Membaca kembali peta Alexander Dalrymple dan kesinambungannya dengan sejarah Sibolga
Sejarah Sibolga selama ini lebih sering dibicarakan mulai dari pembentukan pemerintahan kolonial dan pembangunan kota pada abad ke-19. Padahal, jejak kawasan yang kemudian berkembang menjadi Sibolga telah masuk ke dalam pengetahuan geografis bangsa Eropa jauh sebelumnya.
Salah satu bukti yang menarik terdapat pada sebuah peta Inggris yang diterbitkan pada 25 Februari 1774 oleh Alexander Dalrymple, berjudul:
“Plan of Tappean-Oely or Tappanooly in 1° 25' N. Lat. on the West-Coast of Sumatra.”
Peta ini secara khusus menggambarkan kawasan Tappanooly di pantai barat Sumatra. Katalog Herzog August Bibliothek mencatat tanggal penerbitannya, skala sekitar 1:140.000, serta keterangan penting pada peta: “From an English M.S.”—berdasarkan manuskrip Inggris. (Kartenspeicher GBV)
Yang menarik perhatian: “SE BOGA”
Pada bagian pantai peta tersebut terdapat sebuah nama yang terbaca “Se Boga”.
Bagi pembaca masa kini, dua kata ini segera mengingatkan pada Siboga/Sibogha, bentuk-bentuk lama dari nama Sibolga yang muncul dalam sumber-sumber sejarah berikutnya.
Pembacaan ini menjadi semakin menarik karena “Se Boga” tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam satu lanskap geografis yang juga mencantumkan sejumlah nama pantai lainnya, antara lain Ayer Manis, Penang Soree, dan Telloo Pandan.
Dengan demikian, tulisan “Se Boga” bukan sekadar sebuah kata yang muncul tanpa konteks, melainkan bagian dari sistem toponimi kawasan Tappanooly yang sedang dipetakan.
Apakah “Se Boga” adalah Sibolga?
Dalam pembacaan historis, “Se Boga” dapat dipahami sebagai bentuk awal atau bentuk ejaan lama dari Siboga/Sibolga.
Kesimpulan tersebut semakin menarik apabila dibandingkan dengan variasi nama Sibolga yang muncul pada masa berikutnya: Siboga, Sibogha, Sibogah, Sibalga, Siebolga, dan bentuk lainnya.
Variasi ejaan semacam ini bukan sesuatu yang aneh dalam sumber-sumber kolonial. Nama-nama lokal sering ditulis berdasarkan pendengaran, bahasa pengantar, dan kebiasaan ejaan masing-masing penulis atau kartografer.
Karena itu, pencarian sejarah Sibolga tidak cukup dilakukan hanya dengan kata “Sibolga”.
Kita perlu memperhitungkan seluruh variasinya.
Sibolga bukan kota yang tiba-tiba muncul pada 1840-an
Di sinilah tulisan-tulisan Akhir Matua Harahap di Poestaha Depok menjadi pembanding yang penting.
Dalam serial Sejarah Kota Sibolga, Harahap menjelaskan bahwa pembangunan kota Sibolga oleh pemerintah Hindia Belanda dimulai sekitar 1842–1843. Kota tersebut dibangun sebagai pusat pemerintahan baru, tidak persis dengan cara mengambil alih kampung lama, tetapi dibangun di kawasan yang berdekatan dengan permukiman yang telah ada. (Poesta Hadepok)
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara:
Sibolga sebagai nama/tempat yang telah dikenal sebelumnya
dan
Sibolga sebagai kota pemerintahan kolonial.
Perbedaan ini penting.
Sebuah kota dapat memiliki sejarah jauh lebih tua daripada saat pemerintah kolonial secara resmi membentuknya sebagai pusat pemerintahan.
Harahap bahkan menunjukkan bahwa kawasan kampung Sibolga sudah ada sebelum pembangunan kota kolonial, sementara kampung Tapanoeli juga telah berfungsi sebagai pelabuhan dan pusat aktivitas di kawasan tersebut. (Poesta Hadepok)
Dari Tappanooly menuju Sibolga
Peta Dalrymple memberikan konteks yang menarik.
