"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2020/01/23

Tenang, Allah is the BEST Planner for You!

Cerita 1:
Dulu saya hampir saja masuk SMU Plus Muthohhari pimpinan Jalaluddin Rahmat. Ingin sekali bersekolah disana. Waktu itu nama kang Jalal masih harum sebagai salah seorang cendekiawan muslim di tanah air. Niat banget sekolah di Muthohhari, saya survey lokasi ke sana, tepatnya di Jl. Kampus Kiaracondong kota Bandung. Lulusan SMU ini waktu itu mudah sekali mendapatkan beasiswa S1 ke Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya. Lingkungan sekolahnya juga kondusif untuk belajar. Tenang. Tapi, takdir bicara lain, ada sedikit masalah dengan 'keuangan', gak jadi masuk deh. Kecewa!
Bertahun-tahun kemudian, baru terbuka kedoknya kang Jalal, ternyata ybs penganut syi'ah. Lucky me, gak jadi masuk kesana! Kalau saja masuk dulu kesana bisa jadi skrg saya ikut kaum penghalal nikah mut'ah pula. Jadi kelompok pecinta Ali ra tapi pembenci dan memusuhi khulafaurrasyidin yang lain. Na'udzubillah!

Cerita 2:
Pernah ada seorang anggota dewan yang mengajak saya jadi 'staf ahlinya'. Saya sampaikan waktu itu bahwa saya belum punya ijazah S2, jadi gak lolos syarat dong!
'Gak apa-apa katanya'. Itu bisa diatur. 'Yang penting mau dulu. Nanti bisa kita daftarkan ke salah satu kampus, yang penting udah tercatat jadi mahasiswa S2, syaratnya dah ok', begitu kata 'bapak' ini menguatkan. Saya tergiur. Meski saya harus jujur untuk katakan bahwa gaji resminya lebih kecil dari yang saya dapat dari kantor tempat bekerja waktu itu. Tapi katanya akan ada banyak masukan lain dari proyek-proyek 'kecil'. Halal lah, katanya. Wow, saya jadi yakin. Halal kok. Tapi rupanya almarhum papa, punya firasat lain. Saya memang tidak dilarang, tapi maksudnya terlihat kurang setuju kalau saya ikut di staf ahli bapak tadi. Padahal saya berharap almarhum endorse pilihan itu, nyatanya tidak. Kecewa!
Beberapa bulan kemudian, si anggota dewan ini 'kena' garap, oleh aparat penegak hukum. You know lah what I mean!  Skrg ybs masih 'mondok' di LP Sukamiskin. Meski orangnya saya paham beliau ini orang baik, tapi sistem yang ada membuatnya terseret-seret. Lucky me, alhamdulillah saya gak jadi ikut bersamanya. Kalau jadi waktu itu mungkin dah bolak-balik ke persidangan pula.
Astaghfirullah.

Cerita 3:
Awal 2018, sebuah perusahaan ecommerce ternama di Thailand wanted to hire me as their regional head di salah satu departemennya. Berkantor di Bangkok. Kudu tinggalin keluarga deh di Bekasi or titipin ke Bandung. hehe. Kalau dibawa ke Bangkok gimana? Saya ngeri life style disana. Tidak kondusif buat anak-anak. Saya tinggal tandantangan NDA dan lanjut employment agreement aja, berangkat ke Bangkok deh.
Saya konsultasi dengan keluarga. Telpon orang tua. Minta doa restu. Entah kenapa, mereka berdua tidak nyaman bila saya hidup di Bangkok. Tidak melarang, seperti biasa, tapi sama sekali tak ada dukungan! Wah, kalo dah urusan sama ortu saya konservatif banget deh. Nurut aja. Nyatanya benar, setelah sholat istikhoroh dan doa, jawabannya saya harus batalkan. Tentu dengan professional manner, saya sampaikan my decision to the recruiter. Apology! Meski memberikan pilihan sendiri begitu, saya sedikit kecewa juga, apalagi dah ngebet betul, biar si anak kampung ini bisa dapat 'regional/global exposure' di kawasan ASEAN.

Cerita tak sampai disitu. Hanya beberapa hari saja setelah itu proses interview saya yang lain 'DEAL'. Engaged dengan sebuah perusahaan new disruptive Telco di Singapore. Term n Conditionnya lebih mengasyikkan, saya diperbolehkan bolak-balik per dua minggu atau sesuai kebutuhan Indo-SG. Jadi deh! Ortu setuju kalo di SG. hahai alhamdulillah 'ala kulli hal. Anak isteri juga mendukung. Tahun pertama banyak bolak-balik kesana. Masuk tahun kedua sudah stay terus di ID, insyaAllah segera launching disini.

So my friends, jangan pernah sesali jalan hidup. Sabar dan ikhlaskan saja, apapun itu. Semua sudah ada qodo dan qadarnya. Senantiasa pula terus memperbaiki diri. Tingkatkan kualitas diri. Perbanyak relasi. Sambungkan terus silaturrahmi. Perkuat jejaring. Oh ya, secara khusus untuk adik-adik angkatan, perdalam terus kemampuan bahasa asingnya ya! English is a must. InsyaAllah akan ada cahaya terang di ujung sana!
MasyaAllah. Tabarakallahu!
---
*Afwan tak bermaksud menggurui apalagi sok-sok'an. hehe. Tujuan tulisan ini hanya untuk mengafirmasi rasa syukur kami pribadi, syukur-syukur bisa menginspirasi.

Salam!

Hijrah ke Transportasi Umum


Image may contain: sky, skyscraper, bridge, car and outdoorAda jalur busway yang lancar, tapi banyak penghuni kota ini yang seolah berlomba-lomba memenuhi jalan raya dengan kendaraannya masing-masing. Tumpah ruah lah kendaraan roda 4 di jalanan. Macet!

Pengen disebut kaya? Have people? I think that's not a good way to show your wealthy.

Kota-kota di negara maju yg penduduknya lebih sejahtera dan 'have more' malah lebih sadar dengan kebermanfaatan public transportation demi kenyamanan kotanya.

Hijrah yuk!



Alhamdulillah saya sendiri sudah 5 tahunan lebih markirin mobil Senin-Jumat di garasi rumah (kecuali hujan deras dan benar2 urgent). Nyaman-nyaman aja tuh. Tinggal membiasakan aja. Plus sedikit mindset changing. Yuk!
.
Sekarang pilihan transportasi umum dah makin bervariasi. Ada KRL, MRT, ada bus TJ yg rutenya terus bertambah, ada moda transportasi feeder dari kota-kota satelit, bahkan ada mobil omprengan ala-ala nebengDOTcom yg bisa dipilih sesuai kemauan dan kemampuan. Hehe. Oh ya, bentar lagi juga bakal ada LRT JaBoDeBek.
.
Jadi teringat konsep merubah bangsa ala Aa Gym:
1. Mulai dari hal-hal yang kecil.
2. Mulai dari diri sendiri.
3. Mulai dari saat ini!
Bismillah!
.
#guratanSore #fersus #jakarta #transjakarta #jakartatraffic #jakartamajubersama
*foto istimewa, Jan 2020.