"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2011/04/25

Kompetisi, Membuat Berisi

Suatu desa yang rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani, kedatangan seorang bijak dan ahli. Orang bijak tersebut berjalan menyusuri pedesaan, ladang-ladang, hutan kecil hingga di sebuah persawahan yang luas. Beberapa petani terlibat percakapan dengan Sang Bijak.

"Pak, dalam sekali panen biasanya sawah ini menghasilkan berapa kwintal gabah?" tanya orang bijak tersebut.

"Kira-kira sekarang ini ada 4 kwintal", jawab petani dengan mantap.
"Pak, lihatlah sawah ini begitu bersih, tidak ada rumput disela-selanya. Bahkan hingga seluruh lumpur bisa terlihat di sela tanaman dengan jelas. Jangankan rumput, lumut juga tidak tampak. Berarti bapak-bapak sekalian, dengan sangat baik merawat tanaman padi ini.", kata Sang Bijak.

"Benar sekali! Saat ini kami merawat dengan sangat baik. Kalau kami tidak rawat dan bersihkan rumput tersebut dengan baik, sudah pasti hasilnya akan berkurang.", penjelasan Pak Tani.

"Baiklah, kalau diijinkan saya ada saran. Sehingga hasil gabah setiap panen bisa jauh lebih banyak.", Sang Bijak menawarkan.

"Tentu saja kami mau, bagaimana melakukannya?", tanya Pak Tani.
"Mudah saja, biarkan rumput itu hidup disekitar tanaman padi. Dan lihatlah nanti bahwa hasil padinya akan jauh lebih banyak." ucap Sang Bijak.

"Wah dasar, ide gila, bagiamana mungkin. Lagi pula Anda bukan petani seperti kami yang sangat tahu dengan kondisi sawah dan bagaimana mengerjakannya. Kami tidak percaya! Dengan dirawat baik, hasilnya pasti lebih baik.", ucap petani dan diiyakan oleh petani lainnya.

Percakapan itu bubar. Dan beberapa petani tampak kecewa. Setelah waktu itu Orang Bijak itu menyewa sepetak sawah dan mengajak petani untuk garap sawah itu, dengan syarat sesuai dengan cara dari orang bijak tersebut, pada musim tanam depan.
Tibalah saat musim tanam dan petani lain masih dengan cara biasanya, namun sawah yang disewa oleh orang bijak itu, dengan cara yang berbeda. Dibiarkan ada rerumputan di sela tanaman padinya. Dan minggu demi minggu berjalan, hingga sampailah pada musim panen.

Para petani sibuk memanen hasil mereka. Sebagian lagi dijual secara borongan di sawah masing-masing. Sawah sewaan orang bijak itu, dipanen dan hasilnya ditimbang dan disimpan di rumah yang disewanya. Petani yang membantu heran sekali, atas hasil gabah dari sawah yang disewa itu. Hasil banyak, jauh lebih banyak dari yang biasanya. Lalu dia banyak bercerita tentang hal itu ke petani lain. Dan semua menjadi tahu, bahwa saran orang bijak tersebut benar dan terbukti.

Dalam tulisan ini kita tidak bercerita tentang bagaimana kita bertanam padi, namun tentang kompetisi. Ya Kompetisi !. Mengapa padi yang diselanya banyak rerumputan justeru memiliki hasil yang lebih? wah kalau kita bahas secara ilmu pertanian, mungkin akan beda analisanya. Ini kita lihat dalam sebuah filosofi mengenai kompetisi. Tanamam padi tersebut dengan adanya rerumputan atau lumut disela-selanya, maka dia senantiasa berkompetisi dalam mendapatkan makanan. Diluar bisa jadi adanya proses penguraian lain dari rumput yang memberikan sumber makanan untuk padi tersebut. Karena jika rumput itu tidak ada, maka tanaman padi akan tumbuh sendiri, mencari makanan sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali bisa terlihat secara langsung hasil dengan adanya kompetisi. Mari kita perhatikan dan renungkan sejenak. Saat menyetir mobil di jalan tol. Saat tol lancar dan tenang, kita mnegikuti dengan rasa santai. Apalagi saat hanya beberapa kendaraan saja. Semua kendaraan berjalan dengan teratur sesuai jalur, tidak banyak rasa terpancing untuk saling mendahului. Saat agak padat, ada banyak kendaraan, apalagi kalau ada kendaraan lain yang mendahului, kita berpacu untuk mendahului.

