Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2014/01/17

Sungai, Sampah, dan Kita.



Saya bersama keluarga sempat tinggal selama 3 tahun di lokasi yg dekat dengan pinggir sungai kecil di Bandung (2008-2011). Lokasinya tidak jauh dari Pasar Induk di kota itu. Mohon maaf jika saya harus ceritakan ini. Satu hal kebiasaan yg tidak baik dari warganya yang kami saksikan ketika itu adalah membuang sampah ke sungai. Tiap hari mereka melakukan itu. Sampahnya semakin menumpuk. Mungkin warga setempat akan merasa 'aman' pada saat musim kemarau. Tapi akan menjadi masalah besar ketika musim penghujan. 

Apakah warga tidak paham kalau kebiasaan membuang sampah itu akan berakibat buruk? Sungai akan tersedimentasi (terjadi pendangkalan). Air sungai tercemar berat. Aliran air jadi mandeg, dan berakibat banjir. Yang ujung-ujungnya juga merugikan masyarakat itu sendiri. Ah, entahlah! 'Gak mungkin juga mereka tidak paham,' pikir saya.Tapi, kalau paham, kenapa mereka masih terbiasa saja dengan kebiasaan buruk membuang sampai ke sungai itu? Nah, inilah masalahnya. 'Kebiasaan ini harus dirubah,' tekad saya.

Terus terang sangat gemas melihatnya. Tapi segemas-gemasnya kami tetap harus menghargai dan menghormati sesama warga. Lagi pula kami ini pendatang disitu. Karena pendatang, maka menegur langsung tentu bukan pilihan yang bijak. Melarang langsung warganya buang sampah ke sungai, bisa saja akan menjadi masalah buat saya dan keluarga. Bisa-bisa kami dimusuhin dan diusir. Hehe.. .  

Yang perlu kami lakukan adalah 'berbuat' sesuatu yang menurut kami baik. Mudah-mudahan. Ya, kami sedang belajar mendidik keluarga sendiri. Memberi contoh buat anak pertama kami juga. Sukur-sukur pula dapat 'menginspirasi' warga setempat. 

Setiap pagi, sambil berangkat kerja ke arah Jl. Buahbatu, saya selalu membawa sampah yang sudah dikemas rapi di kantong plastik. Itu adalah sampah domestik kami. Saya bawa dengan diikatkan di bagian samping motor. Rata-rata ada 2 kantong plastik berukuran sedang yang saya buang setiap paginya. Saya menitipkan sampah tersebut di TPS Tegallega yg lokasinya memang searah dengan kantor tempat saya bekerja.  

Terpaksa jauh membuang sampah tersebut, karena di lingkungan sekitar tempat kami tinggal belum ada fasilitas penyimpanan sampah sementara yang memadai. Ada juga beberapa tong sampah yang dikordinir RT/RW setempat, tapi sampahnya sering melimpah kurang terurus. Itulah alasan saya kenapa sampah-sampah domestik rumah tangga kami itu dibuang jauh. Meskipun ada pengeluaran tambahan sedikit. Saya dan keluarga secara batin merasa lebih plong. Seribu atau dua ribu rupiah saya sodorkan ke petugas kebersihan di sudut lapangan itu setiap kali menitipkan sampah tersebut.

Dengan melakukan hal itu setiap pagi, ada juga tetangga yang mulai penasaran. Awalnya mereka tidak menyangka yang saya bawa itu adalah sampah. Malah ada yang menyangka itu adalah barang dagangan. 

Meski melihat kebiasaan kami yang 'berbeda' ini, waktu itu belum ada tetangga yg melakukan hal yg sama. Tidak satu pun yang meniru. Mereka tetap saja membuang sampai ke sungai. Hingga kami pindah dari sana pun, kebiasaan warga membuang sampai ke sungai itu belum berhenti juga. Mereka terus melakukannya. Duh! Kami sendiri berusaha konsisten saja.

Meskipun 'upaya' sederhana yang kami lakukan itu tidak seberapa dampak langsungnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun setidaknya bisa menjadi sumbangan kecil bagi alam yg lebih baik. Semoga. Lebih dari itu, kami sebenarnya sedang belajar melakukan perubahan, mulai dari diri sendiri. Mulai dari keluarga sendiri.

