Catatan FerSus - Belajar dari Pengalaman

2015/03/05

Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia

Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak. Tentang sebuah perampokan dan penipuan yang dilakukan oleh IMF, PBB, dan negara-negara kapitalis. Tentang sebuah kebodohan besar yang dilakukan para pejabat Indonesia . Poor Timor Timur, poor Indonesia … Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.

Oleh: Kafil Yamin


Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1991. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia . Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu. Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank

Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim. Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di  banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia . Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia . Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia . Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia . Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia , hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia . Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia , demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat  duduk saya; duduk  dekat saya dan mengeluarkan rokok . Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya. “Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat. Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu. “Panggil saja saya Laffae,” katanya. “Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran. “ Timor . Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya. Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya. Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran. “Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang. Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas. Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

(2) Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok . Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius. Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota . Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia , yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi . Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan. Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi. Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia . Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya: “Kafil, we can’t run the story,” katanya. “What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi. “We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya. “That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi. “Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?” “Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,” “I think  we still can run the story but we should change it.” “ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan. Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

(3) Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanya kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia : “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Bunda Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.  Indah. Sangat indah. Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia . Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali ke penginapan, saya bertemu lagi dengan Laffae. Kali ini dia mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap rokok dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi sambil menikmati kopi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi.  Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan .

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen. Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, segar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal. “Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia . Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. Saya bilang ke Prabandari:  “Saya bertahan. Tinggalkan saja saya.” Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya. Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung. “Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan. “Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan. “Saya perlu lima ribu,” kata Laffae. “Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya. “Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana . Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi. Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur. Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

(4) Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan. Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua.

Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya. Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..” Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana . Itu pernah diucapkannya kepada saya. Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana. ***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 November, 1999, saya mendarat di Jakarta . (5) Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili. Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia . Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia .” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia . Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta , kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung . Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung . Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

(6-akhir) 12 tahun beralu sudah. Apa kabar bailout IMF yang 43 milyar dolar itu? Sampai detik ini, uang itu entah di mana. Ada beberapa percik dicairkan tahun 1999-2000, tak sampai seperempatnya. Dan tidak menolong apa-apa. Yang terbukti bukan mencairkan dana yang dijanjikan, tapi meminta pemerintah Indonesia supaya mencabut subsidi BBM, subsidi pangan, subsidi listrik, yang membuat rakyat Indonesia tambah miskin dan sengsara. Anehnya, semua sarannya itu diturut oleh pemerintah rendah diri bin inlander ini.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat. Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. Kenapa mau melepas Timtim dengan imbalan utang? Bukankan semestinya kompensasi? Adakah di dunia ini orang yang hartanya di beli dengan utang? Nih saya bayar barangmu. Barangmu saya ambil, tapi kau harus tetap mengembalikan uang itu. Bukankah ini sama persis dengan memberi gratis? Dan dalam kasus ini, yang dikasih adalah negara? Ya , Indonesia memberi negara kepada IMF secara cuma-cuma.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang. Sampai hari ini Indonesia masih menyicil utang kepada IMF, untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan. Saya harap generasi muda Indonesia tidak sebodoh para pemimpin sekarang. (27 Januari 2011).

2015/02/13

Monkey Business!

Di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dgn harga 50rb/ekor. Padahal monyet disana sama sekali tidak ada harganya karena jumlahnya yg byk & kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan. Para penduduk desa yg menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan menangkapinya satu persatu. Kemudian si org kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga 50rb.

Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya utk menangkapi monyet-monyet tsb. Maka si org kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga 100rb/ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat & "angin segar" bagi penduduk desa untuk krmudian mulai utk menangkapi monyet lagi.

Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari & semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani. Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga 150rb/ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari. Sekali lg si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahws ia akan membeli monyet dgn hrg 500rb/ekor!

Kemudian, karena si orang kaya harus pergi ke kota untuk urusan bisnis, maka asisten pribadinya menggantikan sementara atas namanya. Dengan tiada kehadiran si org kaya, si asisten pun berkata pd penduduk desa: "Lihatlah monyet yg ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga 350rb/ekor dan saat si org kaya kmbali, kalian bs menjualnya kembali ke si orang kaya dgn hrg 500rb gmn?" Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereks & membeli semua monyet yg ada di kurungan.

