"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

2026/01/26

Spirit Perpustakaan: Dari Alexandria ke Ruang Keluarga Kita

 

Ketika menelusuri sejarah panjang manusia dalam menjaga ilmu, kita akan selalu menemukan perpustakaan sebagai salah satu tonggak peradaban. Dalam buku Para Penjaga Ilmu dari Alexandria sampai Internet karya Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton, kita diperkenalkan pada sosok Demetrius dari Phaleron, seorang tokoh yang jejak hidupnya penuh dinamika namun meninggalkan warisan besar bagi dunia pengetahuan.
Demetrius pernah menjadi penguasa Tiran di Athena dan belajar di Lyceum, perguruan yang didirikan Aristoteles. Ketika kekuasaannya tumbang, ia menerima tawaran dari Ptolemy I, penguasa Mesir. Dari perjumpaan sejarah inilah lahir salah satu proyek intelektual terbesar sepanjang masa: pendirian Perpustakaan Alexandria. Meski kisah politik dan kehidupan pribadinya tidak lepas dari kontroversi, visi Demetrius untuk menghimpun ilmu dari seluruh dunia patut diapresiasi. Ia mengembangkan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan gulungan naskah, tetapi sebagai pusat penelitian, diskusi, dan penemuan, lengkap dengan dukungan finansial bagi para ilmuwan.
Perpustakaan Alexandria kemudian menjadi simbol keberanian intelektual. Ketika peradaban berubah dan pusat kekuasaan bergeser, tradisi menjaga ilmu tetap berlanjut. Ilmu berpindah dari perpustakaan kuno ke biara-biara Eropa, kemudian ke universitas abad pertengahan, ke republik surat, ke disiplin ilmu modern, hingga laboratorium hari ini. Zaman boleh berganti, tetapi peran lembaga penyimpan pengetahuan tidak pernah hilang relevansinya.
Di tengah derasnya arus teknologi, perpustakaan tetap menjadi jantung peradaban. Tempat itu bukan hanya menyimpan buku, tetapi menyimpan ingatan kolektif manusia. Karena itu budaya membaca dan menghargai ilmu menjadi syarat utama untuk memajukan bangsa mana pun.
Dan perjalanan ini selalu dimulai dari rumah.
Perpustakaan keluarga, sekecil apa pun bentuknya, adalah pintu pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia. Kita tidak perlu memiliki koleksi yang mewah atau rak yang menjulang. Yang terpenting adalah semangat untuk menghadirkan pengetahuan di tengah keluarga. Salah satu langkah sederhana adalah menyediakan buku-buku cerita bergambar seperti koleksi dari Pustaka Lebah. Buku-buku ini mungkin terlihat ringan, namun justru menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya rasa ingin tahu dan kecintaan membaca. Terkadang anak-anak perlu diarahkan atau bahkan “dipaksa dengan kasih sayang” untuk membaca, karena kebiasaan baik memang tidak tumbuh sendiri tanpa dibentuk.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar lahir dari budaya ilmu. Jika para penjaga pengetahuan masa lampau rela menyalin naskah dengan tangan, maka tugas kita hari ini jauh lebih mudah. Kita hanya perlu menyediakan waktu, perhatian, dan contoh yang baik. Satu buku dibaca seorang anak hari ini bisa menjadi benih peradaban di masa depan.
Dengan cara sederhana inilah, spirit perpustakaan yang pernah dikobarkan di Alexandria dapat kita hidupkan kembali di ruang keluarga kita sendiri.



Ketika Viral Mengalahkan Ilmu

Kita sedang hidup di zaman yang paradoks. Akses informasi semakin mudah, tetapi penghargaan terhadap keilmuan justru tampak menurun. Bukan karena orang tak lagi peduli belajar, melainkan karena batas antara opini dan otoritas semakin kabur. Dulu seseorang berbicara karena memiliki kompetensi. Sekarang seseorang sering dianggap benar karena ia viral. Popularitas perlahan menggantikan kredibilitas. 

