Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2011/04/05

The ABCDE Method for Setting Priorities

By: Brian Tracy

Efficiency is doing things right. Effectiveness is doing the right things. Your ability to plan and organize your work, in advance, so you are always working on your highest value tasks determines your success as much as any other factor.

The ABCDE Method for Priorities
The process of setting short-term priorities begins with a pad of paper and a pen. Whenever you feel overwhelmed by too many things to do and too little time in which to do them, sit down, take a deep breath, and list all those tasks you need to accomplish. Although there is never enough time to do everything, there is always enough time to do the most important things, and to stay with them until they are done right.


Setting Better Priorities
The best method for setting priorities on your list, once you have determined your major goals or objectives, is the A-B-C-D-E method. You place one of those letters in the margin before each of the tasks on your list before you begin.

"A" stands for "very important;" something you must do. There can be serious negative consequences if you don't do it.

"B" stands for "important;" something you should do. This is not as important as your 'A' tasks. There are only minor negative consequences if it is not completed.

"C" stands for things that are "nice to do;" but which are not as important as 'A' or 'B,' tasks. There are no negative consequences for not completing it.

"D" stands for "delegate." You can assign this task to someone else who can do the job instead of you.

"E" stands for "eliminate, whenever possible." You should eliminate every single activity you possibly can, to free up your time.

When you use the A-B-C-D-E method, you can very easily sort out what is important and unimportant. This then will focus your time and attention on those items on your list that are most essential for you to do.

Just Say No
Once you can clearly determine the one or two things that you should be doing, above all others, just say no to all diversions and distractions and focus single-mindedly on accomplishing those priorities.

Much stress that you experience in your work life comes from working on low-priority tasks. The amazing discovery is that as soon as you start working on your highest-value activity, all your stress disappears. You feel a continuous stream of energy and enthusiasm. As you work toward the completion of something that is really important, you feel an increased sense of personal value and inner satisfaction. You experience a sensation of self-mastery and self-control. You feel calm, confident and capable.

Action Exercises
Here are three ideas that you can use, every day, to help you set priorities and to keep you working at your best:

First, take the time to be clear about your goals and objectives so that the priorities you set are moving you in the direction of something that is of real value to you.

Second, remember that what counts is not the amount of time that you put in overall; rather, it's the amount of time that you spend working on high-priority tasks.

Third, understand that the most important factor in setting priorities is your ability to make wise choices. You are always free to choose to engage in one activity or another.

Resolve today to set clear priorities in every area of your life, and always choose the activities that will assure you the greatest health, happiness and prosperity in the long term.

2011/04/04

Inspirasi Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.


Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.


"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya mEmbutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
--
Semoga bermanfaat!

2011/04/03

Bila Harus Menulis

Menulis tak lain dari berbicara pada diri sendiri, atau paling tidak seperti berbicara pada diri sendiri. Tapi kenyataannya betapa sulit itu dilakukan.

Bila kita mengeja diri membaca rasa, apakah kesulitan itu karena sang aku tidak pernah atau tidak biasa berbicara dengan/pada diri sendiri? Sedemikian asing dan tidak akrabkan sang aku dengan diri sendiri? sehingga berbica dan bertegur sapa pun jarang dilakukan.

Lalu, kalau kita berniat tuk berbicara dengan diri sendiri, apa yang harus kita ceritakan?

Seperti pada teman, sahabat akrab; mungkinkah kita berbagi cerita tentang pengalaman pahit, manis; kegagalan, kekecewaan, sakit hati, kebahagiaan, keberhasilan, dan lain sebagainya. Tapi kalau kita memang tidak pernah akrab dan mengenal baik diri kita sendiri, bagai mana mungkin kita mempercayainya (diri sendiri) untuk diajak bicara dan berbagi tentang sesuatu yang kita anggap rahasia pribadi, yang bahkan mungkin merupakan aib. Kita tidak mungkin menuliskan itu semua, apabila kita tidak pernah akrab dengan diri sendiri, sepertitidak mungkinnya menceritakan masalah-masalah pribadi pada orang lain.

