"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

2025/12/16

Antara Leviathan* dan Jilatang: Ketika Negara Melemah, Sengatan Kecil Menguat

(Biar berima, dibaca: leviatang dan Jilatang)

Thomas Hobbes membayangkan negara sebagai Leviathan: makhluk raksasa yang menakutkan, tetapi diperlukan. Ia lahir dari kesepakatan manusia yang lelah hidup dalam kekacauan. Leviathan diberi taring agar hukum dihormati, diberi kuasa agar kekerasan tidak liar, dan diberi legitimasi agar ketertiban punya arah. Tanpa Leviathan, kata Hobbes, hidup manusia akan “brutal, miskin, dan singkat.”
Masalahnya, Leviathan tidak selalu hidup sesuai imajinasi filsafat. Dalam praktik, ia bisa melemah, sakit, bahkan kehilangan taringnya. Mungkin seperti di Konoha kali ya?
Ketika itu terjadi, muncul makhluk lain, lebih kecil memang, tampak sepele, dan jarang dibicarakan dalam teori politik: kita menyebutnya sebagai jilatang.
Dalam khazanah Melayu–Nusantara, jilatang (atau jelatang) adalah tumbuhan liar yang menyengat. Daunnya tidak besar, batangnya tidak kokoh, dan kehadirannya sering diabaikan. Namun siapa pun yang menyentuhnya akan merasakan panas, gatal, dan perih yang bertahan lama. Ia tidak menyerang dari jauh, tidak menerkam dengan kekuatan, tetapi menyakiti melalui kedekatan. Jilatang tumbuh subur di lahan terbengkalai, spt di tanah dan lahan yang tidak dirawat, pagar yg dibiarkan runtuh. Metafora ini penting: sengatan sering kali datang bukan dari yang besar dan jelas, melainkan dari yang kecil dan dibiarkan.
Jilatang, dalam pengertian sosial-politik, bukan penguasa resmi. Ia tidak berdiri di podium, tidak disumpah atas nama konstitusi, dan tidak tercatat dalam struktur negara. Tapi dalam kasus tertentu ia bisa jadi bagian Leviathan tapi bersifat jilatang. Pendeknya, ia hidup dari memanfaatkan negara. Ia lihat menjilat tangan kekuasaan, menghisap sisa-sisa wibawa Leviathan, dan menjadikannya alat transaksi. Jika Leviathan adalah simbol ketertiban (setidaknya itu cita-citanya Hobbes), sementara jilatang adalah tanda pembusukan.
Leviathan bekerja lewat aturan. Jilatang bekerja lewat relasi.
Leviathan menuntut kepatuhan hukum. Jilatang menawarkan jalan pintas.
Leviathan seharusnya melindungi yang lemah. Jilatang justru hidup dari kelemahan itu.
Ketika hukum ditegakkan secara tegas dan konsisten, jilatang sulit bernapas. Ia tidak tahan transparansi, tidak cocok dengan prosedur, dan alergi pada akuntabilitas. Tapi saat hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, jilatang berkembang biak dengan subur. Ia menjadi makelar izin, calo keadilan, pengatur proyek, dan penghubung “orang dalam”.
Di titik ini, masalahnya bukan sekadar negara lemah. Masalahnya adalah negara yang kehilangan wibawa moral. Leviathan masih ada secara simbolik, spt gedungnya yang masih megah, regulasinya masih tebal, jargon reformasinya ramai, namun jiwanya kosong. Yang bekerja bukan lagi sistem, melainkan kedekatan. Bukan kompetensi, melainkan koneksi.
Rakyat kecil merasakannya lebih dulu. Mereka tidak berhadapan langsung dengan Leviathan, melainkan dengan jilatang-jilatang di level bawah. Untuk mengurus hak, perlu “uang rokok”. Untuk mencari keadilan, perlu “orang dalam”. Untuk sekadar aman, perlu kompromi. Hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan labirin.
Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, sebagian orang justru merindukan Leviathan yang lebih keras. Mereka ingin negara yang tegas, bahkan otoriter, asal bisa menyingkirkan jilatang. Ini paradoks klasik: ketika negara terlalu lemah, rakyat rela menyerahkan kebebasan demi ketertiban. Tapi sejarah mengajarkan, Leviathan yang tak diawasi bisa berubah dari pelindung menjadi pemangsa. Kita dah kenyang pengalaman dengan Orla dan Orba, atau bahkan betapa superiornya suatu institusi di era Jokowi.
Maka persoalannya bukan memilih antara Leviathan atau ketiadaan Leviathan. Pilihannya adalah Leviathan yang kuat oleh hukum, bukan oleh ketakutan. Leviathan yang tajam ke semua arah, bukan hanya ke yang lemah. Leviathan yang berani membersihkan tubuhnya sendiri dari para jilatang yang menempel. Berani mengikis habis benalu.
Selama jilatang lebih ditakuti daripada hukum, selama orang lebih percaya “siapa yang dikenal” daripada “apa aturannya”, selama keadilan bisa dinegosiasikan, maka negara sesungguhnya sedang sakit. Dan penyakit itu bukan kurang regulasi, melainkan kurang keberanian.
Leviathan tidak perlu menjadi monster yang menelan warganya. Ia hanya perlu kembali menjadi makhluk yang dihormati karena adil, bukan ditakuti karena sewenang-wenang. Saat itu terjadi, jilatang akan mati dengan sendirinya, karena tidak ada lagi tangan kotor yang bisa dijilat. Lagi pula, semua kita sudah muak dengan para jilatang itu!


