Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2026/09/14

MULTATULI DAN BATAHAN

Ketika Nama Batahan Muncul dalam Catatan Douwes Dekker di Natal, 1842–1843

Batahan ternyata pernah masuk ke dalam catatan seorang tokoh besar sastra dunia.

Namanya bukan sekadar muncul dalam laporan kolonial biasa.

Nama itu muncul dalam dokumen dari masa ketika seorang ambtenaar muda Belanda bernama Eduard Douwes Dekker bertugas di Natal.

Kelak, orang ini akan dikenal dengan nama pena Multatuli, penulis Max Havelaar.

Penelusuran terhadap kumpulan surat dan dokumen Multatuli memperlihatkan sesuatu yang menarik: selama berada di Natal pada 1842–1843, Douwes Dekker bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan Batahan.

Dan dari dokumen-dokumen tersebut, kita memperoleh gambaran tentang Batahan pada pertengahan abad ke-19.



Douwes Dekker datang ke Natal

Eduard Douwes Dekker tiba di Sumatra Barat pada 1842 dan kemudian ditempatkan di Natal sebagai controleur.

Natal pada masa itu merupakan bagian dari wilayah administratif Residentie Aijer Bangies.

Dekker masih sangat muda.

Belum ada nama Multatuli.

Belum ada Max Havelaar.

Belum ada reputasi sebagai pengkritik kolonialisme.

Ia hanyalah seorang pegawai kolonial yang menjalankan tugas administratif di pantai barat Sumatra.

Tetapi surat-surat yang ditulisnya dari Natal sekarang memberi kita sebuah jendela kecil untuk melihat kondisi kawasan tersebut hampir dua abad yang lalu.

Dan di dalam jendela itu terdapat satu nama: BATAHAN

1837: Batahan sudah dikenal sebagai sebuah landschap

Menariknya, Batahan sudah tercatat beberapa tahun sebelum kedatangan Douwes Dekker.

Dalam uraian E. Francis, Resident Padang, tahun 1837, Batahan disebut sebagai:

“het landschap Battahan”

atau landschap Battahan.

Francis menulis bahwa di sebelah selatan Natal terdapat landschap Battahan yang menjadi batas selatan wilayah tersebut.

Ia juga menyebut bahwa sekitar 2.500 jiwa tinggal di wilayah Batahan dan berada di bawah pemerintahan seorang Radja.

Artinya, enam tahun sebelum surat Douwes Dekker, sumber kolonial sudah menggambarkan Batahan sebagai sebuah wilayah yang mempunyai:

  • wilayah geografis sendiri;
  • penduduk;
  • pemerintahan;
  • dan seorang Radja.

Batahan bukan sekadar titik di peta.

Ia merupakan sebuah landschap.

Sumber digital Volledige Werken – dokumen E. Francis tentang Natal dan Battahan


21 Maret 1843: Douwes Dekker sendiri menulis “Battahan”

Inilah temuan yang paling menarik.

Pada 21 Maret 1843, Douwes Dekker mengirim surat dari Natal kepada Resident Aijer Bangies.

Ia sedang berurusan dengan persoalan kebutuhan pangan untuk para pekerja perkebunan lada.

Dalam surat tersebut ia menyebut bahwa terdapat persediaan padi di Battahan.

Ia menulis:

“van Battahan, waar naar ik verneem padi voorradig is”

Kurang lebih:

“dari Battahan, yang menurut informasi saya memiliki persediaan padi.”

Douwes Dekker kemudian meminta izin untuk memperoleh padi dari sana.

Surat Douwes Dekker, 21 Maret 1843 – sumber digital Multatuli/DBNL

Ini sebuah detail kecil yang sangat berharga.

Sebab dari surat ini kita mengetahui bahwa pada 1843:

Batahan dikenal sebagai daerah yang memiliki persediaan padi.

Dan informasi tersebut sampai kepada seorang controleur yang berkedudukan di Natal.

Dengan kata lain, Batahan mempunyai hubungan ekonomi dengan kawasan Natal.


21 April 1843: Batahan dan para pelarian

Sebulan kemudian, nama Batahan kembali muncul.

Pada 21 April 1843, A. van der Ven mengirim surat kepada Douwes Dekker di Natal.

