Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman
Showing posts with label Natal. Show all posts
Showing posts with label Natal. Show all posts

2026/09/17

MERIAM PRANCIS MENGHANTAM NATAL!


Fort Natal Jatuh pada 1760: Ketika Inggris, Prancis dan VOC Berebut Pantai Barat Sumatra

Image ini hanya ilustrasi AI


Oleh Feri Susanto

Ada satu bab dalam sejarah Natal yang selama ini jarang dibicarakan.

Bukan tentang Natal pada zaman Hindia Belanda abad ke-19.

Bukan pula tentang perdagangan lada semata.

Tetapi tentang sebuah masa ketika Natal menjadi bagian dari perebutan kepentingan tiga kekuatan Eropa: Inggris, Prancis dan VOC.

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan abad ke-18, ketika dunia sedang dilanda Perang Tujuh Tahun (1756–1763).

Jauh dari Eropa, perang tersebut menjalar sampai ke Pantai Barat Sumatra.

Dan pada Februari 1760, kapal perang Prancis datang menyerang Natal.

Yang menarik, jauh sebelum meriam Prancis ditembakkan, dokumen kolonial sudah menyebut keberadaan sebuah tempat bernama:

fort Natal.

Fort Natal sudah tercatat sebelum serangan Prancis

Selama ini, keberadaan Inggris di Natal abad ke-18 sering dijelaskan dengan istilah factory, settlement, atau pos perdagangan.

Istilah-istilah tersebut memang tidak salah untuk menggambarkan jaringan perdagangan East India Company.

Tetapi ada satu bukti yang membuat kisah ini menjadi lebih menarik.

Dalam Corpus Diplomaticum yang dikelola Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), tercatat sebuah kontrak mengenai Natal bertanggal 20 Desember 1755 sampai 5 Januari 1756.

Dan kolom tempat penandatanganannya mencatat:

fort Natal

Dokumen tersebut merupakan Kontrak CMLXXXIX–989, tercatat dalam Corpus Diplomaticum, Jilid 6, halaman 76. (Sejarah Nusantara)

Artinya, pada pertengahan 1750-an, istilah Fort Natal sudah masuk dalam dokumentasi resmi.

Ini penting.

Sebab kita tidak sedang hanya mengandalkan cerita turun-temurun mengenai adanya benteng.

Ada dokumen abad ke-18 yang menyebutnya.

Bahkan belum berhenti di situ.

Tahun 1760: nama Fort Natal masih muncul

Pada 6–7 Maret 1760, hanya beberapa tahun setelah dokumen pertama, kembali terdapat kontrak berkaitan dengan Natal.

Dalam database ANRI, dokumen tersebut tercatat sebagai Kontrak MXXVI–1026, Jilid 6, halaman 198–200.

Tempat penandatanganannya kembali dicatat:

fort Natal

Yang menarik, dokumen ini mencantumkan sejumlah tokoh lokal maupun pejabat Eropa sebagai pihak yang menandatangani. (Sejarah Nusantara)

Dengan demikian kita memiliki dua bukti dokumenter:

1755–1756 → fort Natal

dan

6–7 Maret 1760 → fort Natal.

Jadi, istilah tersebut bukan hasil penamaan belakangan.

Ia memang hidup dalam administrasi dan diplomasi kawasan Natal pada abad ke-18.

Lalu datanglah Prancis

Di sinilah ceritanya berubah menjadi dramatis.

Pada masa itu Inggris dan Prancis sedang bertempur dalam Perang Tujuh Tahun.

Konflik tersebut bukan hanya berlangsung di Eropa. Pertarungan antara dua kekuatan maritim itu juga menjalar ke Asia.

Natal, yang berada di Pantai Barat Sumatra dan memiliki hubungan perdagangan penting, ikut terseret ke dalam konflik.

Pada awal Februari 1760, kapal-kapal Prancis muncul di lepas pantai Natal.

British Library menyimpan dokumentasi mengenai peristiwa tersebut dalam India Office Records IOR/H/95.

Katalog arsip itu secara eksplisit mencatat:

“French capture of Natal in Sumatra.”

Dokumen yang berkaitan dengan peristiwa tersebut berasal dari laporan Fort Marlborough tanggal 6 dan 21 Februari 1760. (Katalog Arsip Inggris)

Jadi dari sudut pandang arsip Inggris sendiri, peristiwa tersebut sangat jelas:

Natal direbut Prancis pada Februari 1760.

Benteng Inggris di Natal menyerah

Di sinilah istilah Fort Natal menjadi semakin penting.

Berbagai rekonstruksi sejarah mengenai serangan Prancis menyebut bahwa posisi Inggris di Natal memiliki pertahanan yang disebut sebagai benteng.

Dengan demikian, kita sekarang dapat melihat sebuah rangkaian:

Fort Natal tercatat dalam dokumen 1755–1756.

Kemudian:

Fort Natal masih muncul dalam dokumen Maret 1760.