Contoh satu akun yang berani 'nyolot' pada yang kompeten :)

Fenomena ini terlihat jelas di media sosial, ketika seorang profesional dengan pendidikan panjang dan tanggung jawab besar bisa dengan mudah “dikoreksi” oleh orang anonim yang latar belakangnya tidak jelas. Seorang dokter, misalnya, menempuh belasan tahun pendidikan, melewati fase koas, residen, ujian berlapis, jaga malam, dan tekanan keputusan yang menyangkut nyawa manusia. Namun di ruang komentar, semua itu bisa seolah setara dengan seseorang yang baru membaca beberapa utas dan menonton beberapa video. Yang terjadi di sini bukan keberanian intelektual, melainkan ilusi kompetensi.

Dalam psikologi, gejala ini dikenal sebagai Dunning–Kruger Effect, yaitu kecenderungan orang dengan pengetahuan terbatas merasa sangat yakin terhadap pemahamannya. Bukan karena mereka lebih cerdas, tetapi karena mereka belum menyadari betapa luasnya hal yang belum mereka ketahui. Semakin dalam seseorang belajar, biasanya semakin ia menyadari kompleksitas. Sebaliknya, pemahaman yang dangkal sering melahirkan keyakinan yang terlalu penuh.

Media sosial mempercepat efek ini. Algoritma tidak dirancang untuk mengangkat kebenaran, melainkan interaksi. Konten yang memicu emosi seperti amarah, sindiran, kepongahan dapat lebih mudah menyebar dibandingkan penjelasan ilmiah yang tenang dan penuh nuansa. Akibatnya, opini terdengar seperti fakta, keyakinan terdengar seperti ilmu, dan jumlah pengikut disamakan dengan otoritas. Kita memasuki era di mana viral lebih dipercaya daripada valid.

Padahal ilmu tidak lahir dari rasa percaya diri semata. Ilmu lahir dari keraguan, data, proses panjang, disiplin, serta mekanisme koreksi yang terus-menerus. Ilmu dibangun di atas metode, bukan sekadar pendapat. Ketika profesional yang bertahun-tahun berlatih masih membuka diri untuk evaluasi, sementara orang awam merasa sudah cukup paham untuk menggurui, ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara kita memandang pengetahuan.

Masalah ini bukan tentang membela profesi tertentu. Ini soal budaya intelektual masyarakat. Jika semua orang merasa setara tanpa dasar kompetensi, maka yang runtuh bukan hanya wibawa pakar, tetapi kualitas keputusan publik. Dan ketika keputusan publik keliru, terutama dalam isu kesehatan, kebijakan, atau keselamatan, dampaknya tidak berhenti di kolom komentar. Yang menanggung akibatnya adalah masyarakat luas.

Menghargai ilmu bukan berarti anti diskusi atau menutup pertanyaan. Justru diskusi adalah bagian dari tradisi keilmuan. Namun ada perbedaan mendasar antara bertanya untuk belajar dan menyanggah dengan keyakinan tanpa landasan. Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi satu hal tetap penting: rasa hormat terhadap proses panjang yang membentuk kompetensi. Tanpa itu, kita berisiko hidup dalam kebisingan opini, tetapi miskin pemahaman.

2026/01/22

Jenderal Sudirman - Iman yang Berjalan Bersama Peluru

Mengenang Jenderal Besar Sudirman (Jelang 109 tahun kelahirannya)

24 Januari 2016

Jenderal Sudirman bukan lahir dari barak militer. Ia lahir dari rumah sederhana, tumbuh dalam lingkungan religius, dan ditempa oleh pendidikan di keluarga yg dekat dengan Muhammadiyah… Diajarkan tentang perjuangan yang keras pada disiplin, akhlak, dan pengabdian.




