"Mulai dengan Bismillah, Luruskan Niat. Allah Maha Melihat!"

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

2014/08/04

BEBERAPA AYAT TENTANG SYUKUR



Dan jika Kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya Kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Annahl [16];18).

Di ayat lain:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebutnya-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS.Aldhuha [93];11).

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"(.QS.IBrahim 14 :7)

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)

Relevan dengan pembahasan 'syukur' adalah 'ni'mat'. Maka sungguh tidak terhitung ni'mat yang kita telah terima dari Allah SWT. Jika kita merasa bahwa ni'mat itu hanya sedikit dan bahkan merasa kekurangan terus, itu tandanya bibit-bibit kufur ni'mat sudah menjangkiti hati. Na'udzubillah. FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN" Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan".

Berulang kali Allah memberi peringatan kepada kita, seperti yang tertera dalam surat Ar-rahman di atas. Bahkan tidak hanya sekali dua kali, tapi sampai 30 kali Allah SWT mempertanyakan sikap syukur kita dalam surat yang sama itu: Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan"?

Semoga Allah SWT menguatkan hati-hati kita untuk senantiasa menjadi pribadi-pribadi yang pandai bersyukur. Aamiin.

2014/06/25

Mengapa Muhammadiyah Memakai Hisab?

Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab (perhitungan) terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat (melihat) dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.
Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal,yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak ( posisi Bulan-Bumi-Matahari segaris lurus), ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi (tidak kenal baca tulis) dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskanoleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”..Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika  ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab,maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahl ihisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebu tbahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu iron ibesar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpaduyang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zamantengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi  di Makkah belum terjadi rukyat sementaradi kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu haridengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita memegangi hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir alKhittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.

Diambil dari Link Ini

2013/12/31

Tanggal Berapa Anda Lahir dalam Kalender Islam?

Catatan ini merupakan salah satu ajakan yang saya terima dari seorang ustadz untuk senantiasa mencintai kehidupan dengan nuansa dien-Islam. 'InsyaAllah. Sedikit-sedikit dan perlahan saja', ajaknya. Mudah-mudahan Allah SWT menguatkan kita untuk senantiasa istiqomah dalam mempelajari dan menerapkan ilmu-ilmu Islam. Selain itu, catatan kali ini juga terinspirasi oleh gegap gempitanya ucapan selamat tahun baru 2014 yang akan dirayakan oleh manusia penghuni planet Bumi malam nanti. Termasuk juga oleh sebagian besar umat Islam.

Betapa tidak terinspirasi, pada saat menghadiri renungan awal tahun 1435 H sekira dua bulan yang lalu di masjid dekat kantor, saya dan juga para hadirin lainnya begitu tersentak atas pertanyaan sederhana ustadz ketika itu.

Pertanyaannya seperti ini:
-Tanggal berapa Anda lahir?
-Tanggal berapa hari pernikahan Anda?
-Tanggal berapa anak pertama anda lahir? Anak kedua, dst?
-Tanggal berapa Anda wisuda? dst.

Sebagian besar hadirin dapat menjawabnya dengan seketika. Spontan. Tidak perlu mengingat lama. 18 Februari, 27 November, 13 Desember, dan lain-lain.

Selanjutnya sang ustadz mengajukan pertanyaan yang sama, tapi hadirin harus menjawabnya dalam perhitungan kalender Islam. Ya, kalender Hijriyah. Sontak semua terdiam. Hening. Tak ada yang ingat. Atau bisa jadi tak ada yang ingin mengingatnya. Duh!

'Nah, inilah masalah kita', ujar pak ustadz. Mengingat kejadian penting dalam hidup kita atau pun kejadian penting dalam level nasional dan internasional pada kalender / penanggalan Masehi itu tidak salah. Boleh, toh sudah menjadi 'konsensus' internasional. Tapi jangan lupa, bahwa Islam juga memiliki penanggalannya sendiri. Sungguh ironis, jika kita mengaku Islam tapi lupa kalau kita punya penanggalan Islam. Serta lebih ironis lagi jika pura-pura melupakannya.

Sekarang kita coba yuk, apakah sahabat masih ingat nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah? Lupa? Tidak masalah. Tapi janji ya, mulai sekarang kita akan terus mengingat dan menghapalkannya.

Yuk, kita ingat kembali. Total dalam satu tahun Hijriyah, ada 12 bulan. Sama saja dengan jumlah bulan pada penanggalan Masehi atau Miladiyah. Setiap bulannya (Hijriyah) terdiri dari dari 29 atau 30 hari. Hanya ada dua kemungkinan. 29 atau 30, pasti itu saja. Tidak akan kita temukan adanya jumlah hari 28 ataupun 31 dalam 1 bulan Hijriyah. Inilah salah satu perbedaan Hijriyah dengan Masehi. Perbedaan berikutnya adalah sistem perhitungannya. Tahun Masehi didasarkan pada proses berputarnya bumi terhadap matahari (solar). Sedangkan penanggalan Hijriyah berdasarkan perputaran bulan (lunar).

Berikut ini adalah nama- nama bulan dalam kalender Hijriyah:
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi'ul Awal
4. Rabi'ul Akhir (Rabi'ussani)
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir (Jumadissani)
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10.Syawal
11. Dzulqa'idah
12. Dzulhijjah

Mudah-mudahan dengan tulisan singkat ini membuat kita cinta pada penggunaan kalender Islam. Tipsnya, catatlah kejadian-kejadian yang menurut kita penting dalam dua versi. Misalnya tanggal lahir anak pertama adalah 27 November 2007, itu bertepatan dengan 17 Dzulqa'idah 1428 H.Dan lain-lain.

Di sini saya sertakan juga aplikasi konversi tanggal masehi ke tanggal Hijriyah. Sehingga sahabat semua dapat mengetahui tanggal-tanggal dalam Hijriyah pada tahun berapapun (lebih kurang dalam 100 tahun). Dengan menggunakan aplikasi ini tidak perlu repot lagi harus menyimpan kalender cetak bertumpuk-tumpuk. Aplikasinya sendiri sudah saya simpan pada halaman depan blog ini dengan judul menu 'ISLAMIC CALENDAR CONVERTER'.

Petunjuk Pencarian:
Sahabat tinggal klik pada tanggal, bulan, dan tahun yang diinginkan (Masehi-nya), dan tanggal Hijriyah-nya pun akan muncul otomatis setelah menekan tombol 'CONVERT', seperti terlihat pada gambar di samping.

Jika sahabat juga berminat mencoba silakan langsung meluncur ke tautan berikut.


Terimakasih telah berkenan menyimak.
Semoga bermanfaat!




2013/12/23

Di Australia, Polwan Muslimahpun Boleh Berjilbab


Polisi Wanita (Polwan) Muslimah Australia yang mengenakan hijab (jilbab). (Foto: Mais Zaher)Gonjang ganjing boleh tidaknya Polisi Wanita (Polwan) berjilbab di negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di jagad raya, Indonesia tercinta, menemukan secercah harapan sejak pernyataan Kapolri yang baru, Jenderal Polisi Sutarman, yang mengizinkan para polwan muslimah mengenakan jilbab sesuai dengan syariat agamanya, maka kita lihat berbondong-bondonglah para Polwan muslimah tersebut mengenakan jilbab sebagai bagian dari syariat agama yang diyakininya.

Di tengah euphoria yang dirasakan dan dirayakan oleh saudari muslimah kita yang Polwan itu, tiba-tiba beredarlah Telegram Rahasia (TR)  yang memerintahkan para polwan muslimah tersebut untuk menunda mengenakan jilbab.

