Setiap kejadian tidak pernah berdiri sendiri. Ada sebab. Ada pola. Ada
akar masalah.
Di dunia contact center, kita sering
melihat angka. AHT naik. CSAT turun. Repeat call tinggi. Error SOP berulang.
Pertanyaannya bukan “siapa yang salah?”, tapi “apa yang sebenarnya terjadi?”
Di sinilah Root Cause Analysis (RCA) menjadi senjata utama seorang QA.
RCA: Lebih dari Sekadar Analisa
RCA bukan kegiatan mencari kambing
hitam. RCA adalah proses memahami akar masalah,
bukan hanya gejalanya.
Seperti dokter yang tidak langsung
memberi obat pereda nyeri tanpa tahu sumber penyakit, QA yang matang tidak akan
langsung memberi coaching atau corrective action tanpa memahami penyebab terdalam.
Sakit kepala bisa karena kurang
tidur, stres, dehidrasi, atau masalah serius. Begitu juga error agent bisa
karena skill gap, SOP yang ambigu, sistem yang tidak ramah, atau target yang
tidak realistis.
Metodologi Itu Alat, Bukan Tujuan
Dalam framework QA dan Lean Six Sigma,
kita mengenal berbagai pendekatan:
·
Fishbone / Ishikawa untuk memetakan faktor Man, Method, Machine, Material,
Measurement, Environment
·
Pareto untuk fokus pada masalah yang berdampak terbesar
·
5 Whys untuk menggali lapisan sebab sampai ke akar
·
Data trend, sampling, dan cross
analysis
Namun penting diingat: alat tidak akan bermakna tanpa cara berpikir yang benar.
RCA bukan soal seberapa banyak tools
yang dikuasai, tapi seberapa jujur dan dalam kita mau bertanya: “Kenapa ini
bisa terjadi?” “Kalau kita ubah ini, apakah masalahnya benar-benar selesai?”
Kenapa QA Wajib Menguasai RCA
Tanpa RCA, QA berisiko menjadi:
·
Sekadar pencatat kesalahan
·
Mesin checklist kepatuhan
·
Pemberi feedback yang berulang tapi
tidak menyembuhkan
Dengan RCA, QA berubah menjadi:
·
Partner perbaikan proses
·
Penjaga kualitas jangka panjang
·
Sumber insight bagi manajemen
QA yang paham RCA tidak hanya
berkata “ini salah”, tapi “ini penyebabnya, ini
dampaknya, dan ini solusi yang paling masuk akal.”
TL dan SPv: Jangan Lepas Tangan
RCA bukan domain QA saja.
Seorang TL atau SPv yang tidak
memahami RCA akan cenderung:
·
Over-coaching agent
·
Mengulang solusi yang sama
·
Mengira masalah selesai padahal
hanya tertutup sementara
Sebaliknya, TL dan SPv yang
menguasai RCA mampu:
·
Mengambil keputusan berbasis data
·
Melakukan coaching yang tepat
sasaran
·
Mengusulkan perbaikan sistem, bukan
sekadar menekan individu
Leadership tanpa RCA itu reaktif.
Leadership dengan RCA itu strategis.
Menyembuhkan, Bukan Menambal
Melakukan RCA itu seperti tugas
dokter sejati: bukan hanya menghilangkan gejala, tapi menyembuhkan penyakitnya.
Karena dalam kualitas, perbaikan yang salah arah hanya akan mengulang masalah yang sama —
dengan wajah yang berbeda.
QA, TL, dan SPv yang memahami RCA
adalah mereka yang tidak puas dengan jawaban dangkal. Mereka memilih menggali.
Dan dari situlah kualitas benar-benar tumbuh.