2026/01/26
Spirit Perpustakaan: Dari Alexandria ke Ruang Keluarga Kita
Ketika Viral Mengalahkan Ilmu
Kita sedang hidup di zaman yang paradoks. Akses informasi semakin mudah, tetapi penghargaan terhadap keilmuan justru tampak menurun. Bukan karena orang tak lagi peduli belajar, melainkan karena batas antara opini dan otoritas semakin kabur. Dulu seseorang berbicara karena memiliki kompetensi. Sekarang seseorang sering dianggap benar karena ia viral. Popularitas perlahan menggantikan kredibilitas.
![]() |
| Contoh satu akun yang berani 'nyolot' pada yang kompeten :) |
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial, ketika seorang profesional dengan pendidikan panjang dan tanggung jawab besar bisa dengan mudah “dikoreksi” oleh orang anonim yang latar belakangnya tidak jelas. Seorang dokter, misalnya, menempuh belasan tahun pendidikan, melewati fase koas, residen, ujian berlapis, jaga malam, dan tekanan keputusan yang menyangkut nyawa manusia. Namun di ruang komentar, semua itu bisa seolah setara dengan seseorang yang baru membaca beberapa utas dan menonton beberapa video. Yang terjadi di sini bukan keberanian intelektual, melainkan ilusi kompetensi.
Dalam psikologi, gejala ini dikenal sebagai Dunning–Kruger Effect, yaitu kecenderungan orang dengan pengetahuan terbatas merasa sangat yakin terhadap pemahamannya. Bukan karena mereka lebih cerdas, tetapi karena mereka belum menyadari betapa luasnya hal yang belum mereka ketahui. Semakin dalam seseorang belajar, biasanya semakin ia menyadari kompleksitas. Sebaliknya, pemahaman yang dangkal sering melahirkan keyakinan yang terlalu penuh.
Media sosial mempercepat efek ini. Algoritma tidak dirancang untuk mengangkat kebenaran, melainkan interaksi. Konten yang memicu emosi seperti amarah, sindiran, kepongahan dapat lebih mudah menyebar dibandingkan penjelasan ilmiah yang tenang dan penuh nuansa. Akibatnya, opini terdengar seperti fakta, keyakinan terdengar seperti ilmu, dan jumlah pengikut disamakan dengan otoritas. Kita memasuki era di mana viral lebih dipercaya daripada valid.
Padahal ilmu tidak lahir dari rasa percaya diri semata. Ilmu lahir dari keraguan, data, proses panjang, disiplin, serta mekanisme koreksi yang terus-menerus. Ilmu dibangun di atas metode, bukan sekadar pendapat. Ketika profesional yang bertahun-tahun berlatih masih membuka diri untuk evaluasi, sementara orang awam merasa sudah cukup paham untuk menggurui, ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara kita memandang pengetahuan.
Masalah ini bukan tentang membela profesi tertentu. Ini soal budaya intelektual masyarakat. Jika semua orang merasa setara tanpa dasar kompetensi, maka yang runtuh bukan hanya wibawa pakar, tetapi kualitas keputusan publik. Dan ketika keputusan publik keliru, terutama dalam isu kesehatan, kebijakan, atau keselamatan, dampaknya tidak berhenti di kolom komentar. Yang menanggung akibatnya adalah masyarakat luas.
Menghargai ilmu bukan berarti anti diskusi atau menutup pertanyaan. Justru diskusi adalah bagian dari tradisi keilmuan. Namun ada perbedaan mendasar antara bertanya untuk belajar dan menyanggah dengan keyakinan tanpa landasan. Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi satu hal tetap penting: rasa hormat terhadap proses panjang yang membentuk kompetensi. Tanpa itu, kita berisiko hidup dalam kebisingan opini, tetapi miskin pemahaman.
2025/12/05
Kenapa Kebahagiaan Karyawan Selalu Menjadi Titik Awal Kebahagiaan Pelanggan?