Kita Bisa Bangkit!

Di negara yang dikuasai penjahat, sistem sengaja dibikin supaya orang miskin dan bodoh makin banyak.
Akses kesehatan dipersulit. Akses pendidikan dipersempit.
Akhirnya rakyat cuma sibuk bertahan hidup, sekadar bisa makan hari ini.
Dalam kondisi seperti itu, tiap pemilu ceritanya berulang.
Mereka yang punya modal besar untuk menyuap rakyat, akan terpilih lagi dan lagi.
Lalu, bagaimana cara memutus rantai ini?
Mulai dari lingkaran terkecil: keluarga sendiri.
Seberat apa pun hidup, upayakan anak-anak tetap bersekolah. Yuuk minimal seperti saudara2 kita orang Batak dan Minang, yang tingkat persentase sarjananya sudah di 18%an persen dari jumlah penduduknya!
Meski sederhana, jangan menyerah pada kebodohan yang disengaja.
InsyaAllah, suatu hari nanti hasilnya akan kita rasakan.
Bismillah. Tetap semangat.
Feri Susanto





2025/12/05

Kenapa Kebahagiaan Karyawan Selalu Menjadi Titik Awal Kebahagiaan Pelanggan?

Penulis bersama team dan perwakilan klien dalam satu event Team Engagement di Jakarta

Di banyak perusahaan, kita sering bicara tentang customer experience, service excellence, atau bagaimana membuat pelanggan merasa puas. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: semua itu dimulai dari orang-orang di balik layar. Customer happiness tidak pernah muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari tim yang bahagia, yang merasa dihargai, dan yang menjalani hari-harinya dengan energi positif.

People engagement bukan sekadar program internal atau aktivitas seremonial. Ia adalah cara kita hadir untuk satu sama lain. Kadang bentuknya sederhana; menonton film bareng, makan siang bersama, outing, hangout bareng atau sekadar ngobrol santai tanpa agenda. Kehadiran seperti itu membangun jarak yang lebih dekat antara kita sebagai manusia. Ketika kedekatan itu tumbuh, rasa percaya muncul. Dan ketika percaya sudah terbentuk, bekerja sama menjadi jauh lebih natural.

Di dunia kerja yang serba cepat, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan juga perlu di-deliver. Bukan hanya kepada pelanggan, tetapi pertama-tama kepada tim kita sendiri. Ketika karyawan merasa diperhatikan, dihormati, dan dihargai, mereka menjadi jauh lebih puas. Kepuasan itu mengubah cara mereka bekerja. Mereka lebih ringan, lebih positif, dan lebih bersemangat menghadapi tantangan.


Employee satisfaction bukan hanya perkara gaji atau benefit. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari suasana kerja yang membuat mereka merasa aman, dari interaksi yang membuat mereka merasa dihargai, dari momen-momen kebersamaan yang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Ketika seseorang merasa bahagia di tempat kerjanya, ia akan memberikan yang terbaik tanpa perlu diminta.

Dan pada akhirnya, pelanggan akan merasakan itu. Mereka bisa membedakan mana layanan yang datang dari seseorang yang tertekan, dan mana yang datang dari seseorang yang benar-benar menikmati pekerjaannya. Energi itu menular. Senyum yang tulus, sikap yang ramah, kesediaan membantu tanpa keluhan—semuanya lahir dari hati yang bahagia.

Itulah sebabnya people engagement seharusnya bukan sekadar program HR. Ia adalah mindset kepemimpinan. Cara kita membangun budaya. Cara kita menunjukkan bahwa perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat tumbuh bersama. Ketika pemimpin menghadirkan kebahagiaan di dalam tim, tim akan menghadirkan kebahagiaan itu kembali kepada pelanggan.

Pada akhirnya, kebahagiaan selalu mengalir ke bawah. Jika tim kita merasa terhubung, mereka akan melayani dengan hati. Jika mereka merasa dihargai, mereka akan bekerja dengan percaya diri. Dan jika mereka bahagia, maka pelanggan pun akan merasakan kebahagiaan itu.

Inilah inti dari people engagement: kebahagiaan yang dimulai dari dalam, lalu menjelma menjadi pengalaman terbaik bagi semua yang kita layani.







