Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2012/03/21

Pemandu INF-Award 2011 (Just for document)

@Amos Cozy Hotel, Maret 2011.
Day 1. From left: Me, Imam, Ari, and Andre. All are from Bandung.
Me between Hilmi and Dion. Day 2.
Finalists from Bandung at day 2.

Kenaikan Harga BBM: SBY Untung Rakyat Buntung

Saya Rieke Diah Pitaloka, sekedar mengingatkan 13 hari lagi adalah keputusan kenaikan harga BBM. Salah satu argumen SBY, kenaikan tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.
Berikut saya sampaikan data yang tidak pernah SBY sampaikan kepada rakyat, hitungan yang sesungguhnya bahwa dengan tidak mengurangi subsidi dan tidak menaikan harga BBM sebetulnya APBN tidak jebol.
Berikut ini data yang saya kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang tidak bermahzab neolib!
  • Indonesia menghasilkan 930.000 Barel/hari, 1 Barel = 159 liter
  • Harga Minyak Mentah = 105 USD per Barel
  • Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) 10 USD per Barel
    = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
  • Biaya LRT untuk 63 Milyar Liter
    = 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 trilyun
  • Lifting = 930.000 barel per hari,
    atau = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
  • Hak Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun
  • Konsumsi BBM di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun,
    atau dibagi dengan 159 = 396,226 juta barel per tahun
  • Pertamina memperoleh dari Konsumen :
    = Rp 63 Milyar Liter x Rp.4500,-
    = Rp. 283,5 Trilyun
  • Pertamina membeli dari Pemerintah
    = 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 224,546 Trilyun
  • Kekurangan yang harus di IMPOR
    = Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
    = 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 149,887 Trilyun
KESIMPULAN: ‎
  1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun.
  2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun
  3. Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun
  4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,-
    = Rp. 35,658 Trilyun
  5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun
  6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
  7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
    = Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
    = Rp. 126,591 trilyun
  8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 trilyun. Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat.
  9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
    = Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
    = Rp. 97,955 Trilyun
Artinya, APBN tidak Jebol justru saya jadi bertanya: dimana sisa uang keuntungan SBY jual BBM Sebesar Rp. 97,955 trilyun, itu baru hitungan 1 tahun. Dimana uang rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya?
JANGAN MAU DIBOHONGI LAGI, mohon bantu berikan penyadaran kepada rakyat, tolak kenaikan BBM, Tolak BLT sebab itu adalah akal muslihat agar subsidi dicabut akibatnya SBY UNTUNG RAKYAT BUNTUNG!


Jakarta 16 Maret 2012
Salam Juang



Rieke Diah Pitaloka
*foto by waspada.co.id

Batu Kecil

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Ada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang  kedua pun memperoleh hasil yang sama. 

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? 

Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

---

Tuhan terkadang menggunakan cobaan untuk membuat kita menengadah kepadaNya.
Seringkali kita dilimpahi dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Karena itu, agar kita selalu mengingat  kepadaNya, Tuhan juga menjatuhkan "batu kecil"
kepada  kita.

Semoga kita selalu berada dalam kebaikan, penuh dengan syukur dan sabar. Aamiin.

*Retold from anonymous person

2012/03/15

Indahnya Mengimani al-Qur'an

Alhamdulillah, sore hari ini, tepatnya ba’da sholat Ashar berjamaah di Masjid Baiturrahman Gedung Infomedia Nusantara Bandung, diadakan majlis ilmu dengan tajuk ‘Tausyiah Ba’da Ashar’. Sebagai bagian dari program kerja dari Badan Da’wah Infomedia (BDI) Bandung, InsyaAllah majlis ilmu ini akan dilakukan secara rutin karena juga sebagai bagian syiar Islam dan media mempelajari ilmu-ilmu keislaman bagi karyawan-karyawati Infomedia Bandung.

Tampil sebagai penceramah pada sore kali ini adalah ustadz Abu Amr dari lembaga Tahsin al-Qur’an Bandung. Tema yang diusung adalah ‘mendekatkan diri pada al-Qur’an sebagai salah satu indikasi keimanan’. Berikut ini saya coba ringkaskan materi ceramah ustadz Abu Amr tadi, meski dengan cara penuturan yang mungkin sedikit berbeda.

Mengimani al-Qur’an hukumnya wajib. Kewajiban ini melekat bagi setiap orang yang mengaku beriman. Disampaikan oleh al-ustadz bahwa seorang muslim yang mengaku mengimani kitab Allah (al-Qur’an), maka terdapat lima konsekwensi yang harus dijalankan.

Mengimani al-Qur’an ternyata tidak hanya sekedar meyakini bahwa al-Qur’an itu adalah kitab suci dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril saja. Tapi lebih dari itu, mengimani al-Qur’an sama dengan menerima lima konsekweksi berikut ini yang harus dimiliki pada setiap mu’min.

1.      Membaca al-Qur’an; tilawah.
2.      Mentarbiyah diri dengan Al Qur'an- Tadabbur (2:151)
3.      Menerima dan tunduk terhadap hukum Al Qur'an (33:36, 4:65, 5:44-50)
4.      Mengajak untuk Qur'ani- Berda’wah (16:125)
5.      Menegakkan Al Qur'an di bumi –Mengamalkan (42: 13)

Selain ada konsekwensi keimanan terhadap Al Qur'an,  juga seorang mukmin mempunyai kewajiban terhadap Al Qur'an. Kewajiban terhadap al Qur'an  adalah:

1.      Tilawatan (membaca)
2.      Ta'liiman (mempelajari)
3.      'Amal (mengamalkan)
4.      Hafiidzan (menghafal)

Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menjalankan lima konsekwensi tersebut di atas. Amiin ya Rab ‘alamin.

