"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

Showing posts with label Others. Show all posts
Showing posts with label Others. Show all posts

2020/12/29

BAIKKAH MAKAN PISANG SAAT PERUT KOSONG?

JANGAN MAKAN PISANG SAAT PERUT KOSONG

photo: https://www.indonesia.go.id/
Saya yakin semua kita disini suka makan pisang ya? Apapun jenisnya, buah yang ada disebut dalam al-Qur'an
["Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)." QS Al-Waqi'ah: 29] ini memang luar biasa khasiat dan manfaatnya. Pisang memiliki kandungan karbohidrat dan pottasium dengan jumlah yang terbilang banyak. Buah ini dapat memberi efek mengenyangkan, meredakan demam, bahkan melancarkan sistem pencernaan. Bukan saja karena manfaatnya tersebut, rasanya juga enak dan manis serta memiliki aroma yang lembut membuat penikmatnya tidak pernah bosan dengan buah ini.

Namun, dibalik banyak manfaat pisang tersebut, ada satu hal yang perlu diperhatikan yakni waktu yang tidak tepat untuk mengonsumsinya.

Ternyata, sangat-sangat tidak baik untuk mengonsumsi pisang di saat perut kosong. Memakan pisang dalam keadaan perut kosong bisa mengganggu organ hati karena tingginya jumlah gula alami dalam pisang. Juga Anda akan merasa merasa lemas, mengantuk dan lelah. Pisang bersifat asam yang bisa menyebabkan masalah usus jika dikonsumsi pada saat perut kosong.

Untuk menetralkan asamnya bisa juga makan dengan buah yang ada sifat basanya atau alkali. Di antara buah-buahan yang bersifat alkali ini adalah alpukat, pepaya, semangka, lemon, anggur, kiwi dan kelapa muda.

2020/01/23

Hijrah ke Transportasi Umum


Image may contain: sky, skyscraper, bridge, car and outdoorAda jalur busway yang lancar, tapi banyak penghuni kota ini yang seolah berlomba-lomba memenuhi jalan raya dengan kendaraannya masing-masing. Tumpah ruah lah kendaraan roda 4 di jalanan. Macet!

Pengen disebut kaya? Have people? I think that's not a good way to show your wealthy.

Kota-kota di negara maju yg penduduknya lebih sejahtera dan 'have more' malah lebih sadar dengan kebermanfaatan public transportation demi kenyamanan kotanya.

Hijrah yuk!



Alhamdulillah saya sendiri sudah 5 tahunan lebih markirin mobil Senin-Jumat di garasi rumah (kecuali hujan deras dan benar2 urgent). Nyaman-nyaman aja tuh. Tinggal membiasakan aja. Plus sedikit mindset changing. Yuk!
.
Sekarang pilihan transportasi umum dah makin bervariasi. Ada KRL, MRT, ada bus TJ yg rutenya terus bertambah, ada moda transportasi feeder dari kota-kota satelit, bahkan ada mobil omprengan ala-ala nebengDOTcom yg bisa dipilih sesuai kemauan dan kemampuan. Hehe. Oh ya, bentar lagi juga bakal ada LRT JaBoDeBek.
.
Jadi teringat konsep merubah bangsa ala Aa Gym:
1. Mulai dari hal-hal yang kecil.
2. Mulai dari diri sendiri.
3. Mulai dari saat ini!
Bismillah!
.
#guratanSore #fersus #jakarta #transjakarta #jakartatraffic #jakartamajubersama
*foto istimewa, Jan 2020.

2019/07/24

Apa Itu 'Happy Hump Day'?

*powered by google
Mungkin sobats pernah dengar istilah ini kan ya? Hump day. Umumnya, penutur bahasa Inggris (English speakers) utamanya di United States menyebutnya dalam kalimat sapaan pendek. Contohnya seperti 'Happy Hump day, friends!'. Pernah menemukan sapaan begitu gak di tempat kerjanya? atau di sekolahannya? atau dimana aja kek. 😃

Kalau sobats perhatikan, kalimat begitu pasti selalu keluarnya di hari Rabu lho. Emang iya? Gak bisa diucapin di hari lain? Apa hubungannya emang dengan hari Rabu? Emang artinya apa? Yuuk kita urai di bawah. beeuh urai bo. :D


*from pinterest.com
Jadi 'Hump day' itu sesuai dengan namanya ya memang hari Hump. Tau kan hump itu apa? Kata dari bahasa Inggris ini artinya 'punuk'. Nah apa lagi tu? Punuk unta maksudnya. Bagian punggung unta yang menaik itu lho. Dinamakan hari punuk alias hump day karena Having made it through Monday and Tuesday, many people need a little extra motivation to get to the weekend, and use the term 'hump day'. Maksudnya, Setelah melewati hari Senin dan Selasa, banyak orang memerlukan sedikit motivasi ekstra untuk mencapai akhir pekan, dan menggunakan istilah 'hari punuk'. Jadi hari yang 'menaik' gitu lho. 