***
Setelah tidak lagi menetap di daerah sana, kami sempat bersilaturrahmi lagi ke sana tahun lalu. Satu hal yang membuat kami bahagia adalah, si pemilik rumah yang kami kontrak dulu sudah merubah kebiasaanya. Kami lihat si bapak pemilik rumah itu sedang menyiapkan kemasan sampahnya untuk disangkutkan ke motornya. Dia akan buang keluar. Wah, ini yang saya dan keluarga lakukan selama 3 tahun dulu. Artinya, mereka sudah tidak buang sampah lagi ke sungai. Saya memang tidak sempat memperhatikan warga yang lain. Tapi kami positive thinking saja, semoga yang melakukan ini bukan si bapak saja. Mudah-mudahan warga lainnya juga ikut 'berubah' ke kebiasaan yang lebih mencintai lingkungan itu. Aamiin


Photo ilustrasi: powered by google

2014/01/14

WAWASAN SASTRA: Kepengarangan dan Konstruksi Sosial

Tahun 2000, yakni 38 tahun setelah polemik yang bersumber kepada satu dalil itu, bahwa kualitas ”kesucian” seorang pengarang terletak kepada orisinalitasnya, muncul buku Hidup Matinya Sang Pengarang yang disunting oleh Toeti Heraty. Isinya, berbagai pemikiran mengenai kepengarangan, yang pada mulanya memang menunjukkan posisi pengarang sebagai sosok genius dan agung, yang difungsikan sebagai sumber pencerahan bagi masyarakatnya, tetapi yang segera disusul dengan munculnya tesis kemandirian teks, menggusur sama sekali maksud dan tujuan pengarang. Maka dalam hal ini pembaca seolah bertiwikrama menjadi Mahapembaca, yang sambil ”membunuh” pengarang mendapat hak sepenuhnya melakukan pembermaknaannya sendiri. Kenapa bisa begitu?

Esai Roland Barthes yang juga diterjemahkan dalam buku ini, Kematian Sang Pengarang, menyampaikan bahwa sebetulnya pengarang dalam konteks yang kita bicarakan, bukan pendongeng tradisional, adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Perancis, dan keyakinan pribadi Reformasi tempat diketemukannya kehormatan individual atau manusia pribadi. Dalam sastra, pribadi pengarang menjadi sangat penting, sebelum digugurkan pendapat bahwa pengarang modern lahir pada waktu yang sama dengan teksnya; ia bukan subjek dari mana buku itu berasal dan setiap teks ditulis secara abadi kini dan di sini, yang dalam istilah linguistik disebut performatif, yakni hanya terdapat pada orang pertama dan dalam waktu kini, ketika tindak bicara tidak mempunyai isi lain dari tindak pengucapannya.

Menurut Barthes, teks bukan lagi deretan kata dengan makna teologis, yakni bahwa ada ”pesan” dari pengarang yang berperan bagaikan Tuhan, melainkan teks sebagai ruang multidimensi tempat telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang aslinya: teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya. Seorang pengarang diibaratkannya hidup di dalam kamus raksasa, tempat ia hidup hanya untuk meniru buku, dan buku ini sendiri hanya merupakan jaringan tanda, peniruan tanpa akhir. Suatu teks terdiri dari penulisan ganda, beberapa kebudayaan yang bertemu dalam dialog, dalam hubungan-hubungan, yang terkumpul bukan pada pengarang (yang kekiniannya sudah berlalu) tetapi pada pembaca, ruang tempat teks diguratkan tanpa ada yang hilang. Pembaca adalah seseorang yang memegang semua jalur dari mana tulisan dibuat dalam medan yang sama. Sehingga, menurut Barthes, mitos harus dibalik: Kelahiran pembaca harus diimbangi oleh kematian pengarang.

Namun, kita harus hati-hati dalam menafsir kata ”pengarang” ini karena menurut Michel Foucault dalam Siapa Itu Sang Pengarang? yang juga diterjemahkan di sini, di antara ulasannya yang panjang lebar, bahwa ”… akan sama kelirunya jika kita menyamakan pengarang dengan pengarang sebenarnya, kalau kita menyamakannya dengan pembicara fiktif; fungsi-pengarang dilaksanakan dan beroperasi dalam analisis itu sendiri, dalam pembagian dan jarak.” Nah, apakah ini berarti wacana yang menciptakan pengarang, dan pengarang tidak menciptakan apa-apa, karena fungsi bagian dari wacana?

Sampai di sini, untuk sementara disimpulkan bahwa (1) plagiarisme sebagai bentuk kebersalahan timbul dari mitos kesucian pengarang yang ditentukan oleh orisinalitasnya; (2) meski secara filosofis dominasi pengarang atas teks sudah terhapus, tidak berarti bahwa plagiarisme menjadi halal karena mengakui ketidakmungkinan untuk jadi asli tidaklah sama dengan pemberian izin untuk mengutip tanpa menyebutkan sumbernya; (3) plagiarisme sebagai masalah etis, meski moralitasnya merupakan tanggung jawab pelaku terhadap dirinya sendiri, layak diterjemahkan secara legal dan sosial, sejauh terdapat pihak yang karenanya mendapat kerugian dan ketidakadilan dalam segala bentuk; (4) setiap bentuk kebersalahan dalam konteks ini tentunya diandaikan dapat ditebus kembali.