![]() |
| Penulis bersama team dan perwakilan klien dalam satu event Team Engagement di Jakarta |
Di banyak perusahaan, kita sering bicara tentang customer experience, service excellence, atau bagaimana membuat pelanggan merasa puas. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: semua itu dimulai dari orang-orang di balik layar. Customer happiness tidak pernah muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tim yang bahagia, yang merasa dihargai, dan yang menjalani hari-harinya dengan energi positif.
People engagement bukan sekadar program internal atau aktivitas seremonial. Ia adalah cara kita hadir untuk satu sama lain. Kadang bentuknya sederhana; menonton film bareng, makan siang bersama, outing, hangout bareng atau sekadar ngobrol santai tanpa agenda. Kehadiran seperti itu membangun jarak yang lebih dekat antara kita sebagai manusia. Ketika kedekatan itu tumbuh, rasa percaya muncul. Dan ketika percaya sudah terbentuk, bekerja sama menjadi jauh lebih natural.
Di dunia kerja yang serba cepat, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan juga perlu di-deliver. Bukan hanya kepada pelanggan, tetapi pertama-tama kepada tim kita sendiri. Ketika karyawan merasa diperhatikan, dihormati, dan dihargai, mereka menjadi jauh lebih puas. Kepuasan itu mengubah cara mereka bekerja. Mereka lebih ringan, lebih positif, dan lebih bersemangat menghadapi tantangan.
Employee satisfaction bukan hanya perkara gaji atau benefit. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari suasana kerja yang membuat mereka merasa aman, dari interaksi yang membuat mereka merasa dihargai, dari momen-momen kebersamaan yang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Ketika seseorang merasa bahagia di tempat kerjanya, ia akan memberikan yang terbaik tanpa perlu diminta.
Dan pada akhirnya, pelanggan akan merasakan itu. Mereka bisa membedakan mana layanan yang datang dari seseorang yang tertekan, dan mana yang datang dari seseorang yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Energi itu menular. Senyum yang tulus, sikap yang ramah, kesediaan membantu tanpa keluhan—semuanya lahir dari hati yang bahagia.
Itulah sebabnya people engagement seharusnya bukan sekadar program HR. Ia adalah mindset kepemimpinan. Cara kita membangun budaya. Cara kita menunjukkan bahwa perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Ketika pemimpin menghadirkan kebahagiaan di dalam tim, tim akan menghadirkan kebahagiaan itu kembali kepada pelanggan.
Pada akhirnya, kebahagiaan selalu mengalir ke bawah. Jika tim kita merasa terhubung, mereka akan melayani dengan hati. Jika mereka merasa dihargai, mereka akan bekerja dengan percaya diri. Dan jika mereka bahagia, maka pelanggan pun akan merasakan kebahagiaan itu.
Inilah inti dari people engagement: kebahagiaan yang dimulai dari dalam, lalu menjelma menjadi pengalaman terbaik bagi semua yang kita layani.
2025/10/09
Matinya Kepakaran di Era AI?
Matinya Kepakaran di Era AI: Ketika Semua Orang Bisa Jadi “Ahli”
Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan oleh sebuah poster acara dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dalam acara Sebelas Maret Islamic Festival 2025, panitia menghadirkan Guru Gembul sebagai pembicara utama.
Ya, bukan profesor sejarah Islam, bukan dosen filsafat, tapi seorang kreator konten edukatif yang populer di YouTube dan TikTok.
Bagi sebagian orang, ini hal biasa — bahkan keren, karena menunjukkan bahwa dunia pendidikan mulai “melek zaman.”
Namun bagi sebagian lain, ini adalah tanda tanya besar:
Apakah ini pertanda matinya kepakaran?
Apakah generasi sekarang kehilangan respek terhadap para ahli yang puluhan tahun menekuni bidangnya?
Dari Kampus ke Konten: Pergeseran Otoritas Ilmu
AI dan Kematian Proses Belajar
AI membuat pengetahuan terasa mudah, tapi justru karena itulah, proses belajar kehilangan makna.
