Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2014/03/06

AHT IDEAL; PAS DAN PROPORSIONAL


AHT (Average Handling Time) ideal itu adalah durasi yang ‘pas dan proporsional’ yang dibutuhkan untuk melayani seorang pelanggan. Dikatakan pas karena durasinya tidak terlalu lama, juga tidak terlalu singkat. Dikatakan proporsional karena waktu layanannya disesuaikan dengan jenis dan banyaknya pertanyaan, permintaan dan keluhan pelanggan. Keluhan atau permintaan pelanggan yang lebih banyak tentu memerlukan durasi layanan yang lebih lama pula. Karena memaksa pelanggan untuk mengakhiri percakapannya secara sepihak tentu bukanlah sebuah sikap yang mencerminkan service excellence

Dengan adanya term ‘pas’ dan ‘proporsional’ ini maka kesan terburu-buru dapat dihilangkan. Meskipun target AHT ditetapkan pada angka tertentu, namun tidak serta merta mematikan kesempatan pelanggan untuk bertanya lebih. Inilah prinsip dari pas dan proporsional. 

Dengan pemahaman prinsip pas dan proporsional ini, maka agent tetap bisa fokus dalam layanannya tanpa merasa dikejar-kejar oleh target AHT, sementara pelanggan merasa puas karena keinginannya tetap terpenuhi. Tugas team leader dalam memastikan pemahaman agent terhadap prinsip AHT pas dan proporsional ini sangat diperlukan. Sehingga dua hal sekaligus bisa didapat. Yang pertama adalah kepuasan pelanggan. Kedua adalah tercapainya target AHT agent.

AHT yang ditetapkan sebagai salah satu KPI individu agent itu dihitung dalam rentang waktu satu bulan performansi. Meskipun angkanya adalah rata-rata dalam satu bulan, namun agent tetap perlu me-maintain angka AHT-nya secara harian. Dengan maintain AHT secara harian itu akan membuat agent tetap menyadari performansi individunya dari hari ke hari dan dia akan senantiasa tertantang untuk memberikan layanan yang lebih efektif. Sehingga ketika suatu waktu agent menerima satu atau dua pelanggan yang butuh waktu layanan yang lebih dari seharusnya maka agent mengusahakan untuk dapat ‘menetralkan’ AHT-nya dengan percakapan-percakapan lain yang lebih singkat di hari-hari berikutnya.

AHT ideal pada sebuah call center tentu berbeda dengan call center lain yang jenis usaha/organisasinya berbeda. Atau bisa juga berbeda target AHT-nya meskipun jenis usahanya sama. Ini sepenuhnya ditentukan oleh kebijakan perusahaan. AHT di Call Center pelanggan perusahaan telekomunikasi misalnya, tentu berbeda dengan Call Center konsultasi kesehatan. AHT Call Center Banking berbeda dengan AHT Call Center sebuah rumah sakit, hotel, jasa transportasi, dan lain-lain. AHT pada Call Center yang hanya menerima permintaan informasi tentu bisa lebih singkat dibanding dengan Call Center yang mengkhususkan layanan pada technical support atau trouble-shooting help desk. Singkatnya, AHT itu bisa sangat variatif tergantung dari tujuan layanan yang diberikan dan juga tergantung pada kebijakan top management.

Dengan pemahaman yang baik tentang AHT ideal ini diharapkan semua pekerja Call Center dapat bekerja dengan maksimal. Karena permasalahannya sudah dilihat dari banyak sudut pandang. Sehingga AHT ideal itu tidak lagi terpaku pada angka mutlak tertentu saja. Misalnya harus 3 menit, harus 4 menit, dan sebagainya. Sekali lagi bukan itu yang disebut ideal. Penekanan seperti itu hanya akan menjauhkan pelanggan dari rasa puas. Kalau tidak berujung kecewa. 

Bahwa AHT ideal di sebuah organisasi Call Center belum tentu ideal di Call Center lain adalah sebuah keniscayaan. Maka dengan premis tersebut, penulis dapat menyarankan jika team management sebuah Call Center ingin melakukan benchmark terkait AHT dan penanganannya sebaiknya dilakukan ke Call Center yang sejenis. Sejenis bidang usahanya, sejenis pula segmentasi pelanggan dan data demografinya, dan lain-lain. Itu idealnya. Namun bukan berarti benchmark tidak dapat dilakukan ke jenis Call Center yang berbeda. Tetap bisa. Tapi ketika diimplementasi ke Call Center sendiri tentu akan perlu beberapa modifikasi dan perlu di-customized.

#Untuk Contact Center Indonesia yang Lebih Baik!
*picture is powered by google
---

Temukan juga artikel terkait lainnya:
Relokasi Contact Center atau Multi-sites
Proses dan Sikap Layanan seorang Agent Contact Center
Pengertian FCR dan Repeated Calls di Contact Center
Perbedaan Call Center dan Contact Cente
Tentang AHT (Average Handling Time)
AHT Ideal: Pas dan Proporsional

2014/02/19

Tentang AHT (Average Handling Time)


Secara definisi, Average Handling Time (AHT) dapat kita sampaikan dengan kalimat berikut: waktu rata-rata yang dibutuhkan dalam satu transaksi percakapan antara agent dengan pelanggan. Waktunya dihitung sejak awal pelanggan diterima oleh agent, termasuk hold time untuk melakukan pengecekan data dan lain-lain, hingga transaksi selesai. Transaksi selesai itu ditandai dengan closing greeting dari agent dan agent menekan tombol release pada call master.

