"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

Showing posts with label Politics. Show all posts
Showing posts with label Politics. Show all posts

2026/04/07

Masalah Oknum, atau Sistem?


Entah sudah berapa ratus kepala desa yang tersandung masalah.

Dan hampir selalu… benang merahnya sama: Dana Desa.

Pertanyaannya, masih relevankah kita menyederhanakan ini sebagai sekadar “oknum”?

Kalau hanya satu-dua kasus, mungkin iya.
Namun ketika jumlahnya ratusan, tersebar di berbagai daerah, dengan pola yang berulang…

Sulit untuk menutup mata bahwa ini bukan lagi semata persoalan individu.

Ini adalah indikasi adanya celah sistemik.

Sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Dana Desa digulirkan dengan visi besar: membangun Indonesia dari pinggiran. Sebuah langkah progresif yang patut diapresiasi.

Namun di saat yang sama, kita juga melakukan lompatan besar:
mengubah peran kepala desa; dari pemimpin komunitas menjadi pengelola anggaran publik dalam skala miliaran rupiah.

Melihat fenomena yang semakin memburuk ini, maka penting kita untuk mempertanyakan: 
apakah sistemnya ikut bertumbuh secepat ekspektasinya?

Di banyak tempat, realitasnya menunjukkan:

  • kapasitas pengelolaan keuangan belum merata

  • tekanan sosial dan politik lokal tidak sederhana

  • dan pengawasan belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas di lapangan

Di titik inilah risiko mulai menemukan ruangnya.

Karena penyimpangan bukan hanya soal niat.
Ia muncul ketika kesempatan terbuka, tekanan hadir, dan pembenaran terasa masuk akal.

Maka mungkin kita perlu melihat ini dengan lebih jernih:

Ini bukan semata tentang “oknum”.
Ini tentang:
➡️ sistem yang belum sepenuhnya siap
➡️ mekanisme kontrol yang belum cukup tajam
➡️ serta ekosistem yang masih memberi toleransi pada celah

Jika keranjangnya belum kokoh, maka jatuhnya “apel-apel” itu bukan lagi kejutan.

Pertanyaannya kini bergeser:
bukan lagi “siapa yang salah?”
melainkan bagaimana kita memperkuat sistem agar tidak memberi ruang bagi kesalahan yang sama untuk terus berulang.

Pada akhirnya, tata kelola yang baik tidak hanya mengandalkan integritas individu, tetapi juga desain sistem yang mampu menjaga bahkan ketika manusia di dalamnya tidak sempurna.

Terbuka untuk bertukar pandangan dengan rekan-rekan yang memiliki perhatian pada isu ini.

2025/12/16

Antara Leviathan* dan Jilatang: Ketika Negara Melemah, Sengatan Kecil Menguat

(Biar berima, dibaca: leviatang dan Jilatang)

Thomas Hobbes membayangkan negara sebagai Leviathan: makhluk raksasa yang menakutkan, tetapi diperlukan. Ia lahir dari kesepakatan manusia yang lelah hidup dalam kekacauan. Leviathan diberi taring agar hukum dihormati, diberi kuasa agar kekerasan tidak liar, dan diberi legitimasi agar ketertiban punya arah. Tanpa Leviathan, kata Hobbes, hidup manusia akan “brutal, miskin, dan singkat.”
Masalahnya, Leviathan tidak selalu hidup sesuai imajinasi filsafat. Dalam praktik, ia bisa melemah, sakit, bahkan kehilangan taringnya. Mungkin seperti di Konoha kali ya?
Ketika itu terjadi, muncul makhluk lain, lebih kecil memang, tampak sepele, dan jarang dibicarakan dalam teori politik: kita menyebutnya sebagai jilatang.
Dalam khazanah Melayu–Nusantara, jilatang (atau jelatang) adalah tumbuhan liar yang menyengat. Daunnya tidak besar, batangnya tidak kokoh, dan kehadirannya sering diabaikan. Namun siapa pun yang menyentuhnya akan merasakan panas, gatal, dan perih yang bertahan lama. Ia tidak menyerang dari jauh, tidak menerkam dengan kekuatan, tetapi menyakiti melalui kedekatan. Jilatang tumbuh subur di lahan terbengkalai, spt di tanah dan lahan yang tidak dirawat, pagar yg dibiarkan runtuh. Metafora ini penting: sengatan sering kali datang bukan dari yang besar dan jelas, melainkan dari yang kecil dan dibiarkan.
Jilatang, dalam pengertian sosial-politik, bukan penguasa resmi. Ia tidak berdiri di podium, tidak disumpah atas nama konstitusi, dan tidak tercatat dalam struktur negara. Tapi dalam kasus tertentu ia bisa jadi bagian Leviathan tapi bersifat jilatang. Pendeknya, ia hidup dari memanfaatkan negara. Ia lihat menjilat tangan kekuasaan, menghisap sisa-sisa wibawa Leviathan, dan menjadikannya alat transaksi. Jika Leviathan adalah simbol ketertiban (setidaknya itu cita-citanya Hobbes), sementara jilatang adalah tanda pembusukan.
Leviathan bekerja lewat aturan. Jilatang bekerja lewat relasi.
Leviathan menuntut kepatuhan hukum. Jilatang menawarkan jalan pintas.
Leviathan seharusnya melindungi yang lemah. Jilatang justru hidup dari kelemahan itu.
Ketika hukum ditegakkan secara tegas dan konsisten, jilatang sulit bernapas. Ia tidak tahan transparansi, tidak cocok dengan prosedur, dan alergi pada akuntabilitas. Tapi saat hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, jilatang berkembang biak dengan subur. Ia menjadi makelar izin, calo keadilan, pengatur proyek, dan penghubung “orang dalam”.
Di titik ini, masalahnya bukan sekadar negara lemah. Masalahnya adalah negara yang kehilangan wibawa moral. Leviathan masih ada secara simbolik, spt gedungnya yang masih megah, regulasinya masih tebal, jargon reformasinya ramai, namun jiwanya kosong. Yang bekerja bukan lagi sistem, melainkan kedekatan. Bukan kompetensi, melainkan koneksi.
Rakyat kecil merasakannya lebih dulu. Mereka tidak berhadapan langsung dengan Leviathan, melainkan dengan jilatang-jilatang di level bawah. Untuk mengurus hak, perlu “uang rokok”. Untuk mencari keadilan, perlu “orang dalam”. Untuk sekadar aman, perlu kompromi. Hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan labirin.
Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, sebagian orang justru merindukan Leviathan yang lebih keras. Mereka ingin negara yang tegas, bahkan otoriter, asal bisa menyingkirkan jilatang. Ini paradoks klasik: ketika negara terlalu lemah, rakyat rela menyerahkan kebebasan demi ketertiban. Tapi sejarah mengajarkan, Leviathan yang tak diawasi bisa berubah dari pelindung menjadi pemangsa. Kita dah kenyang pengalaman dengan Orla dan Orba, atau bahkan betapa superiornya suatu institusi di era Jokowi.
Maka persoalannya bukan memilih antara Leviathan atau ketiadaan Leviathan. Pilihannya adalah Leviathan yang kuat oleh hukum, bukan oleh ketakutan. Leviathan yang tajam ke semua arah, bukan hanya ke yang lemah. Leviathan yang berani membersihkan tubuhnya sendiri dari para jilatang yang menempel. Berani mengikis habis benalu.
Selama jilatang lebih ditakuti daripada hukum, selama orang lebih percaya “siapa yang dikenal” daripada “apa aturannya”, selama keadilan bisa dinegosiasikan, maka negara sesungguhnya sedang sakit. Dan penyakit itu bukan kurang regulasi, melainkan kurang keberanian.
Leviathan tidak perlu menjadi monster yang menelan warganya. Ia hanya perlu kembali menjadi makhluk yang dihormati karena adil, bukan ditakuti karena sewenang-wenang. Saat itu terjadi, jilatang akan mati dengan sendirinya, karena tidak ada lagi tangan kotor yang bisa dijilat. Lagi pula, semua kita sudah muak dengan para jilatang itu!


Kita Bisa Bangkit!

Di negara yang dikuasai penjahat, sistem sengaja dibikin supaya orang miskin dan bodoh makin banyak.
Akses kesehatan dipersulit. Akses pendidikan dipersempit.
Akhirnya rakyat cuma sibuk bertahan hidup, sekadar bisa makan hari ini.
Dalam kondisi seperti itu, tiap pemilu ceritanya berulang.
Mereka yang punya modal besar untuk menyuap rakyat, akan terpilih lagi dan lagi.
Lalu, bagaimana cara memutus rantai ini?
Mulai dari lingkaran terkecil: keluarga sendiri.
Seberat apa pun hidup, upayakan anak-anak tetap bersekolah. Yuuk minimal seperti saudara2 kita orang Batak dan Minang, yang tingkat persentase sarjananya sudah di 18%an persen dari jumlah penduduknya!
Meski sederhana, jangan menyerah pada kebodohan yang disengaja.
InsyaAllah, suatu hari nanti hasilnya akan kita rasakan.
Bismillah. Tetap semangat.
Feri Susanto





2025/08/19

Sjafruddin Prawiranegara: Presiden Darurat yang Nyaris Dihapus dari Ingatan Bangsa


Sejarah Indonesia sering dipenuhi dengan nama-nama besar: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga Jenderal Soedirman. Namun, ada satu sosok yang perannya begitu krusial pada masa genting Republik, tetapi nyaris hilang dari buku-buku pelajaran: Sjafruddin Prawiranegara.

Ketika Republik Hampir Lumpuh

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer kedua. Yogyakarta, ibu kota Republik, jatuh. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan sejumlah pemimpin nasional ditawan. Secara teori, Indonesia lumpuh. Dunia internasional bisa saja menganggap Republik sudah bubar.

Namun di titik kritis itulah, Sjafruddin Prawiranegara, saat itu Menteri Kemakmuran yang tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengambil keputusan berani: mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Langkah ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan strategi penyelamatan negara. Melalui PDRI, Indonesia tetap punya kepala pemerintahan yang sah, sehingga diplomasi luar negeri dan perlawanan rakyat tidak kehilangan legitimasi. 

Tanpa PDRI, kemungkinan besar dunia akan menganggap Republik sudah tamat. Indonesia mungkin akan bernasib sama seperti banyak negara jajahan lain yang gagal merdeka.

Presiden Darurat yang Tidak Dicatat

Fakta bahwa Sjafruddin adalah Presiden Darurat Republik Indonesia jarang muncul dalam buku-buku sejarah sekolah. Padahal, dari 19 Desember 1948 sampai Juli 1949, beliaulah yang menjalankan roda pemerintahan. Dalam masa itu, Republik masih bisa melakukan komunikasi dengan dunia internasional, menjaga semangat perlawanan, dan memberi bukti bahwa Indonesia belum menyerah.

Namun, ketika Soekarno-Hatta kembali dari penahanan dan PDRI menyerahkan mandat, nama Sjafruddin seolah dipinggirkan.

