSAT and AHT Issues in Contact Centers
Lima Komponen Utama Customer Care yang Efektif