"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

Showing posts sorted by relevance for query label:Motivation OR label:Inspiration OR label:Management OR label:Leadership. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query label:Motivation OR label:Inspiration OR label:Management OR label:Leadership. Sort by date Show all posts

2014/08/23

POWER STEERING KEHIDUPAN

Pernahkan Anda mengendarai mobil tanpa power steering? Bagaimana rasanya? Repot. Susah. Bikin cape? Ya, bisa jadi semua kondisi yang tidak nyaman itu Anda rasakan. Setelah banting setir ke kiri atau ke kanan, secara manual disertai dengan tenaga yang tidak sedikit, gagang setirnya harus diputar ke arah yang berlawanan untuk kembali mencapai kondisi lurus.

Jika sudah diarahkan ke kiri, maka akan terus ke kiri. Jika sudah berbelok kanan, maka akan terus ke kanan, sampai Anda mengembalikannya secara manual. Jika tidak dikembalikan ke posisi lurus, maka akan terus berbelok. Tidak akan ada yang bantu Anda untuk meluruskan jalan Anda jika Anda sudah berbelok. Kuasa sepenuhnya ada pada pilihan Anda.

Beda halnya dengan kendaraan berteknologi power steering. Meskipun Anda sudah berbelok, mengambil pilihan ke kiri atau ke kanan, maka dengan ‘power’nya arah kendaraan Anda akan dikembalikan ke arah lurus. Anda hanya perlu melepaskan tangan dari gagang setir, dan arah kendaraan akan kembali lurus.


Fungsi power steering adalah meringankan putaran kemudi sehingga lebih mudah dan nyaman saat di kemudikan.  Konsepsi dasar lainnya adalah membantu untuk meluruskan kembali arah kendaraan Anda. Selalu. 

Begitulah dalam hidup. Sesungguhnya, di luar diri kita ada ‘power steering’NYA yang akan membimbing kita ke arah jalan yang lurus. Ke kehidupan yang benar dengan kemudi yang ringan. Maka, dengarkanlah, ikutilah arah ‘Power Steering’ itu. Yang perlu Anda lakukan hanyalah melepaskan pegangan pada kendali ke-ego-an Anda, melepaskan diri dari rasa ‘kebisaan’ Anda, dan menyerahkan sepenuhnya kepada ‘Power Steering’ Allah. Dalam keadaaan belok kiri atau kanan yang ekstrim sekalipun, arah Anda akan tetap bisa kembali ke jalan yang lurus, asalkan kendaraan kehidupan Anda menggunakan ‘Power Steering’.

Agar kendaraan kehidupan kita tetap bisa lurus secara fitrahnya, maka kendaraan kita harus lah memiliki teknologi ‘Power Steering’ ini. Yang namanya manusia, tidak jarang melakukan hal yang salah dan khilaf. Dengan menyerahkan diri kepada Allah yang Maha Bijaksana, pasrah pada pilihan jalan-NYA, maka arah kendaraan kehidupan kita akan senantiasa dikembalikan ke posisi lurus. Itulah dahsyatnya ‘Power Steering’.

Masih mau pilih kendaraan kehidupan yang manual? Sila saja, kalau kita benar-benar bisa istiqomah dalam kebaikan dan senantiasa sanggup menghindari perbuatan maksiat. Karena kita bukanlah manusia seperti itu, maka saya merekomendasikan kita semua untuk memilih penggunaan kendaraan berteknologi ‘Power Steering’ ini. Agar dikembalikan terus ke jalan yang LURUS.

Caranya? Serahkan diri dan urusan Kita hanya dalam pengaturan Allah SWT. Bukankah ini pengertian Islam itu? Menyerahkan diri dalam naungan hukum Allah.

#FerSus

2011/04/11

Five Steps to Personal Power

By Brian Tracy

There is a five-step power process that you can use to keep yourself positive and to achieve your goals faster. This five-step process brings together several of the very best techniques ever discovered for permanent mind change. It contains and illustrates all of the key principles that you need to know to become a highly effective, positive "possibility thinker" in your own life.

Imagine Your Perfect Future
Perhaps the biggest obstacle to creating a wonderful life is "self-limiting beliefs." Everyone has them, and some people have so may of them that they are almost paralyzed when it comes to taking action. A self-limiting belief is an idea you have that you are limited in some way, in terms of time, talent, intelligence, money, ability, or opportunity. The way you free yourself from these negative brakes on your potential is to change your thinking about who you are and what is truly possible for you.

Show Me the Money
Start with your income. How much do you want to be earning, one, two, three, and five years from today? Look around you and ask, "Who else is earning the kind of money I want to earn, and what are they doing differently from me?" If you don't know or you aren't sure, go and ask them. Do your homework.


Design Your Perfect Life
Imagine your perfect lifestyle. If you had no limitations at all, how would you like to live, day in and day out? If you were financially independent, what kind of home would you live in? What kind of car would you want to drive? What kind of life would you like to provide for your family? What sort of activities would you like to engage in throughout the week, month, and year?

Turn Your Ideal into Reality
When you sit down and design your ideal lifestyle, you can then compare it to what you are doing today and notice the differences. You can then start thinking about how you could bring your real or current lifestyle closer to your ideal. When you idealize your income and your lifestyle, you develop vision for your life. You begin to practice a key quality of personal leadership. You begin projecting into the future and making plans to turn your future dreams into a current reality.

The Person you Become
Create an ideal future self in terms of your personal and professional development. What kind of person do you want to be in the future? What additional knowledge and skills do you want to acquire? In what areas would you like to become absolutely excellent? What subjects would you like to master? What do you need to learn to move up in your field? What is your growth plan to get from where you are to where you want to go?

Action Exercise
Look for something good in every problem or difficulty. Practice being an inverse paranoid, convinced that there is a vast conspiracy to make you successful.

2025/05/03

Apa yang membuat tim kita tidak hanya bertahan, tapi tumbuh? [Bagian 2]

foto: Istimewa
Bertahan itu penting, tapi bertumbuh adalah jiwa yang membuat tim tetap hidup. Tim yang hanya bertahan, lama-lama bisa kehabisan napas. Tapi tim yang tumbuh, mereka menemukan energi baru di setiap langkahnya.

Tim tumbuh ketika mereka diajak melihat makna lebih besar dari sekadar target dan angka. Mereka mulai merasa bahwa setiap tugas yang dikerjakan punya kontribusi nyata, bahwa ada nilai di balik pekerjaan sehari-hari yang kadang terasa rutin. Pemimpin yang mampu menanamkan makna ini, sesungguhnya sedang menyirami benih pertumbuhan dalam timnya.

Pertumbuhan juga terjadi saat tim diberikan ruang untuk mencoba dan ruang untuk gagal. Tidak ada tim yang tumbuh di bawah kepemimpinan yang serba takut salah. Tim perlu merasa bahwa eksperimen mereka dihargai, ide mereka dicoba, dan kegagalan mereka tidak otomatis membuat mereka terpinggirkan. Di situ, mental belajar tumbuh, dan keberanian pun hidup.

Mereka tumbuh ketika proses belajar menjadi budaya, bukan beban. Bukan sekadar pelatihan formal, tapi juga lewat diskusi santai, sesi refleksi tim, atau sharing pengalaman antar sesama. Tim yang tumbuh adalah tim yang merasa setiap hari mereka belajar sesuatu, sekecil apa pun itu.

Dan pertumbuhan itu makin kuat ketika pemimpinnya ikut bertumbuh bersama mereka. Pemimpin yang mau mengakui bahwa dirinya juga belajar, yang terbuka menerima masukan, yang tidak merasa dirinya sudah sampai di puncak. Tim akan naik kelas kalau mereka melihat pemimpinnya pun terus naik kelas, baik dalam keahlian, dalam cara berpikir, maupun dalam kedewasaan sikap.