Sebelum dikenal sebagai Panglima Besar TNI, Sudirman adalah guru HIS Muhammadiyah di Purbalingga, Jawa Tengah. Mengajar bukan sekadar pekerjaan baginya, tapi ladang dakwah. Murid-muridnya mengenal sosok pendiam, bersahaja, namun tegas. Ia mengajar dengan teladan, bukan dengan suara keras.
Dalam keseharian, Sudirman dikenal sangat menjaga shalat, bahkan di tengah perang. Ia percaya perjuangan tanpa iman hanyalah keberanian kosong. Ketika sakit parah akibat tuberkulosis, dengan paru-paru tinggal satu yang berfungsi, ia tetap memimpin Perang Gerilya. Ditandu menembus hutan, naik turun gunung, bukan demi ambisi, tapi karena keyakinan:
kemerdekaan adalah amanah Tuhan.
Sebagai kader Muhammadiyah, Sudirman memegang prinsip amar ma’ruf nahi munkar secara praktis. Ia menolak kemewahan, menolak pangkat sebagai alat kuasa, dan menolak tunduk pada tekanan politik. Baginya, tentara adalah pelindung rakyat, bukan penguasa.
Dalam kehidupan pribadi, Sudirman adalah suami dan ayah yang lembut. Ia jarang di rumah, tapi selalu menitipkan pesan moral pada keluarganya. Tidak ada warisan harta. Yang ia tinggalkan hanya nama baik, keteladanan, dan doa.
Jenderal Sudirman wafat dalam usia muda, 34 tahun.
Tapi jejak hidupnya panjang.
Ia membuktikan bahwa:
• iman bisa berdiri sejajar dengan keberanian
• kesalehan tidak membuat seseorang lemah
• dan kader dakwah bisa menjadi panglima perang tanpa kehilangan nurani
Ia bukan hanya pahlawan militer.
Ia adalah pahlawan akhlak.

2026/01/20

QA Tanpa RCA Itu Seperti Dokter Tanpa Diagnosa

Setiap kejadian tidak pernah berdiri sendiri. Ada sebab. Ada pola. Ada akar masalah.

Di dunia contact center, kita sering melihat angka. AHT naik. CSAT turun. Repeat call tinggi. Error SOP berulang. Pertanyaannya bukan “siapa yang salah?”, tapi “apa yang sebenarnya terjadi?”

Di sinilah Root Cause Analysis (RCA) menjadi senjata utama seorang QA.



RCA: Lebih dari Sekadar Analisa

RCA bukan kegiatan mencari kambing hitam. RCA adalah proses memahami akar masalah, bukan hanya gejalanya.

Seperti dokter yang tidak langsung memberi obat pereda nyeri tanpa tahu sumber penyakit, QA yang matang tidak akan langsung memberi coaching atau corrective action tanpa memahami penyebab terdalam.

Sakit kepala bisa karena kurang tidur, stres, dehidrasi, atau masalah serius. Begitu juga error agent bisa karena skill gap, SOP yang ambigu, sistem yang tidak ramah, atau target yang tidak realistis.

Metodologi Itu Alat, Bukan Tujuan

Dalam framework QA dan Lean Six Sigma, kita mengenal berbagai pendekatan:

·       Fishbone / Ishikawa untuk memetakan faktor Man, Method, Machine, Material, Measurement, Environment

·       Pareto untuk fokus pada masalah yang berdampak terbesar

·       5 Whys untuk menggali lapisan sebab sampai ke akar

·       Data trend, sampling, dan cross analysis

Namun penting diingat: alat tidak akan bermakna tanpa cara berpikir yang benar.

RCA bukan soal seberapa banyak tools yang dikuasai, tapi seberapa jujur dan dalam kita mau bertanya: “Kenapa ini bisa terjadi?” “Kalau kita ubah ini, apakah masalahnya benar-benar selesai?”

Kenapa QA Wajib Menguasai RCA

Tanpa RCA, QA berisiko menjadi:

·       Sekadar pencatat kesalahan

·       Mesin checklist kepatuhan

·       Pemberi feedback yang berulang tapi tidak menyembuhkan

Dengan RCA, QA berubah menjadi:

·       Partner perbaikan proses

·       Penjaga kualitas jangka panjang

·       Sumber insight bagi manajemen

QA yang paham RCA tidak hanya berkata “ini salah”, tapi “ini penyebabnya, ini dampaknya, dan ini solusi yang paling masuk akal.”

TL dan SPv: Jangan Lepas Tangan

RCA bukan domain QA saja.