Telegram  yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Oegroseno  yang sifatnya rahasia dan hanya untuk  kalangan internal polri tersebut akhirnya bocor dan menjadi konsumsi publik.
Komitmen Polri pun dipertanyakan banyak pihak karena seolah Polri telah menelan ludah yang sudah dikeluarkannya. TR yang bocor dan beredar melalui berita-berita online itu tentu telah mengangetkan pihak yang bermain rahasia.

Tapi dibalik kekagetan polri itu sebetulnya ada satu pelajaran khusus (hikmah) yang bisa mereka petik dengan TR yang telah mencoreng muka mereka sendiri sebagai institusi yang katanya pelindung masyarakat itu.

Mereka sepertinya harus mengingat-ingat dan belajar Al Qur’an Surat Al-Anfaal ayat 30 yang sebagian ayat terakhirnya berbunyi (dalam ejaan latin), wayam kuruuna wayam kurullahu wallahu khairul maakiriin. Artinya “… mereka memikirkan tipu daya (makar) dan Allah menggagalkan tipu daya (makar) itu”. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan tipu daya yang lebih hebat dari yang mereka pikirkan.
Pelajaran lain buat Polri dari kasus bocornya TR ini adalah supaya ke depan Polri bisa lebih bijak dalam melangkah dan bereaksi. Tidak reaktif yang akhirnya kontra produktif. Setelah kejadian bocornya TR tersebut ada beberapa berita online yang menunjukkan bahwa Polwan muslimah di Inggris dan Kanada ada yang mengenakan jilbab ketika bertugas. Bila tidak ingin terlalu jauh melihat ke Inggris dan Kanada, maka Polri bisa melihat dan belajar dari negara tetangga, Australia,  yang membolehkan polisi muslimah mengenakan jilbab saat dinas.

Foto yang ada di tulisan ini adalah bukti bahwa kebebasan menjalankan syariat agama di negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama (agnostik) seperti Australia pun membolehkan Polwan muslimah berjilbab saat berdinas. Bila kita ke airport di negara bagian Western Australia misalnya, jangan kaget juga kalau petugas imigrasi muslimah di bandara ada yang berjilbab.Pada akhirnya Polri juga harusnya bisa belajar memahami bahwa Indonesia  yang mayoritas penduduknya muslim ini sedang mengalami kebangkitan dalam memahami dan mengamalkan agamanya dan akan kontra produktif bila Polri menjadi barisan penghambat kebangkitan umat Islam di negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di planet bumi ini. (nh/sbb/dakwatuna)

Bila tidak ingin terlalu jauh melihat ke Inggris dan Kanada, maka Polri bisa melihat dan belajar dari negara tetangga, Australia,  yang membolehkan polisi muslimah mengenakan jilbab saat dinas.

Sumber: Klik Disini

Gelandang Arsenal Ini Hafal 19 Juz Alquran

Gelandang Arsenal, Abou Diaby menunjukkan jersey Arsenal miliknya untuk dilelang dalam acara malam amal untuk Muslim Rohingya, yang digelar London Muslim Center. (rohingyablogger.com / ROL)Gelandang Arsenal dan Timnas Prancis, Abou Diaby dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim. Yang mengagumkan, ia ternyata juga seorang hafiz alias penghafal Al-Quran.


Dalam akun twitter, salah satu pengajar Ebrahim Collage di London, Mufti Muhammad, @Mufti_Muhammad_ terungkap kalau mantan gelandang Auxerre itu hafal 19 juz Al-Quran. Bagi Diaby, kunjungan ke Ebrahim Collage adalah hal biasa. Sebab ia merasa nyaman berada dalam komunitasnya.
“In conversation with Arsenal Footballer Abu Diaby @ Ebrahim college dinner tonight, who’s memorised 19 ajza of Qur’an! (Dalam perbincangan dengan pemain Arsenal Abu Diaby di Ebrahim Collage pada momen makan malam, siapa yang hafal 19 juz Al-Quran,” sentil Mufti Muhammad kepada Diaby.

Diaby juga disebut-sebut sebagai salah satu donatur tempat sekolah Islam terkenal di Ibu Kota Inggris itu. Di Ebahim Collage juga mendidik dan membimbing mualaf yang ingin mengenal lebih jauh ajaran Islam.
Ia juga aktif di berbagai acara sosial, seperti malam amal untuk etnis Muslim Rohingnya. (Karta Raharja Ucu/Erik Purnama Putra/ROL)

Sumber: Klik Disini

2013/11/07

1 Muharram 1435 H.

Assalamu'alaikum wr wb.
Selamat pagi bapak, ibu, sdr/-i semua.

Momen yang kita (kaum muslimin) peringati hari ini sebagai hari pertama dalam kalender Islam adalah titik mula yang dicatat oleh sejarawan sebagai kebangkitan penyebaran Islam di masa awal.

1 Muharram di tahun 1 Hijriyah, adalah hari hijrahnya Rasulullah SAW beserta para sahabat dari Makkah.

Saat halangan, hinaan, caci-maki, bahkan ancaman pembunuhan terus berlangsung di awal penyebaran Islam di Makkah, nabi Muhammad SAW dengan bimbingan wahyu memutuskan untuk berhijrah. Hijrah pertama ke Ethiopia atau Habasyah. Setelah itu, hijrah dengan rombongan yang lebih banyak ke Yatsrib. Waktu hijrah ke Yatsrib inilah yang disebut sebagai awal tahun hijriyah/Hijrah. Ada beberapa versi, namun hal inilah yang paling masyhur dalam sirah kenabian.

Keberanian untuk hijrah bukan karena alasan takut dibunuh, ditindas, atau lainnya. Tetapi lebih karena alasan tercapainya tujuan yang lebih besar.

Pada kondisi sosial kontemporer kita, konsep hijrah telah bertransformasi dalam berbagai hal. Bisa berupa alasan mencari pendidikan, kekayaan, ketenaran, kesejahteraan, dan hal lainnya. Tinggal tentukan niat kita, apakah semata demi 'dunia' atau niat karena taqarrub ilallah'. It's our choice!

Selang beberapa tahun hijrah, setelah begitu banyak peristiwa yang dialami oleh baginda Rasulullah SAW dan para sahabat di Yastrib, Rasulullah dan rombongan kembali lagi ke Makkah untuk menaklukkannya. Persiapan dan perencanaan yang matang ditambah dengan kerja keras, kerja cerdas dan minta kekuatan dari Allah SWT, proses penaklukan kembali kota Makkah ini dicapai dengan hasil yang gemilang. Peristiwa inilah yg kita kenal sebagai 'fathul Makkah'.

Bagaimana dengan hijrah kita hari ini? Atau pertanyaan yg lebih mendasar lagi: 'Apakah kita sudah hijrah?' Jika sudah, apakah hijrah kita sudah menuju ke arah yg lebih baik dan dengan niat ibadah kepada Allah SWT?

Semoga spirit hijrah demi cita-cita yang lebih baik dan hasil yg lebih gemilang ini senantiasa tertancap dalam sanubari. InsyaAllah!

Selamat merayakan tahun baru Islam, 1 Muharram 1435 H.

Salam,

Feri S.
221A8441

2013/10/08

Cara Meraih Cinta Allah SWT

Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab bila kita sudah menjadi kekasih-Nya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa kita gapai dengan mudah. Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menggapai cinta-Nya, namun karena keterbatasan lahan, saya akan membahas yang pokoknya saja.