Seno Gumira Ajidarma. Wartawan
Diambil dari link ini.

MERANTAULAH...

Syair indah dari imam Syafi'i ini terasa so inspiring ketika dibacakan Rhenald Kasali malam ini (14 Januari 2014) di Rumah Perubahan TVRI dengan bintang tamu, tokoh perubahan 'Hasnul Suhaimi'. Putera Minang yang kini menjadi CEO XL Axiata.

MERANTAULAH...

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang

Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.

(Diwan Imam Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i)

2013/12/31

Tanggal Berapa Anda Lahir dalam Kalender Islam?

Catatan ini merupakan salah satu ajakan yang saya terima dari seorang ustadz untuk senantiasa mencintai kehidupan dengan nuansa dien-Islam. 'InsyaAllah. Sedikit-sedikit dan perlahan saja', ajaknya. Mudah-mudahan Allah SWT menguatkan kita untuk senantiasa istiqomah dalam mempelajari dan menerapkan ilmu-ilmu Islam. Selain itu, catatan kali ini juga terinspirasi oleh gegap gempitanya ucapan selamat tahun baru 2014 yang akan dirayakan oleh manusia penghuni planet Bumi malam nanti. Termasuk juga oleh sebagian besar umat Islam.

Betapa tidak terinspirasi, pada saat menghadiri renungan awal tahun 1435 H sekira dua bulan yang lalu di masjid dekat kantor, saya dan juga para hadirin lainnya begitu tersentak atas pertanyaan sederhana ustadz ketika itu.

Pertanyaannya seperti ini:
-Tanggal berapa Anda lahir?
-Tanggal berapa hari pernikahan Anda?
-Tanggal berapa anak pertama anda lahir? Anak kedua, dst?
-Tanggal berapa Anda wisuda? dst.

Sebagian besar hadirin dapat menjawabnya dengan seketika. Spontan. Tidak perlu mengingat lama. 18 Februari, 27 November, 13 Desember, dan lain-lain.

Selanjutnya sang ustadz mengajukan pertanyaan yang sama, tapi hadirin harus menjawabnya dalam perhitungan kalender Islam. Ya, kalender Hijriyah. Sontak semua terdiam. Hening. Tak ada yang ingat. Atau bisa jadi tak ada yang ingin mengingatnya. Duh!

'Nah, inilah masalah kita', ujar pak ustadz. Mengingat kejadian penting dalam hidup kita atau pun kejadian penting dalam level nasional dan internasional pada kalender / penanggalan Masehi itu tidak salah. Boleh, toh sudah menjadi 'konsensus' internasional. Tapi jangan lupa, bahwa Islam juga memiliki penanggalannya sendiri. Sungguh ironis, jika kita mengaku Islam tapi lupa kalau kita punya penanggalan Islam. Serta lebih ironis lagi jika pura-pura melupakannya.

Sekarang kita coba yuk, apakah sahabat masih ingat nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah? Lupa? Tidak masalah. Tapi janji ya, mulai sekarang kita akan terus mengingat dan menghapalkannya.

Yuk, kita ingat kembali. Total dalam satu tahun Hijriyah, ada 12 bulan. Sama saja dengan jumlah bulan pada penanggalan Masehi atau Miladiyah. Setiap bulannya (Hijriyah) terdiri dari dari 29 atau 30 hari. Hanya ada dua kemungkinan. 29 atau 30, pasti itu saja. Tidak akan kita temukan adanya jumlah hari 28 ataupun 31 dalam 1 bulan Hijriyah. Inilah salah satu perbedaan Hijriyah dengan Masehi. Perbedaan berikutnya adalah sistem perhitungannya. Tahun Masehi didasarkan pada proses berputarnya bumi terhadap matahari (solar). Sedangkan penanggalan Hijriyah berdasarkan perputaran bulan (lunar).

Berikut ini adalah nama- nama bulan dalam kalender Hijriyah:
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi'ul Awal
4. Rabi'ul Akhir (Rabi'ussani)
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir (Jumadissani)
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10.Syawal
11. Dzulqa'idah
12. Dzulhijjah

Mudah-mudahan dengan tulisan singkat ini membuat kita cinta pada penggunaan kalender Islam. Tipsnya, catatlah kejadian-kejadian yang menurut kita penting dalam dua versi. Misalnya tanggal lahir anak pertama adalah 27 November 2007, itu bertepatan dengan 17 Dzulqa'idah 1428 H.Dan lain-lain.