Seorang TL atau SPv yang tidak memahami RCA akan cenderung:

·       Over-coaching agent

·       Mengulang solusi yang sama

·       Mengira masalah selesai padahal hanya tertutup sementara

Sebaliknya, TL dan SPv yang menguasai RCA mampu:

·       Mengambil keputusan berbasis data

·       Melakukan coaching yang tepat sasaran

·       Mengusulkan perbaikan sistem, bukan sekadar menekan individu

Leadership tanpa RCA itu reaktif. Leadership dengan RCA itu strategis.

Menyembuhkan, Bukan Menambal

Melakukan RCA itu seperti tugas dokter sejati: bukan hanya menghilangkan gejala, tapi menyembuhkan penyakitnya.

Karena dalam kualitas, perbaikan yang salah arah hanya akan mengulang masalah yang sama — dengan wajah yang berbeda.

QA, TL, dan SPv yang memahami RCA adalah mereka yang tidak puas dengan jawaban dangkal. Mereka memilih menggali. Dan dari situlah kualitas benar-benar tumbuh.

 

2025/12/16

Antara Leviathan* dan Jilatang: Ketika Negara Melemah, Sengatan Kecil Menguat

(Biar berima, dibaca: leviatang dan Jilatang)

Thomas Hobbes membayangkan negara sebagai Leviathan: makhluk raksasa yang menakutkan, tetapi diperlukan. Ia lahir dari kesepakatan manusia yang lelah hidup dalam kekacauan. Leviathan diberi taring agar hukum dihormati, diberi kuasa agar kekerasan tidak liar, dan diberi legitimasi agar ketertiban punya arah. Tanpa Leviathan, kata Hobbes, hidup manusia akan “brutal, miskin, dan singkat.”
Masalahnya, Leviathan tidak selalu hidup sesuai imajinasi filsafat. Dalam praktik, ia bisa melemah, sakit, bahkan kehilangan taringnya. Mungkin seperti di Konoha kali ya?
Ketika itu terjadi, muncul makhluk lain, lebih kecil memang, tampak sepele, dan jarang dibicarakan dalam teori politik: kita menyebutnya sebagai jilatang.
Dalam khazanah Melayu–Nusantara, jilatang (atau jelatang) adalah tumbuhan liar yang menyengat. Daunnya tidak besar, batangnya tidak kokoh, dan kehadirannya sering diabaikan. Namun siapa pun yang menyentuhnya akan merasakan panas, gatal, dan perih yang bertahan lama. Ia tidak menyerang dari jauh, tidak menerkam dengan kekuatan, tetapi menyakiti melalui kedekatan. Jilatang tumbuh subur di lahan terbengkalai, spt di tanah dan lahan yang tidak dirawat, pagar yg dibiarkan runtuh. Metafora ini penting: sengatan sering kali datang bukan dari yang besar dan jelas, melainkan dari yang kecil dan dibiarkan.
Jilatang, dalam pengertian sosial-politik, bukan penguasa resmi. Ia tidak berdiri di podium, tidak disumpah atas nama konstitusi, dan tidak tercatat dalam struktur negara. Tapi dalam kasus tertentu ia bisa jadi bagian Leviathan tapi bersifat jilatang. Pendeknya, ia hidup dari memanfaatkan negara. Ia lihat menjilat tangan kekuasaan, menghisap sisa-sisa wibawa Leviathan, dan menjadikannya alat transaksi. Jika Leviathan adalah simbol ketertiban (setidaknya itu cita-citanya Hobbes), sementara jilatang adalah tanda pembusukan.
Leviathan bekerja lewat aturan. Jilatang bekerja lewat relasi.
Leviathan menuntut kepatuhan hukum. Jilatang menawarkan jalan pintas.
Leviathan seharusnya melindungi yang lemah. Jilatang justru hidup dari kelemahan itu.
Ketika hukum ditegakkan secara tegas dan konsisten, jilatang sulit bernapas. Ia tidak tahan transparansi, tidak cocok dengan prosedur, dan alergi pada akuntabilitas. Tapi saat hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, jilatang berkembang biak dengan subur. Ia menjadi makelar izin, calo keadilan, pengatur proyek, dan penghubung “orang dalam”.
Di titik ini, masalahnya bukan sekadar negara lemah. Masalahnya adalah negara yang kehilangan wibawa moral. Leviathan masih ada secara simbolik, spt gedungnya yang masih megah, regulasinya masih tebal, jargon reformasinya ramai, namun jiwanya kosong. Yang bekerja bukan lagi sistem, melainkan kedekatan. Bukan kompetensi, melainkan koneksi.
Rakyat kecil merasakannya lebih dulu. Mereka tidak berhadapan langsung dengan Leviathan, melainkan dengan jilatang-jilatang di level bawah. Untuk mengurus hak, perlu “uang rokok”. Untuk mencari keadilan, perlu “orang dalam”. Untuk sekadar aman, perlu kompromi. Hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan labirin.
Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, sebagian orang justru merindukan Leviathan yang lebih keras. Mereka ingin negara yang tegas, bahkan otoriter, asal bisa menyingkirkan jilatang. Ini paradoks klasik: ketika negara terlalu lemah, rakyat rela menyerahkan kebebasan demi ketertiban. Tapi sejarah mengajarkan, Leviathan yang tak diawasi bisa berubah dari pelindung menjadi pemangsa. Kita dah kenyang pengalaman dengan Orla dan Orba, atau bahkan betapa superiornya suatu institusi di era Jokowi.
Maka persoalannya bukan memilih antara Leviathan atau ketiadaan Leviathan. Pilihannya adalah Leviathan yang kuat oleh hukum, bukan oleh ketakutan. Leviathan yang tajam ke semua arah, bukan hanya ke yang lemah. Leviathan yang berani membersihkan tubuhnya sendiri dari para jilatang yang menempel. Berani mengikis habis benalu.
Selama jilatang lebih ditakuti daripada hukum, selama orang lebih percaya “siapa yang dikenal” daripada “apa aturannya”, selama keadilan bisa dinegosiasikan, maka negara sesungguhnya sedang sakit. Dan penyakit itu bukan kurang regulasi, melainkan kurang keberanian.
Leviathan tidak perlu menjadi monster yang menelan warganya. Ia hanya perlu kembali menjadi makhluk yang dihormati karena adil, bukan ditakuti karena sewenang-wenang. Saat itu terjadi, jilatang akan mati dengan sendirinya, karena tidak ada lagi tangan kotor yang bisa dijilat. Lagi pula, semua kita sudah muak dengan para jilatang itu!


