Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2011/07/12

10 Reasons Why Staff Resist Change


As the old cliché says, "the only constant in life is change." Why, then, are human beings so naturally fearful of and resistant to change? Given the fast-paced, technology-based world in which we operate, one would think that employees would be accustomed to accepting and adjusting to changes. More common than not, the opposite is true. For many people, their job is a significant source of structure in their life. Any thoughts or activities that stray from the comfort of this structure can be threatening and provoke insecurity.

There are many different factors that contribute to staff resistance when it comes to organisational change. One or more of these factors can be present in the consciousness or attitude of each individual employee. Being familiar with these factors can help organisational leaders manage and overcome opposition to necessary change.

1. Lack of Awareness

Staff members at various levels may not necessarily be aware of the underlying business need for change. Whether attempts have been made at communicating this to staff or not, it must be considered and dealt with. Another variation on this theme is that even staff members that do understand the underlying need for change may not necessarily be in agreement or be in line with the overall goals of the organisation.

2. Fear of the Unknown

Humans are prone to fear of the unknown. As mentioned above, many people view their job as an important source of stability in their life. At the very least, employees depend on their regular paycheque to take care of basic financial needs. Not knowing what situations can arise from organisational change can be scary. Employees can be afraid of what may happen, especially in cases of change where layoffs or reduction in workforce may be necessary.

3. Personal Predisposition

This is a highly personal factor and can only be analyzed on an individual basis. A person's predisposition to change is based on several factors having to do with the life experiences that have helped to shape him or her. For example, the way change and uncertainty were handled when that person was a child can have a small or huge effect on how the same person perceives and reacts to impending change as an adult. People with a strong predisposition to resisting and fighting change can have an impact on the next main reason that staff rejects doing things differently.

4. Peer Pressure

Some employees are known pushovers that often take on the plights of one another even if they are not directly affected. In some cases, these types of employees will buy into others' apprehension toward change without even necessarily understanding it.

5. History

Long-standing staff members have long-standing memories. They can exhibit negative feelings and attitudes based on simple misunderstandings, miscommunications, and conflict. The worst thing about this reason for staff denial of change within organisations is that some of the deep-seated history involved may have happened long before the current leadership took the reins.

6. Comfort Zones

Employees may be creatures of habit, knowing very well how to do what they do. Introducing change can raise questions about whether the employee's existing skills and experiences will be adequate to support and thrive in the new environment. This insecurity of whether one's skills will be enough to ensure success during and after change can contribute to resistance. In addition to the skills factor, individuals may be comfortable with the current state of things. The status quo may be providing a sense of accomplishment and fulfillment that staff members are just not ready to relinquish.

7. More May Be Less

Depending on what the organisational change entails, some employees are likely to suspect that they will be required to do more with less, or to perform more work for a smaller amount of pay. While this is not likely to be the case, it is important to evaluate this factor honestly and to address it in communications about change.

8. Trust Issues

This contributing factor of staff resistance to change is related to the corporate culture at the organisation. Managers who do not trust their employees are creating a climate of mistrust that is bound to be reciprocated. If employees do not trust the leadership at the organisation, they are likely to be skeptical of any proposed changes.

9. Loss of Control

Even great employees may resist organisational change. Competent staff members who are good at what they do and feel they have a handle on everything related to their job may feel threatened by the perceived loss of control that change can bring about. Employees can feel confused and powerless by being asked to change the way they think or operate.

10. Fear of Failure

If staff members are happy with what they do and with the results they currently achieve, it may make the status quo too attractive to give up. Fear that they will not be able to attain the same level of success under new circumstances is another reason employees are skeptical of change.

These are only a few of the reasons why staff members in your organisation may resist change. It is evident that a common underlying theme among these reasons is fear. Fear can originate from a myriad of motivations and take on just as many variations. Realising that open communication and understanding will lay the foundation for overcoming fear is the first step in doing so. The type of communication that will help you understand why your staff specifically is giving change the cold shoulder is listening. Making your employees feel comfortable to voice honest opinions and doubts will give you insights into their motivations (or lack thereof). This is the best way of finding out which reasons are standing in your organisation's path to widely supported change.

Damien Clarke has been delivering Personal and Professional Change Management programs to organisations for over 14 years and currently runs various businesses. His own video program on successful Goal Setting and Change is proving a real success with people and companies all over the world. Follow is personal blog and get motivated to achieve your goals.

Article Source: http://EzineArticles.com/1789937

2011/07/09

Membangun Budaya Belajar Di Unit Kerja


Sebagai pemimpin, salah satu tugas terpenting Anda adalah; membangun budaya belajar di unit kerja Anda. Dan untuk urusan yang satu ini, kemungkinan besar Anda akan menghadapi banyak tantangan bahkan tentangan. Anda tidak sendirian. Salah satu nyanyian yang paling sering saya dengar adalah lagu yang berjudul “Banyak teori elu mah, Dang!”. Itu ketika saya sharing tentang suatu konsep. Nyanyian nyaring lainnya berjudul “Pamer melulu elu mah, Dang!”. Yang ini ketika saya sharing tentang implementasinya yang pernah saya terapkan. Cara kita merespon ilmu itu laksana tanah merespon air hujan. Jika tanah itu bersedia menerimanya, maka air hujan itu akan meresap kedalam dan menyuburkan. Jika tanah itu menolaknya, maka air yang menyegarkan itu hanya akan melintas dan menimbulkan kubangan. Tetapi, hujan tidak terlampau mempermasalahkan apakah tanah meresponnya dengan penerimaan atau penolakan. Ketika langit mengatakan; “Turunlah engkau wahai hujan…” Maka hujan pun patuh kepada perintahnya. Anda juga demikian. Jika menghadapi tantangan dan tentangan, tirulah hujan. Karena boleh jadi, ada seonggok tanah yang bersedia menerima setetas air yang Anda jatuhkan. Jikapun tidak ada, maka Anda telah menjalankan amanah langit untuk saling mengingatkan.

Salah satu cara yang saya rekomendasikan untuk Anda coba dalam membangun budaya belajar di unit kerja Anda adalah membuat forum sharing 1 kali sebulan. Mirip seperti acara training berdurasi 2 jam yang diikuti oleh SEMUA orang di unit kerja Anda. Siapa pembicaranya? Mereka sendiri. Biarkan mereka berkeringat ketika pertama kali berbicara di depan forum. Dan biarkan para manager mendengarkan pelajaran dari para staff, karena dalam forum sharing itu; ilmu diposisikan lebih tinggi dari jabatan. Sebelum dilanjutkan perlu saya sampaikan bahwa sekarang, saya tidak melakukan hal ini lagi. Mengapa? Karena sekarang saya tidak lagi bekerja sebagai seorang karyawan professional yang memiliki anak buah. Namun bagi Anda yang tertarik mempraktekan pengalaman masa lalu saya dalam membangun budaya belajar di unit kerja, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:

1. Mulailah dari komitmen Anda sebagai pimpinan. Jika Anda hanya ingin mewujudkan budaya belajar secara individu, Anda tidak perlu melakukan apapun. Diantara sekian banyak anak buah Anda, ada sekurang-kurangnya 1 orang yang punya determinasi dan komitmen untuk mengembangkan diri. Tetapi, untuk membangun budaya belajar dan pengembangan secara kolektif, Anda tidak bisa membiarkannya berjalan begitu saja. Banyak orang yang mengira jika budaya belajar itu sangat mahal, menguras waktu yang banyak, dan harus memanggil ‘para guru’ tertentu. Keliru. Budaya belajar tidak dibangun oleh orang luar, melainkan oleh diri mereka sendiri didalam unit kerja Anda. Namun, mereka tidak akan pernah melakukannya jika sebagai pemimpinnya Anda tidak menunjukkan semangat pioneering. Maka mualih dengan menunjukkan komitmen Anda sendiri. Cepat atau lambat, mereka akan mengikuti irama yang Anda mainkan.

2. Mulailah dengan Anda sendiri yang berdiri di depan. Adalah ‘human nature’ untuk mengatakan;’Elu dulu deh, elu dulu…” Oleh sebab itu, pada pertemuan pertama, pembicaranya harus Anda sendiri. Anda beri contoh untuk berdiri di depan kelas itu seperti layaknya seorang trainer. Faktanya, Anda adalah seorang trainer bagi setiap orang yang Anda pimpin. Setelah itu, giliran mereka di sesi-sesi berikutnya. Saya sendiri sempat tertegun ketika di keesokan harinya koordinator yang kami tunjuk menyerahkan sebuah ‘jadwal training’ unit kerja kami selama setahun. Lengkap dengan pembicara utamanya, serta topik apa yang akan dibawakannya. Anda akan lebih terkesan lagi jika menemukan betapa orang-orang yang Anda pimpin itu memiliki kemauan, kemampuan dan komitmen yang tinggi untuk saling berbagi pengetahuan. Tetapi, mereka tidak akan berani memulainya jika pemimpinnya tidak memulai dengan memperlihatkan komitmen dan contoh yang langsung didemonstrasikan. Jadi, mulailah dengan diri Anda sendiri yang berdiri di depan. Teori? Bukan. Ini adalah praktek yang saya terapkan.

3. Ajaklah para staf senior Anda untuk bersama-sama menunjukkan keteladanan. Salah satu faktor perusak dalam budaya belajar adalah para senior dan manager yang ogah-ogahan. Dengan otoritas yang Anda miliki, Anda bisa mengajak mereka untuk bersama-sama dengan Anda menunjukkan keteladanan itu. Anda dan para manager harus duduk di ruang sharing itu tidak peduli sesulit apapun keadaannya. Saya memang meminta mereka mengijinkan saya membawa laptop. Sebelumnya, saya membangun pemahaman bahwa, seseorang yang menempati ruang kantor paling besar bisa menelepon saya kapan saja sehingga saya harus selalu siap dengan data yang beliau minta. Mereka setuju dengan satu catatan; lap top hanya dibuka ketika saya benar-benar harus melakukannya. Setiap senior dan manager yang tidak bisa hadir, harus mendapatkan izin khusus dari saya. Dan saya sendiri hanya boleh tidak hadir dengan 3 alasan; (i) sedang tugas keluar kota, (ii) sakit parah, atau (iii) meninggal dunia. Mungkin Anda super sibuk. Tetapi mengalopkasikan waktu 2 jam sebulan untuk pertemuan sepenting itu bukanlah tuntutan yang berlebihan.

