Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2012/03/14

Syefa ke Batahan...

31 Juli 2009
01 Agustus 2009. Syefa dan Umi di T3 Soetta
01 Agustus 2009. Syefa dan Abi di T3 Soetta. Riangnya nak:)
Agustus 2009. Bersama keluarga besar di Pantai Batahan.

Apapun Cangkirnya, Nikmati Kopinya

Dalam acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya."

Hidup kita seperti kopi dalam analogi di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.

"Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar". Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan. :)
*Picture source: yettiye.wordpress.com

2012/03/13

Haura Faina dalam Kolase

Tertidur pulas... 11 Maret 2012. Foto by tante kaka Irma A:)
Terlelap lagi. Berasa nyaman di samping abi:)

2012/03/06

"I'm a leader, not a manager!"

One of Kent's friends — we'll call him Roy — is a master craftsman who owns a small business that makes custom wood furniture. After making some cutbacks in 2009, his little company still employs three fine woodworkers, an office supervisor/customer service rep, and an apprentice.

What makes Roy unusual is that when he founded his firm a dozen years ago, he realized he knew nothing about business. And so he began reading serious books on the subject, as well as the Harvard Business Review and two or three business magazines.

What he's learned in the past few years is that, as he says, "I'm a leader, not a manager. I'm really good at innovation and pointing out new directions. You know, the vision thing. But I hate everything I have to do to keep the doors open and the lights on. When business was good, I could get other people to do all that while I was out designing new pieces or installations for customers, but now I have to do more of it."

Management vs. leadership — it's a distinction we all hear over and over these days. It says management focuses on getting work done on time, on budget, and on target — in other words, steady execution and control — while leadership focuses on change and innovation.
Some years ago, management was the more inclusive term and included leadership — along with motivating, planning, communicating, organizing and the like — as one of many functions necessary to make groups of people productive. Then in the late 1980s and early 1990s, the perception took hold that the U.S. was in danger of falling behind innovative competitors (Japan, in particular) because traditional management as practiced by U.S. businesses didn't promote change and innovation. The solution was leadership, which was singled out as the ability to do exactly that. Thus was born the new age of leadership in which we've heard even senior managers say, like Roy, "I'm a leader, not a manager!"

Most writers about leadership then and now explicitly note the continuing importance of management. Success still depends on execution, controls and boundaries, systems, processes, and continuity. Without all that, leadership only produces dreams. Nonetheless, being a leader has taken on a shiny, romantic aura these days while management has been given an undertone of grubby practicality. Leaders are superior beings who inspire the rest of us to greatness while managers are dull business functionaries obsessed with budgets, schedules, policies, and procedures. This thinking is at least partially behind the attitude of Kent's friend. Roy considers himself an artisan, a creator of beauty in wood, and seeing himself as a leader fits easily with that self-perception. But making sure the bills go out on time, keeping the machines working, and dealing with the employee who cuts corners and doesn't meet customer specifications aren't nearly so romantic.

Both leadership and management are crucial, and it doesn't help those responsible for the work of others to romanticize one and devalue the other. To survive and succeed, all groups and businesses must simultaneously change in some ways and remain the same in others. They must execute and innovate, stay the course and foster change. Yes, the guidance, group skills, and mindsets required for serious change and innovation differ from those needed for continuity and steady execution. But that only means those in charge must be able to act as both change agent and steward of continuity, manager and leader, as the situation requires. The challenge is to discern when one versus the other is needed. To idealize leadership and demean management only makes that challenge even harder.

To avoid all the positive and negative connotations around "leadership" and "management" today, we often use the term "boss." It's not a perfect title — no one likes to be "bossed around." To paraphrase Mary Parker Follett, a management writer in the early 1900s, the mark of a good boss is how little actual bossing he or she must do. Still, "boss" or its equivalent in other languages is widely used across generations and cultures to refer neutrally to the person in charge, the one responsible for the work of others, the one to whom each of us must answer at work.

If you're a boss, think of yourself as the one responsible for the work of others, the one who must manage and lead as necessary, without favoring one over the other. Focus on whatever is required of you to make your people productive. Most of all, take care not to conceive of yourself as the glorious leader always blazing new trails while leaving the gritty, mundane details of making it all work to lesser beings. Kent's friend may say, "I'm not a manager," but the survival of his business probably owes as much to his management skills as it does his leadership talents. 
--
by Linda Hill & Kent Lineback ; taken from harsaconsulting@gmail.com
*illustration is powered by google

2012/03/05

Syefa in Action...