Pertama, membaca, memahami, dan mengamalkan Al Qur’an. Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepada-Nya, syukur dan sabar, tawadhu (rendah hati) dan khusyu, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan ridha-Nya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyaar Al-Uula, hal 114)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunakan akalnya”. (Q.S. Shaad 38:29).

Al Qur’an adalah kitab suci yang harus difahami, bukan sekedar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Al Qur’an tapi tidak faham isinya, sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman.

Pengalaman menunjukkan, awalnya memang agak susah mencerna maksud terjemahan Qur’an, namun kalau kita sering membacanya, lama kelamaan akan mudah memahaminya. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa diatasi. Saat membaca Al Qur’an, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implemantasi/pengamalan. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Kebiasaan kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Qur’an, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya”. (HR. Athabari dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih).

Sementara kita, lebih mengutamakan khatam (tamat) ketimbang faham. Alangkah indahnya kalau kita sering khatam dan faham serta implementatif. Setelah faham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan.

Anas r.a. mengatakan, “Abu Thalhah r.a. --seorang shahabat dari kaum Anshar di Madinah-- adalah orang yang banyak hartanya, di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid, bahkan Rasulullah saw. pun pernah singgah di kebun itu. Ketika turun firman Allah yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imran 3:92),

Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah saw seraya berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah faham ayat itu, maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid. Untuk itu saksikanlah, demi Allah aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Maka silakan Ya Rasulullah bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkannya kepadamu.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Kalau kita bagaimana?

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah melaksanakan yang wajib. (Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin, jilid 3, hal. 13)
Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “. . . Tidak ada amalan yang paling Aku cintai dari hamba-Ku kecuali apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan Aku mencintai hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah . . .” (H.R. Bukhari).

Menurut riwayat ini, ada dua hal yang menyebabkan Allah mencintai kita.
- Pertama, konsisten melaksanakan ibadah-ibadah fardu/wajib, seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji kalau sudah mampu, dll.
- Kedua, melaksanakan amalan-amalan sunah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, shaum senin-kamis, dll. Ibadah-ibadah ini akan menjadi pupuk bagi hati kita sehingga tetap hidup dan subur. Allah swt. akan merespon taqarrub (pendekatan diri) kita dua kali lipat dari apa yang kita lakukan.
Rasulullah saw. pernah bersabda melalui hadits qudsinya, Allah swt. berfirman: “Jika ia (manusia) bertaqarrub kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia bertaqarrub kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” (H.R.Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jadi, kalau kita memberi satu cinta kepada Allah, Dia akan memberi dua cinta kepada kita. Kalau kita memberi tiga cinta, maka Allah akan memberi empat cinta, demikian seterusnya. Karena itu, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan ibadah-ibadah sunah setelah kita melaksanakan yang wajib, pasti Dia akan mencintai kita.

Ketiga, memperbanyak dzikir, baik dengan lisan ataupun perbuatan. Allah swt. memerintahkan untuk memperbanyak dzikir dalam setiap kesempatan, “Dan dzikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al Jumu’ah 62:10).
Ada dua macam dzikir, muqayyad dan muthlaq.

- Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya telah ditetapkan Rasulullah saw. seperti dzikir setelah shalat fardhu (wajib) membaca Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali. Karena Rasulullah telah menetapkan jenis dan jumlahnya, kita tidak boleh menambahi atau menguranginya.

- Dzikir muthlaq adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw., namun disesuaikan pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Misalnya saat menghadapi ujian kita agak gelisah, nah kita bisa berdzikir apa saja sesuai kemauan, bisa baca astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, dll. Jumlahnya pun terserah kita, berapa saja boleh. Allah swt. akan mencintai hamba-Nya yang selalu menyertakan dzikir dalam seluruh aktifitas kesehariannya. Mendapat kebahagiaan mengucapkan alhamdulillah, tertimpa musibah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, melihat kemaksiatan mengucapkan astaghfirullah, memulai perbuatan baik mengucapkan bismillah, melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan subhanallah, dll. Ini indikator bahwa kita selalu mengingat-Nya, sehingga Allah swt. pun akan mengingat kita.

“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku (Q.S. Al Baqarah 2:152).

Allah swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi, “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku ditengah-tengah sekelompok orang, maka Aku menyebutnya ditengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat).” (H.R.Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah swt. berfirman: Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku, dan selama kedua bibirnya masih bergerak menyebut nama-Ku.”(H.R. Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim )

Dzikir jangan diartikan sempit (sekedar dengan lisan), tapi juga harus tercermin dalam perbuatan. Kalau kita berbisnis, bekerja, belajar, dll. dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebanaran dan kejujuran, ini juga disebut dzikir. Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang yang dincintai-Nya, “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring…” (QS. Ali Imran 3: 191).

Ini yang dimaksud dzikir dalam perbuatan atau aktifitas. Apabila ketiga hal di atas dilaksanakan, yakni memahami Qur’an, meningkatkan amaliah wajib dan sunah, serta selalu dzikir dengan ucapan dan perbuatan, insya Allah kita akan menjadi kekasih-Nya, dan kita akan rindu bertemu dengan-Nya, “Barangsiapa yang mendambakan bertemu dengan Allah, Allah pun mendambakan bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Allah pun akan merasa benci bertemu dengannya.” (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Nasa’i).

Realisasikan cinta dan rindu kita kepada-Nya dengan cara mengerjakan apa yang Allah cintai, meskipun diri kita sangat membenci dan menolak perbuatan tersebut, serta tinggalkan apa yang Allah benci, meski sebenarnya kita sangat mencintai dan menginginkannya. Semoga kita diberi kekuatan untuk bisa meraih cinta-Nya. Amiin.

Wallahu A’lam.

Sumber :
- Percikaniman.Org


Nikmati Majalah PI (Mapi) edisi Mei 2009 !!
1. Tema Utama : "Pendidikan Gratis, Siapkah ?"
2. Tema Pendukung :
- Kuku Juga Bisa Bicara
- Organisasi2 yahudi di AS Ternacam Bangkrut
- Waspada Virus HP!!!
3. Cover : http://percikaniman.org/images/banner/mapi-05-2009.jpg

2013/10/07

ATMOSFER DALAM AL QUR'AN


Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis. 

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29) 

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12) 

Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut: 

Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)

Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer

Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya. 

Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir. (http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html) 

Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.

Source: Klik Disini


2013/09/09

Harga sebuah Jaket bekas dan Sepiring Nasi

Mengenderai sepeda motor kesayangan, ku tembus juga udara kota kembang yang disertai bulir-bulir gerimis di malam itu. Sesekali bunyi petir terdengar. Meskipun tidak keras, tapi tetap saja berhasil menyerupai suara drum kosong yang digelendingkan di aspal. Cuacanya dingin. Menusuk.

Beruntung, dari kantor ke rumah hanya butuh menunggu jarum panjang pada jam di pergelanganku berputar melintasi 3 angka saja. Meski cepat juga dekat, jarak tempuh lima belas menit dengan cuaca menggigilkan begitu cukup membuat perut unjuk rasa. Ya, cukup lapar juga. Tapi aku paksakan untuk tidak makan di luar di hampir tengah malam itu. Pikirku, entar di rumah aja makannya. Isteriku pasti sudah menyiapkan.

Sampai di rumah. Sang tangan waktu menunjukkan angka satu bersanding, lewat 20 menit.


'Assalamu'alaikum', aku memberi salam ke rumah sembari menggedor pintu pagar besi yang bagian engselnya sudah hampir lepas itu. Lebih tiga kali aku gedor pintu pagar, baru isteri ku membukakan pintu rumah. Ternyata isteriku ketiduran, setelah menidurkan anak pertama kami tadi.