4. Ijinkan para junior menampilkan kemampuan dirinya secara orisinal. Kita sering melihat seseorang hanya sekedar dalam konteks pekerjaan. Gue atasan elu, dan elu adalah bawahan gue! Tetapi kita sering lupa, bahwa ada begitu banyak aspek hidup mereka yang kita tidak mengetahuinya. Maka dalam forum itu, ijinkan mereka untuk share APAPUN yang menjadi passion mereka. Sampai saat ini, saya masih terkesan dengan sharing tentang ‘Beternak Ikan Mas’ dari seorang data entry. Kekaguman saya belum hilang terhadap salah seorang staf cowok macho kami yang ternyata jago masak dan membikin kue. Saya masih ingat saat sesi dia seorang boss masuk ke ruangan dan bertanya;”What is going on here?” soalnya dinding kedap suara kami bukan sekedar gagal menahan suara tawa kami, melainkan juga meloloskan aroma sedap masakan yang sedang dibuatnya. Satu lagi. Apakah Anda sudah mengenal “Blue Ocean Strategy? Jika ya, darimana Anda tahu soal itu? Beberapa tahun lalu ketika banyak manager yang tidak mengenalnya, seorang staff saya berdiri di depan kelas, dan memberi kami ceramah tentang “Blue Ocean Strategy’. Hari ini pun masih banyak manager yang tidak tahu mahluk apa sih ‘BOS’ itu, bukan?

5. Buatlah kontes dengan hadiah yang menghibur. Hari gini kagak ada kontes? Yang bener aja! Coba lihat di televisi; apapun serba dikonteskan. Itulah yang kami lakukan dengan forum sharing itu. Para manager dan senior saya tugaskan untuk menjadi juri. Di akhir tahun, mereka memberi saya rekomendasi hasil penilaian terhadap setiap staff yang sudah menjadi pembicara dalam forum kami. Dari hasil penilaian para juri itu kemudian kami memutuskan siapa pembicara terbaiknya. Hadiahnya? Beberapa lembar voucher supermarket bernilai beberapa ratus ribu rupiah. Tidak ada budget? Jika Anda adalah seorang pemimpin yang menganggap bahwa budaya belajar itu penting; mengeluarkan beberapa lembar kertas bergambar Bung Karno dari dompet Anda sendiri tidak akan mengurangi kenyamanan yang Anda peroleh dari fasilitas dan bonus yang selama ini Anda nikmati.

Ada banyak cara untuk membangun budaya belajar di unit kerja kita. Bahkan sekalipun kita bisa mengundang pembicara belabel #1, #2, #3 dan seterusnya. Lagi pula, Anda tidak mungkin mengundang pembicara #2 ketika semua pembicara T-O-P-B-G-T sama-sama menggunakan label #1 dibelakang namanya, bukan? Tetapi, saya bisa katakan kepada Anda dengan seyakin-yakinnya bahwa Pembicara #1 yang sebenarnya itu adalah orang-orang yang ada di Unit Kerja Anda sendiri. Bukan pembicara bayaran seperti saya. Hebatnya lagi, Anda bisa mengundang The Truly Numero Uno Speakers itu hanya dengan modal Rp.50,000.- saja. Itupun tidak masuk ke kantong mereka, melainkan untuk membeli cemilan kecil yang bisa dimakan bersama-sama.

By: Dadang Kadarusman
illustration taken from: ilmusdm.wordpress.com

2011/06/07

Ice Breakers


An ice breaker can be a very useful technique to start a presentation or training session. It can either be in the form of a set of PowerPoint slides designed to get the audience interested – or even better, it can allow some form of audience participation.

We have collected here a range of ice breakers that you may be able to use at your next presentation or training session.

Ice breakers

A good ice breaker is where you get people who do not really know each other to get together. Then you give them five minutes to find out two or three things that they have in common (outside of work).
It could be where they were born, where they went to school, somewhere they have been on holiday, someone they know, hobbies in common.
At the end of the session you get some of them to stand up and say what they have in common. It is amazing how much people really do have in common.

Guess who?

Another technique for breaking the ice with a mid-sized group – it works particularly well in your own company or group – is to ask people to write on a post-it note something about themselves that nobody else would know.

People then have to guess who the answer applies to. You do not have to do all of the answers – just pick a few at random. You can also save a few for later in the day when people return from a coffee or lunch break.

Some of the answers can be really revealing. One person turned out to have been a breakfast TV presenter earlier in his life and another went into the woods looking for mushrooms!

Story of my life

This involves giving people the chance to make a small book about the story of their life. They have to draw in it a number of scenes about their life. They can play these back to each other or to the group.

Straub test

This was always a good one for a set of PowerPoint slides. Make a selection of PowerPoint slides each with the name of a colour printed clearly on it, but make sure that the colour of the text does not always match the name of the colour (see below). Present them in quick succession and ask people to call out the colour of the text not the word it spells. This has become more difficult to do of late due to the popularity of the Nintendo Brain Training game.

straub-test

Get the audience to do it quickly. They will soon start making mistakes. When they get it wrong you can call out the real colour.

Which finger?

Here is a good one for breaking the ice. Do this to members of your audience in turn.

Get your audience to hold out their hands with their arms straight in front of them and their thumbs pointing straight up.
Ask them to rotate their hands so that their thumbs are pointing downwards.
Ask them to cross their hands over so that their palms are flat against each other.
Get them to interlace their fingers to make a fist.
Now – point to a finger (without touching) and ask them to move it.
Now try another. They will probably find the bottom fingers most difficult.
Repeat the exercise with touching – many people find this easier.

Draw a picture

Another quite simple ice breaker technique is to arrange members of the audience in pairs and then get one of each pair to draw a picture without showing the other person. They then have to describe the picture to the other person, who has to make an exact copy – without being able to see it. All of the instructions have to be made verbally and there can be NO POINTING!

Set a time limit of three minutes.

Most people will find this very difficult. Then allow them a very quick glimpse of the picture. They will then suddenly be able to draw it with ease.
This demonstrates two different learning styles. All too often teachers and coaches rely heavily on verbal communication. Often a picture will help to convey the message far more effectively.

Coincidences

This is an ice breaker that my father (an amateur magician) used to use.

This works well with larger numbers. Ask people to guess how many people you would have to ask before you found two people who have the same birthday. Ask them to call their guess out and write down the answers. Most people think that it will be a number over 100.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Then get people to write down their birthday (just the day and the month) on a big sheet of paper. Get them to call their dates out in turn. Write these down on a flip chart. Statistically, the average is just 26 people to find a pair that have the same birthday.

You can end by saying, “Isn’t that an amazing coincidence? Now, talking about coincidences, my presentation will now reveal…” and then you are off.

Send in your ice breakers

Have you come across any other good ideas for ice breakers?

We will try to publish all suggestions that look suitable.

from:

2011/06/06

How To Conquer Public Speaking Fear

Public speaking is a common source of stress for everyone. Many of us would like to avoid this problem entirely, but this is hard to do. Whether we work alone or with large numbers of people, eventually we will need to speak in public to get certain tasks accomplished. And if we want to be leaders or achieve anything meaningful in our lives, we will often need to speak to groups, large and small, to be successful.



The truth about public speaking, however, is IT DOES NOT HAVE TO BE STRESSFUL! If you correctly understand the hidden causes of public speaking stress, and if you keep just a few key principles in mind, speaking in public will soon become an invigorating and satisfying experience for you.



Purpose Of This Report



The purpose of this Special Report is to help you overcome the fear of public speaking. It begins by discussing ten key principles to always keep in mind. If you approach any problem in life with the right starting principles, everything else will fall into place. On the other hand, if you start with the wrong guiding principles, you can try all you want, but there is little chance you'll improve.



This Report also reveals eleven "hidden" causes of public speaking stress. I have summarized these eleven causes, along with the ten key principles, at the end of this Report, so you can easily review them.



Key Principles



Principle #1--Speaking in Public is NOT Inherently Stressful



Most of us believe parts of life are inherently stressful. In fact, most of us have been taught to believe that life as a whole is very stressful!



To deal with any type of stress effectively, you first must understand that life itself, including public speaking, is NOT inherently stressful. Thousands of human beings have learned to speak in front of groups with little or no stress at all. Many of these people were initially terrified to speak in public. Their knees would shake, their voices would tremble, their thoughts would become jumbled . . . you know the rest. Yet they learned to eliminate their fear of public speaking completely.



You are no more or less human than they are. If they can conquer the fear of public speaking, so can you! It just takes the right guiding principles, the right understanding, and the right plan of action to make this goal a reality.



Believe me, it's not difficult. I'm a good example of someone who conquered the fear of public speaking. And while I didn't do it overnight, it wasn't difficult. All it took was approaching the problem in the right way.



Principle #2--You Don't have to be Brilliant or Perfect to Succeed



Many of us have observed public speakers and thought to ourselves "Wow, I could never be that smart, calm, witty, entertaining, polished . . . or whatever." Well, I've got news for you-- you don't have to be brilliant, witty, or perfect to succeed. That is not what public speaking is all about. I know it may look that way, but it's not. You can be average. You can be below average. You can make mistakes, get tongue-tied, or forget whole segments of your talk. You can even tell no jokes at all and still be successful.



It all depends on how you, and your audience, define "success." Believe me, your audience doesn't expect perfection. I used to think most audiences did, but I was wrong! Before I discovered this, I used to put incredible pressure on myself to deliver a perfect performance. I worked for days to prepare a talk. I stayed up nights worrying about making mistakes. I spent hours and hours rehearsing what I was going to say. And you know what? All this did was make me even more anxious! The more perfect I tried to be, the worse I did! It was all very disheartening (not to mention unnecessary).



The essence of public speaking is this: give your audience something of value. That's all there is to it. If people in your audience walk away with something (anything) of value, they will consider you a success. If they walk away feeling better about themselves, feeling better about some job they have to do, they will consider you a success. If they walk away feeling happy or entertained, they will consider their time with you worthwhile.



Even if you pass out, get tongue-tied, or say something stupid during your talk . . . they won't care! As long as they get something of value, they will be thankful.



They don't even need to feel good to consider you a success. If you criticize people, or if you stir them up to ultimately benefit them, they might still appreciate you, even though you didn't make them feel good at the time.