Saat renang kita meluncur dari ujung ke ujung kolam, jika tanpa orang lain, kita akan tetap berenang dengan kecepatan biasanya. Kalau saja ada perenang lain, disamping jalur kita dan mendahului, ceritanya jadi lain. Ada rasa termotivasi untuk mempercepat. Bahkan bisa jadi hal itu tanpa disadari. Otomatis kecepatan renang kita bertambah.

Dalam banyak hal kompetisi ini sangat dibutuhkan. Kita bisa berhasil, bukan saja karena adanya tim yang kuat, sumber daya kita, namun kompetisi dengan yang lainnya membuat kita terpacu semakin kuat. Kompetisi melahirkan sebuah motivasi dan dalam banyak hal, motivasi ini mendorong sukses dengan kontribusi yang besar.
Pada suatu organisasi manajemen, kompetisi secara positif harus senantiasa diciptakan, karena akan sangat berpengaruh pada produktivitas. Para Leader dalam organisasi mesti piwai dalam melakukan kontrol manajemen kompetisi ini. Karena akan berbatas tipis, kompetisi yang diciptakan bergeser ke arah kompetisi negatif yang justeru mematikan motivasi.

Dalam setiap pribadi, kompetisi bisa diciptakan dengan parameter tertentu, sehingga terjaga dalam motivasi dengan stamina prima. Kompetisi yang terjadi dengan pihak external, dengan parameter logis, berbanding dengan target yang memungkinkan bisa dicapai dengan cara SMART. Fleksibelitas seseorang dalam melakukan short interval follow up terhadap target tertentu saat kompetisi akan menjadi sarana dalam menjaga stabilitas motivasi diri.

Kompetisi ini juga sangat baik, kita berikan kepada anak-anak kita, sehingga memiliki jiwa fighter yang tangguh. Terhindar dari mudah menyerah, berkeluh kesah, dll. Banyak games simulasi untuk berkompetisi, banyak sarana di keluarga dengan cara menyenangkan kompetisi bisa dilakukan.

Karena kompetisi membuat kita berisi dan berbobot lebih, tertantang dalam kompetisi sehat merupakan sarana sehat dalam mengasah kemampuan diri, sehingga selalu bisa lebih baik. Bukan yang terbaik sebagai target, namun terus menjadi lebih baik. Bisa jadi menjadi yang terbaik, hanya sesekali waktu saja, namun selalu menjadi yang terbaik, berarti kompetisi setiap saat. Selamat berkompetisi!

by:
Yant Subiyanto, ST,CM-NLP,CH,CHT

2011/04/13

Tiga Modal Memotivasi Diri

Tiga Modal Memotivasi Diri

Note: Tulisan ini disertai dengan link ke tiga gambar, yang dianggap perlu untuk menjelaskan.

Setiap kegagalan selalu diawali dengan tanda. Tanda itu adalah turunnya motivasi. Jika Anda gagal menaikkannya, maka kegagalan akan menjadi kenyataan.

Waspadai meteran motivasi Anda. Bekerja seadanya, merasa tidak bersemangat, merasa lemas dan malas, adalah tanda-tanda paling kuat dari menurunnya motivasi Anda. Bahkan, selalu mencapai target tapi tetap sebegitu-begitu saja, bisa jadi juga merupakan tanda yang sama.

Tetap termotivasi adalah perjuangan. Sebab diri kita setiap hari didera oleh lebih dari 60.000 lintasan pikiran. Masing-masing dari lintasan pikiran itu, adalah bentuk-bentuk kenikmatan, cobaan, dan ujian. Sebagiannya, sangat mungkin negatif dan berdampak buruk pada motivasi.