Keberanian yang Menembus Zaman: Numantia, Rajah Sulaiman, dan Pertolongan Badar

Situs area Numantia
Kadang sebuah cerita yang kita baca membuka pintu menuju cerita-cerita lain yang pernah kita dengar atau kita simpan lama dalam ingatan. Begitu juga saat saya membaca kisah kecil dari Sapiens karya Yuval Noah Harari, kisah tentang sebuah suku di Spanyol bernama Numantia. Harari menceritakan bagaimana kota kecil itu, yang dihuni suku Celtiberia, memilih untuk melawan Imperium Romawi yang ketika itu hampir mustahil dikalahkan. Mereka kecil, Roma raksasa. Mereka miskin, Roma kaya. Mereka sendirian, Roma datang dengan kekuatan dunia. Namun mereka tidak menyerah. Mereka bertahan sampai akhir, dengan kehormatan menjadi harga terakhir yang mereka miliki. Numantia memang hancur, rakyatnya musnah, dan kota itu hilang dari peta sejarah. Tapi keberanian mereka bertahan sebagai kisah yang terus diingat bangsa Spanyol sampai hari ini.

Saat membaca bagian itu, entah kenapa saya langsung teringat pada cerita lain, sebuah cerita yang tidak disebut Harari, tetapi saya sendiri yang menyambungkan: kisah Manila sebelum menjadi Manila, ketika ia masih sebuah kerajaan Islam yang berdiri gagah di pesisir Teluk Luzon. Qadarullah saya pernah berkunjung kesana beberapa tahun yg lalu.
Di sana ada seorang tokoh yang namanya jarang disebut di buku sejarah umum kita, tetapi dihormati di Filipina sebagai simbol keberanian: Rajah Sulaiman. Seperti Numantia, kerajaan kecil itu suatu hari harus berhadapan dengan sebuah kekuatan besar: armada Spanyol yang sedang berkembang menjadi salah satu imperium dunia. Sulaiman, bersama para penguasa Muslim lainnya, tahu bahwa mereka sedang menghadapi kekuatan yang kemungkinan besar tidak akan dapat mereka kalahkan. Tetapi seperti warga Numantia, mereka tidak memilih tunduk. Mereka memilih melawan, memilih mempertahankan tanah yang mereka percaya adalah amanah dari leluhur dan Tuhan mereka.
Kota itu akhirnya jatuh. Manila dibakar, direbut, dijadikan pusat kolonial Spanyol selama berabad-abad. Namun nama Sulaiman tetap hidup sebagai simbol kehormatan, bahkan jika kekuatan politiknya musnah seperti halnya Numantia.
Patung Rajah Sulaiman di Manila, Filipina
Dan saat dua cerita ini berdiri berdampingan, Numantia di Eropa abad kedua sebelum Masehi, Manila Islam di Asia Tenggara abad ke-16, saya teringat akan satu kisah lain, yang jauh lebih tua namun memiliki gema keberanian yang sama, tetapi dengan takdir yang berbeda: Perang Badar.
Di Badar, umat Islam jauh lebih kecil daripada pasukan Quraisy. Kekuatan tidak seimbang, senjata seadanya, dan kemungkinan kekalahan secara duniawi sangat besar. Tetapi ada sesuatu yang tidak dimiliki Numantia atau Manila: doa seorang Nabi yang membawa risalah terakhir untuk umat manusia. Di malam sebelum perang itu, Rasulullah SAW berdiri memanjatkan doa yang mengguncang langit:
“Ya Allah, jika pasukan kecil ini kalah, (mungkin) tidak akan ada lagi di muka bumi ini orang yang menyembah-Mu.”
Itu bukan sekadar doa kemenangan. Itu doa tentang kelangsungan cahaya. Tentang masa depan iman. Tentang arah sejarah manusia. Dan keesokan paginya, hasilnya berbeda dari dua kisah sebelumnya: Badar dimenangkan oleh mereka yang lemah secara jumlah, tetapi kuat dalam janji Tuhannya.
Salah satu bekas bangunan kuno di Lembah Badar

Monumen Daftar Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Gugur di Medan Perang.

Tiga cerita ini berdiri dalam satu garis panjang tentang manusia menghadapi kekuatan besar. Numantia berakhir dengan kehancuran, Sulaiman di Manila berakhir dengan gugurnya sebuah kerajaan, tetapi Badar justru menjadi titik balik yang mengubah sejarah dunia. Namun ketiganya punya satu benang merah: keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah meski secara logika dunia tidak ada peluang untuk menang. Keberanian mempertahankan martabat. Keberanian menegakkan keyakinan ketika dunia terlihat gelap.
Harari menulis bahwa sejarah sering kali ditentukan oleh imperium-imperium besar, dan kelompok kecil biasanya hilang ditelan gelombang. Tapi ia juga menulis bahwa manusia selalu punya kapasitas untuk percaya pada makna, pada cerita, dan pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Di situlah keberanian lahir.
Dan mungkin, di situlah kita semua menemukan diri kita hari ini: antara kisah Numantia yang kalah tetapi terhormat, kisah Rajah Sulaiman yang gugur tetapi abadi dalam memori bangsanya, dan kisah Badar yang menunjukkan bahwa dalam beberapa momen sejarah, ketika manusia benar-benar bersandar pada Tuhan, cerita bisa berbalik menjadi keajaiban yang mengubah dunia.
Tiga kisah, tiga benua, tiga zaman. Satu pelajaran:
Dalam hidup, kemenangan tidak selalu diukur dari hasil akhir. Kadang, keberanian berdiri tegak di tengah badai itulah yang membuat sebuah nama tidak pernah mati.