Politik yang Menyingkirkan

Mengapa demikian? Salah satu jawabannya ada pada politik pasca-revolusi. Sjafruddin kemudian aktif di Partai Masyumi, partai besar yang mewakili aspirasi Islam modernis. Namun, sejak awal 1950-an, hubungan Masyumi dengan penguasa semakin tegang.

Masyumi dikaitkan dengan PRRI/Permesta dan dicap sebagai oposisi yang membahayakan stabilitas negara. Ditambah lagi, hasutan dan provokasi politik yang dimainkan PKI membuat Masyumi semakin dipandang sebagai “musuh negara”. Pada akhirnya, Masyumi dibubarkan dan banyak tokohnya dipenjarakan. Dalam iklim politik seperti itu, wajar bila jasa Sjafruddin yang identik dengan Masyumi diabaikan, bahkan dihapus dari narasi resmi sejarah nasional.

Ironi Sejarah

Inilah ironi: sosok yang menyelamatkan Republik dari kebangkrutan politik dan kehancuran diplomasi internasional justru dilupakan bangsanya sendiri. Generasi muda lebih mengenal pahlawan asing atau selebritas ketimbang Sjafruddin Prawiranegara. Padahal, tanpa keberaniannya, Indonesia mungkin tidak pernah sampai pada tahap pengakuan kedaulatan tahun 1949.

Saatnya Mengingat Kembali

Generasi muda Indonesia perlu tahu bahwa sejarah tidak hitam-putih. Ada tokoh-tokoh besar yang dipinggirkan karena politik, bukan karena kurang berjasa. Mengingat Sjafruddin berarti belajar bahwa keberlangsungan negara ini bukan hanya ditopang satu-dua tokoh, melainkan oleh banyak figur yang siap mengambil risiko demi kemerdekaan.

Sejarah tidak boleh hanya menjadi propaganda penguasa. Sejarah harus jujur, adil, dan memberikan tempat bagi siapa pun yang berjasa. Dan Sjafruddin Prawiranegara adalah salah satunya, seorang Presiden Darurat yang berjasa besar, meski nyaris dihapus dari ingatan bangsa.

#jasmerah #jashijau @sorotan #jangkauanluas Narasipostmedia Literasi Kata Chandu Sejarah #sejarah #indonesia #masyumi Moeflich H. Hart Ahmad Mansur Suryanegara

2017/12/22

TENTANG PERINGATAN HARI IBU

KITA PERLU TAHU! Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yg menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Tanggal itu dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Diperingati sebagai ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, 22-25 Desember 1928.
Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.
Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.
Beberapa pidato yang dibacakan oleh tokoh-tokoh perempuan pada saat Kongres:
  1. "Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian", oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati)
  2. "Deradjat Perempoean", oleh Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta)
  3. "Perkawinan Anak-Anak", oleh Saudari Moegaroemah (Poeteri Indonesia)
  4. "Kewadjiban & Tjita-Tjita Poeteri Indonesia", oleh Saudari Sitti Soendari
  5. "Bagaimanakah Djalan Kaoem Perempoean Waktoe Ini & Bagaimanakah Kelak", oleh Saudari Tien Sastrowirjo
  6. "Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga", oleh Saudari R.A. Soekonto (Wanita Oetomo)
  7. "Hal Keadaan Isteri di Europah", oleh Ny. Ali Sastroamidjojo
  8. "Keadaban Isteri", oleh Nyi Hajar Dewantoro
Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.
Jadi hari ibu yg dimaksud disini adalah peringatan atas perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia, bukan spesifik hari ibu yg melahirkan kita ya, seperti banyak yg disalahpahami oleh manusia zaman now. Jangan sampai salah kaprah. Hari ibu yg mrlahirkan kita adalah SETIAP HARI, SETIAP SAAT.
Demikian.
#fersus from any sources.

*Photo is powered by Google

2015/10/11

Almajiduun, Armageddon, Perang Dunia ke-3?

Almajiduun, Armageddon, Perang Dunia ke-3?
Apapun namanya. Perang di Suriah kali ini diprediksi akan berlangsung dalam waktu yg akan lama dan akan melibatkan lebih banyak negara.
Fakta 1:
Komunis, syiah, zionis terus menggalang persatuan untuk membela Assad, penguasa Suriah. Tujuannya membasmi perlawanan kaum muslim sunni yg mereka sebut sebagai pemberontak. Ini justru menyebabkan solidaritas muslim sedunia semakin kuat.
Fakta 2:
Pendeta Orthodox Rusia menyemangati prajurit Rusia yg akan berangkat perang ke Suriah sebagai pasukan perang salib.
Fakta 3:
Ulama Saudi menyerukan kaum muslim seluruh dunia wajib melawan kaum kuffar seperti disebut pada fakta 1 di atas. Sentimen dan semangat perang agama menjadi menyala.
Fakta 4:
Tgl 10 Oktober 2015, pesawat tempur Rusia ditembak jatuh oleh jet tempur Turki di wilayahnya.
Fakta 5:
Rusia mengancam serangan balik ke Turki.
Fakta 6:
NATO, sebagai organisasi antara bangsa yg paling besar dalam jumlah pasukan dan kesiapan tempurnya, menyatakan akan membela Turki dari ancaman Rusia. Rusia di bawah kepemimpinan Putin yg sudah berhasil memodernisasi angkatan bersenjatanya dalam beberapa tahun terakhir ini mulai ingin menunjukkan kemampuan tempurnya kepada dunia. Maka statement NATO ini justru membuat Rusia semakin reaktif.
Fakta 7:
Presiden Prancis, Hollande, menyebut perang dunia ke-3 memang semakin mendekat dengan kondisi beberapa hari belakangan ini.
Siapa yg akan diuntungkan dengan perang besar ini?
1. Produsen senjata
2. Bagi yg percaya illuminati, maka mereka inilah yg akan memimpin dunia setelah semua kekuatan tempur yg ada kehabisan resources-nya dalam perang besar ini. Mereka akan susun ulang new world order itu. Itu versi mereka.
Benarkah akan terjadi seperti demikian?
Wallahu a'lam. Hanya kepada Allah kita meminta perlindungan.
Allahummanshur muslimin wal muslimat, fi kulli makan wa fi kulli zaman... Aamin.

*Picture is powered by Google

2015/04/08

Jebakan Infiltrasi Pikiran Bawah Sadar Pada Pemuda Indonesia

“Pikirin aja urusanmu sendiri, urusan keluargamu. Gak usah sok mikirin hal yang besar deh. Apalagi urusan Negara, gak usah sekali-kali kamu urus deh”

Pernah mendengar nasehat atau lebih tepatnya ‘umpatan’ di atas? Sering ya? Atau bahkan Anda sendiri yang mengucapkannya ke rekan, saudara, teman, atau anggota keluarga Anda? Wah ini berbahaya. Saran saya, mulai sekarang Anda harus lebih waspada. Sebaiknya Anda menolaknya. Ya, Anda harus menolaknya jika Anda memang menginginkan sebuah perubahan besar pada bangsa ini.

Kenapa? Dalam teori propaganda, itu bagian dari infiltrasi pikiran bawah sadar seseorang, untuk kemudian dibiasakan dalam sekelompok orang, kemudian ke dalam kelompok yang lebih massive. Di ujungnya ada sebuah proses dubbing massal yang lebih berbahaya lagi. Tujuannya untuk mempermanenkan sebuah gagasan di pikiran (alam) bawah sadar Anda, bahwa Negara ini ‘gak pantas kalo kamu yang urus. Kamu pantasnya hanya sekedar memikirkan dan mengurus diri sendiri, keluarga sendiri. Urusan Negara, biarlah ‘mereka’ yang entah siapa itu yang memikirkan dan mengurusnya.

Apa maksud dari semua ini?

Maksudnya adalah sebuah rencana besar. ‘Mereka’ menginginkan kaum muda Indonesia ini berpikir kecil. Bertindak kecil. Cukup urusan personal dan domestik, rumah tangga saja. Maka dengan demikian, ‘mereka’ lebih leluasa mengurus Negara ini sesuai dengan kemauannya. Iya kalau cara mengurusnya benar, jujur dan adil. Kalau ternyata, semuanya dilakukan hanya demi kekuasaan, kerakusan dan hasrat dunianya? Habis lah diri Anda (dan rakyat lain) dijualnya. Habis lah asset bangsa ini dikuasainya. Habis lah marwah bangsa ini digadaikannya.

Sederhananya,dengan dubbing massal tadi, Anda akan terbiasa menyampaikan kalimat-kalimat sederhana yang berdampak luar biasa pada mental dan pikiran Anda. Sepenuhnya Anda tidak menyadari bahwa kalimat-kalimat itu telah merusak motivasi besar di alam bawah sadar Anda. Proses pelemahan mental di alam bawah sadar ini akan menjadikan Anda cukup nyaman berada dalam urusan kecil Anda, sementara urusan yang lebih besar, menyangkut hajat masyarakat yang terkait dengan kebijakan-kebijakan publik dan urusan strategis biarlah ‘mereka’ yang akan ambil alih. Anda membiarkannya. Anda menyerahkan hidup Anda dan hidup keluarga Anda kepada kebijakan-kebijakan yang mereka buat.

Jadi jangan heran berlebihan kalau ada banyak kebijakan strategis bangsa ini dan kebijakan publik yang mengatur banyak orang di negeri ini jauh dari harapan Anda, jauh dari nilai-nilai keadilan dan kebenaran apalagi kebermanfaatan bagi warga bangsa seperti penentuan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), Gas, Tarif Listrik dan lain-lain yang sangat tinggi dibandingkan dengan kemampuan daya beli masyarakat.

Kenapa kebijakan seperti itu bisa terjadi, dan tidak ada protes yang benar-benar dapat menghadangnya? Karena mereka sudah merencanakannya sejak awal, bahkan sejak dalam pikiran bawah sadar Anda tadi. Sedari awal, mereka ingin ‘membutakan’ mata politik Anda. Menumpulkan daya kritis Anda sejak di alam bawah sadar. Bahwa urusan besar, seperti penentuan harga-harga barang dan jasa yang dibutuhkan banyak orang itu adalah urusan besar, urusan mereka, dan Anda telah ‘dihipnotis’ hanya untuk mampu memikirkan dan mengurusi hal kecil, hal di diri Anda sendiri.

Bagaimana, wahai pemuda Indonesia?
Mau berpikir dan bertindak kecil atau berpikir dan bertindak besar?
Pilihan ada di diri Anda masing-masing, wahai pemuda Indonesia.

Ibu pertiwi memanggilmu. Jika pilihanmu siap untuk berubah dan bangkit. Yuk segera benahi persiapan mental, intelektual, emosional dan fisikal Anda, dan ketika tiba saatnya segeralah masuk ke wilayah kekuasaan yang sudah puluhan tahun ‘mereka’ kuasai dengan teknik infiltrasi ke dalam pikiran bawah sadar itu. Dan ingat, ketika sampai ‘di sana’, berjuanglah atas nama kebenaran, kejujuran dan keadilan. Pegang Teguh integritasmu, karena itulah asset terbesar mu duhai pemuda.

Salam Kebangkitan Pemuda Indonesia.

Dimuat juga di: http://www.dakwatuna.com

2015/04/07

KRITIK DI SOSIAL MEDIA ITU TIDAK PERCUMA!