AHT adalah salah satu Call Center Metrics yang sangat penting dalam pengelolaan sebuah Call Center. Peranannya berdampak langsung pada perhitungan kebutuhan staff (agent), dan akan berujung pada angka Service Level yang akan diraih. Hubungan AHT dengan Staffing itu berbanding lurus. Semakin tinggi AHT-nya, semakin banyak agent yang dibutuhkan, begitu juga sebaliknya. Karena terkait langsung dengan berapa jumlah agent yang dibutuhkan, maka dampak bisnisnya adalah ‘cost’. Semakin tinggi AHT, semakin banyak agent yang harus disewa, dan semakin banyak cost yang keluar. AHT tinggi, biaya mahal. AHT kecil, biaya biasa ditekan.

Bagi Call Center yang tidak bermasalah dengan cost, tingginya AHT tentu tidak akan menjadi concern. Karena mereka bisa mengalihkan tinggi-nya AHT ini dengan jumlah ketersediaan agent yang banyak. Namun, tentu prinsip ini tidak akan bisa berlaku bagi organsisasi yang sangat ketat dari sisi ‘cost’. Apalagi, dalam konteks kompetisi bisnis modern, efisiensi menjadi hal yang sangat penting. Sehingga, kebijakan membiarkan AHT berjalan sendirinya, tanpa ada ‘pengendalian’ pada suatu organisasi Call Center adalah sebuah hal yang tidak tepat.

Dalam rangka ‘pengamanan’ bisnis inilah, maka management Call Center melakukan ‘kajian’ untuk mendapatkan durasi AHT yang ideal. Waktu rata-rata yang pas untuk dapat menyelesaikan sebuah transaksi percakapan,baik itu yang berupa pertanyaan terkait informasi produk/promo/program, permintaan aktivasi/deaktivasi, hingga keluhan. Kajian ini bisa dilakukan langsung oleh pihak terkait dalam organisasi Call Center tersebut, atau bisa juga menggunakan jasa konsultan Call Center.

AHT ideal tersebut dapat diperoleh dengan merekam sebanyak mungkin percakapan dari semua jenis pertanyaan, permintaan dan keluhan untuk kemudian dicari angka rata-ratanya. Atau bisa juga dilakukan berdasarkan perhitungan dengan simulasi, atau bisa juga dengan melakukan mystery calling, atau gabungan dari semuanya.

Setelah mendapatkan AHT yang dianggap ideal, maka angka AHT ini perlu ditetapkan sebagai salah satu parameter KPI (Key Performance Indicator) organisasi tersebut. Dan agar lebih terinternalisasi semangatnya dalam diri masing-masing agent, maka parameter AHT ini perlu dimasukkan juga sebagai salah satu parameter KPI individual agent. Sehingga agent akan senantiasa terus terpacu untuk membuat traksaksi layanannya menjadi lebih efektif.

Efektifitas komunikasi seorang agent itu dapat diukur dari beberapa hal, diantaranya parameter ‘Penyampaian informasi yang jelas dan benar.’ Ini terkait dengan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan sehingga pelanggan tidak minta diulangi penjelasannya. Parameter ini juga dapat mengukur tentang pemahaman produk seorang agent. Selanjutnya ada parameter ‘Penjelasan yang sistematis dan runut.’ Ini terkait dengan SOP yang teratur dan kemampuan agent dalam menjelaskan hal yang detail. Berikutnya ada parameter ‘Menghindari kalimat jargon’. Kemudian ada juga parameter ’Menghindari kalimat yang berbelit-belit’, dan lain-lain.

Selain dari efektifitas komunikasi individual agent, AHT juga dipengaruhi oleh performa sistem atau aplikasi Call Center yang digunakan. Semakin cepat kinerja sistem atau aplikasinya maka akan semakin mudah bagi agent untuk mengeksekusinya.

Semakin cepat akses aplikasi dan web portal maka semakin minimal kemungkinan agent untuk perlu melakukan hold time. Dan hold time ini sangat signifikan kaitannya dengan tinggi rendahnya AHT. Diantara system mandatory yang perlu dimiliki oleh sebuah Call Center untuk menunjang performansi kinerja Call Center-nya adalah knowledge based portal (situs internal berupa bank informasi, termasuk laman SOP), dan juga aplikasi CRM (Customer Relationship Management) yang tidak hanya digunakan untuk melihat semua informasi tentang pelanggan (beserta informasi akunnya) juga dapat digunakan sebagai alat pencatatan / dokumentasi setiap transaksi yang pernah dilakukan oleh semua agent dengan pelanggan.


Demikian penjelasan mengenai AHT ini, semoga berguna. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. InsyaAllah di pertemuan berikutnya akan kita bahas 'Apa itu AHT ideal?'

2014/02/10

Manusia di pintu-pintu Kota

Berjejal memenuhi terminal-terminal.
Mengular antri di stasiun-stasiun kereta api.
Menumpuk bak laron di peron-peron.
Bergugus di halte-halte bus.
Menahan gerah di lampu-lampu merah.
Rombongan bermotor menyemut semrawut.
Pejalan, tak mengenal lamban dan perlahan.

