Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2026/09/04

Batahan 1619

Bukan klaim kaleng-kaleng. Kali ini ada nama Batahan dalam catatan perjalanan seorang pelaut Eropa abad ke-17.

Kalau di tulisan-tulisan sebelumnya, kita sering membaca sejarah Batahan dimulai dari jejak VOC.

Nama Batahan memang sudah muncul dalam dokumen-dokumen VOC, termasuk kontrak 29 Januari 1693 yang menyebut “rivierkant Battahan”—tepi sungai Battahan. Tetapi semakin jauh arsip lama dibongkar, semakin jelas bahwa 1693 bukanlah awal dari sejarah Batahan.

Nama itu ternyata sudah hidup jauh sebelumnya.

Dan kali ini kita tidak sedang membuat klaim berdasarkan cerita turun-temurun, blog, atau cocoklogi.

Kita punya rujukan langsung kepada salah satu sejarawan besar Asia Tenggara: Denys Lombard.


Denys Lombard menulis: BATAHAM

Dalam karya monumentalnya:

Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636)

Denys Lombard menyebut nama Bataham ketika membahas wilayah dan jaringan kekuasaan Aceh di pantai barat Sumatra pada masa Sultan Iskandar Muda.

Nama itu muncul dalam rangkaian wilayah pantai barat:

Barus – Bataham – Pasaman – Tiku – Pariaman – Padang.

Sekilas mungkin orang akan berkata:

“Ah, itu kan cuma tulisan Lombard. Berarti belum tentu benar.”

Justru di sinilah menariknya.

Feri Susanto tidak berhenti di Lombard.

Kalau Lombard menulis Bataham, pertanyaan berikutnya harus:

Lombard mendapatkan informasi itu dari mana?

Karena Lombard bukan orang yang hidup pada abad ke-17.

Maka kita telusuri catatan kaki dan sumber yang digunakannya.

Dan…

Fantastic!

Kita menemukan sumber yang lebih tua.


SUMBERNYA: AUGUSTIN DE BEAULIEU

Lombard merujuk kepada catatan perjalanan Augustin de Beaulieu, seorang pelaut dan penjelajah Prancis yang melakukan perjalanan ke wilayah Asia Tenggara dan berada di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Perjalanan Beaulieu berlangsung pada 1619–1622.

Catatannya kemudian diterbitkan dalam karya:

Mémoires du voyage aux Indes Orientales du Général Beaulieu

yang dimuat oleh Melchisédec Thévenot dalam Relations de divers voyages curieux pada 1664.

Jadi sekarang kita sudah mundur:

Lombard → Beaulieu → Aceh awal abad XVII.

Dan di sinilah nama Bataham menjadi jauh lebih menarik.


BATAHAM BUKAN SEKADAR TITIK DI PETA

Sebelumnya kita menemukan Bathan dalam peta kuno yang dikaitkan dengan tradisi kartografi Portugis.

Itu sudah menarik.

Sebab sebuah nama tempat yang muncul pada peta tua berarti wilayah tersebut telah dikenal dalam jaringan geografis dan pelayaran internasional.

Tetapi temuan Beaulieu jauh lebih kaya.

Karena Beaulieu tidak sekadar menuliskan nama:

Bataham.

Ia berbicara tentang Bataham dan orang-orangnya.

Dalam catatannya terdapat ungkapan:

“les gens de Bataham”

yang berarti:

orang-orang Bataham.

Nah!

Ini sudah bukan sekadar titik di peta.

Ada masyarakat yang dikenal dengan nama Bataham.


DAN ADA CERITA TENTANG EKONOMINYA

Lebih menarik lagi, Beaulieu menyebut Bataham ketika membicarakan kamper/kapur barus yang dihasilkan di kawasan pantai barat Sumatra.

Ia membandingkan orang-orang Barus dengan orang-orang Bataham dalam pengumpulan kamper.

Dalam konteks tersebut, kamper dari Bataham disebut memiliki kualitas yang sangat baik, meskipun jumlahnya lebih sedikit.

Ini luar biasa penting.

Sebab sebuah catatan perjalanan abad ke-17 kini memberi kita setidaknya tiga informasi mengenai Bataham:

1. Bataham adalah sebuah tempat/wilayah.

2. Ada masyarakat yang disebut “orang-orang Bataham”.

3. Bataham mempunyai aktivitas ekonomi yang dikenal dari luar, termasuk pengumpulan dan perdagangan kamper.

Dengan kata lain, pada awal abad ke-17 Bataham sudah berada dalam jaringan ekonomi pantai barat Sumatra.


INI BUKAN LAGI SEKADAR NAMA TEMPAT

Bayangkan kita sedang membuka dokumen berusia sekitar empat abad.

Seorang pelaut Eropa datang ke dunia Asia Tenggara.

Ia mencatat nama-nama wilayah yang dikenalnya.

Ia menyebut Barus.

Ia menyebut Pasaman.

Ia menyebut Tiku.

Ia menyebut Pariaman.

Dan di antara nama-nama tersebut muncul:

BATAHAM

Kemudian ia tidak berhenti pada nama tempat.

Ia mencatat:

orang-orang Bataham.

Ia juga mencatat:

hasil bumi Bataham.

Dan ia menghubungkannya dengan:

kamper.

Jadi kita sekarang mulai melihat Batahan bukan sebagai sebuah nama yang baru lahir ketika administrasi kolonial Belanda membentuk distrik.