Namun...Kemudian... Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu! Inilah yang dikatakan orang "Monkey Bussiness"! Jangan terjebak oleh "Monkey Business", seperti 'pohon Anthorium', 'gelombang cinta', ikan Lohan dan skrg 'BATU AKIK'!
*by anonymous broadcaster

2015/02/03

Tahukah Anda? Netizen Indonesia adalah Netizen TERAKTIF di dunia.

Data yang saya tampilkan berikut ini merupakan hasil yang paling update dari lembaga riset Millward Brown. Mereka menampilkan hasil risetnya terhadap perilaku masyarakat di 30 negara terhadap multi-screens (TV, Laptop, Tablet dan Smartphone). Penelitian ini tidak hanya terkait pada perilaku masyarakat terhadap internet (diwakili oleh layar smartphone), namun juga pada 'layar' secara keseluruhan, mulai dari TV, tablet hingga laptop.

Hasil penelitiannya, Indonesia menempati posisi teratas dalam porsi durasi berada di depan layar. Total 9 jam dalam sehari, masyarakat Indonesia berada di depan layar. Jika sebelumnya layar utama yang lama ditongkrongi masyarakat Indonesia adalah televisi, maka kini sudah berubah. Smartphone mengambil alih posisi itu. Berturut-turut diikuti oleh layar laptop dan tablet. Posisi Indonesia jauh berada di atas Italia yang hanya berada 5 jam di depan layar dalam sehari.

Kondisi ini tentu merupakan peluang besar dalam dunia marketing dan kampanye produk dari perusahaan yang ingin ikut ambil bagian dalam pasar Indonesia. Tingkat ketersebaran informasi melalui 4 layar ini diakui sangat berdampak massive di Indonesia. Kelihaian team marketing (via sosial media) masing-masing perusahaan dalam menangkap peluang ini tentu akan sangat menentukan hasil penetrasi market yang ditargetkan.

Peluang besar ini tentu tidak hanya diperuntukkan oleh perusahaan-perusahaan besar, namun juga kita sebagai netizen (individu) dapat ambil bagian dan bisa memulai usaha start-up yang kita inginkan.

Selamat berselancar di dunia 'layar'.
@feri_s

2015/02/02

SOSIAL MEDIA YANG BERI KAMU UANG.

ADA LHO SOSIAL MEDIA YANG BERI KAMU UANG.
MAU?


Sobats, udah pada tau sosial media baru yang lagi booming itu kan? Ya, namanya Tsu. Kelahirannya diprediksi akan menjadi saingan berat facebook, twitter, dan sosmed lain yang sudah dulu muncul. Kok bisa? Karena sosmed baru ini menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dan menarik. Tawaran yang tidak mungkin sanggup kamu untuk menolaknya. Yakin? Ya. Karena tawarannya adalah UANG. Benar sekali. Perusahaan ini akan memberi kamu uang yang REAL. Hanya dengan jadi membernya, kamu akan dapat uang!

Caranya? Mudah. Kamu cukup mendaftar menjadi membernya. Selanjutnya, silakan banyakin status kamu disana. Banyakin juga friends kamu di sana. Banyakin juga komentar kamu disana. Then, tinggal tunggu waktunya Tsu akan membagikan uangnya ke kamu.
Pasti kamu penasaran dari mana asal uang itu kan?

Jawabannya begini: Mereka (Tsu) akan membagikan keuntungan yang didapatnya dari sponsor (iklan) kepada members-nya. Hanya itu saja.

Uniknya, kamu tidak akan bisa mendaftar langsung ke situsnya. Tapi kamu harus mendaftar melalui teman kamu yang sudah duluan jadi member di sana.
Menarik sekali kan?

Yuk, segera menuju link berikut, dan daftarkan dirimu disana.
http://www.tsu.co/ferisusanto 

2014/10/28

Ambition

Ambisi penting dimiliki karena ia dapat menggerakkkan seseorang untuk mencapai tujuan. Tanpa ambisi, seseorang seolah-olah tidak melakukan apa pun.

Napoleon Hills, penulis buku 'Think and Grow Rich', mengatakan bahwa kurang ambisi adalah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan. Jalan mencapai tujuan tersendat-sendat karena Anda jadinya tidak memiliki motivasi. Karena terlalu lamban, Anda pun menemui kegagalan.