Ketika menulis, kita harus siap untuk bertelanjang. Jangan kaget, bahwa pada kenyataannya setelah bertelanjang pun kita masih sulit untuk menceritakan diri kita secara utuh dan lengkap. karena, mungkin ada yang kita rasa tabu tuk dikatakan, dan ada pula bagian yang memang benar-benar tidak bisa kita lihat. perlu bantuan cermin atau orang lain tuk mengungkap bagian-bagian yang tersembunyi. atau, paling tidak dengan mengasosiasikan diri kita sebagai orang lain. Pikiran dan pengetahuan kita adalah diri kita sendiri, demikian juga dengan pengalaman-pengalaman kita adalah diri kita seutuhnya. Dengan demikian, ketika kita menulis apa pun, baik pikiran, pengalaman, perasaan atau apa pun, pada kenyataannya adalah menulis tentang diri kita sendiri.

Maka, kalau pun kita harus menulis; menulislah tentang diri kita sendiri.
--
Oleh: Gibson A.

MENULIS SAMA DENGAN MENGGOSIP

Hari pertama kuliah penulisan kreatif, saya bertemu dengan sejumlah mahasiswa semester 2. Umur mereka masih muda, penuh semangat, tapi tampak tak terarah. Motivasi mereka masih naik turun. Tapi mari kita mulai. Kegiatan menulis pun dimulai dengan nyaman, sesekali mereka cekikikan karena ternyata menulis itu memang mudah.

“Menulis sama dengan berbicara, yaitu mengeluarkan apa yang ada di pikiran. Bedanya hanya bentuk saja. Sementara mekanismenya sama, ada gagasan di benak lalu dikeluarkan dalam bentuk tulisan”.

Lalu muncullah sejumlah pertanyaan ini:

Kalau semudah itu, kenapa menulis begitu susah? Baru saja satu baris, terasa jelek dan tak pantas, lalu pikiran mentok dan kegiatan menulispun terhenti.

Itu soal kebiasaan saja. Berbicara terasa mudah karena sejak kecil kita diajari untuk berbicara, melihat orang lain menggosip berjam-jam, dan kita pun kerap mengekpresikan gagasan lewat bicara. Bila kita terbiasa menuliskan gagasan dan mempersedikit bicara, niscaya kita akan lebih mudah menuliskan gagasan daripada membicarakan gagasan.

Kebiasaan menulis di facebook, twit, atau chating sebenarnya bisa membantu. Asal saja sudah mulai diarahkan. Maksudnya coba deh menulis di fb itu janganhanya status iseng, tapi belajarlah menuliskan gagasan. Teruslah menulis, jangan pedulikan benar salahnya materi gagasan. Yang penting menulis saja dulu.

Jadi gimana caranya?

Kita kenali saja dulu sifat dasar pikiran. Kepala kita ini tak pernah berhenti bersuara, selalu saja ada yang dipikirkan. Bahkan pada saat diam, kepala kita terus memproduksi kata-kata yang menilai atau sekadar mereka-reka. Hampir 24 jam pikiran kita memproduksi kata-kata.

Menulis adalah memilih kata-kata, mengarahkannya dalam struktur tertentu sesuai dengan tujuan yang kita harapkan. Hanya saja, bagi pemula, biasanya struktur ketat, keinginan terlalu sempurna, sehingga pikiran justru mampet, nggak mengalir.

Inilah awal masalah dari kegiatan menulis. Begitu struktur terlalu ketat, pikiran-pikiran yang lewat seperti tidak ada gunanya,tak layak dituliskan. Ujung-ujungnya tak ada satupun yang bisa dituliskan. Mampet!

Kedua, kita kenali sifat gagasan. Gagasan itu liar, cepat datang dan cepat pergi. Ketika gagasan muncul dan tidak segera dituliskan atau dibicarakan, ia akan pergi, hilang dan musnah. Karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib berpesan, “ikatlah pikiranmu dengan tulisan!”. Jadi, tuliskan gagasanmu itu segera.

Nah, soalnya adalah ketika kita menuliskannya, gagasan itu juga tak sepenuhnya bisa muncul. Ada sesuatu yang menghalanginya, alias mampet. Masalah ini muncul dari ketidakmampuan kita mengenali cara kerja pikiran yang begitu riuh rendah.

Ya, jadi gimana caranya?

Tuliskan tanpa berpikir.