Pada 1774, nama yang dominan secara geografis dalam peta adalah Tappean-Oely/Tappanooly. Namun di dalam kawasan itu terdapat nama-nama tempat yang lebih kecil.
Salah satunya adalah:
SE BOGA
Beberapa dekade kemudian, bentuk Siboga/Sibogha muncul dalam sumber-sumber kolonial.
Akhir Matua Harahap, dalam pembahasannya mengenai sejarah pemerintahan Tapanuli, misalnya menggunakan bentuk “Sibogha” ketika membicarakan Sibolga sebagai ibu kota Residentie Tapanoeli pada abad ke-19. (Akhir MH)
Dengan demikian kita memperoleh sebuah rangkaian toponimi yang sangat menarik:
SE BOGA — 1774
↓
SIBOGA / SIBOGHA — abad ke-19
↓
SIBOLGA — bentuk modern
Tentunya perubahan ejaan tersebut tidak harus dipahami sebagai perubahan nama yang terjadi secara tiba-tiba. Lebih mungkin terdapat proses transliterasi dan penyesuaian ejaan dari satu sumber ke sumber lainnya.
Peta Inggris justru memberikan sudut pandang yang berbeda
Ada hal lain yang tidak kalah penting.
Peta ini bukan peta Belanda.
Ia diterbitkan oleh Alexander Dalrymple, seorang tokoh kartografi dan hidrografi Inggris yang memiliki hubungan erat dengan East India Company.
Namun Dalrymple tidak membuat peta tersebut semata-mata dari imajinasinya sendiri. Peta secara eksplisit menyatakan:
“From an English M.S.”
Andrew Cook dalam katalog karyanya mengenai Dalrymple mencatat peta Tappean-Oely bertanggal 25 Februari 1774 dan menghubungkannya dengan manuskrip Inggris yang dikaitkan dengan Mr. Nairne. Cook juga mencatat bahwa peta tersebut memiliki beberapa state atau versi penerbitan, dengan sejumlah nama tempat yang mengalami koreksi. (St Andrews Research Repository)
Hal ini penting secara historiografis.
Sebab informasi geografis yang kita lihat pada cetakan 1774 kemungkinan merekam pengetahuan kartografis yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Dengan kata lain, 1774 adalah tahun penerbitan peta tersebut, bukan otomatis tahun pertama nama-nama di dalamnya diketahui oleh orang Eropa.
Menarik jika dibandingkan dengan Pinang Sori
Salah satu cara untuk menguji identifikasi “Se Boga” adalah dengan melihat nama-nama di sekitarnya.
Dalam peta tersebut kita menemukan Penang Soree.
Nama tersebut sangat menarik jika dibandingkan dengan Pinang Sori/Pinangsori, yang kemudian menjadi salah satu nama geografis penting di kawasan Tapanuli Tengah.
Poestaha Depok juga membahas Pinangsori dalam rangkaian sejarah Sibolga dan kawasan sekitarnya. (Poesta Hadepok)
Artinya, peta 1774 memberikan kita sesuatu yang sangat berharga:
bukan hanya satu nama yang diduga berkaitan dengan Sibolga, tetapi sebuah jaringan toponimi pesisir yang sebagian masih dapat dikenali hingga sekarang.
Ini membuat pembacaan “Se Boga” menjadi lebih menarik untuk diuji secara geografis.
Sibolga sebelum menjadi ibu kota Residentie
Ketika pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun kota Sibolga pada 1840-an, mereka sebenarnya masuk ke dalam sebuah lanskap yang telah mempunyai sejarah pelayaran, perdagangan, permukiman, dan hubungan darat dengan wilayah pedalaman.
Harahap menunjukkan bahwa pada 1821 pemerintah kolonial telah menempatkan Asisten Residen di kawasan Tapanoeli, sebelum kemudian pusat pemerintahan berkembang ke kota Sibolga. (Poesta Hadepok)
Pada 1845, Residentie Tapanoeli resmi berkembang dengan Sibolga sebagai tempat kedudukan residen. (Poesta Hadepok)
Maka sejarahnya tidak sederhana:
Tappanooly sebagai kawasan/pelabuhan
→ kampung-kampung pesisir termasuk Sibolga
→ pembangunan kota Sibolga
→ Sibolga menjadi pusat pemerintahan Residentie Tapanoeli
Dalam konteks inilah peta 1774 menjadi sangat penting.
