***
Artikel menarik lainnya:
Taksonomi Bloom: Enam Tingkat Berpikir
Perjalanan Web1 hingga Web3
5 Komponen Utama Digital Customer Care
![]() |
| Pict source: https://tips.uark.edu/ |
Berikut adalah penjelasan dari Taksonomi Bloom yang baru, mulai dari level berpikir terendah hingga tertinggi:
Mengingat (Remembering)
Ini adalah level paling dasar, di mana siswa diharapkan mampu mengingat kembali fakta atau informasi yang telah mereka pelajari sebelumnya. Aktivitas yang termasuk dalam level ini adalah mengenali, mengingat, atau mengidentifikasi istilah, fakta, dan konsep. Misalnya, siswa menghafal rumus matematika atau menyebutkan tokoh sejarah yang terkenal.
Contoh: Mengingat nama presiden pertama Indonesia.
Memahami (Understanding)
Pada level ini, siswa tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga memahaminya. Mereka dapat menjelaskan atau menginterpretasikan materi dengan kata-kata mereka sendiri. Ini melibatkan aktivitas seperti menyimpulkan, mengklasifikasi, dan menjelaskan.
Contoh: Menjelaskan dengan kata-kata sendiri bagaimana siklus air terjadi.
Menerapkan (Applying)
Pada level penerapan, siswa mulai menggunakan informasi yang mereka pelajari dalam situasi atau konteks baru. Ini mencakup kemampuan menerapkan konsep, teori, atau teknik untuk memecahkan masalah nyata.
Contoh: Menggunakan hukum Newton untuk menjelaskan fenomena gerak benda di kehidupan sehari-hari.
Menganalisis (Analyzing)
Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu memecah informasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan memahami hubungan di antara bagian-bagian tersebut. Mereka mampu membedakan antara fakta dan opini, mengidentifikasi pola, atau mengevaluasi argumen.
Contoh: Menganalisis struktur argumen dalam sebuah artikel atau membandingkan dua teori ekonomi yang berbeda.
Mengevaluasi (Evaluating)
Di level ini, siswa menilai atau mengevaluasi informasi, ide, atau metode berdasarkan kriteria tertentu. Mereka dapat membuat penilaian, memberikan kritik, atau mempertahankan argumen dengan menggunakan bukti yang mendukung.
Contoh: Mengevaluasi efektivitas sebuah kebijakan lingkungan atau menilai validitas argumen dalam debat.
Mencipta (Creating)
Level tertinggi dalam Taksonomi Bloom yang telah direvisi adalah Creating (mencipta). Pada tahap ini, siswa menggunakan berbagai informasi yang mereka miliki untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik itu produk, teori, atau solusi. Mereka mampu menggabungkan elemen-elemen yang ada dengan cara baru untuk menghasilkan karya yang orisinal dan inovatif.
Contoh: Merancang eksperimen sains baru, menulis cerita orisinal, atau mengembangkan aplikasi teknologi baru.
Revisi Taksonomi Bloom membawa beberapa perubahan penting dalam cara kita memandang proses berpikir. Dalam model asli, level tertinggi adalah Evaluasi (Evaluation), namun dalam revisi, level ini digantikan oleh Mencipta (Creating). Ini menyoroti pentingnya kreativitas dan inovasi dalam pendidikan modern, di mana siswa tidak hanya diharapkan untuk memahami dan mengevaluasi informasi, tetapi juga menggunakannya untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Perubahan lain yang penting adalah peralihan dari kata benda ke kata kerja, yang mencerminkan pembelajaran sebagai proses aktif. Ini juga memperkuat gagasan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengingat dan memahami, tetapi juga tentang menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta sesuatu yang bermakna.
Dengan memahami Taksonomi Bloom yang baru, para pendidik dapat merancang pembelajaran yang lebih menantang dan holistik, serta mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa mereka. Model ini juga memberi kerangka untuk menyusun soal ujian, proyek, atau tugas-tugas yang lebih terarah pada pengembangan kompetensi kritis dan kreatif.