Kali ini persoalannya bukan padi.

Melainkan pelarian dan keamanan.

Dalam surat itu disebutkan:

“vooral Batahan tot schuilplaats voor deserteurs en vlugtelingen wordt gekozen”

Artinya:

“terutama Batahan dipilih sebagai tempat berlindung oleh para desertir dan pelarian.”

Surat Van der Ven kepada Douwes Dekker, 21 April 1843

Yang lebih menarik, surat tersebut juga menyebut Hoofden di Batahan.

Para kepala lokal itu diharapkan membantu pemerintah dalam mengawasi orang-orang yang melarikan diri.

Dengan demikian, dokumen tersebut memberi kita petunjuk lain:

Pada 1843 masih terdapat struktur kepemimpinan lokal di Batahan yang dikenal dan diperhitungkan oleh administrasi kolonial.

Ini sejalan dengan catatan tahun 1837 yang menyebut Batahan berada di bawah seorang Radja.


Batahan dan Pulau Taman(g)

Dalam surat yang sama muncul satu nama geografis lain:

Poeloe Taman

Seorang pelarian bernama Jan Potan diduga berada di Batahan atau Pulau Taman.

Hal ini menarik karena Pulau Tamang/Taman juga muncul dalam deskripsi Batahan tahun 1837.

Jadi kita mendapatkan kesinambungan geografis yang cukup menarik:

1837

E. Francis mencatat eiland Tamong dalam uraian tentang landschap Battahan.

1843

Administrasi Natal kembali menyebut Batahan dan Poeloe Taman dalam konteks keamanan.

Bagi penelitian sejarah lokal, detail seperti ini sangat penting karena membantu kita menghubungkan nama-nama geografis dalam dokumen lama dengan wilayah yang masih dikenal sekarang.


Batahan ternyata memiliki “pedalaman”

Ada satu temuan lagi yang tidak kalah menarik.

Pada 24 November 1843, Controleur H. Diepenhorst menulis bahwa ia baru saja kembali dari:

“de bovenlanden van Batahan”

Secara harfiah, bovenlanden van Batahan dapat dipahami sebagai daerah pedalaman/daerah atas Batahan.

Dokumen Diepenhorst, 24 November 1843 – Multatuli Online

Ini memberikan gambaran geografis yang menarik.

Batahan pada masa itu tidak hanya dipahami sebagai wilayah pantai.

Administrasi kolonial mengenal adanya “bovenlanden van Batahan”.

Artinya, ada wilayah pedalaman yang secara administratif atau geografis dikaitkan dengan Batahan.


Jadi seperti apa Batahan pada 1843?

Jika semua potongan informasi ini kita satukan, muncul sebuah gambaran yang cukup jelas.

Pada pertengahan abad ke-19, Batahan adalah:

Sebuah landschap yang memiliki penduduk dan pemerintahan lokal. Wilayah yang memiliki produksi pangan karena Douwes Dekker mengetahui adanya persediaan padi di sana. 

Wilayah yang memiliki kepala-kepala lokal

karena pemerintah kolonial berkomunikasi mengenai Hoofden Batahan.

Wilayah yang mempunyai pedalaman

karena disebut bovenlanden van Batahan.

Wilayah yang secara geografis terhubung dengan Pulau Taman/Tamong

yang juga muncul dalam catatan sebelumnya.

Dan semua itu tercatat ketika Natal berada dalam perhatian administrasi kolonial.


Lalu apa hubungan Multatuli dengan Batahan?

Di sini kita perlu berhati-hati.

Belum ada bukti yang kita temukan hari ini bahwa Douwes Dekker secara pribadi melakukan perjalanan sampai ke pusat wilayah Batahan.

Karena itu kita tidak boleh menulis:

“Multatuli pernah mengunjungi Batahan.”

Itu masih harus dibuktikan.

Tetapi kita sudah bisa mengatakan dengan dasar dokumenter:

Ketika bertugas sebagai Controleur di Natal pada 1842–1843, Eduard Douwes Dekker mengetahui dan berurusan secara administratif dengan Batahan.

Bahkan pada 21 Maret 1843, ia sendiri menulis nama Battahan dalam surat resminya.