Sepertinya Rabu itu benar-benar hari yang ditunggu karena setelah itu ada Kamis, Jum'at deh, selanjutnya weekend alias akhir pekan sudah terbayang.

Mengapa hari Rabu itu 'Hump Day'?
Ini tidak mengherankan - Rabu adalah hari pertengahan di antara lima hari kerja dari Senin sampai Jum'at, jadi jika sobats mendaki bukit, itu akan menjadi bagian tertinggi. Bagian punuk-nya, begitu.


Hari pertengahan minggu dapat dikaitkan dengan kurangnya ambisi atau motivasi, tetapi begitu melewati 'punuk' hari Rabu itu, Sobats sedang dalam perjalanan yang mudah menuju akhir pekan, sehingga tidak heran orang-orang menjadi bersemangat. Bayangannya udah besok lusa Thanks God It's Friday, akhir pekan deh, saatnya kumpul bareng keluarga, sodara atau teman-teman. Asyeek...

Sederhana kan penjelasannya sobs? Jadi mulai sekarang gak bingung lagi kan dengan istilah hari punuk a.k.a Hump Day itu. 

Semoga bermanfaat ya sobs.

2019/07/22

Arti dan Kepanjangan TWITTER

Selamat siang sobat FerSus!

It has been long long time for me not updating this blog. Kangen juga. Setelah di 2018 gak ada satupun postingan, dan hingga pertengahan tahun ini juga masih kosong. Baru akhir Juni kemarin aja saya mulai update lagi. Itupun sharing tulisan aja dari sumber lain. Terlaaaaluu.

Well, kalo begitu saya mulai lagi deh commited to post at least 1 postingan satu bulan. Bismillah!

Kita mulai dengan tulisan ringan dulu aja ya.
Ini bisa official emang seperti itu, atau bisa juga kebetulan belaka. So kategorinya 'Not verified' sih. Ngomogin apa sih ini FerSus? Itu lho, judul tulisan ini: Arti dan Kepanjangan TWITTER.

Sobats pasti sudah gak asing dengan TWITTER dong. Microblogging buat nge-twit atau nge-'cuit' itu lho. Khasnya adalah jumlah karakter yang minim alias terbatas. Dulu kan benar-benar dibatasi ya karakternya. Cuman 140 karakater aja. Jadi untuk membuat sebuah cuitan, perlu pandai-pandai memadatkan idenya dalam sebuat kalimat super simple. Disitu letak tantangannya. Tapi kemudian pembatasan karakter ini diakhiri juga oleh pihak Twitternya. Tepatnya mulai September 2017 yang lalu, ciri khas 140 karakter itu mereka rubah menjadi 280 karakter. Keputusan ini sontak disambut riang gembira oleh para pengguna Twitter seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia yang penggunanya memang luar biasa banyaknya. But this short article ini bukan untuk bahas itu ko. :)

Back to the tittle!
Sesuai dengan namanya 'TWITTER', berasal dari kata TWIT (English) yang artinya dalam Bahasa Indonesia adalah berkicau. Kata berkicau memang identik dengan suara burung kan?  No wonder then pihak perusahaanya menggunakan 'burung' sebagai icon/logo perusahaan mereka. Twit artinya berkicau, maka 'Twitter' adalah subjeknya, pelakunya, yaitu orang yang berkicau tersebut. Berkicau disini diartikan sebagai ungkapan untuk menyampaikan ide-ide sederhana, singkat, to the point!

But, selain pengertian di atas FerSus pernah menemukan juga ada penjelasan lain. Tampak benar juga penjelasannya. Twitter itu ternyata ada kepanjangannya lho. Apa itu?
To.Write.I'm.Thinking.To.Everyone.Reading 
yang Dalam bahasa Indonesia kurang lebih bisa diartikan, "Menulis apa yang saya pikirkan untuk semua orang yang membacanya." Pas juga ya? Meski demikian, kalau kita cek di laman resmi mereka, tidak ada kok penjelasan begitu. Hehe.

