Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2026/09/02

TAHUN 1886, DI BATAHAN SUDAH ADA SEKOLAH. SIAPA ANAK-ANAK YANG BELAJAR DI SANA?

Bayangkan kita kembali ke Batahan.

Bukan Batahan hari ini. Tetapi Batahan sekitar 140 tahun yang lalu. Tahun itu 1886.

Indonesia belum ada. Nama Indonesia bahkan belum menjadi nama sebuah negara.

Belum ada telepon genggam. Belum ada listrik. Belum ada jalan seperti yang kita kenal sekarang.

Tetapi pagi itu, di sebuah tempat di Pantai Barat Sumatra, ada sesuatu yang menarik perhatian:

anak-anak pergi ke sekolah.

Saya membayangkan sebuah sekolah sederhana. Bangunannya mungkin jauh dari bayangan kita tentang sekolah hari ini.

Tidak ada papan tulis digital. Tidak ada seragam.  Tidak ada komputer. Buku pun tidak banyak.

Tetapi ada guru. Dan ada murid. Jumlahnya? Sebuah catatan surat kabar kolonial menyebut sekitar 6 orang, paling banyak 10 orang.

Kecil sekali. Tetapi justru di situlah menariknya. Karena sekolah kecil itu ternyata benar-benar tercatat dalam sejarah. Namanya: Batahan.

Lalu kita menemukan sebuah nama. Seorang guru muda. Namanya Dja Endar Moeda.

Ia bukan orang Belanda. Ia bukan pejabat tinggi kolonial. Ia seorang pribumi yang mendapatkan pendidikan keguruan. Dja Endar Moeda lahir di Padang Sidempuan pada 1861. Ia belajar di Kweekschool Padang Sidempuan, sekolah yang mendidik calon-calon guru pribumi.

Tahun 1884, ia menyelesaikan pendidikannya. Kemudian ia mulai menjalankan tugas sebagai guru. Air Bangis pernah menjadi bagian dari perjalanan awalnya. Dan setelah itu...Batahan. Di Batahan, ia dipercaya menjadi kepala guru.

Coba berhenti sebentar di sini!

Seorang pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan gurunya datang ke sebuah wilayah kecil di Pantai Barat Sumatra. Dan tugasnya adalah: mengajar.

Dua tahun kemudian, pada 1886, sebuah berita muncul dalam Sumatra-Courant.

Berita itu menjadi seperti sebuah jendela kecil menuju Batahan masa lalu. Dari berita tersebut kita mendapatkan gambaran bahwa sekolah di Batahan memiliki murid sekitar enam hingga sepuluh orang.

Kondisinya tidak ideal. Buku-buku terbatas. Sekolah bahkan disebut mengalami kemunduran.

Tetapi sekolah itu ada. Dan kegiatan belajar berlangsung. Di tempat yang mungkin bagi sebagian orang sekarang dianggap "jauh dari mana-mana"... 

pendidikan modern ternyata sudah berjalan.

Tetapi ada sesuatu yang lebih menarik.

Dja Endar Moeda ternyata bukan hanya seorang guru. Ia punya kegemaran menulis. Dan dari dunia pendidikan, ia kemudian masuk semakin jauh ke dunia intelektual. Menulis. Membaca. Berpikir. Berkarya.

Namanya kemudian muncul dalam perkembangan pers berbahasa Melayu di Sumatra. Ia terlibat dalam Pertja Barat di Padang. Kelak ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pers pribumi.

Jadi kalau kita tarik garis kehidupannya, ada sebuah perjalanan yang menarik:

seorang anak muda belajar menjadi guru → datang mengajar di Batahan → menulis → masuk dunia pers → menjadi tokoh penting dalam perkembangan literasi masyarakat pribumi.

Dan salah satu titik dalam perjalanan itu adalah: Batahan.

Tetapi semakin jauh kita membuka cerita ini... semakin banyak pertanyaan muncul. Kalau pada tahun 1886 ada 6 sampai 10 murid... siapa mereka? Saya justru penasaran dengan nama-nama yang sampai hari ini belum kita ketahui.

Siapa anak-anak Batahan itu? Apakah mereka anak penghulu? Anak pedagang? Anak petani? Atau anak-anak dari keluarga biasa? Mereka duduk di mana? Apa yang mereka pelajari?