Ini cara pertama yang sederhana. Tuliskan saja tanpa memikirkan struktur, titik-koma, huruf besar huruf kecil, nyambung atau nggak nyambung. Tuliskan saja. Hargai datangnya gagasan dengan mengikatnya.

Latihan dasarnya juga sederhana. Hanya lima menit saja. Ya, sediakan waktu sekitar lima menit, lalu tuliskan apa saja yang melintas di kepalamu, walaupun sekadar kata-kata “apa lagi ya…”, atau “mau nulis apa lagi?”

Terus gimana?

coba dulu tips yang ini, baru boleh tanya lagi!
--

Oleh: Bambang Q Anees

2011/04/01

Everyone is Important

By: Brian Tracy

Everyone has critical skills and knowledge that are important to many other people in the company.

Use Better Titles for Each Person
Some years ago, when I started in business, the job of the receptionist was to answer the telephone and direct the callers to the appropriate people. Today, however, her job is far more complicated and, therefore, more important. Since she is the first contact that most customers have with our business, her personality and temperament are extremely important.

Think About Your Customers
The prospective client who telephones begins forming an impression of us the instant that the telephone is answered. Then, because our companies are doing so many things, she must tactfully ascertain exactly how the caller may be best served and who is the best person in the company to direct the telephone call to.

One Person Can Make the Difference
In many cases, there are requests for further information, and follow-up telephone calls go through our front-office manager. Her ability to handle these calls effectively, to direct calls to the right people, to take accurate messages, and to act as the core person in a network of communications makes her job so important that it is essential that she sit in on all staff meetings and be aware of everything that is going on.


Keep Yourself Informed
Your job in your company also requires that you know a lot about what is going on everywhere else, as well as being thoroughly conversant with what you do. And the fastest and most accurate way of keeping current with what is going on is to develop and maintain a network of contacts, an informal team of people within your workplace who keep you informed and who you keep informed in turn.

Encourage Participation and Involvement
The old methods of command and control now exist only at the old-line companies, many of which are fighting for their very survival. Today, men and women want a high degree of participation and involvement in their work. They want an opportunity to discuss and thoroughly understand what they are doing and why they are doing it. People are no longer satisfied to be cogs in a big machine. They want to have an integral role in achieving goals that they participated in setting in the first place.

Build a Top Team
Being a team player is no longer something that is optional. Today, it is mandatory. If you want to achieve anything of consequence, you will need the help and cooperation of lots of people. Your main objective is to structure everything you do in such a way that, because you are constantly cooperating and working well with others, they are continually open to helping you achieve your goals.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to put these ideas into action.

First, recognize that every person in the company is essential to the smooth functioning of the organization. Take time regularly to discuss their jobs with them and understand what they do.

Second, identify the things that you do that can really affect the work of others. Then, look for ways to do your job so that you help others in every way possible.

Triple FILTER Test

Triple FILTER Test dalam menyampaikan kabar berita"

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.

Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.

Filter petama adalah KEBENARAN.

"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.

Filter ke 2, KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya..."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda dan anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih
memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3, KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan,dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates dianggap filsuf besar dan sangat terhormat.

Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan anda. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu anda terima. Dan apabila anda terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan jangan menyakiti hati orang lain.

2010/11/22

Apa Kabar Reunifikasi HMI?

Himpunan Mahasiswa Islam yang berkantor pusat di Jl. Diponegoro No. 16 (HMI [Dipo]) menyelenggarakan Kongres ke-XXVII di Graha Insan Cita, Depok, pada 5-10 November 2010. Walau kongres molor hingga 14 November 2010, satu agenda yang sempat diformalkan dalam Kongres XXVI di Palembang tidak mendapat proporsi yang memadai untuk kembali dibicarakan, yaitu reunifikasi atau sebagian pihak menyebutnya sebagai islah. Padahal, isu islah boleh jadi isu yang paling menarik untuk dibincang bagi sebagian kader maupun alumni HMI.