Biasanya, hanya mendengar deru khas mesin motorku, dia sudah mengintip keluar dan membukan pintu. 'Maaf bi, umi ketiduran. Sudah lama menunggu bi?, tanya isteriku setengah meminta maaf'. 'Baru ko mi, gak apa-apa,' jawabku tersenyum.

Sepeda motor pabrikan Jepang yang sudah tiga tahunan menemaniku mencari nafkah itu ku parkirkan di sudut singgahnya. Setelah sedikit menyeka bagiannya yang basah dengan kanebo, motor ku kunci ganda agar lebih aman. Khawatir saja, ada orang iseng yang lagi dikendalikan nafsu untuk mengambil yang bukan haknya. So, biar berada di dalam pagar sendiri, kunci ganda itu sangat membantu. Setidaknya pesan itu yang sering aku baca, dan ditempel di sekitar lingkungan rumah kami.

Raincoat aku lepas. Tas punggung dibawakan isteri ku kedalam rumah. Sebelum masuk, ku cuci kaki di sudut depan rumah yang bersebelahan persis dengan rumah tetangga. Bukan kepalang kaget aku waktu itu ketika melihat sesosok manusia yang tampak sangat ringkih duduk bergelung bak udang di teras depan rumah tetangga itu. Maklum, kami tinggal di sebuah gang sempit di kota ini. Jadi jarak rumah ku dengan tetangga memang tidak ada. Beradu dinding kiri, kanan dan belakang. Ada tetangga yang berisik atau anaknya menangis, di rumah kami pasti terdengar.

Antara rasa iba kepada sosok manusia yang sedang kedinginan itu, dicampur dengan rasa takut dan was-was kalau-kalau itu hanyalah modus dari orang jahat untuk menjalankan aksinya, ku beranikan diri untuk mendekat kepadanya. Langkah mendekat yang disertai waspada tingkat tinggi. La hawla saja. Agar tampak lebih terang, ku minta isteri keluar sambil membawakan lampu portable buatan China bertenaga baterai kering yang baru ku beli dari pedagang asongan di perempatan dekat kantor ku.

'Punten, punten,' sapa ku ke sosok yang sedang terdiam di sudut itu dengan sapaan bahasa Sunda. 'Bade kamana?'. Tak ada jawaban. 'Punten', ku menyapa sekali lagi. 'Masih tak ada jawaban'. Lampu kudekatkan kewajahnya. Ternyata seorang wanita berusia tiga puluhan, mungkin. Bisa jadi lebih muda, hanya karena lusuh dan tidah bersih tampak lebih tua. Maaf.

'Lagi ngapain mba?', tanyaku lagi. Kali ini pake bahasa Indonesia. 'Dingin, dingin,' jawabnya sambil gigi bergeretak. Wah, kasihan sekali, pikir ku. Melihat adegan ini, alhamdulillah feeling isteriku sangat responsif untuk membantu. Tanpa disuruh, dengan sekejap ia masuk rumah dan keluar membawakan secangkir teh manis hangat.

'Diminum mba, diminum tehnya', ujarku sambil menyodorkan cangkirnya. Dia mengangkat kepalanya, melihat ke arah kami, tatapannya dingin. Sulit menangkap maknanya. Dia menerima gelasnya, dan menyeruputnya seketika. Dengan beberapa tegukan saja, teh manisnya habis. 'Lagi?' tanyaku. Dia menggeleng. Suara bergumam terdengar, menandakan ia masih kedinginan. 'Tunggu sebentar ya mba, aku mengajak isteri ke dalam rumah. Kami diskusi sebentar.

Ku minta isteri menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Tak lama, isteri ku sedang menyiapkan makanan, aku membuka lemari pakaian. Pada rak terbawah, ku temukan yang ku cari. Jaket motor yang biasa ku pakai dulu. Di belakangnya ada tulisan ADNOH, yang kalau dibalik adalah merek perusahaan pembuat motor.

Kami keluar lagi. Ku berikan jaket warna merah itu padanya. Langsung ia pakai. Meski tidak terlalu tebal, ku harap itu cukup membantu menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Tak banyak bicara. Isteri ku pun memberikan makanannya. 'Dimakan mba,' kata isteri ku. Tidak perlu merasa malu, ia langsung memakan dengan lahapnya. Habis, tak bersisa.

Setelah terlihat agak baikan dibanding sebelum makan dan pake jaket tadi, kutanya lagi, 'Mau kemana mba?'. Tetap tak ada jawaban.

Pikirku, dari pada menanyainya lagi dan tetap tidak dijawab juga, ku persilakan saja dia istirahat dulu di situ. Gerimis sudah berhenti. Jam dinding sudah berdentang dua belas kali. 'Kami masuk dulu ya mba', aku dan isteriku pamit. Ia mengangguk. Lampu portable kumatikan. Selintas ku ingin juga mempersilakannya membersihkan diri dan istirhat di rumah.

Belum sempat pintu rumah kami tutup, terdengar suara motor mendekat ke rumah depan kami. Saya menoleh sedikit ke kanan dari lorong pintu, sekilas ku lihat yang di motor adalah anak ibu depan rumah kami. Ya, emang dia. Ia berhenti, lampu motornya masih menyala, setir motornya agak miring ke kiri sedikit. Arah cahayanya persis menuju posisi si mba yang duduk tadi. Tapi bulu kudukku merinding seketika, ia sudah tak ada. She's gone. Tak sempat aku dan isteri melihat kapan dia pergi. Suara langkah kaki pun tidak terdengar. Lenyap dan sunyi.

'Astaghfirullah,' batinku, sembari berharap ampunan Allah jika-jika ada sesuatu yang salah yang pernah kami lakukan padanya tadi.

 ---
Tiga hari berlalu, sosok si mba itu tetap misterius bagi ku dan isteri. Kami tidak terlalu memikirkannya lagi. Hari ke-empat dari kejadian itu, tiba-tiba saja SK dari perusahaan keluar, aku dipromosikan menjadi seorang Supervisor. Awalnya aku adalah seorang Team Leader yang membawahi langsung 15-20 orang bawahan. Diangkat menjadi supervisor, amanat kepemimpinan bertambah berat, ku bawahi tidak kurang dari 220 orang. Memang sekira lima bulan sebelum kejadian itu, aku sempat mengikuti proses promosi jabatan. Tapi berbulan-bulan tidak ada kejelasan, apakah diterima atau tidak. Subhanallah.

Tentu, naik jabatan, berati naik pula secara materi apa yang didapat. Tunjangan lebih, gaji lebih, prestise lebih. Ku minta petunjuk Allah agar semuanya senantiasa berkah. 

Apakah ini salah satu cara Allah untuk membalas 'secuil' bantuan kami untuk si mba malam itu? Wallahu a'lam. Dalam doa, ku pinta agar senantiasa diajarkan sikap ikhlas. Berbuat baik hanya karena berharap ridha Allah. Semoga aku dan kita semua mampu. InsyaAllah wa amiin.

*Kisah nyata ku (awal 2009) ditambah sedikit ungkapan sastrawi.

@feri_s
221A8441

2013/08/16

Kisah Abu Nawas Menipu Komandan Kerajaan

Pada suatu pagi hari, Abu nawas muda sedang duduk-duduk bersantai di teras rumahnya.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang komandan dengan beberapa prajuritnya.
Sang Komandan bertanya,
"Wahai anak muda, dimanakah aku bisa menemukan tempat untuk bersenang-senang di daerah sekitar sini?"
"Kalau tidak salah di sebelah sana," jawab Abu Nawas.