Berlari... Berlari... Berlari...

Untuk apa mereka lakukan semua itu?
Terus mengejar bayang semu?
Pilihannya: hidup bergerak atau mati kaku!

Pintu-pintu masuk ke kota ini memang tak pernah berhenti dilewati.
Laki-wanita, tua-muda, keluar rumah mengais mimpi.
Berangkat subuh, lewat isya syukur sudah kembali.

Untuk apa mereka lakukan semua itu?
Terus mengejar bayang semu?
Pilihannya: hidup bergerak atau mati kaku!

Tak trengginas, kau kan tergilas.
Tak tegas, kau kan dilibas.
Tak keras, kau terkipas.
Jika getas, kau kan tertindas.

Berlari. Berlari. Berlari.
Tak ada manusia yang berjalan lamban, apalagi perlahan di pintu-pintu masuk kota ini.

Betapapun kerasnya, kota ini tetap menjadi gula.
Manisnya merasuk ke cita-cita pengelana.
Menghimpun semut-semut datang padanya.
Ada yang pesta pora: juara!
Tak sedikit yang didera lara nestapa: menderita!
Beruntung jadi raja, buntung jadi jelata.

Ya.
Kota ini memang bak sarang lebah.
Kau lihai, kau dapatkan madu yg mencumbu.
Kau lalai, kau dapatkan lebah yang menyengat.

Dan,
Pintu-pintu masuk ke kota ini memang tak pernah berhenti dilewati.

--
Jakarta, 10 Februari 2014
-FerSus-

*Picture is powered by google

2014/02/09

Harmoni yang Tercerai

Nun dari sana, dari kampung Andalas, burung-burung mengantar kabar.
Menyeruak dari bilah-bilah waktu.
Terdengar cuitan kemarau.

Sumur tak berair. Sungai tinggal kerikil. Jalanan retak. Tanah melempung, pematang sawah merekah.
Berapa bulan sudah mentari memaksa bumi melepas air menguap ke dia yang tinggi. Menguap...
Dedaunan kecoklatan, hampir putus harapan menahan cintanya pada klorofil. Pepohonan meranggas.

Di sini, di pulau ini, anak-anak di pengungsian. Menangis digendong para ibu. Kakek, nenek disekat tenda-tenda donasi. Muda-mudi menjajakan kotak amal di pinggir jalan yg tak dilewati.
Mengungsi.

Air kiriman itu terlalu berlimpah. Banjir lagi, ujar juru siar di kotak-kotak ajaib itu.

Kering dan basah. Kemarau dan hujan. Sejatinya pasangan abadi dari sang Abadi.
Sepasang, tiada terpisahkan.

Tapi kini, pasangannya lari.
Sembunyi berhari-hari. 
Hujan, hujan, hujan lagi.
Banjir lagi.
Kemarau sang cintanya hujan meninggalkannya berhari-hari.
Pergi ke sana, entah kapan kembali.

Inilah waktu ketika harmoni itu tercerai.
Manusia sana, manusia sini dituduh biang keladi.
Sampah menumpuk. Pembangunan kota yg tak terkendali. Bagai pasukan kavaleri yg baru latihan berderap lari. Sulit berhenti.

Oo. Kenapa tak mau periksa diri?


Jakarta, penghujung Januari 2014.
-FerSus-

2014/02/03

Dino, Gita and Risk Taking

"He who is not courageous enough to take risks will accomplish nothing in life.
-Muhammad Ali"

Membaca Dino dan Gita dalam sudut pandang ‘Succesfull Character’.

September 2013 yang lalu, Dino Patti Djalal mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat. Posisi prestisius yang sudah diraihnya di usia relatif muda itu ditinggalkan, demi sebuah perjuangan yang lebih besar di tanah air. Apa itu? Dino ditantang oleh ‘guru’nya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk ikut meramaikan konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat.

Dino Patti Djalal menjadi salah seorang dari 10 peserta pada konvensi calon presiden partai berlambang mercy itu. Menurut Dino ini adalah sebuah panggilan. Meskipun kesempatan dan peluang yang dimiliki oleh semua kandidat konvensi relatif sama, Dino menganggapnya menjadi sebuah tantangan tersendiri. SBY sudah menjamin, tidak akan ada ‘anak emas’. Siapapun bisa menang. Termasuk Dino.

Apakah Dino yakin akang bisa memenangkan konvensi tersebut sehingga rela meninggalkan posisinya sebagai Duta Besar untuk USA? Belum tentu. Tapi dia berani mengambil peluang itu. Peluang dan resiko sekaligus. Resiko kehilangan jabatan. Resiko tidak populer juga tentunya. 

Namun, poin yang perlu dicatat adalah pengunduran dirinya ini menunjukkan sifatnya yang ksatria. Fokus. Tidak setengah-setengah. Total, dan risk-taker.  Dan risk-taking ini adalah salah satu sifat utama bagi pribadi sukses.