Mengapa menarik? Karena agenda reunifikasi gagal dilaksanakan oleh PB HMI (Dipo) yang dipimpin oleh Arip Mustopa sesuai yang diamanahkan dalam Kongres XXVI di Palembang. Padahal, Ketua Umum PB HMI (MPO) menghadiri Kongres XXVI di Palembang sehingga menimbulkan kontroversi di internal HMI (MPO). Sedikit-banyak, hal itu mengingatkan kita pada kehadiran MS Ka'ban pada kongres tahun 1990 guna merebut pucuk pimpinan, namun gagal karena dimenangkan oleh Ferry Mursyidan Baldan. Seandainya Ka'ban menang, barangkali reunifikasi akan terjadi karena sebagian pimpinan HMI (MPO) akan masuk ke dalam jajaran Pengurus Besar. Namun, sejarah berkata lain sehingga kisah reunifikasi terus berlanjut. Isu reunifikasi juga diamanahkan dalam Kongres XXV di Makassar ketika Fajar R Zulkarnaen didapuk menjadi Ketua Umum PB HMI (Dipo). Namun, tetap gagal diwujudkan. Mengapa reunifikasi selalu gagal diwujudkan dalam sekurangnya dua kongres (XXV dan XXVI)? Penulis melihat tiga hal yang menjadi kelemahan proses reunifikasi.

Pertama, HMI (Dipo) tidak serius melaksanakan hal ini. Adalah naif bila keseriusan reunifikasi hanya dilakukan sebatas komunikasi interpersonal antara masing-masing Ketua Umum Pengurus Besar HMI (Dipo) maupun HMI (MPO), atau sekedar saling mengundang dalam kongres. Salah satu tolok ukur yang paling meyakinkan tentunya kerjasama dalam melakukan proses perkaderan maupun perjuangan yang menjadi identitas HMI. Sekurangnya, hal ini dapat dilakukan melalui kerjasama kegiatan kesenian yang relatif netral terhadap perbedaan karakter perkaderan masing-masing HMI. Dengan demikian, proses reunifikasi dilakukan melalui pendekatan kultural terlebih dahulu dan bukan melalui pendekatan struktural (ketua dengan ketua).

Kedua, HMI (MPO) hampir tidak pernah—khususnya dalam beberapa kongres terakhirnya—membahas agenda reunifikasi dengan HMI (Dipo). Hal ini tentu berkaitan erat dengan minimnya kerjasama di antara kedua HMI. Satu hal yang perlu ditekankan dan digarisbawahi ialah HMI (MPO) sulit untuk didekati secara struktural maupun secara finansial, tetapi akan sangat mudah bila didekati dengan ide atau gagasan yang matang, ikhlas, dan meyakinkan; serta bila didekati secara kultural.

Ketiga, reunifikasi KAHMI (Korps Alumni HMI) yang sebelumnya terpecah menjadi dua, sedikit-banyak memengaruhi proses reunifikasi HMI. Alumni merupakan pihak yang paling gencar untuk mendorong reunifikasi di antara kedua HMI, tetapi tidak menunjukkan kerja dan kontribusi yang signifikan, karena senantiasa terkesan erat dengan agenda kekuasaan formal seperti yang terjadi pada tahun 1996 di mana sebagian alumni yang duduk sebagai menteri menggalang usaha reunifikasi HMI hanya disebabkan teguran Soeharto yang "gerah" ketika mengetahui masih ada HMI yang menolak asas tunggal Pancasila, yaitu HMI (MPO). Lihat saja situs KAHMI yang sudah beberapa bulan (atau tahun?) terakhir selalu berada dalam keadaan underconstruction. Apakah hal itu ikut menunjukkan bahwa proses reunifikasi struktural KAHMI juga sedang underconstruction walau Anas Urbaningrum telah menjadi koordinator? Apabila KAHMI berhasil memberikan contoh yang baik kepada kedua HMI, maka bukan tidak mungkin peluang reunifikasi HMI menjadi semakin besar.

Peran KAHMI menjadi penting karena sejarah menunjukkan bahwa KAHMI memiliki peran dalam perpecahan HMI. AM Fatwa menulis:

"Sayang, ketika proses dialog di kalangan HMI tengah berjalan, sejumlah aktivis KAHMI tergoda untuk mengambil jalan pintas. Pada bulan Februari 1985, keluarlah deklarasi KAHMI yang menerima asas tunggal Pancasila—sebelum Rancangan Undang-Undang tentang Organisasi Kemasyarakatan—selesai dibicarakan di DPR RI. Langkah KAHMI itu ternyata berdampak negatif terhadap proses dialog di kalangan HMI. Deklarasi KAHMI itu telah memojokkan posisi HMI. Akibat langsungnya segera terlibat. Pada bulan April 1985—lima bulan sebelum Kongres XVI di Padang—PB HMI mengeluarkan pernyataan penerimaan asas tunggal Pancasila" ("Interpretasi Rasional terhadap Demokrasi," Republika, 14 Februari 1997).