Principle #3--All You Need is Two or Three Main Points



You don't have to deliver mountains of facts or details to give your audience what they truly want. Many studies have shown that people remember very few of the facts or information speakers convey. While you may choose to include lots of facts and information, you only need to make two or three main points to have your talk be successful. You can even have your whole talk be about only one key point, if you wish.



When I first began speaking in public during medical school (kicking, screaming, and quivering all the way), I wasn't aware of this simple principle. I wrongly believed that my audience wanted encyclopedic knowledge from me, which of course I didn't have. So I tried to research my topic thoroughly and deliver as much worldly wisdom as possible.



Boy was that exhausting! It was also boring for my audience to suffer through.



Later, when I began giving public seminars on how to cope with stress, I spent hours each week typing a twenty-page script to read from, so I wouldn't forget any important tidbit.



As time went on, I gradually learned that this degree of complexity wasn't needed. As a result, the length of my discussion notes gradually declined. My twenty-page typed manuscript gave way to a five-page detailed outline. Then, I replaced my outline with ten or fifteen index cards. Eventually, I could conduct a full two-hour seminar with only one 3X5 index card (containing my two or three key points) to support me!



As long as I focused on these two or three key points, I was able to speak at length about them by naturally drawing upon my past experiences and knowledge.



Remember, all your audience wants from you is to walk away with one or two key points that will make a difference to them. If you structure your talks to deliver this result, you can avoid lots of complexity that isn't really needed. This also should make your job as a speaker much easier, and more fun too!



Principle #4--You also Need a Purpose That is Right for the Task



This principle is very important . . . so please listen up. One big mistake people make when they speak in public is they have the wrong purpose in mind. Often, they have no specific purpose in mind, but the one that is operating within them unconsciously causes a whole lot of unnecessary stress and anxiety.



This is a prime example of what I call a "hidden cause" of public speaking stress. When I first started speaking in public, I thought my purpose was to get everyone in the audience to approve of me. I mistakenly thought that this was what good public speakers try to do. I wasn't consciously aware of this purpose, nor how foolish it was, but it was there nonetheless.



Because of this hidden purpose, I felt I needed to be absolutely perfect and brilliant to win my audience's unanimous approval. If just one person in the audience disapproved . . . my goose was cooked! If one person left early, if anyone fell asleep, or if someone looked uninterested in what I was saying . . . I was defeated!



This was very anxiety-producing.



Later, after I became aware of this stress-producing purpose, I was able to look at it honestly and realize how foolish it was. How many public speakers get 100% approval from their audiences? The answer is zero!



The truth about public speaking is no matter how good a job you do . . . someone is going to disapprove of either you or your argument. That is just human nature. In a large group of people, there will always be a diversity of opinions, judgements, and reactions. Some will be positive, others will be negative.



There is no rhyme or reason to it. If you do a lousy job, some people will sympathize with you and feel for you, while others will critique you harshly. If you do a fantastic job, someone will resent your ability and might disapprove of you on that basis alone. Some people will leave early because of an emergency. Some will fall asleep because they were up all night taking care of a sick child. Therefore, it's foolish and unrealistic to attempt to get everyone in your audience to think well of you.



More importantly, it's the wrong type of purpose to adopt in the first place.



Remember, the essence of public speaking is to give your audience something of value. The operative word here is GIVE not GET! The purpose of public speaking is not for you to get something (approval, fame, respect, sales, clients, etc.) from your audience. It is to give something useful to your audience.



Yes, if you do this well, you'll gain notoriety, respect, sales, and new clients. But this should never be your organizing purpose going in. If you focus on giving as much as you can to your audience, you will then be aligned with the truth about public speaking. You also will avoid one of the biggest pitfalls that cause people to experience public speaking anxiety.



Giving of yourself is rarely stressful or anxiety producing. When I give a talk to a group of people, I often imagine myself handing out $1,000 bills to everyone in the audience. I try to give them at least that much value. If a few individuals in the group reject this "gift," it no longer surprises or demoralizes me. I no longer expect anything different.



Principle #5--The Best Way to Succeed is Not to consider Yourself a Public Speaker!



While it may seem paradoxical, the best way to succeed as a public speaker is not to consider yourself a public speaker at all.



Many of us have distorted, exaggerated views of what successful public speakers do. We often assume that to be successful ourselves, we must strive very hard to bring forth certain idealistic qualities we presently lack.



Consequently, we struggle desperately to emulate those personal characteristics of other speakers which we wrongly believe are responsible for their public speaking success.



In other words, we try to become someone other than ourselves! We try to be a public speaker, whatever that image means to us.



The truth about public speaking is that most successful speakers got that way by doing just the opposite! They didn't try to be like somebody else. They just gave themselves permission to be themselves in front of other people. And much to their surprise, they discovered how much fun they could have doing something most other people dread.



The secret, then, to their success is that they didn't try to become public speakers!



You and I can do the very same thing. No matter what type of person we are, or what skills and talents we possess, we can stand up in front of others and fully be ourselves.



I now love to speak in public. Why? Because it's one of the few times I give myself permission to fully be myself in the presence of others. I can be bold, compassionate, silly, informative, helpful, witty . . . anything I want. I can tell jokes, which I don't normally do, tell humorous or poignant stories, or do anything else that feels natural in the moment.



As a result, I make much better contact with my audience. I don't drone on and on about some uninteresting subject. I'm alive, I'm energized, I'm fully invested in everything I say and do. That's another gift I can give my audience. It also allows me to tell when I've gone on too long or when the people who are listening to me begin to drift away.



When you really get good at being yourself in front of others, you can even stand up in front of a group of people without any idea how you're going to get across your two or three main points. Sometimes, I enjoy throwing myself in front of a group without knowing specifically what I'm going to say. I just focus on my three main points and remember I'm there to give people something of value. Then I give myself permission to say whatever comes to mind. In many instances, I say things I've never said before! They just come out of me spontaneously while "being with my audience." Sometimes, I'm truly amazed at some of the things I end up saying or doing.



And you know what? People in the audience often come up to me afterward and say, "you were great, I wish I had the confidence to give public talks like you." That's exactly the wrong way to think. Don't try to give talks the way I do, or the way anyone else does. Just go out there, armed with a little knowledge and a few key points, and be yourself. Everything else will usually work out. It might be a little rough the first few times you try it, but after a while, you'll settle into some very successful ways of being that will be all yours and no one else's.



Principle #6--Humility and Humor Can Go a Long Way



While each person will eventually find his or her style of public speaking, certain maneuvers can be used by almost everyone. Two of these, humility and humor, can go a long way to making your talks more enjoyable and entertaining for your audience.



Humor is well understood by most of us, so little needs to be said about it here. If being humorous feels comfortable for you, or if it fits your speaking situation, go for it. It usually works, even if you don't do it perfectly.



By humility, I mean standing up in front of others and sharing some of your own human frailties, weaknesses, and mistakes. We all have weaknesses, you know, and when you stand up in front of others and show that you're not afraid to admit yours, you create a safe, intimate climate where others can acknowledge their personal shortcomings as well.



Being humble in front of others makes you more credible, more believable, and paradoxically more respected. People can connect with you more easily. You become "one of them" instead of a remote expert who's head and shoulders above them (which you really aren't). It also sets a tone of honesty and self-acceptance, which people recognize in themselves as well. Don't try to do this, however, if it's not authentic for you. True humility is easily distinguished from the pretense of acting humble. If you pretend, your audience will perceive this and lose respect for you.



Often, humor and humility can be combined very effectively. Telling humorous stories about yourself, or using your own personal failings to demonstrate some point you are trying to make, can be both entertaining and illuminating.



For example, if you get nervous when you stand up to speak in front of a group, or if you suddenly feel nervous during the middle of your talk, don't hide this fact from your audience (they can tell anyway). Be real--and humble--by acknowledging your fear openly and honestly. Ask your audience for forgiveness while you take a few moments to collect yourself.



Or, you can start your talk with a humorous story that produces the same effect. For example, I've seen speakers begin their talks by saying "What lies at the bottom of the ocean and shakes all over?" Answer: a nervous wreck! This is a very endearing strategy that also helps relieve speaking anxiety.



Principle #7--When You Speak in Public, Nothing "Bad" Can Ever Happen!



One thing that adds to the fear of public speaking is the dread people have that something awful, terrible, or publicly humiliating will happen to them.



What if I pass out from nervous exhaustion? What if I forget everything I intended to say and am left standing there, totally speechless? What if the audience hates me and begins throwing things at me?



What if they all get up and leave after the first ten minutes? What if they snipe at me with harsh questions or comments once I'm done? What if someone in the audience tries to turn the group against me?



These could be embarrassing if they occurred. Fortunately, most of them don't happen.



Even when they do, it's useful to have a strategy in mind that has them turn out perfect. Sound difficult? It's not really.



I've found that most of the "negative" things that happen when I'm speaking can be handled by keeping this one simple, but powerful, principle in mind: everything that happens can be used to my advantage.



If people get up and start to head for the door, I can stop what I'm doing and ask for feedback. Was there something about my topic, my style, or my manner of presentation that was offensive to them? Were they simply in the wrong room at the start and didn't know it? Did someone misinform them about what my talk was going to cover?



Regardless of what they tell me, just stopping to deal with this situation, honestly and humbly, will often score points with my remaining audience. It also will give me the opportunity to learn how I am affecting people, so I can make any corrections that might be needed.



Even if everyone walked out and refused to give me a reason, I could ultimately find ways to benefit from this experience. At the very least, I could use it as the opening for my next presentation. "You know, I gave this same talk the other day and everyone in the audience walked out in the first ten minutes. That's my current record, so I guess we'll just have to see what happens today."



The same principle holds for dealing with hecklers or people who ask harsh or confrontational questions. If you assume that nothing truly bad can ever happen when you're speaking in public, you'll be amazed how well you can relate to such events and how often you can indeed use them to your advantage.



And once you've successfully used this principle many times, your anxiety about public speaking will almost completely go away. You'll know it will be virtually impossible for anything "bad" to happen that you won't be able to handle. That is a very comforting thought.



TIP: If you want a good role model for developing this skill, rent a video tape of Johnny Carson's opening monologues. He was a master at using this principle. No matter how his audience responded, Carson was always ready to use their response, positive or negative, to make another joke. He simply couldn't lose, even if the material his writers provided him was rotten.