Hari ini, 31 Januari 2014, seorang tokoh muda lain, Gita Wirjawan, juga mengundurkan diri dari sebuah posisi yang bukan biasa. Dia meninggalkan posisinya sebagai Menteri Perdagangan RI. Alasannya sama dengan Dino, agar dapat fokus dalam usaha memenangkan dirinya di konvensi calon presiden Partai Demokrat. Meskipun, desakan untuk mundur dari Menteri Perdagangan sudah bergulir dari beberapa bulan yang lalu, keputusannya untuk menyatakan mundur efektif per 1 Februari 2014 ini patut diapresiasi.

Dua tokoh muda potensial, Dino dan Gita, sudah sama-sama mundur dari jabatannya masing-masing. Mereka ‘tertantang’ untuk mencoba sesuatu yang lebih tinggi. Mereka sedang menantang dirinya sendiri untuk keluar dari zona nyamannya. Menantang dirinya untuk berani mengambil resiko. 

Tidak semua orang berani mengambil resiko. Hanya mereka yang bermental pemenanglah yang berani ambil resiko. Tidak terhitung lagi berapa banyak orang sukses yang mengonfirmasikan argument ini.  Seperti ungkapan Muhammad Ali, legenda tinju dunia, bahwa mereka yang tidak cukup berani untuk mengambil resiko tidak akan kebagian apa pun dalam hidupnya. Tidak akan menyelesaikan apapun dalam hidupnya. Semangat inilah yang tampaknya dimiliki oleh Dino dan Gita saat ini.

Akankah salah seorang dari mereka ini ada yang berhasil, hingga lolos masuk ke kontestasi PILPRES 2014 ini? Kita lihat saja. Setidaknya keduanya sudah menunjukkan sikap yang committed untuk terus maju. Untuk terus berkembang. 

Risk taking. Inilah salah satu sifat orang sukses, successful character, yang  sangat perlu dimiliki bagi siapapun yang ingin gemilang dalam hidupnya.

Siapakah yang akan mengulang sukses SBY di 2004 yang lalu. Mundur dari kabinet Megawati Soekarno Puteri, ikut menjadi kandidat presiden, dan menang! Let’s see.

Bagaimanapun, dengan pilihan yang dilakukan oleh Dino dan Gita ini kita harapkan dapat menginspirasi anak muda Indonesia lainnya untuk terus berkarya. Terus melakukan yang terbaik di bidangnya masing-masing. Dan pada saatnya, bagi anak-anak muda Indonesia juga diperlukan keberanian untuk mengambil resiko dalam hidup demi sebuah lompatan yang lebih tinggi.

Salam successful character.
*Ditulis pada tanggal 31 Januari 2014. Posted on February 3, 2014.

2014/01/29

Buta yang Terburuk adalah Buta Politik

Saya menuliskan pernyataan dari Bertalt Bracht berikut ini di timeline saya:

Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional. Bertalt Bracht (Penyair Jerman)

Mari melek politik!

---

Ada yang bertanya:
wis serem... kalo bedanya politik sama strategi apa pak??? setau saya sih kalau Rasululloh saw. dan Pejuang di belahan bumi Asia istilah yang digunakan adalah Strategi, mulai dari strategi perang, strategi ekonomi sampei sosial, dan strategi itu menggunakan adab, etika dan panduan... kalau politik sy tidak tau apakah ada etikanya atau sekedar untuk mencapai tujuan bagaimanapun caranya... 
---

Jawaban saya:
AFAIK, strategi itu kepanjangan dari politik. Strategi menjangkau sesuatu yang lebih spesifik dari politik. Betul itu, contohnya ada strategi perang, strategi ekonomi, dll.
Politik secara definisi banyak siy artinya, macam-macam dari banyak ilmuwan. Yg saya suka dan tampak mengena adalah:

 
(1)Sbg usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama
(2)Sbg suatu hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
(3) Merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
(4) politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.


Jadi, politiknya sendiri tidak masalah (saya yakin ini). Yg masalah itu adalah manusia pelakunya. The man behind the gun-nya .... Mudah2an masyarakat kita semakin tercerahkan pengetahuan politiknya, agar semua proses politik yg terjadi ditengah-tengah masy itu juga cerah, dan pada gilirannya terlahir pula pemimpin politik yg mencerahkan, jujur dan amanah. #Semoga
--

Ada yang respon lagi:
Jika istilah Politik itu muncul saat Kekaisaran Roma membentuk Senat, maka saya lebih suka ketika Conan the barbarian memukulkan Kapaknya diatas meja Senat, dan ketika william wallace memaki para bangsawan skotland yang rame berdebat, meskipun karena politik william wallace jadi korban... dan saya lebih memilih jaman Rasululloh sampe Khalifah Umar bin Khatab dibanding setelahnya yang sudah melakukan sistem pemilihan... kami Rindukan Amirul Mukminin yang takut pada Tuhan bukan pada para pendukungnya apalagi pada data2 survei2 apalah... hehehe...

---
Berikut ini jawaban saya:
Setuju, dan benar sekali. Kita (ummat Islam) punya romantisme sejarah terhadap kehidupan sosial di masa Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah, bagaimana mentransformasi nilai-nilai yang kita rindukan itu dalam konteks kekinian? ke dalam konteks bernegara kita saat ini? 
 