Tim tumbuh juga lewat tantangan yang tepat, bukan yang memberatkan tanpa arah, tapi yang memacu untuk naik level. Memberi mereka kesempatan menangani proyek baru, melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, atau memberi mereka ownership atas proses yang mereka jalani. Di sanalah rasa percaya diri tumbuh, dan kapasitas mereka meluas.

Dan yang tak kalah penting, tim tumbuh dalam suasana yang sehat: hubungan yang hangat, kepercayaan yang terjaga, dan semangat yang menular. Tim yang saling mendukung, yang merayakan keberhasilan bersama, dan yang menolong yang lemah tanpa diminta, itu adalah tanah subur tempat pertumbuhan sejati terjadi.

Jadi hari ini, selain bertanya apakah tim kita masih bertahan, mari kita lanjutkan pertanyaannya:
"Sudahkah aku menciptakan ruang bagi timku untuk tumbuh hari ini?"
Karena tim yang bertumbuh, merekalah yang akan sanggup menaklukkan tantangan yang lebih besar esok hari.

2011/04/01

Triple FILTER Test

Triple FILTER Test dalam menyampaikan kabar berita"

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.

Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.

Filter petama adalah KEBENARAN.

"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.

Filter ke 2, KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya..."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda dan anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih
memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3, KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan,dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates dianggap filsuf besar dan sangat terhormat.

Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan anda. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu anda terima. Dan apabila anda terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan jangan menyakiti hati orang lain.

2024/08/07

TTL; A Holistic Marketing Approach!

Pict source: jagoanhosting.com

In the realm of marketing, ATL (Above The Line) and BTL (Below The Line) strategies have long been recognized as complementary forces. ATL focuses on brand awareness, casting a wide net to reach a broad audience through mass media channels such as television, radio, and print. On the other hand, BTL zeroes in on direct engagement and sales, targeting specific groups through methods like direct mail, promotions, and events.

However, the advent of social media has significantly transformed the landscape. The once clear boundaries between ATL and BTL marketing have become increasingly blurred. Social media platforms have emerged as a powerful hybrid tool, capable of executing both ATL and BTL strategies simultaneously. With the ability to reach vast audiences and create brand awareness (an ATL function) while also facilitating direct interactions, personalized marketing, and driving conversions (BTL functions), social media uniquely straddles both realms.

Today, a single social media campaign can achieve widespread brand visibility, foster community engagement, and directly influence purchasing decisions. Marketers can utilize these platforms to deliver a cohesive strategy that maximizes the strengths of both ATL and BTL approaches. For example, a well-executed social media campaign can enhance brand image through creative content, viral trends, and influencer partnerships, fulfilling the ATL objective. Simultaneously, it can drive targeted promotions, personalized offers, and interactive engagements that lead to measurable sales results, aligning with BTL goals.

As the marketing landscape continues to evolve, the integration of ATL and BTL through social media represents a paradigm shift. It underscores the necessity for marketers to adopt a holistic approach that leverages the synergies of both strategies. By embracing the multifaceted capabilities of social media, businesses can create more dynamic, engaging, and effective marketing campaigns that resonate with today’s digital-savvy consumers.

The integration of both strategies (ATL and BTL) is now referred to as TTL (Through The Line). TTL embodies a holistic marketing approach that seamlessly blends the broad reach of ATL with the targeted engagement of BTL. By leveraging the strengths of both, businesses can create more comprehensive and impactful campaigns. In the digital age, where consumer behavior is constantly evolving, TTL allows for flexibility and adaptability, ensuring that marketing efforts are both wide-reaching and deeply personalized. Embracing TTL enables brands to navigate the complexities of modern marketing, ultimately driving greater brand loyalty and achieving more significant business results.

---

I also post this article in my Linkedin account: Click Here

2013/10/07

ATMOSFER DALAM AL QUR'AN


Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis. 

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29) 

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12) 

Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut: 

Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)

Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer

Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya. 

Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir. (http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html) 

Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.

Source: Klik Disini


2011/05/25

Magnet Pemimpin

Dulu, ketika ada orang yang bercerita bahwa hampir semua pemimpin duduk kesepian di puncak piramida, saya agak kurang percaya. Pasalnya, secara kasat mata kelihatan, setiap pemimpin dikelilingi oleh banyak sekali pengikut. Di mana-mana muncul diikuti oleh banyak orang.

Sekian tahun setelah menjadi konsultan banyak pemimpin perusahaan, dan juga merasakan sendiri bagaimana kesepiannya saya di puncak piramida sebuah perusahaan swasta, terasa sekali kebenaran pernyataan di atas.

Ada banyak sekali hal yang hilang begitu duduk di atas. Tawa ria yang bebas, hubungan tanpa jarak, manusia-manusia tulus yang datang tanpa kepentingan, kebebasan dari politik perkantoran yang busuk, hidup dengan stress ringan, hanyalah sebagian kecil saja dari kemewahan hidup yang hilang.

Ketika hanya menjadi penasehat sejumlah pemimpin, ringan, enteng, dan jernih saja saya bisa menasehati mereka. Banyak klien yang bahkan mendekatkan anaknya ke saya, guna diberikan pencerahan berpikir ketika kesepian di atas. Namun, begitu duduk dan merasakan sendiri rasanya kesepian, baru terasa amat dalam substansi dari ide pemimpin yang kesepian di atas.

Ada kerinduan akan tawa yang bebas, tetapi saya tidak bisa melakukannya terlalu sering, sebab menyangkut the power of execution. Ada niat untuk lari dari politik perkantoran, tetapi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena setiap pemimpin harus melakukan power games. Maunya memiliki stres yang ringan-ringan saja, namun di atas, hampir semua informasi hadir seperti teka-teki yang tidak saja mengasikkan, tetapi juga membawa tekanan.

Ketika dunia pemimpin belum saya tahu langsung wajah aslinya, mimpi untuk sampai di sana sering hadir. Sekarang, ketika semua itu sudah menjadi keseharian, kadang saya rindu akan dunia orang biasa yang sederhana dan bersahaja. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bercengkerama dengan tukang taman yang mengurus taman rumah, dengan satpam yang menjadi penjaga rumah, atau dengan pedagang skoteng yang kerap lewat di malam hari. Namun, bukankah daya radiasi hidup dan kehidupan pemimpin jauh lebih luas dari sekadar manusia biasa yang sederhana dan bersahaja?

Pertanyaan terakhir inilah yang memompa semangat saya, untuk tegar kesepian di atas.

Lebih dari sekadar takut kesepian, pemimpin seyogyanya terbang seperti burung elang. Tinggi, sendirian, kesepian, namun memiliki helicopter"s view yang amat mengagumkan. Atau ibarat orang yang bangun di pagi hari sendirian, kemudian siap disebut aneh oleh semua orang ketika bertutur tentang apa yang terjadi di pagi hari.

Sebagaimana burung elang yang sebenarnya, ia memang tidak pernah terbang bersama-sama, dan juga penuh kebebasan. Ia senantiasa sendirian.

Setiap kali saya mengambil keputusan penting, selalu saya usahakan untuk membayangkan diri terbang tinggi, dan bebas dari segala ketakutan termasuk dipecat besok pagi. Untuk kemudian, berusaha sekuat tenaga mengangkat dan menarik bawahan ke atas. Persis seperti magnet, untuk menarik logam yang berat, diperlukan tenaga yang amat kuat.

Stres, marah, tegang, kehilangan kawan, bahkan kadang frustrasi adalah bagian dari tanda-tanda mulai terkuras habisnya tenaga untuk menarik orang-orang bawah. Apapun harganya, ia mesti dibayar oleh setiap orang
yang berani memutuskan diri hidup menjadi pemimpin.

