"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2012/03/21

Racun Diri

  1. Racun pertama : Menghindar
    Gejalanya : lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
    Antibodinya : Realitas
    Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

  1. Racun kedua : Ketakutan
    Gejalanya : tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, kesulitan sosial, dll.
    Antibodinya : Keberanian
    Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya,seperti psikiater atau psikolog.

  1. Racun ketiga : Egoistis
    Gejalanya: Nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
    Antibodinya : Bersikap sosial.
    Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

  1. Racun keempat : Stagnasi
    Gejalanya : berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
    Antibodinya : Ambisi
    Cara : Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

  1. Racun kelima : Rasa rendah diri
    Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
    Antibodinya : Keyakinan diri.
    Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

  1. Racun keenam : Narsistik
    Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
    Antibodinya : Rendah hati.
    Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

  1. Racun ketujuh : Mengasihani diri
    Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
    Antibodinya : Sublimasi
    Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.

  1. Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
    Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
    Antibodinya : Kerja
    Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

  1. Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
    Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
    Antibodinya : Kontrol diri
    Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

  1. Racun kesepuluh : Kebencian
    Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
    Antibodinya : Cinta kasih
    Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
*picture is powered by google

Pemandu INF-Award 2011 (Just for document)

@Amos Cozy Hotel, Maret 2011.
Day 1. From left: Me, Imam, Ari, and Andre. All are from Bandung.
Me between Hilmi and Dion. Day 2.
Finalists from Bandung at day 2.

Kenaikan Harga BBM: SBY Untung Rakyat Buntung

Saya Rieke Diah Pitaloka, sekedar mengingatkan 13 hari lagi adalah keputusan kenaikan harga BBM. Salah satu argumen SBY, kenaikan tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.
Berikut saya sampaikan data yang tidak pernah SBY sampaikan kepada rakyat, hitungan yang sesungguhnya bahwa dengan tidak mengurangi subsidi dan tidak menaikan harga BBM sebetulnya APBN tidak jebol.
Berikut ini data yang saya kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang tidak bermahzab neolib!
  • Indonesia menghasilkan 930.000 Barel/hari, 1 Barel = 159 liter
  • Harga Minyak Mentah = 105 USD per Barel
  • Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) 10 USD per Barel
    = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
  • Biaya LRT untuk 63 Milyar Liter
    = 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 trilyun
  • Lifting = 930.000 barel per hari,
    atau = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
  • Hak Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun
  • Konsumsi BBM di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun,
    atau dibagi dengan 159 = 396,226 juta barel per tahun
  • Pertamina memperoleh dari Konsumen :
    = Rp 63 Milyar Liter x Rp.4500,-
    = Rp. 283,5 Trilyun
  • Pertamina membeli dari Pemerintah
    = 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 224,546 Trilyun
  • Kekurangan yang harus di IMPOR
    = Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
    = 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
    = Rp. 149,887 Trilyun
KESIMPULAN: ‎
  1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun.
  2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun
  3. Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun
  4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,-
    = Rp. 35,658 Trilyun
  5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun
  6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
  7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
    = Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
    = Rp. 126,591 trilyun
  8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 trilyun. Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat.
  9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
    = Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
    = Rp. 97,955 Trilyun
Artinya, APBN tidak Jebol justru saya jadi bertanya: dimana sisa uang keuntungan SBY jual BBM Sebesar Rp. 97,955 trilyun, itu baru hitungan 1 tahun. Dimana uang rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya?
JANGAN MAU DIBOHONGI LAGI, mohon bantu berikan penyadaran kepada rakyat, tolak kenaikan BBM, Tolak BLT sebab itu adalah akal muslihat agar subsidi dicabut akibatnya SBY UNTUNG RAKYAT BUNTUNG!


Jakarta 16 Maret 2012
Salam Juang



Rieke Diah Pitaloka
*foto by waspada.co.id

Batu Kecil

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Ada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang  kedua pun memperoleh hasil yang sama. 

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? 

Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

---

Tuhan terkadang menggunakan cobaan untuk membuat kita menengadah kepadaNya.
Seringkali kita dilimpahi dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Karena itu, agar kita selalu mengingat  kepadaNya, Tuhan juga menjatuhkan "batu kecil"
kepada  kita.

Semoga kita selalu berada dalam kebaikan, penuh dengan syukur dan sabar. Aamiin.