Mau memiliki ambisi yang tepat dan mudah untuk dijalankan agar tujuan cepat tercapai?

Konsultasikan ke ahlinya.

2014/08/23

POWER STEERING KEHIDUPAN

Pernahkan Anda mengendarai mobil tanpa power steering? Bagaimana rasanya? Repot. Susah. Bikin cape? Ya, bisa jadi semua kondisi yang tidak nyaman itu Anda rasakan. Setelah banting setir ke kiri atau ke kanan, secara manual disertai dengan tenaga yang tidak sedikit, gagang setirnya harus diputar ke arah yang berlawanan untuk kembali mencapai kondisi lurus.

Jika sudah diarahkan ke kiri, maka akan terus ke kiri. Jika sudah berbelok kanan, maka akan terus ke kanan, sampai Anda mengembalikannya secara manual. Jika tidak dikembalikan ke posisi lurus, maka akan terus berbelok. Tidak akan ada yang bantu Anda untuk meluruskan jalan Anda jika Anda sudah berbelok. Kuasa sepenuhnya ada pada pilihan Anda.

Beda halnya dengan kendaraan berteknologi power steering. Meskipun Anda sudah berbelok, mengambil pilihan ke kiri atau ke kanan, maka dengan ‘power’nya arah kendaraan Anda akan dikembalikan ke arah lurus. Anda hanya perlu melepaskan tangan dari gagang setir, dan arah kendaraan akan kembali lurus.


Fungsi power steering adalah meringankan putaran kemudi sehingga lebih mudah dan nyaman saat di kemudikan.  Konsepsi dasar lainnya adalah membantu untuk meluruskan kembali arah kendaraan Anda. Selalu. 

Begitulah dalam hidup. Sesungguhnya, di luar diri kita ada ‘power steering’NYA yang akan membimbing kita ke arah jalan yang lurus. Ke kehidupan yang benar dengan kemudi yang ringan. Maka, dengarkanlah, ikutilah arah ‘Power Steering’ itu. Yang perlu Anda lakukan hanyalah melepaskan pegangan pada kendali ke-ego-an Anda, melepaskan diri dari rasa ‘kebisaan’ Anda, dan menyerahkan sepenuhnya kepada ‘Power Steering’ Allah. Dalam keadaaan belok kiri atau kanan yang ekstrim sekalipun, arah Anda akan tetap bisa kembali ke jalan yang lurus, asalkan kendaraan kehidupan Anda menggunakan ‘Power Steering’.

Agar kendaraan kehidupan kita tetap bisa lurus secara fitrahnya, maka kendaraan kita harus lah memiliki teknologi ‘Power Steering’ ini. Yang namanya manusia, tidak jarang melakukan hal yang salah dan khilaf. Dengan menyerahkan diri kepada Allah yang Maha Bijaksana, pasrah pada pilihan jalan-NYA, maka arah kendaraan kehidupan kita akan senantiasa dikembalikan ke posisi lurus. Itulah dahsyatnya ‘Power Steering’.

Masih mau pilih kendaraan kehidupan yang manual? Sila saja, kalau kita benar-benar bisa istiqomah dalam kebaikan dan senantiasa sanggup menghindari perbuatan maksiat. Karena kita bukanlah manusia seperti itu, maka saya merekomendasikan kita semua untuk memilih penggunaan kendaraan berteknologi ‘Power Steering’ ini. Agar dikembalikan terus ke jalan yang LURUS.

Caranya? Serahkan diri dan urusan Kita hanya dalam pengaturan Allah SWT. Bukankah ini pengertian Islam itu? Menyerahkan diri dalam naungan hukum Allah.

#FerSus

2014/08/14

2014/08/04

Djambak, Perjalanan Dari Gasan ke Batahan.

Berdasarkan analisa sejarah dan cerita lisan turun-temurun yang saya kumpulkan, disebutkan bahwa ada beberapa rombongan keluarga di antaranya bersuku Djambak yang berpindah dari Gasan, daerah Tiku bagian Selatan, ke hulu Batahan sebagai dampak dari berkobarnya perang Paderi di ranah Minang. Daerah Tiku, Air Bangis (asumsinya termasuk juga Natal dan Batahan), dan Mandailing ketika itu sudah di bawah kendali dan pengaruh kaum Paderi. Sehingga mereka (penduduk setempat yang ingin dekat dengan budaya Islam) yang berada di wilayah ini merasa lebih tenang dan aman karena jauh dari sentral konflik perang antara kaum Paderi versus kaum Adat di Pagaruyung dsk.