![]() |
| pict source: dumbways.id |
Web1, atau Web 1.0, adalah generasi pertama internet, ditandai dengan situs-situs web statis yang hanya bisa dibaca (read-only). Pada era ini, situs web berfungsi sebagai sumber informasi yang tidak memungkinkan interaksi pengguna. Pengguna bertindak sebagai konsumen pasif, hanya dapat mengakses informasi yang disediakan oleh pemilik situs, seperti halaman HTML sederhana tanpa adanya elemen dinamis atau interaktif.
Ciri khas Web1 meliputi:
Web1 lebih fokus pada penyampaian informasi secara satu arah, tanpa fitur seperti forum, komentar, atau personalisasi yang luas.
Web2, atau Web 2.0, membawa perubahan besar dalam cara kita menggunakan internet. Fase ini dikenal sebagai internet read-write, di mana pengguna tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga bisa membuat dan berbagi konten. Web2 memungkinkan interaksi sosial yang intens melalui platform seperti blog, media sosial, dan wiki. Teknologi yang mendukung Web2, seperti JavaScript, AJAX, dan CSS, memungkinkan halaman web menjadi lebih dinamis dan interaktif.
Ciri utama Web2:
Web2 memberikan kemampuan kepada pengguna untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan berbagi, tetapi juga menimbulkan masalah privasi dan sentralisasi data oleh perusahaan-perusahaan besar.
Web3 adalah fase terbaru dari evolusi internet, yang sedang berkembang. Web3 berfokus pada desentralisasi, privasi, dan kepemilikan data pengguna melalui teknologi blockchain. Berbeda dengan Web2, di mana data dan aset digital dikelola oleh perusahaan besar, Web3 memungkinkan pengguna untuk memiliki kendali penuh atas data mereka dan mengelola aset digital tanpa perantara.
Ciri khas Web3 meliputi:
Dengan Web3, internet tidak hanya tentang interaksi sosial dan konsumsi konten, tetapi juga tentang kepemilikan dan keterlibatan langsung dalam ekosistem digital.
Perjalanan dari Web1 yang statis, menuju Web2 yang interaktif dan terpusat, hingga Web3 yang desentralisasi dan berbasis blockchain, menunjukkan evolusi signifikan dalam cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi secara digital. Setiap fase membawa tantangan dan peluang baru, dengan Web3 berpotensi menciptakan internet yang lebih transparan, terbuka, dan demokratis.
![]() |
| Pict source: https://www.brandknewmag.com/ |
Di era digital, pelanggan memiliki akses mudah ke informasi dan pilihan yang melimpah. Mereka bisa dengan cepat membandingkan produk dan layanan, membaca ulasan, dan berinteraksi langsung dengan merek favorit mereka melalui media sosial. Oleh karena itu, digital customer care bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan yang mendesak. Perusahaan yang gagal beradaptasi dengan perubahan ini berisiko kehilangan pelanggan kepada pesaing yang lebih responsif dan inovatif.
Komponen Utama Digital Customer Care
Untuk membangun strategi digital customer care yang efektif, ada beberapa komponen utama yang harus diperhatikan:
1. Multichannel Support/ Bantuan Multisaluran: Pelanggan modern berinteraksi dengan merek melalui berbagai platform digital, mulai dari media sosial, email, hingga aplikasi mobile. Perusahaan harus mampu menyediakan dukungan di semua saluran ini untuk memastikan bahwa pelanggan dapat mengakses bantuan kapan saja dan di mana saja.
2. Real Time Assistance (RTA) / Bantuan Real-time: Di era serba cepat ini, pelanggan mengharapkan respon yang cepat dan tepat waktu. Perusahaan dapat memanfaatkan teknologi seperti chatbot dan live chat untuk memberikan bantuan real-time, yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan secara signifikan.
