"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2013/01/28

Tulisan dan Warna Apa yang Kita Goreskan?

Kita setuju bahwa semua pola pengasuhan dan pendidikan anak tergantung pada orang tua masing-masing. Dan sebuah keniscayaan bahwa pola pengasuhan dan pendidikan itu akan berdampak pada outputnya, yaitu 'kecerdasan'.

Hasil pendidikan yang kita inginkan bukan hanya apa yg terkonversi dalam angka-angka an sich. But, beyond. Hasil yang lebih komprehensif. Hasil yang meliputi kecerdasan di bidang IMTAK (keimanan dan ketakwaan) dan IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi) sekaligus.

Sering kita dengar bahwa anak itu diibaratkan sebagai lembaran kertas putih yang siap ditulis ataupun diwarnai oleh orang tuanya. Ya, perumpamaan ini memang benar adanya. Sudah banyak kisah yang kita saksikan sebagai buktinya. Tulisan dan warna dari orang tua (pendidik) di 'lembaran kertas putih anak' akan menjadi warna kehidupan si anak ketika menginjak usia remaja dan dewasa kelak.

Mana yang kita pilih di antara cara-cara berikut, akan menentukan kualitas anak-anak kita di masa mendatang. Mari simak puisi karya Dorothy Law Nolte yang berjudul Children Learn What They Live (Anak Belajar dari Kehidupan) berikut:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki.
    Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.
    Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri.
    Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri.
    Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menahan diri.
    Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri.
    Jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai.
    Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia belajar keadilan.
    Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menyenangi diri.
    Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta.

Pilihan tulisan dan warna di depan kita ada banyak variannya. Tinggal kita pilih sesuai dengan tujuan kebaikan yang kita inginkan. Dengan tetap memohon petunjuk kepada Allah SWT, mari kita didik anak-anak kita dengan corak pendidikan yang berkarakter mulia. Berkeimanan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Berkemanusiaan kepada sesama. Pun berkasih sayang kepada makhluk Tuhan lainnya (alam sekitar; hewan maupun tumbuhan).

Yang selanjutnya menjadi tugas utama kita sebagai orang tua adalah, memastikan bahwa masing-masing kita memang bisa menulis dan mewarnai yang baik dan mulia tersebut. Kemudian, harus mampu menterjemahkan tulisan dan warna kebaikan itu kedalam perilaku keseharian kita. Ini yang akan menawan si anak untuk mau meniru sang role model.

Dengan kemampuan menulis dan mewarnai yang baik dan mulia yang kita miliki sebagai anugerah dari Allah sang Pemilik Ilmu, maka InsyaAllah kita segera menyambut generasi unggul di negeri ini. Generasi yang cerdas intelejensia, emosional, dan spiritualnya sekaligus.  Aamiin

Yuuk, kita terus belajar.

Semoga berguna.

2013/01/25

LOSTA MASTA: Bikin Hidup Lebih Hidup.

Kalau hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau kerja sekedar kerja
Kera juga bekerja
--Buya Hamka—

Teramat dalam arti sindiran yang dilontarkan almarhum buya Hamka di atas.  Ulama karismatik, cendekiawan, sastrawan Indonesia asal minang tersebut ingin mendorong kita, bangsa Indonesia, menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang hidup bukan sekedar hidup. Yang kerja bukan sekedar bekerja. Kalau hanya hidup dan kerja sekedarnya saja, kita disindir, tak jauh beda dengan babi hutan atau kera.

Tentu, dalam pengertiannya, buya Hamka tidaklah ingin menyamakan manusia dengan binatang. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sempurna. Diciptakan pula dengan sebaik-baik bentuk.

Lalu, hidup dan kerja seperti apa yang semestinya kita jalani? Jawabannya: hidup yang menghidupkan. Losta Masta; bikin hidup lebih hidup. Kerja dengan performa terbaik. Do with all our best!

Pertanyaan kemudian adalah, seperti apa hidup yang menghidupkan itu? Hidup yang tidak hanya memikirkan diri sendiri (ego), tapi juga harus berfikir menghidupkan alam sekitarnya (geo). Hidup seperti inilah yang mendatangkan manfaat bagi lingkungannya (manusia dan alam sekitarnya). Karena hidup yang mendatangkan banyak manfaat inilah yang mengantarkan seorang manusia ke kedudukan yang mulia dan terpuji. Khairukum man tanfa’u linnas; sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang banyak memberi manfaat buat ummat manusia.

Jika demikian, apakah dengan kondisi kita saat ini (dengan posisi dan status sosial yang berbeda-beda) bisa termasuk ke dalam golongan sebaik-baik manusia tersebut? Tentu saja BISA. Caranya? Loyallah pada pekerjaan atau apapun profesi kita (yang halal tentu saja). Jalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Terapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Berintegritaslah. Bekerjalah dengan kecerdesan. Cermat waktu, cermat tenaga. Atau dalam istilah 5-AS; Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Tuntas, dan Kerja Berkualitas.