Batahan sudah merupakan sebuah tempat yang dikenal dan mempunyai komunitas serta aktivitas ekonomi jauh sebelumnya.


LALU BAGAIMANA DENGAN VOC?

VOC baru memberi kita bukti yang lebih eksplisit beberapa puluh tahun kemudian.

Pada 29 Januari 1693, sebuah kontrak dibuat di:

“rivierkant Battahan”

— tepi sungai Battahan.

Dokumen tersebut bahkan menyebut para pemimpin lokal yang berhadapan dengan VOC.

Jadi kita mendapatkan kesinambungan yang sangat menarik:

±1619–1622

BATAHAM

Augustin de Beaulieu.

Bataham dikenal sebagai wilayah dan masyarakat penghasil kamper.

1669

BATAHAN

Muncul dalam dokumentasi VOC.

1693

BATTAHAN

Kontrak VOC dibuat di rivierkant Battahan.

1753

BATAHANG

Muncul dalam peta Inggris Nattal.

1896

BATANG-BATAHAN / AEK BATAHAN

H. Ris mencatat nama sungai tersebut.


MENARIKNYA, EJAANNYA BERUBAH—TETAPI TEMPATNYA TETAP

Perhatikan bentuk-bentuknya:

Bathan

Bataham

Batahan

Battahan

Batahang

Bagi kita yang terbiasa dengan ejaan modern, perubahan ini mungkin terlihat seperti kesalahan.

Tetapi bagi sejarah toponimi, justru variasi ejaan seperti ini sangat berharga.

Mengapa?

Karena para penulis Portugis, Prancis, Belanda, Inggris, dan kemudian orang-orang Indonesia menuliskan nama lokal menggunakan sistem bunyi dan ejaan mereka masing-masing.

Mungkin mereka sedang mencoba menangkap satu nama lokal yang sama.

Dan di sinilah kita mulai mempunyai pertanyaan baru:

Bagaimana sebenarnya orang setempat mengucapkan nama Batahan pada abad ke-17?

Apakah:

Batahan?

Bataham?

Batahang?

Atau mungkin sebuah bunyi lokal yang kemudian ditulis berbeda oleh orang Eropa?


DAN INILAH YANG MEMBUAT PENELITIAN INI MENARIK

Awalnya kita hanya ingin menjawab:

“Seberapa tua nama Batahan?”

Tetapi arsip membawa kita semakin jauh.

Dari VOC kita mundur ke 1693.

Dari 1693 kita mundur ke abad ke-17.

Dari Lombard kita sampai kepada Beaulieu.

Dan dari Beaulieu kita mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah nama di peta:

Bataham sebagai sebuah wilayah.

Orang-orang Bataham sebagai sebuah komunitas.

Bataham sebagai bagian dari jaringan ekonomi pantai barat Sumatra.

Dan ini terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda, ketika kekuasaan Aceh sedang berada pada salah satu puncak kejayaannya.


JADI, BATAHAN BUKAN “LAHIR” PADA 1693

Kalau kita memakai bukti yang sudah ditemukan sekarang, jauh lebih tepat mengatakan:

Dokumen VOC tahun 1693 bukanlah bukti pertama keberadaan Batahan. Ia adalah salah satu bukti tertulis yang lebih jelas mengenai Batahan.

Karena beberapa dekade sebelumnya, catatan perjalanan Augustin de Beaulieu sudah mengenal Bataham.

Dan bahkan sebelum itu, kita sedang mengejar bentuk Bathan dalam peta-peta kuno.

Maka pertanyaan kita sekarang bukan lagi:

“Apakah Batahan sudah ada sebelum VOC?”

Jawabannya mulai semakin jelas:

YA.

Yang sekarang harus kita pecahkan adalah:

SEBERAPA TUA sebenarnya nama BATAHAN itu?

 

DAN KITA BELUM SELESAI.

Justru sekarang penelitian memasuki tahap yang lebih seru.

Karena kalau Beaulieu menulis Bataham, kita harus membuka kembali sumber aslinya.

Bukan cukup membaca Lombard.

Bukan cukup membaca kutipan di internet.

Kita harus mencari halaman asli catatan Beaulieu, melihat sendiri bagaimana kata itu ditulis, membaca konteks sebelum dan sesudahnya, dan mencari apakah Bataham muncul sekali atau berkali-kali.

Kemudian kita bandingkan dengan:

Bathan dalam peta Portugis,

Batahan dalam dokumen VOC,

Battahan dalam kontrak 1693,

dan

Batahang dalam peta Inggris 1753.

Kalau semua itu dapat kita rangkai, kita mungkin bukan hanya bisa membuktikan bahwa Batahan sudah eksis sebelum VOC.

Kita mungkin bisa mulai menjawab pertanyaan yang jauh lebih tua:


DARI MANA SEBENARNYA NAMA “BATAHAN” BERASAL?

Dan untuk menjawabnya, kita tidak akan mulai dari legenda.

Kita mulai dari arsip.

Dari dokumen.

Dari peta.

Dari manuskrip.

Dari bahasa.

Dan satu per satu…

kita mundurkan jam sejarah Batahan.


Mémoires du voyage aux Indes Orientales du Général karya Beaulieu, halaman 99

Buku karya Deny Lombard edisi Indonesia
Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636)




No comments:

Post a Comment