Principle #8--You Don't Have to Control the Behavior of Your Audience



To succeed as a public speaker, you don't have to control the behavior of your audience. There are certain things you do need to control--your own thoughts, your preparation, arrangements for audio-visual aids, how the room is laid out--but one thing you don't have to control is your audience. They will do whatever they do, and whatever they do will usually be "perfect."



If people are fidgety or restless, don't try to control this. If someone is talking to a neighbor, or reading the newspaper, or falling asleep, leave them alone. If people look like they aren't paying attention, refrain from chastising them. Unless someone is being intentionally disruptive, there is very little you need to control.



Thinking you need to change or control other people is a hidden cause of stress in many areas of life. This is just as true for relating to a group as it is for relating to your friends, spouse, children, or other acquaintances.



Principle #9--In General, the More You Prepare, the Worse You Will Do



Preparation is useful for any public appearance. How you prepare, however, and how much time you need to spend are other matters entirely.



Many of the errors in thinking we've discussed so far often creep in to people's strategies for preparation. If you have the wrong focus (i.e., purpose), if you try to do too much, if you want everyone to applaud your every word, if you fear something bad might happen or you might make a minor mistake, then you can easily drive yourself crazy trying to overprepare your talk. In these instances, the more effort you put in, the worse you probably will do.



On the other hand, if you know your subject well, or if you've spoken about it many times before, you may only need a few minutes to prepare sufficiently. All you might need is to remind yourself of the two or three key points you want to make, along with several good examples and supporting facts and . . . BOOM you're ready to go.



Overpreparation usually means you either don't know your subject well or you do, but you don't feel confident about your ability to speak about it in public. In the former instance, you'll need to do some extra research. In the latter, you'll need to develop trust in your natural ability to speak successfully. The only way to do this is to put yourself in the spotlight, over and over again.



Go out and solicit opportunities to speak on your subject in public. Offer to speak free or for a small fee, enough to cover your expenses. If you have something of value to tell others, keep getting in front of people and deliver it. In no time at all, you'll gain confidence. You'll also begin to respect the natural public speaker/communicator within you.



Principle #10--Your Audience Truly Wants You to Succeed



The last principle to remember is that your audience truly wants you to succeed. Most of them are scared to death of public speaking, just like you. They know the risk of embarrassment, humiliation, and failure you take every time you present yourself in public. They feel for you. They will admire your courage. And they will be on your side, no matter what happens.



This means that most audiences are truly forgiving. While a slip of the tongue or a mistake of any kind might seem a big deal to you, it's not very meaningful or important to your audience. Their judgements and appraisals will usually be much more lenient than yours. It's useful to remind yourself of this point, especially when you think you've performed poorly.



Review Of 11 Hidden Causes Of Public Speaking Stress



1. Thinking that public speaking is inherently stressful (it's not).

2. Thinking you need to be brilliant or perfect to succeed (you don't).

3. Trying to impart too much information or cover too many points in a short presentation.

4. Having the wrong purpose in mind (to get rather than to give/contribute).

5. Trying to please everyone (this is unrealistic).

6. Trying to emulate other speakers (very difficult) rather than simply being yourself (very easy).

7. Failing to be personally revealing and humble.

8. Being fearful of potential negative outcomes (they almost never occur and even when they do, you can use them to your advantage).

9. Trying to control the wrong things (e.g., the behavior of your audience).

10. Spending too much time overpreparing (instead of developing confidence and trust in your natural ability to succeed).

11. Thinking your audience will be as critical of your performance as you might be.



Review of 10 Key Principles To Always Keep In Mind



#1---Speaking in Public is NOT Inherently Stressful

#2---You Don't Have to be Brilliant or Perfect to Succeed

#3---All You Need is Two or Three Main Points

#4---You also Need a Purpose That is Right for the Task

#5---The Best Way to Succeed is NOT to Consider Yourself a Public Speaker!

#6---Humility and Humor Can Go a Long Way

#7---When You Speak in Public, Nothing "Bad" Can Ever Happen!

#8---You Don't Have to Control the Behavior of Your Audience

#9---In General, the More You Prepare, the Worse You Will Do

#10--Your Audience Truly Wants You to Succeed



That's all there is to it. Just look for these eleven hidden causes and keep the ten corresponding principles in mind.



Of course, you will need to practice. It's extremely easy to forget the ten key principles. No matter how often you review them, you'll instinctively fall back into your old stress-producing patterns.



What is the best way to practice? Go out and speak in public. Join a local Toastmasters Group if you like. Take a community college course in public speaking. Better yet, offer to teach a course about something you know very well.



Just keep throwing yourself into the arena, and in no time at all, your skill, confidence, and natural ability will come to the surface.



And remember, if you get up in front of a group and find this stressful, it only means you forgot the truth about what public speaking is all about. Go back and review this Report. Find out what you did wrong or what you didn't remember. Then go back out and speak again until you get it right. It may take time, but the long-term rewards will be impressive.

By Morton C. Orman, M.D.

2011/06/04

Manage the Crisis


In a fast-changing, turbulent, highly competitive business environment, you will have a crisis of some kind every two or three months. You also could have a financial crisis, a family crisis, a personal crisis, or a health crisis with the same frequency.

Take Charge Immediately
When the crisis occurs, there are four things you should do immediately.

1. Stop the bleeding. Practice damage control. Put every possible limitation on losses. Preserve cash at all costs.

2. Gather information. Get the facts. Speak to the key people and find out exactly what you are dealing with.

3. Solve the problem. Discipline yourself to think only in terms of solutions, about what you can do immediately to minimize the damages and fix the problem.

4. Become action-oriented. Think in terms of your next step. Often any decision is better than no decision.



Practice Thinking Ahead
One of the key strategies for business and personal success is "crisis anticipation." This strategy is practiced by top people in every field-executives, managers, entrepreneurs, and leaders, especially military leaders. You practice crisis anticipation by looking into the future three, six, nine, and twelve months ahead and asking, "What could happen to disrupt my business or personal life?"



Develop a Contingency Plan
You need to have a contingency plan for possible emergencies and crises. What steps would you take if something went seriously wrong? What would you do first? What would you do second? How would you react? Develop a scenario—a storyline and a plan—describing how you would handle a negative situation, if it occurred.



Prevent the Recurring Crisis
A crisis, by definition, is a once-only, unexpected negative event. If there is a recurring crisis in your company or your life, one that repeats itself regularly, especially cash crises, then you are dealing with a deeper problem, usually incompetent or poor organization. To ensure that the crisis does not repeat itself, after you have resolved that crisis for the first time, do a thorough debriefing on the problem. What exactly happened? How did it happen? What did we learn? What could we do to make sure it doesn't happen again?

Action Exercise

1. Identify the three worst things that could happen in your business in the next year. What could you do today to minimize the damage from these crises?

2. Identify the three worst things that could happen in your personal and family life, and then take steps to make sure they don't happen.

By Brian Tracy

2011/05/25

Magnet Pemimpin

Dulu, ketika ada orang yang bercerita bahwa hampir semua pemimpin duduk kesepian di puncak piramida, saya agak kurang percaya. Pasalnya, secara kasat mata kelihatan, setiap pemimpin dikelilingi oleh banyak sekali pengikut. Di mana-mana muncul diikuti oleh banyak orang.

Sekian tahun setelah menjadi konsultan banyak pemimpin perusahaan, dan juga merasakan sendiri bagaimana kesepiannya saya di puncak piramida sebuah perusahaan swasta, terasa sekali kebenaran pernyataan di atas.

Ada banyak sekali hal yang hilang begitu duduk di atas. Tawa ria yang bebas, hubungan tanpa jarak, manusia-manusia tulus yang datang tanpa kepentingan, kebebasan dari politik perkantoran yang busuk, hidup dengan stress ringan, hanyalah sebagian kecil saja dari kemewahan hidup yang hilang.

Ketika hanya menjadi penasehat sejumlah pemimpin, ringan, enteng, dan jernih saja saya bisa menasehati mereka. Banyak klien yang bahkan mendekatkan anaknya ke saya, guna diberikan pencerahan berpikir ketika kesepian di atas. Namun, begitu duduk dan merasakan sendiri rasanya kesepian, baru terasa amat dalam substansi dari ide pemimpin yang kesepian di atas.

Ada kerinduan akan tawa yang bebas, tetapi saya tidak bisa melakukannya terlalu sering, sebab menyangkut the power of execution. Ada niat untuk lari dari politik perkantoran, tetapi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena setiap pemimpin harus melakukan power games. Maunya memiliki stres yang ringan-ringan saja, namun di atas, hampir semua informasi hadir seperti teka-teki yang tidak saja mengasikkan, tetapi juga membawa tekanan.

Ketika dunia pemimpin belum saya tahu langsung wajah aslinya, mimpi untuk sampai di sana sering hadir. Sekarang, ketika semua itu sudah menjadi keseharian, kadang saya rindu akan dunia orang biasa yang sederhana dan bersahaja. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bercengkerama dengan tukang taman yang mengurus taman rumah, dengan satpam yang menjadi penjaga rumah, atau dengan pedagang skoteng yang kerap lewat di malam hari. Namun, bukankah daya radiasi hidup dan kehidupan pemimpin jauh lebih luas dari sekadar manusia biasa yang sederhana dan bersahaja?

Pertanyaan terakhir inilah yang memompa semangat saya, untuk tegar kesepian di atas.

Lebih dari sekadar takut kesepian, pemimpin seyogyanya terbang seperti burung elang. Tinggi, sendirian, kesepian, namun memiliki helicopter"s view yang amat mengagumkan. Atau ibarat orang yang bangun di pagi hari sendirian, kemudian siap disebut aneh oleh semua orang ketika bertutur tentang apa yang terjadi di pagi hari.

Sebagaimana burung elang yang sebenarnya, ia memang tidak pernah terbang bersama-sama, dan juga penuh kebebasan. Ia senantiasa sendirian.

Setiap kali saya mengambil keputusan penting, selalu saya usahakan untuk membayangkan diri terbang tinggi, dan bebas dari segala ketakutan termasuk dipecat besok pagi. Untuk kemudian, berusaha sekuat tenaga mengangkat dan menarik bawahan ke atas. Persis seperti magnet, untuk menarik logam yang berat, diperlukan tenaga yang amat kuat.

