2025/12/16
Kita Bisa Bangkit!
2025/12/05
Kenapa Kebahagiaan Karyawan Selalu Menjadi Titik Awal Kebahagiaan Pelanggan?
![]() |
| Penulis bersama team dan perwakilan klien dalam satu event Team Engagement di Jakarta |
Di banyak perusahaan, kita sering bicara tentang customer experience, service excellence, atau bagaimana membuat pelanggan merasa puas. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: semua itu dimulai dari orang-orang di balik layar. Customer happiness tidak pernah muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tim yang bahagia, yang merasa dihargai, dan yang menjalani hari-harinya dengan energi positif.
People engagement bukan sekadar program internal atau aktivitas seremonial. Ia adalah cara kita hadir untuk satu sama lain. Kadang bentuknya sederhana; menonton film bareng, makan siang bersama, outing, hangout bareng atau sekadar ngobrol santai tanpa agenda. Kehadiran seperti itu membangun jarak yang lebih dekat antara kita sebagai manusia. Ketika kedekatan itu tumbuh, rasa percaya muncul. Dan ketika percaya sudah terbentuk, bekerja sama menjadi jauh lebih natural.
Di dunia kerja yang serba cepat, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan juga perlu di-deliver. Bukan hanya kepada pelanggan, tetapi pertama-tama kepada tim kita sendiri. Ketika karyawan merasa diperhatikan, dihormati, dan dihargai, mereka menjadi jauh lebih puas. Kepuasan itu mengubah cara mereka bekerja. Mereka lebih ringan, lebih positif, dan lebih bersemangat menghadapi tantangan.
Employee satisfaction bukan hanya perkara gaji atau benefit. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari suasana kerja yang membuat mereka merasa aman, dari interaksi yang membuat mereka merasa dihargai, dari momen-momen kebersamaan yang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Ketika seseorang merasa bahagia di tempat kerjanya, ia akan memberikan yang terbaik tanpa perlu diminta.
Dan pada akhirnya, pelanggan akan merasakan itu. Mereka bisa membedakan mana layanan yang datang dari seseorang yang tertekan, dan mana yang datang dari seseorang yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Energi itu menular. Senyum yang tulus, sikap yang ramah, kesediaan membantu tanpa keluhan—semuanya lahir dari hati yang bahagia.
Itulah sebabnya people engagement seharusnya bukan sekadar program HR. Ia adalah mindset kepemimpinan. Cara kita membangun budaya. Cara kita menunjukkan bahwa perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Ketika pemimpin menghadirkan kebahagiaan di dalam tim, tim akan menghadirkan kebahagiaan itu kembali kepada pelanggan.
Pada akhirnya, kebahagiaan selalu mengalir ke bawah. Jika tim kita merasa terhubung, mereka akan melayani dengan hati. Jika mereka merasa dihargai, mereka akan bekerja dengan percaya diri. Dan jika mereka bahagia, maka pelanggan pun akan merasakan kebahagiaan itu.
Inilah inti dari people engagement: kebahagiaan yang dimulai dari dalam, lalu menjelma menjadi pengalaman terbaik bagi semua yang kita layani.
2025/09/03
✨ Belajar dari Siapapun, Kapanpun, Dimanapun ✨
Biiznillah, sudah lebih dari 20 tahun saya berkecimpung di industri telekomunikasi dan e-commerce, baik di sisi klien maupun bisnis processor sourcing. Satu hal yang selalu saya pegang: jangan pernah berhenti belajar, dan belajarlah dari siapa saja.Dalam sesi coaching, counseling, maupun mentoring, peran kita bukan sekadar mengarahkan, memberi contoh, atau menyuruh. Lebih dari itu, kita perlu menyelami cara berpikir tim, mendengar gagasan mereka, dan belajar dari pengalaman mereka. Ternyata, banyak hal berharga yang justru datang dari tim sendiri.
Itulah yang kembali saya rasakan saat skip level meeting di Semarang beberapa hari lalu. Dari percakapan yang hangat dengan rekan-rekan di sana, saya mendapat inspirasi baru, sudut pandang segar, dan pelajaran yang tak kalah penting untuk perjalanan bersama.