Apakah mereka belajar membaca dan menulis? Apa yang terjadi kepada mereka setelah keluar dari sekolah? Dan pertanyaan yang paling menarik:

apakah keturunan mereka masih ada di Batahan sekarang? Mungkin saja. vbn

Bisa jadi seorang warga Batahan hari ini memiliki leluhur yang pernah duduk di sekolah  itu.

Tetapi ia tidak pernah mengetahuinya. Karena sejarah keluarga sering kali berhenti hanya pada cerita:

"Dulu kakek saya sekolah di sana..."

Tanpa pernah tahu bahwa sekolah itu ternyata memiliki tempat dalam sejarah pendidikan Sumatra.

Dan di sinilah saya merasa sejarah Batahan menjadi semakin menarik.

Karena ternyata ketika kita membuka dokumen lama, Batahan bukan baru muncul kemarin.

Jauh sebelumnya, nama Batahan sudah tercatat.

Pada abad ke-17, dokumen VOC sudah menyebut Batahan dan para penguasanya.

Lebih dari satu abad kemudian, kita menemukan Batahan kembali dalam catatan pendidikan.

Dan kali ini, kita menemukan sesuatu yang sangat manusiawi:

guru dan murid.

Ada seorang guru bernama Dja Endar Moeda.

Ada beberapa anak yang datang belajar.

Ada buku-buku yang kurang.

Ada sekolah yang berusaha bertahan.

Ada proses belajar yang berlangsung di sebuah daerah kecil di Pantai Barat Sumatra. 

Bayangkan kalau suatu hari kita menemukan dokumen berikutnya.

Sebuah daftar nama murid.

Misalnya:

Nama: ...
Umur: ...
Asal: Batahan.

Lalu kita cocokkan dengan silsilah keluarga masyarakat Batahan hari ini.

Bayangkan kalau ternyata salah satu nama itu adalah leluhur keluarga yang sekarang masih tinggal di Batahan. Itu bukan sekadar menemukan nama. Itu seperti menemukan sepotong ingatan yang hilang selama lebih dari satu abad.

Karena itu, saya kira penelitian sejarah Batahan belum selesai.

Justru baru dimulai. Kita perlu mencari lebih jauh. Arsip pendidikan kolonial. Surat kabar lama. Laporan pemerintahan. Dokumen VOC. Catatan keluarga.

Makam tua.

Dan cerita para tetua kampung.

Sebab sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku sejarah.

Kadang ia tersembunyi dalam sebuah dokumen yang sudah menguning.

Kadang dalam nama yang hampir dilupakan.

Kadang dalam makam seseorang.

Dan kadang... dalam cerita seorang kakek kepada cucunya. 

Jadi kalau hari ini kita melewati Batahan, mungkin kita melihatnya sebagai sebuah kecamatan, sebuah kampung, sebuah tempat yang kita kenal sejak kecil.

Tetapi kalau kita melihatnya dengan kacamata sejarah...

Batahan terlihat berbeda. Di tanah ini pernah berlangsung perdagangan.

Pernah ada penguasa. Pernah ada hubungan dengan VOC.

Dan sekitar 1880-an, anak-anak Batahan sudah belajar di sebuah sekolah.

Sekolah kecil. Muridnya sedikit. Fasilitasnya terbatas. Tetapi dari sana, kita bisa melihat satu hal yang besar: keinginan manusia untuk belajar.

Dan mungkin itulah bagian paling indah dari sejarah. Bukan tentang seberapa megah bangunannya. Bukan tentang seberapa banyak muridnya. Tetapi tentang keberanian seseorang membuka buku... di sebuah tempat yang jauh...

pada masa ketika Indonesia bahkan belum lahir.

Tahun 1886.

Batahan. Enam sampai sepuluh murid. Seorang guru muda bernama Dja Endar Moeda.

Dan sebuah sekolah yang sampai hari ini masih menyisakan pertanyaan:

Siapa sebenarnya anak-anak yang belajar di sana?

Mungkin suatu hari kita akan menemukan jawabannya. Dan ketika itu terjadi...

kita bukan hanya sedang menemukan sejarah Batahan. Kita sedang menemukan kembali bagian dari diri kita sendiri.

#SejarahBatahan
#Batahan
#DjaEndarMoeda
#SejarahMandailingNatal
#SejarahSumatra
#SejarahIndonesia
#JejakSejarah
#Literasi

No comments:

Post a Comment