Dan pada Februari tahun yang sama:

Natal menjadi sasaran serangan Prancis.

Ada satu persoalan kronologi yang perlu dicatat.

Dokumen ANRI mencatat kontrak Natal bertanggal 6–7 Maret 1760, sementara arsip Inggris mencatat penangkapan Natal pada Februari. Karena itu, tanggal dokumen Maret tidak boleh dibaca begitu saja sebagai bukti bahwa benteng masih dikuasai Inggris setelah serangan Februari. Dokumen tersebut perlu dilihat dalam konteks keseluruhan korespondensi dan perubahan penguasaan Natal pada masa itu.

Justru ketidaksinkronan tanggal seperti ini menarik untuk penelitian lebih lanjut.

Arsip kolonial tidak selalu berbicara dalam satu suara.

Dan tugas sejarawan adalah menyusun kepingan-kepingannya.

Bukan sekadar perang Inggris–Prancis

Yang terjadi setelah Inggris terusir dari Natal justru lebih menarik.

VOC melihat peluang.

Setelah posisi Inggris jatuh, VOC bergerak di kawasan Natal dan Tapanuli.

Artikel Deddy Arsya di Cagak.ID, yang menelusuri laporan VOC dalam Generale Missiven, menunjukkan bagaimana VOC kemudian berusaha menata kembali keberadaannya di kawasan tersebut.

Di sini muncul kembali persoalan benteng.

VOC mempertimbangkan apakah benteng yang ada perlu digunakan atau justru dihancurkan.

Ini menunjukkan bahwa benteng bukan sekadar istilah geografis.

Ia merupakan bagian dari persoalan strategis:

siapa yang menguasai benteng, menguasai titik penting di kawasan tersebut.

Mengapa Natal begitu penting?

Jawabannya bukan semata-mata karena benteng.

Natal berada di jalur Pantai Barat Sumatra yang menghubungkan berbagai pusat perdagangan dan wilayah pedalaman.

Pada abad ke-18, kawasan ini memiliki hubungan dengan daerah-daerah seperti Lingga Bayu, Mandailing dan Batahan.

Bahkan sebuah deskripsi tentang Natal yang kemudian dimuat dalam karya-karya abad ke-19 menyebut bahwa Battahan/Batahan berada di sebelah selatan Natal.

Sumber tersebut juga menggambarkan Natal sebagai pusat penting dari jaringan permukiman dan pemerintahan lokal. (DBNL)

Jadi ketika Inggris mendirikan posnya di Natal, mereka tidak sedang membangun sebuah tempat terpencil tanpa koneksi.

Mereka masuk ke sebuah kawasan yang sudah memiliki jaringan politik, perdagangan dan hubungan dengan pedalaman.

1760: Natal berpindah tangan

Kalau kita sederhanakan situasinya, Natal pada periode ini seperti berada di tengah permainan besar:

Inggris
membangun kepentingan perdagangan dan pertahanan.

⬇️

Prancis
datang sebagai kekuatan perang dan merebut posisi Inggris.

⬇️

VOC
masuk memanfaatkan perubahan kekuasaan.

⬇️

Inggris
kemudian memperoleh kembali Natal setelah perang berakhir.

Dan semua itu terjadi hanya dalam beberapa tahun.

Natal masuk ke dalam Treaty of Paris 1763

Bagian ini mungkin yang paling mengejutkan.

Ketika Perang Tujuh Tahun akhirnya berakhir, persoalan Natal bahkan masuk ke dalam Treaty of Paris, perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada 10 Februari 1763.

Dalam Article XI, Prancis diwajibkan mengembalikan wilayah yang direbut dari Inggris di Hindia Timur.

Dan nama Natal disebut secara eksplisit:

“Nattal and Tapanoully, in the island of Sumatra”

Prancis diwajibkan mengembalikan Nattal dan Tapanoully kepada Inggris. (Avalon Project)

Ini fakta sejarah yang sangat menarik.

Sebab nama Natal bukan hanya muncul dalam kontrak lokal.

Natal masuk ke dalam perjanjian perdamaian internasional yang mengakhiri Perang Tujuh Tahun.

Dengan kata lain, sebuah tempat di Pantai Barat Sumatra yang hari ini mungkin terlihat jauh dari pusat sejarah dunia, ternyata pada 1763 menjadi bagian dari diplomasi antara Britania Raya dan Prancis.

Lalu bagaimana dengan benteng yang sekarang masih terlihat?

Di sinilah penelitian kita menjadi semakin menarik.

Saya sendiri pernah datang ke Natal dan mengetahui lokasi tinggalan struktur benteng yang berada tidak jauh dari Muara Natal.

Foto tinggalan tersebut juga pernah dipublikasikan melalui kanal Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Namun secara akademis kita perlu membedakan dua hal.

Pertama: keberadaan Fort Natal dalam dokumen.