Menurut Frederick Hezberg, "mesin motivasi" manusia sebenarnya terdiri dari dua lapisan, yaitu:

1. Maintenance Layer
2. Motivation Layer

Maintenance Layer adalah wilayah motivasi yang diciptakan oleh sistem eksternal Anda. Biasanya, jika sistem ini sudah disetup dengan baik dan benar, maka aspek "motivasi dasar" bisa langsung beroperasi dengan lancar.

Contoh: Jika Anda karyawan, maka kenaikan gaji bisa dipastikan akan membuat Anda makin giat bekerja. Jika tidak, Anda yang keterlaluan. Tapi, segiat apa? Sejauh mana Anda akan makin keras bekerja?

Inilah yang disebut dengan Maintenance Layer. Layer ini cenderung akan "otomatis" memotivasi Anda dari luar. Namun demikian, tidak bisa diharapkan bahwa kinerja Anda akan meningkat melebihi persyaratan (minimum), atau drastis - jarang terjadi. Sekali lagi, layer ini didisain oleh sistem eksternal Anda hanya sekedar untuk mencapai performa "standar".

Motivation Layer adalah wilayah motivasi yang sifatnya individualistik atau internal. Layer ini diciptakan oleh individu yang bersangkutan. Jika disetup dengan baik dan benar, aspek "motivasi tambahan" bisa berlangsung secara mengejutkan. Individu tertentu akan menjadi bintang performa.

Uniknya, Motivation Layer tidak akan tercipta tanpa didahului oleh terciptanya Maintenance Layer.

Contoh: Jika Anda karyawan, mencapai standar minimum pun mungkin tak akan Anda lakukan, jika gaji Anda kekecilan. Apalagi kinerja yang lebih dari itu.

Jadi tugas Anda - karyawan atau bukan, adalah membangun Maintenance Layer Anda sendiri secara internal, sebagai "mesin motivasi otomatis" Anda. Sebab, setiap motivasi pada dasarnya adalah diproduksi oleh diri sendiri. Faktor sistem eksternal hanya memotivasi "ala kadarnya".

Jika Anda bisa menciptakan mesin ini, maka Anda akan selalu termotivasi. Anda akan selalu termotivasi untuk memotivasi diri sendiri.

Ciri-ciri bahwa Anda belum memiliki "mesin motivasi otomatis" secara pribadi:

"Ah sama saja. Kerja keras atau tidak, hasilnya sama kok."
"Mengapa semuanya begini-begini saja?"
"Sekarang kok stagnan?"
"Kok kembali kayak dulu nih?"
"Alah, yang penting kerjaan gua beres!"

Sangat-sangat sering terjadi, Maintenance Layer eksternal justru menjebak Anda pada zona nyaman yang baru. (Dalam contoh karyawan: gaji Anda dinaikkan, tapi motivasi Anda tak mampu bertahan.)

Anda kelelahan karena Anda terus bekerja secara "manual" memproduksi motivasi. Anda lelah sampai akhirnya kalah. Anda bekerja langsung di layer kedua. Anda tidak membangun layer pertama.

Anda perlu membangun "mesin motivasi otomatis". Anda perlu membangun Maintenance Layer Anda sendiri secara internal. Tanpa mesin ini, Anda tidak akan mendapatkan "plus-plus".

Bagaimana caranya membangun Maintenance Layer Anda sendiri?

Kita bisa memulainya dengan memahami tiga penyebab rendahnya motivasi.

1. Tidak atau kurang percaya diri.

Jika Anda sendiri tidak percaya bahwa Anda punya peluang bisa sukses dan berhasil, maka mencoba pun Anda tak akan melakukannya. Bagaimana Anda bisa termotivasi?

2. Tidak fokus.

Jika Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan, bagaimana Anda bisa termotivasi?

3. Tidak terarah.

Jika Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, bagaimana Anda bisa termotivasi untuk melakukannya?