Syefa, pada saat usia 3 tahun, @salah satu kidzone di Bandung
Pose-nya OKE punya:)
2011, Lebaran Day @TransStudio Bandung

2012/03/02

Haura Faina*

Alhamdulillah, buah hati kedua kami yang sudah 9 bulan ditunggu-tunggu akhirnya terlahir. Dengan proses persalinan normal dan sedikit ditambah tindakan vacuum, suara tangisan lucu dan menggemaskan itu ikut menyambut datangnya pagi di kota Bandung. Tepat pukul 05.10 WIB, hari Kamis tanggal 23 Februari, bayi perempuan kami ini terlahir. Hawa dingin di kota Bandung saat itu jadi terasa hangat membahagiakan bagi kami sekeluarga.

Proses perjuangan sang umi luar biasa hebat. Dimulai dengan tanda-tanda persalinan akan segera tiba, si umi (sebutan untuk isteri saya) merasakan tarikan hebat di bawah perut disertai dengan rasa panas di pinggang belakang bagian bawah. Tanda-tanda ini memang lazim bagi ibu-ibu yang akan melahirkan. Subhanallah. Mengikuti proses persalinan ini, membuat kita semakin hormat kepada ibu kita. luar biasa pengorbanan dan perjuangannya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan curahan nikmat dan kasih sayang kepada ibu kita, baik yang masih ada maupun yang sudah mendahului kita menemu sang Khaliq. Demikian juga kepada bapak kita, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT dan dalam kebaikan selalu.
***
Rabu malam tanggal 22 Februari 2012, sekira pukul 19.00 si umi diantar oleh teh Neng  (kakak si umi, karena tempat tinggal kami memang ada di komplek dan blok yang sama) ke bidan karena sudah mulai merasakan tanda-tanda persalinan. Untungnya tempat bidan ini dekat rumah di komplek tempat kami tinggal. Waktu itu saya masih berada di sekitar kantor, baru saja mau pulang ke rumah. Ternyata di 'pemeriksaan dalam' oleh bidan tersebut, sudah ‘pembukaan dua’ (istilah dalam penyebutan saat melahirkan, ditandai dengan pembukaan 1 sampai pembukaan 10/lengkap di mulut rahim). Tanpa menunggu waktu lagi, si umi dan teh Neng  segera menuju rumah sakit bersalin ‘Harapan Keluarga’ yang disana memang ada dokter Ali Suratman, Sp.OG, dokter langganan kami untuk konsultasi dan check-up selama masa kehamilan. Pada proses persalinan ini, saya dan isteri memang sudah sepakat untuk 'lahiran' di tempat dokter Ali yang berada di sekitar Pasir Luyu kota Bandung tersebut.
***
Alhamdulillahnya, sesaat sebelum si umi berangkat menuju Harapan Keluarga, saya sudah berada di depan rumah kami, baru pulang ngantor. Sebuah taxi blue-bird, yang waktu itu dibawa oleh driver bernama pak Untung sudah siap mengantar si umi dan beberapa anggota keluarga ke RS bersalin yang disebutkan tadi. Saya sebagai suami tentu saja ikut dengan ‘rombongan’ kecil ini.

Setengah jam kemudian, kami tiba di RS Harapan Keluarga. Teh Neng  membantu saya mengurus hal-hal administratif, sementara saya mendampingi si umi menuju kamar pemeriksaan. Tepat pukul 21.30, sudah masuk pada tahap pembukaan 3-4. Hal ini bertahan sampai sejam kemudian.

Tahap pembukaan 7-8 terjadi pada pukul 01.30 dini hari Kamis 23 Februari 2012. Kemudian sampai pada pembukaan lengkap pukul 03.30, 2 jam kemudian. Namun karena posisi kepala janin kami masih agak tinggi di atas rahim, maka si umi disuruh dulu ‘rebahan’ menyamping sambil menunggu ‘mules’.

Kemudian, pada pukul 04.00 pagi itu juga si umi diminta kembali melakukan proses ‘mengedan’nya. Namun karena sudah begadang semalaman, dan energi sudah sangat terkuras, si umi tidak kuat terus mengedan, sampai akhirnya dokter Ali meminta izin kepada saya untuk melakukan tindakan bantuan, berupa proses vacuum. Dengan sedikit pemahaman tentang segala kemungkinan dan resikonya saya mengizinkan, yan penting, si umi dan bayi kami sehat dan selamat. Alhamdulillah puteri cantik kami akhirnya terlahir dengan sehat dan selamat. Demikian juga si umi yang sehat dan baik juga. Semoga selalu demikian. Amiin ya Allah.
---
Ya Allah ya Tuhan kami, mohon beri kami kekuatan untuk bisa menjaga, merawat dan mendidik putera-puteri kami agar bisa menjadi anak-anak yang soleh dan solehah, menjadi qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imama.. Amiin Ya Rab ‘alaamiin.