Perang Paderi sendiri (1803-1833), dalam literature sejarah yang kita temukan termasuk perang dengan masa yang sangat lama. Awalnya, perang ini merupakan perang saudara yang melibatkan masyarakat Minangkabau dan Mandailing. Ini terjadi akibat pertentangan antara kaum ulama (sebutan Paderi) pimpinan Harimau nan Salapan dengan kaum adat pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah.
Selanjutnya pihak penjajah Belanda ikut campur membantu menyerang kaum Paderi karena permintaan pihak kerajaan Pagaruyung sendiri sejak tahun 1821. Namun akhirnya, setelah melalui perundingan-perundingan dan akibat campur tangan Belanda ternyata persoalan menjadi semakin rumit, maka kaum adat memutuskan berbalik melawan penjajah Belanda pada tahun 1833. Di akhir peperangan, sejarah mencatat bahwa Belanda yang keluar menjadi pemenangnya. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung, juga berdampak pada merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya & memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik. http://www.sejarahnusantara.com/kerajaan-islam/perang-padri-1803-1838-dan-keterlibatan-belanda-10016.htm

Selain dari fakta perang Paderi tersebut, rombongan keluarga dari Gasan ini tertarik ke Batahan karena mengetahui bahwa negeri tersebut dipimpin oleh seorang raja Perempuan, Puti Bulan Tersingit. Ini tentu menyenangkan hati kaum minang yang memang sangat menghormati kedudukan seorang perempuan. Selain juga karena suami dari Puti Bulan Tersingit ini adalah Sutan Iskandar yang merupakan putera Minang, kelahiran Rao, di Padang Nonang.

Belum dapat dipastikan tahun persisnya kapan kedatangan rombongan dari Gasan ini ke Batahan. Namun rentangnya adalah pada masa Tuanku Rao masih memimpin kaum Paderi di wilayah Air Bangis dan Mandailing (1816-1833). Tuanku Rao sendiri gugur sebagai syuhada pembela Islam dan tanah air di tahun 1833 dalam sebuah pertempuran sengit melawan penjajah Belanda di Air Bangis. (Hamka, Tuanku Rao : Antara Khayal dan Fakta, Bulan Bintang, 1974).

Rombongan dari Gasan tersebut diyakini menggunakan transportasi laut (perahu) menuju Batahan. Keterangan ini lebih meyakinkan dibandingkan dengan keterangan yang menyebutnya melalui jalur darat, yang mungkin memakan waktu berbulan-bulan lamanya karena jalan yang masih banyak terhalang hutan. Dengan menggunakan perahu, rombongan ini bisa menyusuri bibir pantai Barat pulau Sumatera ke arah Utara untuk menuju hulu Batahan.

Dalam keterangan turun-temurun, seorang ibu dengan suku Djambak yang masih dapat diingat nama atau panggilannya adalah Rukayah. Beliau adalah saudara dari Datuak Bonsu alias Abdul Yasin yang merupakan kepala suku Djambak yang juga ikut rombongan tersebut. Anak dari ibu Rukayah bernama Supiak (belum diketahui nama aslinya). Kemudian Supiak ini memiliki tiga orang anak. Ketiganya masing-masing dikenal dengan panggilan Upiak Cambuang, Upiak Capah, dan Fulanah.

Dari Upiak Cambuang lahirlah dua orang anak perempuan yang masing-masing bernama Kasiyah dan Ajarmiah. Kasiyah kemudian memiliki dua orang anak perempuan juga yang bernama Djasmaniah dan Djasmariah. Sementara Ajarmiah hanya memiliki seorang anak perempuan, yang bernama Nur Arfah.
Dari ibu bernama Djasmaniah ini kemudian lahirlah empat orang anak. Mereka berturut-turut dari yang tertua adalah Fahmi Husin (papa kami), M. Husni Thamrin, Ratna Wilis dan Jaya Murni. Dengan demikian, papa kami masih berhak menggunakan suku Djambak di belakang namanya karena beliau wariskan dari garis keturunan ibu. Sementara kami sendiri tidak mendapatkan suku Djambak.