Dengan demikian, KAHMI patut untuk menunjukkan keseriusan dalam reunifikasi yang mereka lakukan beberapa tahun terakhir. Jangan sampai reunifikasi yang dilakukan KAHMI hanya berdasar pada kepentingan politik praktis beberapa elit KAHMI tertentu. Bila demikian, maka bukan tidak mungkin KAHMI akan kembali terpecah dan semakin menyulitkan reunifikasi HMI. Bukankah, sebagian anggota KAHMI juga merupakan alumni HMI (MPO) yang relatif lebih imun terhadap perilaku elit politik KAHMI?

Perjuangan KAHMI maupun HMI sebaiknya tidak menitikberatkan pada politik praktis semata, tetapi juga pada lapangan akademis, kesenian, kebudayaan, ekonomi, dan sosial. Akbar Tandjung pun pernah mengingatkan ""This is no longer the era for the association to be involved in practical politics," Akbar, now state minister of people's housing, said." (Jakarta Post, "Former leader advises HMI to quit politics," 20 Januari 1995). Namun, sejarah menunjukkan bahwa semakin banyak kader maupun alumni HMI yang memilih untuk terjun ke lapangan politik praktis, baik untuk memperjuangkan cita-cita masa lalu maupun sekedar memperjuangkan perut dan kroninya.

Kegagalan mewujudkan reunifikasi boleh jadi akan menciderai pikiran kader-kader HMI (Dipo) yang masih memiliki independensi sehingga bukan tidak mungkin justru mendorong mereka untuk melakukan registrasi dan perkaderan ulang di HMI (MPO). Hal ini menjadi penting bagi kader yang berpikiran panjang dan tidak hanya memikirkan bagaimana agar besok bisa makan. Lantas, apa kabar reunifikasi HMI hari ini? Agaknya kabar semakin kabur ketika satu pihak menjadikannya sebagai komoditas politik maupun dagang, sementara pihak lain menganggapnya sebagai kenaifan bila tidak dilakukan melalui ruang dan kerja kebudayaan.

Taken from: http://blog.abqary.net/2010/11/21/apa-kabar-reunifikasi-hmi/

2010/10/14

Heroic Leader

Melihat berita tentang penyelamatan rombongan pekerja tambang di Chile yang terjebak di kedalaman bumi hampir 600 meter, mendatangkan banyak inspirasi bagi jutaan manusia di dunia. Termasuk kita yang ada di negeri ini, negeri Indonesia yg sering mengalami bencana yg berkaitan dengan alam. Betapa tidak terinspirasi, untuk menyelamatkan 33 pekerja itu pemerintahan Chile begitu sigap dengan kucuran dana yg banyak demi penyelamatan. Selain dana, pemerintah juga menyiapkan team penyelamat terbaik. Keselamatan nyawa warganya memang sangat diperhatikan.

Selain perhatian dan penyelamatan dari pemerintahnya, kita juga terharu dan salut akan semangat hidup para pekerja yg terjebak di terowongan itu. Lebih dari 2 bulan mereka mampu survive dengan resources yg sangat terbatas.

Dan saya sendiri sangat salut terhadap pemimpin pekerjanya. Dari 33 orang yang diselamatkan, sang leadernya ini memilih untuk diselamatkan paling akhir. Dia lebih mendahulukan keselamatan team-nya. That's what we call heroic leadership!

Adakah rasa kepemimpinan seperti itu pada pemimpin negeri ini, atau apakah ada dalam diri kita masing-masing? Semoga!

2010/10/08

Psikologi Korupsi

Setiap tindakan seseorang selalu bersifat intensional, di sana ada pertimbangan dan kalkulasi untung-rugi sebelum seseorang melakukan. Termasuk ketika melakukan korupsi.