Kreator vs Akademisi: Pertarungan atau Kolaborasi?
Apa Sikap Terbaik Kita di Era AI?
-
Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir.Ia bisa menulis untukmu, tapi tidak bisa menggantikan pemahamanmu.
-
Bangun jembatan antara akademisi dan publik.Akademisi perlu belajar berkomunikasi seperti kreator; kreator perlu berakar pada riset akademik.
-
Rawat rasa ingin tahu.Jangan puas dengan jawaban cepat. Belajar sejati adalah proses, bukan hasil instan.
Penutup: Yang Mati Bukan Pakar, Tapi Etos Belajar
Penting!
2025/09/03
Stoikisme dan Islam: Dari Ketenangan Jiwa ke Jalan Ridha
Beberapa tahun terakhir, filsafat Stoikisme mendadak viral di media sosial Indonesia. Ia hadir dalam bentuk kutipan-kutipipan singkat, gambar estetik, atau video reflektif yang beredar di layar ponsel kita. Nama-nama kuno seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius tiba-tiba akrab di telinga anak muda. Mereka dijadikan pegangan saat menghadapi stres, kekecewaan, atau kegagalan. Fenomena ini tidak lepas dari konsistensi tokoh-tokoh kontemporer seperti Ferry Irwandi, yang dengan tekun menyuarakan Stoikisme sebagai etika praktis. Bagi sebagian orang, Stoikisme terasa segar: sederhana, lugas, dan sangat relevan dengan kehidupan modern yang sering kali menghimpit.
Stoikisme memang menawarkan sesuatu yang kuat. Ajarannya ibarat kompas batin: kendalikan apa yang bisa dikendalikan, dan terimalah dengan tenang apa yang berada di luar kuasa kita. Dari prinsip itu lahir sebuah sikap yang kokoh, sebuah jiwa yang tidak mudah terguncang oleh badai. Orang Stoik percaya, jika hati mampu menguasai diri, maka ia akan mencapai ataraxia; sebuah ketenangan yang tidak lagi tergantung pada dunia luar. Di tengah situasi sosial-ekonomi yang tidak pasti, banyak orang merasa Stoikisme adalah “obat penenang” yang mujarab, seolah memberi payung bagi jiwa yang basah kuyup diguyur ketidakpastian.
Namun, jika ditilik lebih dalam, Stoikisme hanya menjawab sebagian dari pertanyaan manusia. Ada irisan sekaligus perbedaan mendasar antara Stoikisme dan ajaran Islam. Islam pun menekankan pengendalian diri, kesabaran, dan keteguhan hati. Al-Qur’an berkali-kali menyebut ṣabr (kesabaran), tawakkal (berserah setelah ikhtiar), dan riḍā (rela dengan ketentuan Allah) sebagai kunci hidup yang baik. Tetapi Islam menambahkan satu dimensi yang tak dimiliki Stoikisme: dimensi tauhid. Dalam Islam, setiap peristiwa berasal dari Allah, penuh hikmah, dan mengandung pahala bagi orang beriman. Kesabaran bukan sekadar teknik mental, melainkan ibadah yang bernilai abadi.
Di sinilah titik bedanya. Stoikisme berdiri di atas landasan rasionalitas kosmik, percaya bahwa semesta diatur oleh logos yang impersonal. Tatanan alam itu memang bisa mengajarkan harmoni, tetapi tidak memberi wajah kasih. Bagi seorang Stoik, tujuan akhir adalah ketenangan diri. Sedangkan bagi seorang Muslim, tujuan tertinggi bukan hanya tenang, tetapi ridha Allah dan keselamatan di akhirat. Islam mengajarkan bahwa jiwa tidak cukup sekadar tabah, ia harus menemukan makna di balik setiap cobaan.
