Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2013/07/19

Dua Amalan yang Mudah Diterima Allah SWT

Dua amalan yang mudah diterima oleh Allah SWT adalah ‘sholat Tahajjud’ dan ‘Shaum’. Kenapa bisa? Karena dua amalan ini bisa menjaukan manusia dari sikap riya (ingin dilhat orang) dan sum’ah (ingin didengar orang). Melaksanakan keduanya mengajarkan sikap ikhlas.

Keduanya tidak dapat dipamer-pamer. Selain dengan sikap ikhlas, dua amalan ini tentu harus dilakukan dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam hal tuntunan beribadah ini, kita berpedoman kepada ilmu fiqh, agar terhindar dari hal-hal yang sesat menyesatkan (bid’ah, dll).

Sikap ikhlas dan dilaksanakan sesuai tuntunanya adalah syarat untuk diterimanya amalan manusia oleh Allah SWT. Sebagaimana kita lihat pada keterangan berikut:

Merujuk kepada dalil-dalil dari Al Quran dan Al Hadits kita bisa menemukan bahwa syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua:

1.    Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

2.    Mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua syarat ini disebutkan dengan jelas dalam akhir surat al-Kahfi:

(فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seoran gpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Oleh karena itu Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat: Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).

Sholat tahajud di tengah malam, tidak ada yang melihat. Jadi bisa terhidar dari sifat pamer.

Bershaum, juga tidak dapat dibedakan secara penampakan fisik. Oleh karenanya, manusia hanya semata-mata berkomitmen dengan Rabb-nya.

Kedua-duanya benar-benar mendidik keikhlasan hati kita. Beribadah hanya karena Allah SWT. Tidak ada tujuan lain kecuali ingin mencapai ridha-NYA. insyaAllah kita terus berusaha untuk melaksanakannya. Dan kita memohon agar Allah istiqomahkan kita. Aamiin.

#Ta’limBa’daJum’ah

11 Ramadhan 1434 H

2013/06/27

Belajar Menjadi Ramah

Tulisan singkat ini saya salin-rekat dari akun twitter saya @feri_s pada tanggal 27 Juni 2013.
Semoga menginspirasi.

1. Senang kalo bertemu dg orang yg ? Yuk, kita pelajari sifat2nya agar kita menyenangkan juga bg siapapun yg ketemu kita.
2. Diantara definisinya: Ramah itu baik hati dan menarik budi bahasanya. Manis tutur kata dan sikapnya.
3. Jika berjumpa dg yg belum dikenal, ia mengenalkan diri duluan. Tp bukan sksd: sok kenal sok dekat :)  
4. Jika berjumpa dg yg sudah dikenal, ia menyapa terlebih dahulu. Tidak pura2 tak melihat, apalagi buang muka.  
5. Jika berpapasan dengannya, ia tersenyum terlebih dahulu. Senyum sudah menjadi kebutuhan baginya:)  
6. Kalau bicara dengannya, ia menyimak. Banyak mendengar baru bicara. Banyak bertanya daripada menasihati.  
7. Memandangnya membawa kesejukan. Tatapannya memuliakan. Tidak mimik artifisial, apalagi lebay.  
8. Tamu yg di rumahnya akan merasa betah. Menyenangkan bersama keluarganya. Dan jika dia yg bertamu, dia pandai membawa diri.  
9. Dalam bertetangga, ia peduli dengan sesama. Yg lagi beruntung disambanginya, yg lagi malang dijenguknya.
10. Kalau bertanya padanya, ia menjelaskan tanpa menggurui. Giliran dia yg bertanya, ia bisa menghargai bukan menghakimi.  
11. Jika memuji terasa tulus. Jika terpaksa menasihati, terasa mengajak bersamanya, bukan menyuruh.  
12. Lama2 terlihat, ciri orang ramah ini sama dgn ciri orang yang menyenangkan. Ya, sifat ini mmg membawa kesenangan bagi siapapun.
13. Semoga menginspirasi, dan kita bisa menyelami ciri2 ini serta mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat sore. Salam

2013/05/28

Top 10 SMA / MA pada UN 2013

Berikut ini adalah urutan / ranking sekolah berdasarkan rata-rata nilai ujian murni pada Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Tingkat Atas / Madrasah Aliyah tahun 2013. Nilai rata-rata yang dimaksud adalah nilai rata-rata yang mengikuti UN pada setiap sekolah. Data saya kutip dari  Klik Disini.