"Mesin motivasi otomatis" Anda, adalah kombinasi baru dari ketiganya, dan mesin ini hanya akan "kinclong" jika Anda bisa menjaga keseimbangan di antara ketiganya. Maka apa yang menjadi syarat utama adalah:

1. Ketiganya ada.
2. Ketiganya dalam kondisi prima.
3. Ketiganya seimbang.

PERCAYA DIRI

Tidak atau kurang percaya diri, disebabkan oleh "over focus" pada cita-cita, dan melupakan apa yang sudah dimiliki.
Link gambar: http://bit.ly/ 5tQ5ZE

Bagilah dengan adil fokus Anda ke berbagai hal yang sudah Anda miliki; bakat, modal, keterampilan, akses, jaringan, dan sebagainya. Inventarisirlah apa yang sudah Anda miliki. Pasti ada, dan banyak. Koleksi semua itu akan membuat Anda menjadi besar.
Dengan membagi fokus Anda kepada apa yang sudah Anda miliki, Anda akan makin percaya diri. Dan dengan mengetahui apa yang Anda miliki, Anda juga akan mulai menemukan arah.


FOKUS

Kemana fokus Anda? Kepada yang Anda inginkan, atau kepada yang tidak Anda inginkan?

Link gambar: http://bit.ly/ 4DveVS

Jika fokus Anda adalah apa yang tidak Anda inginkan, maka Anda tidak akan tahu apa yang Anda inginkan. Semuanya malah akan menjadi buram.

Jika Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan, Anda akan salah arah. Dan salah arah akan membuat Anda makin tidak percaya diri. Sebab, Anda merasa tersesat.

TERARAH

Kemana arah Anda? Menuju atau menjauhi sesuatu yang Anda inginkan?

Link gambar: http://bit.ly/ 5EJ8C0

Jika Anda tidak tahu, Anda tersesat dan salah arah, dan ujungnya juga tidak jelas. Anda akan makin tidak percaya diri. Jika arah Anda menjauhi, Anda tidak akan menemukan titik fokus, dan ujungnya juga pasti.

Jika Anda berhasil membangun "mesin motivasi otomatis" Anda sendiri, maka Anda akan punya mesin yang otomatis memproduksi motivasi, setiap hari. Sebagai mesin, ia butuh bahan bakar. Bahan bakar itu, adalah kemauan Anda untuk sering-sering menengok lagi semua ini.

Semoga bermanfaat.

Referensi tambahan: http://en.wikipedia .org/wiki/ Two_factor_ theory

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.

2011/04/11

Five Steps to Personal Power

By Brian Tracy

There is a five-step power process that you can use to keep yourself positive and to achieve your goals faster. This five-step process brings together several of the very best techniques ever discovered for permanent mind change. It contains and illustrates all of the key principles that you need to know to become a highly effective, positive "possibility thinker" in your own life.

Imagine Your Perfect Future
Perhaps the biggest obstacle to creating a wonderful life is "self-limiting beliefs." Everyone has them, and some people have so may of them that they are almost paralyzed when it comes to taking action. A self-limiting belief is an idea you have that you are limited in some way, in terms of time, talent, intelligence, money, ability, or opportunity. The way you free yourself from these negative brakes on your potential is to change your thinking about who you are and what is truly possible for you.

Show Me the Money
Start with your income. How much do you want to be earning, one, two, three, and five years from today? Look around you and ask, "Who else is earning the kind of money I want to earn, and what are they doing differently from me?" If you don't know or you aren't sure, go and ask them. Do your homework.


Design Your Perfect Life
Imagine your perfect lifestyle. If you had no limitations at all, how would you like to live, day in and day out? If you were financially independent, what kind of home would you live in? What kind of car would you want to drive? What kind of life would you like to provide for your family? What sort of activities would you like to engage in throughout the week, month, and year?

Turn Your Ideal into Reality
When you sit down and design your ideal lifestyle, you can then compare it to what you are doing today and notice the differences. You can then start thinking about how you could bring your real or current lifestyle closer to your ideal. When you idealize your income and your lifestyle, you develop vision for your life. You begin to practice a key quality of personal leadership. You begin projecting into the future and making plans to turn your future dreams into a current reality.