3. Personalization / Personalisasi Layanan: Setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan preferensi yang unik. Dengan menggunakan data pelanggan, perusahaan dapat menyesuaikan tanggapan dan solusi yang diberikan, sehingga pelanggan merasa lebih dihargai dan diakui.
4. Self-service Option / Opsi Swadaya: Banyak pelanggan yang lebih memilih untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri. Dengan menyediakan FAQ online, basis pengetahuan, dan tutorial, perusahaan dapat memberikan solusi cepat tanpa perlu pelanggan menghubungi CS secara langsung.
5. Data Analytic / Analitik Data: Data dari interaksi digital pelanggan sangat berharga untuk memahami perilaku dan preferensi mereka. Dengan analitik data yang canggih, perusahaan dapat mengidentifikasi tren, memprediksi kebutuhan pelanggan di masa depan, dan mengoptimalkan strategi layanan mereka.
Masa Depan Digital Customer Care
Ke depan, digital customer care akan semakin terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data yang lebih canggih. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya merespons kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat, tetapi juga memprediksi apa yang akan dibutuhkan pelanggan di masa depan. Misalnya, dengan memanfaatkan machine learning, perusahaan dapat mengenali pola perilaku pelanggan dan memberikan rekomendasi atau solusi yang tepat bahkan sebelum pelanggan menyadari mereka membutuhkannya.
Selain itu, dengan meningkatnya adopsi perangkat Internet of Things (IoT), digital customer care akan semakin berkembang ke dalam bentuk yang lebih personal dan terhubung. Perangkat pintar yang digunakan oleh pelanggan dapat langsung mengirimkan data ke pusat layanan, memungkinkan perbaikan atau dukungan yang lebih cepat dan tepat waktu.
Digital customer care bukan sekadar layanan tambahan, melainkan komponen esensial dari strategi bisnis yang sukses di era digital. Dengan memberikan layanan yang cepat, personal, dan proaktif, perusahaan dapat membangun hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan pelanggan. Dalam dunia yang semakin terhubung ini, perusahaan yang mampu mengoptimalkan digital customer care akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, menciptakan loyalitas pelanggan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dari waktu ke waktu.

Pict src: https://rockcontent.com/
The concept of the 4Ps in marketing has evolved to include a fifth element, leading to the 5Ps of marketing. The 5Ps are:
The addition of "People" highlights the growing importance of customer service, experience, and employee engagement in the overall success of marketing efforts.
The concept of the 5Ps of marketing builds on the traditional 4Ps framework originally introduced by E. Jerome McCarthy in the 1960s. The fifth "P," which stands for "People," was later introduced by various marketing theorists and practitioners as businesses began to recognize the increasing importance of human factors in marketing, particularly in service industries.
One of the key figures who emphasized the importance of "People" in the marketing mix was Philip Kotler, a prominent marketing expert and author. Kotler expanded on McCarthy's original 4Ps model to include "People" as an essential element in the marketing mix, particularly as the focus of marketing shifted from purely transactional to more relationship-based approaches.
The 5Ps framework has since become widely accepted and used in various industries, especially those where customer service and experience play a critical role in brand success.
Sejarah Dunning-Kruger effect bermula dari eksperimen yang dilakukan oleh Dunning dan Kruger di Universitas Cornell. Mereka melakukan berbagai tes untuk mengukur kemampuan kognitif peserta dalam hal keterampilan humor, logika, dan grammar. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dengan skor terendah pada tes-tes ini cenderung menilai kemampuan mereka lebih tinggi daripada kenyataannya. Sebaliknya, mereka yang memiliki skor tinggi justru lebih akurat dalam menilai kemampuan mereka dan cenderung merendahkan diri.