Salah satu sifat bawaan manusia itu selalu mendekati dan mengejar kesenangan (pleasure) dan menghindari penderitaan (pain). Dalam konteks korupsi, mengingat korupsi cepat mendapatkan kekayaan tanpa mesti kerja keras, secara psikologis seseorang akan mudah tergerak untuk korupsi. Terlebih lagi dengan uang banyak di tangan segera terbayang berbagai kesenangan dan kenikmatan lain yang dapat dibeli dengan uang secara konstan. Mereka berpandangan bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang akan dibuat susah segalanya.

Ada ungkapan klasik, it is money that makes the world in motion. Dalam legenda Yunani kuno, pada mulanya alat tukar yang sekarang disebut uang adalah berupa kepingan logam yang didesain secara khusus untuk sesaji dewi Monata agar tidak marah dan, sebaliknya, diharapkan melimpahkan rezeki. Dari nama dewi inilah kemudian muncul kata money yang diterjemahkan menjadi uang. Dulu ketika alat tukar masih berupa logam emas yang terjadi adalah perampokan, bukannya korupsi berupa angka nominal melalui teknologi komputer dalam waktu yang amat cepat dengan prosedur yang dibuat berbelit dan berliku agar sulit ditelusuri oleh pengawas.

Ketika jumlah penduduk bumi sudah di atas 5 miliar, serta muncul saling ketergantungan ekonomi dan perdagangan antarwarga bangsa, alat nilai tukar paling praktis adalah lembaran uang seperti kita saksikan sekarang. Bahkan, sekarang tak mesti membawa uang kalau bepergian dan melakukan transaksi bisnis, cukup dengan kartu kredit. Ini sebuah revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia. Hanya saja, ketika uang jadi komoditas, bahkan menyaingi dan mengungguli komoditas riil, malapetaka sosial tak terelakkan. Monopoli, manipulasi, dan korupsi serta capital flight keuangan sangat mudah dilakukan.

Karena kekayaan saat ini berupa uang, maka yang dianggap kaya adalah mereka yang tabungannya banyak, sekalipun uangnya tidak produktif. Pusat kekayaan tidak lagi di desa dengan lahan sawah yang luas, tetapi di dunia perbankan dan kantor pajak karena di situ terakumulasi uang triliunan rupiah. Lebih celaka lagi jika orang merasa kaya dengan uangnya yang banyak, tetapi disimpan di bank asing. Bukankah uang laksana darah bagi tubuh? Kalau disimpan di bank asing, sama halnya mengisap darah rakyat sendiri sehingga mereka itu tak ubahnya sebagai gerombolan economical vampire.
Musuh rakyat dan negara

Kalau korupsi dilakukan oleh sekelompok kecil pejabat negara ataupun perusahaan dalam jumlah yang kecil pula, dampaknya tidak begitu terasa. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sebuah bendungan raksasa akan jebol bermula dari kebocoran yang kecil dan tidak segera diatasi. Begitu pun sebuah bangunan besar akan habis termakan api yang dimulai oleh jilatan api yang juga kecil.

Sungguh menjadi problem serius bagi bangsa ini karena yang melakukan korupsi saat ini tidak lagi pegawai rendahan, tetapi mereka yang kedudukan dan pendidikannya tinggi serta gaya hidupnya sangat mewah sehingga korupsi berlangsung secara sistemik dan jumlahnya miliaran. Ibarat ulat, yang dimakan bukan saja daun, dahan, dan buahnya, melainkan batang tubuhnya yang lama-kelamaan akan menjalar ke akar kehidupan bernegara. Kata korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin yang bermakna menghancurkan. Jadi para koruptor memang sudah berhasil menghancurkan martabat dan wibawa pemerintah serta bangkrutlah kekayaan negara dan bangsa.

Jadi, masyarakat dan pemerintah mestinya menempatkan para koruptor sebagai kelompok subversi musuh rakyat dan negara yang mesti ditindak tegas, jika perlu dihukum mati karena negara dan rakyat banyak yang menjadi kurban. Daya rusak tindakan korupsinya jauh lebih dahsyat ketimbang teroris pelaku bom bunuh diri. Karena daya rusak korupsi berlangsung sistemik dan menghancurkan tubuh birokrasi negara serta mental pejabat, rakyat mesti marah dan bangkit melawan koruptor. Jika perlu segera dibuat undang-undang pembuktian kekayaan terbalik terhadap pejabat negara yang strategis. Masih banyak putra bangsa yang ingin mengabdi untuk melayani rakyat dengan gaji di bawah Rp 50 juta per bulan selama lima tahun.