The Person you Become
Create an ideal future self in terms of your personal and professional development. What kind of person do you want to be in the future? What additional knowledge and skills do you want to acquire? In what areas would you like to become absolutely excellent? What subjects would you like to master? What do you need to learn to move up in your field? What is your growth plan to get from where you are to where you want to go?

Action Exercise
Look for something good in every problem or difficulty. Practice being an inverse paranoid, convinced that there is a vast conspiracy to make you successful.

2011/04/05

The ABCDE Method for Setting Priorities

By: Brian Tracy

Efficiency is doing things right. Effectiveness is doing the right things. Your ability to plan and organize your work, in advance, so you are always working on your highest value tasks determines your success as much as any other factor.

The ABCDE Method for Priorities
The process of setting short-term priorities begins with a pad of paper and a pen. Whenever you feel overwhelmed by too many things to do and too little time in which to do them, sit down, take a deep breath, and list all those tasks you need to accomplish. Although there is never enough time to do everything, there is always enough time to do the most important things, and to stay with them until they are done right.


Setting Better Priorities
The best method for setting priorities on your list, once you have determined your major goals or objectives, is the A-B-C-D-E method. You place one of those letters in the margin before each of the tasks on your list before you begin.

"A" stands for "very important;" something you must do. There can be serious negative consequences if you don't do it.

"B" stands for "important;" something you should do. This is not as important as your 'A' tasks. There are only minor negative consequences if it is not completed.

"C" stands for things that are "nice to do;" but which are not as important as 'A' or 'B,' tasks. There are no negative consequences for not completing it.

"D" stands for "delegate." You can assign this task to someone else who can do the job instead of you.

"E" stands for "eliminate, whenever possible." You should eliminate every single activity you possibly can, to free up your time.

When you use the A-B-C-D-E method, you can very easily sort out what is important and unimportant. This then will focus your time and attention on those items on your list that are most essential for you to do.

Just Say No
Once you can clearly determine the one or two things that you should be doing, above all others, just say no to all diversions and distractions and focus single-mindedly on accomplishing those priorities.

Much stress that you experience in your work life comes from working on low-priority tasks. The amazing discovery is that as soon as you start working on your highest-value activity, all your stress disappears. You feel a continuous stream of energy and enthusiasm. As you work toward the completion of something that is really important, you feel an increased sense of personal value and inner satisfaction. You experience a sensation of self-mastery and self-control. You feel calm, confident and capable.

Action Exercises
Here are three ideas that you can use, every day, to help you set priorities and to keep you working at your best:

First, take the time to be clear about your goals and objectives so that the priorities you set are moving you in the direction of something that is of real value to you.

Second, remember that what counts is not the amount of time that you put in overall; rather, it's the amount of time that you spend working on high-priority tasks.

Third, understand that the most important factor in setting priorities is your ability to make wise choices. You are always free to choose to engage in one activity or another.

Resolve today to set clear priorities in every area of your life, and always choose the activities that will assure you the greatest health, happiness and prosperity in the long term.

2011/04/04

Inspirasi Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.


Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.


"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya mEmbutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
--
Semoga bermanfaat!

2011/04/03

Bila Harus Menulis

Menulis tak lain dari berbicara pada diri sendiri, atau paling tidak seperti berbicara pada diri sendiri. Tapi kenyataannya betapa sulit itu dilakukan.

Bila kita mengeja diri membaca rasa, apakah kesulitan itu karena sang aku tidak pernah atau tidak biasa berbicara dengan/pada diri sendiri? Sedemikian asing dan tidak akrabkan sang aku dengan diri sendiri? sehingga berbica dan bertegur sapa pun jarang dilakukan.

Lalu, kalau kita berniat tuk berbicara dengan diri sendiri, apa yang harus kita ceritakan?