*Retold from anonymous person

2012/03/15

Indahnya Mengimani al-Qur'an

Alhamdulillah, sore hari ini, tepatnya ba’da sholat Ashar berjamaah di Masjid Baiturrahman Gedung Infomedia Nusantara Bandung, diadakan majlis ilmu dengan tajuk ‘Tausyiah Ba’da Ashar’. Sebagai bagian dari program kerja dari Badan Da’wah Infomedia (BDI) Bandung, InsyaAllah majlis ilmu ini akan dilakukan secara rutin karena juga sebagai bagian syiar Islam dan media mempelajari ilmu-ilmu keislaman bagi karyawan-karyawati Infomedia Bandung.

Tampil sebagai penceramah pada sore kali ini adalah ustadz Abu Amr dari lembaga Tahsin al-Qur’an Bandung. Tema yang diusung adalah ‘mendekatkan diri pada al-Qur’an sebagai salah satu indikasi keimanan’. Berikut ini saya coba ringkaskan materi ceramah ustadz Abu Amr tadi, meski dengan cara penuturan yang mungkin sedikit berbeda.

Mengimani al-Qur’an hukumnya wajib. Kewajiban ini melekat bagi setiap orang yang mengaku beriman. Disampaikan oleh al-ustadz bahwa seorang muslim yang mengaku mengimani kitab Allah (al-Qur’an), maka terdapat lima konsekwensi yang harus dijalankan.

Mengimani al-Qur’an ternyata tidak hanya sekedar meyakini bahwa al-Qur’an itu adalah kitab suci dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril saja. Tapi lebih dari itu, mengimani al-Qur’an sama dengan menerima lima konsekweksi berikut ini yang harus dimiliki pada setiap mu’min.

1.      Membaca al-Qur’an; tilawah.
2.      Mentarbiyah diri dengan Al Qur'an- Tadabbur (2:151)
3.      Menerima dan tunduk terhadap hukum Al Qur'an (33:36, 4:65, 5:44-50)
4.      Mengajak untuk Qur'ani- Berda’wah (16:125)
5.      Menegakkan Al Qur'an di bumi –Mengamalkan (42: 13)

Selain ada konsekwensi keimanan terhadap Al Qur'an,  juga seorang mukmin mempunyai kewajiban terhadap Al Qur'an. Kewajiban terhadap al Qur'an  adalah:

1.      Tilawatan (membaca)
2.      Ta'liiman (mempelajari)
3.      'Amal (mengamalkan)
4.      Hafiidzan (menghafal)

Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menjalankan lima konsekwensi tersebut di atas. Amiin ya Rab ‘alamin.

Sebagai tambahan, berikut ini saya kutipkan do’a selesai membaca al-Qur’an:

Allahummar hamna bil Quran waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina wa ’allimna minhumaa jahiilna warzuqna tilaawatahu aana al laili wa athrofannahar waj’alhu lana hujjatan Yaaa rabbal ‘alamiin


"Ya Allah kasih sayangilah daku dengan sebab Al-Qur'an ini. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai pemimpin sebagai cahaya sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagiku. Ya Allah ingatkanlah daku apa-apa yang aku lupa dalam Al-Qur'an yang telah Kau jelaskan dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui. Dan kurniakanlah daku selalu sempat membaca Al-Qur'an pada malam dan siang hari. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai hujjah bagiku."Amiin....

*picture is powered by google

2012/03/14

Team Leaders Go Lunch...

My Team. Makan siang bersama manager. 

Syefa ke Batahan...

31 Juli 2009
01 Agustus 2009. Syefa dan Umi di T3 Soetta
01 Agustus 2009. Syefa dan Abi di T3 Soetta. Riangnya nak:)
Agustus 2009. Bersama keluarga besar di Pantai Batahan.

Apapun Cangkirnya, Nikmati Kopinya

Dalam acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya."

Hidup kita seperti kopi dalam analogi di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.

"Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar". Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan. :)
*Picture source: yettiye.wordpress.com

2012/03/13

Haura Faina dalam Kolase

Tertidur pulas... 11 Maret 2012. Foto by tante kaka Irma A:)
Terlelap lagi. Berasa nyaman di samping abi:)

2012/03/06

"I'm a leader, not a manager!"

One of Kent's friends — we'll call him Roy — is a master craftsman who owns a small business that makes custom wood furniture. After making some cutbacks in 2009, his little company still employs three fine woodworkers, an office supervisor/customer service rep, and an apprentice.