*puteri kami ini kami beri nama dengan nama 'Haura Faina', gabungan dua kata dari bahasa yang berbeda. Haura dari bahasa Arab berarti 'wanita berkulit putih bermata hitam', dan Faina berasal dari bahasa Celtic yang berarti 'yang selalu membawa kegembiraan'.




2012/02/21

Just Another Story of 'Silaturrahiim'

Sebelum saya memulai cerita ini, izinkan dulu saya mengajukan pertanyaan berikut ini: Sudah berapa lama terakhir kalinya Anda melakukan kontak (bisa menemui atau menelpon, sms, chat, dll) dengan sahabat-sahabat Anda? Berapa lama? Semoga tidak seperti kisah kawan di bawah ini:

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Tidak terlalu lama juga. Hanya sekira dua tahun lebih kami tidak saling bertemu. Komunikasi lewat hp atau email pun sangat langka. Bukannya saya gak mau, tapi kontak saya sering diabaikannya.

Terakhir bertemu dulu ketika dia meminta informasi lowongan kerja kepada saya. Karena memang waktu dia sedang ‘unemployed’ alias sedang tidak bekerja. Tidak punya usaha atau bisnis juga, sementara usianya sudah terus menanjak naik, melewati angka 28 tahun.  Tentu saja baginya kondisi (belum punya penghasilan tetap) tersebut sangat tidak baik, lebih pula bagi seorang pemuda yang mempunyai 2 adik perempuan yang harus diperjuangkannya kelak.

Flash-back sebentar ke masa dua tahun yang lalu.
Alhamdulillahnya pada waktu itu, sangat kebetulan ada seorang kawan lain yang sedang mencari karyawan untuk perusahaan bosnya, perusahaan penjualan otomotif ternama. Dan ia pun menginformasikan juga kepada saya. Tentu saja, gayung bersambut. Lowongan ini tidak disia-siakan oleh kawan yang sedang mencari pekerjaan tadi.

Saya minta dia segera menyiapkan berkas lamaran dan bisa langsung menghadap HRD dari perusahaan yang sedang mencari karyawan tadi.  Fortunately, dia lulus di tahap rekrutmen, kemudian ikut training dan terus diterima sebagai tenaga baru di perusahaan tersebut, meski dikontrak, tapi langsung kontrak 2 tahun sekaligus. Alhamdulillah.

Semenjak itu, saya hanya mendengar kabar tentangnya dari kawan lain, atau sesekali saya lihat di laman facebook-nya. Praktis tidak ada lagi kontak dengan saya. Saya hanya berfikir positif saja, mungkin karena kesibukannya sehingga email saya juga dilewat begitu saja.

Kalau dilihat dari statusnya di facebook, terlihat dia betah di perusahaan tersebut dan tampak lebih gemuk hanya setelah 3 bulan semenjak bekerja. Sebagai teman tentu saja saya bersyukur melihat keadaannya yang tampak lebih ‘makmur’ itu.

Kembali ke masa kini.
Beberapa hari yang lalu itu (setelah berselang dua tahun), tahukah pembaca sekalian, berita apa yang dia bawa? Kenapa tiba-tiba setelah tepat dua tahun baru sempat mampir ke rumah kami? Ternyata, ini terkait dengan statusnya yang kembali menjadi ‘un-emplyed’, alias nganggur. Kontrak dua tahunnya tidak diperpanjang. Entah karena performansi kerjanya tidak bagus, atau ada alasan lain dari perusahaannya. Saya tidak tahu. Dan tidak ingin tahu juga.

Dia membuka percapakannya,’Tolong aku fren, tolong dibantu rekomendasikan ke temanmu yang di HRD kami itu’. ‘Wah wah ada apa ini’ Tanya saya. Dia pun menceritakan tentang kontrak kerjanya yang tidak diperpanjang itu.