Karena sejatinya, setiap pertemuan adalah kesempatan untuk tumbuh.
hashtag#Leadership hashtag#Coaching hashtag#Mentoring hashtag#Teamwork
2025/08/19
Sjafruddin Prawiranegara: Presiden Darurat yang Nyaris Dihapus dari Ingatan Bangsa
Sejarah Indonesia sering dipenuhi dengan nama-nama besar: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga Jenderal Soedirman. Namun, ada satu sosok yang perannya begitu krusial pada masa genting Republik, tetapi nyaris hilang dari buku-buku pelajaran: Sjafruddin Prawiranegara.
Ketika Republik Hampir Lumpuh
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer kedua. Yogyakarta, ibu kota Republik, jatuh. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan sejumlah pemimpin nasional ditawan. Secara teori, Indonesia lumpuh. Dunia internasional bisa saja menganggap Republik sudah bubar.
Namun di titik kritis itulah, Sjafruddin Prawiranegara, saat itu Menteri Kemakmuran yang tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengambil keputusan berani: mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Langkah ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan strategi penyelamatan negara. Melalui PDRI, Indonesia tetap punya kepala pemerintahan yang sah, sehingga diplomasi luar negeri dan perlawanan rakyat tidak kehilangan legitimasi.
Tanpa PDRI, kemungkinan besar dunia akan menganggap Republik sudah tamat. Indonesia mungkin akan bernasib sama seperti banyak negara jajahan lain yang gagal merdeka.
Presiden Darurat yang Tidak Dicatat
Fakta bahwa Sjafruddin adalah Presiden Darurat Republik Indonesia jarang muncul dalam buku-buku sejarah sekolah. Padahal, dari 19 Desember 1948 sampai Juli 1949, beliaulah yang menjalankan roda pemerintahan. Dalam masa itu, Republik masih bisa melakukan komunikasi dengan dunia internasional, menjaga semangat perlawanan, dan memberi bukti bahwa Indonesia belum menyerah.
Namun, ketika Soekarno-Hatta kembali dari penahanan dan PDRI menyerahkan mandat, nama Sjafruddin seolah dipinggirkan.
Politik yang Menyingkirkan
Mengapa demikian? Salah satu jawabannya ada pada politik pasca-revolusi. Sjafruddin kemudian aktif di Partai Masyumi, partai besar yang mewakili aspirasi Islam modernis. Namun, sejak awal 1950-an, hubungan Masyumi dengan penguasa semakin tegang.
Masyumi dikaitkan dengan PRRI/Permesta dan dicap sebagai oposisi yang membahayakan stabilitas negara. Ditambah lagi, hasutan dan provokasi politik yang dimainkan PKI membuat Masyumi semakin dipandang sebagai “musuh negara”. Pada akhirnya, Masyumi dibubarkan dan banyak tokohnya dipenjarakan. Dalam iklim politik seperti itu, wajar bila jasa Sjafruddin yang identik dengan Masyumi diabaikan, bahkan dihapus dari narasi resmi sejarah nasional.
Ironi Sejarah
Inilah ironi: sosok yang menyelamatkan Republik dari kebangkrutan politik dan kehancuran diplomasi internasional justru dilupakan bangsanya sendiri. Generasi muda lebih mengenal pahlawan asing atau selebritas ketimbang Sjafruddin Prawiranegara. Padahal, tanpa keberaniannya, Indonesia mungkin tidak pernah sampai pada tahap pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Saatnya Mengingat Kembali
Generasi muda Indonesia perlu tahu bahwa sejarah tidak hitam-putih. Ada tokoh-tokoh besar yang dipinggirkan karena politik, bukan karena kurang berjasa. Mengingat Sjafruddin berarti belajar bahwa keberlangsungan negara ini bukan hanya ditopang satu-dua tokoh, melainkan oleh banyak figur yang siap mengambil risiko demi kemerdekaan.
Sejarah tidak boleh hanya menjadi propaganda penguasa. Sejarah harus jujur, adil, dan memberikan tempat bagi siapa pun yang berjasa. Dan Sjafruddin Prawiranegara adalah salah satunya, seorang Presiden Darurat yang berjasa besar, meski nyaris dihapus dari ingatan bangsa.
#jasmerah #jashijau @sorotan #jangkauanluas Narasipostmedia Literasi Kata Chandu Sejarah #sejarah #indonesia #masyumi Moeflich H. Hart Ahmad Mansur Suryanegara
JAS HIJAU: Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama
Kenapa? Karena sejarah kemerdekaan kita bukan hanya deretan peristiwa diplomasi, pertempuran bersenjata, atau rapat-rapat di gedung parlemen. Ada satu kekuatan yang sejak awal menjadi denyut nadi perjuangan: umat Islam yang bergerak di bawah bimbingan para ulama.