What makes Roy unusual is that when he founded his firm a dozen years ago, he realized he knew nothing about business. And so he began reading serious books on the subject, as well as the Harvard Business Review and two or three business magazines.

What he's learned in the past few years is that, as he says, "I'm a leader, not a manager. I'm really good at innovation and pointing out new directions. You know, the vision thing. But I hate everything I have to do to keep the doors open and the lights on. When business was good, I could get other people to do all that while I was out designing new pieces or installations for customers, but now I have to do more of it."

Management vs. leadership — it's a distinction we all hear over and over these days. It says management focuses on getting work done on time, on budget, and on target — in other words, steady execution and control — while leadership focuses on change and innovation.
Some years ago, management was the more inclusive term and included leadership — along with motivating, planning, communicating, organizing and the like — as one of many functions necessary to make groups of people productive. Then in the late 1980s and early 1990s, the perception took hold that the U.S. was in danger of falling behind innovative competitors (Japan, in particular) because traditional management as practiced by U.S. businesses didn't promote change and innovation. The solution was leadership, which was singled out as the ability to do exactly that. Thus was born the new age of leadership in which we've heard even senior managers say, like Roy, "I'm a leader, not a manager!"

Most writers about leadership then and now explicitly note the continuing importance of management. Success still depends on execution, controls and boundaries, systems, processes, and continuity. Without all that, leadership only produces dreams. Nonetheless, being a leader has taken on a shiny, romantic aura these days while management has been given an undertone of grubby practicality. Leaders are superior beings who inspire the rest of us to greatness while managers are dull business functionaries obsessed with budgets, schedules, policies, and procedures. This thinking is at least partially behind the attitude of Kent's friend. Roy considers himself an artisan, a creator of beauty in wood, and seeing himself as a leader fits easily with that self-perception. But making sure the bills go out on time, keeping the machines working, and dealing with the employee who cuts corners and doesn't meet customer specifications aren't nearly so romantic.

Both leadership and management are crucial, and it doesn't help those responsible for the work of others to romanticize one and devalue the other. To survive and succeed, all groups and businesses must simultaneously change in some ways and remain the same in others. They must execute and innovate, stay the course and foster change. Yes, the guidance, group skills, and mindsets required for serious change and innovation differ from those needed for continuity and steady execution. But that only means those in charge must be able to act as both change agent and steward of continuity, manager and leader, as the situation requires. The challenge is to discern when one versus the other is needed. To idealize leadership and demean management only makes that challenge even harder.

To avoid all the positive and negative connotations around "leadership" and "management" today, we often use the term "boss." It's not a perfect title — no one likes to be "bossed around." To paraphrase Mary Parker Follett, a management writer in the early 1900s, the mark of a good boss is how little actual bossing he or she must do. Still, "boss" or its equivalent in other languages is widely used across generations and cultures to refer neutrally to the person in charge, the one responsible for the work of others, the one to whom each of us must answer at work.

If you're a boss, think of yourself as the one responsible for the work of others, the one who must manage and lead as necessary, without favoring one over the other. Focus on whatever is required of you to make your people productive. Most of all, take care not to conceive of yourself as the glorious leader always blazing new trails while leaving the gritty, mundane details of making it all work to lesser beings. Kent's friend may say, "I'm not a manager," but the survival of his business probably owes as much to his management skills as it does his leadership talents. 
--
by Linda Hill & Kent Lineback ; taken from harsaconsulting@gmail.com
*illustration is powered by google

2012/03/05

Syefa in Action...

Syefa, pada saat usia 3 tahun, @salah satu kidzone di Bandung
Pose-nya OKE punya:)
2011, Lebaran Day @TransStudio Bandung

2012/03/02

Haura Faina*

Alhamdulillah, buah hati kedua kami yang sudah 9 bulan ditunggu-tunggu akhirnya terlahir. Dengan proses persalinan normal dan sedikit ditambah tindakan vacuum, suara tangisan lucu dan menggemaskan itu ikut menyambut datangnya pagi di kota Bandung. Tepat pukul 05.10 WIB, hari Kamis tanggal 23 Februari, bayi perempuan kami ini terlahir. Hawa dingin di kota Bandung saat itu jadi terasa hangat membahagiakan bagi kami sekeluarga.