Hasil gambar untuk social media power
Pasti pernah menerima pernyataan sinis berikut ini kan:

-Ngapain capek-capek kritik, teriak-teriak di facebook? Percuma!
-Percuma kalo ngomong doang di facebook mah, gak akan didengar!
-Aksi nyata dong, jangan cuman di sosmed!
-Demo aja kalo berani, ngapain cuap cuap doang di sosmed!

Setelah membaca beberapa fakta di akhir tulisan ini, Anda akan tercengang. Bahwa the power of social-media itu nyata adanya. Bukan angin lalu saja. Dalam dunia politik, sudah ada beberapa kekuasaan yang tumbang dan terjungkal dibuatnya.

Memang, kalau hanya sekedar tulisan tidak akan berpengaruh apa-apa. Masalahnya adalah, kekuatan opini yang terbentuk di social media (dunia maya) itu menjadi pemicu yang sangat kuat dalam aksi di dunia nyata.

Secara ilmiah, apa yang saya sampaikan di atas diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan oleh facebook. Dalam riset yang berjudul ‘A 61-million-person experiment in social influence and political mobilization’ itu terlihat betapa kuatnya hubungan antara opini social media dengan opini di real-world.

Secara umum, hasilnya sebagai berikut:
  1. Kampanye yang memanfaatkan jejaring sosial lebih berpengaruh daripada kampanye yang hanya fokus pada penyampaian informasi atau konten saja.
  2. Penyebaran perubahan perilaku cenderung terjadi antar teman dekat yang mungkin dibarengi dengan interaksi tatap muka.
  3. Mobilisasi politik di ranah online memiliki efek nyata di ranah offline.
Saya akan beri beberapa contoh / fakta yang lebih nyata tentang hasil peneilitian [nomor tiga] di atas.
  1. Revolusi di Tunisia [2010-2011] berhasil menumbangkan rezim Presiden Ben Ali, digerakkan awalnya oleh konsolidasi aktivis di facebook dan twitter.
  2. Revolusi di Mesir awal 2011, berhasil menumbangkan Hosni Mubarak, juga dibantu dengan jalur media alternative, youtube, facebook dan twitter. Di social media pula para aktivis membuat janji untuk rapat akbar di Tahrir square.
  3. Susilo Bambang Yudhoyono keok dalam polemik UU Pilkada [September 2014] setelah diserang dengan tagar #ShameOnYouSBY di facebook dan twitter.
  4. Jokowi berpikir ulang untuk mengajukan Budi Gunawan menjadi kapolri setelah dihantam serangan di twitterland dengan tagar #ShameOnYouJokowi.
  5. BNPT dan kominfo menjadi ambil langkah tak jelas dalam rencana memblokir beberapa situs Islam setelah mendapat serangan tagar #KembalikanMediaIslam. [Maret 2015]
  6. Jokowi mencabut perpres bantuan uang muka mobil pejabat, setelah dikritik habis-habisan di social media. [April 2015]
  7. dan lain-lain.
Masih menganggap sos-med ini hanya sekedar mainan yang tak berguna untuk merubah kekuasaan? No way, ini adalah channel yang dahsyat untuk menyuarakan isi hati mu, kawan!

Keep posting in positive spirit for Indonesia.

#FerSus

2015/03/22

Transkrip Lengkap Pidato Provokatif Theo Sjafei

Pengantar Redaksi:
Berikut ini adalah transkip lengkap pidato Mayjen (Pur) Theo Sjafei di hadapan aktivis gereja, yang kasetnya beredar luas di Kupang menjelang Tragedi 30 November 1998. Redaksi memperoleh kaset pidato ini dari seorang aktivis gereja Kupang. Redaksi sengaja menurunkan lengkap transkrip pidato tersebut untuk memberi gambaran utuh tentang apa saja yang telah disampaikan Theo Sjafei. Karena itu tidak ada editing redaksional yang cukup berarti dalam tulisan ini. Redaksi menambahkan anak judul untuk setiap persoalan guna memudahkan pembaca mengikuti pidato yang cukup panjang ini.

TENTANG HABIBIE, REPUBLIK AGAMA, DAN ISLAM DI BALIK KERUSUHAN

Tentang Penyebaran Agama Kristen di Indonesia
Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Kristus. Saya akan coba menyampaikan peta politik Indonesia sekarang ini dan menuju ke tahun depan, tahun pemilu, apabila pemerintah itu siap untuk melaksanakan pemilu. Tetapi sebelum saya sampai pada peta politik hari ini, kita kembali dulu di tahun 1511.


Tahun 1511 Portugis mendarat di Ambon. Portugis yang mendarat di Ambon itu mendapat dua mandat, satu mandat dari Raja di Portugis, dan satu mandat dari Paus di Roma. Mandat dari Raja Portugis untuk mengambil dan memonopoli rempah-rempah. Mandat dari Paus di Roma, untuk membawa terang ke bumi wilayah yang masih gelap ini. Dan dalam membawa terang itu, manusia-manusia yang ada di Nusantara ini, apabila tidak takluk, dia dapat dibunuh. Itu adalah teologia di abad ke-15 dan ke-16.


Karena itu, ketika Portugis datang ke sini, dia lalu melihat, bahwa di pesisir-pesisir Nusantara sudah banyak sekali terbentuk kerajaan-kerajaan kecil Islam. Kristen sampai ke Indonesia secara fisik itu di tahun 1511, ketika Portugis datang. Kita tidak tahu, mengapa Rasul Tomas itu bisa berhenti sampai 14 abad lamanya. Rasul Tomas itu sudah bergerak sampai di India. Tetapi kemudian, kekristenan itu berhenti di sana, tidak dapat menembusnya. Sedangkan Islam yang baru muncul beberapa abad kemudian, mendahului masuk ke Nusantara melalui pedagang-pedagang dari Gujarat. Malah, kekristenan itu tidak datangnya dari India, tetapi malah datangnya dari Eropa, melalui Portugis, Inggris, dan Belanda.


Jadi, ketika Portugis tiba di sini atau kekristenan itu tiba di Indonesia, mereka menemukan raja-raja kerajaan Islam, dan kerajaan-kerajaan Islam itu yang menguasai Nusantara, lalu terjadilah pertempuran-pertempuran. Perang ini oleh Portugis dianggap sebagai pertempuran suci, perang Suci, kecuali untuk merebut rempah-rempah, juga untuk menyebarkan agama Kristen. Dulu agama Kristen disebarkan dengan perang.
Tahun 1512 Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Ahir tahun 1590-an Belanda datang. Belanda yang datang adalah yang sudah Protestan. Kekuatan Protestan waktu itu sedang dikejar-kejar di Eropa. Karena itu mereka lari ke Amerika. Kekuatan Protestan itu, Jerman menjadi Protestan, Belanda menjadi Protestan, negara-negara Eropa bagian Utara menjadi Protestan. Ketika mereka bertemu dengan Katolik Portugis di sini, lalu yang Protestan itu menganggap Portugis yang Katolik itu adalah musuhnya, kemudian mereka bantai Portugis itu. 15.000 orang Katolik, orang asli pribumi Katolik di Ambon, mereka habiskan dalam 1 malam. Jadi sebetulnya sejarah kekristenan itu juga bukan sejarah yang bersih dari darah.


Amerika itu terjadi seperti sekarang ini, karena juga orang-orang Katolik. Kerajaan Katolik mengejar pengikut-pengikut Protestan Martin Luther dan Calvin. Mereka lalu lari ke Amerika. Karena itu ketika sampai di sana, ketika mereka mendirikan negara Amerika, ingatan orang-orang Amerika yang pertama, bahwa kita sampai di sini karena masalah agama.


Karena itu negara yang kita dirikan, adalah negara yang tidak boleh mencampuri masalah-masalah agama. Negara yang tidak boleh mencampuri masalah agama ini kita kenal dengan sekuler. Amerika adalah negara yang sekular. Dia tidak mau mencampuri masalah agama. Tapi bukan anti agama.
Jadi ada negara yang non-sekuler, dan ada negara yang sekuler.


Saya kembali ke Belanda yang masuk ke sini. Belanda yang masuk ke sini kemudian mengalahkan Portugis, dan untuk mengalahkan Portugis, ia bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan kecil Islam. Lalu setelah Portugis bisa dia hancurkan, kemudian kerajaan-kerajaan kecil ini diadu sesama mereka, lalu kemudian jadilah mereka kekuatan yang menguasai seluruh Nusantara, karena berhasil melakukan divide et impera.



Tentang Islam yang Galau dan Selalu Berontak

Ini artinya, bahwa ketika abad ke-7, Sriwijaya menguasai Nusantara sampai ke daerah Muangthai, maka Sriwijaya menguasai Nusantara dengan filosofi dasarnya itu adalah Budha. Ketika Sriwijaya turun, naik kerajaan Majapahit yang berpusat di Singosari Jatim. Filosofi dasarnya, mereka menguasai Nusantara itu, dengan filosofi Hindu. Setelah Majapahit turun, maka yang menggantikan kekuatan Majapahit di Nusantara, filosofi berikutnya itu bukan filosofi Islam, tetapi filosofi Kristen yang dibawa oleh kolonial Belanda.


Jadi, kaum mayoritas Islam, atau Islam itu tidak pernah memegang peran sentral di Nusantara, di Indonesia ini. Tidak pernah UU diberlakukan menurut pikiran-pikiran Islam, tetapi menurut pikiran-pikiran Kristen. KUHAP yang kita punyai, KUHP yang kita punyai, dimasa lalu, itu landasannya adalah landasan kekristenan. HAM yang kita punya, itu adalah filosofi Kristen.


Jadi yang menggantikan Budha, Hindu, itu bukan Islam tetapi Kristen. Dan ini membuat orang Islam galau. Mengapa kami yang bagian terbesar yang hidup di Nusantara ini tidak bisa mengatur Indonesia ini dengan filosofi Islam. Kenapa Kristen yang harus menjadi. Ketika Belanda dan Jepang turun, maka yang mengganti kemudian di Indonesia itu bukan Islam, tetapi Pancasila. Sekarang ini filosofi yang kita pakai adalah filosofi Pancasila, dan ini menambah galaunya orang Islam. Kenapa bukan Islam yang dipakai. Ketika BPUPKI dibentuk oleh Jepang, ketuanya adalah RM Widijodiningrat. BPUPKI anggotanya 60 orang. Wakil ketuanya orang Jepang 2 orang. Di dalam 60 orang itu ada 5 orang Cina dan 2 keturunan Arab. Di dalamnya ada 14 atau 15 orang yang beragama Kristen Katolik dan Protestan. Ketua BPUPKI bersidang tanggal 29, 30, 31 Mei dan 1 Juni 1945 ada 46 anggota yang bicara. Prof. Dr. Soepono, pembicara yang ke-41 mengatakan: Saudara-saudara, negara Indonesia yang akan kita bangun itu haruslah negara yang mengatasi semua perorangan dan semua golongan. Negara yang akan kita bangun ini tidak boleh berdasarkan pada kekuatan golongan atau pada kekuatan kita yang terbesar. Negara ini haruslah negara yang mengatasi semua golongan dan semua perorangan. Negara ini disebut negara persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan. Itu salah satu bagian pidatonya Soepomo.
Kemudian Soepomo melanjutkan, kepada yang terhormat Saudara-saudara yang menginginkan negara ini dibangun di atas dasar Islam, walaupun Islam itu bisa mengatur sebaik-baiknya kehidupan warga negaranya, tetapi tentulah, kata Soepomo, mereka agama yang kecil-kecil itu tidak pernah merasakan bahwa negara ini adalah negaranya, karena negara ini dibuat dan didasarkan atas dasar Islam. Artinya itu saudara-saudara, walaupun Islam merupakan bagian yang terbesar daripada negara kita ini, kita tidak boleh mendirikan negara ini berdasarkan Islam, tetapi kita harus membuat satu negara yang mengatasi semua golongan dan mengatasi semua perorangan, negara itu adalah negara persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan.