Di kalangan sufi terdapat keyakinan kuat bahwa harta haram itu ibarat madu yang akan mengundang semut, maksudnya syaitan, untuk berkerumun. Artinya, jika rezeki yang masuk aliran darah adalah haram, seluruh aktivitas hidupnya akan mudah tergelincir ke jalan syaitan. Makna syaitan mirip dengan kata korupsi yang berasal dari bahasa Latin corrumpere, yaitu menghancurkan. Syaitan adalah energi tidak terkendali sehingga menimbulkan daya destruktif.

Jadi apa yang dilakukan koruptor sesungguhnya menghancurkan dirinya, keluarganya, bangsanya, dan rakyatnya. Bangsa dan negara yang sehat dan bermartabat pasti akan membenci korupsi. Bahkan, negara komunis dan sekuler yang tidak bertuhan pun antikorupsi demi menjaga masyarakatnya agar sehat dan sejahtera. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah, bahwa misi utama risalahnya adalah membentuk akhlak yang terpuji. Orang yang mengaku beragama, tetapi membuat orang lain sengsara, dikatakan mendustai agama dan Tuhan. Begitu firman Allah. Nilai hidup macam apakah yang akan diwariskan kepada anak dan masyarakat jika hidupnya bangga bergelimang korupsi?

Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta [Kompas, 13/04/10]

Pelayanan Membuat Hidup Berarti*

Pada tahun 1920-an, peneliti Belanda datang ke Bali dan menemukan, dalam kamus hidup orang Bali saat itu, tidak dikenal istilah kesenian sebagai pertunjukan komersial.

Semua gerak kehidupan (bertani, mengukir, menari) dilakukan sebagai rangkaian persembahan. Maka, salah satu arti Bali adalah persembahan.

Tidak ada yang sempurna di bawah langit kendati Bali pernah digoda bom teroris. Amat terasa penderitaan setelah itu. Namun, Bali tidak saja bangkit, bahkan kemudian dinobatkan sebagai pulau tujuan wisata terbaik dunia oleh media global.

Bila boleh jujur, ada roh yang bersemayam di balik karisma Bali yang kerap disebut surga terakhir oleh masyarakat internasional. Roh itu tumbuh ribuan tahun sebagai percampuran agama dan seni. Perpaduan keduanya lalu dipersembahkan sebagai rangkaian pelayanan.

Bali menjadi sumber inspirasi Indonesia yang masih menyimpan banyak lubang pelayanan, terlebih saat nurani publik terlukai skandal korupsi. Bila Bali bisa berkarisma dengan pelayanan sebagai penggabungan agama dengan seni, mengapa Indonesia tidak bisa? Dalam agama dan seni, Indonesia kaya nilai yang menjunjung tinggi pelayanan.

Pelayanan

Dulu, hanya pedagang yang tekun mencari keberuntungan. Kini, ia merambah ke mana-mana. Rumah, tempat kerja, taman, semua ditata sehingga keberuntungan datang dari segala penjuru. Dan ukuran keberuntungan, apalagi kalau bukan kekayaan. Ini layak dihormati. Masyarakat Barat sudah berjalan jauh di depan dalam hal kekayaan.

Namun, kemajuan ala Barat ini memakan biaya mahal. Baru di zaman ini terjadi banyak rumah sakit jiwa penuh, sebagian pasien yang belum sepenuhnya sembuh terpaksa dipulangkan karena ada pasien baru yang lebih parah dan lebih membutuhkan. Lembaga pemasyarakatan kehabisan ruang untuk menampung narapidana, sebagian remisi terpaksa diberikan karena ruang yang ada sudah tidak manusiawi. Angka perceraian naik tajam. Keadaban manusia tidak mampu mengerem perang dan terorisme. Seorang guru dari Timur pernah menginap di salah satu rumah orang superkaya di Amerika Serikat. Rumahnya supermewah, tetapi yang mengejutkan, di kamar mandi tersedia banyak pil tidur.

