Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2026/09/05

GENERASI YANG HILANG: Siapa yang Terpitus dari Tarombo


Ada satu pertanyaan menarik ketika kita membandingkan tarombo orang Batahan dengan dokumen sejarah primer Eropa.

Dalam tarombo yang diwariskan turun-temurun, ketika ditarik ke atas, ingatan genealogis masyarakat Batahan yang masih hidup hari ini pada akhirnya berhenti pada nama-nama seperti Naratap dan istrinya, Intan Baik.

Dari jalur lain, muncul Ibrahim yang bergelar Sutan Mangatimbung di Lautan, bersama rombongannya yang dalam tradisi dikaitkan dengan wilayah Aceh Selatan.

Lalu muncul pertanyaan:

Kalau begitu, siapa orang-orang Batahan yang hidup sebelum mereka?

Sebab arsip Eropa menunjukkan bahwa Batahan sudah memiliki masyarakat dan elite jauh sebelum nama-nama tersebut muncul dalam tarombo.

Yuuk kita telusuri pelan-pelan…..


BATAHAN SUDAH ADA JAUH SEBELUM ITU

Nama Batahan bukan baru muncul pada abad ke-19.

Pada abad ke-17, Batahan sudah muncul dalam jaringan politik dan perdagangan Pantai Barat Sumatra.

Dan kemudian kita sampai pada tanggal yang sangat penting:

29 Januari 1693

Pada hari itu, VOC membuat kontrak dengan pihak Batahan di rivierkant Battahan, tepi Sungai Batahan.

Dokumen tersebut mencatat enam nama dari pihak Batahan:

Ponglous Setongel alias Radja Kitchil

Radja Katiep

Radja Inda-Lilla

Southan Mandeyros

Radja Mantiko

Inda Bongsoe

Mereka tampil dalam kontrak bersama masyarakat Batahan dan para ponglous.

Jadi, pada 1693, Batahan bukanlah tempat tanpa struktur.

Ada masyarakat. Ada elite.Ada pemimpin.

Dan ada hubungan politik dengan kekuatan besar seperti VOC dan Barus.


TAPI ADA HAL YANG MENARIK

Dalam pembahasan Kielstra mengenai kontrak tersebut, hanya dua nama yang ditonjolkan sebagai pemimpin Batahan:

Orang Kaja Boengsoe dan Soetan Moeda.

Ini perlu diluruskan.

Keduanya bukan bukti munculnya pemimpin baru pada abad ke-18.

Kielstra sedang merujuk kepada kontrak 29 Januari 1693 yang sama.

Sementara itu, empat nama lainnya yang tercantum dalam kontrak kemungkinan merupakan bagian dari elite atau ponglous Batahan.

Jadi pada 1693 kita melihat sebuah struktur elite yang lebih kompleks daripada sekadar dua nama.


Dan di sinilah pertanyaan berikutnya muncul:

Siapa sebenarnya mereka, dan bagaimana nasib garis keturunan mereka?


LALU MUNCUL SEBUAH KEJANGGALAN

Kalau para elite tersebut benar-benar merupakan bagian penting dari masyarakat Batahan, mengapa nama-nama mereka tidak muncul dalam tarombo yang diwariskan hingga sekarang?

Apakah garis keturunannya putus?

Apakah mereka pergi?

Apakah mereka kalah dalam perebutan kekuasaan?

Apakah nama dan gelarnya berubah?

Atau keturunannya tetap hidup di Batahan, tetapi nama leluhurnya tidak lagi diwariskan?

Di sinilah saya mulai melihat kemungkinan adanya:

“Generasi yang Hilang.”

Bukan berarti generasi tersebut pasti mati.

Bukan pula berarti mereka pasti dibantai.

Yang mungkin hilang adalah mata rantai ingatan genealogisnya.


APAKAH VOC MENGHANCURKAN BATAHAN?

Hipotesis ini sempat muncul.

VOC memang mempunyai kepentingan besar terhadap perdagangan komoditas seperti kamper dan benzoin/kemenyan.

Kontrak 1693 juga mengatur perdagangan dan menunjukkan kepentingan VOC terhadap komoditas tersebut.

Maka sangat mungkin terjadi tekanan dan konflik kepentingan antara VOC dan elite lokal.

Tetapi kita harus jujur terhadap bukti.

Sumber sesudah 1693 justru menunjukkan bahwa Batahan tidak hilang.

Pada 1697, dokumen VOC masih menyebut Batahan dalam perdagangan kamper.

Pedagang bebas masih bergerak. Kamper masih diperdagangkan.

Kemudian pada 1705, VOC kembali berusaha mengendalikan perdagangan kamper di kawasan Ajerbangis–Batahan–Taboeijongh.