Hanya dengan cara terakhir, daya radiasi pemimpin menjadi luas, dalam dan panjang. Magnetnya akan menarik ke atas banyak orang. Standar kualitasnya diikuti.

Meminjam contoh cantik John Maxwell, pemimpin orkestra ketika bekerja harus membalik punggung di hadapan pengunjung. Ia membuat keputusan seorang diri - sekali lagi seorang diri. Ia tidak bisa hanyut dengan pengunjung, dan memperhatikan respons pengunjung terhadap cara dia memimpin. Bakti hidup dan perhatiannya tidak ditujukan untuk pengunjung, tetapi untuk bawahan-bawahan yang ia pimpin. Tepuk tangan penonton itu penting, tetapi bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya, memimpin pemain orkestra secara amat cemerlang.

Untuk mencapai tujuan tadi, pemimpin memerlukan lem yang bisa mengikat tanpa paksaan. Logika adalah salah satu perlengkapan dari lem tadi. Namun, sehebat-hebatnya logika, dia tidak bisa mengalahkan hubungan dari hati ke hati.

Hubungan terakhir, mirip sekali dengan semen. Sekali merekat, susah sekali merobohkannya. Bedanya dengan logika yang boros sekali dengan kata-kata, hubungan dari hati ke hati tidak memerlukan terlalu banyak kata-kata. Setiap tambahan kata-kata, hanya akan memperenggang hubungan. Namun ia merindukan banyak tindakan. Lebih-lebih yang dibangun di atas ketulusan dan kemurnian.

Setiap tambahan tindakan tadi, di satu sisi memperkuat kekuatan daya tarik magnet pimpinan, dan pada saat yang sama memperingan gerakan orang bawah untuk ditarik ke atas.

Ada saatnya, "burung elang" pemimpin akan terbang ringan, bebas dan sedikit hambatan. Dan ini sangat ditentukan pada daya rekat lem di atas.

Saya memang masih terbang berat dan memiliki cukup banyak hambatan. Namun, ada saatnya, ketika tabungan hubungan dari hati ke hati sudah memadai, "burung elang" saya akan terbang bebas dan ringan.

Sama dengan burung elang yang sebenarnya, di titik ini, setiap hambatan tidak membuat daya jangkau terbangnya menyempit. Justru hambatan tadi - seperti angin - akan membuat burung elang terbang semakin jauh dan semakin jauh.

Dari tulisan: Gede Prama

2012/06/05

Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia?

KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Geneva:

"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia . Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.
Kalau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai. Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan.

Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lg pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GA GA dan IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yg ingin menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong?
Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?
Indonesia lebih baik toleransinya dr Swiss yg sampai sekarang tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tak menghormati agama, krn disana ada UU Perkawinan Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis?! 
Akhirnya kembali kpd bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Westernisme ..."
___
from: milist anggotaicmi@yahoogroups.com

2025/08/19

JAS HIJAU: Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama

Kalau istilah JAS MERAH – Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah – sudah sering kita dengar dari Bung Karno, maka kali ini, dalam usia 80 tahun Republik Indonesia, ada satu istilah yang layak kita gaungkan: JAS HIJAU – Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama.

Kenapa? Karena sejarah kemerdekaan kita bukan hanya deretan peristiwa diplomasi, pertempuran bersenjata, atau rapat-rapat di gedung parlemen. Ada satu kekuatan yang sejak awal menjadi denyut nadi perjuangan: umat Islam yang bergerak di bawah bimbingan para ulama.

Lembaran yang Mulai Pudar

Sayangnya, di buku-buku sejarah resmi, kontribusi ulama sering hanya muncul sekilas—bahkan kadang sekadar catatan kaki. Kita hafal siapa yang mengetik teks proklamasi, siapa yang duduk di meja perundingan, siapa yang memimpin tentara. Tapi kita jarang mengingat siapa yang menggerakkan massa rakyat di desa-desa, siapa yang mengobarkan semangat jihad melawan penjajahan, siapa yang mengorbankan harta, waktu, dan nyawanya tanpa pamrih jabatan.

Fakta sejarah menunjukkan, dari Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Paderi, hingga resolusi jihad 22 Oktober 1945—ulama dan umat Islam adalah garda terdepan. Mereka mengisi celah yang tak mampu dijangkau oleh senjata saja: mereka menyalakan api keyakinan bahwa melawan penjajah adalah kewajiban agama dan kehormatan bangsa.

Upaya Sistematis Menghapus Jejak

Kita perlu jujur mengakui: ada tendensi dari pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan peran umat Islam dan ulama dalam sejarah kemerdekaan. Di banyak narasi resmi, peran mereka dikecilkan, bahkan digeser menjadi kisah-kisah pinggiran. Kadang, ulama hanya disebut “tokoh masyarakat” tanpa penjelasan bahwa merekalah motor ideologis dan organisatoris perjuangan.

Mengapa? Karena jika generasi muda mengenal peran ulama secara utuh, mereka akan menyadari bahwa Islam tidak pernah absen dalam urusan kebangsaan. Dan itu bertentangan dengan narasi sebagian kelompok yang ingin memisahkan agama dari identitas perjuangan bangsa.

Sejarawan Muslim: Menjaga Nyala Kebenaran

Beruntung, masih ada sejarawan Muslim yang konsisten menggali dan menyuarakan fakta-fakta ini—meski sering dianggap “mengganggu narasi arus utama”. Mereka menelusuri arsip, mendokumentasikan kisah lisan, dan membongkar catatan-catatan yang sengaja dilupakan. Upaya ini seperti menimba air dari sumur yang hampir tertutup: butuh kesabaran, ketekunan, dan keberanian.

Mengembalikan Hak Sejarah

Refleksi kemerdekaan ke-80 tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan hak sejarah. Mengakui jasa ulama bukan berarti mengurangi peran pihak lain, melainkan melengkapi mozaik sejarah agar utuh. Kita perlu jujur mengatakan: tanpa ulama, perjuangan kemerdekaan akan pincang. Tanpa umat Islam yang digerakkan oleh nilai-nilai agama, mungkin kita akan kehilangan energi moral yang membuat bangsa ini bertahan.

Penting: JAS HIJAU untuk Generasi

Generasi muda berhak tahu bahwa bendera merah putih berkibar bukan hanya karena perundingan di meja diplomasi, tapi juga karena doa-doa panjang di surau, takbir di medan pertempuran, dan khutbah-khutbah yang menggetarkan hati.

Maka, marilah kita gaungkan: JAS HIJAU – Jangan Sekali-Kali Hilangkan Jasa Ulama. Sebab bangsa yang menghapus jejak pejuangnya adalah bangsa yang kehilangan kompas moralnya.

#jashijau #JASMERAH #jangkauansemuaorang #HUTRI80 #pahlawannasional #ulamanusantara izin tag bapak2 profesor Ahmad Mansur Suryanegara Moeflich H. Hart Ridhazia Agus Salim Mansyur Hisyam Mahrus Ali Muhammad Faraz Bajri

2024/10/08

Meningkatkan Skor CSAT yang Disebabkan oleh Masalah Produk

Customer Satisfaction Score (CSAT) adalah metrik penting yang digunakan perusahaan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan mereka. Skor ini sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk masalah produk. Jika pelanggan mengalami masalah dengan produk yang mereka beli, hal ini dapat menyebabkan ketidakpuasan yang signifikan dan menurunkan skor CSAT. Artikel ini membahas penyebab umum masalah produk, dampaknya terhadap CSAT, dan strategi untuk meningkatkan skor CSAT dengan mengatasi masalah produk secara efektif.

