"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

2026/01/20

QA Tanpa RCA Itu Seperti Dokter Tanpa Diagnosa

Setiap kejadian tidak pernah berdiri sendiri. Ada sebab. Ada pola. Ada akar masalah.

Di dunia contact center, kita sering melihat angka. AHT naik. CSAT turun. Repeat call tinggi. Error SOP berulang. Pertanyaannya bukan “siapa yang salah?”, tapi “apa yang sebenarnya terjadi?”

Di sinilah Root Cause Analysis (RCA) menjadi senjata utama seorang QA.



RCA: Lebih dari Sekadar Analisa

RCA bukan kegiatan mencari kambing hitam. RCA adalah proses memahami akar masalah, bukan hanya gejalanya.

Seperti dokter yang tidak langsung memberi obat pereda nyeri tanpa tahu sumber penyakit, QA yang matang tidak akan langsung memberi coaching atau corrective action tanpa memahami penyebab terdalam.

Sakit kepala bisa karena kurang tidur, stres, dehidrasi, atau masalah serius. Begitu juga error agent bisa karena skill gap, SOP yang ambigu, sistem yang tidak ramah, atau target yang tidak realistis.

Metodologi Itu Alat, Bukan Tujuan

Dalam framework QA dan Lean Six Sigma, kita mengenal berbagai pendekatan:

·       Fishbone / Ishikawa untuk memetakan faktor Man, Method, Machine, Material, Measurement, Environment

·       Pareto untuk fokus pada masalah yang berdampak terbesar

·       5 Whys untuk menggali lapisan sebab sampai ke akar

·       Data trend, sampling, dan cross analysis

Namun penting diingat: alat tidak akan bermakna tanpa cara berpikir yang benar.

RCA bukan soal seberapa banyak tools yang dikuasai, tapi seberapa jujur dan dalam kita mau bertanya: “Kenapa ini bisa terjadi?” “Kalau kita ubah ini, apakah masalahnya benar-benar selesai?”

Kenapa QA Wajib Menguasai RCA

Tanpa RCA, QA berisiko menjadi:

·       Sekadar pencatat kesalahan

·       Mesin checklist kepatuhan

·       Pemberi feedback yang berulang tapi tidak menyembuhkan

Dengan RCA, QA berubah menjadi:

·       Partner perbaikan proses

·       Penjaga kualitas jangka panjang

·       Sumber insight bagi manajemen

QA yang paham RCA tidak hanya berkata “ini salah”, tapi “ini penyebabnya, ini dampaknya, dan ini solusi yang paling masuk akal.”

TL dan SPv: Jangan Lepas Tangan

RCA bukan domain QA saja.

Seorang TL atau SPv yang tidak memahami RCA akan cenderung:

·       Over-coaching agent

·       Mengulang solusi yang sama

·       Mengira masalah selesai padahal hanya tertutup sementara

Sebaliknya, TL dan SPv yang menguasai RCA mampu:

·       Mengambil keputusan berbasis data

·       Melakukan coaching yang tepat sasaran

·       Mengusulkan perbaikan sistem, bukan sekadar menekan individu

Leadership tanpa RCA itu reaktif. Leadership dengan RCA itu strategis.

Menyembuhkan, Bukan Menambal

Melakukan RCA itu seperti tugas dokter sejati: bukan hanya menghilangkan gejala, tapi menyembuhkan penyakitnya.

Karena dalam kualitas, perbaikan yang salah arah hanya akan mengulang masalah yang sama — dengan wajah yang berbeda.

QA, TL, dan SPv yang memahami RCA adalah mereka yang tidak puas dengan jawaban dangkal. Mereka memilih menggali. Dan dari situlah kualitas benar-benar tumbuh.