Mau tidak mau, suka tidak suka, kebijakan, keputusan atau perangkat apapun yang ditujukan sebagai aturan bersosial, dibuat oleh lembaga-lembaga politik. Dalam sudut pandang inilah, himbauan untuk melek politik menjadi sebuah keniscayaan. 

 
Masa bodoh, apatis, cuek, ataupun anti politik sungguh bukanlah pilihan yg tepat untuk diambil saat ini, jika kepentingan masyarakat tidak ingin terus tergadaikan di tangan-tangan 'yang kotor'... #Merdeka
 


*Picture is powered by google 
 

2014/01/27

8 Sifat Untuk Sukses



Tulisan ini merupakan resume dari buku Richard St. John dengan judul asli ‘8 To be GREAT’. Saya menyarikannya dari versi terjemahan bahasa Indonesia, terbitan  Gramedia 2011, dengan judul ‘8 To be GREAT’: 8 Sifat Untuk Sukses’.

Kenapa hanya 8 sifat? Bukankah seharusnya untuk menjadi orang sukses itu harus memiliki semua sifat yang baik. Mungkin puluhan sifat atau bahkan ratusan. Ya, bisa jadi. Namun oleh Richard St John, sudah dihimpun dalam 8 sifat utama saja. Bukan berarti sifat-sifat lain tidak mendukung.

8 Sifat Untuk Sukses ini merupakan hasil ‘pencarian’ dari penulis untuk sebuah pertanyaan ‘Kenapa Anda bisa Sukses?’ yang suatu ketika dilontarkan oleh seorang gadis yang duduk bersebelahan dengannya pada suatu penerbangan menuju sebuah konferensi di California.’ Sayangnya, saat itu John belum bisa menjawabnya.

Untuk beberapa waktu pertanyaan itu menjadi berkecamuk dalam pikirannya. Dan pertanyaan itu lah yang kemudian mengantarkannya kepada sebuah proyek wawancara dengan 500 orang sukses di dunia. 500 wawancara dengan orang sukses demi sebuah misi untuk menemukan jawaban: ‘Kenapa Anda bisa Sukses?’  atau ‘Apa yang membuat Anda Sukses?’.

John melakukan wawancara dengan 500 orang sukses itu selama sepuluh tahun. Semua hasil wawancaranya dipilih dan dipilah. Kemudian dipisahkan berdasarkan kepeminatan dan keahlian para tokoh tersebut. Mulai dari olahragawan, actor, seniman, ilmuwan, peneliti, fotografer, politisi, hingga salesman/saleswoman. Setelah mengelompokkan pada sifat-sifat wajib yang dimiliki oleh orang sukses, maka jadilah buku panduan tersebut.

Setidaknya ada tigapuluhan sifat sukses yang banyak dijumpainya pada setiap kali tokoh yang diwawancarainya itu menjawab. Namun tidak semua tokoh memiliki ketigapuluh sifat tersebut. John belum puas dengan simpulannya ini. Terlalu banyak. Kemudian dia mengerucutkannya lagi dalam beberapa sifat saja, yang kesemuanya dimiliki oleh 500 orang sukses tersebut. Artinya, beberapa sifat ini lintas profesi, lintas kepeminatan. Mau profesi dan keahlian apapun jika memiliki kesemua sifat wajib ini pasti sukses, demikian John berargumen.

Apa saja sifat-sifat yang wajib dimiliki untuk menjadi orang sukses tersebut? Total adal 8 sifat. Berikut ini penjelasan singkatnya:

Pertama: Passion
Passion adalah sebuah langkah awal. ‘Kerjakan apa yang kau cintai, atau cintai apa yang kau kerjakan’ merupakan kalimat ajakan yang luar biasa oleh para motivator untuk menumbuhkan passion para muridnya. Dengan passion, orang sukses telah mengubah suatu yang ‘mustahil’ menjadi riil. Mengubah yang langka menjadi nyata. Orang-orang sukses selalu mencintai apa yang mereka kerjakan. Passion dapat mengubah mereka yang berprestasi rendah menjadi berprestasi melimpah. From zero to be hero.

Kedua: Kerja
Tidak ada orang sukses yang tidak bekerja keras. Semuanya bekerja keras. Mereka menemukan kesenangan saat bekerja. Mereka bukan workaholic  (kecanduan kerja) , tapi mereka workafrolics (penggemar kerja). Jelas, workaholic dan workafrolic adalah berbeda. Kecanduan kerja dapat membuat mereka membanting tulang dengan raut muka yang masam. Dan kecanduan kerja dapat menyebabkan kesehatan dan hubungan social mereka amburadul. Tentu itu tidak benar.

Workafrolic  adalah penggemar kerja.  Bekerja adalah menemukan kesenangan. Seperti yang disampaikan oleh pendiri  perusahaan periklanan Chiat/Day, Jay Chiat berikut ini: ‘Bekerja sangatlah menyenangkan. Jika Anda tidak bersenang-senang, Anda melakukannya untuk alasan yang salah. Atau ungkapan Jack Welch, CEO General Electric: ‘Bisnis adalah ide-ide, kesenangan, kegembiraan, selebrasi dan semua yang menyenangkan’. Orang-orang workafrolic tidak memilik garis pembatas antara pekerjaan dan kesenangan- semuanya berputar menjadi satu.