Ini pidato yang ke-41 Prof Dr Soepomo. Bayangkan di tahun 1945 sudah ada profesor doktor dalam bidang hukum. Kemudian, pidato yang ke-46 tanggal 1 Juni adalah pidatonya Bung Karno. Karena itu, kata Bung Karno, dasar negara yang akan kita buat itu saya sebut Pancasila. Yang pertama, silanya adalah sila kebangsaan. Yang keduanya, sila mufakat. Yang ketiga, silanya adalah sila internasionalisme, kemanusiaan. Yang keempat silanya adalah keadilan sosial. Dan yang kelima silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.


Kebangsaan oleh Bung Karno ditempatkkan yang pertama, karena melihat bahwa bangsa ini perlu bersatu. Kemudian dibentuklah Panitia 5, yang dipimpin Bung Hatta. Untuk merumuskan kembali Pancasila. Di dalamnya ada dua yang Kristen, satu Maramis, satunya tokoh dari Jawa. Kemudian oleh Bung Hatta, disusunlah itu (menjadi) Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.


Jadi dimulai Tuhan Yang Besar sekali. Kemudian, sesudah ketuhanan yang begitu besar dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran oleh perasaan, oleh panca indera kita, diturunkan itu menjadi kemanusiaan, kemanusiaan di seluruh muka bumi, manusia sebagi satu spesies makhluk tertinggi martabatnya. Baru setelah manusia seluruh dunia itu, baru turun menjadi persatuan Indonesia. Baru kemudian dalam persatuan itu harus kita lakukan dalam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dan kemudian ada keadilan sosial. Inilah yang membuat kenapa umat Islam itu begitu galau. Mereka yang bagian terbesar dari republik ini tetapi tidak pernah meletakkan dasarnya untuk republik ini. Tidak pernah berhasil. Ketidakberhasilan mereka di 17 Agustus 1945, yang kemudian tanggal 18 UUD-nya disahkan digabungkan dengan Pancasila, lalu membuat mereka memberontak.


Pemberontakannya itu adalah pemberontakan DI/TII, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Mereka berkehendak mendirikan negara Islam Indonesia dengan imam besarnya adalah Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII di sini. PM dan Menhannya adalah Kahar Muzakar, pimpinan DI/TII di Sulsel. Ibnu Hajar adalah Mendagrinya pimpinan DI/TII di Kalimantan Selatan, dan Daoed Beureueh pimpinan DI/TII di Aceh. Ini adalah pemberontakan Islam.

Tentang Islam yang Membuat Berbagai Kerusuhan
Kemudian di tahun 1955 diadakan pemilu di Indonesia. Pemilu ini kecuali memilih DPR juga memilih Konstituante. Tapi Dewan Konstituante yang diwajibkan untuk membentuk konstitusi negara, menggantikan UUD 1945. Konstituante ini kemudian bersidang selama 4 tahun dari tahun 1955 sampai tahun 1959, dan tidak pernah bisa bersepakat membentuk dasar negara, apakah dasar negara itu nasional, Pancasila, ataukah Islam. Selalu kalau dalam pemilihan suara, tidak pernah dicapai kata sepakat untuk mendapatkan dasar negara.


Kemudian Abdul Haris Nasution, Pangab waktu itu, mengusulkan, supaya kita tidak usah lagi bicarakan tentang ini, kita kembali saja ke UUD 1945, tanggal 5 Juli 1959. Kalah lagi Islam. Tiga kali Islam kalah berturut-turut. Dan kekalahannya ini, baik secara pemberontakan bersenjata maupun secara konstitusional dalam dewan-dewan yang sah, itu tidak membuat Islam itu selesai. Mereka masih ada Warsidi, mereka masih ada Tanjung Priok, mereka masih ada pemboman BCA, mereka masih melaksanakan pemboman Borobudur, masih membunuh pendetanya gereja Anglikan; Situbondo, Tasikmalaya segala macam itu masih dibuat oleh Islam, untuk memperlihatkan kekecewaan-kekecewaannya.
 

Tentang Strategi HMI: Pembusukan dari Dalam

Makin-makin Islam itu kecewa, ketika di tahun 1978 di dalam GBHN dikatakan, bahwa seluruh Ormas dan Orsospol dalam negara RI, harus asasnya tunggal, Pancasila. HMI ketika itu menolak asas tunggal, lama sekali. Himpunan Mahasiswa Islam, HMI itu tidak pernah berkehendak ia dinamakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. HMI selalu mengatakan, kami adalah HMI, tidak pakai Indonesia di belakangnya. Karena dia adalah bagian Pan-Islamic, satu perjuangan Islam di seluruh dunia. Ini adalah penolakan HMI.


Lalu HMI yang menolak ini, melaksanakan tiga kali muktamarnya. Dan pada muktamar yang ketiga, kemudian Akbar Tanjung, yang mantan ketua HMI, tapi waktu itu adalah ketua KAHMI - KAHMI itu adalah kesatuan alumnus HMI - berpidato di Medan. Dia mengatakan begini, "Kalau HMI tidak menerima asas tunggal, maka kalian sebagai ormas itu menjadi tidak sah. Kalau kamu tidak sah sebagai Ormas, maka perjuangan Islam itu harus dilaksanakan di luar sana, di perimeter-perimeter yang paling tepi, yang paling pinggir. Kapan kalian bisa di sentral power, di sentral kekuasaan. Mari kita terima asas tunggal Pancasila ini sebagai taktik, agar kita bisa masuk ke dalam Golkar, masuk ke dalam pemerintahan, dan kemudian melakukan pembusukan-pembusukan dari dalam." Dan itulah yang dilaksanakan oleh KAHMI, oleh unsur-unsur HMI.


Kemudian mereka membuat ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dengan alasan bahwa Kristen membuat PIKI, Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia. Dan Katolik membuat ISKI, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Kenapa kita tidak bisa membuat ICMI. Jadi kitalah sebetulnya yang salah langkah membuat PIKI, membuat ISKI. Sehingga ketika mereka membuat ICMI tidak ada yang bisa mencegah. ICMI didapuri selama 2 tahun. Tokoh yang mendapurinya adalah Prof Dr Imadudin. Imadudin ini ketika tahun 1980 sekian, ketika ICMI itu terbentuk, ditanya kenapa bukan kalian-kalian yang mendapuri ICMI yang duduk sebagai ketua ICMI, kenapa kalian relakan kepada Habibie. Habibie kan kita tidak kenal keislamannya dengan betul. Jawab mereka, karena Habibie adalah orang atau figur yang paling bisa kita manfaatkan. Karena dia sudah dekat dengan sentral power. Dan dari Habibie ke-Islam di bawah itu harus melalui ICMI. Sebab ICMI itu punya mekanisme tersendiri.


Habibie itu cuma simbol, lambang di atas. Kemudian ICMI itu makin lama makin banyak. Dalam Golkar, dalam pemerintahan, dalam kabinet yang lalu. Lalu Soeharto merasa bahwa dia punya kepemimpinan sebagai presiden itu harus diletakkan dalam tiga kaki. Satu kaki Golkar, karena ABRI sudah ada dalam Golkar. Oleh Hartono dikatakan bahwa ABRI adalah kader-kader Golkar, Hartono sudah memakai pakaian kuning sebagai KSAD, sebagai kader Golkar. Yang kedua Pak Harto merasa bahwa dia sudah bisa mengatur RI dengan kaki yang kedua adalah konglomerat. Dan dia sendiri merasa sebagai pribadi sudah punya yayasan-yayasan yang cukup besar, dan yayasan-yayasan itulah yang membiayai Golkar. Jadi itu bukan uang yang ada di dalam Golkar sendiri, tetapi uang dari luar Golkar. Yayasan Dakab itu, berapa keinginannya Golkar, Pak Harto membiayainya.


Dengan demikian, kalau Golkar itu programnya tidak sesuai dengan yang diinginkan Pak Harto, uangnya tidak diberikan. Pak Harto merasa bahwa ia sudah memegang segala macam itu. Dia sudah memegang sembilan bahan pokok, ia sudah memegang industri-industri strategis, pesawat terbang, kapal, kereta api dan besi. Tinggal satu lagi kekuatan, dan kekuatan yang ketiga itu adalah kekuatan Islam.


Di awal Orba, Pak Harto dengan tiga kakinya adalah teknokrat, ABRI dan pemerintahan sipil. Teknokratnya, Ali Wardana cs, Radius Prawiro cs, Frans Seda cs, Itu adalah teknokrat yang dipakai oleh Pak Harto. Hampir semua rektor dan dekan ditarik ke dalamnya. Itu pada awal Orba. Tetapi di akhir Orba, teknokrat-teknokrat itu, rektor-rektor itu sudah tidak lagi dianggap, karena seluruh profesor sudah ada dalam kabinet. Nah Islam yang dipakai oleh Pak Harto ini adalah Islam yang tadi dikatakan oleh Akbar Tanjung, adalah Islam yang melaksanakan pembusukan dari dalam. Islam ini kemudian mengatakan begini, "Mari kita dorong Soeharto itu, presiden ini, sebagai Bapak Pembangunan, satu-satunya yang paling mampu membangun di Indonesia adalah Soeharto. Mari kita dorong dia supaya dia menjadi bapak yang paling benar di seluruh Indonesia. Supaya nanti kalau ada kesalahan di republik ini, maka satu-satunya yang paling salah adalah Soeharto." Dan itu terjadi hari ini.


Tentang "Brutus" Habibie
Sekarang ini, itu sudah terjadi. Dan kita melihat, ketika Pak Harto akan mundur tanggal 20 Mei malam. Ini ceritanya Sudharmono kepada saya. Malam itu sehabis maghrib, saya dari Imam Bonjol dari rumah, saya dipaggil ke Cendana. Lalu Pak Harto mengatakan, tanggal 20 Mei itu, nanti hari Sabtu akan saya umumkan Komite Reformasi Nasional. Di dalam Komite itu duduk antara lain Megawati, Gus Dur, Amien Rais, ketua KWI, ketua PGI, empat puluhlima orang banyaknya. Lalu Pak Dharmono mengatakan," Pak, nanti kalau itu akan diumumkan, harus dicek betul-betul bahwa dari 45 orang ini tidak ada yang menolak untuk duduk." (Kata Pak Harto) "Ya, ya, sudah saya katakan itu pada Saadilah Mursyid, supaya dicek di telepon satu-satu. Kemudian, hari Sabtu itu juga akan saya umumkan reshufle kabinet," kata Pak Hato kepada Sudharmono. "Dalam reshuffle kabinet ini, semua orang yang disorot dengan keras oleh masyarakat akan saya keluarkan. Bob Hasan saya keluarkan. Hartono saya keluarkan, Tutut saya keluarkan, Alawiyah saya keluarkan. Semua yang disorot dengan keras akan saya keluarkan." Dan pembicaran itu selesai sesudah maghrib sampai kira-kira jam 8 malam.