Demikian. Tetap semangat! :)




   

2019/06/27

5 Cara Dapatkan Pekerjaan Tanpa Apply

Di saat banyak orang merasa kesulitan dalam mencari lapangan kerja, sebagian lainnya terlihat cepat dan mudah mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tanpa perlu menyebarkan resume atau CV. Mungkin kamu pun bertanya-tanya, apa strategi mereka sehingga bisa beruntung mendapatkan pekerjaan tanpa ribet?
Tentunya ada beberapa trik yang jarang diketahui orang lain. Berikut ini beberapa trik yang bisa kamu tiru agar bisa mendapatkan kesempatan kerja tanpa kerja keras.

1. Buat profil LinkedIn lebih menarik

Di era digital ini, umumnya perekrut atau HRD akan menjadikan LinkedIn sebagai salah satu sarana dalam mencari kandidat. Oleh karena itu, cara dapat kesempatan kerja yang pertama adalah dengan mempercantik tampilan profil LinkedIn-mu.
Mulailah dengan membuat foto profilmu nampak profesional, lalu buat deskripsi singkat serta jelas mengenai dirimu, dan kemampuanmu pada bagian headline.
Hal ini dapat membantu perekrut dalam mengenali kemampuanmu tanpa harus menghabiskan banyak waktu membaca detail profilmu. Biasanya, jika perekrut tertarik, mereka akan langsung menghubungimu via pesan di LinkedIn.
Selain itu, jangan lupa untuk mencantumkan pencapaianmu selama bekerja, sertifikat, dan kontribusi lainnya baik di dalam perusahaan, maupun di luar perusahaan. Pastikan kamu terus memperbarui pencapaianmu di LinkedIn dapat memberikan nilai tambah untukmu.

2. Bergabunglah dengan komunitas atau grup profesional

Setelah memiliki akun LinkedIn, cobalah untuk bergabung ke dalam komunitas atau grup profesional. Kamu bisa memilih grup yang sesuai dengan bidang yang kamu minati. Misalnya, jika kamu seorang Software Engineer, kamu bisa bergabung dengan komunitas Software Engineer, dan sebagainya.
Selain dapat bertukar informasi dengan sesama anggota, baik informasi mengenai perkembangan bidang tersebut, maupun informasi lowongan pekerjaan, beberapa perekrut juga terkadang mencari kandidat di dalam komunitas ini. Dengan begini, kamu tidak perlu kerja keras untuk mendapat kesempatan kerja.
Jadi, tentu tidak ada salahnya untuk bergabung di komunitas bukan?

3. Perhatikan juga media sosial lainnya

Setelah menemukanmu di LinkedIn, beberapa perekrut mungkin akan melihat media sosialmu. Tujuannya adalah untuk mengira seperti apa karaktermu. Pasalnya, beberapa perekrut percaya bahwa media sosial dapat menjadi perwakilan diri seseorang. Oleh karena itu, perhatikan juga media sosialmu seperti Facebook, dan Instagram.
Mulailah merapikan feed Instagram, dan Facebook milikmu. Selain di LinkedIn, kamu juga bisa mencantumkan pencapaianmu di media sosial. Misalnya, jika kamu mendapatkan penghargaan sebagai karyawan teladan, atau kamu mendapatkan sertifikat untuk keahlian tertentu.

4. Bangun citra dirimu melalui konten

Selain dengan memastikan bahwa feed Instagram, Facebook, dan LinkedIn rapi, cobalah untuk lebih aktif dalam menyuarakan pemikiranmu. Kamu bisa membahas beberapa topik yang berhubungan dengan industri yang kamu minati, atau posisimu saat ini. Dengan begini, kamu akan membuat perekrut tertarik untuk menghubungi, dan bekerja sama denganmu.
Misalnya, jika kamu seorang Software Engineer, kamu mungkin dapat menuliskan pemikiranmu serta informasi terbaru yang berhubungan dengan perkembangan dunia industri ini.