Ini sudah memiliki dasar dokumenter yang kuat.

Kedua: apakah struktur yang masih terlihat di dekat Muara Natal tersebut merupakan secara langsung bangunan Fort Natal yang disebut dalam dokumen 1755–1760?

Untuk pertanyaan kedua, kita membutuhkan penelitian arkeologi, pemetaan lama, dan perbandingan lokasi.

Kita tidak boleh melompat dari:

“Ada Fort Natal dalam arsip”

langsung menjadi:

“Bangunan yang tersisa sekarang pasti benteng Inggris 1755.”

Itu dua klaim yang berbeda.

Tetapi justru karena keduanya berada dalam ruang geografis yang sama, tinggalan tersebut layak diteliti secara serius.

Ada petunjuk geografis dari sumber abad ke-19

Menariknya, kita mempunyai deskripsi lain yang bisa membantu penelitian lokasi.

Dalam sebuah tulisan mengenai Natal yang kemudian diterbitkan dalam Volledige Werken, E. Francis menggambarkan kawasan Natal dan menyebut secara eksplisit:

“het fort te Nattal”

atau benteng di Natal.

Deskripsi tersebut bahkan memberikan gambaran mengenai hubungan benteng dengan sungai, pasar, gudang, pantai dan bukit tempat tiang bendera pernah berdiri. (DBNL)

Ini sangat berharga.

Karena sekarang kita bukan hanya mempunyai nama benteng, tetapi juga mulai mempunyai deskripsi ruang di sekitar benteng.

Dan ini dapat dibandingkan dengan kondisi geografis Natal sekarang.

Jadi, apa yang sebenarnya sudah kita ketahui?

Untuk sementara, kita bisa menyusun fakta-faktanya seperti ini:

1755–1756

Dokumen ANRI menyebut “fort Natal.” (Sejarah Nusantara)

Februari 1760

Arsip Inggris mencatat French capture of Natal in Sumatra. (Katalog Arsip Inggris)

Maret 1760

Dokumen ANRI kembali mencatat kontrak Natal dengan tempat penandatanganan “fort Natal.” (Sejarah Nusantara)

1760

VOC kemudian terlibat dalam pengaturan kembali kawasan Natal dan Tapanuli, sebagaimana ditelusuri dari Generale Missiven dalam kajian Deddy Arsya. (Sejarah Nusantara)

1763

Treaty of Paris memerintahkan Prancis mengembalikan Nattal dan Tapanoully kepada Inggris. (Avalon Project)

Abad ke-19

Sumber deskriptif kembali menyebut fort te Nattal dan memberikan gambaran mengenai posisi benteng terhadap sungai, bukit, pasar dan pantai. (DBNL)

Masa kini

Tinggalan struktur yang dikaitkan dengan kawasan benteng masih dapat ditemukan tidak jauh dari Muara Natal dan telah didokumentasikan secara visual oleh Perpustakaan Nasional RI.

Referensi

Sumber primer / arsip

  1. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Corpus Diplomaticum – Sumatra's Westkust, Kontrak CMLXXXIX–989, Jilid 6, hlm. 76, 20 Desember 1755–5 Januari 1756 — lokasi penandatanganan: fort Natal. (Sejarah Nusantara)

  2. ANRI, Corpus Diplomaticum – Sumatra's Westkust, Kontrak MXXVI–1026, Jilid 6, hlm. 198–200, 6–7 Maret 1760 — kontrak Natal; lokasi penandatanganan tercatat fort Natal. (Sejarah Nusantara)

  3. British Library, India Office Records, IOR/H/95, hlm. 667 — laporan dari Fort Marlborough, 6 dan 21 Februari 1760, mengenai French capture of Natal in Sumatra. (Katalog Arsip Inggris)

  4. Treaty of Paris, 10 February 1763, Article XI — menyebut secara eksplisit Nattal and Tapanoully di Sumatra dan kewajiban Prancis untuk mengembalikannya kepada Inggris. (Avalon Project)

  5. E. Francis, keterangan mengenai Natal, dalam Volledige Werken — deskripsi mengenai “het fort te Nattal”, sungai, bukit, pasar, gudang dan lingkungan benteng. (DBNL)

Sumber sekunder

  1. Deddy Arsya, “Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli: Inggris Terusir dari Bengkulu dan VOC Menanggung Untung Besar,” Cagak.ID — rekonstruksi berdasarkan sumber VOC dan Generale Missiven. Cagak.ID — artikel tentang serangan Prancis ke Natal dan Tapanuli

Catatan penting: foto tinggalan benteng yang dipublikasikan Perpustakaan Nasional RI merupakan bukti visual/tinggalan lapangan, tetapi hubungan langsung antara struktur tersebut dengan Fort Natal abad ke-18 masih merupakan hipotesis yang perlu diuji melalui peta lama, arsip, dan kajian arkeologis. Itu justru menjadi pertanyaan penelitian berikutnya. 