Dari ibu Djasmariah, lahirlah empat orang anak juga. Mereka berturut-turut dari yang tertua adalah Kasminar, Masmuddin, Masdinar (ibunda bang Iwan Wirabuana), dan Darliana (Ibunda Fazwar, bang Arifin Farouk, dll). Ini adalah penjelasan dari pertanyaan bang Iwan dan Fazwar di thread fb sebelumnya. Bahwa mereka memang syah bersuku Djambak.

Sementara Ajarmiah yang memiliki seorang anak perempuan tadi, yang bernama Nur Arfah, memiliki keturunan selanjutnya yang bernama Ardanis (ibunda Rahmadi Anwar), Asniar, Edi Suwardi, Sukmawati, Masdariah, Syafrial, dan Yurdan (kini menjadi guru SMA N Batahan).

Selanjutnya dari pihak Upiak Capah, yang merupakan saudari dari Upiak Cambuang tadi, memiliki tiga orang anak. Masing-masing bernama Siti Maserah, Maksum dan Nursyam.

Dari Siti Maserah melahirkan tiga orang anak, masing-masing adalah Siti Adna (uci sdr Gunawan), Fadlan (ongku Tandeo, ongku dari Surya Dermawan), dan Afzal.

Lainnya, insyaAllah disambung lagi di waktu yang akan datang.
-
Semoga bermanfaat

Raja Perempuan, Batahan and Me

Inilah alasan kenapa saya (dan juga sebagian besar warga Batahan) tidak dapat menggunakan marga ataupun suku di belakang namanya.

Catatan ini saya dapatkan dari catatan lama papa, Fahmi Husin, yang memang sejak muda dulu mulai mengumpulkan data-data ini.

Berikut ini penjelasannya:
Tersebutlah ada seorang raja yang bernama Baginda Soaloon (Raja Pidoli Lombang) (lahir sekitar 1679-1700). Beliau memiliki tiga anak: Sutan Kumala, Namora Anda dan ST. Mandailing.
Sutan Kumala (yang merupakan anak pertama dari Baginda Soaloon) memiliki dua anak, yakni Mangaraja Tinanting Bulan dan Puti Bulan Tersingit (beliau ini yang kemudian menjadi raja perempuan di Hulu negeri Batahan).

Dari keturunan Mangaraja Tinanting Bulan lahirlah Sutan Kumala Porang yang memiliki dua anak (Mangaraja Umum dan Mangaraja Tinanting). Mangaraja Tinanting memiliki enam orang anak, salah satu diantaranya adalah Ali Sati gelar Sutan Iskandar, yang lebih dikenal dengan nama Willem Iskandar yang lahir di Pidoli Lombang, Maret 1840. Willem Iskandar ini kemudian dikenal sebagai tokoh pendidikan modern di Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia. (http://akhirmh.blogspot.com/2011/04/willem-iskander-dan-lahirnya-tokoh.html)

Melihat garis keturunan di atas artinya Willem Iskandar itu adalah ‘level’ cicit dari Puti Bulan Tersingit (Raja Perempuan Negeri Batahan). Jika dengan asumsi satu generasi dipisahkan oleh rentang usia 30 tahun, maka Raja Perempuan itu berusia 90 tahun lebih tua dari Willem Iskandar. Jadi kira-kira tahun 1750 adalah masa kelahiran Raja Perempuan tersebut.

Puti Bulan Tersingit menikah dengan ST. Iskandar. Mereka memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu wanita. Masing-masing bernama Sutan Cagar Alam, Sutan Bainun gelar Sutan Lembang Alam, dan Siti Bulan (meninggal sebelum dewasa).

Dari anak pertama Puti Bulan Tersingit, yaitu Sutan Cagar Alam, lahirlah sembilan orang anak (laki-laki dan perempuan). Berturut-turut namanya adalah, Sutan Seri Alam, Mhd. Natal, Marah Hayat, Marah Akhmad, Harun Arrasyid, Sautan, Siti Nurhana, Siti Nurhani (yang diceritakan murtad dari agama Islam), dan Siti Nurlan.

Dari anak kedua Puti Bulan Tersingit, yaitu Sutan Bainun gelar Sutan Lembang Alam, lahirlah 2 orang anak laki-laki yang bernama Sutan Muhammad Ayoeb gelar Sutan Mangkubumi dan Sutan Muhammad Basyir gelar Sutan Mulia Raja.