Stres, marah, tegang, kehilangan kawan, bahkan kadang frustrasi adalah bagian dari tanda-tanda mulai terkuras habisnya tenaga untuk menarik orang-orang bawah. Apapun harganya, ia mesti dibayar oleh setiap orang
yang berani memutuskan diri hidup menjadi pemimpin.

Hanya dengan cara terakhir, daya radiasi pemimpin menjadi luas, dalam dan panjang. Magnetnya akan menarik ke atas banyak orang. Standar kualitasnya diikuti.

Meminjam contoh cantik John Maxwell, pemimpin orkestra ketika bekerja harus membalik punggung di hadapan pengunjung. Ia membuat keputusan seorang diri - sekali lagi seorang diri. Ia tidak bisa hanyut dengan pengunjung, dan memperhatikan respons pengunjung terhadap cara dia memimpin. Bakti hidup dan perhatiannya tidak ditujukan untuk pengunjung, tetapi untuk bawahan-bawahan yang ia pimpin. Tepuk tangan penonton itu penting, tetapi bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya, memimpin pemain orkestra secara amat cemerlang.

Untuk mencapai tujuan tadi, pemimpin memerlukan lem yang bisa mengikat tanpa paksaan. Logika adalah salah satu perlengkapan dari lem tadi. Namun, sehebat-hebatnya logika, dia tidak bisa mengalahkan hubungan dari hati ke hati.

Hubungan terakhir, mirip sekali dengan semen. Sekali merekat, susah sekali merobohkannya. Bedanya dengan logika yang boros sekali dengan kata-kata, hubungan dari hati ke hati tidak memerlukan terlalu banyak kata-kata. Setiap tambahan kata-kata, hanya akan memperenggang hubungan. Namun ia merindukan banyak tindakan. Lebih-lebih yang dibangun di atas ketulusan dan kemurnian.

Setiap tambahan tindakan tadi, di satu sisi memperkuat kekuatan daya tarik magnet pimpinan, dan pada saat yang sama memperingan gerakan orang bawah untuk ditarik ke atas.

Ada saatnya, "burung elang" pemimpin akan terbang ringan, bebas dan sedikit hambatan. Dan ini sangat ditentukan pada daya rekat lem di atas.

Saya memang masih terbang berat dan memiliki cukup banyak hambatan. Namun, ada saatnya, ketika tabungan hubungan dari hati ke hati sudah memadai, "burung elang" saya akan terbang bebas dan ringan.

Sama dengan burung elang yang sebenarnya, di titik ini, setiap hambatan tidak membuat daya jangkau terbangnya menyempit. Justru hambatan tadi - seperti angin - akan membuat burung elang terbang semakin jauh dan semakin jauh.

Dari tulisan: Gede Prama

2011/05/24

Ungkapan-ungkapan Inspiratif


Pakaian paling indah di dunia adalah SENYUM.

Kebiasaan paling merusak adalah KUATIR.

Sukacita terbesar adalah MEMBERI.

Kehilangan terbesar adalah HARGA DIRI.

Pekerjaan paling memuaskan adalah MEMBANTU ORANG LAIN.

Kepribadian terburuk adalah EGOIS.

Spesies yang hampir punah adalah PEMIMPIN YANG BERDEDIKASI.

Sumberdaya terbesar kita adalah GENERASI MUDA.

Energi terbesar adalah DORONGAN SEMANGAT.

Masalah terbesar untuk diatasi adalah RASA TAKUT.

Obat tidur paling mujarab adalah PIKIRAN YANG DAMAI.

Kegagalan paling melumpuhkan adalah ALASAN DIBUAT-BUAT.

Kekuatan terbesar di dunia adalah CINTA.

Manusia paling berbahaya adalah TUKANG GOSIP !!

Komputer paling hebat di dunia adalah PIKIRAN MANUSIA.

Sangat buruk kondisi Anda jika Anda tidak memilikinya adalah HARAPAN.

Senjata paling berbahaya adalah LIDAH.

Dua kata paling penuh kekuatan adalah SAYA BISA.

Aset terbesar adalah IMAN.

Emosi paling tidak berguna adalah RENDAH DIRI.

Harta tak ternilai harganya adalah INTEGRITAS.

Alat komunikasi paling hebat adalah DOA.

2011/05/16

MEMPERTAHANKAN ORANG-ORANG TERBAIK ANDA


Sedikit sekali Pemimpin yang berhasil tanpa dukungan dari orang-orang berbakat yang mendukung mereka. Mempertahankan karyawan-karyawan bintang tidak hanya baik bagi perusahaan tapi juga bagi Anda sebagai Pemimpin.

Berikut 3 TIPS Cara untuk mempertahankan orang-orang terbaik yang Anda miliki:


1. Percaya kepada kemampuan TEAM Anda.

Berikan kesempatan kepada staff Anda untuk menggunakan kekuatan-kekuatan unik yang mereka miliki setiap hari. Beri mereka kesempatan melakukan yang terbaik yang mereka bisa sesuai bidang mereka.

2. Tetap Terhubung.
Sempatkan waktu setiap harinya melakukan kontak ke setiap individu untuk melihat bagaimana keadaan mereka -- secara pribadi dan profesional. Hindari topik-topik yang bersifat terlalu pribadi atau sensitif, kecuali staff anda yg lebih dulu menyinggung hal tersebut. (Optimalkan sms, email, BBM :)

3. Hargai keunikan setiap Pribadi.
Kenali kebutuhan individu masing-masing karyawan Anda, dan sesuaikan secara khusus pada saat memmberikan tugas-tugas, benefit dan pemberian penghargaan prestasi secara seksama.

(translated from Harvard Business Management Tip of The Day)

Protokol Zionisme

Hampir sembilan tahun lalu, saya mendapatkan dua buah buku sebagai hadiah dari seorang teman. Buku itu berjudul The International Jew, yang ditulis Henry Ford, dan Zionisme : Gerakan Menaklukkan Dunia, yang ditulis oleh ZA Maulani.

Henry Ford, pendiri dan pemilik perusahaan mobil Ford Amerika Serikat. Dalam buku yang sempat dimusnahkan Yahudi AS itu, Henry Ford–yang membongkar kebusukan lobi Yahudi, menyimpulkan, untuk mencapai tujuannya kalangan Yahudi menggunakan cara-cara sesuai karakter mereka, yakni : dominasi atau hancurkan !.

Ford semula tidak begitu percaya keterlibatan Yahudi Internasional dalam berbagai peperangan dan peristiwa besar di dunia. Ia melakukan penyelidikan, menggali fakta-fakta, dan menyewa investigator. Penyelidikan Ford ini kemudian dikenal sebagai Jewish Question. Dari penyelidikan itu, Ford yakin tangan-tangan Yahudi Internasional bermain dalam berbagai peristiwa dunia. Dan, menurutnya, tangan-tangan itu harus dipatahkan. ” Ancaman sesungguhnya bagi Amerika Serikat adalah Yahudi terpelajar itu ”, kata Ford.

Melalui Dearborn Independent, surat kabar kecil yang dibelinya di Michigan, Ford menurunkan hasil investigasinya yang membeberkan kebusukan Yahudi Internasional di Amerika. Salah satu temuan Ford adalah Protokol Zionis. Dokumen ini berisi strategi Yahudi Internasional menguasai dunia, politik internasional, keuangan dan bisnis, media, dan juga budaya.

Publikasi terhadap Protokol Zionis tersebut menuai kecaman. Ford dianggap Anti-Semit. Dokumen itu oleh kalangan Yahudi dinilai palsu. Ford tidak ingin terjebak perdebatan asli atau palsu. Ia mengatakan, ”…dari apa yang saya ketahui, semua yang terjadi sekarang ini di dunia, sesuai dengan isi dokumen itu.”

Artikel-artikel di surat kabar Dearborn Independent memicu kemarahan kalangan Yahudi. Mereka menuntut Ford minta maaf. Bisnisnya dipersulit sampai mengalami krisis keuangan. Dalam situasi sulit itu, Ford dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan mobil secara misterius.

Pada 1977, artikel-artikel Ford itu dibukukan dalam The International Jew. Buku ini sempat menjadi buku terlaris, terjual lebih dari 10 juta copy. Kalangan Yahudi memborong buku ini, membakarnya, merazia toko-toko buku, dan bahkan mencurinya di perpustakaan untuk dimusnahkan.

Kini, Yahudi Internasional diyakini tangannya telah merambah ke seluruh dunia, ke segala kalangan. Pengaruhnya mendunia, mendominasi segala wacana. Pengikutnya pun menyebar kemana-mana, ke segala profesi dan strata sosial kemasyarakatan. Pengikut, disadari maupun tidak disadari. Pengiku langsung, ataupun tak langsung, bahkan sekedar menjadi fans pengidola dari pengikut tak langsungnya.

Tangannya mengontrol segala peristiwa. Termasuk tak terkecuali, rentetan peristiwa dalam rangka agenda menghancurkan Palestina. Dimana dunia Arab malahan hampir tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya menjadi penonton saja, saat Palestina dihancurkan. Dan, kita yang di sini pun juga disibukan dengan urusan politik dan pertengkaran antarkita-kita.

Jangan-jangan, kita ini sudah menjadi bagian dari protokol itu ?. Wallahualambishawab.

Bukan hal yang tak mungkin, karena mereka sudah terbiasa ikut mengontrol proses dan menentukan jalannya maupun hasil sebuah suksesi kepemimpinan di suatu negara.

Jangan-jangan, pemilu di negara kita ini pun tak lepas dari peranan dan andil keikut sertaan kepanjangan tangan mereka ?. Wallahualambishawab.

Bukan hal yang tidak mungkin, mengingat negara kita (berpenduduk muslim terbesar di dunia) serta kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini, terlampau seksi untuk tak mereka perhatikan, terlalu berharga untuk mereka lewatkan begitu saja.

Begitulah beberapa kalangan meyakininya. Namun tentu tak kurang pula yang mencibirkannya, dan menyanggahnya. Pro kontra yang wajar-wajar saja, akan tetapi perlu direnungkan oleh semua pihak suatu kenyataan bahwa …semua yang terjadi sekarang ini di dunia, sesuai dengan isi dokumen itu.’

Tapi protokol itu sendiri keberadaannya juga selalu dibantah oleh para penentang teori tentang protokol. “Apakah masuk di akal bila memang ada semacam program penguasaan dunia oleh kaum Yahudi, mereka sampai sebodoh itu menuliskan dan menerbitkannya ?”.