Kita Bisa Bangkit!

Di negara yang dikuasai penjahat, sistem sengaja dibikin supaya orang miskin dan bodoh makin banyak.
Akses kesehatan dipersulit. Akses pendidikan dipersempit.
Akhirnya rakyat cuma sibuk bertahan hidup, sekadar bisa makan hari ini.
Dalam kondisi seperti itu, tiap pemilu ceritanya berulang.
Mereka yang punya modal besar untuk menyuap rakyat, akan terpilih lagi dan lagi.
Lalu, bagaimana cara memutus rantai ini?
Mulai dari lingkaran terkecil: keluarga sendiri.
Seberat apa pun hidup, upayakan anak-anak tetap bersekolah. Yuuk minimal seperti saudara2 kita orang Batak dan Minang, yang tingkat persentase sarjananya sudah di 18%an persen dari jumlah penduduknya!
Meski sederhana, jangan menyerah pada kebodohan yang disengaja.
InsyaAllah, suatu hari nanti hasilnya akan kita rasakan.
Bismillah. Tetap semangat.
Feri Susanto





2025/12/05

Kenapa Kebahagiaan Karyawan Selalu Menjadi Titik Awal Kebahagiaan Pelanggan?

Penulis bersama team dan perwakilan klien dalam satu event Team Engagement di Jakarta

Di banyak perusahaan, kita sering bicara tentang customer experience, service excellence, atau bagaimana membuat pelanggan merasa puas. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: semua itu dimulai dari orang-orang di balik layar. Customer happiness tidak pernah muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tim yang bahagia, yang merasa dihargai, dan yang menjalani hari-harinya dengan energi positif.