Penyebab Umum Masalah Produk

  1. Kualitas Produk yang Buruk

    • Produk yang tidak memenuhi standar kualitas dapat menyebabkan pelanggan merasa kecewa. Ini termasuk cacat produk, performa yang tidak sesuai harapan, dan daya tahan yang rendah.
  2. Deskripsi Produk yang Tidak Jelas

    • Ketidaksesuaian antara deskripsi produk dan kenyataan dapat menyebabkan pelanggan merasa tertipu. Jika produk tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dalam pemasaran, pelanggan mungkin akan merasa kecewa.
  3. Berkurangnya Dukungan Purna Jual

    • Pelanggan yang mengalami masalah setelah membeli produk mungkin merasa frustrasi jika dukungan pelanggan tidak responsif atau tidak memadai. Keterbatasan dalam pelayanan purna jual dapat berkontribusi pada ketidakpuasan.
  4. Kurangnya Pembaruan atau Perbaikan Produk

    • Ketidakmampuan untuk memperbarui atau memperbaiki produk yang bermasalah dapat menyebabkan pelanggan merasa diabaikan dan mengurangi kepercayaan mereka terhadap merek.

Dampak Masalah Produk terhadap Skor CSAT

Masalah produk dapat memiliki dampak signifikan terhadap skor CSAT, termasuk:

  • Peningkatan Komplain Pelanggan: Ketidakpuasan yang muncul akibat masalah produk dapat menyebabkan peningkatan jumlah komplain, yang pada gilirannya mempengaruhi pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
  • Penurunan Loyalitas Pelanggan: Pelanggan yang tidak puas cenderung tidak akan kembali atau merekomendasikan produk kepada orang lain, yang berdampak negatif pada reputasi merek.
  • Pengaruh Negatif pada Ulasan dan Rekomendasi: Pengalaman negatif dapat mengarah pada ulasan buruk dan rekomendasi negatif, yang dapat merugikan penjualan di masa depan.

Strategi Meningkatkan Skor CSAT dengan Mengatasi Masalah Produk

  1. Meningkatkan Kualitas Produk

    • Lakukan audit menyeluruh terhadap produk untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah kualitas. Implementasikan pengujian kualitas yang ketat dan gunakan umpan balik pelanggan untuk perbaikan berkelanjutan.
  2. Memperbaiki Deskripsi Produk

    • Pastikan deskripsi produk akurat dan jelas. Gunakan gambar berkualitas tinggi dan informasi lengkap untuk membantu pelanggan membuat keputusan yang tepat.
  3. Meningkatkan Dukungan Purna Jual

    • Latih tim dukungan pelanggan untuk memberikan respons yang cepat dan efektif terhadap masalah yang dihadapi pelanggan. Tawarkan berbagai saluran dukungan, seperti telepon, email, dan obrolan langsung, untuk memastikan pelanggan dapat menghubungi perusahaan dengan mudah.
  4. Mengimplementasikan Proses Umpan Balik

    • Buat saluran yang memungkinkan pelanggan memberikan umpan balik secara langsung tentang produk. Gunakan data ini untuk menganalisis masalah dan mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih.
  5. Menawarkan Garansi dan Kebijakan Pengembalian yang Jelas

    • Berikan jaminan atau kebijakan pengembalian yang jelas untuk meningkatkan rasa aman bagi pelanggan. Ini menunjukkan bahwa perusahaan percaya pada kualitas produk mereka dan siap mengambil tanggung jawab jika terjadi masalah.
  6. Komunikasi Proaktif

    • Jika ada masalah yang diketahui dengan produk, beri tahu pelanggan sebelum mereka mengalaminya. Menyampaikan informasi ini secara transparan dapat membantu membangun kepercayaan dan mengurangi frustrasi.
  7. Menggunakan Teknologi untuk Memantau Masalah Produk

    • Gunakan teknologi dan alat analisis untuk memantau masalah produk secara real-time. Ini memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan cepat sebelum berdampak lebih luas pada pelanggan.

Kesimpulan

Meningkatkan skor CSAT yang disebabkan oleh masalah produk memerlukan pendekatan yang proaktif dan terencana. Dengan meningkatkan kualitas produk, memperbaiki deskripsi, meningkatkan dukungan purna jual, dan berkomunikasi secara transparan dengan pelanggan, perusahaan dapat mengatasi masalah yang ada dan meningkatkan kepuasan pelanggan secara keseluruhan. Dengan melakukan hal ini, perusahaan tidak hanya dapat meningkatkan skor CSAT, tetapi juga membangun hubungan yang lebih baik dan lebih tahan lama dengan pelanggan mereka. Skor CSAT yang tinggi akan berkontribusi pada kesuksesan jangka panjang perusahaan dan reputasi yang positif di pasar.

---

Artikel Menarik lainnya: 
Waktu Terbaik Menilai Konsistensi Agen Contact Center? Hari Pertama Setelah Cuti.
KSA: Fondasi Utama untuk Meraih Masa Depan di Dunia Kerja
Skip Level Meeting: Mendengar Suara Garis Depan
Masa Depan Contact Center: Mengutamakan Keamanan dan Privasi Data Pelanggan
Kedisiplinan Tinggi: Kunci Sukses di Dunia Contact Center
Peluang Industri BPO di Indonesia: Layanan Pelanggan Sebagai Pilar Utama
Meningkatkan Skor CSAT yang Disebabkan oleh Masalah Produk
Understanding and Addressing CSAT and AHT Issues in Contact Centers
Lima Komponen Utama Customer Care yang Efektif

2025/11/13

Sinopsis “Babad Dipanegara”

Babad Dipanegara adalah karya sastra dan sejarah monumental yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara sendiri, atau Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra, ketika beliau diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara setelah kekalahannya dalam Perang Jawa (1825–1830).

Naskah ini ditulis dalam bentuk tembang (puisi berbahasa Jawa) yang terdiri dari 43 pupuh, dan merupakan kombinasi unik antara autobiografi, kronik sejarah, dan renungan spiritual.
Isi babad tidak hanya menceritakan perjuangan fisik melawan penjajahan Belanda, tetapi juga menggambarkan pandangan dunia Jawa, sejarah Majapahit, kerajaan Islam di Jawa, hingga kisah para wali dan nabi-nabi. Dengan gaya tutur khas Jawa, Dipanegara menulis bukan sekadar untuk hiburan, tetapi untuk mendidik dan menyadarkan bangsanya akan pentingnya kemerdekaan dan kemandirian.
Naskah ini kemudian diakui oleh UNESCO pada tahun 2013 sebagai bagian dari “Memory of the World” (MoW) karena nilainya yang luar biasa bagi sejarah dunia, menjadikannya salah satu manuskrip terpenting dari Indonesia.
Ringkasan Isi (Summary)
“Babad Dipanegara” terdiri dari empat jilid besar (Babad I–IV) dan 43 pupuh.
Berikut garis besar isinya:
Babad Dipanegara I (Pupuh I–XI)
Berisi asal-usul dan latar belakang sejarah Jawa:
• Menceritakan tentang kejayaan Majapahit, masa Hayam Wuruk, hingga kemunculan kerajaan Islam di tanah Jawa.
• Dikisahkan pula sejarah para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati.
• Pangeran Dipanegara mulai memperkenalkan dirinya dan pandangannya tentang kerusakan moral bangsawan Jawa akibat pengaruh Belanda.
Babad Dipanegara II (Pupuh XII–XIX)
• Mengisahkan masa kecil dan pendidikan spiritual Pangeran Dipanegara.
• Ia menolak kemewahan keraton dan memilih hidup sederhana di Tegalrejo, di tengah rakyat.
• Mulai terlihat ketegangan antara dirinya dan pihak Belanda yang ikut campur dalam urusan kerajaan Yogyakarta.
Babad Dipanegara III (Pupuh XX–XXXI)
• Awal Perang Jawa. Pangeran Dipanegara tampil sebagai pemimpin rakyat dan ulama pejuang yang menegakkan keadilan.
• Diceritakan strategi, taktik perang, dan keberanian pasukannya.
• Tercermin pula kebijaksanaan spiritualnya—ia melihat perjuangan bukan semata perang duniawi, tapi jihad fi sabilillah melawan kezaliman.
Babad Dipanegara IV (Pupuh XXXII–XLIII)
• Menggambarkan masa akhir perjuangan, pengkhianatan, dan penangkapannya.
• Dipanegara tetap sabar dan tegar, menulis naskah ini dalam pengasingan di Manado.
• Ia merefleksikan hidup, keadilan, dan takdir Allah, serta menyerahkan hasil perjuangannya kepada generasi berikutnya.