Ketiga: Fokus
Banyak sudah contoh orang sukses adalah mereka yang fokus pada satu bidang saja. Stop lah keinginan Anda untuk menguasai banyak hal sekaligus. Bisa jadi Anda akan menguasainya, tapi percayalah prestasi Anda tidak akan super untuk semua hal. Saran John dalam bukunya tersebut, fokuslah pada satu hal saja!

Susan Ruptash, seorang arsitek handal, yang juga dikutip dalam buku John ini menyebutkan:  ‘Memiliki fokus sangatlah penting. Banyak orang bekerja sangat keras, tetapi mereka tidak terfokus. Mereka kesana-kemari mencoba terlalu banyak hal, hinggga pekerjaan yang mereka jalani justru menjadi amburadul.

Keempat: Motivasi
Motivasi adalah bahan bakar yang selalu diperlukan untuk membuat mesin asa dan hidup Anda tetap menyala. Anda butuh motivasi, bagaikan butuhnya Anda terhadap mandi. Perlu motivasi setiap hari. Dan sifat keempat dari orang sukses itu adalah mereka mampu memotivasi dirinya sendiri. Tiada motivator yang paling unggul kecuali motivator yang hidup dalam diri Anda sendiri. Ya, Anda sendirilah motivator terhebat yang dapat mendorong Anda untuk melakukan hal-hal yang luar biasa.

David Gallo, ilmuwan laut yang terkenal, berkata pada John dalam wawancaranya: ‘Motivasilah dirimu sendiri. Hasilnya luar biasa, Teman. Selalu. Secara fisik, mental, kamu harus mendorong dirimu sendiri, dorong , terus, terus.’

Kelima: Ide
Ide menerangi jalan menuju sukses. Ide membantu Anda untuk tetap menemukan solusi pada setiap problem yang muncul. Ide membedakan Anda dengan yang lainnya. Ini yang dapat dilihat pada 500 orang sukses yang diwawancarai John tersebut. Lihatlah mereka dengan ide-idenya yang menakjubkan itu.

Contoh orang sukses yang memiliki ide dahsyat adalah Bill Gates. Dia berkata, ‘Saya punya suatu ide, mendirikan perusahaan piranti lunak microcomputer pertama.’ Dan, ide kecil tersebut menjadikan Bill raksasa dalam dunia teknologi dan juga menjadikannya manusia terkaya sedunia.

Ted Turner, pendiri CNN, juga memiliki ide dahsyat ini. Saat stasiun TV biasa hanya menanyangkan berita selama beberapa kali saja dalam sehari. Ia ingin melihat berita kapan pun ia mau, dan--- Ia muncul dengan ide mengenai CNN, jaringan berita kabel 24 jam pertama di dunia. Selanjutnya, kesuksesan luar biasa yang diraihnya dengan permulaan dari ide itu

Keenam: Pengembangan Diri
Sifat selanjutnya yang dimiliki oleh orang-orang sukses adalah: mereka secara konstan MEMPERBAIKI diri mereka sendiri dan kinerja mereka, entah itu berkaitan dengan karier, proyek, produk, atau layanan.

Tidak ada orang sukses yang berhenti belajar. Berhenti mengembangkan dirinya. Tidak Ada. Mereka terus memperbaiki diri. Prinsip mereka dalam bekerja adalah: make it better, better, better. Jangan cepat berpuas diri. Selalu ada area perbaikan yang bisa dilakukan.

Untuk mendapatkan hasil yang better, better, dan better, mereka terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Seperti yang disampaikan oleh Martha Graham, seorang koreografer berikut ini, ‘Kita belajar dari latihan-latihan. Entah mau dikatakan: belajar menari asalnya dari  berlatih menari atau belajar hidup berasal dari berlatih hidup, tetap prinsip keduanya sama.’

Ketujuh: Melayani
Sifat ketujuh yang dimiliki oleh orang-orang sukses ini adalah: mereka MELAYANI orang lain. Jika sifat pertama hingga sifat keenam tadi berfokus pada DIRI sendiri, kini saatnya teropong Anda diarahkan keorang lain.
Orang-orang sukses itu tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tapi bagaimana manfaatnya terhadap orang lain. Belumlah sukses jika Anda masih berkutat pada kepentingan diri sendiri.

Melayani orang lain adalah kunci orang untuk menjadi kaya. Melayani orang lain akan membawa kekayaan hidup yang sesungguhnya. Semangat pelayanan dan memberi kepada orang lain ini sejalan dengan semangat berikut: ‘The more you give, the more you receive’- Semakin banyak yang Anda beri, semakin banyak yang Anda terima. Dan, it’s absolutely TRUE!

Kedelapan: Tekun
Sifat kedelapan ini menunjukkan seberapa kuat Anda sebenarnya. Banyak orang yang awalnya memiliki potensi besar untuk sukses, namun jadi gagal di tengah jalan, karena mereka tidak tekun. Orang-orang sukses sangat paham akan sifat ini. Mereka terus berjuang, berbuat dengan tekun, persistence action. Hasilnya, spektakuler!

Menurut John, ketekunan menjadi sangat penting karena kita memiliki banyak hal sekaligus: daya tahan, ketabahan, stamina, determinasi, keteguhan, dan ketegaran.