People engagement bukan sekadar program internal atau aktivitas seremonial. Ia adalah cara kita hadir untuk satu sama lain. Kadang bentuknya sederhana; menonton film bareng, makan siang bersama, outing, hangout bareng atau sekadar ngobrol santai tanpa agenda. Kehadiran seperti itu membangun jarak yang lebih dekat antara kita sebagai manusia. Ketika kedekatan itu tumbuh, rasa percaya muncul. Dan ketika percaya sudah terbentuk, bekerja sama menjadi jauh lebih natural.

Di dunia kerja yang serba cepat, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan juga perlu di-deliver. Bukan hanya kepada pelanggan, tetapi pertama-tama kepada tim kita sendiri. Ketika karyawan merasa diperhatikan, dihormati, dan dihargai, mereka menjadi jauh lebih puas. Kepuasan itu mengubah cara mereka bekerja. Mereka lebih ringan, lebih positif, dan lebih bersemangat menghadapi tantangan.


Employee satisfaction bukan hanya perkara gaji atau benefit. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari suasana kerja yang membuat mereka merasa aman, dari interaksi yang membuat mereka merasa dihargai, dari momen-momen kebersamaan yang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Ketika seseorang merasa bahagia di tempat kerjanya, ia akan memberikan yang terbaik tanpa perlu diminta.

Dan pada akhirnya, pelanggan akan merasakan itu. Mereka bisa membedakan mana layanan yang datang dari seseorang yang tertekan, dan mana yang datang dari seseorang yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Energi itu menular. Senyum yang tulus, sikap yang ramah, kesediaan membantu tanpa keluhan—semuanya lahir dari hati yang bahagia.

Itulah sebabnya people engagement seharusnya bukan sekadar program HR. Ia adalah mindset kepemimpinan. Cara kita membangun budaya. Cara kita menunjukkan bahwa perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Ketika pemimpin menghadirkan kebahagiaan di dalam tim, tim akan menghadirkan kebahagiaan itu kembali kepada pelanggan.

Pada akhirnya, kebahagiaan selalu mengalir ke bawah. Jika tim kita merasa terhubung, mereka akan melayani dengan hati. Jika mereka merasa dihargai, mereka akan bekerja dengan percaya diri. Dan jika mereka bahagia, maka pelanggan pun akan merasakan kebahagiaan itu.

Inilah inti dari people engagement: kebahagiaan yang dimulai dari dalam, lalu menjelma menjadi pengalaman terbaik bagi semua yang kita layani.







Keberanian yang Menembus Zaman: Numantia, Rajah Sulaiman, dan Pertolongan Badar

Situs area Numantia
Kadang sebuah cerita yang kita baca membuka pintu menuju cerita-cerita lain yang pernah kita dengar atau kita simpan lama dalam ingatan. Begitu juga saat saya membaca kisah kecil dari Sapiens karya Yuval Noah Harari, kisah tentang sebuah suku di Spanyol bernama Numantia. Harari menceritakan bagaimana kota kecil itu, yang dihuni suku Celtiberia, memilih untuk melawan Imperium Romawi yang ketika itu hampir mustahil dikalahkan. Mereka kecil, Roma raksasa. Mereka miskin, Roma kaya. Mereka sendirian, Roma datang dengan kekuatan dunia. Namun mereka tidak menyerah. Mereka bertahan sampai akhir, dengan kehormatan menjadi harga terakhir yang mereka miliki. Numantia memang hancur, rakyatnya musnah, dan kota itu hilang dari peta sejarah. Tapi keberanian mereka bertahan sebagai kisah yang terus diingat bangsa Spanyol sampai hari ini.