Ada lagi perbedaan yang penting. Stoikisme sering dianggap “dingin” terhadap emosi. Filosof Stoik menasihati: jangan terlalu larut dalam kesedihan, jangan pula terlalu mabuk dalam kegembiraan. Tetapi Islam memberi ruang bagi fitrah manusia. Nabi Ya‘qub menangis bertahun-tahun karena kehilangan Yusuf, sampai matanya memutih karena sedih. Nabi Muhammad ﷺ meneteskan air mata ketika putranya wafat, lalu bersabda bahwa air mata adalah rahmat. Kesedihan tidak dilarang, yang dilarang hanyalah berlebihan atau berputus asa. Dengan begitu, Islam menempatkan emosi bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai tanda kemanusiaan yang perlu diarahkan.
Bagi generasi Muslim hari ini, Stoikisme bisa menjadi pintu masuk untuk belajar menata diri. Tetapi alternatif sejati justru ada dalam khazanah Islam sendiri: tasawuf dan tazkiyah al-nafs, penyucian jiwa yang mengajarkan keseimbangan lahir dan batin. Melalui dzikir, seorang Muslim menemukan ketenangan lebih dalam dari sekadar “menenangkan pikiran.” Melalui muraqabah; kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi; manusia belajar hidup dalam keheningan batin yang penuh makna. Melalui ikhlas, manusia membersihkan niat sehingga amal kecil pun bernilai besar di sisi-Nya. Sabar menjadi ibadah, ikhlas menjadi cahaya hati, dan tawakkal menjadi penopang langkah dalam menghadapi gelombang kehidupan.
Maka, Islam tidak sekadar menerima Stoikisme, tetapi melampauinya. Jika Stoikisme mengajarkan manusia untuk bertahan dari guncangan hidup, Islam mengajarkan manusia untuk berjalan di atas guncangan itu, menuju Allah dengan hati yang tenang. Jika Stoikisme memberi ketabahan, Islam memberi ketabahan sekaligus makna. Seorang Stoik mungkin bisa berdiri tegak di tengah badai, tetapi seorang Muslim diajari untuk melihat badai itu sebagai ujian cinta dari Tuhan. Inilah perbedaan yang membuat jalan Islam bukan hanya jalan ketenangan, tetapi jalan ridha. Jalan pulang yang sesungguhnya.
2025/02/20
#KaburAjaDulu: Antara Keputusasaan, Harapan, dan Jalan Keluar
Mari kita bedah dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
Mencari Penghidupan atau Melarikan Diri?
Bukan rahasia bahwa di Indonesia, mendapatkan pekerjaan layak sering kali terasa seperti menapaki labirin tanpa akhir. Lulusan perguruan tinggi tumbuh setiap tahun, sementara lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian mereka masih terbatas. Bahkan bagi mereka yang sudah bekerja, banyak yang merasa upah tidak sepadan dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Di sisi lain, melihat peluang di luar negeri bukan berarti menolak negeri sendiri. Justru, dalam banyak kasus, anak-anak muda ini berangkat dengan harapan bisa menimba ilmu dan pengalaman, agar suatu hari bisa kembali membawa perubahan bagi tanah airnya. Mereka ingin berkembang, mendapatkan apresiasi yang layak, dan hidup dengan lebih baik. Ini bukan sekadar "kabur", tetapi sebuah langkah strategis untuk bertahan dan maju.
Apakah Ini Tanda Keputusasaan?
Tidak sepenuhnya. Justru, tagar ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kesadaran akan kondisi yang dihadapi. Mereka tidak mau pasrah menerima keadaan. Mereka mencari jalan keluar, bukan sekadar mengeluh. Keputusan untuk mencari peluang di luar negeri adalah bukti bahwa mereka masih memiliki harapan. Jika benar-benar putus asa, mereka mungkin sudah menyerah begitu saja.
Namun, yang perlu dicatat adalah: jika terlalu banyak talenta terbaik pergi tanpa ada upaya menarik mereka kembali, maka kita menghadapi risiko brain drain yang serius. Negara ini bisa kehilangan energi terbaiknya. Indonesia bisa kehilangan insinyur terbaik, dokter terbaik, ilmuwan terbaik, dan inovator terbaiknya. Lalu siapa yang akan membangun negeri ini?