5. Daftar kerja melalui talent marketplace

Selain melalui media sosial seperti Linkedin, situs talent marketplace saat ini juga menjadi alternatif dalam mendapatkan kesempatan kerja. Para talent yang mendaftar ke dalam situs ini akan mendapatkan kesempatan untuk direkrut oleh perusahaan berdasarkan kriteria.
Kelebihan daftar kerja melalui talent marketplace adalah kamu tidak perlu kirim CV ke sana-kemari lagi. Cukup mendaftarkan dirimu dengan menggunakan akun LinkedIn, lalu kamu akan dihubungi melalui email atau telepon untuk proses interview saat perusahaan yang tepat telah menemuimu.
Kamu juga tidak perlu khawatir mendapatkan tawaran kerja palsu, karena selayaknya marketplace, baik kandidat maupun perusahaan yang bergabung di situs ini sudah melalui proses verifikasi terlebih dahulu. 

Cara baru dapat kerja dengan EKRUT

Sebelum mendaftar ke situs talent marketplace, tentu kamu juga perlu memastikan bahwa situs tersebut terpercaya, bukan? Tak perlu bingung, EKRUT bisa menjadi pilihanmu. Kenapa? Karena selain terpercaya, beberapa perusahaan ternama juga telah bergabung dengan EKRUT.
Sebut saja Traveloka, JD.id, Home Credit Lemonilo, Jenius, IDN Media, Coca Cola, Toshiba, Kalbe Farma, Kopi Kenangan, Inspigo, dan beragam perusahaan besar lainnya sudah bergabung dengan EKRUT.
Dengan kemampuanmu serta melakukan beberapa langkah di atas, tentu tidak menutup kemungkinan kamu akan dapat kesempatan kerja dengan mudah, bukan? Yuk, mulai daftarkan dirimu di EKRUT dengan klik link di bawah ini.
Cari kerja jaman sekarang, enggak perlu kerja keras. #byebyeapply
Artikel asal diambil dari link INI.
*Image is from Here.

2017/12/22

TENTANG PERINGATAN HARI IBU

KITA PERLU TAHU! Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yg menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Tanggal itu dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Diperingati sebagai ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, 22-25 Desember 1928.
Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.
Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.
Beberapa pidato yang dibacakan oleh tokoh-tokoh perempuan pada saat Kongres:
  1. "Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian", oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati)
  2. "Deradjat Perempoean", oleh Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta)
  3. "Perkawinan Anak-Anak", oleh Saudari Moegaroemah (Poeteri Indonesia)
  4. "Kewadjiban & Tjita-Tjita Poeteri Indonesia", oleh Saudari Sitti Soendari
  5. "Bagaimanakah Djalan Kaoem Perempoean Waktoe Ini & Bagaimanakah Kelak", oleh Saudari Tien Sastrowirjo
  6. "Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga", oleh Saudari R.A. Soekonto (Wanita Oetomo)
  7. "Hal Keadaan Isteri di Europah", oleh Ny. Ali Sastroamidjojo
  8. "Keadaban Isteri", oleh Nyi Hajar Dewantoro
Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.
Jadi hari ibu yg dimaksud disini adalah peringatan atas perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia, bukan spesifik hari ibu yg melahirkan kita ya, seperti banyak yg disalahpahami oleh manusia zaman now. Jangan sampai salah kaprah. Hari ibu yg mrlahirkan kita adalah SETIAP HARI, SETIAP SAAT.
Demikian.
#fersus from any sources.

*Photo is powered by Google

2015/10/09

Hari pelanggan, manajemen Zalora jadi kurir

JAKARTA. Dalam menyambut Hari Pelanggan Nasional 2015 yang jatuh pada 4 September 2015, Zalora Indonesia membuat program bertajuk “special delivery”.
Di program ini, manajemen Zalora “bertugas” menjadi kurir dan mengirimkan produk yang dipesan konsumen. Pengiriman langsung oleh manajemen ini dilakukan selama dua hari, yakni  Kamis (3/9) dan Jumat (4/9). 
Untuk hari Kamis (3/9) yang mengirimkan pesanan pelanggan adalah Feri Susanto, Head of Customer Service Zalora Indonesia. Sedangkan, “Untuk hari Jumat (4/9) pengiriman dilakukan oleh Head of Marketing Zalora dan CEO Zalora yang baru,” kata Wafi Dirayati, Public Relation Officer Zalora, Kamis (3/9).
Anthony Fung, Managing Director Zalora Indonesia menambahkan, program ini digelar sebagai rasa terima kasih Zalora atas dukungan setia para pelanggan. Untuk itu Zalora berupaya untuk terus menjalin hubungan baik dengan konsumen.
Menurut Antony, Zalora terus meningkatkan layanan dan kemudahan dalam berbelanja online. Misalnya, kemudahan pelanggan dalam proses pengembalian dan penukaran barang yang dapat dilakukan dalam waktu 30 hari setelah order diproses.