Ingin menjadi sukses? Tekunlah. Layani orang lain. Terus kembangkan diri. Munculkan ide-ide dahsyat. Motivasi diri Anda. Fokuslah pada apa yang Anda kuasai. Gemari pekerjaan Anda. Tumpahkan cinta dan passion Anda untuk semua itu.
Sampai jumpa di titik SUKSES.

2014/01/17

Sungai, Sampah, dan Kita.



Saya bersama keluarga sempat tinggal selama 3 tahun di lokasi yg dekat dengan pinggir sungai kecil di Bandung (2008-2011). Lokasinya tidak jauh dari Pasar Induk di kota itu. Mohon maaf jika saya harus ceritakan ini. Satu hal kebiasaan yg tidak baik dari warganya yang kami saksikan ketika itu adalah membuang sampah ke sungai. Tiap hari mereka melakukan itu. Sampahnya semakin menumpuk. Mungkin warga setempat akan merasa 'aman' pada saat musim kemarau. Tapi akan menjadi masalah besar ketika musim penghujan. 

Apakah warga tidak paham kalau kebiasaan membuang sampah itu akan berakibat buruk? Sungai akan tersedimentasi (terjadi pendangkalan). Air sungai tercemar berat. Aliran air jadi mandeg, dan berakibat banjir. Yang ujung-ujungnya juga merugikan masyarakat itu sendiri. Ah, entahlah! 'Gak mungkin juga mereka tidak paham,' pikir saya.Tapi, kalau paham, kenapa mereka masih terbiasa saja dengan kebiasaan buruk membuang sampai ke sungai itu? Nah, inilah masalahnya. 'Kebiasaan ini harus dirubah,' tekad saya.

Terus terang sangat gemas melihatnya. Tapi segemas-gemasnya kami tetap harus menghargai dan menghormati sesama warga. Lagi pula kami ini pendatang disitu. Karena pendatang, maka menegur langsung tentu bukan pilihan yang bijak. Melarang langsung warganya buang sampah ke sungai, bisa saja akan menjadi masalah buat saya dan keluarga. Bisa-bisa kami dimusuhin dan diusir. Hehe.. .  

Yang perlu kami lakukan adalah 'berbuat' sesuatu yang menurut kami baik. Mudah-mudahan. Ya, kami sedang belajar mendidik keluarga sendiri. Memberi contoh buat anak pertama kami juga. Sukur-sukur pula dapat 'menginspirasi' warga setempat. 

Setiap pagi, sambil berangkat kerja ke arah Jl. Buahbatu, saya selalu membawa sampah yang sudah dikemas rapi di kantong plastik. Itu adalah sampah domestik kami. Saya bawa dengan diikatkan di bagian samping motor. Rata-rata ada 2 kantong plastik berukuran sedang yang saya buang setiap paginya. Saya menitipkan sampah tersebut di TPS Tegallega yg lokasinya memang searah dengan kantor tempat saya bekerja.  

Terpaksa jauh membuang sampah tersebut, karena di lingkungan sekitar tempat kami tinggal belum ada fasilitas penyimpanan sampah sementara yang memadai. Ada juga beberapa tong sampah yang dikordinir RT/RW setempat, tapi sampahnya sering melimpah kurang terurus. Itulah alasan saya kenapa sampah-sampah domestik rumah tangga kami itu dibuang jauh. Meskipun ada pengeluaran tambahan sedikit. Saya dan keluarga secara batin merasa lebih plong. Seribu atau dua ribu rupiah saya sodorkan ke petugas kebersihan di sudut lapangan itu setiap kali menitipkan sampah tersebut.

Dengan melakukan hal itu setiap pagi, ada juga tetangga yang mulai penasaran. Awalnya mereka tidak menyangka yang saya bawa itu adalah sampah. Malah ada yang menyangka itu adalah barang dagangan. 

Meski melihat kebiasaan kami yang 'berbeda' ini, waktu itu belum ada tetangga yg melakukan hal yg sama. Tidak satu pun yang meniru. Mereka tetap saja membuang sampai ke sungai. Hingga kami pindah dari sana pun, kebiasaan warga membuang sampai ke sungai itu belum berhenti juga. Mereka terus melakukannya. Duh! Kami sendiri berusaha konsisten saja.

Meskipun 'upaya' sederhana yang kami lakukan itu tidak seberapa dampak langsungnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun setidaknya bisa menjadi sumbangan kecil bagi alam yg lebih baik. Semoga. Lebih dari itu, kami sebenarnya sedang belajar melakukan perubahan, mulai dari diri sendiri. Mulai dari keluarga sendiri.

