"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"


2010/08/24

Maka, Menulislah!

Mari belajar dari kebangkitan bangsa Barat setelah masa kegelapan, yang dikenal luas dengan istilah renaissance dalam bahasa Perancis atau rinascimento dalam bahasa Italia; arti harafiah: kelahiran kembali). Inilah sebuah kelahiran kembali atas semangat keilmuan Yunani Kuno atau Romawi Kuno.

Kita melihat semangat tulis bacanya begitu gegap gempita di masa itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama mulai terlihat kebangkitan keilmuan bangsa-bangsa Eropa yang pada awalnya masih diselimuti oleh awan kegelapan (the darkness era). Setelah kehidupan tidak lagi dikontrol oleh kerajaan-kerajaan lalim, dan setelah masyarakat tidak lagi dikuasai dalam banyak hal oleh gereja di saat itulah kebangkitan manusia Eropa dalam hal keilmuan dan penemuan-penemuan baru (new invention) bermula. Dan akhirnya universitas-universitas modern pun mulai tumbuh subur di seantero Eropa.

Hingga hari ini kita mendengar cerita tentang kebangkitan ilmu pengetahuan itu. Hari ini kita mengenal banyak ilmuwan dari masa itu. Adalah karena ada yang menceritakannya. Ada yang merekam jejaknya. Ada yang menuliskannya. Sehingga kejadian-kejadian keilmuan pada masa itu bisa ditelusur dan dipelajari hingga saat ini. Di sinilah letak hebatnya tulisan. Melalui tulisan, peristiwa yang awalnya terikat pada ruang dan waktu jadi bisa melintasi zaman. Menembus ruang dan waktu.

Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas renaissance itu lebih jauh. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan singkat ini adalah tentang besarnya pengaruh budaya tulis baca terhadap kemajuan peradaban suatu bangsa. Betapa tidak, semenjak maraknya budaya menulis, apakah tentang kesusasteraan, ilmu pengetahuan alam, filsafat, matematika, ekonomi dan ilmu lainnya, terlihat jelas semenjak itu pulalah kemajuan peradaban Eropa modern mulai tumbuh.

Para sejarawan telah menyebutkan bahwa semangat menggali pengetahuan dengan peningkatan budaya tulis baca itu adalah salah satu hutang budi bangsa Eropa terhadap peradaban Islam. Titik singgung utama antara Eropa pasca abad pertengahan adalah kerajaan Spanyol Islam. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains disamping bangunan fisik. Yang terpenting diantaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini. Namun penolakan gereja ini sudah tidak dihiraukan lagi bagi pegiat ilmu pengetahuan dan masyarakat pada umumnya.

Setelah peradaban Eropa maju. Hal yang sebaliknya justru berlaku di sebagian kalangan Islam. Ilmu pengetahuan mulai tidak terlalu jadi prioritas pembangunan bangsa. Gairah tulis baca mulai menghilang. Dan lambat laun kemajuan yang diharapkan menjadi impian yang tampaknya akan masih lama diraih.

Kembali pada judul tulisan ini: Membaca dan Menulislah.

Persoalannya adalah tidak semua orang bisa menulis meskipun dia bisa membaca. Padahal seharusnya budaya tulis baca itu adalah dua sisi yang sejalan. Tingginya minat baca suatu komunitas karena tersedianya media baca yang cukup. Sementara media baca (buku, koran, tabloid, jurnal, dll) dihasilkan oleh para penulis. Dengan demikian penulis dan penikmat tulisan bersimbiosis mutualisme. Keberadaan keduanya adalah hal yang niscaya untuk tumbuhnya budaya tulis baca yang tinggi.

Budaya tulis baca yang tumbuh subur akan memicu semangat pembaruan, semangat pencarian kebenaran, dan bisa menjadi trigger bagi ilmuwan untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru. Banyaknya penemuan baru, baik di bidang pengetahuan sosial dan science (teknologi), adalah salah satu indikasi kemajuan bangsa, disamping indikasi ekonomi dan stabilitas keamanan, dlsb.

Betul, menulis itu lebih sulit dari sekedar membaca. Namun ia bukanlah hal yang tidak dapat kita lakukan. Inspirasi sederhana dalam membuat tulisan adalah apapun yang terlintas dalam pikiran kita bisa dituangkan ke dalam tulisan. Ya, sesederhana itu. Masalahnya adalah kita mau melakukan atau tidak. Bukan masalah bisa atau tidak. Karena begitu kayanya perbendaharaan kata dalam pikiran yang terlintas di otak kita. Para pegiat kajian NLP (Neuro Linguistic Program) menyatakan bahwa dalam satu hari tidak kurang dari 65ribu lintasan pikiran yang diolah oleh otak manusia. Dan setiap lintasan pikiran itu membawa banyak kata-kata. Jadi , bisa dibayangkan betapa banyaknya potensi tulisan yang kita bisa hasilkan dalam setiap harinya. Itu jika kita mau melakukannya.

Karena pada prinsipnya manusia itu sudah memiliki kemampuan dasar menalar dan berujar. Pertemuan kemampuan potensi nalar dan ujar pada diri manusia itu membuat ditinggikan derajatnya daripada makhluk lain. Nalar dan ujar yang dikomunikasikan itulah adalah bahasa. Salah satu media bahasa adalah ujaran dan tulisan.

Di atas sengaja saya sampaikan salah satu contoh hebatnya pengaruh budaya menulis-baca bagi perkembangan kemajuan suatu bangsa. Dengan menceritakan sedikit tentang kebangkitan bangsa Eropa tersebut, saya berharap bisa menggugah kemauan menulis kita yang mungkin sedang tertidur. Sehingga kemauan menulis kita bisa bersemangat lagi.

Dengan semangat itu, Ayo, kita mulai menulis. Kalahkan ketidakmauan untuk menulis saat ini juga. Karena begitu kita memulai, kita akan bisa merasakan liarnya pikiran itu. Setelah pena diigoreskan di kertas, atau tombol keyboard sudah ditekan untuk pertama kalinya sambil menyelaraskan apa yang ada dalam pikiran dan dituangkan dalam tulisan tersebut kita akan sulit berhenti. Rasakan candunya. Percayalah ia akan membuat kita ketagihan. Jauh dari itu, menulislah karena ia membuatmu abadi...

Mulai menulis dari sekarang, lalu lihat dan perhatikan apa yang akan terjadi.

Bandung, 24 Agustus 2010
               14 Ramadhan 1431 H.