Memang tidak ada bukti Dokumen-Dokumen Protokol itu disampaikan selain dengan cara lisan oleh yang merumuskannya. Dokumen Protokol sebagaimana yang kini ada di tangan kita, nampaknya merupakan hasil catatan dari ceramah-ceramah oleh seseorang yang turut mendengarkannya. Beberapa di antaranya berupa uraian panjang lebar, dan beberapa lagi singkat.

Dokumen protokol ini diketemukan pada masa kisaran tahun 1780-an kala polisi Bavaria menemukan sesosok mayat yang mati tersambar petir. Didalam lipatan bajunya ditemukan seberkas dokumen yang menghebohkan, yang kemudian dinamakan sebagai Dokumen Protokol Zionisme.

Sebuah naskah yang berisikan tentang agenda besar kaum yahudi untuk menguasai dunia. Naskah tentang sebuah hasil pemikiran mengerikan yang nyaris sempurna, manual yang memuat dasar teori, sasaran, metode pencapaiannya, untuk mencapai ‘Kekuasaan Mendunia Kaum Yahudi’. Dikemudian hari sekitar tahun 1905-an, Protocol itu diterbitkan di Rusia oleh Prof. Nilus, yang dikenal luas sebagai ‘Protokol dari para Pinisepuh Zion yang Bijak’ (The Protocols of The Learned Elders of Zion).

Merujuk kepada definisi dari Theodore Herzl tentang bangsa Yahudi sebagai ‘suatu perikatan yang bersatu karena adanya musuh bersama’. Yang dimaksud olehnya tentang ‘musuh bersama’ tidak lain ialah dunia non-Yahudi di luar mereka. Apakah kaum Yahudi yang menyadari bahwa masyarakatnya seperti yang dinyatakan oleh Theodore Herzl yang pada hakekatnya adalah satu bangsa, akan bersedia tetap bercerai-berai (dispersed) menghadapi kenyataan dunia yang ada ?.

Nampaknya sikap yang diambil orang Yahudi tidak akan seperti itu. Protokol Zionisme membantu mereka memberikan jawaban dan arahan kepada pertanyaan : Apakah kaum Yahudi memiliki suatu sistem mendunia yang terorganisasi ?. Apa saja kebijakan yang berkaitan dengan hal itu ?. Bagaimana kebijakan itu diimplementasikan ?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas mendapat sorotan penuh di dalam Dokumen Protokol itu. Siapa pun yang menyusunnya, sangat menyiratkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tentang kodrat dan fitrah manusia, terutama tentang simpul-simpul sensitif di ranah syahwatnya. Juga tentang sejarah, tentang seni kenegaraan. Sebuah hasil pemikiran yang sangat memukau, nyaris sempurna, dan sangat menakutkan karena sasaran dan tujuannya yang telah dirumuskannya itu akan dicapainya dengan menghalalkan segala macam cara dan upaya.

Dokumen Protokolnya itu sendiri tidaklah teramat penting, tetapi kondisi dan sasaran yang diperbincangkannya memiliki derajat kepentingan yang sangat tinggi. Secara definitif ada suatu daftar yang disusun meliputi kaum aristokrasi, pemodal, dan pemerintah, yang menjadi sasaran pelaksanaan dari rencana tersebut. Program itu ditujukan kepada penduduk dunia yang disebut kaum Non-Yahudi (Gentiles).

Sebagian besar dari tipe rencana-rencana liberal yang merusak itu ditujukan kepada daftar orang yang dikategorikan sebagai penolong; rencana ini ditujukan untuk men-degenarasi-kan masyarakat agar mereka direduksi kepada kondisi kebingungan, sehingga lebih mudah dimanipulasi. Gerakan rakyat yang dari jenis liberal akan didorong ke depan, semua falsafah yang merusak di bidang agama, ekonomi, politik, dan kehidupan rumah-tangga, akan disemai dan dikompori. Semua itu dengan maksud untuk men-disintegrasi-kan solidaritas sosial, melalui kekacauan itu dijalankan, dan masyarakat akan dilibatkan ke dalam program destruktif itu bersamaan dengan disebarkannya kepalsuan falsafah .

Pertanyaan yang biasa muncul pada tahapan ini adalah ‘apakah ada kemungkinan program dalam dokumen Protokol yang dilaksanakannya itu akan dapat berhasil ?’. Jawabannya, program itu bahkan pada beberapa bidang sudah berhasil, bahkan banyak tahapannya yang penting-penting telah menjadi kenyataan. Hanya saja keberhasilan itu tidak boleh sampai menimbulkan ketakutan, karena senjata utama untuk melawan program semacam itu, baik bagian yang sudah dicapai maupun yang belum dicapai, adalah publisitas yang jelas.

Untuk mencapai hal itu, didalam Dokumen Protokol itu dijelaskan bahwa perlu untuk melakukan dua hal : selalu harus ada sekelompok orang yang menyambut setiap gagasan yang dilemparkan, hasilnya dapat dipastikan akan selalu terjadi perpecahan sebagai akibat munculnya pertentangan pendapat tentang gagasan itu antara berbagai kelompok.

Pengamatan yang jeli akan dapat terlihat bahwa lebih dari separuh dari apa yang dipropagandakan sebagai pendapat umum, ilmu-pengetahuan, bahkan apa yang disebut sebagai hukum ekonomi, itu tidak lain adalah propaganda sistematis dari sekumpulan tepuk-tangan dan komentar-komentar yang telah disewa.

Hal lainnya, Dokumen Protokol juga menunjukan detil-detil bagaimana cara melemparkan gagasan yang kontroversial tidak boleh dibatasi pada hanya satu gagasan, tetapi harus sejumlah gagasan yang kontroversial dilemparkan, yang mengakibatkan tidak ada kesatuan pendapat di antara para penerimanya. Ujungnya adalah perpecahan serta keresahan yang meluas, dan itulah hasil yang dituju.

Hal itu sejalan jika diambilkan salah satu contoh dari isi Protokol yang Kelima dan Ketujuh, “Untuk menguasai pendapat umum, yang pertama-tama diperhatikan ialah pentingnya mengacaukan pendapat umum itu dengan cara menyampaikan beragam pendapat yang saling bertentangan,…..ini kaidah yang pertama. Kaidah kedua, ialah upaya meningkatkan dan mengintensifkan persepsi tentang kekurangan-kekurangan yang ada di dalam masyarakat, tentang kebiasaan yang berkembang, aspirasi, dan gaya hidup, sehingga ditumbuhkan kekesalan terhadap kehidupan yang memperlihatkan adanya kekacauan; akibatnya, masyarakat akan kehilangan saling-percaya satu dengan lainnya. Langkah ini akan membuahkan perbedaan pendapat pada semua pihak dan lapisan, mendisintegrasikan kekuatan kolektif yang ada pada mereka, diiringi upaya menghilangkan atau menekan prakarsa-prakarsa yang mungkin akan dapat menjegal usaha kita”. “…Kita harus memaksa pemerintahan non-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuatan besar Pers’. Dengan sedikit pengecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita…”.

Hari ini, Protokolat Zionis ini biasa dikenal berjumlah 24 butir, namun yang berasal dari Rotshchild sesungguhnya berisi 25 pasal. Jika kita berbicara tentang bagaimana membendung pengaruh dan daya kendali dari rencana Protokolat ini, maka tak ada cara lain selain mengetahuinya, mempublikasikannya, sehingga menjadi pengetahuan umum.

Konon hal ini dulu pernah dilakukan oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Mahathir Muhammad, saat mundur dari jabatannya. Beliau mencetak buku yang berisi tentang Protokol Zionisme ini. Sayangnya, saya tidak mempunyai buku tersebut. Akan tetapi dari beberapa buku yang memuat tentang hal itu, dapat disampaikan tentang pokok-pokok isinya, antara lain :

1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan ‘hasrat alami’ manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus melakukan apa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.

5. Kebenaran adalah kekuatan konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.

6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan.8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.

10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi ‘tuhan’ bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.

11. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.

12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain.

13. Dengan emas, konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan seribu orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.

14. Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.

16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya.

17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.

19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.

22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.

23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya.

24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.

25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.

Sedangkan pada buku yang lain lagi disebutkan, cuplikan dan beberapa kutipan dari naskah itu antara lain adalah sebagai berikut :


Protokol Pertama :
…Kemenangan dapat kita capai dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan dengan masyarakat yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling sensitive pada pikiran manusia, yaitu pada urusan dana, pada aspek nafsu syahwat manusia, pada keserakahan akan materi yang tidak pernah dapat dipuaskan; dan setiap kelemahan manusia tadi bila diamati satu persatu cukup untuk melumpuhkan daya prakarsa, karena semuanya itu terenggut dari diri mereka, karena ia telah menyerahkan kemauan manusia kepada disposisi dia yang telah membeli kegiatan-kegiatannya, yang pada dasarnya menjadi motor pendorong kegiatan kehidupan mereka…
…Kualitas luhur yang ada pada masyarakat adalah kejujuran dan keterbukaan, merupakan peluang penting dalam politik, karena sifat-sifat ini akan melengserkan secara pasti dan meyakinkan, melebihi musuh paling kuat sekalipun. Sifat-sifat ini melekat pada kaum non-Yahudi; kita sudah barang tentu tidak boleh dipimpin oleh mereka…
…Kita akan memaksa menaikkan upah, yang sebenarnya tidak akan memberikan manfaat sedikitpun bagi kaum buruh, karena pada saat yang bersamaan kita kan menaikkan harga-harga keperluan utama, dengan berpura-pura berdalih bahwa semuanya terjadi karena menurunnya hasil pertanian dan peternakan. Kita juga dengan cantik dan dengan sunguh-sungguh harus merusak sumber-sumber produksi dengan menanamkan gagasan anarki kepada kaum buruh, dan mendorong mereka untuk mengkonsumsi minuman keras, dan dengan itu pada saat yang bersamaan mengambil langkah-langkah untuk mengusir kaum intelektual non-Yahudi untuk meninggalkan negerinya…
…Sejak masa kuno kita adalah orang pertama yang meneriakkan kata-kata, kebebasan, persamaan, persaudaraan, diantara manusia. Kata-kata itu telah berkali-kali diulang-ulang oleh beo kampanye pemilihan umum, yang menhimpun orang untuk mendengarkan umpan ini, dengan mana mereka telah meruntuhkan kemakmuran dunia dan kemerdekaan abadi yang sejati. Orang non-Yahudi yang menyangka dirinya pandai dan cerdas tidak mengerti perlambang dari kata-kata tadi, tidak mengamati kontradiksi maknanya, tidak memperhatikan bahwa secara kodrati tidak ada persamaan…
…Kemerdekaan politik hanyalah sekedar idea, bukan fakta. Adalah penting untuk memahami bagaimana mengetrapkan idea bilamana ada kebutuhan untuk mendapatkan dukungan masyarakat terhadap suatu partai atau seseorang, jika partai itu ingin mengalahkan partai lain yang tengah berkuasa. Tugas ini menjadi lebih ringan bila pihak lawan telah dicemari oleh prinsip-prinsip kebebasan, atau apa yang disebut liberalisme. Biasanya demi sebuah idea ia akan bersedia menyerahkan sebagian dari kekuasaannya…
…Situasi seperti diatas tidak boleh sampai diketahui secara premature oleh kaum non-Yahudi, kita harus memasang tirai melalui usaha-usaha seolah-olah gerakan kita untuk membentuk kelas buruh dan mempromosikan prinsip-prinsip ekonomi yang hebat; untuk maksud itu propaganda yang aktif harus dijalankan dengan menggunakan teori-teori ekonomi kita itu…
…Diatas puing-puing reruntuhan aristrokrasi kaum non-Yahudi, kita akan membangun aristrokrasi dari kalangan klas terdidik kita, dan atas segenap aristrokrasi keuangan. Kita telah membangun basis bagi aristrokrasi yang baru ini atas dasar kekayaan yang kita kendalikan, dan atas dasar ilmu pengetahuan yang dibimbing oleh kaum bijak kita…