Selain dari sisi layanan, Zalora juga terus menambah variasi produknya. Saat ini, koleksi produk Zalora sudah mencapai lebih dari 70.000 produk pakaian, sepatu, tas, aksesoris, busana muslim, hingga kosmetik.
Saat ini, kata Anthony, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang atau sekitar 30% dari total penduduk. Dengan pasar sebesar itu, Zalora melihat potensi pasar belanja online yang sangat besar.
Editor: Hendra Gunawan. 




2015/04/07

KRITIK DI SOSIAL MEDIA ITU TIDAK PERCUMA!


Hasil gambar untuk social media power
Pasti pernah menerima pernyataan sinis berikut ini kan:

-Ngapain capek-capek kritik, teriak-teriak di facebook? Percuma!
-Percuma kalo ngomong doang di facebook mah, gak akan didengar!
-Aksi nyata dong, jangan cuman di sosmed!
-Demo aja kalo berani, ngapain cuap cuap doang di sosmed!

Setelah membaca beberapa fakta di akhir tulisan ini, Anda akan tercengang. Bahwa the power of social-media itu nyata adanya. Bukan angin lalu saja. Dalam dunia politik, sudah ada beberapa kekuasaan yang tumbang dan terjungkal dibuatnya.

Memang, kalau hanya sekedar tulisan tidak akan berpengaruh apa-apa. Masalahnya adalah, kekuatan opini yang terbentuk di social media (dunia maya) itu menjadi pemicu yang sangat kuat dalam aksi di dunia nyata.

Secara ilmiah, apa yang saya sampaikan di atas diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan oleh facebook. Dalam riset yang berjudul ‘A 61-million-person experiment in social influence and political mobilization’ itu terlihat betapa kuatnya hubungan antara opini social media dengan opini di real-world.

Secara umum, hasilnya sebagai berikut:
  1. Kampanye yang memanfaatkan jejaring sosial lebih berpengaruh daripada kampanye yang hanya fokus pada penyampaian informasi atau konten saja.
  2. Penyebaran perubahan perilaku cenderung terjadi antar teman dekat yang mungkin dibarengi dengan interaksi tatap muka.
  3. Mobilisasi politik di ranah online memiliki efek nyata di ranah offline.
Saya akan beri beberapa contoh / fakta yang lebih nyata tentang hasil peneilitian [nomor tiga] di atas.
  1. Revolusi di Tunisia [2010-2011] berhasil menumbangkan rezim Presiden Ben Ali, digerakkan awalnya oleh konsolidasi aktivis di facebook dan twitter.
  2. Revolusi di Mesir awal 2011, berhasil menumbangkan Hosni Mubarak, juga dibantu dengan jalur media alternative, youtube, facebook dan twitter. Di social media pula para aktivis membuat janji untuk rapat akbar di Tahrir square.
  3. Susilo Bambang Yudhoyono keok dalam polemik UU Pilkada [September 2014] setelah diserang dengan tagar #ShameOnYouSBY di facebook dan twitter.
  4. Jokowi berpikir ulang untuk mengajukan Budi Gunawan menjadi kapolri setelah dihantam serangan di twitterland dengan tagar #ShameOnYouJokowi.
  5. BNPT dan kominfo menjadi ambil langkah tak jelas dalam rencana memblokir beberapa situs Islam setelah mendapat serangan tagar #KembalikanMediaIslam. [Maret 2015]
  6. Jokowi mencabut perpres bantuan uang muka mobil pejabat, setelah dikritik habis-habisan di social media. [April 2015]
  7. dan lain-lain.
Masih menganggap sos-med ini hanya sekedar mainan yang tak berguna untuk merubah kekuasaan? No way, ini adalah channel yang dahsyat untuk menyuarakan isi hati mu, kawan!

Keep posting in positive spirit for Indonesia.