Siapa Pangeran Dipanegara?
Pangeran Dipanegara (1785–1855) adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta. Nama kecilnya Raden Mas Ontowiryo.
Ia dikenal sebagai pemimpin besar Perang Jawa, seorang pahlawan nasional Indonesia, dan juga ulama serta cendekiawan yang mendalam pengetahuannya tentang agama dan budaya Jawa.
Beliau menolak kehidupan istana yang berbau kolonial dan lebih memilih hidup asketis, dekat dengan rakyat. Dipanegara dikenal sebagai “Ratu Adil”, sosok mesianis yang diyakini masyarakat Jawa akan datang membawa keadilan dan kedamaian.

Kejeniusan Pangeran Dipanegara dalam Menulis
1. Struktur Sastra yang Kompleks
Ia menggunakan bentuk tembang macapat—puisi tradisional Jawa dengan aturan metrum ketat. Hal ini menunjukkan keluasan pengetahuan sastra klasiknya.
2. Gaya Bahasa Simbolik dan Filosofis
Tiap bait memuat lapisan makna: sejarah, spiritual, dan moral. Ia menulis dengan kecerdikan sufistik, mengaitkan peristiwa sejarah dengan nilai-nilai ketauhidan.
3. Fungsi Didaktik dan Dakwah
Babad ini bukan hanya sejarah, tetapi nasihat moral dan ajakan religius.
Dalam Islam, menulis untuk mengabadikan ilmu dan pengalaman merupakan amal jariyah.
Dipanegara menulis bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk memberi pelajaran bagi generasi berikutnya; sebuah jihad intelektual.

Paralel dengan Tuanku Imam Bonjol
Menariknya, Pangeran Dipanegara semasa dengan Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat, keduanya:
• Pejuang Islam melawan kolonial Belanda.
• Tokoh karismatik yang menggabungkan peran ulama dan panglima perang.
• Sama-sama pandai menulis; Imam Bonjol juga meninggalkan memoir “Riwayat Tuanku Imam Bonjol”.
• Dan keduanya diakhiri hidupnya dalam pengasingan di Sulawesi (Diponegoro di Manado, Imam Bonjol di Minahasa).
Dua tokoh ini menjadi teladan “ulil albab” dalam Islam, orang berakal yang menggunakan pena dan pedang dalam perjuangan: menulis untuk melawan lupa, dan berjuang untuk menegakkan kebenaran.

Keterangan dari Foto Buku
• Judul: Babad Dipanegara
• Penulis: Pangeran Dipanegara / Kanjeng Sultan Abdul Hamid Herucakra
• Penerbit: Narasi, Yogyakarta
• Harga: Rp 150.000,-
• Diakui UNESCO (2013) sebagai Memory of the World
• Isi: 43 pupuh dalam 4 babad besar
• Kategori: Sejarah & Budaya (U17+)
• Bahasa: Jawa (terjemahan dalam bahasa Indonesia)

2011/04/04

Inspirasi Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.


Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.


"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya mEmbutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
--
Semoga bermanfaat!

2012/04/17

Delegating and Supervising: Five Steps


The ability to delegate is one of the key result areas of management. Fortunately, it is a skill that can be learned with practice. Delegation is an art as well as a science. Effective delegation requires time, thought, and careful consideration. It is something that you must learn to do if you want to leverage yourself to the maximum.

Step One
The first step in delegation is to become perfectly clear about the results that you desire from the job. The greater clarity you have with regard to the results expected, the easier it is for you to select the right person to do the job.

Step Two
The second step is to select a person based on his or her demonstrated ability or success at doing this job. Never delegate an important job to a person who has never done it before. If the successful completion of the task is important to the success of your business, it is essential that you delegate it to someone who you confidently believe can complete the task satisfactorily.

Step Three
Third, explain to the person exactly what you want done, the results that you expect, the time schedule that you require, and your preferred method of working. The reason that you are in a position to delegate a task is because you have probably already mastered this task. Taking the time to teach and explain the best way to do the task based on your experience is an excellent way to ensure that the task will be done as you wish and on schedule.

Step Four
Step four is to set up a schedule for reporting on progress. If it is an important task, set up a deadline for completion that is a day or a week before your actual deadline. Always build some slack into the system. Then, check on the progress of the task regularly, very much like a doctor would check on the condition of a critical care patient. Leave nothing to chance.

Step Five
Step five, inspect what you expect. Delegation is not abdication. Just because you have assigned a task to another person does not mean that you are no longer accountable. And the more important the task, the more important it is that you keep on top of it.

Action Exercise
What task can you effectively delegate to someone else? Which one of your employees can handle the task efficiently?

---
*By Brian Tracy

2011/11/21

Keajaiban Keyboard Kompie®

Postingan kali ini saya membahas tentang cara nenampilkan karakter unik di komputer. Ya, di judulnya saya menuliskan ‘Keajaiban Keyboard Kompie’. Ini tentang bagaimana memunculkan karakter-karakter huruf, tanda, symbol dll yang unik, dan mungkin saja kadang-kadang kita kesulitan menemukan caranya.

Di tulisan ini ditampilkan cara yang sangat sederhana, yang penting kita sering latihan sehingga hafal kode-kodenya. Nanti juga terbiasa sendiri. Langsung saja, saya tuliskan instruksinya dan di bawah juga ada contohnya:

1. Pastikan tombol indicator “Num Lock” menyala
2. Tekan tombol “Alt” bersamaan dengan penekanan tombol nomor 164 di keypad numeric computer Anda
Untuk kasus huruf besar (upper case) Ñ, Anda bisa membuatnya dengan menekan “Alt+165”
Berikut symbol-symbol lainnya:
  • Tanda derajat (° alt 0176)

  • Tanda copyright (© alt 0169)

  • Tanda registered (® alt 0174)

  • Tanda question mark terbalik (¿ alt 0191)

  • Tanda mata uang pound Inggris (£ alt 0163)

  • Tanda mata uang Yen Jepang (¥ alt 0165)

  • Tanda Euro (€ alt 0128)

  • Tanda cent (¢ alt 0162)

  • Tanda trademark (™ alt 0153)

  • Tanda prefix eksklamasi Spanyol (¡ alt 0161)

  • Tanda anak panah double ke kiri (« alt 0171)

  • Tanda plus minus (± alt 0177, seperti contoh DVD±RW drive)

  • Tanda anak panah double ke kanan (« alt 0187)

  • Tanda perkalian (× alt 0215)

  • Tanda pembagian (÷ alt 0247)
Sementara untuk number pad kode 1 hingga 30 (alt+1 hingga alt+30):

+1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
☺.☻♥.♦.♣.♠.•. ◘.○. ◙ . ♂ . ♀ . ♪ . ♫. ☼. ►. ◄ . ↕ .. ‼ .. ¶ .. §. ▬ .↨ .. ↑ .. ↓ .→. ←. ∟. ↔. ▲

Kunci shortcut karakter khusus ini hanya bekerja dengan program yang menerima input kode ASCII, seperti di Microsoft Word, email, notepad, wordpad, dan sebagainya. Selain itu encoding karakter juga bisa berbeda di masing-masing system, baik untuk Windows ataupun berbeda di Macintosh. Shortcut di atas hanya bekerja di number pad di PC desktop, tidak di notebook, laptop, dan sebagainya, kecuali terdapat numeric pad seperti di desktop.