***
Setelah tidak lagi menetap di daerah sana, kami sempat bersilaturrahmi lagi ke sana tahun lalu. Satu hal yang membuat kami bahagia adalah, si pemilik rumah yang kami kontrak dulu sudah merubah kebiasaanya. Kami lihat si bapak pemilik rumah itu sedang menyiapkan kemasan sampahnya untuk disangkutkan ke motornya. Dia akan buang keluar. Wah, ini yang saya dan keluarga lakukan selama 3 tahun dulu. Artinya, mereka sudah tidak buang sampah lagi ke sungai. Saya memang tidak sempat memperhatikan warga yang lain. Tapi kami positive thinking saja, semoga yang melakukan ini bukan si bapak saja. Mudah-mudahan warga lainnya juga ikut 'berubah' ke kebiasaan yang lebih mencintai lingkungan itu. Aamiin


Photo ilustrasi: powered by google

2014/01/14

WAWASAN SASTRA: Kepengarangan dan Konstruksi Sosial

Tahun 2000, yakni 38 tahun setelah polemik yang bersumber kepada satu dalil itu, bahwa kualitas ”kesucian” seorang pengarang terletak kepada orisinalitasnya, muncul buku Hidup Matinya Sang Pengarang yang disunting oleh Toeti Heraty. Isinya, berbagai pemikiran mengenai kepengarangan, yang pada mulanya memang menunjukkan posisi pengarang sebagai sosok genius dan agung, yang difungsikan sebagai sumber pencerahan bagi masyarakatnya, tetapi yang segera disusul dengan munculnya tesis kemandirian teks, menggusur sama sekali maksud dan tujuan pengarang. Maka dalam hal ini pembaca seolah bertiwikrama menjadi Mahapembaca, yang sambil ”membunuh” pengarang mendapat hak sepenuhnya melakukan pembermaknaannya sendiri. Kenapa bisa begitu?

Esai Roland Barthes yang juga diterjemahkan dalam buku ini, Kematian Sang Pengarang, menyampaikan bahwa sebetulnya pengarang dalam konteks yang kita bicarakan, bukan pendongeng tradisional, adalah tokoh modern yang dihasilkan masyarakat Barat pada saat keluar dari Abad Pertengahan, dipengaruhi empirisme Inggris, rasionalisme Perancis, dan keyakinan pribadi Reformasi tempat diketemukannya kehormatan individual atau manusia pribadi. Dalam sastra, pribadi pengarang menjadi sangat penting, sebelum digugurkan pendapat bahwa pengarang modern lahir pada waktu yang sama dengan teksnya; ia bukan subjek dari mana buku itu berasal dan setiap teks ditulis secara abadi kini dan di sini, yang dalam istilah linguistik disebut performatif, yakni hanya terdapat pada orang pertama dan dalam waktu kini, ketika tindak bicara tidak mempunyai isi lain dari tindak pengucapannya.

Menurut Barthes, teks bukan lagi deretan kata dengan makna teologis, yakni bahwa ada ”pesan” dari pengarang yang berperan bagaikan Tuhan, melainkan teks sebagai ruang multidimensi tempat telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang aslinya: teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya. Seorang pengarang diibaratkannya hidup di dalam kamus raksasa, tempat ia hidup hanya untuk meniru buku, dan buku ini sendiri hanya merupakan jaringan tanda, peniruan tanpa akhir. Suatu teks terdiri dari penulisan ganda, beberapa kebudayaan yang bertemu dalam dialog, dalam hubungan-hubungan, yang terkumpul bukan pada pengarang (yang kekiniannya sudah berlalu) tetapi pada pembaca, ruang tempat teks diguratkan tanpa ada yang hilang. Pembaca adalah seseorang yang memegang semua jalur dari mana tulisan dibuat dalam medan yang sama. Sehingga, menurut Barthes, mitos harus dibalik: Kelahiran pembaca harus diimbangi oleh kematian pengarang.

Namun, kita harus hati-hati dalam menafsir kata ”pengarang” ini karena menurut Michel Foucault dalam Siapa Itu Sang Pengarang? yang juga diterjemahkan di sini, di antara ulasannya yang panjang lebar, bahwa ”… akan sama kelirunya jika kita menyamakan pengarang dengan pengarang sebenarnya, kalau kita menyamakannya dengan pembicara fiktif; fungsi-pengarang dilaksanakan dan beroperasi dalam analisis itu sendiri, dalam pembagian dan jarak.” Nah, apakah ini berarti wacana yang menciptakan pengarang, dan pengarang tidak menciptakan apa-apa, karena fungsi bagian dari wacana?

Sampai di sini, untuk sementara disimpulkan bahwa (1) plagiarisme sebagai bentuk kebersalahan timbul dari mitos kesucian pengarang yang ditentukan oleh orisinalitasnya; (2) meski secara filosofis dominasi pengarang atas teks sudah terhapus, tidak berarti bahwa plagiarisme menjadi halal karena mengakui ketidakmungkinan untuk jadi asli tidaklah sama dengan pemberian izin untuk mengutip tanpa menyebutkan sumbernya; (3) plagiarisme sebagai masalah etis, meski moralitasnya merupakan tanggung jawab pelaku terhadap dirinya sendiri, layak diterjemahkan secara legal dan sosial, sejauh terdapat pihak yang karenanya mendapat kerugian dan ketidakadilan dalam segala bentuk; (4) setiap bentuk kebersalahan dalam konteks ini tentunya diandaikan dapat ditebus kembali.

Seno Gumira Ajidarma. Wartawan
Diambil dari link ini.

MERANTAULAH...

Syair indah dari imam Syafi'i ini terasa so inspiring ketika dibacakan Rhenald Kasali malam ini (14 Januari 2014) di Rumah Perubahan TVRI dengan bintang tamu, tokoh perubahan 'Hasnul Suhaimi'. Putera Minang yang kini menjadi CEO XL Axiata.

MERANTAULAH...

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang

Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.

(Diwan Imam Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i)