Sebagai tambahan, berikut ini saya kutipkan do’a selesai membaca al-Qur’an:

Allahummar hamna bil Quran waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina wa ’allimna minhumaa jahiilna warzuqna tilaawatahu aana al laili wa athrofannahar waj’alhu lana hujjatan Yaaa rabbal ‘alamiin


"Ya Allah kasih sayangilah daku dengan sebab Al-Qur'an ini. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai pemimpin sebagai cahaya sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagiku. Ya Allah ingatkanlah daku apa-apa yang aku lupa dalam Al-Qur'an yang telah Kau jelaskan dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui. Dan kurniakanlah daku selalu sempat membaca Al-Qur'an pada malam dan siang hari. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai hujjah bagiku."Amiin....

*picture is powered by google

2012/03/14

Team Leaders Go Lunch...

My Team. Makan siang bersama manager. 

Syefa ke Batahan...

31 Juli 2009
01 Agustus 2009. Syefa dan Umi di T3 Soetta
01 Agustus 2009. Syefa dan Abi di T3 Soetta. Riangnya nak:)
Agustus 2009. Bersama keluarga besar di Pantai Batahan.

Apapun Cangkirnya, Nikmati Kopinya

Dalam acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya."

Hidup kita seperti kopi dalam analogi di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.

"Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar". Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan. :)
*Picture source: yettiye.wordpress.com

2012/03/13

Haura Faina dalam Kolase

Tertidur pulas... 11 Maret 2012. Foto by tante kaka Irma A:)
Terlelap lagi. Berasa nyaman di samping abi:)

2012/03/06

"I'm a leader, not a manager!"

One of Kent's friends — we'll call him Roy — is a master craftsman who owns a small business that makes custom wood furniture. After making some cutbacks in 2009, his little company still employs three fine woodworkers, an office supervisor/customer service rep, and an apprentice.

What makes Roy unusual is that when he founded his firm a dozen years ago, he realized he knew nothing about business. And so he began reading serious books on the subject, as well as the Harvard Business Review and two or three business magazines.

What he's learned in the past few years is that, as he says, "I'm a leader, not a manager. I'm really good at innovation and pointing out new directions. You know, the vision thing. But I hate everything I have to do to keep the doors open and the lights on. When business was good, I could get other people to do all that while I was out designing new pieces or installations for customers, but now I have to do more of it."

Management vs. leadership — it's a distinction we all hear over and over these days. It says management focuses on getting work done on time, on budget, and on target — in other words, steady execution and control — while leadership focuses on change and innovation.
Some years ago, management was the more inclusive term and included leadership — along with motivating, planning, communicating, organizing and the like — as one of many functions necessary to make groups of people productive. Then in the late 1980s and early 1990s, the perception took hold that the U.S. was in danger of falling behind innovative competitors (Japan, in particular) because traditional management as practiced by U.S. businesses didn't promote change and innovation. The solution was leadership, which was singled out as the ability to do exactly that. Thus was born the new age of leadership in which we've heard even senior managers say, like Roy, "I'm a leader, not a manager!"

Most writers about leadership then and now explicitly note the continuing importance of management. Success still depends on execution, controls and boundaries, systems, processes, and continuity. Without all that, leadership only produces dreams. Nonetheless, being a leader has taken on a shiny, romantic aura these days while management has been given an undertone of grubby practicality. Leaders are superior beings who inspire the rest of us to greatness while managers are dull business functionaries obsessed with budgets, schedules, policies, and procedures. This thinking is at least partially behind the attitude of Kent's friend. Roy considers himself an artisan, a creator of beauty in wood, and seeing himself as a leader fits easily with that self-perception. But making sure the bills go out on time, keeping the machines working, and dealing with the employee who cuts corners and doesn't meet customer specifications aren't nearly so romantic.

Both leadership and management are crucial, and it doesn't help those responsible for the work of others to romanticize one and devalue the other. To survive and succeed, all groups and businesses must simultaneously change in some ways and remain the same in others. They must execute and innovate, stay the course and foster change. Yes, the guidance, group skills, and mindsets required for serious change and innovation differ from those needed for continuity and steady execution. But that only means those in charge must be able to act as both change agent and steward of continuity, manager and leader, as the situation requires. The challenge is to discern when one versus the other is needed. To idealize leadership and demean management only makes that challenge even harder.

To avoid all the positive and negative connotations around "leadership" and "management" today, we often use the term "boss." It's not a perfect title — no one likes to be "bossed around." To paraphrase Mary Parker Follett, a management writer in the early 1900s, the mark of a good boss is how little actual bossing he or she must do. Still, "boss" or its equivalent in other languages is widely used across generations and cultures to refer neutrally to the person in charge, the one responsible for the work of others, the one to whom each of us must answer at work.

If you're a boss, think of yourself as the one responsible for the work of others, the one who must manage and lead as necessary, without favoring one over the other. Focus on whatever is required of you to make your people productive. Most of all, take care not to conceive of yourself as the glorious leader always blazing new trails while leaving the gritty, mundane details of making it all work to lesser beings. Kent's friend may say, "I'm not a manager," but the survival of his business probably owes as much to his management skills as it does his leadership talents. 
--
by Linda Hill & Kent Lineback ; taken from harsaconsulting@gmail.com
*illustration is powered by google

2012/03/05

Syefa in Action...

Syefa, pada saat usia 3 tahun, @salah satu kidzone di Bandung
Pose-nya OKE punya:)
2011, Lebaran Day @TransStudio Bandung