"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2024/04/06

TAHUN 1700-an awal, BATAHAN JADI REBUTAN BELANDA DAN INGGRIS

Bangsa Eropa ketiga yang datang ke pantai barat Sumatera adalah orang Inggris. Seperti yang diungkapkan Dennis Lombard, terdapat armada Inggris di wilayah tersebut pada kuartal terakhir abad ke-16, dan Aceh merupakan salah satu wilayah pertama yang dikunjungi armada Inggris. Kehadiran Inggris di kawasan tersebut atas perintah langsung Ratu Inggris, Queen Elizabeth I. Sang ratu menyiapkan sebuah surat yang ditulis dengan tinta emas di atas kertas halus dan disampaikan oleh "utusan kerajaan" bernama Sir James Lancaster. Dalam suratnya, Ratu Elizabeth menyebut Raja Aceh sebagai "saudara laki-lakinya" dan menulis, "Kepada saudara ku, Raja Aceh Darussalam. Utusan Ratu Inggris juga dikabarkan membawa sederet "suvenir", berupa satu set perhiasan dari berlian rubi. Pendekatan “soft diplomacy” Inggris memungkinkan penguasa Aceh membuka perdagangan di Kutarajah.

Puncak kehadiran militer Inggris di wilayah tersebut terjadi pada tahun 1685 ketika mereka merebut Bengkulu dan membangun benteng di sana.

British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu. Saat itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagangan lada setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut.

Dalam sebuah dokumen berbahasa Inggris dengan ejaan abad 19, ditemukan bahwa dari arah Bengkulu, Inggris melalui perusahaan dagangnya EIC yang ditopang dengan kekuatan militer kerajaan, sebenarnya mereka ingin meluaskan pengaruh dagangnya ke arah utara, menyusuri pantai Barat Sumatera. Bandar-bandar atau pelabuhan yang masih dikuasai Belanda melalui VOC adalah Indrapura, Padang, Pariaman, Tiku, Pasaman, Batahan, Barus dan Daya. Melihat dari paragraf-paragraf sebelumnya dan dibandingkan dengan tahun terbitnya buku ini, diperkirakan Batahan jatuh ke tangan Inggris sekira tahun 1717. Ini beberapa tahun sebelum Batahan dipimpin oleh Raja Perempuan, Puti Bulan Tasingik (yang menurut catatan almarhum papa Fahmi Husin, beliau jadi Raja Perempuan sekira tahun 1725). Dokumen ini ditemukan di buku dengan judul MODERN HISTORY or PRESENT STATE OF ALL NATIONS, volume 1, ditulis oleh Mr. Salmon. Tahun terbit 1739. Kata Batahan muncul dua kali di halaman 190.



Teks asli, dalam huruf English of 18th century.


When we were driven from Bencoulen, it seems neither Bantall or Mocho-Mocho were ever attacked, though they were much leſs able to have defended themselves; which confirms me in the opinion, that though the natives did reſent ſome ill uſage they had met with, yet the advantageous trade they carried on with the Engliſh, as well as their dread of the Dutch, foon inclined them to be reconciled to us again.

To the northward of the Engliſh ſettlements on the west coaft of Sumatra ſtand the towns of Indrapour, Padang, Priaman, Tecou, Paflaman, Batahan, Barros and Daya. Indrapour is the firſt Dutch ſettlement to the northward of the Engliſh, and lyes two degrees fouth; Padang lyes in one degree thirty minutes, Priaman in fifty minutes, Tecou in thirty minutes fouth latitude, and Pafla- man almoft under the line; ſo that the Dutch fettlements on the west coaft extend from two degrees fouth latitude to the equator, and of theſe Padang is the principal; Batahan is one degree to the northward of the line, Barros in two degrees thirty minutes north, and Daya four degrees fifty minutes north. Here, and in the rest of the country to the northward of the equator, the King of Achen ſtill retains his fovereignty; and I don't find that any European nation are in poffeffion of his ports; but the fouthern parts of the island are ſo awed and restrained of their liberty by the Dutch, that they dare not trade with any other people.


TERJEMAHAN BEBAS by GoogleTranslate:
Saat kami diusir dari Bencoulen, sepertinya Bantall maupun Muko-Muko tidak pernah diserang, meski mereka kurang mampu mempertahankan diri; Hal ini menguatkan pendapat saya, bahwa meskipun penduduk asli tidak menyukai perlakuan buruk yang pernah mereka alami (oleh penjajah sebelumnya), namun keuntungan perdagangan yang mereka lakukan dengan orang Inggris, serta rasa takut mereka terhadap Belanda, membuat mereka cenderung untuk berdamai kembali dengan kami. .