Ketika Pak Dharmono keluar, dia masih bertemu dengan wakil presiden Habibie, di ruang tunggu. Mereka salaman, Habibie membawa map. Kemudian map itu dibawa oleh Habibie ke dalam. Kemudian kira-kira jam 10 malam, Pak Dharmono ditelepon oleh Saadilah Mursyid, "Pak! Pak Harto sudah memutuskan, besok akan mengundurkan diri." Kata Pak Dharmono, "Kenapa? Tadi itu masih bicara tentang Komite Reformasi Nasional, masih bicara tentang reshuffle kabinet yang akan dilaksanakan hari Sabtu."

Habibie membawa map yang isinya 14 orang menteri menarik diri, berkeberatan untuk duduk, baik di kabinet sekarang maupun di kabinet yang akan datang, kalau dipimpin oleh Pak Harto. Lalu, Pak Harto yang gundah ini, lalu mengatakan, "Baik kalau begitu. Kalau Brutus-Brutus..." Brutus adalah yang menusuk Julius Cesar. Padahal, Habibie itu seperti Brutus, dia dibesarkan oleh Julius Cesar, dari anak pinggiran dijadikan panglima, dialah yang menusuk Julius Cesar.

Saya jam 10 ditelepon Pak Dharmono. Jam 10 lewat 10 menit, Saadilah Mursyid menelepon Pak Try Sutrisno. Saya waktu itu berada di rumahnya Pak Try Sutrisno, karena saya adalah sekretaris politiknya. Malam itu, kita baru mengirimkan surat kepada Presiden, memberitahukan bahwa "Keadaan sudah begini - begini di luar. Kami sarankan Bapak mengambil langkah ini - ini." Malam itu suratnya dibawa kurir. Sebelum jam 7 sudah sampai di tempatnya Pak Saadilah Mursyid, untuk diteruskan kepada Presiden. Kira-kira jam setengah delapan, Saadilah menelepon Pak Try Sutrisno, "Suratnya sudah sampai kepada Bapak dan sudah dibaca oleh Presiden Soeharto." Tetapi ketika Brutus (Habibie) itu datang, besoknya kemudian terjadilah penyerahan kekuasaan.

Tentang Muhammadiyah Fundamentalis
Jadi, kita lihat di sini, bahwa memang Islam itu sangat galau kenapa negara ini tidak berdasarkan Islam. Islam yang sangat galau ini bukan Islam keseluruhannya. Islam yang sangat galau ini adalah Islam yang fundamental. Islam itu ada dua. Satu Islam yang fungsional, yang memperjuangkan supaya fungsi-fungsi Islam itu dilaksanakan di dalam keadilan sosial, di dalam kesejahteraan, di dalam kesehatan, di dalam makanan. Islam yang fungsional itu tecermin dari mereka yang ada di NU. Sedangkan Islam yang politik, yang ingin benderanya berkibar sebagai kekuatan, itu Islam yang berada di ICMI, dan Islam yang berada di setengah dari Islam Muhammadiyah.

Amien Rais adalah ketua Muhammadiyah, tetapi dia masuk sebagai ketua Muhammadiyah dalam Muktamar di Aceh dengan pembiayaan yang sangat besar dari ICMI untuk mengalahkan Lukman Harun cs. Kemudian ia menjadi ketua Muhammadiyah, agar supaya kelihatan bahwa ICMI didukung oleh aliran Muhammadiyah. Bedanya dengan NU, apabila ada persoalan di luar, tentang haram atau halal, tentang sah atau tidak sah, aliran Muhammadiyah mencari pembenaran dalam Al Quran dan hadits. Al Quran itu adalah buku yang begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah perbuatan-perbuatan Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita tidak menemukan jawabannya di Quran. Tidak seperti Alkitab kita. Semua kita bisa cari jawabannya di Alkitab. Di Quran tidak.

Jadi kalau Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di Quran dan di hadits. Kalau NU, Islam yang tradisional, mencari pembenarannya itu dari kyai-kyai mereka yang tua, yang lama, yang mereka katakan, kita kembali kepada khittah tahun 1926. Ada mereka buat buku tentang perbuatan-perbuatan kyai-kyai di Indonesia dan sebelumnya. Jadi kalau ada persoalan di masyarakat, mereka cari ke dalam buku kuning. Buku Khittah tahun 1926. Artinya NU mencari jawabannya itu di dalam tradisi Indonesia, di dalam akar rakyat Indonesia. Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di dalam tradisi dan akar di negeri Arab.

Tentang Jilbab Kelakuan Orang Arab
Karena itu bagi Muhammadiyah, memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh, itu diperlukan, karena ini adalah kelakuan orang Arab di sana. Kenapa kelakuan ini dilakukan di sana? Itu bukan dilaksanakan oleh Islam saja di sana, tetapi juga dilaksanakan oleh orang kafir di sana, pakaian yang seperti itu.

Mengapa pakaian itu harus dipakai? Satu karena sengatan matahari yang terlalu besar. Dua, di malam hari, terjadi penurunan temperatur yang begitu dingin sehingga memang diperlukan pakaian yang sampai ke bawah. Yang ketiga, debu yang terbang itu adalah butir-butir pasir, yang sangat membahayakan terhadap kulit dan terhadap mata seseorang, sehingga pakaiannya memang harus demikian. Di Indonesia kan tidak perlu begitu. Panasnya tidak menyengat, malamnya tidak terlalu dingin, dan tidak ada debu pasir, tidak ada badai pasir yang sewaktu-waktu bisa terbang. Ada lagi alasan yang lain dari kelompok Islam ini. Bahwa pakaian yang seperti itu, untuk melindungi dari kaum kafirin. Memang di zaman Islam mulai bertumbuh, di sekitarnya itu adalah kaum kafirin. Yang kalau melihat wanita, merebut dan memperkosanya. Lalu, kata mantan Menteri Agama Munawir Sjadzali, istri saya ini tidak pakai jilbab, dia cuma pakai rok yang panjang, dia tidak perlu disembunyikan wajahnya dan kecantikannya dari masyarakat, karena masyarakat ini bukan masyarakat kafir, masyarakat ini adalah masyarakat beradab, masyarakat Islam.

Tetangga saya itu Islam, karena itu saya tidak usah menutup kecantian istri saya. Dulu itu dilaksanakan di Arab, karena masyarakat di sekitarnya adalah masyarakat kafir, yang kecantikan itu bisa berbahaya bagi keluarga itu. Karena saya tidak menganggap kalian ini kafir, maka istri saya tidak perlu pakai jilbab.

TENTANG REPUBLIKA (Republik Agama)
Tetapi karena mereka hanya melihat pada hadits dan Quran maka itu harus dilaksanakan. Di dalam hadits itu dikatakan, sebaik-baiknya kalian, pilihlah pemimpin di antara kamu sendiri. Itu kata hadits. Jadi kalau harus ada pemimpin di antara kamu, Islam, maka pemimpinnya mesti Islam. Jadi kalau camatnya harus Islam, bupatinya harus Islam. Kalau bupatinya harus Islam, maka gubernurnya harus Islam, presidennya Islam. Siapa nanti di atasnya Presiden, ada MPR, ada GBHN, GBHN-nya harus Islam. Dan GBHN Islam ini, itulah yang mereka akan buat, apabila mereka menang dalam pemilu tahun 1999. Golkar, PBB, Partai Bulan Sabit kecil, PUI, PNU, kalau itu semua menang, dan mereka akan menguasai MPR, maka MPR yang di tahun 2000 nanti - kan 1999 menang dalam pemilu, tahun 2000 mereka bikin MPR, MPR membuat GBHN, GBHN kemudian akan memilih juga presiden - maka presidennya pasti Islam, dan GBHN-nya adalah GBHN yang menuju yang memberikan instruksi-instruksi tertentu, yang akan menuju kepada Republika.

Republika, koran yang kita kenal itu, itu adalah "Republik Agama".
Seperti Kompas, adalah Komando Pastur. Republika adalah Republik Agama.
Jadi GBHN-nya itu akan menuju kepada Republika di tahun 2005. Jadi sebagian perintah GBHN adalah membuat UU yang menetapkan filosofi-filosofi Islam sebagai dasarnya. Di tahun 2005, mereka berharap pemilu akan dimenangkan lagi, karena mereka sudah menang besok tahun depan, 2005 akan terjadi lagi MPR yang akan makin mengentalkan terjadinya republik Islam, republik yang berdasarkan Islam di tahun 2010.

Itu adalah skenarionya. Skenario yang mereka susun. Golkar pasti tidak akan menang, sebab siapa saja yang nanti akan kampanye untuk Golkar, nanti akan diteriakin dari bawah "Bohong lu!" Tidak ada satupun kekuatan yang bisa mengelak. Karena itu Akbar Tanjung, karena itu ICMI, mereka-mereka itu membentuk partai-partai Islam yang banyak, supaya Golkar yang turun prosentasenya dari 74 %, yang mungkin menjadi 12 %, itu bisa ditambah prosentasenya oleh PBB, Partai Bulan Bintang, oleh PAN Amien Rais, oleh PBSK, oleh PUI, oleh partai SUNI, oleh Masyumi Baru. Karena kalau didapatkan 51 %, 52 %, 55 %, maka mereka akan menguasai MPR, mereka bikin GBHN, mereka menunjuk presiden. Dan presiden yang berikutnya itu bukan Habibie. Habibie mereka anggap terlalu pendek menjadi presiden, terlalu banyak geraknya, terlalu bayak geraknya. Seharusnya Habibie ini dikasih mikropon untuk mainan, untuk nyanyi.

Tentang Dwifungsi ABRI
Presiden akan datang itu terletak pada dua atau tiga: Akbar Tanjung, Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman. Sayidiman dan Tirtosudiro inilah sebenarnya desainer yang berada pada semua pemikiran-pemikiran itu. Sekarang dengan sistematis mereka mengatakan bahwa ABRI itu busuk, ABRI itu buruk, ABRI itu pembunuh, ABRI itu pelanggar HAM, semua dikembalikan dengan secara demikian, mereka berharap nanti akan sampai kepada pembentukan opini, di mana opini itu akan mengatakan bahwa ABRI itu salah.