Proses perjuangan sang umi luar biasa hebat. Dimulai dengan tanda-tanda persalinan akan segera tiba, si umi (sebutan untuk isteri saya) merasakan tarikan hebat di bawah perut disertai dengan rasa panas di pinggang belakang bagian bawah. Tanda-tanda ini memang lazim bagi ibu-ibu yang akan melahirkan. Subhanallah. Mengikuti proses persalinan ini, membuat kita semakin hormat kepada ibu kita. luar biasa pengorbanan dan perjuangannya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan curahan nikmat dan kasih sayang kepada ibu kita, baik yang masih ada maupun yang sudah mendahului kita menemu sang Khaliq. Demikian juga kepada bapak kita, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT dan dalam kebaikan selalu.
***
Rabu malam tanggal 22 Februari 2012, sekira pukul 19.00 si umi diantar oleh teh Neng  (kakak si umi, karena tempat tinggal kami memang ada di komplek dan blok yang sama) ke bidan karena sudah mulai merasakan tanda-tanda persalinan. Untungnya tempat bidan ini dekat rumah di komplek tempat kami tinggal. Waktu itu saya masih berada di sekitar kantor, baru saja mau pulang ke rumah. Ternyata di 'pemeriksaan dalam' oleh bidan tersebut, sudah ‘pembukaan dua’ (istilah dalam penyebutan saat melahirkan, ditandai dengan pembukaan 1 sampai pembukaan 10/lengkap di mulut rahim). Tanpa menunggu waktu lagi, si umi dan teh Neng  segera menuju rumah sakit bersalin ‘Harapan Keluarga’ yang disana memang ada dokter Ali Suratman, Sp.OG, dokter langganan kami untuk konsultasi dan check-up selama masa kehamilan. Pada proses persalinan ini, saya dan isteri memang sudah sepakat untuk 'lahiran' di tempat dokter Ali yang berada di sekitar Pasir Luyu kota Bandung tersebut.
***
Alhamdulillahnya, sesaat sebelum si umi berangkat menuju Harapan Keluarga, saya sudah berada di depan rumah kami, baru pulang ngantor. Sebuah taxi blue-bird, yang waktu itu dibawa oleh driver bernama pak Untung sudah siap mengantar si umi dan beberapa anggota keluarga ke RS bersalin yang disebutkan tadi. Saya sebagai suami tentu saja ikut dengan ‘rombongan’ kecil ini.

Setengah jam kemudian, kami tiba di RS Harapan Keluarga. Teh Neng  membantu saya mengurus hal-hal administratif, sementara saya mendampingi si umi menuju kamar pemeriksaan. Tepat pukul 21.30, sudah masuk pada tahap pembukaan 3-4. Hal ini bertahan sampai sejam kemudian.

Tahap pembukaan 7-8 terjadi pada pukul 01.30 dini hari Kamis 23 Februari 2012. Kemudian sampai pada pembukaan lengkap pukul 03.30, 2 jam kemudian. Namun karena posisi kepala janin kami masih agak tinggi di atas rahim, maka si umi disuruh dulu ‘rebahan’ menyamping sambil menunggu ‘mules’.

Kemudian, pada pukul 04.00 pagi itu juga si umi diminta kembali melakukan proses ‘mengedan’nya. Namun karena sudah begadang semalaman, dan energi sudah sangat terkuras, si umi tidak kuat terus mengedan, sampai akhirnya dokter Ali meminta izin kepada saya untuk melakukan tindakan bantuan, berupa proses vacuum. Dengan sedikit pemahaman tentang segala kemungkinan dan resikonya saya mengizinkan, yan penting, si umi dan bayi kami sehat dan selamat. Alhamdulillah puteri cantik kami akhirnya terlahir dengan sehat dan selamat. Demikian juga si umi yang sehat dan baik juga. Semoga selalu demikian. Amiin ya Allah.
---
Ya Allah ya Tuhan kami, mohon beri kami kekuatan untuk bisa menjaga, merawat dan mendidik putera-puteri kami agar bisa menjadi anak-anak yang soleh dan solehah, menjadi qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imama.. Amiin Ya Rab ‘alaamiin.

*puteri kami ini kami beri nama dengan nama 'Haura Faina', gabungan dua kata dari bahasa yang berbeda. Haura dari bahasa Arab berarti 'wanita berkulit putih bermata hitam', dan Faina berasal dari bahasa Celtic yang berarti 'yang selalu membawa kegembiraan'.