Anda juga dapat melihat karakter special tersebut di Windows dengan memilih menu “Run”, lalu ketik “charmap”. Atau juga bisa dengan memilih “All programs – utilities atau accessories – System Tools – Character Map”.

Selamat mencoba..
*From any source in the internet
(picture is powered by google)

2011/08/09

Memudahkan Urusan Orang Lain


Ini adalah salah satu kalimat paling popular diantara kita;”Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?” Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan; pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?

Istri saya memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat, sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan ‘semua urusan’ ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. “Kenapa sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?” begitulah kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

1. Mulailah dengan tujuan yang tepat dalam bekerja. Apa tujuan Anda bekerja?. Uang? Bagus. Namun berhati-hati dengan efek sampingnya. Misalnya, meminta imbalan yang tidak seharusnya Anda terima. Terimalah hanya uang yang memang sudah menjadi hak Anda. Uang sering menjadi ukuran ‘seberapa bersedianya kita memudahkan urusan orang lain”. Maka bekerja dengan tujuan uang, bisa menjadikan kita orang yang benar atau salah. Bagaimana kalau kita mengganti tujuan bekerja itu dari sekedar uang, menjadi ‘ibadah’? Dengan niat itu Anda sudah pasti mendapatkan uang yang menjadi hak Anda sepenuhnya. Tidak akan dikurangi. Dan dengan niat ibadah itu, kita bisa memposisikan diri untuk melayani. Maka bagi orang yang niatnya bekerja adalah ibadah, sangat mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Karena dalam ibadah, kinerja kita tercermin dari kemudahan yang dirasakan oleh orang-orang yang kita layani. Jika didalam hati kita masih ada bisikan untuk ‘melambat-lambatkan’ yang bisa cepat, mungkin niat bekerja kita belum tepat. Jika dalam bekerja kita ‘mengabaikan kepentingan orang lain’, mungkin niat kita masih salah. Jika kita hanya mau memudahkan urusan orang lain jika dan hanya jika mereka memberi ‘imbalan’ tambahan diluar hak kita; maka boleh jadi; tujuan kita dalam bekerja belum diubah menjadi ‘ibadah’.

2. Bangunlah reputasi yang baik untuk diri sendiri. Mari kita coba perhatikan semua orang atau semua departemen di kantor kita. Ada departemen yang mudah untuk diajak bekerja sama. Ada juga departemen yang semua orang juga tahu betapa sulitnya untuk bekerjasama dengan mereka. Kita juga bisa melihat hal itu di tingkat individu. Ada orang-orang yang kita semua kenal dia sebagai pribadi yang senang sekali menolong orang lain. Ada yang dikenal sebagai orang usil. Ada yang pemarah. Rajin. Malas. Dan ada pula orang-orang yang dikenal sebagai orang yang paling gemar menyusahkan orang lain. Kata ‘dikenal’ yang saya sebut berulang-ulang itu mengindikasikan reputasi. Sebab reputasi merujuk kepada “bagaimana kualitas pribadi seseorang ‘dikenal’ oleh orang lain”. Selalu bersedia memudahkan urusan orang lain adalah salah satu kualitas yang mutlak harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memiliki reputasi yang baik. Mengapa? Karena reputasi kita dinilai oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaimnya. Apakah Anda ingin memiliki reputasi pribadi yang baik? Jika ya, maka mulailah dengan membiasakan diri untuk memudahkan urusan orang lain.

3. Tetaplah menegakkan prosedur dan kedisiplinan. Kadang-kadang kita suka menjerumuskan diri kedalam sudut pandang negatif. “Kalau kita memudahkan urusan orang lain berarti kita melanggar prosedur,” kita bilang. Kita berpikir begitu, mungkin karena kita belum bisa keluar dari kebiasaan buruk untuk melanggar prosedur. Padahal, memudahkan urusan orang lain tidak selalu harus melanggar prosedur. Justru untuk memudahkan urusan orang lain, kita harus menegakkan prosedur; baik yang tertulis maupun yang sudah menjadi norma umum. Misalnya, first come, first serve. Yang pertama datang, itulah yang dilayani. Atau mengacu kepada KPI. Misalnya, dokumen di meja kita harus segera keluar paling lambat dalam 1 hari. Semua permintaan disposisi dari departemen lain harus sudah selesai selambat-lambat dalam 3 hari. Justru dengan mengikuti prosedur itu kita bisa memudahkan urusan orang lain, karena prosedur dibuat untuk memudahkan urusan semua orang. Jika ada orang yang menegur Anda karena menegakkan prosedur, Anda tidak akan pernah dipersalahkan.

4. Gunakan judgement profesional dan buatlah pengecualian. Prosedur di perusahaan tidak selalu bisa mengakomodasi situasi khusus. Orang-orang yang tugasnya berhubungan dengan pihak luar tahu benar tentang hal ini. Sayangnya, seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang supporting function. Makanya, orang yang berhubungan dengan pihak luar sering tergencet diantara kewajiban untuk melayani pihak luar dengan kengototan membabi buta orang dalam. Jika Anda yang orang dalam itu, maka saya ingin mengajak untuk belajar menggunakan judgment profesional Anda. Kita bukanlah robot yang bekerja sesuai dengan ‘setelan’ program. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk menilai dan mengambil keputusan. Perhatikanlah jika teman Anda didepartemen lain meminta pengecualian pada kondisi khusus. Janganlah bersembunyi dibalik kata ‘prosedur’. Justru kengototan kita bisa merusak reputasi perusahaan. “Maaf Bung, prosedurnya 14 hari kerja,” misalnya. Gunakan kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan Anda, maka Anda akan tahu bahwa; menyelesaikannya dengan lebih cepat menjaga reputasi perusahaan dimata pihak luar yang menjadi mitra bisnis atau pelanggan Anda. Lagipula, logika umum mengatakan bahwa dalam hal melayani berlaku hukum;”lebih cepat, lebih baik’. Maka gunakanlah judgment profesional Anda.

5. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Ada juga orang yang menyulitkan orang lain karena mereka merasa kesal kepada orang itu. Misalnya, “orangnya jutek, ngapain saya mudahin!” Lho, yang jutek salah satu atau keduanya ya? Ada juga yang bilang;”Dia kebiasaannya mau cepat melulu, biar kita lambatin aja sekalian…” Ada lho orang yang berprinsip demikian. Mereka hanya memikirkan untuk ‘membalas’ orang yang tidak ‘cocok’ dengannya tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang-orang lain yang tidak kelihatan. Ketika kita membuat susah satu orang dikantor, mungkin efeknya terbawa ke rumah. Disana mungkin ada istri yang sedang hamil. Atau anaknya yang demam. Balita yang membutuhkan susu. Atau, mungkin ada anak yatim yang menantikan sesuatu. Kita tidak pernah tahu. Maka perlakuan buruk kita kepada orang yang tidak kita sukai itu telah salah sasaran. Dan kita jadi berdosa kepada mereka. “Tapi, saya tidak suka dengan cara orang itu menyuruh-nyuruh saya. Bos saya juga nggak gitu-gitu amat!” Apakah Anda pernah mendengar kalimat itu? Sounds familiar, ya. Hey, ingatlah bahwa kita hidup bukan untuk saling berbalas keburukan. Anda adalah orang baik. Maka janganlah ikut terseret untuk meninggalkan sikap dan perilaku baik. Bahkan jika orang lain melakukan keburukan kepada Anda. Balaslah keburukan mereka dengan kebaikan. Mengapa? Karena Anda adalah orang baik.