#FerSus

2015/03/05

Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia

Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak. Tentang sebuah perampokan dan penipuan yang dilakukan oleh IMF, PBB, dan negara-negara kapitalis. Tentang sebuah kebodohan besar yang dilakukan para pejabat Indonesia . Poor Timor Timur, poor Indonesia … Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.

Oleh: Kafil Yamin


Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1991. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia . Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu. Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank

Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim. Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di  banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia . Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia . Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia . Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia . Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia , hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia . Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia , demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat  duduk saya; duduk  dekat saya dan mengeluarkan rokok . Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya. “Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat. Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu. “Panggil saja saya Laffae,” katanya. “Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran. “ Timor . Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya. Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya. Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran. “Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang. Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas. Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

(2) Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok . Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius. Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota . Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia , yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi . Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan. Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi. Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia . Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya: “Kafil, we can’t run the story,” katanya. “What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi. “We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya. “That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi. “Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?” “Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,” “I think  we still can run the story but we should change it.” “ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan. Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

(3) Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanya kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia : “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Bunda Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.  Indah. Sangat indah. Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia . Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali ke penginapan, saya bertemu lagi dengan Laffae. Kali ini dia mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap rokok dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi sambil menikmati kopi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi.  Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan .

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen. Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, segar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal. “Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia . Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. Saya bilang ke Prabandari:  “Saya bertahan. Tinggalkan saja saya.” Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya. Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung. “Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan. “Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan. “Saya perlu lima ribu,” kata Laffae. “Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya. “Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana . Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi. Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur. Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

(4) Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan. Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua.

Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya. Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..” Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana . Itu pernah diucapkannya kepada saya. Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana. ***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 November, 1999, saya mendarat di Jakarta . (5) Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili. Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia . Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia .” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia . Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta , kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung . Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung . Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

(6-akhir) 12 tahun beralu sudah. Apa kabar bailout IMF yang 43 milyar dolar itu? Sampai detik ini, uang itu entah di mana. Ada beberapa percik dicairkan tahun 1999-2000, tak sampai seperempatnya. Dan tidak menolong apa-apa. Yang terbukti bukan mencairkan dana yang dijanjikan, tapi meminta pemerintah Indonesia supaya mencabut subsidi BBM, subsidi pangan, subsidi listrik, yang membuat rakyat Indonesia tambah miskin dan sengsara. Anehnya, semua sarannya itu diturut oleh pemerintah rendah diri bin inlander ini.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat. Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. Kenapa mau melepas Timtim dengan imbalan utang? Bukankan semestinya kompensasi? Adakah di dunia ini orang yang hartanya di beli dengan utang? Nih saya bayar barangmu. Barangmu saya ambil, tapi kau harus tetap mengembalikan uang itu. Bukankah ini sama persis dengan memberi gratis? Dan dalam kasus ini, yang dikasih adalah negara? Ya , Indonesia memberi negara kepada IMF secara cuma-cuma.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang. Sampai hari ini Indonesia masih menyicil utang kepada IMF, untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan. Saya harap generasi muda Indonesia tidak sebodoh para pemimpin sekarang. (27 Januari 2011).

2015/02/13

Monkey Business!

Di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dgn harga 50rb/ekor. Padahal monyet disana sama sekali tidak ada harganya karena jumlahnya yg byk & kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan. Para penduduk desa yg menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan menangkapinya satu persatu. Kemudian si org kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga 50rb.

Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya utk menangkapi monyet-monyet tsb. Maka si org kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga 100rb/ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat & "angin segar" bagi penduduk desa untuk krmudian mulai utk menangkapi monyet lagi.

Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari & semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani. Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga 150rb/ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari. Sekali lg si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahws ia akan membeli monyet dgn hrg 500rb/ekor!

Kemudian, karena si orang kaya harus pergi ke kota untuk urusan bisnis, maka asisten pribadinya menggantikan sementara atas namanya. Dengan tiada kehadiran si org kaya, si asisten pun berkata pd penduduk desa: "Lihatlah monyet yg ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga 350rb/ekor dan saat si org kaya kmbali, kalian bs menjualnya kembali ke si orang kaya dgn hrg 500rb gmn?" Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereks & membeli semua monyet yg ada di kurungan.

Namun...Kemudian... Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu! Inilah yang dikatakan orang "Monkey Bussiness"! Jangan terjebak oleh "Monkey Business", seperti 'pohon Anthorium', 'gelombang cinta', ikan Lohan dan skrg 'BATU AKIK'!
*by anonymous broadcaster