Di sini saya sertakan juga aplikasi konversi tanggal masehi ke tanggal Hijriyah. Sehingga sahabat semua dapat mengetahui tanggal-tanggal dalam Hijriyah pada tahun berapapun (lebih kurang dalam 100 tahun). Dengan menggunakan aplikasi ini tidak perlu repot lagi harus menyimpan kalender cetak bertumpuk-tumpuk. Aplikasinya sendiri sudah saya simpan pada halaman depan blog ini dengan judul menu 'ISLAMIC CALENDAR CONVERTER'.

Petunjuk Pencarian:
Sahabat tinggal klik pada tanggal, bulan, dan tahun yang diinginkan (Masehi-nya), dan tanggal Hijriyah-nya pun akan muncul otomatis setelah menekan tombol 'CONVERT', seperti terlihat pada gambar di samping.

Jika sahabat juga berminat mencoba silakan langsung meluncur ke tautan berikut.


Terimakasih telah berkenan menyimak.
Semoga bermanfaat!




2013/12/27

Cara Mudah Kembali ke Yahoo! Mail Classic

Bagi sahabat pengguna email Yahoo terbaru yang mungkin merasakan akses emailnya menjadi lambat ada baiknya memikirkan untuk melakukan hal ini. Kembali ke Yahoo! Mail classic saja. Memang, banyak fitur yang bisa sahabat eksplor pada versi baru tersebut. Mulai dari 'Yahoo! Messenger' yang terintegrasi, 'Facebook chat', Aplikasi Yahoo! seperti 'Flickr', hingga  MyDrive dan lain sebagainya. Hanya saja sebagai konsekuensinya proses loading yang lama. 

Nah, jika pilihannya sudah ditentukan, yaitu kembali ke Yahoo! Mail Classic. Maka inilah langkah-langkahnya:

Pertama, sahabat log-in ke halaman Yahoo!
Kemudian klik menu 'setting' yang terdapat pada bagian kanan atas. 
Selanjutnya pilih 'viewing email'. Pada bagian sebelah 'viewing email', silakan klik tanda lingkaran 'basic'. Jangan lupa tekan tombol save setelah itu. Dan selesai.

Untuk lebih jelasnya, silakan dilihat gambar berikut:

Semoga bermanfaat.
---

Bagi yang berkenan, silakan join pada blog ini. Menu 'join this site' terdapat pada halaman beranda. Terimakasih.
---


2013/12/23

Di Australia, Polwan Muslimahpun Boleh Berjilbab


Polisi Wanita (Polwan) Muslimah Australia yang mengenakan hijab (jilbab). (Foto: Mais Zaher)Gonjang ganjing boleh tidaknya Polisi Wanita (Polwan) berjilbab di negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di jagad raya, Indonesia tercinta, menemukan secercah harapan sejak pernyataan Kapolri yang baru, Jenderal Polisi Sutarman, yang mengizinkan para polwan muslimah mengenakan jilbab sesuai dengan syariat agamanya, maka kita lihat berbondong-bondonglah para Polwan muslimah tersebut mengenakan jilbab sebagai bagian dari syariat agama yang diyakininya.

Di tengah euphoria yang dirasakan dan dirayakan oleh saudari muslimah kita yang Polwan itu, tiba-tiba beredarlah Telegram Rahasia (TR)  yang memerintahkan para polwan muslimah tersebut untuk menunda mengenakan jilbab.

Telegram  yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Oegroseno  yang sifatnya rahasia dan hanya untuk  kalangan internal polri tersebut akhirnya bocor dan menjadi konsumsi publik.
Komitmen Polri pun dipertanyakan banyak pihak karena seolah Polri telah menelan ludah yang sudah dikeluarkannya. TR yang bocor dan beredar melalui berita-berita online itu tentu telah mengangetkan pihak yang bermain rahasia.

Tapi dibalik kekagetan polri itu sebetulnya ada satu pelajaran khusus (hikmah) yang bisa mereka petik dengan TR yang telah mencoreng muka mereka sendiri sebagai institusi yang katanya pelindung masyarakat itu.