Memang tidak mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Khususnya memudahkan mereka yang menurut penilaian kita sering menyulitkan kita. Sulit juga untuk memudahkan urusan orang yang suka meminta kita cepat-cepat. Tetapi, bukankah nilai diri kita meningkat semakin tinggi justru ketika kita bisa membuat mudah urusan mereka? Jika hati Anda masih terganjal oleh kedongkolan atas perilaku mereka yang hendak Anda mudahkan urusannya itu, barangkali nasihat dari guru kehidupan saya bisa menjadi bahan renungan. Beliau mengatakan;”Siapa saja yang selama hidupnya gemar memudahkan urusan orang lain, Maka Allah akan memudahkan segala urusannya di dunia dan diakhirat.” Oh, siapakah gerangan yang bisa memudahkan urusan kita secara sempurna selain Dia Yang Maha Kuasa? Maukah Anda dimudahkan urusannya oleh Tuhan? Jika demikian, belajarlah untuk memudahkan urusan orang lain.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 9 Agustus 2011
Natural Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com

2016/09/19

Peran penting SHRM -Differentiated Workforce-

Peran penting SHRM (Strategic Human Resource Management) bagi organisasi khususnya entitas bisnis sungguh tidak dapat dibantah lagi. Perusahaan-perusahaan unggul yang memiliki kemampuan distinctive pasti dihuni oleh karyawan-karyawan yang distinctive (berbeda) pula. Maksud ‘berbeda’ disini adalah memiliki keunggulan khusus yang tak dapat atau sangat sulit untuk ditiru oleh para pesaing.

Kemampuan perusahaan untuk muncul dengan nilai sustained competitive advantage ini didasarkan pada kemampuan para karyawannya  (SDM) yang memiliki daya saing tinggi. SDM yang berdayasaing tinggi ini pasti dilahirkan dari sebuah konsep manajemen sumber daya manusia yang strategis. Mustahil jika perusahaan bisa unggul dengan sendirinya sementara karyawannya adalah mereka yang bekerja asal-asalan, tidak punya semangat/passion, tidak pernah dihargai (rendah apresiasi), tidak ada iklim kompetisi dan lain-lain.

Untuk menghindari SDM yang berkompetensi rendah, perusahaan perlu merancang pola pembinaan SDM yang stratejik. Salah satu rancangan itu adalah konsep Differentiated wokforce. 

Pengertian sederhana dari konsep ini adalah bagaimana perusahaan mampu mengelola bakat SDM yang dimilikinya sehingga setiap SDM itu memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan bidang yang dikerjakannya. Setiap perusahaan memiliki strategi yang berbeda-beda untuk terus dapat memberikan nilai tambah bagi pelanggannya. Penerapan strategi yang dilakukan bisa dengan mengoptimalkan semua sumber daya yang dimiliki. Mulai dari sumber daya keuangan, material, informasi dan waktu dan yang terpenting tentu saja sumber daya manusia.
Untuk mendapatkan SDM yang berbeda (differentiated), perusahaan bisa saja melakukan proses hijacking (membajak) SDM-SDM unggul dari perusahaan pesaing. Namun tentu saja melakukan itu akan mengakibatkan cash-flow alias keuangan perusahaan akan terdampak serius karena umumnya harga yang dinegosiasikan oleh para SDM bajakan itu sangatlah tinggi, jauh di atas rata-sata salary industri. Karena membajak SDM dari luar akan menimbulkan masalah di bagian keuangan, maka perusahaan dapat melakukan pendekatan talent management secara internal. Artinya perusahaan cukup memberikan pelatihan dan pengembangan dengan serius kepada SDM yang sudah dimilikinya, tidak perlu melakukan rekrutmen tambahan. Dengan pelatihan dan pengembangan yang terencana dan sistematis, diyakini kualitas skill dan kompetensi SDM akan meningkat secara signifikan.
Dalam melakukan pembinaan (pelatihan dan pengembangan) SDM internal itu, manajemen SDM perusahaan perlu memiliki alat/tool untuk melakukan pengukuran kemajuan SDM-nya. Bahkan sebelum pelatihan itu diberikan, manajemen perusahaan perlu melakukan assessment terhadap portfolio SDM sesuai dengan potensi, performance dan kontribusinya pada organisasi. Idealnya perusahaan memiliki seperangkat toolkit untuk melakukan competency assessment, potential mapping dan performance appraisal individu. Bahkan inisiatif ini pada akhirnya harus terintegrasi dengan leadership development program dimana para talent harus di-develop, di-retain dan di-utilize semaksimal mungkin.

Dengan memiliki tools ini perusahaan akan sangat mudah dalam melakukan mapping (pemetaan) kompetensi sehingga akan mudah pula melakukan penempatan SDM sesuai dengan hasil mapping tersebut. Akan terjadilah apa yg disebut dengan istilah ‘the right man in the right place’. Sebagai dampaknya, tidak hanya baik buat perusahaan karena otomatis produktifitas SDM-nya meningkat dan kinerjanya semakin berkualitas namun juga akan memberikan rasa nyaman dan aman bagi SDM-nya karena mereka memang ditempatkan di bidang atau bagian pekerjaan yang mereka sukai dan selaras dengan bakat (talent) terbaik mereka. Rasa aman dan nyaman bagi karyawan itu akan meningkat retensi yang baik. Artinya karyawan tersebut akan merasa betah dan memilih bertahan untuk bersama-sama memajukan perusahaan dalam rangka mencapai GOAL perusahaan.

Di tempat saya bekerja, PT Zalora Indonesia, sebenarnya sudah menerapkan konsep differentiated workforce ini. Ciri khasnya adalah pada pola rekrutmen dan cara me-retain karyawannya. Pertama tentang rekrutmen, perusahaan hanya menerima lulusan luar negeri atau lulusan terbaik dari perguruan tinggi dalam negeri untuk posisi manager ke atas. Ini dimaksudkan untuk dapat menerima calon karyawan yg memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang baik. (FYI: semua bentuk komunikasi di manajemen Zalora adalah berbahasa Inggris). Selain itu, konsep yang berbeda dalam perekrutan adalah perusahaan hanya menerima mereka yang benar-benar memiliki passion di bidang fashion, apparel and accessories karena focus bisnisnya memang di bidang itu. Karyawan di sana dituntut tampil stylist dan fashionable setiap hari. Untuk bidang-bidang tertentu, perusahaan juga menerima karyawan dengan latar belakang alumni perguruan tinggi ‘kelas menengah’ namun harus memiliki pengalaman kerja yang cukup baik di perusahaan lain. Kemudian mengenai cara meretain karyawan, Zalora memiliki beberapa motivational program, semacam kegiatan reward and recognition yang dilakukan secara berkala. Kegiatan ini terbukti dapat memberikan dorongan semangat berprestasi bagi sesama karyawan karena dihidupkannya atmosfer kompetisi. Selain itu, di setiap awal tahun, karyawan berkesempatan mendapatkan kenaikan gaji regular dengan angka kenaikan sesuai dengan hasil performance appraisal yang dilakukan oleh masing-masing atasan.