Kalau ABRI salah, maka Aceh Merdeka akan menjadi benar. Aceh Merdeka itu adalah pemberontakan Islam. Kalau ABRI dituduh, diperlihatkan kesalahan-kesalahannya kemudian, ABRI itu lalu kehilangan kemampuan moral dan morilnya, yaitu mundur ke belakang. Kemudian ABRI itu dihakimi, diadili oleh masyarakat, oleh opini masyarakat, maka nanti yang benar, itu adalah pemberontakan-pemberontakan Islam. Warsidi di Lampung, Amir Biki di Tanjung Priok, Aceh Merdeka di Aceh. Kalau ABRI menyerah secara moril dan moral, maka ABRI ini lalu tidak berani mempertahankan dwifungsinya. Dua fungsi ABRI, satu kekuatan Hankam dan satu kekuatan sosial politik. Jadi ABRI punya sikap politik.

Sikap politik ABRI itu terletak pada sumpahnya, ABRI itu kan bersumpah, sumpahnya ABRI itu namanya Sapta Marga. Tujuh Marga. Di Marga kesatu, ABRI itu mengatakan: Kami warga negara kesatuan Republik Indonesia, yang sendinya Pancasila. Di Marga kedua, ABRI mengatakan: Kami patriot Indonesia yang mempertahankan ideologi negara dan UUD. Jadi sikap politik ABRI itu, satu, negara ini harus negara kesatuan RI. Kedua, negara ini harus negara Pancasila. Itu sikap politik ABRI, sumpahnya ABRI. Jadi fungsi keduanya ABRI, fungsi sospolnya ABRI adalah itu, negara kesatuan RI. Pancasila, ideologi negara harus Pancasila. Jadi kalau ABRI sekarang ini dengan sistematis sudah makin didorong untuk kalah secara moril dan moral, kemudian ABRI melepaskan dwifungsinya, maka artinya ABRI melepaskan dirinya untuk mempertahankan negara kesatuan, mempertahankan Pancasila, mempertahankan ideologi negara Pancasila.

Kalau negara ini tidak punya ideologi, tidak punya dasar, karena Pancasila tidak ada yang mempertahankan - negara itu kan harus ada dasarnya - lalu ditawarkan siapa yang bisa memberikan kepada kita dasar negara yang baru, karena Pancasila sudah tidak dapat diterima sebagai asas tunggal dan sebagai dasar negara? Ideologi mana yang ada sekarang ini kecuali Pancasila, yang ada sekarang ini cuma ideologi Islam. Kita tidak berani, dan tidak bisa, dan tidak mungkin, kita mengatakan kita pakai ideologi Marx, mari kita pakai ideologi sosial komunis, tidak mungkin. Sesuatu yang sudah kita kutuk. Jadi kalau Pancasila itu berhasil dijatuhkan, dengan menjatuhkan ABRI supaya tidak punya lagi dwifungsi, maka tidak ada lagi kekuatan yang bisa mempertahankan negara kesatuan dan negara Pancasila ini. Dan secara sistematis, ABRI disudutkan ke sana, karena ekses-ekses politiknya, karena ekses-eksesnya di bidang pendekatan keamanan. Padahal yang melaksanakan penculikan (adalah) Prabowo betul, Sjafrie betul. Tetapi pelaksana di bawah, pem-"back up" di belakang … Karena itu dalam dua terbitan Tabloid ADIL hari ini, bahwa di belakang Prabowo yang masih muda itu, ada Benny Moerdani, supaya tuduhan itu tidak jatuh kepada KISDI yang Islam, tetapi kepada Benny Moerdani yang Katolik.

Tentang Pertanggungjawaban Soeharto
Ini yang kita hadapi hari-hari ini. Ini yang kita hadapi bahwa SI MPR nanti, itu SI yang mencabut Tap No. III yang mencabut Tap tentang pengangkatan Presiden Soeharto, dan kemudian mengangkat Habibie, kemudian mencabut Tap tentang Pemilu tahun 2002, dan menggantikannya dengan Tap Pemilu 1999. Kenapa cuma dua ini. Kenapa kita tidak boleh meminta Soeharto bertanggung jawab di depan MPR. Ketua jemaat saja kalau meminta pengunduran diri, itu ditanya, kenapa you mengundurkan diri, apa gajimu kurang.

Ini seorang Presiden Soeharto. Sekarang ini sedang diopinikan, agar dia memberikan pertanggungjawaban di MPR. Kalau pak Harto memberikan pertanggungjawaban, ada dua kemungkinan pertanggungjawabannya itu. Satu, dia berbicara sejujur-jujurnya. Kalau dia bicara sejujur-jujurnya, Habibie segala macam di dalam kabinetnya sekarang, itu juga adalah rezimnya Soeharto. Ini juga bisa jatuh. Kalau dia bicara sebohong-bohongnya, sekuat-kuatnya berbohong Soeharto untuk melindungi Habibie, itu sekarang ini tidak lagi mungkin bisa. Karena sudah begitu banyak file, sudah begitu banyak arsip yang terbuka, sudah begitu banyak rekayasa yang kelihatan.

Karena itu, rezim Habibie ini sangat kuatir, kalau Soeharto oleh opini rakyat, diminta untuk memberikan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban macam apa yang bisa dia berikan. Barangkali pertanggungjawaban yang bisa diberikan adalah seperti pertanggungjawaban Bung Karno. Bung Karno memberikan pertanggungjawaban itu cuma di dalam sembilan aksara (Nawaksara).

Inilah yang harus kita buat. Supaya opini rakyat begitu kuat mendorong dan mendesak, Soeharto harus memberikan pertanggungjawaban. Kalau Soeharto tidak memberikan pertanggungjawaban, akan menjadi preseden. Artinya di kemudian hari, seorang presiden yang sudah capek, terus ingin pulang ke Jerman, dia lalu bisa mengatakan, "Capek, capek, saya mau pulang ke Jerman, ambillah ini, saya mau pergi."
Kalau begitu negara ini kan jadi lebih kacau daripada PT, daripada perusahaan. Perusahaan saja, Dirut mau mengundurkan diri harus dipanggil dulu itu RUPS. RUPS kita itu adalah MPR. Kalau diiyakan pada presiden kedua, presiden ketiga, keempat, kelima, bisa saja meletakkan jabatan kepresidenan itu kapan saja dia kehendaki. Dan ini tidak boleh menjadi preseden.

Tentang Negara Islam Tahun 2005
Jadi negara ini menjadi negara Islam atau tidak menjadi negara Islam, itu SI MPR 10 November nanti, mulai digulirkan. Di Pemilu nanti, Golkar akan berkoalisi dengan partai-partai ini. Kalau partai ini menang, mereka akan memegang MPR. Dan MPR yang mereka buat, mereka pegang, akan membuat GBHN yang menuju kepada "Republika".

Kenapa mereka berkeras tahun 2000 ini harus dibentuk, agar 20005 itu "Republika" bisa dipegang. Karena ditahun 2003, begitu bunyi kesepakatan ASEAN, sudah terjadi semi globalisasi Indonesia. Di tahun 2010, sudah terjadi globalisasi untuk Pasifik, kecuali untuk beberapa komoditi. Di tahun 2020, itu seluruhnya sudah global, dalam bidang ekonomi. Tidak ada investasi yang akan masuk ke sini, kalau pemerintahan ini adalah primordial.
Atau dibalik perkataan lain, apabila sudah tiba saatnya untuk globalisasi, dan pemerintahan Islam, pemerintahan primordial ini belum terbentuk, maka pemerintahan primordial ini tidak akan pernah terbentuk.

Jadi mereka dikejar oleh waktu. Bahwa di tahun 2005 itu, Republika, Republik Agama itu sudah harus sangat kuat pancangan-pancangan kakinya. Kalau tidak, di dalam globalisasi tidak ada investasi yang mengijinkan berdirinya suatu pemerintahan primordial.

Tentang Zaky (Anwar) Makarim
Jadi bulan-bulan depan ini, adalah bulan-bulan perebutan, apakah ini akan menjadi negara Islam atau tidak, apakah dwifungsi ABRI akan jatuh ataukah bisa bertahan. Kalau Wiranto terlampau keras mempertahankan dwifungsinya, dia bisa diganti oleh perwira Islam yang lain. Fachrul Razi misalnya. Zaki Anwar Makarim misalnya.

Zaky Anwar Makarim itu adalah Kepala BIA. Atase Pertahanan AS, Kolonel William, pernah mengatakan sama saya, kalau saya ingin bertemu dengan Prabowo, selalu ikut Zaky, Sjafrie, dan Kahirupan. Kalau saya ingin ketemu dengan Zaky Anwar, selalu ikut Sjafrie, Prabowo, dan Kahirupan. Jadi empat ini selalu ada. Mereka bersahabat, mereka sekawan, empat sekawan.

Lalu pertanyaannya, pada hari-hari terakhir kepada saya adalah begini: Kahirupan sudah di-out oleh Hartono karena dia Kristen. Prabowo sudah di DKP-kan. Sjafrie sudah mulai ditanya-tanya. Kenapa tinggal Zaky Anwar, kenapa dia tidak bisa dikutak-kutik, padahal dia adalah Kepala BIA? Karena Zaky Anwar ini adalah Zaky Anwar Makarim, kakaknya Anwar Makarim itu adalah salah satu ketua ICMI.

Jadi begitulah yang melingkupi ABRI hari-hari ini. Kalau ABRI melepaskan atau terpaksa melepaskan dwifungsinya, maka ABRI tidak lagi harus bertekad untuk mempertahankan Pancasila, dan negara yang ideologinya Pancasila. Dan kalau tidak ada lagi yang mempertahankan Pancasila itu, apa bisa kita serahkan pada PDI? Tidak bisa. Apa bisa itu kita serahkan kepada Gus Dur? Tidak bisa. Apa bisa kita serahkan pada partai-partai yang baru tumbuh? Tidak bisa. Dan inilah sistematika mereka (Islam-Red), memperburuk-buruk ABRI. Padahal ABRI yang diperburuk ini adalah ABRI yang sudah mereka susupi. Prabowo, Sjafrie, Hartono, Feisal Tanjung, Syarwan Hamid. Inilah situasi yang kita hadapi di hari-hari yang akan datang.

Sebarluaskan Informasi ini!
Saudara-saudara, memang informasi ini harus diopinikan menjadi informasi yang makin lama makin meluas. Supaya terbentuk opini yang mengetahui skenario mereka. Tetapi tentunya, semua ini dengan resiko-resiko pada diri kalian. Resiko yang kalian hadapi untuk membicarakan ini keluar, itu tidak sama besarnya. Lebih berat kalian. Kamu tidak punya nama. Kalian tidak punya prestise di tingkat tertentu. Kalian bisa diciduk diambil sewaktu-waktu. Kalian bisa disenggol oleh orang Madura, terus terjadi perkelahian, kemudian diclurit, mati. Alasannya bisa begitu. Jadi resiko yang kalian hadapi untuk menyebarluaskan dan menjadikan ini opini masyarakat, itu besar. Itu berbahaya. Tidak seberbahaya saya. Saya bicara seperti ini di depan 1.000, 2.000, 3.000 orang, karena saya dikenal mantan panglima yang menangkap Xanana, yang begini, yang begitu, mantan anggota DPR, kalau saya hilang tiba-tiba, itu gemanya lebih besar dari Pius hilang. Tapi kalau kalian hilang sekarang ini, mungkin cuma kerabat, teman-teman gereja saja yang mempersoalkannya.
Jadi walaupun ini harus diopinikan, tetapi ketahuilah bahwa ini ada resikonya. Demikian saudara-saudara, terima kasih atas perhatian kalian.