Lembaran yang Mulai Pudar
Sayangnya, di buku-buku sejarah resmi, kontribusi ulama sering hanya muncul sekilas—bahkan kadang sekadar catatan kaki. Kita hafal siapa yang mengetik teks proklamasi, siapa yang duduk di meja perundingan, siapa yang memimpin tentara. Tapi kita jarang mengingat siapa yang menggerakkan massa rakyat di desa-desa, siapa yang mengobarkan semangat jihad melawan penjajahan, siapa yang mengorbankan harta, waktu, dan nyawanya tanpa pamrih jabatan.
Fakta sejarah menunjukkan, dari Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Paderi, hingga resolusi jihad 22 Oktober 1945—ulama dan umat Islam adalah garda terdepan. Mereka mengisi celah yang tak mampu dijangkau oleh senjata saja: mereka menyalakan api keyakinan bahwa melawan penjajah adalah kewajiban agama dan kehormatan bangsa.
Upaya Sistematis Menghapus Jejak
Kita perlu jujur mengakui: ada tendensi dari pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan peran umat Islam dan ulama dalam sejarah kemerdekaan. Di banyak narasi resmi, peran mereka dikecilkan, bahkan digeser menjadi kisah-kisah pinggiran. Kadang, ulama hanya disebut “tokoh masyarakat” tanpa penjelasan bahwa merekalah motor ideologis dan organisatoris perjuangan.
Mengapa? Karena jika generasi muda mengenal peran ulama secara utuh, mereka akan menyadari bahwa Islam tidak pernah absen dalam urusan kebangsaan. Dan itu bertentangan dengan narasi sebagian kelompok yang ingin memisahkan agama dari identitas perjuangan bangsa.
Sejarawan Muslim: Menjaga Nyala Kebenaran
Beruntung, masih ada sejarawan Muslim yang konsisten menggali dan menyuarakan fakta-fakta ini—meski sering dianggap “mengganggu narasi arus utama”. Mereka menelusuri arsip, mendokumentasikan kisah lisan, dan membongkar catatan-catatan yang sengaja dilupakan. Upaya ini seperti menimba air dari sumur yang hampir tertutup: butuh kesabaran, ketekunan, dan keberanian.
Mengembalikan Hak Sejarah
Refleksi kemerdekaan ke-80 tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan hak sejarah. Mengakui jasa ulama bukan berarti mengurangi peran pihak lain, melainkan melengkapi mozaik sejarah agar utuh. Kita perlu jujur mengatakan: tanpa ulama, perjuangan kemerdekaan akan pincang. Tanpa umat Islam yang digerakkan oleh nilai-nilai agama, mungkin kita akan kehilangan energi moral yang membuat bangsa ini bertahan.
Penting: JAS HIJAU untuk Generasi
Generasi muda berhak tahu bahwa bendera merah putih berkibar bukan hanya karena perundingan di meja diplomasi, tapi juga karena doa-doa panjang di surau, takbir di medan pertempuran, dan khutbah-khutbah yang menggetarkan hati.
Maka, marilah kita gaungkan: JAS HIJAU – Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama. Sebab bangsa yang menghapus jejak pejuangnya adalah bangsa yang kehilangan kompas moralnya.
#jashijau #JASMERAH #jangkauansemuaorang #HUTRI80 #pahlawannasional #ulamanusantara izin tag bapak2 profesor Ahmad Mansur Suryanegara Moeflich H. Hart Ridhazia Agus Salim Mansyur Hisyam Mahrus Ali Muhammad Faraz Bajri
2025/07/16
Menumbuhkan Kejeniusan di Contact Center: Belajar dari The Geography of Genius
Dalam bukunya yang terkenal, The Geography of Genius, Eric Weiner mengajak kita menjelajahi tempat-tempat paling kreatif dalam sejarah manusia; Athena, Hangzhou, Florence, Edinburgh, hingga Silicon Valley. Di tiap tempat, ia menemukan satu benang merah yang tak terbantahkan: kejeniusaan bukan sesuatu yang lahir secara tiba-tiba atau murni dari bakat bawaan, melainkan hasil dari lingkungan yang kaya akan budaya belajar, diskusi, dan kolaborasi.