Hal yang mungkin masih kurang di Zalora adalah konsistensi dalam melakukan performance appraisal secara terinci dan mendalam bagi setiap individu. Seharusnya ajang performance appraisal yang dilakukan setahun sekali ini benar-benar dapat memetakan ulang semua intellectual resources yang ada. Tidak hanya sekedar bertujuan untuk mendapatkan angka penyesuaian kenaikan salary. Sehingga proses tour of duty di tahun-tahun berikutnya masih sangat terbuka dan mudah untuk dilakukan sehingga semua posisi nantinya benar-benar diisi oleh orang yang tepat secara skill dan kompetensi dan juga tepat secara emosi karena karyawan itu memang mencintai apa yang dia kerjakan di bidang yang ditunjuk tersebut.

Demikian sekilas penjelasan mengenai konsep differentiated workforce yang saya coba sarikan dari beberapa sumber. Terimakasih J 


2014/05/02

Anda lah Pengendali Kebahagiaan Anda

Ada seorang ibu yang 'curhat' terkait perasaan dan emosional yang dialaminya kepada saya beberapa waktu yang lalu. Yang dia ceritakan adalah sebuah perasaan yang sangat tidak baik baginya. Dan hal ini sudah mengganggunya dalam beberapa tahun terakhir. Praktis, si ibu ini merasa tidak bahagia dalam kehidupannya. Apa sebab? Menurut pengakuannya, sudah dua belas tahun lamanya, beliau dan ketiga anaknya 'ditinggal' tanpa 'kepastian' oleh sang suami. Apakah dicerai? Tidak. Apakah ditelantarkan secara ekonomi? Juga tidak. Apakah benar-benar putus hubungan? Juga tidak. Lalu seperti apa perlakuan sang suami yang dianggap oleh si ibu ini sebagai sebuah 'kezaliman' itu?

Dengan perasaan yang sangat emosional, diiringi dengan beberapa kali isakan dan tarikan nafas yang sangat dalam, si ibu menceritakan kisahnya kepada saya. Semua hal. Semua kelakuan suaminya. Semua penderitaannya. Saya serius mendengarkan. Saya harus serius menyimak, karena juga saya sangat serius untuk membantunya.

Sesi 'curhat' ini saya manfaatkan sebagai sesi utama dalam menggali akar masalahnya. Sesekali saya melakukan teknik interview 'meta-languange NLP'. Ini berguna dalam rangka reframing terhadap suatu hal atau suatu peristiwa. Karena suatu peristiwa yang diceritakan oleh si ibu itu belum tentu sungguh-sungguh seperti itu peristiwa yang sebenarnya. Yang beliau ceritakan sudah bercampur aduk dengan emosinya. Maka, bisa jadi peristiwa yang beliau ceritakan itu tidak lagi 'original'. Sudah banyak 'bumbu-bumbu subjektif' di situ. Kelihaian seorang terapis dalam mewawancara klien sungguh sangat mutlak diperlukan. Karena ini akan sangat menentukan keberhasilan dari sebuah proses terapi itu sendiri.

Setelah merasa cukup di sisi interview ini. Giliran saya yang banyak bicara. Saya mulai dengan penjelasan singkat mengenai hipnoterapi. Proses kerjanya. Manfaatnya. Bagaimana tingkat keberhasilannya, dll. Kemudian saya berikan sebuah 'progressive induction'. Dari sini, secara perlahan klien memasuki alam relaksasinya. Dengan beberapa teknik pendalaman (deepening), saya bantu klien memasuki lebih dalam lagi alam relaksasinya (alam bawah sadar). Sampai benar-benar dalam, barulah therapeutic suggestion-nya saya masukkan satu persatu ke alam bawah sadarnya. Saya berikan banyak sugesti-sugesti positif tentang kebahagian, tentang memaafkan, dan tentang meningkatkan rasa keberanian dalam menghadapi hidup, dan seterusnya, dan seterusnya.....

Singkat cerita. Sesi terapi awal selesai. 120 menit telah berlalu.

'Bagaimana perasaan ibu sekarang?' saya bertanya. Dia menarik nafas, sambil tersenyum. 'Dada saya terasa ringan sekali, sekarang mas'. 'Biasanya selalu sesak. Sesak gak jelas, sekarang sangat lega', katanya melanjutkan. 'Alhamdulillah, berarti ibu benar-benar pada konsentrasi yang sangat tinggi ketika saya berikan sugesti-sugesti positif tadi', kata saya menguatkan. 'Itu artinya, Ibu benar-benar ingin keluar dari masalah ini'. Ibu benar-benar ingin meraih kembali rasa kebahagiaan itu,' lanjut saya. Kini si ibu sudah merasakan emosi yang sangat kuat dari alam bawah sadarnya, bahwa bahagia atau tidak bahagia itu bukanlah kondisi di luar dirinya. Bukanlah sebuah hal yang ditentukan oleh orang lain. Tetapi diri kita sendiri lah yang menjadi pengendali kebahagiaan kita.
 ***
5 hari setelah memberikan sesi hipnoterapi kepada ibu tersebut, saya menerima SMS darinya.  Berikut isinya (asli dari bahasa si ibu): 'Slmt malam pak ferry, saya berterima ksh atas bantuan bpk. skr sy sdh sembuh, saya rasa tidak perlu terapi ke 2, krn sy sudah kuat. kiranya tuhan membalas semua kebaikan bapak. Amin.

Wow, saya senang luar biasa. Terimakasih Allah, Engkau telah jadikan hamba sebagai syari'at untuk kesembuhan seseorang. Saya bahagia sekali. Semakin bertambah pula jumlah klien yang dapat saya bantu, hingga mereka mampu menyelesaikan masalah emosional/pikiran/jiwa-nya sendiri. Saya sebagai fasilitator saja.
Jawaban SMS saya kepada si ibu ketika itu: 'Malam juga bu Reni (bukan nama sebenarnya), Sangat senang mendengarnya. Smg ibu Reni dan anak-anak jauh lebih baik, lebih kuat, dan lebih bahagia dari sebelumnya. GBU. Aamiin.' 


See! Sederhana sekali kan? Ternyata benar, bahagia itu hanya  mengenai persepsi!
***

Jika Anda, atau orang di sekitar Anda juga memiliki masalah emosional / pikiran yang sangat melelahkan dan membuat Anda tidak bahagia, tidak berani menghadapi hidup, selalu gelisah, tidak produktif, selalu malas, dll seperti yang dialami ibu di atas, maka saatnya lah Anda saya bantu melalui sesi hipnoterapi. Mau?

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan temui saya di:
Cellular: 0811-1112-187
(Sementara di area Jabodetabek saja).

2012/03/21

Racun Diri

  1. Racun pertama : Menghindar
    Gejalanya : lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
    Antibodinya : Realitas
    Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

  1. Racun kedua : Ketakutan
    Gejalanya : tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, kesulitan sosial, dll.
    Antibodinya : Keberanian
    Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya,seperti psikiater atau psikolog.

  1. Racun ketiga : Egoistis
    Gejalanya: Nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
    Antibodinya : Bersikap sosial.
    Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

  1. Racun keempat : Stagnasi
    Gejalanya : berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
    Antibodinya : Ambisi
    Cara : Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

  1. Racun kelima : Rasa rendah diri
    Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
    Antibodinya : Keyakinan diri.
    Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

  1. Racun keenam : Narsistik
    Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
    Antibodinya : Rendah hati.
    Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

  1. Racun ketujuh : Mengasihani diri
    Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
    Antibodinya : Sublimasi
    Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.

  1. Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
    Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
    Antibodinya : Kerja
    Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

  1. Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
    Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
    Antibodinya : Kontrol diri
    Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

  1. Racun kesepuluh : Kebencian
    Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
    Antibodinya : Cinta kasih
    Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
*picture is powered by google