Sutan Muhammad Ayoeb gelar Sutan Mangkubumi menikah dengan Sari Beganti (yang dikenal dengan panggilan nenek kusuik). Mereka memiliki dua orang anak yang bernama Fatimah Nuri dan Abdul Mutholib.
Fatimah Nuri memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Hasan Rancak gelar Sutan Marah Alam Dunia. Puterinya bernama Fatimah Yamas. Dari Fatimah Yamas lahirlah tujuh orang anak. Berturut-turut namanya adalah Sutan Nadirsyah, Sutan Wirsyah, Cicik, Siti Bulan, Nur Siti, Sutan Sayful Alamsyah dan Sutan Asmudin.

Dari keturunan Abdul Mutholib, yaitu saudara laki-laki Fatimah Nuri tersebutlah ada tiga orang anak. Nama-namanya adalah Siti Saleha, Binu Asyiah dan Siti Nurbaya.

Siti Saleha memiliki seorang anak, Afdansyah. Afdansyah memiliki seorang puteri bernama Siti Rohati.
Binu Asyiah memiliki dua orang anak, masing-masing bernama Zainal Abidin (kakek kami) dan Nurpani (ibu dari ayahketek Safni).

Siti Nurbaya memiliki empat orang anak perempuan. Masing-masing bernama Siti Nurmilan, Siti Nurlian, Siti Nurlan dan Nazarni.

Dari Zainal Abidin lahirlah lima orang putera-puteri yang masing-masing bernama Dahri, Zairuddin, Ainuddin, Ali Asnur dan Ikhwan.

Saya sendiri, Feri Susanto, adalah anak ke empat dari ‘umak’ Dahri binti Zainal Abidin bin Binu Asyiah binti Abdul Mutholib bin Sutan Muhammad Ayoeb gelar Sutan Mangkubumi bin Sutan Bainun gelar Sutan Lembang Alam bin Puti Bulan Tersingit (Raja Perempuan) binti Sutan Kumala bin Baginda Soaloon (Raja Pidoli Lembang).

Dalam hitungan generasi, saya dan saudara seangkatan adalah keturunan kedelapan dari Raja Perempuan negeri Hulu Batahan (Puti Bulan Tersingit) dan keturunan kesepuluh dari Raja Pidoli Lembang (Baginda Soaloon).

Namun karena papa kami, Fahmi Husin, adalah memiliki seorang ayah dan ibu dari ranah minang (Bagindo Husin, Lubuk Alung, Pariaman dan Djasmaniah dari Gasan, Tiku bagian Selatan) maka jika ditarik kesukuannya maka jelas kami tanpa suku. Tidak berhak menggunakan suku minang karena budaya Minang menganut matrilineal. Sementara dilihat dari garis keturunan ibu memang kami adalah dari Pidoli Lombang, tapi karena ayah kami adalah minang (dari bapaknya) maka kamipun tidak dapat menggunakan marga dari Pidoli Lombang.

*Lain kesempatan saya akan sampaikan garis keturunan dari pihak papa.
Semoga bermanfaat...

BEBERAPA AYAT TENTANG SYUKUR



Dan jika Kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya Kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Annahl [16];18).

Di ayat lain:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebutnya-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS.Aldhuha [93];11).

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"(.QS.IBrahim 14 :7)

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)

Relevan dengan pembahasan 'syukur' adalah 'ni'mat'. Maka sungguh tidak terhitung ni'mat yang kita telah terima dari Allah SWT. Jika kita merasa bahwa ni'mat itu hanya sedikit dan bahkan merasa kekurangan terus, itu tandanya bibit-bibit kufur ni'mat sudah menjangkiti hati. Na'udzubillah. FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN" Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan".

Berulang kali Allah memberi peringatan kepada kita, seperti yang tertera dalam surat Ar-rahman di atas. Bahkan tidak hanya sekali dua kali, tapi sampai 30 kali Allah SWT mempertanyakan sikap syukur kita dalam surat yang sama itu: Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan"?

Semoga Allah SWT menguatkan hati-hati kita untuk senantiasa menjadi pribadi-pribadi yang pandai bersyukur. Aamiin.