Seperti pada teman, sahabat akrab; mungkinkah kita berbagi cerita tentang pengalaman pahit, manis; kegagalan, kekecewaan, sakit hati, kebahagiaan, keberhasilan, dan lain sebagainya. Tapi kalau kita memang tidak pernah akrab dan mengenal baik diri kita sendiri, bagai mana mungkin kita mempercayainya (diri sendiri) untuk diajak bicara dan berbagi tentang sesuatu yang kita anggap rahasia pribadi, yang bahkan mungkin merupakan aib. Kita tidak mungkin menuliskan itu semua, apabila kita tidak pernah akrab dengan diri sendiri, sepertitidak mungkinnya menceritakan masalah-masalah pribadi pada orang lain.

Ketika menulis, kita harus siap untuk bertelanjang. Jangan kaget, bahwa pada kenyataannya setelah bertelanjang pun kita masih sulit untuk menceritakan diri kita secara utuh dan lengkap. karena, mungkin ada yang kita rasa tabu tuk dikatakan, dan ada pula bagian yang memang benar-benar tidak bisa kita lihat. perlu bantuan cermin atau orang lain tuk mengungkap bagian-bagian yang tersembunyi. atau, paling tidak dengan mengasosiasikan diri kita sebagai orang lain. Pikiran dan pengetahuan kita adalah diri kita sendiri, demikian juga dengan pengalaman-pengalaman kita adalah diri kita seutuhnya. Dengan demikian, ketika kita menulis apa pun, baik pikiran, pengalaman, perasaan atau apa pun, pada kenyataannya adalah menulis tentang diri kita sendiri.

Maka, kalau pun kita harus menulis; menulislah tentang diri kita sendiri.
--
Oleh: Gibson A.

MENULIS SAMA DENGAN MENGGOSIP

Hari pertama kuliah penulisan kreatif, saya bertemu dengan sejumlah mahasiswa semester 2. Umur mereka masih muda, penuh semangat, tapi tampak tak terarah. Motivasi mereka masih naik turun. Tapi mari kita mulai. Kegiatan menulis pun dimulai dengan nyaman, sesekali mereka cekikikan karena ternyata menulis itu memang mudah.

“Menulis sama dengan berbicara, yaitu mengeluarkan apa yang ada di pikiran. Bedanya hanya bentuk saja. Sementara mekanismenya sama, ada gagasan di benak lalu dikeluarkan dalam bentuk tulisan”.

Lalu muncullah sejumlah pertanyaan ini:

Kalau semudah itu, kenapa menulis begitu susah? Baru saja satu baris, terasa jelek dan tak pantas, lalu pikiran mentok dan kegiatan menulispun terhenti.

Itu soal kebiasaan saja. Berbicara terasa mudah karena sejak kecil kita diajari untuk berbicara, melihat orang lain menggosip berjam-jam, dan kita pun kerap mengekpresikan gagasan lewat bicara. Bila kita terbiasa menuliskan gagasan dan mempersedikit bicara, niscaya kita akan lebih mudah menuliskan gagasan daripada membicarakan gagasan.

Kebiasaan menulis di facebook, twit, atau chating sebenarnya bisa membantu. Asal saja sudah mulai diarahkan. Maksudnya coba deh menulis di fb itu janganhanya status iseng, tapi belajarlah menuliskan gagasan. Teruslah menulis, jangan pedulikan benar salahnya materi gagasan. Yang penting menulis saja dulu.

Jadi gimana caranya?

Kita kenali saja dulu sifat dasar pikiran. Kepala kita ini tak pernah berhenti bersuara, selalu saja ada yang dipikirkan. Bahkan pada saat diam, kepala kita terus memproduksi kata-kata yang menilai atau sekadar mereka-reka. Hampir 24 jam pikiran kita memproduksi kata-kata.

Menulis adalah memilih kata-kata, mengarahkannya dalam struktur tertentu sesuai dengan tujuan yang kita harapkan. Hanya saja, bagi pemula, biasanya struktur ketat, keinginan terlalu sempurna, sehingga pikiran justru mampet, nggak mengalir.

Inilah awal masalah dari kegiatan menulis. Begitu struktur terlalu ketat, pikiran-pikiran yang lewat seperti tidak ada gunanya,tak layak dituliskan. Ujung-ujungnya tak ada satupun yang bisa dituliskan. Mampet!