Mereka sepertinya harus mengingat-ingat dan belajar Al Qur’an Surat Al-Anfaal ayat 30 yang sebagian ayat terakhirnya berbunyi (dalam ejaan latin), wayam kuruuna wayam kurullahu wallahu khairul maakiriin. Artinya “… mereka memikirkan tipu daya (makar) dan Allah menggagalkan tipu daya (makar) itu”. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan tipu daya yang lebih hebat dari yang mereka pikirkan.
Pelajaran lain buat Polri dari kasus bocornya TR ini adalah supaya ke depan Polri bisa lebih bijak dalam melangkah dan bereaksi. Tidak reaktif yang akhirnya kontra produktif. Setelah kejadian bocornya TR tersebut ada beberapa berita online yang menunjukkan bahwa Polwan muslimah di Inggris dan Kanada ada yang mengenakan jilbab ketika bertugas. Bila tidak ingin terlalu jauh melihat ke Inggris dan Kanada, maka Polri bisa melihat dan belajar dari negara tetangga, Australia,  yang membolehkan polisi muslimah mengenakan jilbab saat dinas.

Foto yang ada di tulisan ini adalah bukti bahwa kebebasan menjalankan syariat agama di negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama (agnostik) seperti Australia pun membolehkan Polwan muslimah berjilbab saat berdinas. Bila kita ke airport di negara bagian Western Australia misalnya, jangan kaget juga kalau petugas imigrasi muslimah di bandara ada yang berjilbab.Pada akhirnya Polri juga harusnya bisa belajar memahami bahwa Indonesia  yang mayoritas penduduknya muslim ini sedang mengalami kebangkitan dalam memahami dan mengamalkan agamanya dan akan kontra produktif bila Polri menjadi barisan penghambat kebangkitan umat Islam di negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di planet bumi ini. (nh/sbb/dakwatuna)

Bila tidak ingin terlalu jauh melihat ke Inggris dan Kanada, maka Polri bisa melihat dan belajar dari negara tetangga, Australia,  yang membolehkan polisi muslimah mengenakan jilbab saat dinas.

Sumber: Klik Disini

Gelandang Arsenal Ini Hafal 19 Juz Alquran

Gelandang Arsenal, Abou Diaby menunjukkan jersey Arsenal miliknya untuk dilelang dalam acara malam amal untuk Muslim Rohingya, yang digelar London Muslim Center. (rohingyablogger.com / ROL)Gelandang Arsenal dan Timnas Prancis, Abou Diaby dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim. Yang mengagumkan, ia ternyata juga seorang hafiz alias penghafal Al-Quran.


Dalam akun twitter, salah satu pengajar Ebrahim Collage di London, Mufti Muhammad, @Mufti_Muhammad_ terungkap kalau mantan gelandang Auxerre itu hafal 19 juz Al-Quran. Bagi Diaby, kunjungan ke Ebrahim Collage adalah hal biasa. Sebab ia merasa nyaman berada dalam komunitasnya.
“In conversation with Arsenal Footballer Abu Diaby @ Ebrahim college dinner tonight, who’s memorised 19 ajza of Qur’an! (Dalam perbincangan dengan pemain Arsenal Abu Diaby di Ebrahim Collage pada momen makan malam, siapa yang hafal 19 juz Al-Quran,” sentil Mufti Muhammad kepada Diaby.

Diaby juga disebut-sebut sebagai salah satu donatur tempat sekolah Islam terkenal di Ibu Kota Inggris itu. Di Ebahim Collage juga mendidik dan membimbing mualaf yang ingin mengenal lebih jauh ajaran Islam.
Ia juga aktif di berbagai acara sosial, seperti malam amal untuk etnis Muslim Rohingnya. (Karta Raharja Ucu/Erik Purnama Putra/ROL)

Sumber: Klik Disini

2013/12/20

Tentang Feri

Setelah hampir 5 tahun belajar menulis di blog ini, akhirnya saya merasa perlu menambahkan halaman 'Tentang Feri' ini. Kenapa? Sederhana saja, 'buat latihan menulis' lagi. hehehe. Kalaupun ada manfaat lain, misalnya pengunjung jadi sedikit mengenal saya, anggaplah itu bonus sampingan saja :D

Baiklah, kita mulai.

Kalau melihat dari nama, Feri Susanto, sahabat pasti tak perlu berfikir dua kali untuk menebak saya adalah bersuku Jawa. Tapi, sayang sekali tebakan itu meleset jauh. Saya mewarisi darah Minang dari papa, dan umak yang keturunan Aceh Selatan . So, hanya nama saja yang 'seperti' Jawa. Totalnya adalah darah Sumatera.


BATAHAN: KOTA IKAN

Masa kecil, saya habiskan di kampung kelahiran. Sebuah kota kecil bernama Batahan. Nun jauh di mata. Berada di garis perbatasan propinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Berada persis di bibir pantai, dan berhadapan langsung dengan pantai barat, Samudera Hindia. Secara histroris, kultural, dan penetapan wilayah dari zaman VOC hingga tahun 1954, Batahan berada di keresidenan Air Bangis (Sumatera Barat). Namun pada masa pemerintahan Soekarno melalui UU tentang batas wilayah Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara, Batahan masuk ke dalam wilayah Sumatera Utara. Hingga hari ini. Batahan masuk ke dalam wilayah kabupaten Mandailing Natal. (Segera akan masuk ke wilayah DOB Kabupaten Pantai Barat Mandailing).