10 sekolah dengan rata-rata nilai Ujian Nasional tertinggi:

1. SMAN 4 Denpasar (9,17);

2. MAN Insan Cendikia Serpong (8,93);

3. SMA Kristen 1 BPK Penabur Jkt (8,88);

4. SMA Santa Ursula Jkt (8,87);

5. SMAN 1 Denpasar (8,81);

6. SMAN 3 Lamongan (8,81);

7. SMAN 1 Babat Lamongan (8,81);

8. SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh (8,79);

9. SMAN 1 Kembangbahu Lamongan (8,78); dan

10. SMAN 8 Jakarta (8,74).

Jika kita kelompokkan berdasarkan kota/kabupaten, maka berikut ini hasilnya:

·         Jakarta: 3 Sekolah (SMA Kristen 1 BPK Penabur, SMA Santa Ursula dan SMAN 8)

·         Lamongan: 3 Sekolah (SMAN 3 Lamongan, SMAN 1 Babat Lamongan dan SMAN 1 Kembangbahu Lamongan)

·         Denpasar: 2 Sekolah (SMAN 4 Denpasar, SMAN 1 Denpasar)

·         Banda Aceh:  1 Sekolah (SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh)

·         Serpong, Tangerang: 1 Sekolah (MAN Insan Cendikia Serpong)

Berdasarkan data top TEN di atas, artinya 30 persen sekolah yang ‘bermutu tinggi’ masih didominasi oleh Jakarta, sebagai ibu kota negara, tempat dimana semua fasilitas pendidikan dapat ditemukan. Tentu ini tidak mencengangkan. Justru yang membanggakan adalah bahwa sekolah-sekolah yang berada di daerah pun menampilkan prestasi yang tidak kalah hebatnya.

Sebut saja misalnya Lamongan. Mereka menempatkan tiga sekolahnya sekaligus dalam urutan top TEN tersebut. Sama dengan prestasi yang diraih Jakarta. Jauhnya sekolah-sekolah mereka dari pusat Negara tidak menyurutkan niat dan semangat belajar dari siswa-siswinya. Saya perlu merasa menyampaikan satu kalimat sanjungan berikut ini untuk semua masyarakat Lamongan: Lamongan HEBAT! Dulu saya kenal nama daerah ini karena soto dan pecel lele-nya saja. Tapi kini saya mengenalnya sebagai tempatnya siswa-siswi SMA/MA bernilai tinggi. Semoga prestasi ini dapat dipertahankan, ditingkatkan, dan juga menular kepada daerah-daerah lainnya.

Kalau dibandingkan dalam kelompok sekolah di Jawa dan luar Jawa, maka mulai tampak adanya kesenjangan. 70 persen sekolah ‘bermutu’ ada di pulau Jawa. Yang diluar Jawa pun, hanya ada kota Denpasar dan Banda Aceh. Tidak terlihat ada sekolah dari Kalimantan, Sulaw esi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara dll. Dari sini terlihat pemerataan mutu pendidikan masih menjadi tugas berat Kementerian Pendidikan Nasional, termasuk tugas kita juga tentunya sebagai masyarakat.