‘Waduh, maaf banget sob, bukannya saya gak mau bantu. Tapi tiap HRD itu pasti dah punya mekanisme tentang diperpanjang atau tidaknya seorang karyawan. Dan itu baku. Tentu saja pihak lain tak bisa mempengaruhi’ Jawab saya beralasan. ‘Kalau gak, minta tolong kasih relasi lain la yang mungkin sedang butuh karyawan juga’ katanya memelas.

Sebenarnya saya sangat ingin membantu, sejauh yang saya bisa. Tapi memang saat ini saya belum dapat info lagi tentang lowongan di perusahaan-perusahaan yang kebetulan banyak staff HR-nya teman mengaji saya waktu kuliah dulu.

Seandainya aja situ menghubungi saya bulan kemarin, mungkin situ bisa ikut seleksi di tempat kerja kakak saya sob’ kata saya. ‘Iya siy, tapi bulan kemarin aku sangat yakin pasti bakalan diperpanjang.’ Katanya. ‘Nah itu lah perlunya kita menjaga sillaturrahiim, sambut saya setengah menceramahi. Udah butuh baru maksain datang silaturrahim. Waktu lagi enak terima gaji gede kemarin-kemarin, lupa ke saya’. kata saya sambil bercanda agar dia tidak tersinggung.

Tapi memang benar, pembaca sekalian, bulan kemarin dibuka lowongan untuk posisi pengawas di tempat kerja kakak saya, dan statusnya setelah satu tahun kontrak bisa berpeluang jadi ‘permanent employee’. Test masuknya pun tidak susah-susah amat. Saya yakin dengan kualifikasi yang dimiliki kawan tadi, dia bisa lulus. Namun itu lah, karena saya tidak tahu bahwa dia akan butuh maka info ‘penting’ ini saya kasih tahu ke anak tetangga, dan sekarang dia lagi persiapan proses training di situ.
---

Sementara, kawan yang sedang butuh kerja tadi, sekarang adalah hari kedelapannya mulai hunting job-vacation lagi di kompas sabtu minggu, karir.com, jobsdb.com dan situs lowongan kerja lainnya. Saya doakan segera dapat yang terbaik, sob!
---
Cerita seperti ini bisa jadi sangat sederhana, dan banyak pembaca sekalian yang pernah mendengar atau mungkin mengalaminya sendiri. Namun, bagi kita yang sedang belajar menjadi pribadi yang baik tentu bisa menarik hikmah darinya. Bahwa silaturrahiim itu sangat perlu dilakukan, baik dalam keadaan lapang atau pun sempit, sedang sibuk ataupun senggang. Terlebih dari itu, salah satu rahasia dari silaturrahiim, yakni bisa memudahkan rezeki memang terlihat dari cerita di atas. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW: ‘Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

Semoga kita termasuk dalam kategori pribadi yang baik, mudah terinspirasi dan rajin menjaga silaturrahiim. Amiin

Bandung, 21 Februari 2012

2012/02/15

Kehebatan Hikmah DNA

DNA adalah sumber segala sumber hayati sekaligus cetak biru seorang manusia.

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah dan sudah Islam). Ayah dan ibunya (lingkungannya)-lah yang kelak menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api dan berhala)." HR Bukhari

Ada satu modal dasar terpenting yang dikaruniakan Allah swt kepada setiap manusia yaitu DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) atau untaian asam nukleat. Siapapun orangnya , sejak zaman nabi Adam as hingga datangnya hari kiamat nanti, memiliki sesuatu didalam tubuhnya yang bernama DNA nukleat.

Andaikan tubuh manusia itu sebuah bangunan, perencanaan dan proyek lengkapnya hingga ke detail terhalus ada didalam DNA.

Semua tahapan perkembangan manusia dalam rahim ibu dan setelah kelahiran berlangsung dalam kerangka program yang telah ditentukan sebelumnya. Ialah "kode-kode rahasia" yang akan memprogram apa dan bagaimana seorang manusia, termasuk tampilan fisiknya, mulai dari rambut beserta warnanya, hidung beserta panjang pendeknya, kulit beserta warnanya, sampai telapak kaki dengan ukurannya.

DNA adalah sumber segala sumber hayati sekaligus cetak biru seorang manusia.  Pembentukan kecerdasan intelektual, motorik, dan emosi sangat bergantung kepada kualitas DNA. Demikian kualitas kesehatan manusia sangat bergantung pada kualitas DNA nya. 

Sifat biologispun diturunkan atau diwariskan melalui DNA dan struktur gabungannya yang bernama kromosom. Dengan kata lain, bentuk informasi di dalam DNA akan mengendalikan ribuan operasi dan sistem yang berjalan didalam sel dan tubuh.

