"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2015/04/08

Jebakan Infiltrasi Pikiran Bawah Sadar Pada Pemuda Indonesia

“Pikirin aja urusanmu sendiri, urusan keluargamu. Gak usah sok mikirin hal yang besar deh. Apalagi urusan Negara, gak usah sekali-kali kamu urus deh”

Pernah mendengar nasehat atau lebih tepatnya ‘umpatan’ di atas? Sering ya? Atau bahkan Anda sendiri yang mengucapkannya ke rekan, saudara, teman, atau anggota keluarga Anda? Wah ini berbahaya. Saran saya, mulai sekarang Anda harus lebih waspada. Sebaiknya Anda menolaknya. Ya, Anda harus menolaknya jika Anda memang menginginkan sebuah perubahan besar pada bangsa ini.

Kenapa? Dalam teori propaganda, itu bagian dari infiltrasi pikiran bawah sadar seseorang, untuk kemudian dibiasakan dalam sekelompok orang, kemudian ke dalam kelompok yang lebih massive. Di ujungnya ada sebuah proses dubbing massal yang lebih berbahaya lagi. Tujuannya untuk mempermanenkan sebuah gagasan di pikiran (alam) bawah sadar Anda, bahwa Negara ini ‘gak pantas kalo kamu yang urus. Kamu pantasnya hanya sekedar memikirkan dan mengurus diri sendiri, keluarga sendiri. Urusan Negara, biarlah ‘mereka’ yang entah siapa itu yang memikirkan dan mengurusnya.

Apa maksud dari semua ini?

Maksudnya adalah sebuah rencana besar. ‘Mereka’ menginginkan kaum muda Indonesia ini berpikir kecil. Bertindak kecil. Cukup urusan personal dan domestik, rumah tangga saja. Maka dengan demikian, ‘mereka’ lebih leluasa mengurus Negara ini sesuai dengan kemauannya. Iya kalau cara mengurusnya benar, jujur dan adil. Kalau ternyata, semuanya dilakukan hanya demi kekuasaan, kerakusan dan hasrat dunianya? Habis lah diri Anda (dan rakyat lain) dijualnya. Habis lah asset bangsa ini dikuasainya. Habis lah marwah bangsa ini digadaikannya.

Sederhananya,dengan dubbing massal tadi, Anda akan terbiasa menyampaikan kalimat-kalimat sederhana yang berdampak luar biasa pada mental dan pikiran Anda. Sepenuhnya Anda tidak menyadari bahwa kalimat-kalimat itu telah merusak motivasi besar di alam bawah sadar Anda. Proses pelemahan mental di alam bawah sadar ini akan menjadikan Anda cukup nyaman berada dalam urusan kecil Anda, sementara urusan yang lebih besar, menyangkut hajat masyarakat yang terkait dengan kebijakan-kebijakan publik dan urusan strategis biarlah ‘mereka’ yang akan ambil alih. Anda membiarkannya. Anda menyerahkan hidup Anda dan hidup keluarga Anda kepada kebijakan-kebijakan yang mereka buat.

Jadi jangan heran berlebihan kalau ada banyak kebijakan strategis bangsa ini dan kebijakan publik yang mengatur banyak orang di negeri ini jauh dari harapan Anda, jauh dari nilai-nilai keadilan dan kebenaran apalagi kebermanfaatan bagi warga bangsa seperti penentuan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), Gas, Tarif Listrik dan lain-lain yang sangat tinggi dibandingkan dengan kemampuan daya beli masyarakat.

Kenapa kebijakan seperti itu bisa terjadi, dan tidak ada protes yang benar-benar dapat menghadangnya? Karena mereka sudah merencanakannya sejak awal, bahkan sejak dalam pikiran bawah sadar Anda tadi. Sedari awal, mereka ingin ‘membutakan’ mata politik Anda. Menumpulkan daya kritis Anda sejak di alam bawah sadar. Bahwa urusan besar, seperti penentuan harga-harga barang dan jasa yang dibutuhkan banyak orang itu adalah urusan besar, urusan mereka, dan Anda telah ‘dihipnotis’ hanya untuk mampu memikirkan dan mengurusi hal kecil, hal di diri Anda sendiri.