Kemudian, jika dilihat berdasarkan status sekolahnya, apakah sekolah negeri atau swasta, berikut ini datanya:

·         Sekolah Negeri: 8 Sekolah

·         Sekolah Swasta: 2 Sekolah

Ya, datanya menunjukkan masih didominasi oleh sekolah-sekolah milik Negara. Tapi 20 persen bukanlah angka yang kecil. Sumbangsih swasta (masyarakat) dalam misi Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa layak diapresiasi setinggi-tingginya. Dengan pengelolaan anggaran milik sendiri, sekolah-sekolah swasta ini dapat berprestasi dengan baik. Dan dimasa yang akan datang, pastinya akan lebih baik lagi. Semoga!

Salam Indonesia-kita,

<![endif]-->

2013/04/25

Ikhlas Itu

Berikut ini adalah beberapa pengertian ikhlas dari beberapa orang yang sempat share pemahamannya di sebuah group BBM. Bahasanya indah dan dalam maknanya.


Ikhlas itu ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.

Ikhlas itu ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangat punah.

Ikhlas itu ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Semoga bermanfaat!


MUSIM KEHIDUPAN

Dahulu kala, di sebuah pedesaan hiduplah seorang bijaksana yg memiliki empat orang putra.
Si orang tua bijaksana ini ingin sekali agar anak-anaknya bisa jadi orang yg bijaksana di dalam kehidupannya. Maka dia mengutus keempat anaknya utk pergi secara bergiliran utk melihat sebuah pohon jambu yg besar, stlh itu masing-masing hrs melapor hasil yg dilihatnya.

Si Anak pertama yang pergi pada musim dingin melaporkan kpd ayahnya, apa yg ia lihat, dia mengatakan, Pohon jambunya, jelek, tdk segar, tdk ada harapan (maksudnya tidak akan bisa berbuah jambu).

Si Anak kedua yg pergi pd musim semi, mengatakan kpd ayahnya, dia melihat pohon itu penuh dgn tunas-tunas kehidupan, sdh mulai hijau-hijau dan memiliki harapan (maksudnya akan berbuah jambu yg lebat).

Si Anak ketiga yg pergi pd musim panas, berkata pd ayahnya, dia melihat pohon jambu itu sdh mulai tumbuh jambunya yg hijau-hijau, daunnya sdh lebat".

Si Anak keempat yg pergi pd musim gugur, mengatakan pd ayahnya, pohon jambu itu sangat indah, buah-buahnya sangat indah dan sangat penuh dgn kehidupan.

Mereka berempat slg mempertahankan persepsi mrk masing-masing, melihat itu, sang ayah mengatakan kpd mereka, "Anak-anakku, semuanya tdk ada yg salah dan tdk ada yg benar, pendapat kalian semuanya benar sesuai dgn apa yg kalian lihat, karena kalian tlh melihat kehidupan pohon jambu tadi dgn musim-musim yg berbeda ...

Keempat anaknya bertanya, "Maksud Ayah".

Ayahnya menjelaskan, "Anak-anakku kalian tdk bisa menilai pohon dari hanya satu musim saja, begitu juga dengan kehidupan ini, Kalian Tidak bisa mengatakan hidup ini begitu menyedihkan, sangat berat, karena pasti di suatu waktu/musim kehidupan berikutnya, kalian juga akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan, begitu juga ketika sedang merasakan kebahagiaan dan kegembiraan, jangan terlalu terlena, karena kalian harus siap untuk menerima tantangan di musim lainnya.

(Komisi Jakarta - Joehanes AW)
Mailing List theprofec@yahoogroups.com

2013/03/18

Kisah 500 Santri dan 1 Payung

Alkisah, di satu desa, sudah sangat lama tidak turun hujan, sumber air mulai mengering dan penduduk mulai mengeluh. Rapat desa memutuskan untuk meminta seorang kyai bersama para santrinya untuk memimpin shalat istisqa' (shalat minta hujan) dan doa-doa.

Terkumpullah 500 orang santri bersiap shalat istisqa' dan memanjatkan doa dipimpin oleh sang kyai. Dari 500 orang santri tersebut semuanya memegang kitab suci Al Quran, tetapi uniknya dari 500 orang santri tersebut hanya ada 1 orang yang membawa kitab suci dan ... payung !!