Pada manusia, kerja DNA terbilang sangat unik. Apabila jalur kebahagiaan, kedermawanan, syukur nikmat, dan jalur-jalur kebaikan lainnya menjadi jalur yang sering kita pakai, jalur-jalur itupun akan menjadi kuat, aktif dan terlatih.

Andaipun kebahagiaan yang didapatnya kecil, dia bisa ditingkatkan intensitasnya. Namun sebaliknya, apabila jalur ketakutan, ketidakbahagiaan, keluh kesah, dan kufur nikmatnya yang mendominasi dan senantiasa diaktifkan gen yang aktifpun adalah gen yang akan diproduksinya hormon-hormon kecemasan, ketakutan, dan sifat agresif.

Oleh karena itu disini ada kesatuan, dimana pada orang-orang culas dan gemar maksiat, gen yang aktifnya pun adalah gen culas dan gen maksiat juga. Adapun pada otak ahli syukur dan ahli kebaikan, gen yang aktifnya pun gen cinta dan rasa syukur.

Sekali lagi semua potensi luar biasa ini ada didalam DNA. Akan tetapi, pembawaan yang terlatih dan paling sering diapakailah yang akan aktif. Ketika sedikit saja sinyal diberikan, dia akan langsung diekspresikan. Adapun yang jarang dipakai, perlahan tapi pasti akan menjadi lemah, aus, rusak dan tidak aktif. Memang, gen-gen yang aus dan jarang diapakaipun bisa saja digunakan. Akan tetapi, dia memerlukan waktu yang lebih lama dan lebih keras untuk mengaktifkannya kembali.

Dengan demikian, untuk membentuk akhlak yang mulia pembiasaan, penguatan, ataupun interalisasi nilai-nilai kebaikan harus terus dilakukan sehingga dari sebuah fikiran bisa menjadi sebuah kebiasaan dan tabiat.

Disinilah peranan lingkungan, khususnya orangtua dan guru menjadi sangat penting, itulah sebabnya Rasulullah saw mengingatkan bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan suci dan membawa beragam potensi yang bisa diaktifkan, akan tetapi, lingkungan lah yang berpengaruh besar dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang kelak dikemudian hari, apakah menjadi beriman atau tidak, apakah berprestasi atau malah prustasi.

Setidaknya ada enam hal positif  yang bisa ditumbuhkan pada setiap individu manusia :

1. Membuka diri untuk menyerap wawasan yang luas.
2. Memiliki keinginan atau dreams yang bisa membangkitkan energi positif dalam diri.
3. Bergaul dengan lingkungan yang baik yang dapat menstimulus dan menghidupkan gen-gen positif yang ada dalam diri kita.
4. Menginspirasi momen yang dijumpai.
5. Berusahalah untuk senantiasa berpikit positif.
6. Selalu melakukan latihan terus menerus sehingga pengaktifan DNA akan bisa dimunculkan secara spontan berimplikasi positif bagi potensi diri.

Satu hal lagi Sobat!..Jadi, badan kita ini memang akan menjadi saksi di akherat kelak (Lihat QS.Yasiin:65). Jika mulut mencoba mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi. Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.

Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang tanpa terekam.

Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam diri kita sendiri. Sebagai contohnya  dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel. Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop).

Tetapi justru di dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.

Oleh karenanya, jika Al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya. Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tsb.

Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kulaitas hidup kita secara SERIUS. Sebelum semuanya terlambat, yakni menyesal hebat karena tidak bisa menggunakan apa yang di dunia dengan benar sesuai tuntunan dan petunjuk Allah melalui Rasul-Nya.

Demikian semoga bermanfaat.

Referensi : Dr. Tauhid Nur Azhar
Sumber: Klik Disini

2012/02/13

Mencari Kesempurnaan

Suatu hari seorang pemuda bertanya pada gurunya. Pemuda: Guru, Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?

Guru: Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu & jangan pernah kembali ke belakang.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Pemuda pun kembali dengan tangan hampa . . .

Lalu guru bertanya: Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu-pun?

Pemuda: Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!

Dengan tersenyum guru berkata: "Ya, itulah hidup. Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada. Yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan. Marilah kita sadari bahwa apa yang kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut Allah & jangan pernah ragu, karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini. dan kesempurnaan hanyalah milik Allah."
-

Picture is powered by google

2012/02/12

Say What to CLBK?