Moderator:
Tentunya ada banyak hal yang sudah kita terima, fokusnya adalah apa yang akan kita bisa siapkan terhadap pemilu yang akan sama-sama kita hadapi tahun depan. Saudaraku, saya kira semua gambarannya secara sistematik sudah jelas, dan kita bersyukur, bahwa Tuhan memberikan kepada kita orang semacam Pak Theo untuk menjadi Bapak buat kita, dan kita juga bisa nanti saya kasih kesempatan untuk memberikan beberapa pertanyaan.

Tetapi supaya lebih hangat lagi pembicaraan kita, boleh nggak saya minta, para gembala untuk berdiri sebentar, barangkali Pak Theo bisa melihat, termasuk gembala area, silakan berdiri sebentar, supaya dikenal Pak Theo. Kira-kira kita ini dari berapa gereja? Mungkin yang datang tidak dicatat nama gerejanya. Tapi lebih dari 10 gereja saya kira. Langsung saja kalau yang akan mengajukan pertanyaan, tiga pertanyaan. Lalu nanti disambung termin berikutnya.

T a n y a:
Rudi: Perjuangan mahasiswa, khususnya Jabotabek, yang saya tahu ada Forum Kota, ada Front Nasional, perjuangan mahasiswa itu murni atau sudah disusupi oleh yang bapak sebut HMI? Bisa kami lakukan nggak sebagai mahasiswa sebagai satu universitas, beberapa universitas, atau forum nasional? Yang kedua, kalau Pemilu nanti kita mesti pilih siapa?

Budi: Saya mau tanya Pak ya, kita sebagai anak Tuhan, dalam kondisi Indonesia, memang kita akan dapat tinggal di Indonesia dan membela Indonesia. Cuman, dari penjelasan Bapak, secara logika, sebagai manusia normal, apa masih ada gunanya orang yang bisa keluar untuk tinggal di Indonesia? Bukankah lebih baik, kalau kita keluar. Apalagi dengan melihat kondisi politik yang ada, di mana kekuatan itu sebagian besar sudah dikuasai oleh orang Islam. Bukannya kita takut mati, tapi kan tida ada gunanya mati konyol?

Yusuf: Mengapa sampai sekarang pemerintah seolah menutupi untuk kasus perkosaan yang Mei lalu, bahkan perkosaan yang di Aceh itu ditonjolkan. Apakah ada kaitannya kasus insiden perkosaan Mei itu dengan gerakan ICMI, atau gerakan yang Bapak bilang sebagai gerakan untuk menuju negara Islam.

Jawab (Theo):
Kalian mestinya baca Majalah Tajuk terbitan terakhir. Dari (majalah) Tajuk itu kalian akan mengetahui, bahwa penjarahan, perkosaan, pembunuhan itu diorganisir, dari kekuatan-kekuatan yang Wiranto tidak diberi tahu. Kapolri Widodo tidak diberi tahu. Pada waktu buka puasa bersama di Cijantung, waktu Prabowo masih Komandan Kopassus, dia berbuka puasa dengan perwira-perwira, dan mengundang ulama se-Jabotabek. Hadir juga Ketua MUI.

Di dalam pidatonya, Prabowo mengatakan, bahwa sudah tiga kali presiden yang Bapak mertua saya itu mau dibunuh. Dan yang membunuh itu adalah mereka yang anti-Islam. Siapa yang anti-Islam itu adalah Kristen dan Cina. Apabila Cina itu Kristen, maka dia sudah menanggung dua dosa itu. Jadi Cina dan Kristen itulah mereka yang digolongkan anti-Islam. Apalagi kalau Cinanya itu Kristen.

Tentang Do'a Ketua MUI
Kemudian Ketua MUI itu, lalu berpidato, inilah kita punya pemimpin masa depan, Prabowo. Dia akan kita jadikan, kita do'akan untuk menjadi presiden tahun 2003, paling tidak wakil presiden. Itu doanya Ketua MUI. Kelihatan doanya tidak terakbul. Padahal itu do'anya Ketua MUI, yang mestinya terkabul - terkabullah 5 %, tidak 2003 ya 2008. Jadi betul-betul itu do'a yang tidak didengar oleh Tuhan, sama sekali tidak didengar. Padahal dia itu Ketua MUI.

Ketua pemuda saja kalau berdo'a "Mudah-mudahan dia jatuh cinta sama saya," itu bisa didengar oleh Tuhan. Memang dengan pesaing saya, saya kalah, dia naik mobil, saya cuma naik sepeda motor, tapi do'a saya "Ya Tuhan", itu saja bisa didengar. Ini ketua MUI (tidak didengar do'anya).

Jadi kasus perkosaan itu, kalian baca Tajuk, yang ada gambarnya Sjafrie. Di sana ada berlembar-lembar cerita tentang ini. O, kalian puasa di sini sudah lima ya. Tajuk itu terbitnya empat hari yang lalu. Tajuk itu terbitnya empat hari yang lalu. Kalau ada yang sambil puasa, sambil diutus ke Cilegon, cari. Di situ kalian akan lihat bahwa itu diorganisir, termasuk pembunuhan dan penembakan manusia yang tidak dikenal… Manusia diteriakin supaya tiarap. Bertiaraplah sekian orang, yang lain lari. Yang tiarap itu kemudian disuruh berdiri dan disuruh masuk ke dalam Mall Karawaci, ditutup pintunya, dimasukkan tabung gas, ditembak, terbakar bersama dengan kira-kira 50-100 orang. Dan itu sudah ditulis di Tajuk.

Jadi perkosaan itu diorganisir. Malah pelaku-pelakunya itu diambil dari Indonesia Timur. Mereka diangkut, dijemput dengan pesawat terbang, supaya perkosaan yang terjadi itu tidak dikenal atau tidak diketahui sebagai orang-orang Jakarta.

Tentang Pemusnahan Cina
Tetapi itu ditujukan kepada Cina. Kenapa Cina ini menjadi ancaman? Kita di Indonesia punya 68.000 desa, kita punya 8.000 kecamatan, 330 kabupaten, 27 propinsi. Di 68.000 kecamatan, paling tidak ada 40 persen yang ada orang Cina. Jadi kira-kira ada 30.000 desa ada orang Cina. Di kecamatan yang 8.000 itu, kira-kira 90 persennya ada orang Cina, jadi kira-kira 7.000-an kecamatan ada orang Cina. Semua kabupaten ada orang Cina. Di propinsi semua ada orang Cina.

Hebatnya orang Cina ini, di desa, ia teman baiknya kepala desa, teman baiknya babinsa. Di kecamatan, ia sahabat karibnya camat. Mana istrinya camat itu sering dikirimi bakpao, apa begitu ha-ha-ha Di kabupaten juga begitu. kepala polisi, polres, kodim, dandim, bupati, itu teman dan sahabatnya orang Cina. Dia main golf sama-sama, dia karaoke sama-sama, dia ke diskotik sama-sama.

Padahal orang Cina ini dianggap, dialah yang tidak bisa dilangkahi, kalau ingin dilakskanakan Islamisasi. Jadi Islamisasi itu kan masyarakat di bawah tidak boleh heterogen, harus homogen. Ancaman paling besar untuk Islamisasi itu adalah Kristen dan Cina. Dan yang paling mudah dimusuhi, itu adalah Cina, karena mereka dianggap kaya, mereka dianggap manipulator, mereka dianggap penyelundup, mereka dianggap korupsi, kolusi, bisa dibuat banyak cerita.

Jadi untuk membuat masyarakat homogen, Cina ini harus ditarik keluar dari desa, dari kecamatan, dari kabupaten. Dan untuk menarik Cina supaya keluar dari kabupaten, dari kecamatan, dari desa, itu tidak bisa dengan jalan yuridis formal, dengan membuat Undang-Undang. UU kan harus berlaku kepada semua warga negara, sama. Dan Cina ini kan warga negara. Jadi bagaimana mau ditarik keluar dari desa.

Mengambil dari pengalaman Iran, ketika Syah Iran dijatuhkan oleh kaum mullah, oleh Khomeini, maka feodal yang ada di Iran itu, yang punya hak-hak tertentu, atas tanah, atas pajak, atas air, itu dimusuhi, dibuat dimusuhi oleh mullah, oleh rakyat. Ketika Syah Iran itu jatuh, feodalisme itu, bangsawan-bangsawan itu, kemudian dikejar dan dibunuh. Nah, mengejar dan membunuh feodal itu, mau dibuat di Indonesia ini. Kalau Cina berhasil dikejar dan dibunuh, kemudian mereka takut, mereka lari, maka ini adalah tata cara satu mekanisme membuat masyarakat menjadi homogen secara murah dan cepat. Ya karena Cinanya lari sendiri dengan kekuatannya, tidak usah dibayar. Dan ia bergegas lari, ia tinggalkan mobilnya, rumahnya dan segala macam. Jadi Cinalah sasarannya itu, kalau mau menjadikan Nusantara ini dasarnya Islam.

Kalau Kalian Bukan Kristen, Silakan Lari!

Nanti kekristenan yang berikutnya, kristen yang lain, itu akan sangat terpukul secara moril dan moral, kemudian tidak berani keluar dari kungkungannya. Jadi Cina yang pertama. Kenapa bukan Arab? Karena Arab itu Islam, padahal kan Arab rentenir juga. Jadi pada Cina inilah.

Sekarang kalau kalian punya uang dan mau lari keluar negeri, kalau kalian bukan Kristen, itu oke. Kalau Hindu atau Budha itu oke. Tetapi kalau kamu adalah Kristen, harus ada yang diingat, bahwa tidak ada negara yang tidak dibentuk oleh Tuhan. Tidak ada pemerintah yang datangnya tidak dari Tuhan. Dan kalian itu apakah Cina, apakah Arab, apakah Batak, itu bukan kamu yang memilih dirimu jadi Cina. Saya Bugis, saya Makassar, bukan saya yang memilih. Jadi Kristen barangkali bisa saya yang memilih. Jadi tentara, saya sendiri yang memilih. Tetapi menjadi orang Makasar itu menjadi pilihan Tuhan bagi saya. Jadi mestinya, menjadi Cina, menjadi Batak, menjadi Bugis, itu tidak berdosa, karena itu dipilih oleh Tuhan bagi kita. Menjadi Yahudi, menjadi Israel, itu tidak boleh dilihat dalam kaca mata dosa. Dia dipilih oleh Tuhan untuk menjadi itu. Kemudian, kalau kita sebagai orang Kristen, mengingkari itu, lalu melarikan diri, dan tidak mempertahankan berkat, nikmat, tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita di sini, kita di tempat lain juga akan lari dan lari. Dan sebetulnya, kita tidak lari dari Indonesia, tetapi lari dari keimanan dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita tidak lari dari Indonesia, kita lari dari diri sendiri. Dari Kristus yang ada di dalam hati.