Tentunya sang kyai juga membawa payung. Melihat fenomena tersebut, sang kyai hanya tersenyum. Sesuai shalat istisqa' dan doa bersama, sang kyai menguji sang santri yang membawa payung tersebut, "saya perhatikan dari 500 santri ini hanya kamu yang bawa payung, kenapa?"

Sang santri menjawab, "karena saya yakin hujan akan turun".

---

Apa hikmah yang bisa kita petik dari kisah diatas?

Sederhana ...

Selama ini kita begitu gigihnya berjuang, "fight", ber-jibaku demi mengejar kesuksesan. Siang hari kita bekerja penuh semangat dan antusiasme, di malam hari kita berdoa kepada Tuhan.

Tetapi ...

Perlu juga sekali-kali kita menguji diri kita sendiri, dengan mengajukan pertanyaan "apakah kita yakin kita akan sukses?" Lalu persiapan "payung" apa yang sudah kita bawa sejak saat ini?

Teman saya sibuk membangun garasi dan carport di rumahnya, padahal kemana-mana dia masih pakai motor. Ramai tetangga membicarakan gelagatnya, namun teman saya ini hanya menjawab, "Kan saya yakin bakalan punya mobil dalam waktu dekat". Yaak ... dia memang ada bisnis yang dikerjakan dan dia pun berdoa dengan khusyuk dan memang dia berencana akan membeli mobil (maklum anaknya 3, nggak muat diangkut semua pakai motor kan?).

Lalu,

Pertanyaannya ....

Sejauh mana tingkat keyakinan kita terhadap usaha-usaha mengejar sukses yang kita lakukan selama ini?

"Payung" apa saja yang sudah kita persiapkan sejak saat ini?

Yuuk, Silahkan dipersiapkan "payung" masing-masing. Semoga Tuhan berkenan mengabulkan doa-doa kesuksesan kita.

Sebab suksesnya kita adalah bukan untuk diri kita sendiri, melainkan suksesnya kita adalah sebuah amanat untuk berbagi dan membantu orang-orang lain untuk bisa sukses juga.

---

*Diemailkan oleh john.arianto@intiartamadani.com
untuk milist The Profec

2013/01/28

Tulisan dan Warna Apa yang Kita Goreskan?

Kita setuju bahwa semua pola pengasuhan dan pendidikan anak tergantung pada orang tua masing-masing. Dan sebuah keniscayaan bahwa pola pengasuhan dan pendidikan itu akan berdampak pada outputnya, yaitu 'kecerdasan'.

Hasil pendidikan yang kita inginkan bukan hanya apa yg terkonversi dalam angka-angka an sich. But, beyond. Hasil yang lebih komprehensif. Hasil yang meliputi kecerdasan di bidang IMTAK (keimanan dan ketakwaan) dan IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi) sekaligus.

Sering kita dengar bahwa anak itu diibaratkan sebagai lembaran kertas putih yang siap ditulis ataupun diwarnai oleh orang tuanya. Ya, perumpamaan ini memang benar adanya. Sudah banyak kisah yang kita saksikan sebagai buktinya. Tulisan dan warna dari orang tua (pendidik) di 'lembaran kertas putih anak' akan menjadi warna kehidupan si anak ketika menginjak usia remaja dan dewasa kelak.

Mana yang kita pilih di antara cara-cara berikut, akan menentukan kualitas anak-anak kita di masa mendatang. Mari simak puisi karya Dorothy Law Nolte yang berjudul Children Learn What They Live (Anak Belajar dari Kehidupan) berikut:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki.
    Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.
    Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri.
    Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri.
    Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menahan diri.
    Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri.
    Jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai.
    Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia belajar keadilan.
    Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menyenangi diri.
    Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta.