Jadi untuk saat ini kita belum mempunyai bukti bahwa VOC melakukan pembumihangusan atau genosida terhadap seluruh masyarakat Batahan setelah 1693.

Tetapi kita mempunyai bukti bahwa:

perebutan kendali ekonomi memang terjadi.

Dan itu membuka kemungkinan terjadinya perubahan elite, tekanan politik, migrasi, atau konflik yang sampai sekarang belum kita ketahui bentuknya.



LALU DI MANA POSISI NARATAP?

Ini bagian yang menurut saya sangat menarik.

Kalau sumber primer membuktikan bahwa Batahan sudah memiliki elite pada 1693, maka Naratap tidak tepat disebut sebagai awal pertama sejarah Batahan.

Namun bukan berarti Naratap tidak penting.

Justru bisa jadi:

Naratap adalah salah satu leluhur penting dari lapisan masyarakat Batahan yang garis ingatannya berhasil bertahan dalam tradisi lisan.

Begitu pula dengan Ibrahim/Sutan Mangatimbung di Lautan.

Jika tradisi tentang kedatangan mereka dari arah Aceh Selatan benar secara garis besar, mungkin kita sedang melihat lapisan masyarakat atau elite yang datang kemudian, setelah Batahan mengalami perubahan politik dan sosial.

JADI APA YANG TERJADI ANTARA 1693 DAN NARATAP?

Inilah misterinya.

Kita punya:

Batahan sebelum VOC

Elite Batahan 1693

Perdagangan kamper 1697

Pergulatan perdagangan 1705

???

Naratap + Intan Baik

dan

Ibrahim/Sutan Mangatimbung di Lautan

Di tengahnya terdapat ruang sejarah yang belum terpecahkan.

Mungkin ada migrasi. Mungkin pergantian elite.

Mungkin konflik.  Mungkin perkawinan dan percampuran kelompok. Mungkin tekanan VOC. Mungkin semuanya terjadi sekaligus.


YANG HILANG BELUM TENTU MATI

Ini mungkin bagian terpenting dari semuanya.

Dalam sejarah, tidak tercatat bukan berarti tidak ada.

Sebuah keluarga bisa tetap hidup tetapi kehilangan nama leluhurnya.

Seorang elite bisa kehilangan kekuasaan tetapi keturunannya tetap tinggal.

Sebuah kelompok bisa berpindah ke wilayah lain.

Nama bisa berubah. Gelar bisa diwariskan.

Pendatang baru bisa berbaur dengan penduduk lama.

Dan setelah beberapa generasi, nama orang-orang yang dahulu sangat penting bisa hilang dari ingatan kolektif.

Karena itu saya belum ingin mengatakan bahwa generasi tersebut “musnah”.

Saya lebih memilih menyebutnya: GENERASI YANG HILANG


Hilang dari mana?

Dari tarombo yang masih kita kenal hari ini.

Tetapi belum tentu hilang dari sejarah.

Dan mungkin juga belum tentu hilang dari keturunan orang Batahan hari ini.

Sebab boleh jadi, orang-orang yang namanya tercatat di sebuah dokumen VOC pada 29 Januari 1693 itu masih mempunyai keturunan di suatu tempat.

Kita hanya belum menemukan sambungannya.

Dan justru di situlah misteri sejarah Batahan menjadi semakin menarik.

Batahan ternyata bukan tidak punya sejarah.

Sejarahnya ada.

Nama-namanya ada.

Dokumennya ada.

Yang belum kita temukan adalah mata rantainya.

Siapa generasi yang hilang itu?

Mungkin pertanyaan inilah yang akan membawa kita menemukan bab sejarah Batahan yang selama ini belum pernah dibuka.

Referensi:

* Contract DXLVI–546, Batahan–VOC, 29 Januari 1693, Sejarah Nusantara–ANRI, Corpus Diplomaticum.

* Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, Deel IV, teks kontrak 29 Januari 1693.

* VOC, 8 Januari 1697, arsip perdagangan kamper Batahan.

* VOC, 30 Maret 1705, arsip perdagangan kamper Ajerbangis–Batahan–Taboeijongh.

* H. C. Kielstra, kajian sejarah Pantai Barat Sumatra.

* Jane Drakard, kajian politik dan perdagangan Pantai Barat Sumatra.

Catatan penting: bagian mengenai “Generasi yang Hilang” adalah hipotesis/pertanyaan penelitian, bukan kesimpulan bahwa telah terjadi genosida atau pembantaian oleh VOC. Bukti primer yang ada saat ini justru menunjukkan Batahan masih aktif dalam perdagangan setelah 1693.

No comments:

Post a Comment