Sejak maraknya situs jejaring sosial seperti Facebook, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) nampaknya ikut menjadi tren. Kalau yang melakoni CLBK sama-sama masih lajang sih tidak ada masalah, tapi yang menjadi masalah yang melakoni adalah mereka yang sudah menikah! Facebook menggoyahkan dan mengahancurkan pernikahan sungguh bukan rumor, tapi nyata, nyata, dan nyata.

Ada seorang istri yang meninggalkan suaminya, kemudian menikah lagi dengan teman SD yang ditemuinya kembali lewat Facebook. Ada seorang suami yang kerap kali mengirim pesan dan rayuan mesra kepada wanita lain yang masih dicintainya, lagi-lagi lewat Facebook. Ada wanita, sudah menikah, rajin sekali menulis di Wall Facebook seorang lelaki yang bukan suaminya untuk memberikan sejuta perhatiannya. Nauzubillahi minzaliik…

Diawali dengan perjumpaan kembali di Facebook, meninggalkan pesan di inbox, chatting, reuni, terus berlanjut dan berlanjut. Di mata si laki-laki si dia terlihat semakin cantik, menarik, semakin memesona. Di mata si perempuan si dia terlihat sukses dalam karir, mapan, dan semakin dewasa. Cinta lamapun bersemi kembali.

Saling menyapa mesra, memberikan perhatian istimewa, berbagi cerita, curhat, bernostalgia. Apalagi jika perpisahan yang dulu terjadi bukan karena hal yang sangat prinsip, misalnya hanya karena pisah atau pindah sekolah. Ditambah lagi mereka menemukan banyak kekurangan pada pasangan sekarang (baca: suami/istri). CLBK menjadi kian tak terelakkan. Hanya si dia yang kini bertahta di pikiran kita.

Ketika cinta lama bersemi kembali maka semua terasa indah, hidup menjadi lebih bergariah, ada sensasi yang luar biasa. Benar sekali, karena setan menjadikan segalanya terasa indah buat mereka, ada khannas yang bersembunyi dan membisikkan ke dada mereka, dan khannas yang terus melancarkan tipu dayanya! Sehingga diterjangnya norma sosial, diterjangnya norma agama, semata-mata demi hawa nafsu.

Tak ada rasa takut lagi kepada Allah yang Maha Mengawasi setiap perbuatan kita. Tak dipikirkannya lagi perasaan sang suami atau istri yang bila tahu perbuatan mereka,akan terkoyak dan terluka hatinya. Padahal saat asyik bersama si dia, mungkin sang suami sedang bekerja keras, bekerjauntuk mewujudkan harapan dan impian istri tercintanya. Atau istrinya sedang kelelahan mengurus anak-anaknya di rumah, menyuapi, memandikan, menggendong anak-anak…

Sungguh, Allah membenci orang yang berbuat khianat. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S Al-Anfal [8]: 58)

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluargaku. Tiada yang memuliakan seorang istri, kecuali orang yang mulia. Dan, tiada seorang yang menghinakan seorang istri, kecuali orang yang hina.”

STOP, Berhenti, Jangan teruskan CLBK! Sebelum semua terlambat. Pikirkan lagi dengan hati yang jernih. Cinta seperti itu tidak akan berakhir bahagia, sebaliknya akan berakhir penyesalan dan duka. Buang jauh-jauh cinta lama kita. Jangan biarkan cinta lama bersemayam di hati, jangan biarkan cinta itu bertunas, lalu tumbuh merekah!

Lihat di samping kita… Pasangan yang bertahun-tahun setia di samping kita, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita walau bagaimanapun sulitnya hari-hari kita, dia yang berjuang bersama kita, dia yang telah menerima segala kekurangan kita, diaibu dari anak-anak kita.

Tatap anak-anak kita…amanah Allah kepada kita. Hati mereka harus dijaga dengan sekuat tenaga, jangan sampai terkoyak maupun terluka. Tegakah kita meruntuhkan kebahagiaan mereka demi nafsu kita? Kebahagiaan yang didapat bila ayah bunda lengkap ada bersama mereka. Sungguh, tak akan ada yang melebihi kasih sayang ayah dan ibu kandung mereka , orang tua terbaik untuk mereka. Ayah Bunda… Kebahagiaan anak-anak ada di tangan kita.

Wallohu ‘alam bishshowaab. Bangkok, 25 Maret 2011.

Daftar Pustaka :
Nadia, Asma. Sakinah Bersamamu. Depok: AsmaNadia Publishing House. 2010
Diambil dari: http://intankurnia.wordpress.com