Contoh nyata dari Dunning-Kruger effect bisa ditemukan dalam berbagai situasi sehari-hari. Misalnya, seorang karyawan yang baru pertama kali mengerjakan proyek besar mungkin merasa sangat yakin bahwa dia sudah memahami semua aspek proyek tersebut, padahal dia belum memiliki pengalaman yang cukup. Sebaliknya, seorang profesional yang sudah berpengalaman mungkin merasa tidak yakin tentang kontribusinya karena mereka lebih sadar akan kompleksitas masalah yang ada.
Singkatnya, Dunning-Kruger effect adalah fenomena di mana ketidakmampuan sering kali membuat seseorang terlalu yakin pada kemampuan mereka sendiri, sementara keahlian yang tinggi sering kali disertai kerendahan hati. Dengan meningkatkan metakognisi dan terus belajar, kita bisa lebih akurat dalam menilai kemampuan kita sendiri dan menghindari dampak negatif dari efek ini.
Untuk mengatasi Dunning-Kruger effect, ada beberapa pendekatan yang bisa diambil. Pertama, penting untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan dalam bidang yang ditekuni. Dengan pengetahuan yang lebih mendalam, seseorang bisa lebih realistis dalam menilai kemampuannya. Kedua, mencari umpan balik yang jujur dari orang lain, terutama yang lebih berpengalaman, bisa memberikan perspektif yang lebih objektif. Mengakui dan terbuka terhadap kritik konstruktif juga sangat membantu dalam memperbaiki penilaian diri.
Metakognisi, yaitu kesadaran dan pengaturan proses berpikir sendiri, dapat menjadi alat yang efektif untuk mengatasi Dunning-Kruger effect. Dengan metakognisi, seseorang dapat lebih baik dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka. Ini termasuk kemampuan untuk menyadari apa yang belum mereka ketahui dan bagaimana cara meningkatkan pengetahuan mereka. Jadi, metakognisi dapat membantu seseorang untuk menghindari overconfidence dan lebih akurat dalam menilai kemampuan diri mereka.
Metakognisi, yang berkaitan dengan kesadaran dan pengaturan proses berpikir, bisa dihubungkan dengan konsep dalam Islam tentang introspeksi, pengenalan diri, dan pencarian ilmu. Berikut beberapa ayat Al-Qur'an dan hadits yang relevan dengan konsep ini:
Surah Al-Hasyr (59:18):
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi, yaitu merenungkan dan mengevaluasi tindakan kita, yang sejalan dengan konsep metakognisi.
Surah Az-Zumar (39:9):
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat menerima pelajaran."
Ayat ini menekankan pentingnya pengetahuan dan kesadaran, yang merupakan elemen penting dari metakognisi.
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim:
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (di akhirat) dan timbanglah amalmu sebelum amal itu ditimbang untukmu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini lebih spesifik mengajarkan tentang pentingnya evaluasi diri (muhasabah), yang merupakan bagian esensial dari metakognisi. Metakognisi dalam Islam bisa dilihat sebagai upaya untuk terus-menerus menilai dan memperbaiki diri, yang sangat sesuai dengan anjuran untuk "menghisab" diri kita sendiri sebelum hari kiamat.
Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan panduan yang jelas tentang pentingnya introspeksi, evaluasi diri, dan pengendalian diri, yang semuanya adalah elemen inti dari metakognisi.
![]() |
| pict source: tettra.com |
Apa itu Customer Service (CS)?
Customer Service adalah bagian yang lebih spesifik dari layanan pelanggan. CS adalah layanan atau dukungan yang diberikan kepada pelanggan sebelum, selama, dan setelah pembelian produk atau jasa. Fokus utama dari CS adalah membantu pelanggan dalam menyelesaikan masalah, memberikan informasi yang dibutuhkan, dan memastikan bahwa kebutuhan pelanggan terpenuhi dengan baik. Ini bisa berupa interaksi langsung, seperti panggilan telepon, obrolan (chat), email, atau bahkan interaksi tatap muka di toko fisik.