Kedua, kita kenali sifat gagasan. Gagasan itu liar, cepat datang dan cepat pergi. Ketika gagasan muncul dan tidak segera dituliskan atau dibicarakan, ia akan pergi, hilang dan musnah. Karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib berpesan, “ikatlah pikiranmu dengan tulisan!”. Jadi, tuliskan gagasanmu itu segera.

Nah, soalnya adalah ketika kita menuliskannya, gagasan itu juga tak sepenuhnya bisa muncul. Ada sesuatu yang menghalanginya, alias mampet. Masalah ini muncul dari ketidakmampuan kita mengenali cara kerja pikiran yang begitu riuh rendah.

Ya, jadi gimana caranya?

Tuliskan tanpa berpikir.

Ini cara pertama yang sederhana. Tuliskan saja tanpa memikirkan struktur, titik-koma, huruf besar huruf kecil, nyambung atau nggak nyambung. Tuliskan saja. Hargai datangnya gagasan dengan mengikatnya.

Latihan dasarnya juga sederhana. Hanya lima menit saja. Ya, sediakan waktu sekitar lima menit, lalu tuliskan apa saja yang melintas di kepalamu, walaupun sekadar kata-kata “apa lagi ya…”, atau “mau nulis apa lagi?”

Terus gimana?

coba dulu tips yang ini, baru boleh tanya lagi!
--

Oleh: Bambang Q Anees

2011/04/01

Everyone is Important

By: Brian Tracy

Everyone has critical skills and knowledge that are important to many other people in the company.

Use Better Titles for Each Person
Some years ago, when I started in business, the job of the receptionist was to answer the telephone and direct the callers to the appropriate people. Today, however, her job is far more complicated and, therefore, more important. Since she is the first contact that most customers have with our business, her personality and temperament are extremely important.

Think About Your Customers
The prospective client who telephones begins forming an impression of us the instant that the telephone is answered. Then, because our companies are doing so many things, she must tactfully ascertain exactly how the caller may be best served and who is the best person in the company to direct the telephone call to.

One Person Can Make the Difference
In many cases, there are requests for further information, and follow-up telephone calls go through our front-office manager. Her ability to handle these calls effectively, to direct calls to the right people, to take accurate messages, and to act as the core person in a network of communications makes her job so important that it is essential that she sit in on all staff meetings and be aware of everything that is going on.


Keep Yourself Informed
Your job in your company also requires that you know a lot about what is going on everywhere else, as well as being thoroughly conversant with what you do. And the fastest and most accurate way of keeping current with what is going on is to develop and maintain a network of contacts, an informal team of people within your workplace who keep you informed and who you keep informed in turn.

Encourage Participation and Involvement
The old methods of command and control now exist only at the old-line companies, many of which are fighting for their very survival. Today, men and women want a high degree of participation and involvement in their work. They want an opportunity to discuss and thoroughly understand what they are doing and why they are doing it. People are no longer satisfied to be cogs in a big machine. They want to have an integral role in achieving goals that they participated in setting in the first place.

Build a Top Team
Being a team player is no longer something that is optional. Today, it is mandatory. If you want to achieve anything of consequence, you will need the help and cooperation of lots of people. Your main objective is to structure everything you do in such a way that, because you are constantly cooperating and working well with others, they are continually open to helping you achieve your goals.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to put these ideas into action.

First, recognize that every person in the company is essential to the smooth functioning of the organization. Take time regularly to discuss their jobs with them and understand what they do.

Second, identify the things that you do that can really affect the work of others. Then, look for ways to do your job so that you help others in every way possible.

Triple FILTER Test

Triple FILTER Test dalam menyampaikan kabar berita"

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.

Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.

Filter petama adalah KEBENARAN.

"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.

Filter ke 2, KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya..."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda dan anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih
memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3, KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan,dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates dianggap filsuf besar dan sangat terhormat.

Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan anda. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu anda terima. Dan apabila anda terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan jangan menyakiti hati orang lain.