"Dimanakah tempat itu?" tanya salah seorang prajurit dengan sifat yang tidak menghargai.
"Pergilah ke arah sana, lurus tanpa belok-belok, maka kalian akan menjumpai tempat untuk bersenang-senang," jawab Abu Nawas.

Rombongan tentara kerajaan itu akhirnya pergi juga menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Abu Nawas. Setelah beberapa saat, kagetlah mereka semua karena tempat yang mereka cari tidak ditemukan, kecuali hanya sebuah komplek kuburan yang sangat luas. Dan tentu saja hal ini membuat para tentara berang karena merasa telah ditipu oleh pemuda tersebut.

Mereka pun kembali lagi ke tempat Abu Nawas.

"Wahai anak muda, keluarlah engkau. Kenapa engkau berani sekali membohongi kami?" tanya Sang Komandan yang tidak tahu kalau yang diajak bicara itu sebenarnya adalah Abu Nawas, Si penasehat Kerajaan.
"Siapakah engkau ini? Berani sekali membohogi kami?" tanya salah seorang prajurit.
"Aku adalah ABDI," jawab Abunawas.

Komandan dan para prajurit merasa geram dan marah
"Prajurit...tangkap dia!!!" seru komandan.
"Engkau akan aku bawa ke Panglima kami," kata komandan.

Oh, rupanya Abunawas hendak dihadapkan ke panglima kerajaan mereka.
"Wahai Panglima, kami telah menangkap seorang pembohong yang berani membohongi pasukan kerajaan," kata komandan.
"Alangkah lancangnya si pemuda ini karena sudah berani berbohong," lanjut komandan.

Panglima bersikap biasa saja, malah dia bahkan memerintahkan kepada prajurit untuk melepaskan borgol yang ada pada tangan Abu Nawas. Komandan dan para prajurit terkejut dan merasa heran, ada apa gerangan ini.

Setelah itu, panglima pun mendekati Abu nawas berkata,
"Tuan Abu, maafkan perbuatan anak buahku di sini ya," kata panglima itu dengan sangat sopannya.
laki-laki gagah dan tampan itu memang sudah saling mengenal satu sama lain karena mereka seringkali bertemu ketika sang khalifah mengundangnya ke istana.

Komandan Minta Maaf
Betapa terkejutnya sang komandan dan para prajuritnya.
Perasaan sombong dan congkak yang tadi menyelimuti mereka seakan berubah menjadi rasa takut.
"Wahai Tuan Abu..sebenarnya kebohongan apa yang mereka sangkakn kepadmu?" tanya panglima.

"Wahai panglima, mereka memintaku untuk menunjukkan tempat untuk bersenang-senang, tentu saja aku tunjukkan kuburan karena kuburan adalah tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Di sana pula dia akan mendapatkan hidangan yang nikmat dari Allah SWT, terbebas dari rasa fitnah dan kejahatan manusia dan makhluk lainnya," jawab Abunawas dengan tenangnya.

Mendengar jawaba pemuda itu, segera saja komandan mendekati Abu Nawas dan berkata,
"Maafkan hamba, Tuanku Abu?"
"Andai saja aku mengetahui bahwa tuan adalah Tuan Abu, tentu kami tidak akan berani membawa Tuan ke hadapan Panglima," kata komandan lagi.

"Wahai komandan...apakah aku telah membohongi kalian? Bukankah aku berkata benar? Aku adalah ABDI, dan setiap orang adlah Abdi Allah SWT, termasuk kalian semuanya," kata Abu Nawas.
"Anda benar Tuanku..," jawab komandan.

Komandan dan prajurit yang telah menangkap Abu Nawas merasa malu jadinya.

Cara 'Gila' Abu Nawas Luaskan Rumah yang Sempit

Bukan Abu Nawas namanya kalau tidak bisa menyelesaikan persoalan rumit. Cara-cara tak biasa seringkali keluar dari idenya.

Seperti dikisahkan di masanya, hidup seorang laki-laki yang tinggal di sebuah rumah yang luas. Ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suatu saat laki-laki itu merasa rumahnya semakin sempit. Dia pun ingin memperluas rumahnya tetapi enggan mengeluarkan uang untuk meluaskannya.

Setelah berpikir, pergilah dia ke rumah Abu Nawas, si cerdik yang sangat tersohor di negeri Islam saat itu. Laki-laki itu meminta saran dari Abu Nawas bagaimana cara memperluas rumah tanpa harus mengeluarkan biaya.

Mendengar kisahnya, Abu Nawas menyuruh laki-laki itu untuk membeli sepasang ayam jantan dan betina kemudian kandangnya ditaruh di dalam rumah. Laki-laki itu merasa aneh dengan saran Abu Nawas, tetapi tanpa berpikir panjang dia ikut saran Abu Nawas. Dia pergi ke pasar dan membeli sepasang ayam jantan dan betina.

Hari berikutnya dia datang kembali ke rumah Abu Nawas. Dia mengeluh rumahnya semakin sempit dan bau karena ayam-ayam yang dibelinya. Mendengar cerita itu, Abu Nawas hanya tersenyum dan menyuruh menambahkan sepasang bebek yang kandangnya juga ditaruh di dalam rumah. Dia bertambah heran, tetapi dia tetap menuruti nasehat Abu Nawas.

3 Hari berlalu, datanglah dia ke rumah Abu Nawas lagi. Dia bercerita kalau rumahnya semakin semrawut semenjak kehadiran bebek. Abu Nawas justru menyuruhnya untuk menambahkan kambing yang kandangnya juga ditaruh dalam rumah.

Hari berikutnya laki-laki itu kembali datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu menceritakan bahwa istrinya marah sepanjang hari, anak-anaknya menangis, hewan-hewan berkotek dan mengembik, ditambah hewan-hewan itu juga mengeluarkan bau tak sedap. Abu Nawas hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Abu Nawas menyuruhnya untuk menjual hewan-hewan itu satu persatu mulai dari ayam yang dijual terlebih dahulu, bebek, kemudian yang terakhir kambing.

Datanglah lelaki itu ke rumah Abu Nawas setelah selesai menjual kambingnya.

Abu Nawas:"Kulihat wajahmu cerah hai fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?"

Si lelaki:"Alhamdulillah ya Abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel."

Abu Nawas: "(sambil tersenyum) Nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah bangunanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, tapi hanya hatimu yang sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu. Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh."

*Dikutip dari detik.com / rubrik hikayat

2013/07/19

Dua Amalan yang Mudah Diterima Allah SWT

Dua amalan yang mudah diterima oleh Allah SWT adalah ‘sholat Tahajjud’ dan ‘Shaum’. Kenapa bisa? Karena dua amalan ini bisa menjaukan manusia dari sikap riya (ingin dilhat orang) dan sum’ah (ingin didengar orang). Melaksanakan keduanya mengajarkan sikap ikhlas.

Keduanya tidak dapat dipamer-pamer. Selain dengan sikap ikhlas, dua amalan ini tentu harus dilakukan dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam hal tuntunan beribadah ini, kita berpedoman kepada ilmu fiqh, agar terhindar dari hal-hal yang sesat menyesatkan (bid’ah, dll).