Saat membaca bagian itu, entah kenapa saya langsung teringat pada cerita lain, sebuah cerita yang tidak disebut Harari, tetapi saya sendiri yang menyambungkan: kisah Manila sebelum menjadi Manila, ketika ia masih sebuah kerajaan Islam yang berdiri gagah di pesisir Teluk Luzon. Qadarullah saya pernah berkunjung kesana beberapa tahun yg lalu.
Di sana ada seorang tokoh yang namanya jarang disebut di buku sejarah umum kita, tetapi dihormati di Filipina sebagai simbol keberanian: Rajah Sulaiman. Seperti Numantia, kerajaan kecil itu suatu hari harus berhadapan dengan sebuah kekuatan besar: armada Spanyol yang sedang berkembang menjadi salah satu imperium dunia. Sulaiman, bersama para penguasa Muslim lainnya, tahu bahwa mereka sedang menghadapi kekuatan yang kemungkinan besar tidak akan dapat mereka kalahkan. Tetapi seperti warga Numantia, mereka tidak memilih tunduk. Mereka memilih melawan, memilih mempertahankan tanah yang mereka percaya adalah amanah dari leluhur dan Tuhan mereka.
Kota itu akhirnya jatuh. Manila dibakar, direbut, dijadikan pusat kolonial Spanyol selama berabad-abad. Namun nama Sulaiman tetap hidup sebagai simbol kehormatan, bahkan jika kekuatan politiknya musnah seperti halnya Numantia.
Patung Rajah Sulaiman di Manila, Filipina
Dan saat dua cerita ini berdiri berdampingan, Numantia di Eropa abad kedua sebelum Masehi, Manila Islam di Asia Tenggara abad ke-16, saya teringat akan satu kisah lain, yang jauh lebih tua namun memiliki gema keberanian yang sama, tetapi dengan takdir yang berbeda: Perang Badar.
Di Badar, umat Islam jauh lebih kecil daripada pasukan Quraisy. Kekuatan tidak seimbang, senjata seadanya, dan kemungkinan kekalahan secara duniawi sangat besar. Tetapi ada sesuatu yang tidak dimiliki Numantia atau Manila: doa seorang Nabi yang membawa risalah terakhir untuk umat manusia. Di malam sebelum perang itu, Rasulullah SAW berdiri memanjatkan doa yang mengguncang langit:
“Ya Allah, jika pasukan kecil ini kalah, (mungkin) tidak akan ada lagi di muka bumi ini orang yang menyembah-Mu.”
Itu bukan sekadar doa kemenangan. Itu doa tentang kelangsungan cahaya. Tentang masa depan iman. Tentang arah sejarah manusia. Dan keesokan paginya, hasilnya berbeda dari dua kisah sebelumnya: Badar dimenangkan oleh mereka yang lemah secara jumlah, tetapi kuat dalam janji Tuhannya.
Salah satu bekas bangunan kuno di Lembah Badar

Monumen Daftar Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Gugur di Medan Perang.

Tiga cerita ini berdiri dalam satu garis panjang tentang manusia menghadapi kekuatan besar. Numantia berakhir dengan kehancuran, Sulaiman di Manila berakhir dengan gugurnya sebuah kerajaan, tetapi Badar justru menjadi titik balik yang mengubah sejarah dunia. Namun ketiganya punya satu benang merah: keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah meski secara logika dunia tidak ada peluang untuk menang. Keberanian mempertahankan martabat. Keberanian menegakkan keyakinan ketika dunia terlihat gelap.
Harari menulis bahwa sejarah sering kali ditentukan oleh imperium-imperium besar, dan kelompok kecil biasanya hilang ditelan gelombang. Tapi ia juga menulis bahwa manusia selalu punya kapasitas untuk percaya pada makna, pada cerita, dan pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Di situlah keberanian lahir.
Dan mungkin, di situlah kita semua menemukan diri kita hari ini: antara kisah Numantia yang kalah tetapi terhormat, kisah Rajah Sulaiman yang gugur tetapi abadi dalam memori bangsanya, dan kisah Badar yang menunjukkan bahwa dalam beberapa momen sejarah, ketika manusia benar-benar bersandar pada Tuhan, cerita bisa berbalik menjadi keajaiban yang mengubah dunia.
Tiga kisah, tiga benua, tiga zaman. Satu pelajaran:
Dalam hidup, kemenangan tidak selalu diukur dari hasil akhir. Kadang, keberanian berdiri tegak di tengah badai itulah yang membuat sebuah nama tidak pernah mati.