Ketika Pejabat Ikut Berkomentar
Di tengah panasnya perdebatan, seorang wakil menteri dengan enteng mengatakan bahwa anak muda yang merasa tidak puas lebih baik "kabur saja, kalau perlu jangan kembali". Pernyataan ini memantik reaksi keras karena seakan-akan pemerintah menyerah dalam menyediakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
Di sisi lain, ada juga seorang menteri yang mempertanyakan nasionalisme mereka yang memilih bekerja di luar negeri. Seolah-olah, nasionalisme hanya bisa diukur dari keberadaan fisik seseorang di dalam negeri, bukan dari kontribusi nyata bagi bangsa, di mana pun mereka berada.
Padahal, dalam sejarah, banyak negara yang justru maju berkat diaspora mereka yang membawa perubahan dari luar. Nasionalisme tidak diukur dari posisi geografis, melainkan dari niat dan aksi nyata seseorang dalam berkontribusi bagi bangsanya.
Nasionalisme: Di Mana Kita Berada atau Apa yang Kita Lakukan?
Ada anggapan bahwa bekerja di luar negeri berarti kehilangan rasa nasionalisme. Padahal, nasionalisme bukan soal di mana kita berada, melainkan apa yang kita lakukan. Seorang anak muda yang bekerja di luar negeri, sukses membangun karier, dan suatu hari kembali membawa teknologi, investasi, atau ide-ide baru, bisa lebih nasionalis daripada mereka yang hanya tinggal di dalam negeri tetapi tidak berkontribusi bagi bangsanya.
Jepang, Korea Selatan, dan China pernah mengalami gelombang diaspora besar-besaran. Tetapi pemerintah mereka cerdas: mereka menciptakan ekosistem yang menarik bagi para talenta untuk kembali. Mereka memanfaatkan jaringan diaspora untuk investasi, teknologi, dan inovasi. Apakah Indonesia siap melakukan hal yang sama?
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan?
Jika pemerintah dan pemangku kepentingan serius ingin mencegah eksodus talenta terbaik, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas yang memberikan kompensasi dan apresiasi yang setara dengan keterampilan yang dimiliki.
- Meningkatkan ekosistem inovasi dan wirausaha sehingga anak muda tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi juga mampu menciptakan peluangnya sendiri.
- Membangun program untuk menarik kembali diaspora Indonesia, baik melalui kebijakan insentif pajak, kemudahan investasi, atau dukungan bagi mereka yang ingin kembali dan berkontribusi.
- Reformasi pendidikan dan pelatihan keterampilan agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri saat ini, bukan hanya sekadar menghasilkan lulusan yang bingung mencari kerja.
Bagaimana Sikap Generasi Muda?
Bagi generasi muda yang sedang galau dengan pilihan “bertahan atau pergi,” ingatlah: keputusan ada di tangan kita. Pergi bukan berarti menyerah, dan tinggal bukan berarti pasrah. Yang terpenting adalah terus berkembang, terus berusaha menjadi lebih baik, dan tetap berkontribusi bagi negeri, di mana pun kita berada.
Jangan hanya berpikir "kabur", tetapi pikirkan "ke mana dan untuk apa?" Jika memutuskan pergi, pastikan itu adalah langkah strategis. Jika memilih bertahan, pastikan kita berjuang untuk menciptakan perubahan.
Indonesia tidak akan maju hanya dengan menyalahkan keadaan, tetapi dengan tindakan nyata dari kita semua.
Jadi, apa langkahmu selanjutnya?
2024/07/02
Cross Cultural Understanding: Blankon dan Keris dalam budaya Jawa
Pemahaman lintas budaya itu sangat penting diajarkan kepada generasi muda. Bahkan untuk orangtuanya sendiri. Apalagi dalam konteks kenegaraan kita yang sangat majemuk.