Sikap ikhlas dan dilaksanakan sesuai tuntunanya adalah syarat untuk diterimanya amalan manusia oleh Allah SWT. Sebagaimana kita lihat pada keterangan berikut:

Merujuk kepada dalil-dalil dari Al Quran dan Al Hadits kita bisa menemukan bahwa syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua:

1.    Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

2.    Mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua syarat ini disebutkan dengan jelas dalam akhir surat al-Kahfi:

(فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seoran gpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Oleh karena itu Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat: Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimy, hal: 9-12).

Sholat tahajud di tengah malam, tidak ada yang melihat. Jadi bisa terhidar dari sifat pamer.

Bershaum, juga tidak dapat dibedakan secara penampakan fisik. Oleh karenanya, manusia hanya semata-mata berkomitmen dengan Rabb-nya.

Kedua-duanya benar-benar mendidik keikhlasan hati kita. Beribadah hanya karena Allah SWT. Tidak ada tujuan lain kecuali ingin mencapai ridha-NYA. insyaAllah kita terus berusaha untuk melaksanakannya. Dan kita memohon agar Allah istiqomahkan kita. Aamiin.

#Ta’limBa’daJum’ah

11 Ramadhan 1434 H

2012/12/27

Dakwah Bocah Amsterdam Menuntun Hidayah Seorang Nenek

Ada kisah menarik tentang semangat dakwah, yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib an-Nabulsy saat Khuthbah Jumat tertanggal 2 Juli 2010. Sebuah kisah inspiratif terjadi di Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak.

Berikut ini Penulis paparkan dengan terjemah bebas dan sedikit diringkas.
“Menjadi kebiasaan di hari Jumat, seorang Imam masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan dan keramaian, sebuah brosur dakwah yg berjudul “Thariiqun ilal jannah” (jalan menuju jannah).

Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah,

“Saya sudah siap, Ayah!”

“Siap untuk apa, Nak?”

“Ayah, bukankah ini waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju jannah’?”

“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”

“Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!”
“Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”

“Ayah, jika diijinkan, saya ingin menyebarkan brosur ini sendirian.”

Sang ayah diam sejenak lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.”

Anak itupun keluar ke jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu. Dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah, namun tak ada jawaban. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ia ketuk pintu dengan lebih keras. Ia tunggu beberapa lama, hingga pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?”

Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”

Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak.”

Sepekan Kemudian
Usai shalat Jumat, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit taushiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?”

Di barisan belakang, terdengar seorang wanita tua berkata,

“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir untuk menjadi seperti ini sebelumnya. Sekitar sebulan lalu suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapanku untuk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap. Saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan untuk bunuh diri.

Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawab, “paling sebentar lagi pergi”, batinku.

Tapi ternyata bel berdering lagi, dan kuperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar. Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk sekedar melihat siapa yang mengetuk pintu.

Saat kubuka pintu, kulihat seorang bocah berwajah ceria, dengan senyuman laksana malaikat dan aku belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh sanubariku, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul, “Jalan Menuju Jannah.”

Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Saya telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya.

Anda tahu, sekarang ini saya benar-benar merasa sangat bahagia, karena bisa mengenal Allah yang Esa, tiada ilah yang haq selain Dia.

Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka saya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang sangat tepat. Mudah-mudahan itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan jannah yang abadi.

Mengalirlah air mati para jamaah yang hadir di masjid, gemuruh takbir. Allahu Akbar. Menggema di ruangan. Sementara sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf paling depan, tempat dimana puteranya yang tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!”

Lihatlah bagaimana antusias anak kecil itu tatkala berdakwah, hingga dia mengatakan “Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” Ia tidak bisa membiarkan manusia berjalan menuju neraka. Ia ingin kiranya bisa mencegah mereka, lalu membimbingnya menuju jalan ke jannah.

Lihat pula bagaimana ia berdakwah, menunjukkan wajah ceria dan memberikan kabar gembira, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Siapa yang tidak trenyuh hati mendengarkan kata-katanya?

Berdakwah dengan apa apa yang ia mampu, juga patut dijadikan teladan. Bisa jadi,tanpa kita sadari, cara dakwah sederhana yang kita lakukan ternyata berdampak luar biasa. Menjadi sebab datangnya hidayah bagi seseorang. Padahal, satu orang yang mendapat hidayah dengan sebab dakwah kita, lebih baik baik bagi kita daripada mendapat hadiah onta merah. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah/arrisalah)

Source: Click here

2012/09/19

Seindah Sahabat Mencintai Rasulullah: Detik Terakhir

Genderang perang sebentar lagi ditabuh. Badar tak lama lagi akan berkecamuk. Sang Rasul, bergegas menyiapkan pasukan kaum muslimin. Inspeksi pun dimulai. Sambil memegang sebuah anak panah, panglima kaum muslimin itu pun memeriksa pasukan, satu persatu.

Tibalah beliau di hadapan Sawwad bin Ghazyah. Posisi tubuhnya agak melenceng dari barisan. Dia tidak berbaris rapi. “Luruskan barisanmu, wahai Sawwad!” Hardik Rasul sambil memecutkan anak panah di genggamannya ke perut Sawwad.

“Wahai Rasulullah!” sergah Sawwad, “Engkau telah membuat perutku kesakitan,” akunya “Dan bukankah Allah telah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan. Biarkan aku membalasmu.” pinta Sawwad kepada Rasul. Sontak, semua sahabat yang mendengar ucapan Sawwad ini terkaget. Selancang inikah Sawwad kepada Rasul yang mereka cintai?

Tapi Rasul tak berpikir panjang. Beliau singkapkan bagian pakaiannya. Tampak putih kulit perutnya.     “Silakan, balaslah!” tegas sang Rasul mempersilakan Sawwad membalas pukulan ke perutnya.

Hati para sahabat berdebar-debar. Pikiran mereka disesaki seribu tanya. Sedemikian nekadnya kah Sawwad? Apa yang ia pikirkan hingga ingin melakukan perbuatan terkutuk itu? Bukankah Rasul adalah komandannya dan pemimpin mereka di medan tempur? Dan bukankah pukulan ke perutnya itu adalah ganjaran atas ulah kecerobohannya? Ah, mana mungkin kekasih pilihan mereka ini akan disakiti. Hati mereka seakan berontak. Tapi apa daya, Sang Rasul telah mengambil putusan. Dan Sawwad pun sedang mengambil ancang-ancang.

Saat pikiran para sahabat mulia itu masih berkecamuk dengan sejuta tanya. Secepat kilat Sawwad menyergap perut Sang Rasul. Dipeluknya tubuh manusia termulia itu. Diciumnya halus kulit Hamba dan utusan Allah yang dia cintai. Beraur haru, para sahabat semakin terheran.

“Apa yang mendorongmu melakukan hal seperti ini, hai Sawwad!” tanya Rasul setelah beliau menyaksikan apa yang dilakukan Sawwad.
“Wahai Rasulullah!” Jawab Sawwad, “Engkau telah menyaksikan apa yang kau lihat. Aku ingin di detik terakhirku membersamaimu, kulitku bisa menyentuh kulit (tubuhmu).” aku Sawwad blakblakan namun penuh ketulusan.

Para sahabat terharu. Mereka baru mengerti apa yang diinginkan Sawwad. Maka mengalirlah do’a-do’a Rasulullah untuk keberkahan sahabatnya yang unik ini. Tanpa terasa, apa yang dilakukan Sawwad telah menyirami komitmen mereka untuk mencintai rasul-Nya. Seperti inilah para sahabat mencintai Rasulullah. Adakah kita mencintainya setulus sahabat mencintainya?

