"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

2026/01/22

Jenderal Sudirman - Iman yang Berjalan Bersama Peluru

Mengenang Jenderal Besar Sudirman (Jelang 109 tahun kelahirannya)

24 Januari 2016

Jenderal Sudirman bukan lahir dari barak militer. Ia lahir dari rumah sederhana, tumbuh dalam lingkungan religius, dan ditempa oleh pendidikan di keluarga yg dekat dengan Muhammadiyah… Diajarkan tentang perjuangan yang keras pada disiplin, akhlak, dan pengabdian.




Sebelum dikenal sebagai Panglima Besar TNI, Sudirman adalah guru HIS Muhammadiyah di Purbalingga, Jawa Tengah. Mengajar bukan sekadar pekerjaan baginya, tapi ladang dakwah. Murid-muridnya mengenal sosok pendiam, bersahaja, namun tegas. Ia mengajar dengan teladan, bukan dengan suara keras.
Dalam keseharian, Sudirman dikenal sangat menjaga shalat, bahkan di tengah perang. Ia percaya perjuangan tanpa iman hanyalah keberanian kosong. Ketika sakit parah akibat tuberkulosis, dengan paru-paru tinggal satu yang berfungsi, ia tetap memimpin Perang Gerilya. Ditandu menembus hutan, naik turun gunung, bukan demi ambisi, tapi karena keyakinan:
kemerdekaan adalah amanah Tuhan.
Sebagai kader Muhammadiyah, Sudirman memegang prinsip amar ma’ruf nahi munkar secara praktis. Ia menolak kemewahan, menolak pangkat sebagai alat kuasa, dan menolak tunduk pada tekanan politik. Baginya, tentara adalah pelindung rakyat, bukan penguasa.
Dalam kehidupan pribadi, Sudirman adalah suami dan ayah yang lembut. Ia jarang di rumah, tapi selalu menitipkan pesan moral pada keluarganya. Tidak ada warisan harta. Yang ia tinggalkan hanya nama baik, keteladanan, dan doa.
Jenderal Sudirman wafat dalam usia muda, 34 tahun.
Tapi jejak hidupnya panjang.
Ia membuktikan bahwa:
• iman bisa berdiri sejajar dengan keberanian
• kesalehan tidak membuat seseorang lemah
• dan kader dakwah bisa menjadi panglima perang tanpa kehilangan nurani
Ia bukan hanya pahlawan militer.
Ia adalah pahlawan akhlak.

No comments:

Post a Comment