Contoh termutakhir di negeri ini adalah dibukanya rekaman percakapan sejumlah pihak yang mau membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Terlihat, bagaimana nafsu berlebihan akan kekayaan bahkan bisa menghancurkan seluruh tatanan hukum sebuah negara. Dalam totalitas, tidak ada yang melarang mengejar kekayaan. Namun, karena demikian besarnya ongkos nafsu berlebihan akan kekayaan, mungkin layak merenung ulang pengertian keberuntungan.

Tetua di Timur telah lama mengenal kearifan tentang kucing yang mengejar ekornya. Semakin dikejar semakin lari. Saat tidak dikejar, ia berhenti. Dalam bahasa Franz Kafka: makna kehidupan baru terbuka ketika manusia belajar berhenti.

Anehnya, saat berhenti bukan kehilangan makna, malah menemukan. Ini yang bisa menjelaskan mengapa ada guru meditasi menyarankan, kehidupan serupa air di gelas. Setenang apa pun tangannya, bila air di gelas dicoba ditenangkan dengan cara memegangnya, ia tetap bergerak, maka letakkan saja.

Saran meletakkan tentu bukan berarti semua harus meninggalkan kota untuk pergi ke hutan, atau semua orang duniawi harus meninggalkan keseharian untuk bermeditasi. Sekali lagi bukan. Meletakkan keinginan berlebihan, bahwa hidup harus sesuai tuntutan ideal, untuk kemudian mendalami ternyata keberuntungan, tidak saja ada dalam tujuan-tujuan ideal, tetapi juga dalam tiap langkah pelayanan. Pertumbuhan tidak saja memerlukan kehebatan hasil, juga merindukan kelembutan proses.

Siapa pun yang diberi berkah spiritual untuk bisa melihat Nusantara, lebih-lebih di putaran waktu saat negeri ini akan runtuh oleh skandal korupsi, akan menitikkan air mata saat mengetahui bahwa Mohammad Hatta, salah satu proklamator, ternyata mengisi hidupnya di jalan pelayanan. Di sebuah Jumat, istrinya mengatakan kalau tabungan baru cukup untuk membeli mesin jahit. Dan karena kesibukan, akan ke toko hari Senin. Pak Hatta tahu kalau Senin berikutnya tabungan itu tidak akan cukup karena beliau sendiri yang akan mengumumkan kebijakan pemotongan uang pada hari Senin. Namun, karena meletakkan kepentingan publik di kepala, kepentingan pribadi di kaki, Pak Hatta diam seribu bahasa. Serupa dengan Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa, mereka mengisi hidup dengan pelayanan, semakin lama bukannya semakin redup, malah semakin bercahaya.

Becermin dari sini, seorang guru menulis, dalam kehidupan para bijaksana, sukacita datang dari ketulusan untuk terus memberi. Persis seperti burung putih di salju. Menyediakan tangan bantuan tetapi tidak kelihatan.

Dalam perspektif ini, bisa dimengerti bila salah seorang penekun meditasi di Barat setelah mengalami pencerahan kemudian bukannya mengenakan baju suci, tetapi menjadi sopir taksi. Inilah keberuntungan sejati: tercerahkan, melakukan tugas pelayanan dan tidak kelihatan.

Mungkin itu sebabnya di negara maju pekerja birokrasi tidak disebut pegawai negeri, tetapi pelayan publik. Melayani, itu dan hanya itu alasan birokrasi dan profesi dibentuk. Melayani, itu dan hanya itu tugas manusia yang tercerahkan. Dan tugas pelayanan menjadi menggetarkan bila ada yang bisa membaca pesan suci di balik kisah burung putih di salju.

Andaikan banyak pemimpin, pendidik, penyembuh, praktisi hukum negeri ini yang tergetar hatinya dengan kisah burung putih di salju, terterangi batinnya oleh roh pelayanan Pulau Bali, tidak terhitung banyaknya kemiskinan yang bisa diusir dari Nusantara. Tidak terhitung banyaknya bunuh diri, depresi, kriminalitas, perceraian, dan penyakit sosial lain yang bisa dihindarkan. Sekaligus berhenti menyebarkan virus negatif yang membuat alam terus menggoda dengan bencana.

Dan yang paling penting, hanya dengan melayani kejujuran, maka luka publik mungkin terobati.

Gede Prama)
Penulis Buku Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan: Mengolah Bencana Menjadi Vitaminnya Jiwa
*Judul Asli: Saat Nurani Publik Terlukai