Peran utama CS adalah memastikan bahwa pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara yang paling mudah dan nyaman. Seorang customer service representative (CSR) bertindak sebagai perantara antara perusahaan dan pelanggan, memastikan komunikasi berjalan dengan lancar dan masalah-masalah diselesaikan secepat mungkin.
Apa itu Customer Experience (CX)?
Customer Experience (CX) mencakup seluruh perjalanan pelanggan dalam berinteraksi dengan suatu merek atau perusahaan. Ini mencakup semua touchpoints yang dilalui pelanggan, mulai dari kesadaran terhadap produk, proses pembelian, penggunaan produk, hingga pengalaman pasca-pembelian. CX mencakup semua aspek pengalaman pelanggan, baik yang disadari maupun tidak, dan mencerminkan bagaimana perasaan pelanggan terhadap merek tersebut.
Dalam CX, fokusnya adalah pada keseluruhan perjalanan pelanggan dan emosi yang terlibat di setiap tahap perjalanan tersebut. Ini berarti CX tidak hanya ditentukan oleh interaksi langsung dengan customer service, tetapi juga oleh faktor-faktor seperti desain website, kemudahan navigasi, kualitas produk, komunikasi yang konsisten, dan bahkan budaya perusahaan.
Perbedaan Utama antara CX dan CS
1. Ruang Lingkup:
- CS: Terbatas pada interaksi langsung antara pelanggan dan perusahaan untuk menyelesaikan masalah atau memberikan bantuan.
- CX: Mencakup keseluruhan pengalaman pelanggan dengan merek, mulai dari kesadaran hingga loyalitas pasca-pembelian.
2. Fokus:
-CS: Berfokus pada penyelesaian masalah dan kepuasan pelanggan dalam interaksi spesifik.
-CX: Berfokus pada menciptakan pengalaman yang positif dan konsisten di seluruh perjalanan pelanggan.
3. Pengaruh:
-CS: Sebagai salah satu elemen dalam CX, CS dapat sangat memengaruhi pengalaman pelanggan, baik secara positif maupun negatif.
-CX: Mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap merek secara keseluruhan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi loyalitas dan advocacy.
Keterkaitan antara CX dan CS
Meskipun berbeda, CS adalah bagian integral dari CX. Pengalaman pelanggan yang luar biasa sering kali dimulai dari customer service yang responsif dan solutif. Sebaliknya, pengalaman yang buruk dalam CS dapat merusak keseluruhan CX, bahkan jika aspek lain dari perjalanan pelanggan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa customer service tidak hanya efisien dalam menyelesaikan masalah, tetapi juga proaktif dalam membangun hubungan yang positif dengan pelanggan.
Namun, CX tidak hanya ditentukan oleh CS. Faktor-faktor lain seperti user experience (UX), pemasaran, komunikasi merek, dan kualitas produk atau layanan semuanya berkontribusi pada CX. Untuk menciptakan CX yang unggul, perusahaan harus bekerja secara holistik, memastikan bahwa semua aspek yang mempengaruhi perjalanan pelanggan berfungsi harmonis untuk menciptakan kesan yang positif dan konsisten.
Mengapa Memahami Keduanya Penting?
Di era di mana pelanggan memiliki banyak pilihan dan informasi di ujung jari mereka, pengalaman yang mereka rasakan saat berinteraksi dengan sebuah merek dapat menjadi pembeda utama. Memahami perbedaan antara CS dan CX, serta bagaimana keduanya saling terkait, memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan tetapi juga melebihi harapan mereka.
Dengan strategi CX yang kuat, didukung oleh customer service yang unggul, perusahaan dapat menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan, meningkatkan loyalitas, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Customer Service dan Customer Experience adalah dua konsep yang berbeda namun saling berkaitan dalam dunia layanan pelanggan. Customer Service adalah elemen penting dari Customer Experience, namun CX jauh lebih luas dan mencakup seluruh perjalanan pelanggan dengan merek. Untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang luar biasa, perusahaan harus memperhatikan setiap detail dari interaksi langsung hingga keseluruhan persepsi yang dibentuk oleh pelanggan. Hanya dengan pendekatan holistik inilah perusahaan dapat benar-benar memenuhi dan melampaui harapan pelanggan mereka.