Pilihan tulisan dan warna di depan kita ada banyak variannya. Tinggal kita pilih sesuai dengan tujuan kebaikan yang kita inginkan. Dengan tetap memohon petunjuk kepada Allah SWT, mari kita didik anak-anak kita dengan corak pendidikan yang berkarakter mulia. Berkeimanan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Berkemanusiaan kepada sesama. Pun berkasih sayang kepada makhluk Tuhan lainnya (alam sekitar; hewan maupun tumbuhan).

Yang selanjutnya menjadi tugas utama kita sebagai orang tua adalah, memastikan bahwa masing-masing kita memang bisa menulis dan mewarnai yang baik dan mulia tersebut. Kemudian, harus mampu menterjemahkan tulisan dan warna kebaikan itu kedalam perilaku keseharian kita. Ini yang akan menawan si anak untuk mau meniru sang role model.

Dengan kemampuan menulis dan mewarnai yang baik dan mulia yang kita miliki sebagai anugerah dari Allah sang Pemilik Ilmu, maka InsyaAllah kita segera menyambut generasi unggul di negeri ini. Generasi yang cerdas intelejensia, emosional, dan spiritualnya sekaligus.  Aamiin

Yuuk, kita terus belajar.

Semoga berguna.

2013/01/25

LOSTA MASTA: Bikin Hidup Lebih Hidup.

Kalau hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau kerja sekedar kerja
Kera juga bekerja
--Buya Hamka—

Teramat dalam arti sindiran yang dilontarkan almarhum buya Hamka di atas.  Ulama karismatik, cendekiawan, sastrawan Indonesia asal minang tersebut ingin mendorong kita, bangsa Indonesia, menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang hidup bukan sekedar hidup. Yang kerja bukan sekedar bekerja. Kalau hanya hidup dan kerja sekedarnya saja, kita disindir, tak jauh beda dengan babi hutan atau kera.

Tentu, dalam pengertiannya, buya Hamka tidaklah ingin menyamakan manusia dengan binatang. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sempurna. Diciptakan pula dengan sebaik-baik bentuk.

Lalu, hidup dan kerja seperti apa yang semestinya kita jalani? Jawabannya: hidup yang menghidupkan. Losta Masta; bikin hidup lebih hidup. Kerja dengan performa terbaik. Do with all our best!

Pertanyaan kemudian adalah, seperti apa hidup yang menghidupkan itu? Hidup yang tidak hanya memikirkan diri sendiri (ego), tapi juga harus berfikir menghidupkan alam sekitarnya (geo). Hidup seperti inilah yang mendatangkan manfaat bagi lingkungannya (manusia dan alam sekitarnya). Karena hidup yang mendatangkan banyak manfaat inilah yang mengantarkan seorang manusia ke kedudukan yang mulia dan terpuji. Khairukum man tanfa’u linnas; sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang banyak memberi manfaat buat ummat manusia.

Jika demikian, apakah dengan kondisi kita saat ini (dengan posisi dan status sosial yang berbeda-beda) bisa termasuk ke dalam golongan sebaik-baik manusia tersebut? Tentu saja BISA. Caranya? Loyallah pada pekerjaan atau apapun profesi kita (yang halal tentu saja). Jalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Terapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Berintegritaslah. Bekerjalah dengan kecerdesan. Cermat waktu, cermat tenaga. Atau dalam istilah 5-AS; Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Tuntas, dan Kerja Berkualitas.

Camkan dalam semangat terdalam diri bahwa kita bekerja bukan sekedar bekerja. Bukan bekerja hanya untuk diri sendiri. Tapi bekerja yang diniatkan untuk ibadah kepada Allah SWT, yang mendatangkan manfaat untuk banyak orang. Bermanfaat untuk keluarga, bermanfaat untuk masyarakat sekitar, bermanfaat untuk organisasi/perusahaan, bermanfaat untuk Negara, bangsa dan agama.

Setelah kita bisa bekerja dan hidup seperti itu, baru kita bisa tenang dari sindiran buya Hamka di atas.