68 tahun sebelum kota Sibolga dibangun
Jika kita menerima pembacaan Se Boga sebagai bentuk awal Siboga/Sibolga, maka kita memiliki sebuah jejak kartografis yang luar biasa:
1774
Nama Se Boga telah tercatat dalam peta Inggris kawasan Tappanooly.
1842–1843
Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun kota Sibolga sebagai pusat pemerintahan baru. (Poesta Hadepok)
Artinya terdapat jarak sekitar 68 tahun antara peta Dalrymple dan pembangunan kota kolonial Sibolga.
Karena itu, sejarah Sibolga tidak seharusnya dimulai dari tahun 1842.
Tahun 1842 adalah salah satu tonggak sejarah kota pemerintahan Sibolga, bukan otomatis awal keberadaan nama atau kawasan Sibolga.
Satu pertanyaan yang masih terbuka
Temuan ini tentu belum menyelesaikan seluruh persoalan.
Justru sebaliknya, ia membuka pertanyaan baru:
Dari mana nama “Se Boga” berasal?
Apakah itu:
ejaan Inggris terhadap nama lokal Siboga?
bentuk fonetik yang kemudian berkembang menjadi Sibogha/Sibolga?
atau bentuk toponim yang sudah digunakan oleh penduduk setempat dan hanya ditranskripsikan berbeda oleh pembuat peta?
Untuk menjawabnya diperlukan pencarian lanjutan terhadap peta, jurnal pelayaran, laporan East India Company, surat-surat, dan dokumen kolonial sebelum dan sesudah 1774.
Tetapi satu hal sudah jelas:
Sejarah Sibolga tidak bermula ketika pemerintah Hindia Belanda menggambar kota baru di atas peta.
Sebelum kota itu dibangun, kawasan tersebut telah menjadi bagian dari lanskap geografis pantai barat Sumatra yang dikenal oleh para pelaut dan pembuat peta Eropa.
Dan pada sebuah peta Inggris tahun 1774, kita menemukan sebuah nama yang sangat menarik:
SE BOGA
Sebuah nama yang, jika dibaca dalam kesinambungannya dengan Siboga, Sibogha, dan Sibolga, memberikan kita alasan kuat untuk menelusuri sejarah nama Sibolga lebih jauh ke belakang daripada abad ke-19.
Beberapa referensi:
Alexander Dalrymple, 1774, Plan of Tappean-Oely or Tappanooly in 1° 25' N. Lat. on the West-Coast of Sumatra. David Rumsey mencatat peta ini sebagai karya Dalrymple, bertanggal 1774 dan merupakan nautical chart kawasan pantai barat Sumatra. (David Rumsey Map Collection)
David Rumsey Historical Map Collection – peta Dalrymple 1774Herzog August Bibliothek, katalog peta Dalrymple: Plan of Tappean-Oely or Tappanooly, 25 Februari 1774, skala sekitar 1:140.000, “From an English M.S.” (Kartenspeicher GBV)
Katalog Herzog August BibliothekAndrew S. Cook, Alexander Dalrymple (1737–1808), Hydrographer to the East India Company and the Admiralty as Publisher. Katalognya memberikan informasi mengenai beberapa state peta Tappanooly dan manuskrip Inggris yang menjadi sumbernya. (St Andrews Research Repository)
Andrew Cook – katalog DalrympleAkhir Matua Harahap, Sejarah Kota Sibolga, Poestaha Depok: pembentukan kota Sibolga, kampung Sibolga, Tapanoeli, Pulau Poncan, dan perkembangan Residentie Tapanoeli. (Poesta Hadepok)
Poestaha Depok – Sejarah Kota SibolgaAkhir Matua Harahap, pembahasan pembentukan tata kelola Tapanuli dan penggunaan bentuk Sibogha dalam konteks Residentie Tapanoeli. (Akhir MH)
Poestaha Depok – Sejarah Tapanuli

No comments:
Post a Comment