Dahulu, ketika saya masih kecil, Batahan ini dikenal sebagai 'kota Ikan'. Disebut sebagai kota Ikan karena memang produksi ikan ketika itu sangat tinggi. Saya masih ingat betul, setiap hari beberapa truk membawa ikan hasil tangkapan nelayan ke kota Padang, Medan, Panyabungan, dll. Ikan khusus untuk konsumsi masyarakat setempat pun sangat berlimpah. Segar. Murah. Ah, itu dulu...

Kini, sudah jauh berbeda. Ikannya tidak banyak lagi. Jangankan menjualnya ke kota lain, untuk keperluan konsumsi penduduknya saja, terkadang sudah sangat sulit. Kalaupun ada harganya pasti mahal. Bahkan bisa lebih mahal dari harga di tempat-tempat penjualan ikan di kota-kota besar.

Keadaan tersebut terjadi terutama semenjak adanya 'pukat harimau' atau 'hamparan dasar' dari nelayan yang entah datang dari mana, yang merusak ekosistem laut di sana. Alat tangkapan mereka tak cuma menjaring ikan yang besar, tapi juga yang kecil-kecil, hingga 'kerakusannya 'merusak terumbu karang. Sesuai dengan namanya, 'hamparan dasar', jaring-jaring itu ikut mengangkat semua yang ada di dasar laut. Uugh! Sungguh sangat menyedihkan.


Berharap ekosistem laut di Batahan bisa pulih kembali, sehingga pendapatan (taraf kesejahteraan) nelayan yang merupakan profesi mayoritas masyarakat sana dapat meningkat. Kalaupun usaha pemulihan ekosistemnya belum bisa dilakukan melalui konservasi terumbu karang, setidaknya pemerintah daerah sana dapat segera mengatasi kebiasaan buruk dari 'pukat harimau' atau 'hamparan dasar' itu sehingga perusakan ekosistem laut tidak terus-terusan terjadi.

Sungguh, kejahatan lingkungan itu tak boleh dibiarkan terus menerus. Masyarakat setempat tidak boleh kenal lelah untuk melaporkan semua bentuk perusakan alam ini ke pihak terkait. Masyarakat harus bersatu demi kepentingannya sendiri. Pemkab harus lebih berpihak kepada masyarakat. Kepolisian harus tegas dalam penegakan hukum!
***

RIWAYAT PENDIDIKAN 1: SD-SMU

Jenjang pendidikan SD hingga SLTP saya cecap di kampung kelahiran. SD Negeri Batahan (1985-1991), dan MTS Muhammadiyah 11 Batahan (1991-1994) adalah sekolah tujuan saya dan beberapa orang saudara waktu itu.

Selesai memperoleh ijazah SLTP. Saya melanjutkan 'kewajiban' belajar ke kota Bandung. Kota yang jaraknya lebih dari 2400 km dari Batahan. Di sebuah lembaga pendidikan dalam naungan organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammadiyah. Nama sekolahnya, SMU Muhammadiyah 1 Bandung. Saya lulus tahun 2007.

Saya sangat berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Teknik Lingkungan ITB adalah pilihan saya ketika itu. Tapi, takdir berkata lain. Papa mulai sakit-sakitan tepat pada tahun ketika saya harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Usaha dagangnya perlahan-lahan padam. Uang modal jadi termakan. Juga untuk biaya obat-obatan. Terpaksa rencana kuliah di tahun itu ditunda. Ditunda untuk beberapa lama. Bahkan hingga tiga tahun lamanya, keuangan keluarga masih belum memungkinkan untuk mengirim saya ke perguruan tinggi. Sedih rasanya. Tapi saya tidak boleh berdiam diri saja. Saya harus melakukan sesuatu. Nasib harus dirubah!