Sebagai penutup, saya kutipkan kalimat motivasi dari Andrie Wongso berikut ini agar kita senantiasa memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Semoga bermanfaat.

2013/01/21

Antara AM PM, Siang dan Malam

Dulu, waktu belum kuliah di sastra Inggris, saya masih sering lupa juga cara membedakan waktu siang dan malam dalam ungkapan bahasa Inggris. Antara AM dan PM. Terutama menentukan AM PM tepat pada pukul 12. Jam 12 siang itu bahasa Inggrisnya 12 AM atau 12 PM? Ragu atau bingung? Yuk, kita bahas di bawah.

AM dan PM adalah istilah yang digunakan untuk membedakan waktu siang dan malam. Membagi waktu yang 24 jam ke dalam 2 periode. Siang dan malam. Namun, dilihat dari matahari ya tidak persis seperti itu juga.

Secara bahasa, AM PM ini adalah serapan dari bahasa Latin. AM merupakan singkatan dari Ante Meridiem yang berarti before noon= Sebelum tengah hari. PM singkatan dari Post Meridiem yang berarti after noon= setelah tengah hari.

Dengan memahami arti istilahnya maka bisa kita tentukan bahwa AM itu digunakan untuk menunjukkan waktu dari pukul 12:00:00 tengah malam hingga pukul 11:59:59 tengah hari. Karena AM berate sebelum tengah hari. Dan PM digunakan untuk menunjukkan waktu antara pukul 12:00:00 siang hingga 11:59:59 malam. Sehingga sekarang kita tahu bahwa jam 12 siang itu adalah 12 pm, dan untuk malamnya 12 am.

Sekarang timbul pertanyaan. Kenapa jam 12 siang itu 12 pm. Bukankah seharusnya setelah 11 am itu adalah 12 am. Kembali, jawabannya ada pada singkatan AM PM tersebut, seperti penjelasan di paragraph sebelum ini:

AM = Ante Meridiem (before noon = sebelum tengah hari)

PM = Post Meridiem (after noon = setelah tengah hari).

Demikian penjelasan singkat mengenai AM dan PM ini. Semoga bermanfaat dan tidak bingung lagi J

Terimakasih telah menyimak.

*Picture by Google

2013/01/11

Belajar Ikhlas dari Akar Pohon


Tat kala melihat sebuah pohon yang tumbuh subur, sering kita berkata, ‘Wah hebat ni pohon. Batangnya besar, daunnya rindang, dahannya kuat, bunganya bagus, atau buahnya yang lebat, buahnya yang manis, dan lain sebagainya. Semua yang tampak pada pohon itu kita sanjung.

Kita langka sekali memberikan sanjungan atau pun sekedar berkomentar kepada akarnya. Sadarkah kita bahwa akar adalah salah satu struktur tanaman yang sangat vital kegunaannya. Akar sebagai tempat masuknya mineral (zat-zat hara) dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan. Akar merupakan kelanjutan sumbu tumbuhan. Bahkan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Dengannya pohon menjadi tersangga kuat. Dengannya suplai makanan ‘organisasi’ pohon itu terpenuhi. Dengannya kebutuhan pohon akan kelangsungan hidupnya terjaga.

Tapi, akar tetaplah akar. Sedemikian penting pun peranannya, dia tidak pernah demonstrative. Semua hal dikerjakannya dengan kesungguhan. Dia tidak memerlukan sanjungan. Disanjung ataupun tidak, dia tetap bekerja, beramal salih. Dicuekin pemiliknya pun, akar tetap bekerja dengan penuh pengabdian.

Sifat akar seperti inilah yang perlu kita pelajari dalam hal keikhlasan. Pertanyaannya kemudian, sanggupkah kita meniru ikhlasnya akar. Keikhlasan yang tanpa tapi. Tangan kanan memberi, tangan kiri pun tak tahu. Insya Allah, kita terus berusaha.

Salam,