Protokol Kelima :
…Untuk menguasai pendapat umum, yang pertama-tama diperhatikan ialah pentingnya mengacaukan pendapat umum itu dengan cara menyampaikan beragam pendapat yang saling bertentangan. Ini kaidah yang pertama. Kaidah yang kedua ialah upaya meningkatkan dan mengintensifkan tentang kekurangan-kekurangan yang ada didalam masyarakat, tentang kebiasaan yang berkembang, aspirasi, dan gaya hidup, sehingga ditumbuhkan kekesalan terhadap kehidupan yang memperlihatkan adanya kekacauan; akibatnya, masyarakat akan kehilangan saling percaya satu dengan lainnya. Langkah ini akan membuahkan perbedaan pendapat pada semua pihak dan lapisan, mendistegrasikan kekuatan kolektif yang ada pada mereka, diiringi upaya menghilangkan atau menekan prakarsa-prakarsa yang mungkin akan dapat menjegal usaha kita…

Protokol Ketujuh :
…Kita harus memaksa pemerintahan non-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan “kekuatan besar” Pers. Dengan sedikit pengecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita…

Protokol Kedelapan :
…Untuk sementara waktu sampai saat yang cukup aman tiba untuk memberikan jabatan-jabatan pemerintahan kepada saudara-saudara kita kaum Yahudi, kita akan mempercayakan jabatan-jabatan itu kepada mereka yang track-record dan wataknya sedemikian rupa, yaitu adanya jurang yang lebar antara mereka dengan rakyatnya…
…Kita akan mengepung pemerintahan yang ada dengan para ekonom kita. Karena alasan inilah ilmu ekonomi menjadi mata pelajaran utama yang dituntut dan diajarkan oleh kaum Yahudi. Kita akan dikelilingi oleh galaksi yang terdiri dari para banker, industrialis, kapitalis, dan terutama kaum milyuner, karena sebenarnya segala sesuatu akan ditentukan oleh daya tarik kepada angka-angka…

Protokol Kesembilan :
…Dalam kenyataan tidak ada yang merintangi kita, Adi pemerintahan kita mempunyai status hukum yang luar biasa yang dapat disebut dengan nama kediktatoran. Saya dengan sadar dapat menyatakan bahwa pada waktu ini kita lah pencipta undang-undang. Kita membentuk peradilan dan yurisprudensi. Kita memerintah dengan tekad yang kuat, karena partai-partai yang kuat ada didalam genggaman tangan kita, sekarang kitalah yang berkuasa…
…Agar supaya tidak menghancurkan intitusi-institusi kaum non-Yahudi sebelum waktunya, kita telah meletakkan ikhtiar dan menggenggam pegas mekanisme mereka. Mekanisme itu semula ada dalam keadaan kuat dan tertib, tetapi kita telah mengantikannya dengan sesuatu administrasi bebas yang membuatnya kacau. Kita telah melakukan campur tangan terhadap yurisprudensi wiralabanya, persnya, kebebasan pribadinya, dan yang paling penting, pendidikan dan budayanya yang merupakan soko guru dari eksistensi yang bebas…
…Kita telah menyesatkan, membuat mereka terpana, dan mendemoralisasikan generasi muda kaum non-Yahudi melalui pendidikan tentang prinsip-prinsip dan teori-teori yang bagi kita merupakan hal-hal yang palsu, yang telah kita jadikan inspirasi bagi mereka. Diatas hukum yang berlaku, tanpa perubahan yang sesungguhnya, kita telah mendistorsikannya dengan interpretasi yang kontraproduktif, kita telah menciptakan sesuatu yang mengagumkan dilihat dari hasilnya…

Protokol Kesebelas :
…Tuhan telah melimpahkan karunia kepada kita, umat-umat pilahan-Nya, suatu Rahmat, yang nampak seolah-olah seperti kelemahan kita, padahal sebenarnya merupakan kekuatan kita, itulah yang telah membawa kita ke serambi penguasaan atas seluruh dunia…

Protokol Keduabelas :
…Kita telah menguasai pers pada saat ini sampai ke tingkat dimana semua berita disalurkan melalui kantor-kantor berita kita kesemua bagian dunia. Kantor-kantor berita ini berdasarkan tujuan dan maksudnya menjadi institusi kita dan akan menyiarkan hanya yang kita izinkan…
…Pers kita akan mengekpos masalah-masalah pemerintahan dan keagamaan dan tentang ketidakbecusan kaum non-Yahudi, dengan menggunakan istilah-istilah yang melecehkan sedemikian rupa, sehingga mendekati penghinaan, keahlian yang sudah lama dikenal dikalangan kaum kita…
…Kita akan menangani pers dengan cara sebagai berikut :
(1) Kita harus menungganginya dan mengendalikannya dengan ketat. Kita juga harus melakukan hal yang sama dengan barang cetakan, karena kita perlu melepaskan diri kita dari serangan-serangan pers, kalau kita tetap terbuka terhadap kecaman melalui famlet dan buku-buku.
(2) Tak boleh satupun pernyataan sampai ke masyarakat diluar pengawasan kita. Kita telah mencapai hal itu pada saat ini sampai pada suatu tingkatan dimana semua berita disalurkan melalui kantor-kantor berita yang kita kendalikan dari seluruh bagian dunia.
(3) Literatur dan jurnalisme merupakan dua kekuatan pendidikan yang sangat penting, dan karena itu pemerintah kita akan menjadi pemilik sebagian besar dari jurnal-jurnal yang ada. Kalau ada sepuluh jurnal swasta, maka kita harus memiliki tiga puluh jurnal milik kita sendiri, dan seterusnya…
…Hal ini tidak boleh sampai menimbulkan kecurigaan di masyarakat, karena alasannya semua jurnal yang kita terbitkan akan diluar kecenderungan dan pendapat yang paling kontroversial, jadi kita membangun kepercayaan pada masyarakat dan menarik perhatian lawan-lawan kita yang tidak mencurigai kita, dan akan masuk perangkap kita dan membuat mereka tidak berbahaya…

Protokol Ketigabelas :
…Persoalan kebijakan, bagaimanapun juga tidak diizinkan kepada siapapun juga kecuali mereka yang merumuskan kebijakan itu dan telah mengarahkannya selama berabad-abad…
,,,Sementara memberi kuliah kepada kaum non-Yahudi, kita harus menjaga masyarakat dan agen-agen kita dengan ketaatan yang tidak boleh diragukan. Rencana administrasi harus memancar dari satu pikiran tunggal. Oleh karena itu meskipun kita boleh mengetahui rencana aksinya, tetapi kita tidak boleh mendiskusikannya, jika tidak kita akan menghancurkan wataknya yang unik. Karya inspirasi dari pemimpin kita oleh karenanya tidak boleh dilemparkan kepada massa untuk dirobek-robek menjadi serpihan-serpihan, bahkan juga kepada kelompok terbatas sekalipun…
…dan engkau juga boleh memperhatikan bahwa kita mencari persetujuan, bukan terhadap tindakan-tindakan kita, tetapi terhadap tutur kata kita yang diucapkan dalam hubungan satu dan lain persoalan. Kita selalu mengumumkan secara terbuka bahwa kita dibimbing dalam setiap tindakan kita dengan harapan dan keyakinan bahwa kita bekerja untuk kebajikan…

Protokol Keempatbelas :
…Bila kita telah menjadi penguasa kita harus memandang sebagai hal yang sama sekali tidak dikehendaki keberadaan agama-agama lainnya kecuali agama kita; menyatakan hanya ada satu Tuhan yang oleh takdir_Nya kita telah ditentukan sebagai “umat pilihan”, dan yang melalui takdir-Nya pula nasib kita menyatu dengan masa depan dunia. Karena alasan inilah kita harus menghancurkan semua agama lainnya. Kalau ada muncul atheisme kontemporer, sebagai langkah transisi paham ini tidak akan menghalangi tujuan kita…
…Dalam divergensi ini antara kaum non-Yahudi dengan kita, dalam kemampuan berfikir dan mengembangkan nalar harus dilihat dengan jelas alasan mengapa kodrat menetapkan kita sebagai “umat pilihan”, sebagai manusia yang memiliki derajat lebih tinggi, yang membedakan kita dengan kaum non-Yahudi yang memiliki hanya naluri dan pikiran hewani. Mereka mengamat, tetapi mereka tidak mampu melihat kedepan, dan meraka tidak mampu menciptakan apapun (kecuali mungkin hal-hal yang bersifat material) dari sini jelas bahwa alam sendiri telah mentakdirkan kita untuk menguasai dan membimbing dunia…
…Dinegara-negara yang disebut maju, kita telah menciptakan literature yang tak berperasaan, jorok, dan memuakkan. Segera setelah kita memegang kekuasaan, kita akan makin mendorong kehadiran literature semacam itu, sehingga mereka akan memperlihatkan secara lebih kontras antara tulisan-tulisan media mereka dengan pernyataan-pernyataan tertulis maupun lisan yang datang dari kita…

Protokol Kelimabelas :
…Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya…

Protokol Ketujuhbelas :
…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan diaman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan…

Akhirulkalam, amat menarik. Sebuah naskah dari hasil sebuah pemikiran yang ditulis hampir 100-200 tahun yang lalu, yang jika dilihat berdasarkan atas situasi dan kondisi sekarang ini, dapat dikatakan bahwa terbukti sama dengan program yang ditulis pada naskah tersebut. Sungguh bagaikan nujum karya Ronggowarsito,atau serupa dengan ramalan jongkonya Joyoboyo. Akan tetapi, Protocol Zionisme ini bukanlah suatu naskah nujum atau ramalan masa depan, namun naskah ini adalah sebuah ‘manual’ yang berisikan ‘program’, bahkan menunjukan detil-detil bagaimana cara mencapai sasaran dan tujuannya.