Kisah ini bersumber dari atsar yang diriwayatkan Ishak dari Ibnu Hibban dari Was’i dari para syekh kaumnya. Dan dinukil Syekh Walid al ‘Adzami dalam bukunya Ar Rasuul Fii Quluubi ash haabihii yang diterjemahkan (dengan sedikit tambahan redaksional) oleh Ufuk Islam. Beberapa referensi yang bisa dijadikan rujukan tentang kisah ini: Sirah Ibnu Hisyam (jilid 2 halaman 279-280), Tarikh At Thabari (3/1319), Al Isti’ab (2/673) dan beberapa referensi lainnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18334/seindah-sahabat-mencintai-rasulullah-detik-terakhir/#ixzz26u6Hz0Ip
 dari milist PKPU

2012/06/05

Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia?

KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Geneva:

"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia . Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.
Kalau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai. Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan.

Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lg pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GA GA dan IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yg ingin menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong?
Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?
Indonesia lebih baik toleransinya dr Swiss yg sampai sekarang tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tak menghormati agama, krn disana ada UU Perkawinan Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis?! 
Akhirnya kembali kpd bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Westernisme ..."
___
from: milist anggotaicmi@yahoogroups.com

2012/03/15

Indahnya Mengimani al-Qur'an

Alhamdulillah, sore hari ini, tepatnya ba’da sholat Ashar berjamaah di Masjid Baiturrahman Gedung Infomedia Nusantara Bandung, diadakan majlis ilmu dengan tajuk ‘Tausyiah Ba’da Ashar’. Sebagai bagian dari program kerja dari Badan Da’wah Infomedia (BDI) Bandung, InsyaAllah majlis ilmu ini akan dilakukan secara rutin karena juga sebagai bagian syiar Islam dan media mempelajari ilmu-ilmu keislaman bagi karyawan-karyawati Infomedia Bandung.

Tampil sebagai penceramah pada sore kali ini adalah ustadz Abu Amr dari lembaga Tahsin al-Qur’an Bandung. Tema yang diusung adalah ‘mendekatkan diri pada al-Qur’an sebagai salah satu indikasi keimanan’. Berikut ini saya coba ringkaskan materi ceramah ustadz Abu Amr tadi, meski dengan cara penuturan yang mungkin sedikit berbeda.

Mengimani al-Qur’an hukumnya wajib. Kewajiban ini melekat bagi setiap orang yang mengaku beriman. Disampaikan oleh al-ustadz bahwa seorang muslim yang mengaku mengimani kitab Allah (al-Qur’an), maka terdapat lima konsekwensi yang harus dijalankan.

Mengimani al-Qur’an ternyata tidak hanya sekedar meyakini bahwa al-Qur’an itu adalah kitab suci dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril saja. Tapi lebih dari itu, mengimani al-Qur’an sama dengan menerima lima konsekweksi berikut ini yang harus dimiliki pada setiap mu’min.

1.      Membaca al-Qur’an; tilawah.
2.      Mentarbiyah diri dengan Al Qur'an- Tadabbur (2:151)
3.      Menerima dan tunduk terhadap hukum Al Qur'an (33:36, 4:65, 5:44-50)
4.      Mengajak untuk Qur'ani- Berda’wah (16:125)
5.      Menegakkan Al Qur'an di bumi –Mengamalkan (42: 13)

Selain ada konsekwensi keimanan terhadap Al Qur'an,  juga seorang mukmin mempunyai kewajiban terhadap Al Qur'an. Kewajiban terhadap al Qur'an  adalah:

1.      Tilawatan (membaca)
2.      Ta'liiman (mempelajari)
3.      'Amal (mengamalkan)
4.      Hafiidzan (menghafal)

Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menjalankan lima konsekwensi tersebut di atas. Amiin ya Rab ‘alamin.

Sebagai tambahan, berikut ini saya kutipkan do’a selesai membaca al-Qur’an:

Allahummar hamna bil Quran waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina wa ’allimna minhumaa jahiilna warzuqna tilaawatahu aana al laili wa athrofannahar waj’alhu lana hujjatan Yaaa rabbal ‘alamiin


"Ya Allah kasih sayangilah daku dengan sebab Al-Qur'an ini. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai pemimpin sebagai cahaya sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagiku. Ya Allah ingatkanlah daku apa-apa yang aku lupa dalam Al-Qur'an yang telah Kau jelaskan dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui. Dan kurniakanlah daku selalu sempat membaca Al-Qur'an pada malam dan siang hari. Dan jadikanlah Al-Qur'an ini sebagai hujjah bagiku."Amiin....

*picture is powered by google

2012/02/21

Just Another Story of 'Silaturrahiim'

Sebelum saya memulai cerita ini, izinkan dulu saya mengajukan pertanyaan berikut ini: Sudah berapa lama terakhir kalinya Anda melakukan kontak (bisa menemui atau menelpon, sms, chat, dll) dengan sahabat-sahabat Anda? Berapa lama? Semoga tidak seperti kisah kawan di bawah ini:

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Tidak terlalu lama juga. Hanya sekira dua tahun lebih kami tidak saling bertemu. Komunikasi lewat hp atau email pun sangat langka. Bukannya saya gak mau, tapi kontak saya sering diabaikannya.

Terakhir bertemu dulu ketika dia meminta informasi lowongan kerja kepada saya. Karena memang waktu dia sedang ‘unemployed’ alias sedang tidak bekerja. Tidak punya usaha atau bisnis juga, sementara usianya sudah terus menanjak naik, melewati angka 28 tahun.  Tentu saja baginya kondisi (belum punya penghasilan tetap) tersebut sangat tidak baik, lebih pula bagi seorang pemuda yang mempunyai 2 adik perempuan yang harus diperjuangkannya kelak.

Flash-back sebentar ke masa dua tahun yang lalu.
Alhamdulillahnya pada waktu itu, sangat kebetulan ada seorang kawan lain yang sedang mencari karyawan untuk perusahaan bosnya, perusahaan penjualan otomotif ternama. Dan ia pun menginformasikan juga kepada saya. Tentu saja, gayung bersambut. Lowongan ini tidak disia-siakan oleh kawan yang sedang mencari pekerjaan tadi.

Saya minta dia segera menyiapkan berkas lamaran dan bisa langsung menghadap HRD dari perusahaan yang sedang mencari karyawan tadi.  Fortunately, dia lulus di tahap rekrutmen, kemudian ikut training dan terus diterima sebagai tenaga baru di perusahaan tersebut, meski dikontrak, tapi langsung kontrak 2 tahun sekaligus. Alhamdulillah.

Semenjak itu, saya hanya mendengar kabar tentangnya dari kawan lain, atau sesekali saya lihat di laman facebook-nya. Praktis tidak ada lagi kontak dengan saya. Saya hanya berfikir positif saja, mungkin karena kesibukannya sehingga email saya juga dilewat begitu saja.

Kalau dilihat dari statusnya di facebook, terlihat dia betah di perusahaan tersebut dan tampak lebih gemuk hanya setelah 3 bulan semenjak bekerja. Sebagai teman tentu saja saya bersyukur melihat keadaannya yang tampak lebih ‘makmur’ itu.

Kembali ke masa kini.
Beberapa hari yang lalu itu (setelah berselang dua tahun), tahukah pembaca sekalian, berita apa yang dia bawa? Kenapa tiba-tiba setelah tepat dua tahun baru sempat mampir ke rumah kami? Ternyata, ini terkait dengan statusnya yang kembali menjadi ‘un-emplyed’, alias nganggur. Kontrak dua tahunnya tidak diperpanjang. Entah karena performansi kerjanya tidak bagus, atau ada alasan lain dari perusahaannya. Saya tidak tahu. Dan tidak ingin tahu juga.