Pertanyaannya: mungkinkah kita menumbuhkan ekosistem seperti itu, bukan di kota-kota besar dunia, melainkan di tempat kerja kita sehari-hari? Jawabannya: sangat mungkin. Bahkan di tengah kesibukan operasional sebuah contact center sekalipun.
Mengapa Contact Center Butuh Budaya Belajar dan Berbagi?
Contact center sering dianggap sebagai pusat layanan cepat, penuh SOP, dan ritme kerja yang repetitif. Namun di balik layar, pekerjaan agen contact center sangatlah kompleks: mereka menjadi ujung tombak interaksi brand dengan pelanggan, memecahkan masalah, dan menjaga kepuasan pelanggan dalam tekanan waktu yang sempit.
Tanpa budaya belajar, agen akan berhenti berkembang.
Tanpa budaya berbagi, pengetahuan praktis akan terputus, hanya bertahan dalam kepala masing-masing individu.
Tanpa komunitas keilmuan, organisasi kehilangan potensi besar untuk tumbuh dari dalam.
Padahal, seperti yang dikisahkan Weiner, kejeniusaan justru lahir dari lingkungan yang ramai, yang bising oleh pertanyaan, terbuka terhadap perbedaan, dan terus bergerak dalam diskusi.
Membangun “Athena” di Contact Center
Berikut beberapa prinsip yang bisa kita tiru dari kota-kota “genius” versi Eric Weiner dan terapkan di contact center:
1. Sediakan Ruang untuk Rasa Ingin Tahu
Athena dikenal karena filsuf-filsufnya yang tidak takut bertanya. Di contact center, penting menyediakan ruang di mana agen bisa bertanya, mengusulkan perbaikan, atau menyampaikan kebingungan tanpa takut dihakimi.
2. Dorong Budaya Berbagi Pengetahuan
Di Hangzhou dan Florence, ide-ide menyebar cepat karena adanya komunitas yang aktif. Demikian pula, agen perlu dilatih untuk saling berbagi teknik komunikasi, pengalaman kasus sulit, hingga best practice yang mereka temukan di lapangan.
3. Rayakan Keberagaman Pendekatan
Weiner menyebut bahwa keberagaman (diversity) adalah unsur penting dalam munculnya inovasi. Dalam tim contact center, keberagaman pengalaman, gaya bicara, atau strategi pendekatan pelanggan harus dihargai dan dibagikan.
4. Bangun Komunitas Pembelajar
Buat sesi berbagi rutin, micro-learning, mentoring antar agen senior-junior, hingga gamifikasi untuk tantangan knowledge sharing. Dari sana bisa lahir komunitas internal yang hidup, seperti “klub pemikir” ala Edinburgh abad ke-18.
5. Jangan Takut Kekacauan
Weiner menegaskan bahwa kejeniusan kerap lahir dari kekacauan yang terorganisir. Artinya, jangan takut dengan percobaan, ketidaksempurnaan, atau bahkan kegagalan. Di balik satu kesalahan, bisa lahir solusi jitu yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Penting! Kejeniusan Itu Menular
Buku The Geography of Genius memberi pelajaran penting: kejeniusaan bisa ditumbuhkan, dan lebih dari itu, ia bisa menular. Asal ada budaya belajar, budaya berbagi, dan ruang sosial yang aktif, contact center bisa menjadi inkubator bagi agen-agen cerdas yang tidak hanya andal dalam melayani, tapi juga berkembang menjadi pemikir, pemecah masalah, dan bahkan pemimpin masa depan.
Mewujudkan itu semua bukan hanya tanggung jawab tim Learning & Development, tetapi tanggung jawab bersama, mulai dari pimpinan tim hingga setiap agen yang punya satu ide kecil untuk dibagikan.
Mari kita bangun Athena kita sendiri.
2025/06/19
Skill Akan Dicari, Meski Ijazahmu Biasa
2025/06/09
Don’t Explain Your Philosophy. Embody It!
Ada kalanya kata-kata terlalu murah. Kita hidup di zaman di mana siapa saja bisa mengutip filsuf, berbicara tentang prinsip hidup, atau menyusun kalimat bijak yang terlihat mengesankan di media sosial. Tapi Epictetus, seorang filsuf Stoik dari abad pertama, mengingatkan kita dengan satu kalimat yang menusuk dan membongkar semua basa-basi: “Don’t explain your philosophy. Embody it.”










.png)