Tak ada kata lain yang dapat mewakili rasa kekaguman dari yang pernah membacanya, selain, luar biasa !.

Wallahulambishshawab.
--
Diambil dari catatan: rifkyprdn@yahoo.com

2011/05/10

Gelombang Otak

Otak kita setiap saat menghasilkan impuls-impuls listrik. Aliran listrik ini, yang lebih dikenal sebagai gelombang otak, diukur dengan dua cara yaitu amplitudo dan frekuensi Amplitudo adalah besarnya daya impuls listrik yang diukur dalam satuan micro volt. Frekuensi adalah kecepatan emisi listrik yang diukur dalam cycle per detik, atau hertz Frekuensi impuls menentukan jenis gelombang otak yaitu beta alfa, theta, dan delta Jenis atau kombinasi dan jenis gelombang otak menentukan kondisi kesadaran pada suatu Saat.

Pandangan keliru yang selama ini ada dalam benak banyak orang adalah otak hanya menghasilkan satu jenis gelombang pada suatu saat. Saat kita aktif berpikir kita berada pada gelombang beta. Kalau kita rileks kita berada di alfa. Kalau sedang ngelamun, kita di theta. Dan, kalau tidur lelap kita berada di delta. Pandangan itu salah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suatu saat, pada umumnya, otak kita menghasilkan empat Jenis gelombang secara bersamaan, namun dengan kadar yang berbeda. Dalam kondisi tertentu, misalnya meditasi, kita dapat secara sadar mengatur jenis gelombang otak mana yang ingin kita hasilkan.

Pola Gelombang Otak

Setiap orang punya pola gelombang otak yang unik dan selalu konsisten. Keunikan itu tampak pada komposisi ke empat jenis gelombang pada saat tertentu. Komposisi gelombang otak itu menentukan tingkat kesadaran seseorang. Meskipun pola gelombang otak ini unik, tidak berarti akan selalu sama sepanjang waktu. Kita dapat secara sadar, dengan teknik tertentu, mengembangkan komposisi gelombang otak agar bermanfaat bagi diri kita.

Beta

Beta adalah gelombang otak yang frekuensinya paling tinggi. Beta dihasilkan oleh proses berpikir secara sadar. Beta terbagi menjadi tiga bagian, yaitu beta rendah 12-15 Hz, beta 16-20 Hz, dan beta tinggi 21-40 Hz. Kita menggunakan beta untuk berpikir, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Meskipun beta sering kali “menghilang” saat kita memfokuskan pikiran, beta tetap dibutuhkan agar kita dapat menyadari dan ia di luar diri kita. Bersama dengan gelombang lainnya, beta sangat dibutuhkan dalam proses kreatif. Tanpa beta, semua kreativitas yang merupakan hasil pikiran bawah sadar akan tetap terkunci di bawah sadar, tanpa bisa terangkat ke permukaan dan disadari oleh pikiran.

Walaupun beta merupakan satu komponen yang sangat penting dan kondisi kesadaran kita, bila kita beroperasi semata-mata hanya dengan jenis gelombang ini, tanpa didukung oleh frekuensi yang lebih rendah, maka akan menghasilkan satu kehidupan yang dipenuhi dengan kekhawatiran, ketegangan, dan proses berpikir yang tidak fokus.

Alfa

Alfa adalah jenis gelombang yang frekuensinya sedikit lebih lambat dibandingkan beta, yaitu 8-12 Hz. Alfa berhubungan dengan kondisi pikiran yang rileks dan santai. Dalam kondisi alfa, pikiran dapat melihat gambaran mental secara sangat jelas dan dapat merasakan sensasi dengan lima indra dan apa yang terjadi atau dilihat dalam pikiran. Alfa adalah pintu gerbang bawah sadar.

Pada tahun 60-an dan 70-an, alfa sangat populer dan diklaim sebagai gelombang otak paling penting, yang merupakan kunci untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Penelitian dengan menggunakan mind technology modern yang dilakukan oleh banyak pakar terkemuka, antara lain Maxwell Cade dan Anna Wise, membuktikan, bahwa alfa bukanlah jenis gelombang terpenting.

Manfaat alfa yang utama dan paling penting adalah Sebagai jembatan penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Alfa memungkinkan kita untuk menyadari keberadaan mimpi dan keadaan meditasi terdalam yang kita capai. Tanpa alfa, kita tidak akan dapat mengingat mimpi atau dan ia meditasi yang sangat dalam saat kita terbangun atau selesai bermeditasi.

Theta

Theta adalah gelombang otak, pada kisaran frekuensi 4-8 Hz, yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar (subconsciaus mind). Theta muncul saat kita bermimpi dan saat terjadi REM (rapid eye movement). Pikiran bawah sadar menyimpan memori jangka panjang kita dan juga merupakan gudang inspirasi kreatif. Selain itu, pikiran bawah sadar juga menyimpan materi yang berasal dan kreativitas yang ditekan atau tidak diberi kesempatan untuk muncul ke permukaan dan materi psikologis yang ditekan. Meskipun kita dapat masuk ke theta dan mengakses berbagai materi yang tersimpan di sana, bila tidak dibantu dengan gelombang alfa dan beta, semua materi itu tidak dapat dikenali oleh pikiran sadar. Semua materi yang berhubungan dengan emosi, baik itu emosi positif maupun negatif, tersimpan dalam pikiran bawah sadar. Emosi-emosi negatif yang tidak terotasi dengan baik, setelah masuk ke pikiran bawah sadar, akhirnya menjadi beban psikologis yang menghambat kemajuan diri seseorang.

Bila kita berhasil masuk ke kondisi theta, kita akan mengalami kondisi meditatif yang sangat dalam. Semua pengalaman meditatif yang selama ini dicari oleh orang yang melakukan praktik meditasi, misalnya keheningan, ketenangan, kedalaman, dan puncak kebahagiaan, dirasakan di dalam theta. Theta adalah “puncak” di dalam “pengalaman puncak”. Saat komponen gelombang lainnya berada dalam takaran yang pas, bersama dengan theta, kita dapat merasakan pengalaman “ah-ha”. Saat kita ingin mengobati dan menyembuhkan tubuh atau pikiran, kita harus masuk ke theta agar dapat mencapai hasil maksimal.

Delta

Delta adalah gelombang otak yang paling lambat, pada kisaran frekuensi 0,1-4 Hz, dan merupakan frekuensi dan pikiran nirsadar (unconsciaus mind). Pada saat kita tidur lelap, otak hanya menghasilkan gelombang delta agar kita dapat istirahat dan memulihkan kondisi fisik. Pada orang tertentu, saat dalam kondisi sadar, delta dapat muncul bersama dengan gelombang lainnya. Dalam keadaan itu, delta bertindak sebagai “radar’ yang mendasari kerja intuisi, empati, dan tindakan yang bersifat insting. Delta juga memberikan kebijakan dengan level kesadaran psikis yang sangat dalam.

Gelombang delta sering tampak dalam diri orang yang profesinya bertujuan membantu orang lain. Orang yang perlu memahami kondisi mental, psikologis, atau emosi orang lain. Orang yang berprofesi sebagai “penyembuh” dan orang yang sangat mengerti orang lain biasanya mempunyai gelombang delta dalam kadar yang tinggi. Delta muncul tidak hanya saat kita memperhatikan orang lain, namun juga muncul saat kita berusaha mengerti ide atau konsep, objek atau seni, atau apa saja yang membutuhkan kesadaran nirsadar yang dalam.

Delta juga disebut dengan orienting response karena berfungsi mengarahkan kita dalam hal waktu dan ruang. Delta berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk merasakan adanya ancaman atau bahaya. Delta memungkinkan kita untuk “melihat” informasi yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran sadar. Dari sudut pandang negatif, delta juga dapat digunakan untuk kondisi berhati-hati yang berlebihan (hypervigilance). Sikap hati-hati yang berlebihan, atau lebih tepat disebut dengan kepekaan, berguna untuk anak yang mengalami abuse untuk memastikan kondisi emosi orangtuanya. Dari pengamatannya, anak itu akan tahu apakah orangtuanya akan memukul atau menghukum dirinya. Masalah akan timbul bila anak bertumbuh dengan delta yang berlebihan dan secara terus-menerus “membaca” kondisi emosi di lingkungan sekitarnya dan berusaha mengendalikan kondisi ini demi keselamatan hidupnya.

Orang dewasa yang terlalu peka, sebagai hasil dan mengembangkan sikap berhati-hati secara berlebihan sejak kecil dapat secara positif mengarahkan kepekaannya ini pada kemampuan persepsi psikis dan penyembuhan. Hal itu dapat dicapai karena radar delta yang telah sangat berkembang dalam dirinya. Delta juga dihubungkan dengan konsep collective unconsciaus.

Gelombang beta, alfa theta, dan delta adalah komponen pembentuk kesadaran kita. Keempat gelombang itu beropenasi dalam satu jalinan komposisi rumit yang menentukan kondisi kesadaran kita dalam suatu saat.

Semoga Bermanfaat

Have a positive day!

Salam,
Mohamad Yunus CPHR Cht MNLP
"You create your own reality"