Selama masa 'pengangguran' 3 tahun itu (Juli 1997-Juli 2000), saya banyak melakukan perjalanan ke beberapa kota di pulau Jawa. Mulai dari Purwakarta, Garut, Yogyakarta, hingga Surabaya. Perjalanan yang tidak terlalu jelas arahnya. 'Yang penting harus terus bergerak', itu prinsip saya. Banyak 'pekerjaan serabutan' yang pernah saya coba. Mulai dari berdagang di pasar-pasar kaget, menjajakan barang jualan orang lain, mengajar TK, hingga menjadi pengantar sayur ke restoran-restoran. Bahkan pernah juga mencoba melamar ke pabrik-pabrik tekstil / garmen di Bandung, tapi tidak ada yang menerima. Entah kenapa?  Mungkin karena saya kurang lihai dalam wawancara dengan HRD ketika itu. Terlalu polos. Jujur dalam berkata-kata. Atau bisa jadi mereka menangkap 'signal' bahwa saya memang tidak cocok menjadi buruh pabrik. Selain 'sulit' untuk diatur, mereka mungkin khawatir juga saya berpotensi menjadi pemimpin buruh yang kritis. Soalnya, mereka menemukan data di CV, saya adalah ketua organisasi intra sekolah selama di SLTP dan SMU. Bakat leadership saya memang sudah ditempa oleh pendidikan Muhammadiyah, tempat saya menimba ilmu. Ini yang kemudian sangat membantu saya meniti karir di tahun-tahun berikutnya.

Pahitnya hidup sudah saya rasakan di usia belasan tahun itu. Berada jauh dari kampung halaman, jauh dari kehangatan kebersamaan keluarga. Tapi kehidupan tetap harus dijalani. Keluarga dekat tidak ada, justru membuat saya terpaksa menemukan 'keluarga baru' di tanah rantau. Banyak 'saudara baru' yang saya temukan dalam perjalanan hidup ini. Alhamdulillah semuanya sangat baik.

Dimasa tiga tahun yang sangat penting dalam pembentukan karakter 'tough' dalam hidup tersebut, saya beruntung mendapatkan program beasiswa dari kementerian Tenaga Kerja di tahun 1998, melalui sebuah program pendidikan di Balai Latihan Kerja Jawa Barat. Saya diterima belajar pada jurusan 'Listrik'. Dengan latar belakang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di SMU, membuat saya mudah mengikuti semua bentuk pembelajaran teori maupun praktek. Total selama sembilan bulan saya belajar di sana. Termasuk satu bulan melakukan praktek lapangan. Saya ditugaskan berpraktek lapangan di RRI (Radio Republik Indonesia) Jawa Barat, Jalan Diponegoro kota Bandung. Selesai membuat laporan kerja lapangan, sebuah ijazah berlisensi negara saya dapatkan. Tapi entah kenapa, saya tidak tertarik memanfaatkan ijazah itu untuk melamar kerja.


RIWAYAT PENDIDIKAN 2: PERGURUAN TINGGI
-----------------------under construction-----------------------


RIWAYAT PENDIDIKAN 3: PELATIHAN, TRAINING DAN KURSUS-KURSUS
-----------------------under construction-----------------------

 
RIWAYAT ORGANISASI
-----------------------under construction-----------------------


RIWAYAT PEKERJAAN
-----------------------under construction-----------------------

---Bersambung---


2013/12/17

Kebohongan Amerika tentang Christopher Columbus


http://daulahislam.com/wp-content/uploads/2013/11/christopher-colombus.jpg
Mungkin diantara kita sudah mengetahui soal fakta sejarah asli mengenai Columbus, tokoh yang selalu disebut-sebut sebagai penemu benua Amerika. Nah, kini saatnyalah kita meluruskan sejarah yang ada, dan semoga dengan pengetahuan ini, pelajaran di sekolah tidak lagi mengajarkan fakta yang salah kaprah.

Ada banyak kebohongan yang sangat mencengangkan ketika para penulis dan peneliti sejarah menguak sejarah Christopher Columbus. Rasa penasaran ini berdasar pada kenyataan, bahwa setiap tahun ada satu hari khusus yang disebut “Columbus Day” sebagai peringatan atas jasanya sebagai penemu Benua Amerika. Benarkah?

Di Indonesia memang tidak secara langsung terkena dampaknya, namun pemahaman yang diterima dalam ranah pendidikan formal – betapa hebatnya Columbus, tentu akan mengaburkan kebenaran. Semoga guru-guru dan murid-murid di sekolah, tidak menelan mentah-mentah isi teks pelajaran sejarah tentang si Columbus ini.

Mudah-mudahan beberapa fakta di bawah ini bisa membuka mata kita mengerti betul akan kebenaran suatu sejarah.

1. Tahukah kamu apa alasan sebenarnya Columbus pergi berlayar?
 
Columbus memperkosa putri salah satu bangsawan Spanyol yang masih berusia 13 tahun. Pengadilan tidak bisa memutuskan ia harus di hukum mati. Terjadi pada tahun 1491 dan seorang Pastor bernama Pastor Perez menengahi atas nama Columbus dan memohon dengan Ratu Isabella untuk mendanai Columbus yang , jika ia berhasil akan mampu untuk mengkonversi penduduk asli Kristen, sehingga akhirnya Ratu Isabella mengirimnya dalam misi mencari benua baru (saat itu tujuan utama adalah mencari India) dan dengan harapan, Columbus tidak akan bisa pulang kembali.