---
Artikel lainnya:
TTL; A Holistic Marketing Approach!
Navigating the Intersection of Human Empowerment and AI Technology
Strategi Kunci Customer Service / Contact Center
Tentang AHT (Average Handling Time)
I find it challenging to choose between the two; (a) human empowerment and (b) AI / Chatbot tech worshipper; as I believe both will continue to synergize and evolve together. Embracing human empowerment and advancing AI technology are not mutually exclusive; rather, they complement each other in shaping a future where technology enhances human potential and creativity.
In today’s rapidly evolving technological landscape, the debate between prioritizing human empowerment and indulging in the allure of AI and chatbot technologies has become increasingly prominent. On platforms like LinkedIn, where professionals debate the merits of these two sides, the conversation often boils down to whether we should focus on amplifying human capabilities or celebrating the capabilities of advanced technology.
The Case for Human Empowerment
Human empowerment revolves around the idea of enhancing our abilities, skills, and potential. It’s about ensuring that individuals have the tools, support, and opportunities to achieve their goals and contribute meaningfully to society. This perspective advocates for a world where people are at the center of technological advancements, with technology serving as a means to augment human capabilities rather than replace them.
Empowerment manifests in various ways, from educational initiatives that foster skill development to workplace environments that nurture creativity and collaboration. It also includes leveraging technology to support and amplify human efforts rather than overshadowing them. For instance, tools like project management software, communication platforms, and data analytics can significantly enhance productivity and innovation, provided they are used to support and empower the workforce.
The Allure of AI and Chatbot Technologies
On the other hand, the fascination with AI and chatbot technologies represents a forward-looking perspective that celebrates the potential of machines to perform tasks, solve problems, and even make decisions. This viewpoint often embraces the idea that AI can drive efficiencies, uncover new insights, and offer capabilities beyond human reach.
AI technologies, such as machine learning algorithms and natural language processing, have made significant strides in recent years. Chatbots, for instance, can handle customer service inquiries with increasing sophistication, providing instant support and freeing up human agents to tackle more complex issues. AI-driven analytics can sift through vast amounts of data to reveal trends and predictions that might otherwise remain hidden.
Finding the Synergy
Rather than viewing human empowerment and AI technology as opposing forces, it is more productive to recognize their potential for synergy. The future lies in harnessing the strengths of both to create an environment where technology enhances rather than diminishes human experience.
For example, consider how AI tools can assist in data-driven decision-making, allowing humans to focus on strategy and creative problem-solving. Chatbots can manage routine queries, giving customer service representatives more time to build relationships and address more nuanced concerns. In these scenarios, AI acts as a partner, not a replacement.
Similarly, human oversight is crucial in guiding the ethical development and deployment of AI technologies. As we integrate more AI into our daily lives, it is essential to ensure that these systems are designed with human values and needs in mind. Collaboration between technologists and human-centric stakeholders can help ensure that AI advancements align with broader societal goals.
Conclusion
In conclusion, the question of whether to prioritize human empowerment or AI technology need not be a binary choice. Instead, the real challenge—and opportunity—lies in finding ways for these elements to coexist and complement each other. By fostering a collaborative relationship between human ingenuity and technological innovation, we can unlock new possibilities and drive progress in a way that benefits both individuals and society as a whole.
As we navigate this dynamic intersection, let’s keep in mind that the ultimate goal is not to choose sides but to integrate and leverage the best of both worlds to create a brighter, more empowered future.
Note: This article is an example of how the synergy between human empowerment and AI truly helps us. :)
--
Artikel lainnya:
Memahami Customer Experience (CX) dan Customer Service (CS): Perbedaan dan Keterkaitannya
TTL; A Holistic Marketing Approach!