Dilihat secara rasional, secara matematis, apalagi dilihat secara materiil, seyogyanya kalau kita punya 2 juta dolar, sekarang ini alangkah baiknya kita pindah saja, dan membiarkan bangsa ini dengan masalahnya. Tetapi dilihat dari kacamata keimanan, itu tidak boleh. Itu memperlihatkan ketidakyakinan kita bahwa Tuhan beserta dengan kita.

Tentang Sektarian vs Nasionalis
Mahasiswa itu disusupi? Jadi saya ingin memberikan sama kalian, organisasi-organisasi pemutus, penentu dan pengkaji. Di pihak Islam, organisasi pemutus dan pengkaji itu adalah Dewan Dakwah Islam, Mega Elektra di Kebon Jeruk. ICMI kalian tahu, di dalamnya ada CIDES, CPDS, ada Dewan Pakar yang diketuai oleh Amien Rais, ada YPI, Yayasan Pembangunan Islam, yang markasnya di Al Azhar. Ini adalah pemutus, ormas dan pusat studi, yang memutuskan, apakah dia bentrokan fisik atau tidak bentrokan fisik, dia pakai spanduk atau pakai selebaran gelap. Di pihak sini, pihak nasionalis, di pihak yang tidak sektarian, yang tidak ke kanan, ke Islam ini, badan-badan ormas pusat studi itu adalah seperti NU, CSIS, PCPP, SBSI, SPSI. Ini adalah badan-badan yang memutuskan. Ini adalah Ormas atau pusat studi yang mengkaji, memikir, menentukan dan memutuskan.

Siapa yang bertarung di bawah? Yang bertarung di bawah? Yang bertarung di bawah, di tempat sektarian itu adalah Satria Muda Indonesia (SMI), pencak silat, itu. Itu ada di bagian Islam. (Yang lain adalah) KISDI, KAMMI, Gemuis (Gerakan Muda Islam), HMI. Ini yang ada di sebelah sana. Baitul Mal itu sama dengan Koppas, Koperasi Pasar, itu dibentuk oleh Adi Sasono, bersama dengan Baitul Mal, untuk menyalurkan sembako. Sembako yang disalurkan, akan mereka kutip beberapa puluh rupiah dari dalamnya, dengan harapan, di bulan Mei, kutipannya akan sampai kira-kira Rp 500 milyar. Ini untuk membiayai pemilu agar berpihak kepada mereka. Karena Koppas ini nanti makin lama main banyak orang datang ke Koppas dan Baitul Mal, maka orang-orang ini sambil diberi beras, sambil nanti akan dikatakan, "Nanti kamu milih PBB ya, partai Bulan Bintang ya. Kamu memilih partai ini, ya!" Jadi itu sudah membuat network ke bawah.

Jadi kenapa Cina punya distributor itu harus digunting? Inilah jawabannya. Karena Koppas itu mesti membagi-bagikan sembako, mengutip keuntungannya untuk membiayai dan membeli suara untuk pemilu 1999. Siapa nanti yang akan benturan fisik?

Benturan fisik itu dilaksanakan, kalau dari pihak mereka, itu oleh -tadi kami sebut KAMMI, KISDI, HMI, YBMI, Humanika, Fosko 66, KB Lasykar Arif Rahman Hakim, Koppas dan Baitul Mal. Sedangkan dari sebelah sini yang akan benturan dengan mereka, yang nasionalis, itu bansernya NU, Ansornya NU, GMNI, GMI, GAMKI, Forkot, PMII, IPNU, IPPNU, FPI. Ini yang benturan. Apakah mahasiswa dan Forkot itu benturannya murni? Tidak murni, karena ada tadi organisasi pengkaji, yang mengatakan, ini uang, Kau benturan, ini uang kau berkelahi. Cuma mereka lebih banyak uangnya sekarang. Di pihak sini, GMI, PMKRI, GAMKI, itu yang banyak do'anya, uangnya sedikit. Jadi kalau dia datang dengan do'a, jam 10, jam 11 dia pulang. HMI ini datang dengan doa, dengan uang.

Jam 11 dia lapar, dia beli makanan, dia masih ada di situ sebagai demonstran, berkelahi, berkelahi. Tapi ada organisasi bawah tanahnya, atau klendestin. Nah organisasi klendestin itu diambilkan dari para desertir, yag melarikan diri dari ABRI, itu kemudian dikumpulkan oleh Prabowo. Inilah yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kemarin itu, penjarahan, pembunuhan, penganiayaan, harus Cina (sasarannya).

Sekarang Bolanya Ada Pada Kristen dan Cina
Dan untuk melaksanakan pekerjaan itu, ICMI itu kira-kira hampir 10 tahun mengopinikan kemarahan massa, kemarahan rakyat, supaya bisa membunuh Cina, membunuh Kristen. Itu sudah dilaksanakan 10 tahun. Jadi kalau gunung berapi, itu magmanya meledak, kemarin, tetapi hasilnya tidak sampai 1 persen dari harapan mereka. Kan tida ada 5 persen orang Cina yang melarikan diri ke luar negeri. Tidak ada. Padahal, mereka sudah mempersiapkan semua itu selama 10 tahun, membikin kemarahan-kemarahan, mengangkat Prabowo dari letkol didorong-didorong sehingga naik jadi Letjen. Padahal itu dulu jauh di bawah saya. Dan itu sudah mereka buat dan mereka ledakkan di 13-15 Mei. Harapannya bahwa akan terjadi kepanikan nasional yang begitu besar, lalu Cina-Cina itu berlari ke sana ke sini, meninggalkan desa kecamatan segala macem.

Tetapi ternyata hasil yang mereka capai itu mungkin cuma 1 persen, kemampuan yang mereka gunakan sudah 85 persen. Apa kita ini tidak kuat? (Dijawab oleh yang hadir: "Kuaaat!").

Karena di 13 Agustus ketika Egi Sujana mengiriman pamflet kepada semua masjid-masjid, tanggal 14 Agustus Hari Jumat, seluruhnya kumpul di Al Azhar Kebayoran, sehabis salat Jum'at. Kita akan pergi demonstrasi ke Setneg, ke Akbar Tanjung, meminta supaya pidato Presiden Habibie tanggal 15 Agustus itu memasukkan di sana, Pancasila ditarik sebagai dasar negara.

Apakah ada yang mau datang di Al Azhar? Tidak. Padahal itu sudah Egi Sujana, anggota ICMI, salah satu bagian yang tertinggi dari elitnya ICMI. Jadi ini gunung berapi, magmanya itu sudah jauh menurun ke bawah. Sekarang ini bolanya ada sama kita yang Kristen, bolanya ada sama kita yang Chinese ini. Sekarang ini kita Prancisnya, mereka Brasilnya (disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah para hadirin).

Kemenangan Sudah Di Depan Kita
Pertanyaannya, apakah kita sudah pulih dari ketakutan itu. Apakah kita lalu sekarang ini kita sudah percaya, bahwa momen ini diberikan Tuhan untuk kita, supaya kita menang, bukan supaya kita kalah. Dan kemenangan itu sudah di depan kita. Saya berkali-kali dalam pembicaraan yang lebih besar, begitu saya bilang, "Kalau saya lihat Habibie yang begitu lincah, syaraf retoriknya begitu bagus, saya pikir lebih bagus dia jadi penari Bali (lagi-lagi tawa yang hadir terdengar nyaring). Saya harap, besoknya saya akan dipanggil Koramil atau Kodim begitu, ditangkap apa, kok tidak juga.

Saya bilang, Habibie yang sekarang dengan Habibie yang tahun lalu ketika menjadi menteri teknologi, kemudian jadi wapres, saya tidak melihat ada bedanya, kecuali bedanya bahwa sekarang topinya makin miring. Saya harapkan, besoknya saya ditangkap, dipanggil Denpom atau apa, tidak juga.

Jadi sebenarnya kita ini di dalam momen menang. Akbar Tanjung ini sekarang sedang ketakutan, panik, lalu membentuk begitu banyak partai. Nanti kalau partai itu menang, Golkar kalah, belum tentu partai yang menang ini mau mengikut Akbar Tanjung punya keinginan. Sekarang ini diterima uangnya. Tapi kalau dia menang, belum tentu (dia nurut). Dia bilang, "Ah, giliran saya sekarang ini presiden". Itu ada pada kita.

Pilihlah PDI atau PKB
Siapa partai yang mesti kalian pilih. Ada PDI, atau PB, ada Partai Kebangsaan Merdeka yang ada 9 pilar itu, salah satu pilarnya adalah pilar kekerabatan atau pilar keturunan. Ada partai Parti, ada Partai Katolik Demokrat. Pokoknya kalian pilih saja, partai yang bukan sektarian, yang di nasionalis saja. Kalau serumit-rumit, barangkali kalau PDI Mega masih ada partainya, kalau masih ada, PDI Mega saja dipilih. Kalau tidak, partainya NU saja, Gus Dur, juga tidak apa-apa.

Tapi jangan pilih PAN. Karena Amien Rais itu berbicara saja kelihatannya melawan Habibie, kelihatannya saja. Tapi dia sebenarnya adalah Dewan Pakar ICMI. Dia akan kembali ke kandangnya kalau dia memang. Ada partai Siswono dan Sarwono yang akan dibentuk bulan Oktober tahun depan, ada partainya Megawati yang dibentuk Oktober tahun ini.

Oktober tahun ini Megawati akan bikin kongres, kemudian setelah kongres mungkin mereka akan mengubah namanya menjadi apa, menjadi partai baru. Tetapi, jangan bikin partai Kristen, seperti Partai Katolik Demokrat. Saya pikir ini langkah yang salah. Sebab, kalau nanti pemilihannya dengan sistem distrik, kalau kita semuanya ini kompak, Kristen dan Katolik menjadi satu, kita cuma merebut paling banyak itu 38 kabupaten dari 330 kabupaten. Paling banyak. Padahal, di Kristen itu kan lebih banyak Yudasnya daripada Petrusnya. Itu pun kalau kita kompak sekompak-kompaknya, 38 kabupaten yang kita rebut.

Jadi kalau kita bikin partai Kristen, kalau kalah? Jadi kalau kita bikin negara Islam, maka kita akan punya persatuan sepak bola negara Islam. Iya kalau menang, kalau kalah, kan Islam yang kalah main sepak bola. Kalau main voli kalah kan Islam yang kalah. Jadi jangan bikin partai Kristen. Kalau kita kalah kan Kristen yang kalah. Kalah lagi itu salib. Dan Gus Dur mengatakan begini, di dalam Quran itu, ada kalimat "kun fayakun", "Jadi, maka jadilah".

Kata Gus Dur, kalau Allah sejak awalnya sudah mau menjadikan seluruhnya bumi ini Islam, kan Dia tidak usah susah-susah, Dia cuma mengatakan "Kun fayakun", Islam. Jadilah, maka akan jadi Islam. Semuanya akan jadi Islam, tidak ada Katolik, Hindu, Budha, segala macam, monyet juga akan jadi Islam.

As uploaded in: http://www.angelfire.com/id/theo/transkip.html