"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

2026/01/26

Spirit Perpustakaan: Dari Alexandria ke Ruang Keluarga Kita

 

Ketika menelusuri sejarah panjang manusia dalam menjaga ilmu, kita akan selalu menemukan perpustakaan sebagai salah satu tonggak peradaban. Dalam buku Para Penjaga Ilmu dari Alexandria sampai Internet karya Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton, kita diperkenalkan pada sosok Demetrius dari Phaleron, seorang tokoh yang jejak hidupnya penuh dinamika namun meninggalkan warisan besar bagi dunia pengetahuan.
Demetrius pernah menjadi penguasa Tiran di Athena dan belajar di Lyceum, perguruan yang didirikan Aristoteles. Ketika kekuasaannya tumbang, ia menerima tawaran dari Ptolemy I, penguasa Mesir. Dari perjumpaan sejarah inilah lahir salah satu proyek intelektual terbesar sepanjang masa: pendirian Perpustakaan Alexandria. Meski kisah politik dan kehidupan pribadinya tidak lepas dari kontroversi, visi Demetrius untuk menghimpun ilmu dari seluruh dunia patut diapresiasi. Ia mengembangkan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan gulungan naskah, tetapi sebagai pusat penelitian, diskusi, dan penemuan, lengkap dengan dukungan finansial bagi para ilmuwan.
Perpustakaan Alexandria kemudian menjadi simbol keberanian intelektual. Ketika peradaban berubah dan pusat kekuasaan bergeser, tradisi menjaga ilmu tetap berlanjut. Ilmu berpindah dari perpustakaan kuno ke biara-biara Eropa, kemudian ke universitas abad pertengahan, ke republik surat, ke disiplin ilmu modern, hingga laboratorium hari ini. Zaman boleh berganti, tetapi peran lembaga penyimpan pengetahuan tidak pernah hilang relevansinya.
Di tengah derasnya arus teknologi, perpustakaan tetap menjadi jantung peradaban. Tempat itu bukan hanya menyimpan buku, tetapi menyimpan ingatan kolektif manusia. Karena itu budaya membaca dan menghargai ilmu menjadi syarat utama untuk memajukan bangsa mana pun.
Dan perjalanan ini selalu dimulai dari rumah.
Perpustakaan keluarga, sekecil apa pun bentuknya, adalah pintu pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia. Kita tidak perlu memiliki koleksi yang mewah atau rak yang menjulang. Yang terpenting adalah semangat untuk menghadirkan pengetahuan di tengah keluarga. Salah satu langkah sederhana adalah menyediakan buku-buku cerita bergambar seperti koleksi dari Pustaka Lebah. Buku-buku ini mungkin terlihat ringan, namun justru menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya rasa ingin tahu dan kecintaan membaca. Terkadang anak-anak perlu diarahkan atau bahkan “dipaksa dengan kasih sayang” untuk membaca, karena kebiasaan baik memang tidak tumbuh sendiri tanpa dibentuk.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar lahir dari budaya ilmu. Jika para penjaga pengetahuan masa lampau rela menyalin naskah dengan tangan, maka tugas kita hari ini jauh lebih mudah. Kita hanya perlu menyediakan waktu, perhatian, dan contoh yang baik. Satu buku dibaca seorang anak hari ini bisa menjadi benih peradaban di masa depan.
Dengan cara sederhana inilah, spirit perpustakaan yang pernah dikobarkan di Alexandria dapat kita hidupkan kembali di ruang keluarga kita sendiri.



No comments:

Post a Comment