Camkan dalam semangat terdalam diri bahwa kita bekerja bukan sekedar bekerja. Bukan bekerja hanya untuk diri sendiri. Tapi bekerja yang diniatkan untuk ibadah kepada Allah SWT, yang mendatangkan manfaat untuk banyak orang. Bermanfaat untuk keluarga, bermanfaat untuk masyarakat sekitar, bermanfaat untuk organisasi/perusahaan, bermanfaat untuk Negara, bangsa dan agama.

Setelah kita bisa bekerja dan hidup seperti itu, baru kita bisa tenang dari sindiran buya Hamka di atas.

Sebagai penutup, saya kutipkan kalimat motivasi dari Andrie Wongso berikut ini agar kita senantiasa memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Semoga bermanfaat.

2013/01/21

Antara AM PM, Siang dan Malam

Dulu, waktu belum kuliah di sastra Inggris, saya masih sering lupa juga cara membedakan waktu siang dan malam dalam ungkapan bahasa Inggris. Antara AM dan PM. Terutama menentukan AM PM tepat pada pukul 12. Jam 12 siang itu bahasa Inggrisnya 12 AM atau 12 PM? Ragu atau bingung? Yuk, kita bahas di bawah.

AM dan PM adalah istilah yang digunakan untuk membedakan waktu siang dan malam. Membagi waktu yang 24 jam ke dalam 2 periode. Siang dan malam. Namun, dilihat dari matahari ya tidak persis seperti itu juga.

Secara bahasa, AM PM ini adalah serapan dari bahasa Latin. AM merupakan singkatan dari Ante Meridiem yang berarti before noon= Sebelum tengah hari. PM singkatan dari Post Meridiem yang berarti after noon= setelah tengah hari.

Dengan memahami arti istilahnya maka bisa kita tentukan bahwa AM itu digunakan untuk menunjukkan waktu dari pukul 12:00:00 tengah malam hingga pukul 11:59:59 tengah hari. Karena AM berate sebelum tengah hari. Dan PM digunakan untuk menunjukkan waktu antara pukul 12:00:00 siang hingga 11:59:59 malam. Sehingga sekarang kita tahu bahwa jam 12 siang itu adalah 12 pm, dan untuk malamnya 12 am.

Sekarang timbul pertanyaan. Kenapa jam 12 siang itu 12 pm. Bukankah seharusnya setelah 11 am itu adalah 12 am. Kembali, jawabannya ada pada singkatan AM PM tersebut, seperti penjelasan di paragraph sebelum ini:

AM = Ante Meridiem (before noon = sebelum tengah hari)

PM = Post Meridiem (after noon = setelah tengah hari).

Demikian penjelasan singkat mengenai AM dan PM ini. Semoga bermanfaat dan tidak bingung lagi J

Terimakasih telah menyimak.

*Picture by Google

2013/01/11

Belajar Ikhlas dari Akar Pohon


Tat kala melihat sebuah pohon yang tumbuh subur, sering kita berkata, ‘Wah hebat ni pohon. Batangnya besar, daunnya rindang, dahannya kuat, bunganya bagus, atau buahnya yang lebat, buahnya yang manis, dan lain sebagainya. Semua yang tampak pada pohon itu kita sanjung.

Kita langka sekali memberikan sanjungan atau pun sekedar berkomentar kepada akarnya. Sadarkah kita bahwa akar adalah salah satu struktur tanaman yang sangat vital kegunaannya. Akar sebagai tempat masuknya mineral (zat-zat hara) dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan. Akar merupakan kelanjutan sumbu tumbuhan. Bahkan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Dengannya pohon menjadi tersangga kuat. Dengannya suplai makanan ‘organisasi’ pohon itu terpenuhi. Dengannya kebutuhan pohon akan kelangsungan hidupnya terjaga.

Tapi, akar tetaplah akar. Sedemikian penting pun peranannya, dia tidak pernah demonstrative. Semua hal dikerjakannya dengan kesungguhan. Dia tidak memerlukan sanjungan. Disanjung ataupun tidak, dia tetap bekerja, beramal salih. Dicuekin pemiliknya pun, akar tetap bekerja dengan penuh pengabdian.

Sifat akar seperti inilah yang perlu kita pelajari dalam hal keikhlasan. Pertanyaannya kemudian, sanggupkah kita meniru ikhlasnya akar. Keikhlasan yang tanpa tapi. Tangan kanan memberi, tangan kiri pun tak tahu. Insya Allah, kita terus berusaha.

Salam,