Dia membuka percapakannya,’Tolong aku fren, tolong dibantu rekomendasikan ke temanmu yang di HRD kami itu’. ‘Wah wah ada apa ini’ Tanya saya. Dia pun menceritakan tentang kontrak kerjanya yang tidak diperpanjang itu.

‘Waduh, maaf banget sob, bukannya saya gak mau bantu. Tapi tiap HRD itu pasti dah punya mekanisme tentang diperpanjang atau tidaknya seorang karyawan. Dan itu baku. Tentu saja pihak lain tak bisa mempengaruhi’ Jawab saya beralasan. ‘Kalau gak, minta tolong kasih relasi lain la yang mungkin sedang butuh karyawan juga’ katanya memelas.

Sebenarnya saya sangat ingin membantu, sejauh yang saya bisa. Tapi memang saat ini saya belum dapat info lagi tentang lowongan di perusahaan-perusahaan yang kebetulan banyak staff HR-nya teman mengaji saya waktu kuliah dulu.

Seandainya aja situ menghubungi saya bulan kemarin, mungkin situ bisa ikut seleksi di tempat kerja kakak saya sob’ kata saya. ‘Iya siy, tapi bulan kemarin aku sangat yakin pasti bakalan diperpanjang.’ Katanya. ‘Nah itu lah perlunya kita menjaga sillaturrahiim, sambut saya setengah menceramahi. Udah butuh baru maksain datang silaturrahim. Waktu lagi enak terima gaji gede kemarin-kemarin, lupa ke saya’. kata saya sambil bercanda agar dia tidak tersinggung.

Tapi memang benar, pembaca sekalian, bulan kemarin dibuka lowongan untuk posisi pengawas di tempat kerja kakak saya, dan statusnya setelah satu tahun kontrak bisa berpeluang jadi ‘permanent employee’. Test masuknya pun tidak susah-susah amat. Saya yakin dengan kualifikasi yang dimiliki kawan tadi, dia bisa lulus. Namun itu lah, karena saya tidak tahu bahwa dia akan butuh maka info ‘penting’ ini saya kasih tahu ke anak tetangga, dan sekarang dia lagi persiapan proses training di situ.
---

Sementara, kawan yang sedang butuh kerja tadi, sekarang adalah hari kedelapannya mulai hunting job-vacation lagi di kompas sabtu minggu, karir.com, jobsdb.com dan situs lowongan kerja lainnya. Saya doakan segera dapat yang terbaik, sob!
---
Cerita seperti ini bisa jadi sangat sederhana, dan banyak pembaca sekalian yang pernah mendengar atau mungkin mengalaminya sendiri. Namun, bagi kita yang sedang belajar menjadi pribadi yang baik tentu bisa menarik hikmah darinya. Bahwa silaturrahiim itu sangat perlu dilakukan, baik dalam keadaan lapang atau pun sempit, sedang sibuk ataupun senggang. Terlebih dari itu, salah satu rahasia dari silaturrahiim, yakni bisa memudahkan rezeki memang terlihat dari cerita di atas. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW: ‘Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

Semoga kita termasuk dalam kategori pribadi yang baik, mudah terinspirasi dan rajin menjaga silaturrahiim. Amiin

Bandung, 21 Februari 2012

2011/11/11

Status Sejuta Ummat: 111111


Hari ini kita menyaksikan hampir semua orang yang aktif di sosial media –entah itu Facebook, Twitter, Blackberry Messenger, Yahoo Messenger, dlsb- menuliskan angka berikut ini sebagai statusnya: 111111, atau bisa ditulis dengan bentuk lain: 11-11-11, 11-11-2011 atau sebelas sebelas sebelas. 

Kira-kira apa ya motivasi mereka (pembuat status) menulisnya? Macam-macam tentu, dan mereka sendirilah yang tahu persisnya. Namun dalam pandangan saya, setidaknya hal-hal berikut ini menjadi alasannya: mungkin ada yang hanya sekedar iseng saja, ada yang mengikuti ‘trending topic’, ada yang ingin terlihat gaul, ada yang selalu ingin ‘eksis’, dan mungkin juga ada yang percaya dari sisi ‘mistis’-nya? Semoga tidak percaya beneran ya, karena dikhawatirkan jadi perbuatan syirik.

And last but not least, ada juga yang punya motivasi untuk belajar menulis. Seperti saya saat ini. hehehe (maaf tidak bermaksud sombong:). Orang lain saja bisa dengan lincah dan mudahnya menggoreskan tintanya, atau menekan tut keyboardnya, atau memainkan jempolnya untuk menuliskan status fenomenal ini, lalu mengapa saya tidak tertantang untuk melatih diri untuk menulis? Atas dasar ‘tantangan internal’ itulah tulisan singkat ini terlahir.
--

Seandainya saja hari ini adalah Sabtu atau Minggu, atau hari libur nasional, saya yakin akan terjadi kawin massal pada hari ini. Walaupun tetap saja memang banyak yang melangsungkan pernikahannya di hari kerja ini. Bagi mereka semua kita doakan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amin.

Betapa tidak jadi fenomena, ternyata di masyarakat kita ‘kepercayaan’ pada angka-angka masih sulit dihilangkan. Meskipun dalam agama tidak ada ajarannya. Namun tetap saja fenomena hitung hari, hitung tanggal ini ‘dipercaya’ bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan. 

Tadi saya sempat melihat ada seorang teman di Blackberry messenger yang menuliskan status seperti berikut ini: “11-11-11, It’s time to make a wish”. Lho? Ko harus menunggu satu momen seperti hari ini baru make a wish? Di hari lain memang tidak bisa? Tentu saja make a wish bisa kapanpun termasuk hari ini. Namun menganggap hari ini sangat istimewa dibandingkan hari-hari lain agak sedikit lebay ya. Entahlah. Namun ini nyata terjadi di sekitar kita. It’s a phenomenon.
--

Sebagai pribadi yang mengaku beriman kepada Allah yang Maha Kuasa dan Penentu takdir, tentu kita harus mengimani bahwa tidak ada kebaikan dan keburukan diluar takdir-NYA. Hanya DIA-lah penentu segalanya, pengatur kehidupan kita. Kebaikan dan keburukan tentu tidak datang dari tanggal cantik ini. Takdir sudah ditentukan untuk setiap masa yang kita lalui, termasuk hari ini 11-11-2011 dan hari-hari lainnya yang telah dan atau yang akan kita lalui. Mempercayai adanya ‘kekuatan’ 11-11-11 yang dapat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan tentu merupakan hal yang terlarang karena mengarah pada ‘menyekutukan’ Tuhan Yang Maha Esa. Na'udzubillahi min dzalik.

Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan inayah-Nya untuk selalu bisa berjalan di garis dien yang benar dan mulia serta terhindar dari hal-hal yang menjerumuskan kita kepada perbuatan menyekutukan-NYA. InsyaAllah wa Amiin ya Rabb ‘alamin. 

Berikut ini adalah beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang larangan berbuat syirik:
Allah SWT berfirman (yang artinya): 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar." (An-Nisaa': 48).  

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisaa': 116). 

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Jannah, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." ( Al-Maa-idah: 72). 

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka (adalah) ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj: 31). 

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: 'Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'." (Az-Zumar: 65). 

Maha benar Allah dengan segala firman-NYA.
--

Bandung 11-11-2011; 18:32
*pictures in this blog are powered by google 
Dimuat juga di: http://hminews.com/news/status-sejuta-ummat-111111/