Bagaimana, wahai pemuda Indonesia?
Mau berpikir dan bertindak kecil atau berpikir dan bertindak besar?
Pilihan ada di diri Anda masing-masing, wahai pemuda Indonesia.

Ibu pertiwi memanggilmu. Jika pilihanmu siap untuk berubah dan bangkit. Yuk segera benahi persiapan mental, intelektual, emosional dan fisikal Anda, dan ketika tiba saatnya segeralah masuk ke wilayah kekuasaan yang sudah puluhan tahun ‘mereka’ kuasai dengan teknik infiltrasi ke dalam pikiran bawah sadar itu. Dan ingat, ketika sampai ‘di sana’, berjuanglah atas nama kebenaran, kejujuran dan keadilan. Pegang Teguh integritasmu, karena itulah asset terbesar mu duhai pemuda.

Salam Kebangkitan Pemuda Indonesia.

Dimuat juga di: http://www.dakwatuna.com

2015/04/07

KRITIK DI SOSIAL MEDIA ITU TIDAK PERCUMA!


Hasil gambar untuk social media power
Pasti pernah menerima pernyataan sinis berikut ini kan:

-Ngapain capek-capek kritik, teriak-teriak di facebook? Percuma!
-Percuma kalo ngomong doang di facebook mah, gak akan didengar!
-Aksi nyata dong, jangan cuman di sosmed!
-Demo aja kalo berani, ngapain cuap cuap doang di sosmed!

Setelah membaca beberapa fakta di akhir tulisan ini, Anda akan tercengang. Bahwa the power of social-media itu nyata adanya. Bukan angin lalu saja. Dalam dunia politik, sudah ada beberapa kekuasaan yang tumbang dan terjungkal dibuatnya.

Memang, kalau hanya sekedar tulisan tidak akan berpengaruh apa-apa. Masalahnya adalah, kekuatan opini yang terbentuk di social media (dunia maya) itu menjadi pemicu yang sangat kuat dalam aksi di dunia nyata.

Secara ilmiah, apa yang saya sampaikan di atas diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan oleh facebook. Dalam riset yang berjudul ‘A 61-million-person experiment in social influence and political mobilization’ itu terlihat betapa kuatnya hubungan antara opini social media dengan opini di real-world.

Secara umum, hasilnya sebagai berikut:
  1. Kampanye yang memanfaatkan jejaring sosial lebih berpengaruh daripada kampanye yang hanya fokus pada penyampaian informasi atau konten saja.
  2. Penyebaran perubahan perilaku cenderung terjadi antar teman dekat yang mungkin dibarengi dengan interaksi tatap muka.
  3. Mobilisasi politik di ranah online memiliki efek nyata di ranah offline.
Saya akan beri beberapa contoh / fakta yang lebih nyata tentang hasil peneilitian [nomor tiga] di atas.
  1. Revolusi di Tunisia [2010-2011] berhasil menumbangkan rezim Presiden Ben Ali, digerakkan awalnya oleh konsolidasi aktivis di facebook dan twitter.
  2. Revolusi di Mesir awal 2011, berhasil menumbangkan Hosni Mubarak, juga dibantu dengan jalur media alternative, youtube, facebook dan twitter. Di social media pula para aktivis membuat janji untuk rapat akbar di Tahrir square.
  3. Susilo Bambang Yudhoyono keok dalam polemik UU Pilkada [September 2014] setelah diserang dengan tagar #ShameOnYouSBY di facebook dan twitter.
  4. Jokowi berpikir ulang untuk mengajukan Budi Gunawan menjadi kapolri setelah dihantam serangan di twitterland dengan tagar #ShameOnYouJokowi.
  5. BNPT dan kominfo menjadi ambil langkah tak jelas dalam rencana memblokir beberapa situs Islam setelah mendapat serangan tagar #KembalikanMediaIslam. [Maret 2015]
  6. Jokowi mencabut perpres bantuan uang muka mobil pejabat, setelah dikritik habis-habisan di social media. [April 2015]
  7. dan lain-lain.
Masih menganggap sos-med ini hanya sekedar mainan yang tak berguna untuk merubah kekuasaan? No way, ini adalah channel yang dahsyat untuk menyuarakan isi hati mu, kawan!

Keep posting in positive spirit for Indonesia.

#FerSus