Itulah bagian yang paling kuat. Sebelum Multatuli, Batahan sudah ada dalam arsip VOC

Dan cerita ini ternyata tidak berhenti pada 1843. Jauh sebelum Douwes Dekker datang ke Natal, nama Batahan sudah muncul dalam dokumen VOC.

Dalam Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, Batahan disebut sebagai:

“’t landschap Battahan”

dan terdapat penyebutan para:

“regenten (ponglous)”

beserta masyarakatnya.

Ini menunjukkan bahwa pada abad ke-17 Batahan telah dikenal sebagai sebuah landschap dengan struktur kepemimpinan lokal.

Maka muncul sebuah kesinambungan sejarah yang sangat menarik:

Abad ke-17

Landschap Battahan — regenten/ponglous

1837

Landschap Battahan — ±2.500 jiwa — Radja

1843

Batahan — persediaan padi — Hoofden — bovenlanden

Masa berikutnya

Perubahan struktur pemerintahan lokal dan munculnya sistem kekuriaan


Dari Batahan menuju sejarah Multatuli

Ada sebuah ironi sejarah yang menarik.

Orang yang kemudian menulis Max Havelaar dan menjadi simbol kritik terhadap sistem kolonialisme itu, ternyata pernah menjadi bagian dari administrasi kolonial yang mengatur wilayah Natal.

Dan ketika ia menjalankan pekerjaannya sebagai controleur, Batahan menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam dunia administratifnya.

Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa hampir dua abad kemudian, sebuah surat kecil bertanggal 21 Maret 1843 akan menjadi bahan bagi orang-orang Batahan untuk membuka kembali sejarah daerah mereka.

Tetapi itulah yang terjadi. Satu kalimat: “van Battahan...” ternyata cukup untuk membuka pintu menuju sejarah yang jauh lebih panjang. 


Multatuli, Natal, dan sebuah nama yang bertahan

Hari ini masyarakat Natal masih mengenal peninggalan yang dikaitkan dengan Multatuli, termasuk Sumur Multatuli dan lokasi yang dikenal sebagai bekas tempat tinggalnya.

Sementara itu, di selatan Natal, nama Batahan tetap hidup.

Nama yang muncul dalam arsip VOC.

Nama yang disebut dalam laporan 1837.

Nama yang ditulis Douwes Dekker pada 1843.

Nama yang muncul kembali dalam laporan administrasi tentang pelarian.

Nama yang bahkan memiliki bovenlanden atau daerah pedalaman sendiri.

Sejarah kadang tidak datang dalam bentuk cerita panjang.

Kadang ia muncul hanya dalam satu kalimat pendek yang ditulis hampir dua abad lalu.

Dan kali ini, kalimat itu membawa kita kepada: BATAHAN


SUMBER:

1. Garmt Stuiveling (ed.), Volledige Werken Deel 8 – Brieven en dokumenten uit de jaren 1820–1846.
Kumpulan surat dan dokumen Multatuli yang menjadi sumber utama untuk periode Natal.

DBNL – Volledige Werken Deel 8

2. E. Francis, 1837 – uraian mengenai Natal dan landschap Battahan.
Memuat keterangan mengenai posisi Batahan di selatan Natal, jumlah penduduk sekitar 2.500 jiwa, pemerintahan Radja dan Pulau Tamong.

Dokumen E. Francis – DBNL

3. Eduard Douwes Dekker, 21 Maret 1843.
Surat dari Natal yang menyebut Battahan sebagai tempat yang memiliki persediaan padi.

Surat Douwes Dekker – DBNL

4. A. van der Ven, 21 April 1843.
Surat mengenai Batahan sebagai tempat persembunyian desertir dan pelarian serta penyebutan para Hoofden Batahan dan Poeloe Taman.

Surat Van der Ven – DBNL

5. H. Diepenhorst, 24 November 1843.
Memuat penyebutan “bovenlanden van Batahan”, atau pedalaman Batahan.

Multatuli Online – Volledige Werken

6. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum.
Dokumen VOC yang memuat penyebutan “landschap Battahan” serta regenten/ponglous dan masyarakatnya.

Corpus Diplomaticum – Corts Foundation

7. Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal.
Informasi mengenai situs sejarah yang dikaitkan dengan Multatuli di Natal.

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal – Sejarah dan Budaya

No comments:

Post a Comment