2. Jurnal Columbus
Saat akhirnya Columbus mendarat pertama kali di Benua Biru Amerika,  ia masih mengira inilah tanah India. Saat itu para penduduk asli menyambut Columbus dengan gembira. Namun, sebaliknya apa yang ditulis Columbus dalam jurnalnya?

“Mereka membawakam kami burung beo, bola kapas dan tombak dan banyak hal lainnya sebagai hadiah.  Mereka rela memperdagangkan segala yang mereka miliki … Mereka tidak memanggul senjata, padahal saya menunjukkan pedang. Mereka tidak memiliki besi. Tombak mereka terbuat dari tebu … Mereka akan dengan mudah kami taklukan menjadi budak…. Dengan lima puluh orang saja, kita bisa menundukkan mereka semua dan membuat mereka melakukan apapun yang kita inginkan.”

Columbus juga menulis, “Saya percaya, bahwa mereka akan dengan mudah menjadi orang Kristen buatan, karena sepertinya mereka tidak beragama.”
 

Dalam catatan hariannya, Columbus mengakui, bahwa saat ia tiba di Hindia (ia saat itu masih percaya telah menemukan India, bukan Amerika), ia menyiksa penduduk pribumi, menggantung, mencambuknya, hanya demi satu informasi penting : “Dimana ada Emas?

Helen Ellerbe, dalam “The Dark Side of Christian History” (hal. 86-88), menggambarkan keberingasan Columbus. Selain menyiksa, ia juga sering memperkosa perempuan-perempuan pribumi, lalu mencambuk mereka demi kesenangan belaka.

Koloni yang di bawa Columbus pada pelayaran berikutnya (1496), di klaim bertanggungjawab atas kematian 34 juta penduduk asli Amerika.


3. Colombus Penyebar Sifilis di Europa


Pandemi sifilis melanda Eropa tak lama setelah Columbus ‘kembali, dan itu mengubah jalannya sejarah. Awalnya sangat mematikan, penyakit yang menyeramkan dan banyak kematian pada saat itu. (Baca : Christopher Columbus’ Real Discovery: Syphilis)

Nah, kini apakah masih pantas jika si Columbus ini disebut-sebut sebagai tokoh besar penemu Amerika? Dan diperingati pula seluas dunia dengan “Columbus Day”? Setelah mengetahui fakta kebohongan yang sangat mencengangkan atas kekejaman luar biasa yang telah dirinya lakukan. Dia adalah seorang pembunuh , pemerkosa , dan seseorang yang secara aktif berpartisipasi dalam genosida yang akhirnya menyebabkan kematian dari 20 juta masyarakat adat di Indian di Haiti. (Baca : Columbus Day – A Celebration of Genocide).

Source: Click Here

2013/12/05

Jika Lupa Password Blackbery ID

Lupa password? Tentu sahabat semua pernah mengalaminya. Nah, bagaimana jika password yang lupa itu adalah password dari aplikasi atau file yang sangat penting. Misalnya password BB ID. Tentu akan jadi masalah. Misalnya setelah melakukan format terhadap BB-nya, kemudian untuk me-restore kembali semua kontak BBM diperlukan BB ID ini. Kalau lupa, tentu kontak BBM akan hilang semua.

Untuk mengatasinya, kita perlu tahu cara mengembalikan atau mereset password tersebut. Untuk password BB ID yang lupa, sahabat semua bisa langsung ke link berikut. Kemudian, klik menu 'Forgot Password'




Selanjutnya tinggal isi username dan code captcha seperti gambar di bawah ini, dan klik submit.



Kemudian akan muncul pertanyaan verifikasi yang perlu sahabat jawab. Pastikan mengisi jawaban yang benar. Pertanyaan ini mutlak diperlukan untuk membuktikan bahwa si pemilik password tersebut adalah orang yang benar. Tampilan pertanyaan verifikasinya seperti gambar berikut:



Setelah pertanyaan verifikasinya dijawab dengan benar, maka akan muncul keterangan berikut.

Itu artinya proses reset password-nya sudah hampir selesai. Sahabat tinggal cek saja di inbox email dan mengikuti link-nya. Dan, selesai...

Demikian langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam reset password Blackberry ID. Jika ternyata username atau emailnya pun lupa, ya saya sarankan untuk membuat Blackberry ID baru saja. Juga bisa dilakukan di link berikut.


Temukan juga artiket terkait lainnya:
Jika Lupa Password Blackberry ID
Cara Pasang Alexa Toolbar di Firefox