Di sebelah utara pemukiman Inggris di pantai barat Sumatra berdiri kota Indrapura, Padang, Pariaman, Tiku, ​​Pasaman, Batahan, Barus dan Daya. Indrapura adalah pemukiman Belanda pertama di utara Inggris, dan terletak dua derajat keempat; Padang terletak pada satu derajat tiga puluh menit, Pariaman lima puluh menit, Tiku tiga puluh menit lintang empat, dan Pasaman hampir berada di bawah garis; sehingga pemukiman Belanda di pantai barat terbentang dari dua derajat lintang empat sampai garis khatulistiwa, dan Padang adalah yang utama; Batahan berada satu derajat ke arah utara, Barros dua derajat tiga puluh menit ke utara, dan Daya empat derajat lima puluh menit ke utara. Di sini, dan di wilayah lain di utara khatulistiwa, Raja Achen masih mempertahankan kedaulatannya; dan saya tidak menemukan satu pun negara Eropa yang kewalahan dengan pelabuhannya; namun bagian keempat pulau ini terlalu kagum dan dibatasi kebebasannya oleh Belanda, sehingga mereka tidak berani berdagang dengan negara lain.


 



SEBELUM RAJA PEREMPUAN DINOBATKAN, TELAH ADA DUA PEMIMPIN DI BATAHAN

Berdasarkan catatan dari cerita turun temurun dan dihubungkan dengan tahun kelahiran Willem Iskandar (1840)-seorang tokoh Mandailing yang kelak jadi tokoh pendidikan tingkat nasional-, yang dalam garis keturunan di kerajaan Pidoli Lombang merupakan keturunan ketujuh dari Raja Baginda Soaloon (Raja di Pidoli Lombang). Sementara Puti Bulan Tasingik (Tersingit) yang kelak menjadi Raja Perempuan di Batahan adalah putra dari Sutan Kumala bin Baginda Soaloon. Artinya Puti Bulan Tasingik ini adalah cucu dari Raja Pidoli Lombang, Baginda Soaloon.

Rentang kekuasaan Raja Perempuan di Batahan itu diperkirakan antara 1725-1750. Sebelum itu, pemerintahan di Batahan masih belum berbentuk kerajaan. Kepemimpinan di Batahan masih didasarkan pada kepemimpinan tradisional berdasarkan kelompok pendatang yang kemudian menetap di Batahan. Dua kelompok besar yang ada masing-masing adalah rombongan dari Indrapura dan rombongan dari Aceh. Sebenarnya ada kelompok-kelompok kecil yang sudah duluan ada dan datang kemudian, namun karena jumlahnya tidak signifikan maka mereka memilih untuk membaurkan diri dengan rombongan Indrapura atau rombongan Aceh.

Dua nama pemimpin Batahan yang pernah tercatat pada masa sebelum Raja Perempuan itu adalah Orang Kaya Bungsu dan Sutan Muda. Yang disebut pertama terindikasi sebagai puak Indrapura dan yang kedua adalah kelompok Aceh. Dokumen mengenai nama mereka ini dapat dilihat di sebuah buku lama dengan judul ONZE KENNIS VAN SUMATRA'S WESTKUST , OMSTREEKS DE HELFT DER ACHTTIENDE EEUW, halaman 516. Tahun peristiwanya adalah 1693.

     BATAHAN berada di bawah kekuasaan dua penguasa: Orang Kaja Boengsoe dan Soetan Moeda.      Berdasarkan kontrak tahun 1693, hal itu terjadi wilayah ini melekat pada Perseroan. Satu atau dua hari dari pantai terdapat empat tambang emas "kaya", yang dikerjakan oleh masyarakat Rau. dari Batahan adalah Batta.



Sistem pemerintahan resmi yang pernah berkuasa di Batahan yang berkaitan dengan Belanda bermula ketika Batahan menjadi kekuriaan Batahan. Tercatat yang menjadi Kepala Kuria pertama adalah Sotu gelar Majo Dirajo (sekira 1841-1846). Dari era Raja Perempuan hingga terbentuknya kekuriaan ini, Batahan dipimpin oleh beberapa orang Raja, diantaranya yang dikenal adalah Sutan Gagar Alam.

Kepala Kuria yang pernah memimpin Batahan berturut-turut sejak era Sotu gelar Majo Dirajo adalah Abdur Rahman, kemudian M. Basir gelar Sutan Mulia Rajo, selanjutnya Abdul Muluk gelar Sutan Bandaro Rajo, diteruskan oleh M. Tahar gelar Sutan Amir, lalu digantikan oleh M. Yunus Sutan Maharajo Adat (1932) kemudian sempat digantikan oleh pelaksana tugas Onder Voorzitter dari Datuk Kubangan, setelah itu ada Hasan Rancak gelar Sutan Marah Alam Dunia. Semua kepala Kuria ini selain dari Onder Voorzitter juga berpredikat sebagai Tuongku.

Dibawah Kepala Kuria, ini beberapa Datuk-datuk Pengulu Kaum/ Kepala Kampung. Yang pernah tercatat diantaranya adalah Naratab atau Datuk Bukik di Pasar Batahan; Ibrahim atau Datuk Parhimpunan di Kampung Kapas; Buang Sati atau Datuk Ambosa di Bintungan Bejangkar; Abdul Yakin alias Datuk Bonsu di Sitodung; Datuk Malompah di Batu Sondat; Datuk Baru di Banjar Aur; Datuk Manuncang di Singiang dan Datuk Mudo di Kubangan.

Setelah itu ada masa transisi di era kemerdekaan Republik Indonesia. Sistem pemerintahannya disebut sebagai Komite Nasional. Bertindak sebagai ketua adalah Amirudin, dengan delapan orang anggota, masing-masing adalah Zainal Bahri, Marajan, Jabarudin, M. Daud Nasution, Marah Muhammad, Karnan Nazir, Basrah dan Abdul Manaf.

Setelah bentuk pemerintahan berubah menjadi Kedewanan Negeri Batahan, Komite Nasional yang berjumlah sembilan orang termasuk ketuanya, bertransormasi menjadi Dewan Negeri Batahan. Semua anggota Komite Nasional masuk menjadi anggota Dewan Negeri Batahan ini, dengan struktur tambahan seorang sekretaris. Ketua pertama Dewan Negeri Batahan ini adalah Zainal Bahri (1946-1951) dengan sekretaris Karnan Nazir (menjadi sekretaris terlama hingga 1958). Tiga orang ketua Dewan Negeri yang pernah memimpin sampai 1979 itu adalah Zainal Bahri (1946-1951), Marajan (1951-1952) dan Jabarudin (1952-1979).

 

2024/04/04

SEKOLAH MODERN SUDAH ADA DI BATAHAN DI TAHUN 1884


   
      Catatan ini cukup menarik dan memberi kabar gembira bagi masyarakat Batahan dan sekitarnya. Utamanya pada mereka yang concern, berperhatian pada pendidikan dan sejarah Batahan. Bagaimana tidak, ternyata lebih dari setengah abad sebelum Indonesia merdeka, nyatanya sudah berdiri sekolah modern di Batahan. Mungkin saja sudah ada sebelum tahun 1884 juga. 

            Saya berani membuat tulisan ini bukan sekedar klaim belaka, tapi berdasarkan dokumen otentik oleh seorang peraih Phd di University of London, tahun 1984. Dokumen ini berupa thesis untuk S3 (biasa kita sebut sebagai disertasi di sini) untuk meraih gelar Phd, oleh seorang ilmuwan Indonesia yang bernama Ahmat Adam. Judul thesisnya adalah: THE VERNACULAR PRESS AND THE EMERGENCE OF MODERN INDONESIAN CONSCIOUSNESS (1855-1913). 


            Dalam tesis tersebut, beberapa kali kata "Batahan' ditulis. Jelasnya ada di halaman 139 dan 271. Penulis, yakni Ahmat Adam, sedang menceritakan perjalan hidup, karir dan perjuangan seorang tokoh pionir Pers Indonesia, yakni Dja Endar Moeda. Profilnya awal tahun ini juga diungkap oleh beberapa media elektronik nasional seperti pada link berikut: https://sumut.idntimes.com/.../mengenal-dja-endar-moeda...

        Disebutkan bahwa Dja Endar Moeda lahir di Padangsidimpuan tahun 1861. Dia diangkat menjadi asisten guru tahun 1884 di Air Bangis. Kemudian beberapa saat setelah itu Dja Endar Moeda mendapat promosi menjadi kepala guru (kepala sekolah) di Batahan. Di masa ini ia banyak menulis untuk surat kabar di Jawa dan menjadi kontributor beberapa jurnal dan media. Disebutkan dia sebagai kepala guru di Batahan, tentu artinya di Batahan ada sekolah modern yang dipimpin oleh seorang 'cendekiawan' yg kelak menjadi tokoh pionir pers Indonesia.


            Sungguh beruntung masyarakat Batahan ketika itu. Di saat sebagian wilayah nusantara masih dihuni masyarakat berpakaian telanjang dada dan terbelakang secara pendidikan, Batahan sudah memiliki guru dan kepala sekolah dengan kualitas yang luarbiasa!


TANTANGAN UNTUK GENERASI MUDA BATAHAN

        Dari uraian singkat ini, diharapkan semangat generasi muda Batahan semakin terpantik untuk mencari tahu jejak-jejak sejarah pendahulunya. Sangat mungkin, murid-murid yang sempat diajar oleh Dja Endar Moeda itu, memiliki cucu2 dan cicit keturunannya yang masih eksis di Batahan, bisa jadi diantaranya mungkin kita. Hanya catatan-catatan sejarah otentik yang bisa jadi nanti kita temukanlah yang akan mampu menjawab hipotesis ini. Semoga!